Anda di halaman 1dari 16

BAB I

KEMAGNETAN

1.1 Pendahuluan
Sebelum kita diskusikan bahan magnetik, kita perlu memahami beberapa
konsep dasar magnetisme, seperti apa yang menyebabkan medan magnet, dan apa
efek medan magnet yang ada di lingkungan kita. Dalam hal ini, kita akan
membahas tentang sifat bahan mahnetik, syarat batas magnetik, contoh bahan-
bahan magnetik dan juga pemakaian bahan magnetik

a. Bahan Magnetik dan Nonmagnetik


Berdasarkan kemagnetannya, bahan-bahan dibedakan menjadi sebagai berikut:
1. Bahan magnetik yang disebut juga ferromagnetik, yaitu bahan yang dapat
ditarik oleh magnet dengan cukup kuat. Contoh: besi, nikel, baja, kobalt
dan berbagai logam campuran yang lain
2. Bahan nonmagnetik yaitu benda-benda yang tidak dapat ditarik oleh
magnet, terdiri dari:
Paramagnetik, yaitu bahan yang hanya sedikit ditarik oleh magnet
kuat. Contoh : kayu, aluminium dan platina
Diamagnetik, yaitu bahan yang sedikit ditolak oleh magneti kuat.
Contoh : emas, bismuth, merkuri, timah, aluminium, serta stainless.

Bahan-bahan magnetik dapat digolongkan lagi menjadi magnet keras dan


magnet lunak. Bahan magnet keras adalah bahan yang sukar dijadikan magnet,
tetapi setelah menjadi magnet akan menyimpan kemagnetannya dalam waktu
yang lama. Contoh: baja, alkomak, dan kobalt. Bahan magnet lunak adalah bahan
yang mudah dijadikan magnet, namun tidak mampu menyimpan kemagnetannya
dalam waktu yang lama, misalnya besi.

1
b. Sifat Kemagnetan
Beberapa sifat kemagnetan yang dapat diamati:
1. Magnet memiliki dua buah kutub, yaitu kutub utara dan kutub selatan.
Kutub utara selalu menunjuk ke arah utara Bumi, sedangkan kutub selatan
selalu menunjuk ke arah selatan Bumi.
2. Kutub-kutub senama (sejenis) akan tolak-menolak dan kutub-kutub yang
tidak senama (tidak sejenis) akan tarik-menarik.

3. Teori Kemagnetan
Menurut teori kemagnetan,
1. Sebuah bahan magnet tersusun dari sejumlah besar magnet-magnet kecil
yang dinamakan magnet elementer
2. Pada magnet, magnet elementer tersusun secara teratur, sedangkan pada
bahan nonmagnetik, magnet elementer tersusun secara acak;
3. Prinsip membuat magnet adalah menjadikan magnet elementer yang
tadinya tidak teratur menjadi teratur dan searah;
4. Pada bahan magnet lunak, magnet elementer mudah "diputar" sehingga
bahan-bahan tersebut mudah dijadikan magnet;
5. Pada bahan magnet keras, magnet elementer sukar "diputar" sehingga
bahan ini sukar dijadikan magnet;
6. Bila magnet permanen dipotong, masing-masing potongan akan tetap
mempunyai dua kutub, yaitu kutub utara dan kutub selatan

2
BAB II
SIFAT BAHAN MAGNETIK

2.1 SIFAT BAHAN MAGNETIK


Menurut sifatnya terhadap adanya pengaruh kemagnetan, sifat magnetik bahan
digolongkan menjadi 5 yaitu :
1. DIAMAGNETIK
Diamagnetisme adalah sifat suatu benda untuk menciptakan suatu medan
magnet ketika dikenai medan magnet. Sifat ini menyebabkan efek tolak menolak.
Diamagnetik adalah salah satu bentuk magnet yang cukup lemah, dengan
pengecualian superkonduktor yang memiliki kekuatan magnet yang kuat.
Bahan diamagnetisme merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas
magnetik Xm negatif dan sangat kecil. Sifat diamagnet ditemukan oleh Faraday
pada tahun 1846 ketika ia mengetahui bahwa sekeping bismuth ditolak oleh kedua
kutub magnet, yang memperlihatkan bahwa medan luar dari magnet tersebut
menginduksikan suatu momen magnetik pada bismuth dalam arah yang
berlawanan dengan medan tersebut. Kita dapat memahami pengaruh ini secara
kualitatif dengan menggunakan hukum Lenz.
Atom dengan struktur elektron kulit tertutup memiliki momentum sudut
total sama dengan nol dan dengan demikian tidak ada momen magnetik permanen
totalnya. Bahan-bahan yang memiliki atom yang demikian-bismut, misalnya-
merupakan bahan diamagnetik. Sebagaimana yang akan kita lihat kemudian,
momen magnetik induksi yang menyebabkan diamagnetisme memiliki besar orde
10-5 magneton Bohr. Karena nilai ini jauh lebih rendah daripada momen magnetik
permanen atom-atom bahan paramagnetik dan feromagnetik, yang tidak memiliki
struktur kulit tertutup, pengaruh diamagnetik pada atom-atom ditutupi oleh
penyearahan momen magnetik permanen. Akan tetapi, karena penyebarisan ini
menurun terhadap temperatur, semua bahan secara teoritis bersifat diamgnetik
pada temperatur yang cukup tinggi.
Superkonduktor merupakan diamagnetik yang sempurna, artinya
superkonduktor ini memiliki suseptibilitas magnetik -1. apabila superkonduktor
ini ditempatkan dalam medan magnetik luar, arus listrik akan diinduksikan pada

3
permukaannnya sehingga medan magnetik total dalam superkonduktor tersebut
menjadi nol. Perhatikan batang superkonduktor di dalam solenoida
dengan n lilitan per panjang satuan. Apabila solenoidanya dihubungkan dengan
sumber ggl sehingga menyalurkan arus I, medan magnetik akibat solenoidanya
akan sama dengan . Arus permukaan sebesar nI per panjang satuan yang
diinduksikan pada batang superkonduktor akan meniadakan medan akibat
solenoida sehingga medan total di dalam superkonduktor sama dengan nol.

Sifat Diamagnetik Material


Bahan yang resultan medan magnet atomis masing-masing
atom/molekulnya adalah nol
Jika solenoida dimasukkan bahan ini, induksi magnetik yang timbul lebih
kecil
Permeabilitas bahan ini : m < m0

Persamaan Langevin Diamagnetik


Pada elektromagnetik, ada dikenal dengan Hukum lenz : Saat fluks
magnetik pada rangkaian listrik berubah, arus imbas induksi akan muncul dalam
arah sedemikian rupa sehingga arah tersebut menentang perubahan yang
menghasilkannya. Pada superkonduktor atau pada orbit elektron dalam atom,
arus induksi sepanjang medannya ada. Medan magnet arus induksi berlawanan
arah dengan medan magnet luar dan momen medan magnet yang dihubungkan
dengan arus adalah momen diamagnetik. Pada logam normal ada kontribusi
diamagnetik dari konduksi elektron dan diamagnetisnya tidak dirusak oleh
benturan elektron. Perlakuan diamagnetik atom dan ion adalah dengan
menggunakan Teorema Larmor, yaitu : Dalam sebuah medan magnet, gerak
elektron di sekitar inti adalah sama dengan gerak tanpa medan magnet, kecuali
untuk superposisi dari sebuah presisi elektron dengan frekuensi sudut :

4
Bila arus listrik akibat gerak presisi dari Z buah elektron adalah ekivalen
dengan arus listrik (I). Dimana dalam satuan SI, arus adalah:

Momen magnet ( ) pada rangkaian tertutup adalah:

dimana luas loop yang berjari-jari adalah 2. Sehingga persamaan momen


magnetiknya adalah:

5
Dimana :
2 x2 y2
r2 2 z2
x2 y2 z2
Untuk distribusi elektron yang simetris bola, x2 = y2 = z2 sehingga :

Dari persamaan di atas

Suseptibilitas per satuan volume untuk N = jumlah atom per satuan volume dan M
= jumlah momen dipol per volume adalah :

Persamaan
Langevin untuk
diamagnetisme

Bila diplot ke dalam grafik, hubungan antara (suseptibilitas) dengan suhu T,


akan diperoleh grafik sebagai berikut :

6
2. PARAMAGNETIK

Logam Paramagnetik adalah logam yang memiliki suseptibilitasnya


bernilai positif ( > 0 ). Bahan paramagnetik ialah bahan-bahan yang memiliki
suseptibiltas magnetic Xm yang positif, dan sangat kecil. Paramagnetisme muncul
dalam bahan yang atom-atomnya memiliki momen magnetik permanen yang
berinteraksi satu sama lain secara sangat lemah. Apabila tidak terdapat medan
magnetik luar, momen magnetik ini akan berorientasi acak. Dengan daya medan
magnetik luar, momen magnetik ini cenderung menyearahkan sejajar dengan
medannya, tetapi ini dilawan oleh kecenderungan momen untuk berorientasi acak
akibat gerakan termalnya. Perbandingan momen yang menyearahkan dengan medan
ini bergantung pada kekuatan medan dan pada temperaturnya. Pada medan magnetik
luar yang kuat pada temperatur yang sangat rendah, hampir seluruh momen akan
diserahkan dengan medannya. Dalam keadaan ini kontribusi pada medan magnetik
total akibat bahan ini sangat besar, seperti yang diperlihatkan dalam taksiran numerik.
Akan tetapi, sekalipun dengan medan magnetik terkuat yang dapat diperoleh di
laboratorium, temperatur haruslah serendah beberapa Kelvin untuk memperoleh
derajat penyearahan yang tinggi.

Adapun klasifikasi logam paramagnetik berdasarkan spin elektronnya adalah:


1. Ferromagnetik

2. Anti Ferromagnetik

3. Ferrimagnetik

4. Canted Anti Ferromagnetik

7
5. Helical Spin

Variasi dari nilai Suseptibilitas paramagnetik ditentukan oleh hukum Curie.

Keterangan:
T = suhu pengamatan

= bilangan Bohr Magneton


N = jumlah atom bahan

= kontanta Boltzman
C = Konstanta Curie
P = bilangan Bohr Magneton efektif
g = faktor Lande

Sifat Paramagnetik Material


Bahan yang resultan medan magnet atomis masing-masing
atom/molekulnya adalah tidak nol
Jika solenoida dimasuki bahan ini akan dihasilkan induksi magnetik yang
lebih besar.
Permeabilitas bahan ini : m > m0

8
3. FEROMAGNETIK
Bahan feromagnetisme merupakan bahan yang memiliki nilai
suseptibilitas magnetik Xm positif, yang sangat tinggi. Feromagnetisme muncul
pada besi murni, kobalt, dan nikel serta paduan dari logam-logam ini. Sifat ini
juga dimiliki oleh gadolinium, disprosium, dan beberapa senyawa lain. Dalam
bahan-bahan ini sejumlah kecil medan magnetik luar dapat menyebabkan derajat
penyearahan yang tinggi pada momen dipol magnetik atomnya. Dalam beberapa
kasus, penyearahan ini dapat bertahan sekalipun medan pemagnetannya telah
hilang. Ini terjadi karena momen dipol magnetik atom dari bahan-bahan ini
mengerahkan gaya-gaya yang kuat pada atom tetangganya sehingga dalam daerah
ruang yang sempit, momen ini disearahkan satu sama lain sekalipun medan
luarnya tidak ada lagi. Daerah ruang tempat momen dipol megnetik disearahkan
ini disebut daerah magnetik. Ukuran suatu ranah biasanya bersifat mikroskopik.
Dalam daerah ini, semua momen magnetik disearahkan, tetapi arah
penyearahannya beragam dari daerah ke daerah sehingga momen magnetik total
dari kepingan mikroskopik bahan feromagnetik ini adalah nol dalam keadaan
normal.
Apabila medan magnetik luar dikerahkan, batas-batas daerah tersebut
dapat bergeser atau arah penyearahan dalam suatu daerah dapat berubah sehingga
terdapat momen magnetik mikroskopik total dalam arah medan yang dikerahkan
tersebut. Karena derajat penyearahan itu terlalu besar bahkan untuk medan luar
yang lemah, medan magnetik yang dihasilkan dalam bahan ersebut oleh dipol-
dipol seringkali jauh lebih besar daripada medan luarnya.

Sebuah ferrromagnetik memiliki momen magnetik yang spontan, meski


berada didaerah yang tidak terdapat medan magnetik. Temperatur Curie (TC)
adalah temperatur yang membedakan magnetisasi spontan, ini memisahkan
paramagnetik pada daerah T > TC dan ferromagnetik pada daerah T < TC.
Suseptibilitas untuk bahan feromagnetik, adalah:

9
Dimana C adalah tetapan Currie dan Tc adalah Suhu Curie; suhu yang
memisahkan antara Ferromagnetik dengan non Ferromagnetik.
Suseptibilitas memiliki kesingularan pada T = C. X, Pada temperatur ini
(dan dibawahnya) terdapat magnetisasi spontan, karena jika X infinit kita akan
dapatkan finit M untuk Ba sama dengan nol. Persamaan di atas, merupakan
hukum Curie-Weiss, besar tetapan Curie adalah :

Dimana adalah konstanta Weiss yang besarnya

Sifat Feromagnetik Material


Bahan yang mempunyai resultan medan magnetis atomis besar
Tetap bersifat magnetik sangat baik sebagai magnet permanen
Jika solenoida diisi bahan ini akan dihasilkan induksi magnetik sangat
besar (bisa ribuan kali
Permeabilitas bahan ini m > m0

10
KETERANGAN GRAFIK:
1. Sebuah bahan yang paramagnetik bisa berlaku sebagai ferromagnetik bila
suhunya diturunkan sampai dengan suhu tertentu Suhu Curie.
2. Suatu bahan yang paramagnetik bisa berlaku sebagai anti ferromagnetik
bila suhunya dinaikkan sampai dengan suhu tertentu Suhu
Weiss.

4. ANTI FEROMAGNETIK
Jika jumlah momen magnetik dari sub-dominan paralel dan antiparalel
mengganti satu sama lain pada material yang seharusnya feromagnetik, nilai
suseptibilitasnya sangat kecil, mendekati substansi paramagnetik. Material ini
disebut antiferomagnetik dan contohnya hematite.

5. FERRIMAGNETIK
Pada bahan yang bersifat, dipole yang berdekatan memiliki arah yang
berlawanan tetapi momen magnetiknya tidak sama besar. Bahan ferimagnetik
memiliki nilai suseptibilitas tinggi tetapi lebih rendah dari bahan feromagnetik,
beberapa contoh dari bahan ini adalah ferriete dan magnetite.
Contoh-Contoh Bahan Magnetik
No. Diamagnetik Paramagnetik Ferromagnetik
1. Garam dapur Aluminium Besi
2. Tembaga Magnesium Baja
3. Emas Wolfram Besi Silikon
4. Perak Platina Nikel
5. Seng Kayu Kobalt

11
2.2 PARAMETER MAGNETIK
1. Permeabilitas dan susceptibilitas magnetik
Pada perhitungan perhitungan tentang magnet, terdapat hubungan antara
fluxi (B) dengan satuan Wb/m2 atau tesla dengan kuat medan (H) dengan satuan A
lilit/ m sebagai berikut :
B=H
= r . o
sehingga :
B = r . o . H

adalah permeabilitas bahan yang merupakan hasil perkalian permeabilitas


absolut (o) dengan permeabilitas relatif (r) .

Besarnya o = 4. . 10-7 H/m. Kuantitas yang diekspresikan (r 1)


disebut magnetisasi per unit dari intensitas maka demikian pula dengan r- 1.
Besarnya untuk bahan ferromagnetik adalah tidak konstan. Jika arus I dialirkan
melalui kumparan dengan inti adalah bertambah dari nol bertahap sehingga medan
magnet dan rapat fluksi bertambah. Pada gambar 4.2 kurva OP mula mula naik
dengan tajam , kemudian setelah mencapai tahapan tertentu kurvanya mendatar,
hal ini karena B telah mencapai kejenuhan (saturasi).

Pada gambar 4.2 setelah titik P dicapai , kemudian I diturunkan secara


bertahap, maka diperoleh kurva PQ yaitu pada saat I sama dengan nol, masih
terdapat sisa kemagnetan (Br) . Daya Koersip (coersive force) yaitu apabila besar
H akan bertambah sehingga B menjadi nol dititik R dan diperoleh Hc .
Selanjutnya prosedur diatas diulang maka didapat kurva PQRSCTP yang disebut
Jerat Histerisis magnetik yang luasnya sebanding dengan volume bahan magnetic
yang dimagnetisasi , dan kalau inti diberi arus bolak balik akan menimbulkan
eddy current yang disebut arus pusar atau arus focoult.

12
2. Momen magnetic
Jika sebuah yang dilewati arus (I) diletakan pada rapat fluksi yang merata
akan menimbulkan torsi , besar torsi akan tergantung pada : Luas kumparan , arus
dan rapat fluksi yang terpotong bidang kumparan. Momen dwikutub magnetik
hubungan dengan torsi adalah :

pm = I . A kumparan

Pm dengan satuan A/m2 adalah merupakan vektor yang arahnya tegak lurus
terhadap kumparan. Apabila batang magnet permanen diletakan didalam medan
yang merata akan menyebabkan torsi . Jika magnet mendapatkan kutub kutub
bebas yang berlawanan, dikatakan sebagai momen dwikutub sebagai produk dari
kuat kutub dan jarak antara kutub-kutub.

3. Magnetisasi
Semua bahan adalah memungkinkan menghasilkan medan magnetik , dari
itu secara eksperimental untuk menimbulkan momem magnetik. Besar momen ini
per unit volume disebut magnetisasi dari madium (M) dengan satuan C/m.dt atau
A/m. Induksi magnetik (rapat fluksi) adalah penjumlahan dari efek pada keadaan
fakem suatu bahan, besar rapat fluksi (B) menjadi :

13
B = o . H + o . M
M = ( 1) .H
= Xm . H

Xm adalah susceptifitas magnetik . Magnetisasi (M) dari bahan dapat


diekspresikan sebagai momen dwikutub magnetik (pm) dengan satuan C. m 2 / dt
atau A/m2 dimana :
M = N . pm

N adalah jumlah dwikutub magnetic per unit volume.

Berdasarkan susceptibilitasnya dapat dibedakan sifat kemagnetan suatu


bahan yaitu untuk Xm negatif 10-5 adalah diamagnetik, untuk Xm kecil dan positif
10-3 pada suhu kamar (karena Xm berbanding terbalik dengan suhu) adalah
paramagnetik , untuk Xm yang besar adalah ferromagnetik .

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Simpulan Dari pemabahasan materi bahan-bahan magnetik di atas dapat ditarik
kesimpulan antara lain:
1. Bahan magnetik dapat digolongkan menjadi 5 yaitu diamagnetik, paramagnetik,
feromagnetik, anti ferromagnetik, dan ferrimagnetik (ferri).
2. Parameter Parameter magnetik antara lain : Permeabilitas dan susceptibilitas
magnetik, momen magnetik, magnetisasi

3.2 Saran
Bahan magnetik merupakan salah satu bahan listrik yang sering digunakan oleh
masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat mulai
sekarang ini adalah meningkatkan pengetahuan mengenai bahan magnetik dan
melestarikan bahan-bahan anorganik maupun organik sebagai bahan dasar
pembuat bahan magnetik ini.

15
DAFTAR PUSTAKA
Motlan.2017.PENDAHULUAN FISIKA ZAT PADAT. Medan : UNIMED
https://www.academia.edu/8436234/BAHAN_BAHAN_MAGNETIK?
auto=download

16