Anda di halaman 1dari 6

ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien
Pasien laki-laki, usia 47 tahun masuk RSUD Arifin Achmad pada tanggal 06 Desember
2015.

Anamnesis
Keluhan utama: pasien datang ke IGD RSUD AA dengan keluhan lemas sejak 3 hari
SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang:
1 bulan SMRS, pasien pernah dirawat di RSUD AA karena mengalami fraktur terbuka
pada 1/3 distal tibia fibula akibat kecelakaan lalu lintas. Dalam masa perawatan di RSUD AA
pasien mengeluhkan nyeri perut kanan atas, matanya menguning, BAK bewarna pekat dan BAB
bewarna pucat. Kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium dan ditemukan HBsAg pada
pasien reaktif.
5 hari SMRS pasien mengeluhkan badan semakin menguning, nafsu makan menurun,
mual (+), nyeri pada perut bagian tengah terutama jika bergerak dan ditekan, perut terasa penuh
setiap kali diisi makanan. Selain itu pasien juga merasa gatal-gatal pada seluruh tubuhnya, BAK
bewarna seperti teh dan BAB bewarna pucat.
3 hari SMRS pasien mengeluhkan badan semakin lemas sehingga pasien dibawa ke
RSUD AA.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya, riwayat sakit kuning (+)
1 bulan yang lalu, riwayat transfusi (+) 1 bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga:
tidak ada anggota keluarga yang menderita keluhan dan penyakit yang sama. Tidak ada
anggota keluarga pasien yang pernah menderita sakit kuning dan keganasan.
Riwayat Pekerjaan, Kebiasaan, dan Sosial Ekonomi:
pasien bekerja sebagai pegawai bank, pasien memiliki kebiasaan konsumsi alkohol,
riwayat penggunaan obat-obatan serta jarum suntik narkotika disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang dengan kesadaran
komposmentis. Tekanan darah terukur 90/50 mmHg, denyut nadi 80 kali per menit, frekuensi
nafas 22 kali per menit, suhu aksila 36,7 C.
Pada pemeriksaan kepala dan leher ditemukan konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik
(+/+), pupil isokor, edema palpebral (-/-). Pada hidung, telingga dan mulut tidak ditemukan
adanya kelainan. Pada pemeriksaan leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening,
tidak ditemukan pembesaran kelenjar tiroid, tidak ditemukan adanya peningkatan JVP pada
pasien.

Hasil pemeriksaan thorax paru pada inspeksi didapati bentuk dan gerakan dinding dada
simetris kanan dan kiri, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan. Pada palpasi vokal fremitus
normal sama kanan dan kiri. Pada perkusi didapati sonor di seluruh lapangan paru. Dari
pemeriksaan auskultasi didapati suara pernapasan vesikuler (+/+) dan tidak ada suara napas
tambahan. Pada pemeriksaan jantung didapat hasil inspeksi ictus kordis tidak terlihat. Pada
palpasi ictus kordis teraba di linea midklavikula sinistra SIK 5. Pada perkusi batas jantung
kanan di linea parasternalis dekstra. Batas jantung kiri terletak pada 2 jari medial linea
midklavikula sinistra SIK 5. Pada auskultasi didapatkan bunyi jantung S1 dan S2 dalam
batas normal, murmur(-), gallop(-).
Pada pemeriksaan abdomen didapati perut datar, penonjolan massa (-), venektasi (-), scar
(-) kulit kering dan terdapat skuama. Auskultasi abdomen didapatkan bising usus (+) 20
kali/menit. Perkusi pekak di regio hipokondrium dextra dan lumbal dextra. Palpasi hepar teraba 5
jari dibawah arkus kosta dekstra, konsistensi padat, permukaan rata, tepi tumpul, tidak dapat
digerakkan, nyeri tekan (+) di regio epigastrium - hipokondrium dekstra lumbal dekstra.
Splenomegali (-).
Ekstremitas didapati kulit tampak ikterik dan kering, udem tungkai inferior (+/+), akral
hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), telapak tangan dan kaki pucat (-).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah rutin (06/12/2015):


Leukosit 5100 u/L
Eritrosit 2,33x106 u/L
Hb 6,4 g/dL
Ht 19,8 %
PLT 10 x 103 /Ul
Pemeriksaan kimia darah :
Ure 204,0 mg/dl
Cre 2,57 mg/dl
AST 97,7 u/L
ALT 45 u/L
Albumin 2 mg/dl
Bilirubin total 28,19
Bilirubin direct 14,82
Pemeriksaan HBSAg kualitatif reaktif

Pemeriksaan anti HCV non reaktif

Daftar masalah
1. Icterus obstructif ec suspect Ca caput pankreas
Perencanaan
- USG Abdomen, pemeriksaan tumor marker CEA dan Ca 19-9, pemeriksaan kadar lipase,
amilase, albumin, Bilirubin (Total dan Direk)
Penatalaksanaan
Non farmakologis

Bed rest
Diet makanan lunak

Farmakologis

IVFD RL 20 tpm
Tramadol 2 x 100mg
Infus Aminofusin Hepar 500ml
Curcuma tab 3 x 200mg

Follow up 3 Oktober 2015


Subjektif : Nyeri perut kanan atas, mual, muntah berkurang, BAB (-), BAK sedikit dan berwarna
gelap, sesak.

Objektif : KU : compos mentis, tampak sakit sedang, kesan gizi kurang, TD 140/90 mmHg, N
96x/menit, RR 28x/menit, S 37,8oC, Abdomen : supel, cembung, massa (+) di epigastrium,
Hepatomegali (+), Splenomegali (+). BU melemah, Ascites dengan undulasi dan shifting
dullness (+).
Assesment : Hepatosplenomegali ec suspect Hepatoma

Plan : IVFD RL 20 tpm, Infus Aminofusin 500ml, diet lunak, Curcuma 3x200mg, rencana USG
abdomen dan tumor marker AFP

Follow up 4 Oktober 2015


Subjektif : Nyeri perut kanan atas berkurang, mual, muntah berkurang, BAB (-), BAK sedikit,
sesak.

Objektif : KU : compos mentis, tampak sakit sedang, kesan gizi kurang, TD 130/90 mmHg, N
92x/menit, RR 26x/menit, S 37,3oC, Abdomen : supel, cembung, massa (+) di epigastrium,
Hepatomegali (+), Splenomegali (+). BU melemah, Ascites dengan undulasi dan shifting
dullness (+). Hasil USG : Hepatomegali(+), Spleenomegali (+) Asites (+) Kesan Hepatoma.
Kadar AFP 520 ng/ml

Assesment : Hepatoma

Plan : IVFD RL 20 tpm, Infus Aminofusin 500ml, diet lunak, Curcuma 3x200mg, Lactulosa
30ml
Follow up 5 Oktober 2015
Subjektif : Nyeri perut kanan atas berkurang, mual, muntah berkurang, BAB (+), BAK sedikit,
sesak.

Objektif : KU : compos mentis, tampak sakit sedang, kesan gizi kurang, TD 130/80 mmHg, N
94x/menit, RR 24x/menit, S 37,0oC, Abdomen : supel, cembung, massa (+) di epigastrium,
Hepatomegali (+), Splenomegali (+). BU melemah, Ascites dengan undulasi dan shifting
dullness (+).

Assesment : Hepatoma

Plan : Pasien diencanakan pulang.

PEMBAHASAN

Dari haril anamnesis pada pasien ini pasien mengeluhkan nyeri perut kanan atas, pasien
juga mengeluhkan mual atau rasa tidak nyaman di perut, nyeri seperti diremas, nyeri dirasakan
terus-menerus sepanjang hari, tidak menjalar dan tidak dipengaruhi oleh aktifitas. Pasien ini juga
mengeluhkan nafsu makan yang menurun. Dari keluhan tersebut dapat dijelaskan bahwa keluhan
ini sesuai dengan teori pada pasien dengan karsinoma hati atau hepatoma dimana sering muncul
dengan keluhan khas yaitu nyeri perut kanan atas atau rasa tidak nyaman. 1 Pasien ini juga
mengeluhkan perut yang dirasakan mengeras dan sedikit membesar, sesuai dengan tanda dari
pemeriksaan fisik yang dapat ditemui pada pasien hepatoma, dimana akan terjadi hepatomegali
sehingga perut terasa penuh.1,2

Berdasarkan etiologi dan faktor risiko, hepatoma biasa terjadi pada penderita hepatitis B
atau hepatitis C, dan peminum berar alkohol.1,2 Hal ini dapat ditemukan pada pasien ini, dimana
pasien pernah memiliki riwayat sakit kuning sebelumnya.

Temuan dari hasil pemeriksaan pada pasien ini didapatkan, sklera ikterik, dan tanda khas
didapatkan dari pemeriksaan abdomen yaitu permukaan abdomen yang terlihat cembung yang
dapat disebabkan oleh asites, dari hasil auskultasi juga didapatkan bruit hepatik (+), dan palpasi
ditemukan adanya pembesaran hepar hingga 10 jari di bawah arkus kosta, dengan permukaan
berbenjol-benjol, tepi tumpul dan tidak dapat digerakkan. Hasil temuan pada pemeriksaan fisik
pasien ini menunjukkan adanya tanda khas pada hepatoma.1 Penurunan fungsi hepar pada pasien
ini juga didapatkan dari hasil SGOT dan SGPT yang meningkat.

Hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium pada pasien ini sangat mendukung
diagnosa kerja sebagai suspek Hepatoma, sehingga diperlukan pemeriksaan anjuran untuk
menegakkan diagnosis hepatoma berdasarkan kriteria Barcelona EASL, yaitu dengan
menganjurkan pemeriksaan USG Abdomen dan Penanda tumor AFP. Pada hasil follow up
setelah dilakukan pemeriksaan penunjang USG Abdomen didapatkan hepatomegali,
splenomegali dan asites dengan kesan hepatoma. Penanda tumor AFP pada hasil laboratorium
juga menunjukkan hasil kadar AFP >400ng/ml. Kedua hasil ini mendukung kriteria diagnostik
menurut Barcelona EASL, sehingga diagnosa pasien ditegakkan Hepatoma.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini hanya bersifat suportif untuk mengatasi
gejala saja, karena tidak memungkinkan untuk dilakukan reseksi hepatik, mengingat dapat
terjadinya kekambuhan meskipun sudah dilakukan tindakan bedah kuratif.1 Dan tidak
mendukungnya sarana dan prasarana jika dilakukan transarterial embolization/chemo
embolization). Sehingga pasien dapat dipulangkan jika keadaan umum pasien sudah membaik.

KESIMPULAN
Hepatocellular carcinoma (HCC) merupakan neoplasma ganas hepatosit dan lebih dari
80% merupakan neoplasma primer hati. Hampir semua pasien meninggal dalam waktu 6-7 bulan
setelah diagnosis.4 Sebagian besar HCC terjadi pada sirosis hati yang disebabkan oleh faktor
risiko yang sudah dapat dikenal dan dapat dicegah, sehingga perlu pengetahuan tentang tanda
dan gejala dari faktor-faktor risiko tersebut. Sebagian besar kasus HCC berprognosis buruk
karena tumor yang besar dan penyakit hati lanjut serta ketiadaan atau ketidakmampuan
penerapan terapi yang berpotensi kuratif (reseksi dan transplantasi). Kelemahan pada kasus ini
adalah tidak diterapkanya terapi yang berpotensi kuratif.