Anda di halaman 1dari 3

HIPOTENSI POST OPERASI

Penanganan dan terapi cairan pada pasien pasca bedah sangatlah penting diketahui, untuk
menurunkan angka morbilitas dan mortalitas pasien. Pada umumnya banyak pasien akibat proses
bedah mengalami gangguan balance cairan dimana gangguan balance cairan dapat menyebabkan
pasien mengalami hipotensi. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi, dan
frekuensi pernapasan dilakukan paling tidak setiap dalam 15 menit pertama atau hingga stabil,
setelah itu dilakukan setiap 15 menit, selama 2 jam pertama. Dan setiap 30 menit selama 4 jam
berikutnya Pulse oximetry dimonitor hingga pasien sadar kembali. Pemeriksaan suhu juga
penting dilakukan.

Hipotensi yang terjadi isian balik vena (venous return) menurun disebabkan pendarahan,
terapi cairan kurang adekuat, diuresis, kontraksi miokardium kurang kuat atau tahanan veskuler
perifer menurun. Hipotensi harus segera diatasi untuk mencegah terjadi hipoperfusi organ vital
yang dapat berlanjut dengan hipoksemia dan kerusahan jaringan. Terapi hipotensi disesuaikan
dengan faktor penyebabnya. Berikan O2 100%dan infus kristaloid RL atau Asering 300-500 ml
sesuai dengan kebutuhan cairan pasien post operasi. Cairan dalam tubuh terdapat pada ruangan
intraseluler 40 %, ekstraseluler 20%. Ekstraseluler dibagi menjadi antarsel (intestinal) 15% dan
plasma 5%.

Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti dalam batas-batas fisiologis
dengan cairan kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara intravena.
Pembedahan dengan anestesi memerlukan puasa sebelum dan sesudah pembedahan. Terapi
cairan parenteral diperlukan untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah
pembedahan , mengganti kebutuhan rutin saat pempedahan, mengganti perdarahan yang terjadi
dan mengganti cairan pindah ke rongga peritoneum atau keluar tubuh. Pembedahan akan
menyebabkan cairan pindah keruang ketiga yaitu ke dalam rongga peritoneum. Rongga
peritoneum (peritoneal cavity) adalah ruang di dalam perut bagian bawah tetapi di luar organ
internal seperti usus, perut, dan hati. Rongga ini terikat oleh membran tipis yang
disebut peritoneum.
Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan. Berikut ini pedoman penggantian
cairan post operasi.
6-8 ml/kgBB untuk bedah besar.
4-6 ml/kgBB untuk bedah sedang.
2-6 ml/kgBB untuk bedah kecil.
Lokasi infuse juga mempengaruhi tergantinya cairan yang hilang, oleh karena itu lokasi
pemasangan infuse yang baik adalah pada permukaan dorsal tangan (Vena supervisial dorsalis,
vena basalika, vena sefalika. Pemasangan infuse pada kaki sebisanya untuk dihindari pada
pasien yang akan menjalani operasi dikarenakan aliran darah yang lambat pada kaki sehingga
proses pergantian cairan juga lambat. Jika ketidakseimbangan cairan tidak segera ditangani maka
dapat menyebabkan hipotensi dan meningkatkan resiko syok hipovolemik.