Anda di halaman 1dari 6

Administrasi Pertanahan Dulu, Saat Ini, dan Yang Akan Datang Menuju Tertib

Sistem Administrasi Pertanahan di Indonesia

4 November 2015

Oleh :

Ir. Rizal Anshari (Sekretaris Utama BPN RI)

ADMINISTRASI PERTANAHAN

A. KEBIJAKAN NASIONAL PERTANAHAN


Diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 1960 :
Seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah air dari seluruh rakyat
Indonesia yang bersatu sebagai bangsa Indonesia.
Negara sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat mengusai tanah,
dengan kewenangan :
- mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan,
persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa
- menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum yang
mengenai bumi, air dan ruang angkasa
- mengatur hubungan hukum antara orang dengan orang mengenai
tanah
Kewenangan Negara tersebut di atas digunakan sebesar- besarnya untuk
kemakmuran rakyat.
Semua rakyat Indonesia baik lelaki maupun wanita mempunyi kesempatan
yang sama untuk mempunyai hak atas tanah.
Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
Pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak
diperkenankan.
Menjamin perlindungan terhadap kepentingan golongan ekonomis yang
lemah.
Tidak memperbolehkan usaha-usaha dalam lapangan pertanahan yang
bersifat monopoli.
Membuat perencanaan nasional mengenai persediaan, peruntukan,
penggunaan tanah :
- untuk keperluan Negara
- untuk keperluan peribadatan dan keperluan-keperluan suci lainnya,
sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa
- untuk keperluan-keperluan pusat kehidupan masyarakat, sosial,
kebudayaan dan lain-lain kesejahteraan
- untuk keperluan dan memperkembangkan produksi pertanian,
peternakan dan perikanan
- untuk keperluan industri, transmigrasi dan pertambangan
- menjamin dan melindungi hak masyarakat terhadap tanah dengan
menyelenggarakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia
Kebijakan Pertanahan di atas merupakan landasan dalam operasional
pengelolaan pertanahan.

B. PENGELOLAAN PERTANAHAN
Pengeloaan pertanahan merupakan suatu proses pembuatan dan
pelaksanaan keputusan bagaimana tanah dan sumberdayanya dikelola
dengan sebaik mungkin. Instrumen dalam pengelolaan pertanahan yaitu
agrarian reform, land consolidation, land taxation, marine resources
management, dll.
Untuk memudahkan dalam mengelola pertanahan, diperlukan
penyelenggaraan administrasi pertanahan yang baik.

C. ADMINISTRASI PERTANAHAN
Administrasi pertanahan adalah suatu usaha dan manajemen yang
berkaitan dengan penyelenggaraan kebijakan pemerintah di bidang
pertanahan.

Sasaran administrasi pertanahan antara lain :


Setiap bidang tanah tersedia catatan mengenai berbagai aspek yang
dikelola dalam sistem informasi pertanahan yang lengkap.
Terdapat mekanisme prosedur pelayanan di bidang pertanahan yang
sederhana, cepat dan murah, namun tetap menjamin kepastian hukum,
yang dilaksanakan secara tertib dan konsisten.
Penyimpanan warkah-warkah yang berkaitan dengan pemberian hak.
Pensertifikatan tanah telah dilakukan secara tertib, beraturan dan terjamin
keamanannya.

Fungsi administrasi pertanahan dalam berbagai bidang, yaitu :

1. Bidang yuridis

Berkaitan dengan penguatan jaminan penguasaan tanah melalui


pendaftaran tanah, yang meliputi :

- demarkasi (penetapan batas)


- pengukuran dan pemetaan kadastral
- ajudikasi (penetapan hak)
- pemberian hak atas tanah negara
- pengakuan bekas hak adat
- pendaftaran bidang tanah (hak dan batas-batasnya)
- peralihan hak, dll.
2. Bidang pengaturan
Berkaitan dengan pengaturan penggunaan tanah yang mencakup
pengembangan dan pembatasan penggunaan tanah.
3. Bidang perpajakan
Membantu peningkatan penarikan pajak bumi dan bangunan dan
bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.
4. Manajemen sistem informasi
Dalam bidang ini administrasi pertanahan mengintegrasikan ketiga
komponen di atas :
- kadaster hak sebagai penopang utama pendaftaran tanah
- kadaster fiskal membantu dalam penilaian dan perpajakan
- sistem informasi zoning dan lainnya memudahkan perencanaan dan
pengaturan penggunaan tanah.

D. SISTEM PENGUASAAN TANAH DI INDONESIA

Sistem penguasaan tanah yang diatur dalam UUPA terbagi atas :

hak atas tanah


hak ulayat
izin membuka tanah
pengelolaan (bagi Instansi Pemerintah, Pemerintah
Provinsi/Kabupaten/Kota/masyarakat hukum adat)
sewa tanah

Selain itu terdapat UU No. 41 Tahun 2004 tentang Tanah Wakaf dan UU
No.16 tahun 1985 tentang hak milik atas satuan rumah susun (kombinasi hak
atas tanah dengan hak ruang).

E. PENDAFTARAN TANAH
Pendaftaran tanah merupakan pondasi utama dalam administrasi
pertanahan. Istilah lain dari pendaftaran tanah yaitu kadaster, cadastre, land
registration, land register, legal register, legal cadastre dan land recording.
Kadang-kadang land registration mencakup kadaster. Sedangakan cadastre
mencakup aspek land registration.

Elemen dasar pendaftaran tanah antara lain :

adanya daftar deskriptif yang memuat data mengenai status hukum


dan penggunaan tanah

identifikasi yang jelas dan unik atas bidang tanah, serta terpetakan
pada peta skala besar berdasarkan pengukuran yang memenuhi
persyaratan

Pendaftaran tanah memiliki beberapa prinsip, yaitu :

Publisitas

Publik boleh mengetahui tentang dokumen-dokumen yang berkaitan


dengan terjadinya pendaftaran, peralihan dan penghapusan hak hak dan
kepentingan.

Spesialitas
Hubungan subyek dan obyek telah ditetapkan.
Jenis jenis pendaftaran tanah adalah sebagai berikut :

1) Negatif

Disebut juga private conveyancing atau registration of deeds. Pada


sistem ini pemegang hak tidak dapat digugat. Negara yang menggunakan
sistem ini adalah Belanda, England, Perancis, Italia, Afrika Selatan, Israel,
Indonesia, dll.

2) Positif
Disebut juga registration of title. Pada sistem ini pemegang hak dapat
digugat oleh pihak lain yang memiliki bukti Negara yang
menggunakanterdapat di Jerman, Australia, Swiss, Swedia, Austria, Canada,
sebagian Amerika Serikat, dll.

Pendaftaran tanah di Indonesia diatur dalam UUPA. Pada UUPA pasal


19, pendaftaran tanah dilaksanakan untuk menjamin kepastian hukum oleh
Pemerintah menurut ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pada pasal 19 ayat (1) yang dimaksud pendaftaran tanah meliputi :

pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah

pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut

pemberian surat-surat tanda-bukti-hak yang berlaku sebagai alat


pembuktian yang kuat

Pada pasal 19 ayat (2) UUPA pengertian pendaftaran tanah mencakup aspek
land registration dan cadastre.

Kegiatan utama pendaftaran tanah adalah :

1. Pengukuran dan demarkasi


Pengukuran

Meliputi pengukuran kerangka dasar kadastral nasional (melalui


satelit, fotogrammetri, dan terrestrial) dan pengukuran bidang tanah
(terrestrial, fotogrammetri, citra satelit dan metode penginderaan jauh
(remote sensing)).

Demarkasi (penetapan batas)


Mengandung aspek teknis dan legal, terdiri dari 2 (dua) cara :
- fixed boundary
Batas ditetapkan secara pasti yang dihadiri pihak yang
berkepentingan, setelah posisi batas ditetapkan dilanjutkan
penandaan batas dengan pipa, batu, pilar beton dsb.
- general boundary
Batas di lapangan ditetapkan berdasarkan batas yang ada di
lapangan dan batas tepatnya tidak diperlukan, kecuali yang
berkepentingan menghendaki.

2. Ajudikasi (penetapan hak)

Pada tahap ini semua hak-hak yang melekat pada bidang tanah
ditetapkan oleh pejabat yang memegang otoritas. Ajudikasi dilaksanakan
berdasarkan alat bukti, yaitu dengan cara :

konversi dari bukti hak-hak lama apabila bukti lama memenuhi


syarat

ajudikasi dilapangan apabila alat bukti tertulis tidak ada atau tidak
lengkap

3. Pendaftaran tanah (register tanah)

Hasil ajudikasi didaftarkan dalam register tanah dan dipenetapan oleh


pejabat yang berwenang. Bentuk register berupa dokumen cetak dan
elektronik.

Daftar register tanah utama yang terdapat pada kantor pertanahan antara
lain :

a. kartu nama

b. daftar buku tanah

c. daftar tanah

d. daftar surat ukur

e. peta pendaftaran

Tanah yang didaftarkan antara lain :

a. hak milik

b. hak guna usaha

c. hak guna bangunan

d. hak pakai

e. hak milik atas satuan rumah susun

f. hak pengelolaan

g. tanah wakaf

Di masa yang akan datang, diharap pendaftaran tanah mencakup :

a) marine cadastre

b) kadaster 3 dimensi (penggunaan ruang di atas dan di bawah tanah)


Kadaster merupakan salah satu jenis sistem administrasi pertanahan.
Penyelenggaraan kadaster di Indonesia telah diarahkan untuk membangun
sistem informasi pertanahan nasional, dengan 4 komponen dasar :

1. kerangka dasar kadastral nasional

2. peta dasar pendaftaran, peta garis, peta citra, dan peta digital

3. peta pendaftaran, tiap bidang tanah diberi nomor identitas yang


unik sebagai key identifier dalam system informasi

4. daftar tanah.