Anda di halaman 1dari 17

Hingga Akhir Waktuku

Ku buka tirai jendela kamarku. Matahari bersinar cerah, seperti berlawanan dengan
suasana hatiku yang masih seperti semalam. Semalam jantungku berdegup
kencang. Kini deg deg-an itu menghilang. Tapi resah itu masih ada. Sesekali
kuhela nafas panjang. Mungkinkah ini firasat? Atau ini pertanda penyakit? Ah,
harusnya tak perlu kuperdulikan perasaan ini. Kuikhlaskan semua ini. Apa yang
akan terjadi hari ini, biarlah terjadi. Akhirnya kurasakan sedikit ketenangan.
Perasaanku lebih baik sekarang. Kalau begini, aku siap menghadapi hari dengan
senyuman. Aku harus ke kampus hari ini, kuharap semuanya lancar.

Aku sedang mengobrol di bawah pohon bersama dengan teman-temanku saat tak
sengaja kulihat dia berdiri di depan ruang kuliah. Aldy, cowok yang akhir-akhir ini
mendekatiku. Sudah lama aku mengenalnya. Ia adalah sosok yang dewasa dan
perhatian. Tapi bukan dia, bukan dia yang selama ini mengisi relung hatiku. Tapi
dia yang satunya lagi. Dia yang baru saja keluar dari ruang kuliah. Dia yang kini
berjalan ke arah lapangan parkir. Dhion. Cowok jangkung, pendiam, tapi humoris.
Tapi dekat dengannya juga bukan berarti ia memiliki rasa yang sama seperti rasa
yang kumiliki untuknya. Telah kucurahkan isi hatiku kepada ibu. Ibuku
menasihatiku untuk memilih orang yang mencintaiku. Ibu seakan memahami,
bahwa cinta yang kumiliki selama ini kepada Dhion sebenarnya bertepuk sebelah
tangan. Kini kubuka hatiku untuk orang lain. Orang yang mungkin bisa
membahagiakanku.

Aldy menghampiriku. Senyum manisnya akhir-akhir ini menghiasi hari-hariku.


Tatapannya yang teduh dan sapaan hangatnya mulai membuatku merasa ada yang
kurang saat lama tak berjumpa dengannya. Tapi aku enggan menunjukkan
perasaanku. Aku masih tidak yakin akan diriku. Di hatiku masih ada Dhion.

Zia, nanti malem ada acara gak? tanya Aldy, yang kini duduk tepat di sisiku.
Hm, kayaknya gak ada. Kenapa? sahutku datar. Seperti biasa.

Keluar yuk, di tempat biasa ya katanya sambil tersenyum.

Boleh deh sahutku.

Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya. Ada kerjaan nih. Kamu masih ada kuliah
kan ntar lagi?

Iya. Masih ada kuliah, ya udah hati-hati ya

Aldy mengangguk lalu berlalu. Berjalan menuju lapangan parkir, menunggangi


kuda besinya lalu pergi meninggalkan kampus.

Saat Aldy berlalu, kulihat seseorang berjalan dari arah lapangan parkir menuju ke
arahku. Dhion. Dia sedari tadi mengobrol dengan temannya di lapangan parkir.

Jantungku berdegup kencang. Kali ini aku tahu mengapa. Pasti karena Dhion.

Zi, nanti malem keluar yuk? kata Dhion

Hah? Kemana? Serasa mimpi. Dhion memang ramah terhadapku. Tapi baru kali
ini ia mengajakku pergi bersamanya.

Nonton pertandingan sepakbola. Gak enak sendirian nonton. Gak seru. Nanti
nontonnya di stadion deket rumahmu. Aku tunggu di depan stadion ya, soalnya
masih ada perlu dengan temanku disana. Nanti aku sms kamu deh. Tapi kamu gak
ada acara kan entar malem?

Gak ada kok Ah, apa yang kukatakan tadi? Bukankah aku ada janji dengan Aldy.
Apa yang harus kulakukan?

Sepulang dari kampus kuceritakan semua kejadian hari ini kepada Ibuku. Aku
bingung dengan kedua janji yang telah kupilih di waktu yang bersamaan. Aku
meminta pendapat beliau mengenai pilihan yang terbaik.
Sayang, kamu kan lebih dulu janjian dengan Aldy. Nah, kamu samperin Dhion,
kamu minta maaf ke dia kalo gak bisa nemenin nonton karena kamu ada keperluan
lain. Gitu aja Kata Ibu.

Benar memang. Aku seharusnya pergi menepati janjiku dengan Aldy, tapi aku
sebenarnya ingin menemani Dhion. Ku anggukkan kepalaku, menyetujui saran Ibu.
Tapi pikiranku masih melayang.

Aku berjalan menuju stadion tak jauh dari rumahku untuk menemui Dhion dan
membatalkan janjiku dengannya. Tapi apa yang kulakukan. Aku justru
menemaninya menonton bola. Rasa senang bercampur dengan perasaan bersalah
karena melupakan janjiku dengan Aldy. Dhion yang kini berada di sisiku tak
mampu mengalahkan rasa gelisahku saat ini. Aldy pasti kini sedang menungguku
di caf tempat kami biasa bertemu. Aku tak tahan dengan rasa gelisah ini. Entah
mengapa aku merindukan dia sekarang. Aku merasa apa yang kupilih saat ini
salah. Apa yang kulakukan kini adalah melawan kata hatiku. Aku beranjak dari
kursi yang kududuki, Dhion menatapku.

Mau kemana? tanyanya.

Maaf Dhion, aku ada perlu. Aku pergi dulu

Aku berjalan cepat, keluar dari stadion. Kupercepat langkahku, hingga aku
setengah berlari menyusuri jalan menuju caf itu. Air mata membasahi pipiku.
Sambil berlari, kuusap air mata yang merembes. Aldy, kuharap kamu masih disana.

Aku terengah-engah saat kulihat Aldy masih di dalam caf tempat kami biasa
bertemu. Aku duduk di hadapannya, dia sedang membuang muka karena sedang
menelpon. Mungkinkah ia marah? Ia sebal karena aku datang sangat terlambat?
Hampir dua jam?
Aldy menunduk dengan tatapan kosong. Ia tak mau memandangku. Ia lalu berdiri,
dan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan keluar dari caf dengan langkah
cepat.

Al! Kamu marah?

Aku mengejarnya untuk menjelaskan semuanya. Tapi ia tak mendengarku, ia terus


pergi. Aku menangis.

Aku berjalan dengan gundah, berjalan searah dengan arah Aldy pergi. Aku tahu tak
mungkin menyusulnya karena ia menaiki motor. Tapi aku tetap berjalan. Entahlah,
mungkin aku hanya berusaha menghukum diriku sendiri. Tapi sepertinya Tuhan
memahami keinginanku untuk bertemu lagi dengan Aldy. Tiba-tiba aku melihatnya
turun dari motornya di suatu bangunan. Entah apa, aku tak begitu memperhatikan.
Aku hanya ingin mengejarnya. Aku berlari terus. Kulihat ia masuk ke sebuah
ruangan, aku ikut memasukinya.

Kenapa bisa seperti ini? tanya Aldy kepada seseorang di sampingnya.

Aldy duduk di samping tempat tidur. Di atas tempat tidur berbaring seseorang.
Aldy menggenggam erat tangannya. Kulihat ada ayah dan ibuku juga disana.
Kudekati kasur pesakitan itu. Aku terhenyak, ingin berteriak.

Tuhan, apa yang terjadi padaku? bisikku lirih.

Aku terduduk, terdiam. Tak tahu harus berbuat apa. Samar-samar kuingat saat
sebuah sinar terang menyilaukan mataku ketika aku berlari menuju caf itu.
Sekarang aku ingat semuanya. Aku tersadar. Tak ada yang bisa kulakukan.

Aku bakal nunggu kamu buka matamu sampai kapanpun, Zi. Aku bakal nemenin
kamu disini. Saat kamu bangun nanti, kuharap kamu mau menemaniku
menghabiskan sisa umurku bersamamu Aldy menggenggam erat tanganku, air
mata membasahi pipinya. Air mata yang tak bisa kuusap karena aku tak bisa
menyentuhnya. Aku menangis dan berteriak. Tak ada yang mendengarku. Tunggu
aku Al, jika Tuhan mengizinkan aku akan segera kembali untuk memenuhi janjiku
dan menemanimu. Hingga akhir waktuku.
First Love (Memori)

Kusandarkan lenganku pada kusen jendela. Mataku terus menatap hening pada
kanvas hitam di hadapanku. Satu pendar cahaya bintang menyeretku kembali pada
masa lalu, yang tak pernah aku lupakan. Masa lalu yang akan menjadi satu cerita
indah dalam hidupku. Masa lalu seseorang yang pernah berarti dalam hidupku.
Masa lalu yang menjadikanku seorang yang tak pernah mengenal cinta lagi, selain
cintanya. Dan masa lalu itu terus membekas di ingatanku sampai kapanpun, sampai
sisa hidupku.

Juli 2003/2004

Namaku Tia, umurku 12 tahun. Dan aku adalah siswa baru di SMP Permana.
Sekolah favorit di dekat tempat tinggalku. Aku punya dua orang kakak laki-laki,
namanya Samy dan Sandy, ia juga mantan siswa di sekolah tersebut, tapi Sandy
masih bersekolah di Permana. Ia baru kelas tiga. Dulu saat di sekolah dasar, aku
tak punya bayangan bisa masuk di sekolah bergengsi -walaupun tingkat
kecamatan- itu. Kalau saja kakak-kakakku tidak menyarankan aku untuk masuk
sekolah itu, aku mungkin akan jadi siswa di SMP lain. Dan dari situlah aku
bertemu dengan seseorang. Seseorang yang akan mengenalkan aku tentang cinta.
Seseoramg yang akan mengajari apa itu cinta. Dan seseorang yang akan
memperlihatkan betapa besarnya kekuatan cinta.

Kebetulan aku dan dia satu kelas, yakni kelas 7C. di sekolah aku memang punya
banyak teman yang satu sekolah waktu SD dulu, tapi kebanyakan tak akrab
denganku. Entah mengapa mereka seolah menjauh dariku. Entah karena fisikku
atau mungkin yang lain. Untunglah di kelas aku punya teman-teman yang baik,
khususnya Yuni, Santi dan Siti. Yuni teman sebangkuku. Ia baik, cerewet, imut dan
kebetulan juga, orangtuanya dan orangtuaku saling kenal. Santi, ia duduk di
depanku. Ia anaknya juga baik, kekanakan dan cerewet. Lalu Siti, ia duduk
sebangku dengan Santi. Siti orangnya pendiam, nggak banyak bicara. Dan dia
hanya mendengarkan saja saat teman-temannya yang lain bicara, tapi ia pandai
bahkan lebih pandai dariku. Aku senang mempunyai tiga sahabat seperti mereka.

Ada teman yang menyukaiku dan ada teman yang membenciku setengah mati.
Namanya Yuyun. Katanya sih anak orang kaya. Wong penampilannya aja kayak
Priyayi gitu. Apalagi semua teman-temannya pada gaul-gaul gitu. Kalau milih
teman ataupun pacar juga pilih-pilih, harus orang yang berada, minimal punya
motor gitu. Dia orangnya sinis banget, apalagi kalau menyangkut soal aku. Ia pasti
langsung senewen. Terkadang aku sedih, kenapa ia selalu bersikap sinis, acuh dan
gak senang sama aku. Mau marah cuma di hati tok. Mau marah-marah di depannya
nggak mungkin. Karena aku orangnya penakut. Yuyun duduk di belakangku,
tepatnya di belakang Yuni dan dia nggak mau kalau duduk di belakangku,
pokoknya yang sebaris sama aku- dengan Sunny. Sunny anaknya asyik dan dia
nggak milih-milih temen. Dia baik sama semua orang.

Widi, cowok pendiam yang sok gaya kayak orang dewasa dan terkenal itu suka
sama Yuyun. Dan dia suka caper sama Yuyun alias cari perhatian gitu. Tapi ditolak
sama Yuyun, gara-gara Widi gak punya motor kayak Mario, teman sebangkunya.
Emang sih Yuyun gak suka sama Mario karena mereka berteman. Tapi lain di
mulut lain pula di hati. Siapa tahu Yuyun diam-diam suka sama Mario, siapa yang
tahu? Allahu alam.

Oh ya, ngomong-ngomong soal Mario, dia itu cowoknya cakep banget, kayak cina
gitu deh. Putih, tinggi, jago olahraga. Pokoknya semua cewek pada suka deh sama
dia. Oh ya, dia juga punya kakak, namanya Miko. Kak Miko itu anak kelas 9B,
sekelas dengan kak Sandy. Dia juga banyak digandrungi cewek-cewek di sekolah.

Ada cerita lucu deh tentang mereka. Pernah ada cewek kelas 2 namanya kak Ita,
dia itu naksir sama kak Miko. Saking naksirnya, dia sampe rela buat nembak kak
Miko. Kak Miko yang gak suka sama kak Ita, langsung nolak. Dan kak Ita gak
putus asa, ia masih belum menyerah dengan cintanya. Setelah ditolak kak Miko, ia
nembak Mario. Sama seperti sebelumnya, kak Ita ditolak sama Mario. Gila nggak
sih?! Masa ditolak kakaknya, malah nembak adiknya dan ujung-ujungnya ditolak
juga. He he he

Soal kak Ita ditolak Kak Miko dan Mario tinggal dulu ajah deh Coz gue mau
cerita soal Mario. Aku juga gak mungkiri kalau aku suka sama dia. Kak Miko,
walau banyak cewek yang bilang kalau Kak Miko lebih ganteng daripada Mario,
tapi bagiku Mario lebih ganteng dari kak Miko bahkan dari cowok satu sekolahan.
Tapi aku gak mau ambil malu dengan nembak Mario seperti yang dilakukan kak
Ita anak kelas dua itu. Mungkin karena aku masih kental dengan adat yang tidak
membiasakan cewek untuk menyatakan cintanya lebih dulu. Tapi harus cowok
yang duluan menyatakan cinta.

Walau di tv tengah marak-maraknya menayangkan sinetron-sinetron remaja yang


membebaskan antara cewek atau pun cowok untuk bebas menyatakan cinta duluan,
tapi aku tak pernah mau ikut-ikutan dengan tren itu. Dan lagi, saat ini banyak
reality show yang mengadakan acara nembak seseorang yang mereka sukai.
Contohnya Katakan Cinta yang ditayangkan di stasiun tv RCTI. Aku suka nonton
di tv, tapi aku tak akan mengambil contoh itu untuk dilakukan di kehidupan
nyataku.

Soal aku suka sama Mario, kupercayakan pada yang di Atas dan waktu. Karena
waktu akan bicara suatu hari nanti untuk menyatukan aku dengan Mario atau
malah memisahkannya.

Rasa cinta yang kurasakan padanya membuatku jadi orang yang selalu takut. Takut
kalau-kalau kenyataan dia gak suka sama aku. Takut untuk jauh darinya dan takut
untuk segala kemungkinan yang ada. Setiap harinya di sekolah, aku selalu curi-curi
pandang. Tapi dia gak pernah merespon sinyal-sinyal kecil yang aku pancarkan,
mungkin kurang kuat kali sinyalnya? Memang sempat aku mendapati dirinya
tengah memandang ke arahku. Tapi aku gak tahu apa dia benar-benar menatap ke
arahku atau yang lainnya, atau ke arah Yuni.

Sempat aku merasa kecewa dan sakit hati saat aku berpikir kalau benar Mario suka
pada Yuni. Kuakui Yuni memang cantik, putih dan pandai bergaul. Terkadang aku
juga iri padanya. Dan sempat terlintas di pikiranku untuk membenci Yuni karena
telah merebut Mario dariku. Tapi aku sadar, apa salah Yuni. Aku toh tak pernah
bilang pada Yuni, Santi maupun Siti kalau aku suka sama Mario. Aku senang saat
tahu kalau ternyata Yuni suka sama Pandi, dia teman satu kelas. Dan aku merasa
lega saat tak ada satu dari teman-temanku yang suka padanya.

Kelas 7C, memberikan satu kenangan indah padaku. Satu kenangan yang tak kan
pernah terlupakan sampai kapanpun. Saat itu, Bu Ani, guru Geografi memberi
ulangan. Dan beliau selalu membagi dua kelompok, jumlah anak satu kelas dibagi
dua bagian, kelompok satu dan kelompok dua. Kelompok satu terdiri dari absensi
no 1 sampai 20, kemudian kelompok dua terdiri dari absensi 21 sampai 40.
Kebetulan aku dan Mario ikut kelompok dua. Kelompok satu mendapat giliran
pertama untuk ulangan, sementara kelompok dua mendapat giliran kedua dan
menunggu selesainya ulangan kelompok satu sembari belajar di luar kelas.

Saat itu aku tengah menunggu giliran sambil membuka buku Geografiku dengan
bersandar pada tiang bangunan di depan pintu, sesekali aku melirik ke dalam kelas.
Semua anak-anak yang lain pun cemas menunggu giliran, mereka takut pada soal
ulangan yang susah-susah. Saat kami semua tengah menunggu giliran aku
mendengar Mario bernyanyi. Kulirik dia yang tengah melantunkan lagu
Masihnya Ada Band di belakang pintu sambil tangannya memainkan pintu.

Rasa cinta yang dulu tlah hilang kini bersemi kembali


Tlah kucoba lupakan dirinya hapus cerita dulu

Dan lihatlah dirimu bagai bunga di musim semi

yang sering tersenyum, menatap indahnya dunia

yang sering menyambak, jawaban segala gundahmu

Walau badai menghadang

ingatanku kan selalu menjagamu

Berdua kita lewati jalan yang berliku tajam

Resah yang kurasakan

kan menjadi bagian hidupku bersamamu

Letakan segala lara di pundakku ini setiap waktu

Wajahmu yang lugu selalu bayangi langkahku

Tlah lama kunanti dirimu tempatku berlabuh percaya di hatimu

Yakinlah kekal abadi selamanya

Seperti bintang yang sinarnya terangi seluruh ruang di jiwa membawa kedamaian

Aku tersenyum mendengarnya melantunkan nada itu. Walau tak bagus-bagus amat
seperti penyanyi aslinya, aku tetap suka menjadi pendengar setianya. Seperti ada
angin aneh yang berhembus menuju padaku dan sempat meniupkan dinginnya
pada hatiku. Memberi suatu sensasi kebahagiaan tersendiri padaku. Kenangan itu
terus bercokol kuat di kaset memori dalam tempurung kepalaku.

2004/2005

Saat kelas dua aku tak sekelas lagi dengan Mario. Aku sedih. Apalagi jarak kelas
kami yang sangat jauh. Mario menempati ruang kelas 8 A, sedangkan aku
menempati ruang kelas 8 D. betapa tersiksanya aku saat jarak kelasku dengannya
berjauhan. Meski setiap kali istirahat aku selalu nongkrong di depan kelasku untuk
bisa melihat wajahnya setiap kali ia keluar dari kelas untuk menuju kantin atau
sekedar berjalan melewati kelasku. Aku tak menemukan kepuasan saat aku
melakukan itu. Aku selalu merasa kurang dan kurang. Tak hanya di situ, aku selalu
cari perhatiannya saat upacara hari Senin atau saat senam di hari Jumat, bahkan
saat aku ada kelas olahraga di hari Rabu.

Sempat aku hampir frustrasi karena memikirkannya, barang tak ketemu satu hari
saja aku uring-uringan, ketemu aku malah jadi salting dan grogi. Di kelas 2 aku
juga tak sekelas dengan Yuni, ia menempati ruang kelas 8 B yang bersebelahan
dengan kelas Mario. Di kelas 8 D aku duduk sebangku dengan Fira, tapi aku
dengannya tak begitu akrab. Justru aku lebih akrab dengan Mei. Mei anaknya lebih
dewasa daripada aku, mungkin karena dia anak pertama. Aku dengan Mei selalu
saling curhat. Dan tak ada hari tanpa cerita, entah itu menyedihkan atau bikin
ketawa sampai perut kami sakit.

Di sinilah aku mulai terbuka. Aku mulai membicarakan soal Mario dan perasaanku
pada Mei. Dan ia selalu membantuku dengan mengingatkanku atau
memberitahuku kalau-kalau Mario lewat di depan kelas. Bahkan ia menggodaku
kalau Mario masuk ke kelas 8 D untuk bertemu dengan temannya. Tapi aku tak
tahu siapa teman akrabnya di kelas 8 D. Aku senang ada Mei yang menjadi
temanku, karena kami bisa saling bercerita.

Mei juga sering curhat tentang cowok yang dia sukai atau tentang teman ayahnya
yang ingin melamar Mei selepas lulus nanti. Sebenarnya Mei belum ingin
memikirkan soal pernikahan, tapi orangtuanya selalu mendesaknya untuk cepat-
cepat menikah. Maklum, para orangtua kami masih berpikiran pendek karena kami
tinggal di desa.
Oh ya di kelas ada cowok nyebelin and rese banget. Namanya Yogi. Anaknya
gemuk dan suka mancla mencle kalau ngomong. Anak-anak juga gak begitu suka
padanya. Kebetulan aku jago Fisika dan setiap kali aku ditunjuk maju ke depan
saat pelajaran Fisika, ia selalu mengejekku dengan kata-kata Ini dia anak pintar
maju. Dia pasti bisa ngerjainnya. Bukannya aku sensi atau apa, tapi aku sebal saat
ia mengatakan itu. Ia mengatakannya seperti sedang mengejekku saja. Dan aku
sebal.

Tak hanya itu, terkadang kalau guru sedang menjelaskan, ia suka sekali
melempariku dengan kertas yang diremas, walau cuma kertas tapi rasanya sakit
kalau dilempari bertubi-tubi. Bahkan ia pernah menumpahkan tinta bolpoin pada
seragam putihku, ujung-ujungnya aku dimarahi ibuku sepulang sekolah. Tak
istirahat, tak saat pelajaran, tak saat upacara, tak saat senam, dan tak saat olahraga,
Yogi, cowok rese itu selalu mengusiliku dengan berbagai kata-kata pedasnya atau
perlakuannya yang terkadang melukaiku. Selama satu tahun aku menjadi bulan-
bulanan Yogi.

Bahkan kami sempat dianggap pacaran sama anak-anak yang lain. Tapi aku tak
sudi punya pacar seperti dia. Ogah bangetttzzz deh. Meski cakep tapi
kelakuannya ampun deh Bikin kesel! Aku sempat mikir juga, apa iya kalau
Yogi itu suka sama aku? Ato nggak deh! Aku gak mau!!! Oh satu yang mungkin
bikin Yogi gak kapok dan gak henti-hentinya ngusilin aku. Ternyata aku gak
gampang nangis saat dikerjai dia. Maklum aku malu kalau nangis di sekolah dan
kebetulan aku gak peka kalau disuruh nangis kecuali kalau di rumah. Itu sebabnya
kenapa Yogi gak takut kalau ngerjain aku, lah akunya gak pernah nangis dan gak
ketahuan guru. Kalau ketahuan guru dia sering nyakitin siswa lain pasti dimarahi
guru atau dibawa ke BP.

2005/2006

Kelas tiga aku juga tak sekelas lagi dengan Mario, tapi aku sekelas dengan Yuyun.
Dan aku bersyukur karena Yuyun tak sesinis sewaktu kelas satu dulu. Meski dia
masih sinis sama aku, tapi ia tak pernah buat perkara denganku. Kelas tiga ini
kurasakan banyak kenangan dengan Mario.

Suatu hari setelah sekolah melaksanakan try out bagi kelas tiga untuk menghadapi
ujian nasional, Mario menempelkan pengumuman hasil try out dan membagi
kelompok les setiap kelasnya dengan hasil try out itu. Dan aku ikut kelas C karena
peringkatku di atas seratus. Aku sadar saat kelas tiga, peringkatku menurun tak
seperti sewaktu SD dulu yang menduduki peringkat kedua dan menjadi peringkat
delapan saat pertama masuk SMP dari semua angkatan. Aku duduk di bangku
kedua dari barisan dekat pintu. Saat itu, aku tengah duduk di bangkuku kebetulan
lonceng masuk telah berbunyi.

Awalnya aku senang melihatnya masuk ke kelasku. Dan aku kaget saat ia berjalan
menuju mejaku. Tenyata ia ingin menempel hasil pengumuman di jendela kaca
yang letaknya di sebelahku. Dan yang paling bikin surprise lagi adalah aku yang
duduk di dekat tembok alias ia berdiri di dekatku. Ia meletakan kertas
pengumuman dan lem di mejaku. Aku grogi dan salting saat ia berdiri di
sampingku untuk menempel kertas pengumuman di kaca jendela. Aku pun
berpura-pura mengambil buku dari dalam tas -yang sebenarnya sudah aku
keluarkan dan kuletakan di atas meja- untuk pelajaran PPKN.

Saat aku pura-pura mengambil buku dari dalam tas, aku tersenyum sendiri kayak
orang bego -itu kulakukan kalau aku lagi grogi atau salting, kayak ketangkap basah
ambil barang orang lain rasanya, karena keluar keringat dingin dan badanku jadi
membeku- dan terdengar suara teriakan anak-anak satu kelas. Entah mereka tengah
meneriakiku atau bukan tapi jantungku berpacu dengan cepatnya, hampir meloncat
dari tempatnya.

Dulu setelah ujian jika ada nilai yang belum tuntas maka dilaksanakan remidi. Saat
itu sekolah tengah mengadakan ujian sekolah. Kebetulan satu kelas nilai elektro
yang tuntas hanya tiga orang. Aku termasuk di dalamnya dan aku perempuan satu-
satunya, dua yang lainnya cowok. Karena tak ada teman dan aku melihat Sisi,
teman SD sekaligus teman satu desaku yang merupakan kelas 9B sedang tak ada
remidi. Aku pun ikut gabung dengannya. Aku memang seperti orang hilang kalau
ikut gabung dengan mereka. Karena lain kelas dan lain pula ceritanya.

Aku mengekor pada geng Sisi yang menuju pintu gerbang. Pintu gerbang di
sekolahku ada dua. Satu berada di atas dan yang lainnya berada di bawah
-kebetulan sekolah kami berada di daerah yang menanjak jadi seperti terasering
dan tidak rata. Kami duduk-duduk di depan gerbang atas. Dan tak sengaja aku
melihat sosok Mario tengah bercengkrama dengan teman-temannya di gerbang
bawah. Aku sempat terlonjak saat Mario dan Widi meninggalkan teman-temannya
yang lain untuk berjalan menuju gerbang atas, dimana tempatku berada.

Aku sedikit merasa senang saat ia berjalan mendekatiku. Tak peduli apakah ia
datang karena aku atau bukan, tapi yang jelas dia mengajak Widi untuk datang ke
tempatku berada. Setelah ia sampai di gerbang atas, Sisi dan gengnya mengajakku
pergi. Aku sedikit sedih saat meninggalkannya pergi. Andai aku punya keberanian
untuk bisa menyapanya dan mengajaknya bicara, dan bukan menjadi gadis
penakut, mungkin aku akan lebih mendapatkan sesuatu yang lebih menyenangkan
daripada sesuatu yang menyedihkan.

Oh ya, ada satu cerita lagi. Aku sih gak ingat itu terjadi kapan, entah aku masih
kelas dua atau sudah kelas tiga. Tapi aku sih yakinnya kalau itu terjadi saat aku
masih kelas dua deh tapi aku ragu. Gini ceritanya, aku kan anaknya beseran-sering
kencing -entah waktu istirahat ataupun waktu pelajaran. Dan setiap harinya aku
selalu bolak-balik ke toilet minimal tiga kali. Sampai-sampai temanku heran pada
kebiasaanku dan bosan menemaniku ke toilet -sekarang sih penyakit itu udah
lumayan berkurang. Buktinya aku akan kencing sehabis berpergian dan besernya
kalau di rumah aja, itu juga karena aku doyan minum-. Maklum aku masih pemalu
waktu SMP, he he he he kemana-mana harus ditemani -tapi sekarang gak
kok, malah sekarang malu-maluin lah iya-.

Seperti biasa aku mengajak Mei ke toilet dan setiap perjalanan-kelas berada di
pojok kanan utara dan toilet berada di pojok kiri selatan -menuju toilet, kami saling
cerita, apalagi kalau bukan curhat. Saat berjalan menuju toilet aku sempat ngelirik
ke kelas Mario, ternyata kelas Mario tengah kosong. Aku berharap banyak kalau
Mario keluar dari kelas dan pergi ke toilet.

Oh ya kebetulan toilet kami campur antara cewek cowok, walau begitu kami gak
macam-macam kok. Karena sebelum masuk toilet, kami harus tahu dulu apa ada
orang di dalam atau tidak. Kalau di dalam ada cewek dan cowok yang mau ke
toilet harus nunggu sampai si cewek selesai dari toilet begitu pula sebaliknya.
Sebenanya ada banyak toilet di sekolah tapi yang aktif cuma toilet dekat ruang
guru itu. Dan tak jarang juga kalau ada anak-anak yang tak bertanggung jawab
yang menggunakan toilet buat tempat pacaran, dan sempat ada beberapa anak yang
tertangkap basah sedang pacaran di toilet.

Aku dan Mei sudah keluar dari toilet dan betapa kagetnya aku saat kubuka pintu
dan yang tengah berdiri di hadapanku adalah Mario. Mario, cowok yang aku naksir
itu tengah tertawa dengan temannya yang tak aku kenal. Aku berjalan
menundukkan kepala saat melewatinya. Aku tak punya keberanian untuk
menatapnya apalagi menyapanya. Kalau itu terjadi mungkin sekolah akan gempar
dengan teriakanku yang histeris dan membahana. Dan jantungku hampir copot saat
dia bertanya padaku dan Mei.

Kalian gak kosong? tanyanya, seketika aku langsung menegakkan kepalaku dan
menatapnya kemudian menoleh pada Mei.
Nggak. Ada pelajaran Fisika kok. Sahut Mei dan diperkuat anggukanku. Aku
kembali berjalan pergi sambil menggamit lengan Mei. Sepanjang perjalanan
menuju kelas aku tersenyum dan ngeromet nggak jelas tentang Mario yang
bertanya tadi. Tapi saking groginya, Mei yang menjawab. Mei cuma geleng-geleng
kepala mendengarkan celotehku.

2011

Masa kini

Kudengar suara Melly Goeslouw yang melantunkan Denting di malam yang


sunyi ini. Gerimis pun terdengar di angkasa hingga kurasakan dinginnya angin
malam yang bercampur dengan rintik gerimis di kulit pergelanganku. Aku
tersentak karena kaget. Ternyata sudah dua jam aku terpekur asyik melamun
sendiri hingga tak sadar jam dinding menunjukkan pukul dua malam lewat sepuluh
menit. Tanganku meraih grendel jendela dan menariknya hingga jendela tertutup
dan menguncinya. Kumatikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur tetap
menyala. Kukecilkan suara tape recorder. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan
menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhku. Kupejamkan mataku sembari
meresapi lantunan lirik lagu Denting. Itu sangat cocok seperti yang tengah aku
rasakan. Kusambut mimpiku dengan doa dan senyum. Menanti kehadirannya,
walau hanya dalam bunga tidurku.

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku

sadarkan diriku dari lamunan panjang

Tak terasa malam ini semakin larut

ku masih terjaga

Sayang kau dimana aku ingin bersama

Aku putus semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau di sana merasa yang sama

seperti dinginku di malam ini

Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini

Kita menari dalam rindu yang indah

Sepi kurasa hatiku saat ini oh Sayangku

Jika kau ada di sini, aku tenang

The End