Anda di halaman 1dari 26

KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERMASALAHAN LAKTASI

DISUSUN

OLEH : KELOMPOK 11

LANNY TRIA DAMAYANTI (04121003015)

YUNITA (04121003017)

RINI DIANA SARI (04121003032)

MUFLIHATUN HASANAH (04121003036)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2015

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan karunia-Nya lah tim penyusun dapat menyelesaikan makalah
Mata Kuliah Maternitas mengenai Asuhan Keperawatan pada Permasalahan
Laktasi. Makalah ini disusun untuk menjelaskan tentang asuhan keperawatan
pada permasalahan laktasi, agar dapat diimplementasikan dalam praktek
keperawatan, serta diajukan demi memenuhi tugas mata kuliah Maternitas
Semester Genap.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu menyelesaikan makalah ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan
tepat waktunya.Ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah
Maternitas yang telah membantu dalam membimbing kami dalam pelajaran
tersebut.

Tim penyusun telah berusaha menyajikan materi pada makalah ini dengan
sebaik-baiknya, tetapi tim penyusun menyadari makalah ini masih banyak
kekurangan. Atas dasar kenyataan tersebut, saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat diharapkan agar makalah ini menjadi lebih baik. Akhirnya tim
penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk menambah
wawasan dan pengetahuan.

Indralaya, Maret 2015

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................2
1.3 Tujuan................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN LAKTASI..................................................................................3
2.1 Pengertian Laktasi....................................................................................................3
2.2 Anatomi dan Fisiologi Payudara........................................................................3
a. Anatomi Payudara..............................................................................................3
b. Fisiologi payudara..............................................................................................4
2.3 Klasifikasi Laktasi..............................................................................................5
a. Masa Antenatal...................................................................................................6
b. Segera Setelah Bayi Baru Lahir..........................................................................6
c. Masa Neonatal....................................................................................................7
d. Pada Masa Post-Natal (Masa Menyusui) :..........................................................7
BAB III PEMBAHASAN PERMASALAHAN LAKTASI...............................................9
3.1 Pengertian...........................................................................................................9
3.2 Komplikasi Masalah Laktasi dan Penatalaksanaan Medis...................................9
3.3 Askep Pada Permasalahan Laktasi...................................................................14
3.3.1 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan................................................................14
3.3.2 Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Bendungan ASI................................17
BAB IV PENUTUPAN....................................................................................................24
4.1 Kesimpulan......................................................................................................24
4.2 Saran................................................................................................................24
BAB V DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................25

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Payudara adalah pelengkap reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air
susu, buah dada terletak dalam fasia superfisialis di daerah antara sternum dan
aksila, melebar dari iga kedua sampai ke iga ketujuh (Syaifuddin,2006).

Payudara adalah sepasang kelenjar mamae yang terletak diantara tulang


iga kedua dan keenam sekitar dua pertiga payudara terletak diatas otot pektoralis
mayor (Bobak,2004).

Perawatan payudara yang tidak dilakukan pada masa post partum dapat
mengakibatkan berbagai masalah pada ibu. Beberapa masalah yang terjadi jika
tidak melakukan perawatan payudara pada ibu postpartun antara lain pembekakan
payudara, bendunganASI, saluran susu tersumbat, infeksi pada payudara, putting
tertarik ke dalam, putting susu lecet (Saryono,2008).

Postpartum adalah waktu yang diperlukan oleh ibu untuk memulihkan alat
kandungannya ke keadaan semula dari melahirkan bayi sampai setelah 2 jam
pertama persalinan yang berlangsung antara 6 minggu (42 hari)
(Prawiroharjo,2009).

Periode pascapartum adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai
organ-organ reproduksi kembali normal sebelum hamil. Periode ini kadang-
kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan. Perubahan
fisiologis yang terjadi sangat jelas, walapun dianggap normal, dimana proses-
proses pada kehamilan berjalan terbalik. Banyak faktor, termasuk tingkat energi,
tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, dan perawatan serta dorongan
semangat yang diberikan tenaga kesehatan profesional ikut membentuk respon ibu
terhadap bayinya selama masa ini (Bobak, 2004).

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari laktasi?
2. Apa saja Anatomi dan fisiologi payudara?
3. Apa saja klasifikasi laktasi?
4. Apa saja komplikasi masalah laktasi dan penatalaksanaan medisnya?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada permasalahan laktasi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian laktasi
2. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi payudara
3. Untuk mengetahui klasifikasi laktasi
4. Untuk mengetahui masalah laktasi dan penatalaksaan medisnya
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada permasalahan laktasi

2
BAB II

PEMBAHASAN LAKTASI

2.1 Pengertian Laktasi


Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi
sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian
integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia, (Direktorat Gizi
Maasyarakat, 2005)

2.2 Anatomi dan Fisiologi Payudara

a. Anatomi Payudara
Sloane (2003) menyatakan bahwa setiap payudara elevasi dari jaringan
glandular dan adipose yang tertutup kulit pada dinding anterior dada. Payudara
terletak diatas otot pektoralis mayor dan melekat pada otot tersebut melalui
selapis jaringan ikat.

Verralls (2003) menjelaskan bahwa payudara adalah kelenjar yang terletak


dibawah kulit dan diatas otot dada, dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi
bayi, manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, dengan berat kira-kira 200
gram, yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Pada waktu hamil payudar
amembesar, mencapai 800 gram.

Adapun struktur payudara sebagai berikut:

a. Struktur makroskopis

Ada tiga bagian utama payudara menurut Verralls (2003), yaitu:

1) Korpus (badan) yaitu bagian yang membesar

2) Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah

3) Papilla atau putting yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.


Puting payudara di kelilingi oleh areola, suatu daerah berpigmen

3
yang ukurannya bervariasi yang bertambah gelap saat hamil serta
kaya akan pasokan pembuluh darah dan saraf sensorik.

b. Struktur mikroskopis

Di dalam korpus mammae terdapat alveolus yaitu unit terkecil yang


memproduksi susu, alveolus terdiri dari beberapa sel aciner, jaringan lemak,sel
plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok
membentuk lobulus, kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus
pada tiap payudara. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil
(duktulus), kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang
lebih besar. Di bawah areola saluran yang membesar melebar disebut (sinus
laktiferus) Akhirnya semua memusat ke dalam puting dan bermuara keluar. Di
dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila
berkontraksi memompa ASI keluar.

Prolaktin merupakan menurunnya kadar estrogen menimbulkan


terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin,
hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi
susu. Wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada
permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Wanita yang tidak
menyusui bayinya, tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari setelah
persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol
ovarium kearah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal,
pertumbuhan folikel, ovulasi, dan menstruasi.

b. Fisiologi payudara

Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan


pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas,
sampai ke klimakterium dan menopuse. Sejak puberitas pengaruh ekstrogen dan
progestreron yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah
menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya sinus. Perubahan sesuai dengan
daur menstruasi. Sekitar hari kedelapan menstruasi, payudara jadi lebih besar dan

4
pada beberapa hari sebelum menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal.
Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari
menjelang menstruasi menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik,
terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu pemeriksaan foto
mammogram tidak berguna karena kontrasi kelenjar terlalu besar. Begitu
menstruasi mulai semuanya berkurang. Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan
menyusui. Pada kehamilan payudara menjadi membesar karena epitel duktus
lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon
prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel
alveolus, mengisi asinus, kemudian melalui duktus keputting susu (Sjamsu
hidajat, 2004).

2.3 Klasifikasi Laktasi


Manajemen laktasi adalah suatu tata laksana menyeluruh yang menyangkut
laktasi dan penggunaan ASI, yang menuju suatu keberhasilan menyusui untuk
pemeliharaan kesehatan ibu dan bayinya. Manajemen laktasi ini harus dipahami
oleh tenaga kesehatan agar dapat melaksanakan tugas sebagai promotor
penggunaan ASI.Manajemen ini meliputi suatu persiapan dan pendidikan
penyuluhan ibu, pelaksanaan menyusui dan rawat gabung dan usaha lanjutan
perlindungan ibu menyusui.

Adapun Susiana (2009) mengatakan bahwa manajemen laktasi merupakan


segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan
dalam menyusui bayinya, pengertian yang sama menurut Siregar (2004). Usaha
ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap, yakni pada masa kehamilan (antenatal),
sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), pada masa
menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal). Dalam
pelaksaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan
dan pada masa menyusui selanjutnya. (Direktorat Gizi Maasyarakat, 2005).

Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi


sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Laktasi merupakan bagian
integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia, (Direktorat Gizi
Maasyarakat, 2005).

5
a. Masa Antenatal
Melakukan pemeriksaan kesehatan, kehamilan, dan payudara
Memantau kecukupan gizi ibu hamil
Pendidikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang
manfaat menyusui
Adanya dukungan dan kemampuan petugas kesehatan
Cara hidup sehat

Peran Petugas Kesehatan Pada Masa Antenatal


Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan
ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya
pemberian susu botol.

a. Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan puting


susu, apakah ada kalainan/tidak. Disamping itu, perlu dipantau
kenaikan berat badan ibu hamil.
b. Perawatan payudara dimulai pada kehamilan memasuki usia 6
bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang
cukup.
c. Memperhatikan gizi/ makanan ditambah mulai dari kehamilan
trimester dua sebanyak 1 1/3 dari porsi makanan sebelum hamil.
d. Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini
perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang
sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan
hatinya.

b. Segera Setelah Bayi Baru Lahir


IMD
Membina ikatan emosional dan kehangatan ibu dan bayi
Jangan memberikan cairan atau makanan kepada bayi
Tenik menyusui yang benar
Pergunakan kedua payudara, mulai menyusui dengan puting yang
berganti-ganti
Peran Petugas Kesehatan Pada Masa Intranatal (Segera setelah
persalinan) :
a. Membantu upaya pelaksanaan insiasi menyusui dini (IMD).
b. Membantu terjadinya kontak langsung antara ibu dan bayi selama
24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal.

6
c. Menciptakan suasana tenang agar ibu dapat berpikiran dengan
penuh kasih sayang terhadap bayinya dan penuh rasa percaya diri
untuk menyusui bayinya.

c. Masa Neonatal
Rawat gabung ibu-bayi
Menjamin pelaksanaan ASI eksklusif
Jaminan asupan ASI setiap bayi membutuhkan
Melaksanakan cara menyusui yang benar
Upaya tetap mendapat ASI jika ibu dan bayi tidak selalu bersama
Bimbing ibu untuk mengenali tanda bayi sudah mendapatkan ASI
yng cukup (bayi buang air kecil 6 kali sehari atau lebih )
Anjurkan ibu untuk beristirahat, makan dan minum bagi diri dan
bayinya
Rujuk kepada konselor ASI jika ibu mengalami masalah menyusui

d. Pada Masa Post-Natal (Masa Menyusui) :


a. Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia
bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman
lainnya.
b. Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 kali
lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari.
c. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan
pikiran dan menghindarkan kesalahan yang berlebihan agar
produksi ASI tidak terhambat.
d. Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk
menunjang keberhasilan menyusui.
e. Rujuk ke posyandu atau puskesmas atau petugas kesehatan apabila
ada permasalahan menyusui seperti payudara bengkak disertai
demam.
f. Menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta
pengalaman dari ibu-ibu yang sukses menyusui bagi mereka.
g. Memperhatikan gizi/makanan bayi, terutama setelah bayi melewati
usia 6 bulan, dengan makanan pendukung ASI (MP ASI) yang
cukup baik kuantitas maupun kualitasnya.

7
BAB III

PEMBAHASAN PERMASALAHAN LAKTASI

3.1 Pengertian
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu
yang tidak paham masalah ini, kegagalan menyusui sering dianggap problem pada
anak saja. Masalah dari ibu yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak
sebelum persalinan (periode antenatal), pada masa pasca persalinan dini, dan
pasca masa persalinan lanjut. Masalah menyusui dapat pula diakibatkan karena
keadaan khusus. Selain itu ibu sering benar mengeluhkan bayinya sering
menangis, ayau menolak menyusu, dsb yang sering diartikan bahwa ASInya
tidak cukup, atau ASInya tidak enak, tidak baik atau apapun pendapatnya
sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan
menyusui.

3.2 Komplikasi Masalah Laktasi dan Penatalaksanaan Medis


3.2.1 Masalah pada payudara

a. Payudara bengkak = breast engorgement

Payudara bengkak biasanya terjadi 2 atau 3 hari pasca persalinan. Bengkak


pada payudara ini disebabkan oleh penggumpalan air susu dalam kelenjar susu di
payudara yang lama-kelamaan dapat menyebabkan tersumbatnya kelenjar susu
sehingga pengeluaran volume ASI berkurang. Dapat pula disebabkan karena
karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih.

Penggumpalan air susu bisa terjadi karena bayi enggan menyusu pada ibunya,
kemungkinan karena derasnya aliran air susu yang keluar sehingga bayi tidak
nyaman saat menyusu. Terpisah dari bayi juga dapat menyebabkan terjadinya
penggumpalan air susu. Produksi air susu yang melimpah tanpa disusukan atau

8
dipompa lambat laun akan menyebabkan penggumpalan yang pada akhirnya
menyumbat kelenjar susu.

Gangguan ini biasanya akan mereda dengan sendirinya dalam 48 jam pasca
persalinanan dengan catatan ibu selalu menyusukan payudara yang terasa penuh
pada bayinya. Perlu diiingat, gangguan ini dapat menjadi lebih parah jika ibu
jarang menyusui bayinya.

Pengobatan :

menyusui lebih sering,


kompres hangat pada payudara agar pengeluaran air susu lancer.
ASI dikeluarkan dengan pompa, pemijatan bagian yang sakit sehari 2 kali kearah
puting susu. Gunakan baby oil untuk melemaskan daerah sekitar payudara tidak
kaku. Pemijatan juga berguna untuk memperlancar pengeluaran ASI,
analgetika,
konsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh
Pencegahan : sering menyusui, sering memerah atau memompa ASI

b. Saluran tersumbat = obstructed duct = caked breast

Terjadi stasis pada saluran ASI (dukus lakterifus) secara lokal, sehingga timbul
benjolan lokal.

Pengobatan :

terus menyusui, malahan sebaiknya menyusui dengan payudara yang sakit


dahulu,
pemijatan (masase),
kompres hangat,
Pencegahan : a. menyusui yang sering, b. memakai bra yang memadai yaitu tidak
telalu ketat c. hindari tekanan lokal pada payudara

c. Payudara meradang = mastitis

Peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak diserati infeksi. Penyakit
ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau

9
mastitis puerperalis. Payudara tampak bengkak, kemerahan dan dirasakan nyeri.
Biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan.

Mastitis disebabkan oleh adanya bakteri jenis staphylococcus aureus yang


masuk melalui putting susu yang pecah-pecah atau terluka. Bisa juga karena
adanya sumbatan pada saluran ASI. Mastitis yang parah ditandai dengan gejala
seperti demam yang tak kujung reda atau malah meninggi dan bahkan mencapai
400C serta payudara semakin terasa nyeri.

Pengobatan : a. jangan berhenti menyusui, teruskan dengan mulai menyusui


atau dipompa, jangan dipijat, b. istirahat yang cukup dan makan makanan yang
bergizi, c. kompres hangat/dingin, d. antibiotika dan analgetika, e. banyak minum
kurang lebih 2 liter perhari, f. pakai baju atau bra yang tidak terlalu ketat.

Pencegahan : a. ibu harus menyusui bayi segera dan sesering mungkin, b.


keluarkan ASI dengan cara dipompa sehingga pengeluaran ASI tetap lancar, c.
jaga kebersihan sekitar puting dan payudara, d. jangan melakukan pemijatan
karena dikhawatirkan membuat kuman tersebar ke seluruh bagian payudara dan
menambah resiko infeksi

d. Abses payudara

Pengumpulan nanah lokal didalam payudara dan merupakan komplikasi berat


dari mastitis. Dapat terjadi sekunder pada mastitis atau obstructed breast atau luka
pada payudara yang terinfeksi.

Pengobatan : a. stop menyusui pada payudara yang ada absesnya, ASI harus
tetap dipompa, b. insisi abses, c. antibiotika dan analgetika, d. istirahat

3.2.2 Masalah pada Puting

a. Puting rata = inverted or retracted nipples atau tenggelam

Dapat disebabkan karena perlekatan mengakibatkan saluran susu lebih pendek


dan menarik puting susu ke dalam. Untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan
jalan menarik-narik puting sejak hamil (nipple conditioning exercises). Harus
terus menyusui agar puting selalu sering tertarik.

10
b. Puting lecet = sore or cracked nipples

Dapat disebabkan oleh teknik menyusui yang salah atau perawatan yang tidak
betul pada payudara. Infeksi monolia dapat mengakibatkan lecet

Pengobatan :

a. teknik menyusui yang benar, b. puting harus kering, c. pemberian lanolin


dan vitamin E, d. pengobatan terhadap monolia, e. menyusui pada payudara yang
tidak lecet. Bila lecetnya hebat maka menyusui dapat ditunda 24-48 jam. ASI
dikeluarkan dengan ekspresi dengan tangan atau dipompa.

Pencegahan : a. jangan membersihkan putting dengan sabun dan zat


pembersih lain, hanya dengan air, b. teknik menyusui harus benar, c. puting susu
dan areola harus kering setelah menyusui.

3.2.3 Masalah pada Volume ASI

a. ASI terlalu deras

Pancaran ASI terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh. Akibatnya
sebentar-bentar bayi akan berhenti mengisap. Hal ini bisa diatasi dengan selalu
memakai breast pads, mengeluarkan sebagian ASI sebelum menyusui, sering-
sering menyusui, dan sebagainya.

b. Nipple confusion = bingung puting

Pada bayi yang menyusui diseling-seling dengan susu botol sering mengalami
kebingungan, karena anatomi puting susu dan dot sangat lain. Pada saat menyusui
bayi harus menghisap cukup kuat, pada dot susu akan mengalir dengan isapan
yang ringan. Hal ini menyebabkan bayi malas menyusu pada ibunya.

Solusinya, ibu harus memulai membiasakan bayi diberi ASI perlahan dengan
sendok, bukan botol susu. Berikan dengan cara menyuapinya dengan sendok agar
bayi tidak bingung puting. Hari-hari pertama bayi akan menolak namun hari
selanjutnya dia akan terbiasa

11
c. ASI berkurang

Produksi ASI biasanya berkurang karena kurangnya stimulasi


pada payudara. Biasanya ini terjadi karena disebabkan oleh :

Ibu tidak membiarkan bayi menyusu sekehendak bayi


Perlekatan salah sehingga bayi tidak dapat menyusu dengan benar dan
akhirnya tak mau menyusu
Ibu memberikan makanan lain atau susu botol lebih awal
Ibu menyusui bayinya dengan sebelah payudara saja
Ibu mengalami tekanan emosi

Namun, hal ini bisa diatasi dengan cara sebagai berikut :

Susui bayi sesering dan sekehendak bayi


Pastikan masa penyusuan tidak melebihi 2 jam
Pastikan mulut bayi melekat dengan benar
Susui bayi dengan kedua payudara secara bergantian
Perbaiki nutrisi ibu
Yakin bahwa ibu mampu menyusui bayinya

d. Bayi menyusu pada satu sisi saja

Komposisi kandungan ASI pada kedua sisi payudara itu sama. Jika bayi lebih
suka menyusu pada satu sisi saja, sebaiknya ibu cari tahu penyebabnya.Bisa jadi
bayi baru pandai menghisap salah satu puting saja karena puting tersebut lebih
lembut.Payudara yang sudah terbiasa di isap memiliki tekstur yang lebih lembut
dan kenyal. Sehingga ketika diberi payudara disisi lain, ia merasa asing dan sulit
menghisapnya. Bisa juga karena posisi ibu saat menggendong.Akibatnya bayi pun
menyesuaikannya dan menjadi kebiasaan.

3.3 Askep Pada Permasalahan Laktasi

3.3.1 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Penegakan Diagnosa

12
1. Pengumpulan data
a. Identitas
Meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, bahasa,
status perkawinan, pekerjaan, pendidikan.
b. Keluhan utama
Pada umumnya klien mengeluh payudara terasa tegang dan nyeri.
c. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan terdahulu
Penyakit kronis atau menular dan menurun seperti jantung,
hipertensi, DM, TBC, Hepatitis, penyakit kelamin atau abortus,
riwayat lalu tidak pernah menderita.
Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat pada post partum didapatkan payudaranya terasa tegang
dan nyeri karena belum ditetekan ke bayinya.
Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti adanya penyakit
jantung, hipertensi, DM, keturunan bayi kembar, TBC, hepatitis,
penyakit kelamin dan abortus. Memungkinkan penyakit tersebut
ditularkan pada klien.
Riwayat psikososial
Pada klien nifas biasanya cemas bagaimana cara merawat bayinya,
berat badan yang semakin meningkat dan membuat harga dirinya
rendah.

d. Pola-pola fungsi kesehatan


Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang bendungan ASI dan
cara pencegahannya, penanganan serta perawatannya dan
kurangnya menjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan
masalah dalam perawatan tubuhnya akan menimbulkan masalah
dalam perawatan dirinya.
Pola nutrisi dan metabolism
Pada klien nifas biasanya terjadi peningkatan nafsu makan karena
pengaruh dari keinginan menyusui bayinya.
Pola aktifitas
Klien dapat melakuakan aktifitas seperti biasanya, terbatas apa
aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah,

13
cepat lesu. Pada klien nifas di dapatkan keterbatasan aktifitas
karena mengalami kelemahan dan nyeri.
Pola eleminasi
Pada penderita post partum sering terjadi adanya perasaan
sering/sudah kencing selama nifas yang ditimbulkan karenya
terjadinya oedema dari trigono yang menimbulkan obstruksi dari
uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut
untuk melakukan BAB.
Pola tidur dan istirahat
Pada klien nifas terjadi perubahan pada pola istirahat dan tidur
karena adanya kehadiran bayi dan nyeri epis setelah persalinan.
Pola hubungan peran
Peran klien dalam keuarga meliputi hubungan klien dengan
keluarga dan orang lain.
Pola penanggulangan stess
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas atas bendungan
ASInya dan cara menetek yang benar.
Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien nifas merasakan nyeri pada perineum akibat.
Luka jahitan dan nyeri perut akibat involusi uteri. Pada pola
kognitif klien nifas primipara terjadi kurang pengetahuan tentang
cara merawat bayi.
Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilannya, lebih-
lebih menjelang persalinan dampak psikologis, klien terjadi
perubahan konsep diri antara lain body image dan ideal diri
Pola produksi seksual
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan
seksual/fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya
proses persalinan dan nifas.
Pola tata nilai dan keperawatan
Biasanya saat menjelang persalinan dan sesudah persalinan klien
akan terganggu dalam hal ibadahnya karena harus bedrest totl
setelah partus sehiangga aktifitas klien dibantu oleh keluarganya.
e. Pemeriksaan Fisik
- Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat
adanya closma gravidarum dan apakah ada benjolan.
- Leher

14
Kadang-kadang ditemukan adanya pembesaran kelenjar gondok karena
dalam proses menelan yang salah.
- Mata
Terkadang adanya pembengkakan pada kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena prises
persalinan yang mengalami perdarahan, sclera kuning.
- Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihannya
adakah cairan yang keluar dari telinga.
- Hidung
Ada polip atau tidak dan apabila pada saat ppost partum mengalami
pernafasan cuping hidung.
- Dada
Terdapat adanya pembedaran pada payudara, adanya hipopigmentasi
aerola mamae dan papilla mamae.
- Abdomen
Pada klien nifas, abdomen kendor kadang-kadang striac masih terasa
nyeri, fundus uteri 3 jari bawah pusat.
- Genetalia
Pengeluaran darah campur lender, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekonium yautu feses yang di bentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
- Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture.
- Ekstremitas
Pemeriksaan oedema untuk melihat kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, kerenapenyakit jantung/ginjal.
- Muskuluskeletal
Pada klien post partum biasanya tejadi keterbatasan gerak dan aktifitas
karena adanya luka episiotomy.
- Tanda-tanda Vital
Apabila terjadi perdarahan pada post partum tekanan darah turun, nadi
cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh menurun.

3.3.2 Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Bendungan ASI

A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
Nama : Ny. R
Umur : 20 tahun

15
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Bali/Indonesia
Agama : Hindu
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan Terakhir : SMU
Alamat : Jl. Nangka, Denpasar. Bali
No. RM : 25 12 13
Tanggal Masuk RS : 30 November 2012

IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB


Nama : Tn. G
Umur : 24 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Suku : Bali/Indonesia
Agama : Hindu
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan Terakhir : SMA
Alamat : Jl. Nangka, Denpasar. Bali
Hubungan dengan klien : Suami

2. STATUS KESEHATAN
a. Keluhan
Keluhan Utama : Nyeri
Keluhan saat Pengkajian : Klien mengatakan pengeluaran ASInya
sedikit, payudara terasa keras dan sakit saat menyusui .
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan ASInya sedikit dan payudara terasa sakit saat menyusui
sejak 3 hari yang lalu, payudara terasa keras dan tegang.
c. Klien mengatakan ini adalah anak pertama dan cemas akan bayinya karena
bayinya menangis terus menerus.
d. Riwayat Penyakit Keluarga

16
Klien tidak ada riwayat penyakit keluarga seperti DM, Hipertensi, TBC,
dll.

3. KEBIASAAN SEHARI-HARI
a. Nutrisi
Ibu makan 3 kali sehari dengan jenis makanan nasi, sayur, dan lauk.
Minum 5 gelas sehari. Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada saat makan
dan tidak ada pantangan.
b. Eliminasi
Ibu BAK 6 - 8x sehari dan BAB 1 x sehari dengan tidak ada keluhan
apapun.
c. Istirahat
Ibu mengatakan sulit tidur, tidur hanya kurang lebih 4 jam karena nyeri
pada payudara.
d. Aktifitas
Ibu mengatakan aktifitasnya terbatas karena nyeri pada payudara.
e. Psikososial
Ibu merasa cemas karena ASInya keluar hanya sedikit sehingga bayi
menangis terus menerus serta cara melakukan perawatan payudara.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tanda-tanda vital :
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Napas : 22 x/menit
Suhu : 370C
4. TB dan BB : TB : 167 cm, BB : 55 kg.
5. Inspeksi
a. Muka : bulat, bersih, tidak oedem.
b. Mulut dan Gigi : bersih, bibir tampak pucat, tidak ada caries gigi,
tidak ada stomatitis, gigi lengkap, tidak ada gangguan menelan.

17
c. Leher : tidak ada pembendungan vena jugularis, kelenjar tiroid
ataupun limfe yang membengkak.
d. Payudara : Bentuk payudara tidak simetris kiri dan kanan, teraba keras,
ada nyeri tekan, tidak terdapat benjolan, pembesaran ada namun pada
bagian kanan lebih besar dari yang kiri dan sudah ada pengeluaran ASI
,namun puting susu sebelah kanan ibu tenggelam sedikit.
e. Abdomen : masih terlihat linea alba dan striae gravidarum, tidak teraba
massa/tumor, tidak ada nyeri tekan pada perut bagian bawah, tidak ada
pembesaran hepar.
f. Ekstremitas : tidak ada udema, akral; hangat, tidak ada varises.
g. Genetalia : tidak terdapat tanda-tanda infeksi, tidak ada perdarahan,
tidak ada oedem dan varices pada vagina.
h. Jahitan dalam : 2 jahitan
i. Jahitan luar : 5 jahitan
j. Lochea : Serosa, kecoklatan, bau khas
k. Anus : tidak ada haemoroid

5. Data Penunjang
a. Riwayat persalinan
Tanggal : 25 Maret 2015 Jam : 10.15 WIB
Masa gestasi : 40 minggu
Komplikasi : Tidak ada
Plasenta : lengkap
Lahir : spontan
Berat : 2,800 gram
Tali pusat : panjang 30 cm
Insersio : Sentralis
Kelainan : Tidak ada
b. Perineum
Robekan di : mukosa vagina, otot bulbokavernosus
Jahitan dalam : 2 jahitan
Jahitan luar : 5 jahitan

18
Lama Persalinan Perdarahan
Kala I : 9 jam 5 menit 10 cc
Kala II : 20 menit 50cc
Kala III : 10 menit 90cc
Kala IV : 2 jam 100cc
Total : 11 jam 35 menit 250cc
Tindakan lain : Tidak dilakukan
Nilai APGAR : 1 : 8 5 : 9 10 : 9

C. ANALISA DATA
Masalah
No. Data Etiologi
Keperawatan
1. DS : Klien mengatakan nyeri padaBendungan ASI Nyeri
payudara
DO :
P : Nyeri karena terbendungnya ASI
Q : Seperti Tertekan
R : Daerah payudara kiri dan kanan
S : skala nyeri 4
T : Sewaktu-waktu
2. DS : Klien mengatakan cemas karena ASIKurang Cemas
yang di keluarkan sedikit. pengetahuan
DO : Klien sering melamun tentang
perawatan
payudara
3. DS : Klien mengatakan kurang tidurNyeri padaGangguan pola
karena nyeri pada payudara payudara tidur
DO : Terlihat klien tampak gelisah dan
sulit tidur.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan bendungan ASI
2. Cemas berhubungan dengan dengan kurangnya pengetahuan tentang
perawatan payudara
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kesulitan menjalani posisi biasa,
sekunder akibat: Nyeri pada payudara.

19
E. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan Rencana Tindakan Rasional
Keperawatan
1. Gangguan rasaSetelah dilakukana. Ajarkan teknik relasksasi a. Teknik relaksasi akan
nyaman : nyeriperawatan 1 x 30 Menit,b. Kompres pada area nyeri sangat membantu
berhubungan denganklien mengatakan : c. Kolaborasi pemberian mengurangi rasa nyeri
bendungan ASI a. Nyeri berkurang/hilang obat analgetik b. Kompres hangat akan
membantu melancarkan
b. Ibu dapat menyusuid. Lakukan pengurutan yang
peredaran darah pada
bayinya dengan dimulai dari puting ke
area nyeri
nyaman arah korpus mamae untukc. Pemberian obat
c. Bendungan ASI dapat mengurangi bendungan di analgetik bekerja
berkurang/hilang vena dan pembuluh getah mengurangi rasa nyeri
bening dalam payudara d. Proses pengurutan akan
membantu melancarkan
peredaran darah pada
area nyeri.

a. Jelaskan pada ibu


tentang penyebab dan
cara mengatasi
Setelah dilakukan bendungan ASI.
a. Pengetahuan yang benar
tindakan diharapkan : b. Anjurkan ibu dan ajari
Cemas berhubungan akan menambah
d. Klien tidak merasakan ibu untuk melakukan
2. dengan kurangnya kooferatif ibu.
cemas lagi perawatan payudara.
pengetahuan tentang b. Dengan
e. Klien mengerti tentangc. Ajari ibu meneteki yang
perawatan payudara memperaktekkan secara
cara perawatan payudara benar.
langsung dapar merubah
f. Klien tidak bertanya-d. Anjurkan ibu untuk
perilaku ibu.
tanya lagi tentang menyusui bayinya lebih
c. Dengan posisi yang
perawatan payudara sering pada kedua benar dapat

20
payudaranya secara meningkatkan
bergantian. rangsangan ASI secara
e. Anjurkan ibu untuk maksimal.
memberi kompresd. Dengan menyusui lebih
hangat pada payudara sering aka merangsang
sebelum ditetekkan. ASi keluar dengan
lancar.
e. Dengan kompres hangat
merangsang produksi
ASI.

a. kaji tingkat kelelahan


dan kebutuhan istirahat
pasien a. untuk mengetahui
Setelah dilakukanb. kaji faktor-faktor tingkat kebutuhannya
Gangguan pola tidurtindakan diharapakan penyebab gangguan sehingga terpenuhi pola
3. berhubungan denganklienakan mengatakan pola tidur istirahatnya.
kesulitan menjalanikeseimbangan optimalc. berikan lingkunganb. mengetahui penyebab
posisi biasa, sekunderantara istirahat dan yang nyaman sehingga dapat tidur
akibat: Nyeri padaaktifitas d. beri kesempatan ibu dengan baik.
payudara. mengungkapkan c. untuk memberi
perasaannya kenyamanan dan
e. Ajarkan untuk mandi air ketenangan pasien
hangat sebelum tidur. d. Untuk terapi psikis dan
mengurangi beban
pikiran dan membantu
mengatasi masalahnya
e. Relaksaki dapat
membuat tidur lebih
nyenyak

21
BAB IV

PENUTUPAN

4.1 Kesimpulan
Beberapa gangguan dapat muncul, tergantung dari jenis persalinan dan
faktor perorangan lainnya. Gangguan yang sering muncul pada masa nifas adalah
proses laktasi yang umumnya dialami oleh ibu baru (ibu yang baru mempunyai
anak untuk pertama kalinya) dengan berbagai faktor penyebab kadang terdapat
gangguan seperti bendungan ASI.
Bendungan payudara adalah peningkatan aliran vena dan linfa pada
payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini disebabkan dari
saluran system laktasi. Payudara bengkak ini sering terjadi pada hari ke 3 atau ke
4 sesudah melahirkan.
Perlu dibedakan antara payudara bengkak dengan payudara dengan
benduangan ASI. Pada payudara bengkak : Payudara udem, Sakit, Putting susu
kencang, Kulit mengkilap walau tidak merah, ASI tidak keluar, Badan menjadi
demam setelah 24 jam. Sedangkan Pada payudara dengan bendungan ASI :
Payudara terlihat bengkak, Payudara terasa panas, Payudara terasa keras, Terdapat
nyeri tekan pada payudara.
Sedangkan untuk penatalaksanaannya adalah dengan melakukan SADARI
pada payudara sendiri.

4.2 Saran
Bagi para ibu yang menjadi wanita karier setidaknya harus juga dapat
memperhatikan keadaan bayinya. Jangan jadikan pekerjaan sebagai alasan untuk
tidak memberikan ASI pada bayi karena sesibuk apapun kita, itu sudah menjadi
kodrat sebagai seorang ibu untuk dapat memberikan ASI kepada Bayinya.
Demikian makalah ini kami buat, kami mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

22
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny Lia, 2011, Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta :
Salemba Medika
Gand, MacDonald, Cunningham, 1995, Obsteri Williams Edisi 18,Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika

Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri


Patologi, Jakarta : EGC.
Suryoprajogo, Nadine. 2009. Keajaiban Menyusui. Jogjakarta: Key Word

Wiknjosastro, Hanifa dkk.2005. Ilmu Kandungan.Edisi ke-3. Jakarta:Yayasan


Bina Pustaka Sarwono Prawihardji

Wiknjosastro, Gulardi.2008. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta:


JNPK-KR

23