Anda di halaman 1dari 29

Laporan Kasus

Infark Miokard Akut Tanpa ST Elevasi

Disusun Oleh:
Sherly Asriani
1508438039
Pembimbing :
dr. Haryadi, SpJP(K).FIHA

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu secara
global, yaitu lebih banyak orang meninggal setiap tahunnya karena penyakit
kadiovaskuler dari pada penyebab lainnya. Penyakit kardiovaskular yang saat ini
diperkirakan akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara industri dan
negara berkembang pada tahun 2020 adalah Coronary Artery Disease (CAD) atau

Penyakit Jantung Koroner (PJK). Sindrom Koroner Akut (SKA) merupakan keadaan
gawat darurat dari PJK.1 Penyakit Jantung Koroner merupakan salah satu penyakit
mematikan dan prevalensinya terus mengalami peningkatan sepanjang tahunnya.1
Di Amerika Serikat, pada tahun 1998, penyakit jantung koroner merupakan
penyebab kematian utama dengan persentase sebesar 48%, dan pada tahun 2004
didapatkan angka kematian akibat penyakit jantung koroner di Amerika Serikat
sebesar 450.000 kematian, sedangkan di Indonesia, berdasarkan hasil Survei
Kesehatan Nasional tahun 2001 didapatkan 3 dari 1000 penduduk Indonesia
menderita penyakit jantung koroner.1,2 Penyakit Jantung Koroner dapat terjadi secara
kronis maupun akut. Hal yang menakutkan bagi sebagian orang adalah penyakit
jantung koroner akut atau lebih dikenal dengan Sindrom Koroner Akut.1
Sindrom Koroner Akut adalah ketidakmampuan jantung akut akibat suplai
darah yang mengandung oksigen ke jantung tidak adekuat. 2 Keadaan tersebut dapat
menyebabkan penurunan fungsi jantung. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), dan pemeriksaan marka jantung, Sindrom
Koroner Akut dibagi menjadi angina pektoris tidak stabil, infark miokard tanpa
elevasi segmen ST atau NonST segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI)
dan infark miokard dengan elevasi segmen ST atau ST segment Elevation Myocardial
Infarction (STEMI).

Hal tersebut penting untuk dibedakan karena penatalksanaan

yang akan diberikan akan berbeda untuk masing-masingnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Sindrom koroner akut (SKA) adalah suatu istilah yang digunakan untuk

merujuk pada sekumpulan keluhan dan tanda klinis yang sesuai dengan iskemia
miokard akut. SKA dapat berupa angina pektoris tidak stabil (UAP), infark miokard

dengan non-ST elevasi (NSTEMI) , infark miokard dengan ST elevasi (STEMI) dan
atau kematian jantung mendadak.3
2.2

Etiologi
Etiologi dari sindrom koroner akut adalah 90% akibat adanya trombus yang

menyumbat pada arteri koroner yang aterosklerosis. Diyakini faktor utama pemicu
terjadinya trombosis koroner adalah plak yang ruptur dan erosi. Derajat sumbatan
arteri koroner akan mempengaruhi gejala klinis yang timbul.
Etiologi lain dari sindrom koroner akut adalah

emboli arteri koronaria,

anomali arteri kongenital seperti aneurisma arteri koroner, spasme koronaria


terisolasi, arteritis trauma, gangguan hematologik, diseksi aorta, oklusi arteri koroner
akibat vaskulitis, ventrikel hipertrofi, dan berbagai penyakit inflamasi sistemik.2-4
Diagnosis SKA menjadi lebih kuat jika keluhan tersebut ditemukan pada
pasien dengan karakteristik sebagai berikut3 :
a. Pria
b. Diketahui mempunyai penyakit aterosklerosis non koroner (penyakit arteri
perifer / karotis)
c. Diketahui mempunyai PJK atas dasar pernah mengalami infark miokard,
bedah pintas koroner, atau IKP
d. Mempunyai faktor risiko: umur, hipertensi, merokok, dislipidemia, diabetes
mellitus, riwayat PJK dini dalam keluarga, yang diklasifikasi atas risiko
tinggi, risiko sedang, risiko rendah menurut NCEP (National Cholesterol
Education Program)
2.3

Patofisiologi
Sebagian besar SKA adalah manifestasi akut dari plak ateroma pembuluh

darah koroner yang koyak atau pecah. Hal ini berkaitan dengan perubahan komposisi
plak dan penipisan tudung fibrus yang menutupi plak tersebut. Kejadian ini akan
diikuti oleh proses agregasi trombosit dan aktivasi jalur koagulasi. Terbentuklah
trombus yang kaya trombosit (white thrombus). Trombus ini akan menyumbat liang
pembuluh darah koroner, baik secara total maupun parsial; atau menjadi mikroemboli

yang menyumbat pembuluh koroner yang lebih distal. Selain itu terjadi pelepasan zat
vasoaktif yang menyebabkan vasokonstriksi sehingga memperberat gangguan aliran
darah

koroner. Berkurangnya

aliran darah

koroner menyebabkan iskemia

miokardium. Pasokan oksigen yang berhenti selama kurang-lebih 20 menit


menyebabkan miokardium mengalami nekrosis (infark miokard).
Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah
koroner. Obstruksi subtotal yang disertai vasokonstriksi yang dinamis dapat
menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung (miokard). Akibat
dari iskemia, selain nekrosis, adalah gangguan kontraktilitas miokardium karena
proses hibernating dan stunning (setelah iskemia hilang), distritmia dan remodeling
ventrikel (perubahan bentuk, ukuran dan fungsi ventrikel). Sebagian pasien SKA
tidak mengalami koyak plak seperti diterangkan di atas. Mereka mengalami SKA
karena obstruksi dinamis akibat spasme lokal dari arteri koronaria epikardial (Angina
Prinzmetal). Penyempitan arteri koronaria, tanpa spasme maupun trombus, dapat
diakibatkan oleh progresi plak atau restenosis setelah Intervensi Koroner Perkutan
(IKP). Beberapa faktor ekstrinsik, seperti demam, anemia, tirotoksikosis, hipotensi,
takikardia, dapat menjadi pencetus terjadinya SKA pada pasien yang telah
mempunyai plak aterosklerosis.

Gambar 2.1 Tahap perkembangan atherosclerosis

Gambar 2.2 Perbandigan lumen arteri normal dan abnormal

2.4

Diagnosis

a.

Anamnesis
Keluhan pasien dengan iskemia miokard dapat berupa nyeri dada yang tipikal

(angina tipikal) atau atipikal (angina ekuivalen). Keluhan angina tipikal berupa rasa
tertekan/berat daerah retrosternal, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, area
interskapular,

bahu,

atau

epigastrium.

Keluhan

ini

dapat

berlangsung

intermiten/beberapa menit atau persisten (>20 menit). Keluhan angina tipikal sering
disertai keluhan penyerta seperti diaphoresis, mual/muntah, nyeri abdominal, sesak
napas, dan sinkop.3 Selain itu anamnesis mengenai faktor risiko terjadinya SKA juga
penting untuk memperkuat kemungkinan diagnosis.
Presentasi angina atipikal yang sering dijumpai antara lain nyeri di daerah
penjalaran angina tipikal, rasa gangguan pencernaan (indigestion), sesak napas yang
tidak dapat diterangkan, atau rasa lemah mendadak yang sulit diuraikan. Keluhan

atipikal ini lebih sering dijumpai pada pasien usia muda (25-40 tahun) atau usia lanjut
(>75 tahun), wanita, penderita diabetes, gagal ginjal menahun, atau demensia.
Walaupun keluhan angina atipikal dapat muncul saat istirahat, keluhan ini patut
dicurigai sebagai angina ekuivalen jika berhubungan dengan aktivitas.3
Nyeri dengan gambaran di bawah ini bukan karakteristik iskemia miokard
(nyeri dada nonkardiak) :
1. Nyeri pleuritik (nyeri tajam yang berhubungan dengan respirasi atau batuk)
2. Nyeri abdomen tengah atau bawah
3. Nyeri dada yang dapat ditunjuk dengan satu jari, terutama di daerah apeks
ventrikel kiri atau pertemuan kostokondral.
4. Nyeri dada yang diakibatkan oleh gerakan tubuh atau palpasi
5. Nyeri dada dengan durasi beberapa detik
6. Nyeri dada yang menjalar ke ekstremitas bawah
b.

Pemeriksaan fisik
Tujuan dilakukannya pemeriksaan fisik adalah untuk menegakkan diagnosis

banding dan mengidentifikasi pencetus. Selain itu, pemeriksaan fisik jika


digabungkan dengan keluhan angina (anamnesis), dapat menunjukkan tingkat
kemungkinan keluhan nyeri dada sebagai representasi SKA.
Regurgitasi katup mitral akut, suara jantung tiga (S3), ronkhi basah halus dan
hipotensi hendaknya selalu diperiksa untuk mengidentifikasi komplikasi iskemia.
Ditemukannya tanda-tanda regurgitasi katup mitral akut, hipotensi, diaphoresis,
ronkhi basah halus atau edema paru meningkatkan kecurigaan terhadap SKA.
Pericardial friction rub karena perikarditis, kekuatan nadi tidak seimbang dan
regurgitasi katup aorta akibat diseksi aorta, pneumotoraks, nyeri pleuritik disertai
suara napas yang tidak seimbang perlu dipertimbangkan dalam memikirkan diagnosis
banding SKA.3
c.

Pemeriksaan Electrokardiogram
Gambaran EKG yang dijumpai pada pasien dengan keluhan angina cukup

bervariasi, yaitu: normal, nondiagnostik, LBBB (Left Bundle Branch Block) baru/
persangkaan baru, elevasi segmen ST yang persisten (20 menit) maupun tidak
persisten, atau depresi segmen ST dengan atau tanpa inversi gelombang T.
EKG yang mungkin dijumpai pada pasien NSTEMI dan UAP antara lain:

1.

Depresi segmen ST dan/atau inversi gelombang T, dapat disertai dengan


elevasi segmen ST yang tidak persisten (<20 menit)

2.

Gelombang Q yang menetap

3.

Nondiagnostik

4.

Normal
Hasil EKG 12 sadapan yang normal tidak menyingkirkan kemungkinan

diagnosis SKA tanpa elevasi segmen ST, misalnya akibat iskemia tersembunyi di
daerah sirkumfleks atau keterlibatan ventrikel kanan, oleh karena itu pada hasil EKG
normal perlu dipertimbangkan pemasangan sadapan tambahan.

Depresi segmen ST 0,5 mm di dua atau lebih sadapan berdekatan sugestif


untuk diagnosis UAP atau NSTEMI. Jika pemeriksaan EKG awal menunjukkan
kelainan nondiagnostik, sementara angina masih berlangsung, pemeriksaan diulang
10 20 menit kemudian (rekam juga V7-V9). Pada keadaan di mana EKG ulang
tetap menunjukkan kelainan yang nondiagnostik dan marka jantung negatif sementara
keluhan angina sangat sugestif SKA, maka pasien dipantau selama 12-24 jam untuk
dilakukan EKG ulang tiap 6 jam dan setiap terjadi angina berulang. Bila dalam masa
pemantauan terjadi perubahan EKG, misalnya depresi segmen ST dan/atau inversi
gelombang T yang signifikan, maka diagnosis UAP atau NSTEMI dapat dipastikan.

LOKASI IMA

LOKASI ELEVASI SEGMEN


ST
V1V4

Anterior
V1, V2, V3, V4
Anteroseptal
V4V6, I, aVL
Anterolateral
Inferior: II, III, and aVF
Inferior
I and aVL
Lateral
II, III, aVF, and V5 and V6
Inferolateral

d.

Pemeriksaan

Marka

Jantung
Pemeriksaan troponin I/T adalah standard baku emas dalam diagnosis
NSTEMI, di mana peningkatan kadar marka jantung tersebut akan terjadi dalam
waktu 2 hingga 4 jam. Penggunaan troponin I/T untuk diagnosis NSTEMI harus
digabungkan dengan kriteria lain yaitu keluhan angina dan perubahan EKG.
Diagnosis NSTEMI ditegakkan jika marka jantung meningkat sedikit
melampaui nilai normal atas (upper limit of normal, ULN). Tes yang negatif pada
satu kali pemeriksaan awal tidak dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis infark
miokard akut. Kadar troponin pada pasien infark miokard akut meningkat di dalam
darah perifer 3 4 jam setelah awitan infark dan menetap sampai 2 minggu bila
terjadi nekrosis luas. Apabila pemeriksaan troponin tidak tersedia, pemeriksaan
CKMB dapat digunakan. CKMB akan meningkat dalam waktu 4 hingga 6 jam,
mencapai puncaknya saat 12 jam, dan menetap sampai 2 hari.3

Gambar 3. Waktu timbulnya berbagai jenis marka jantung


2.5

Penatalaksanaan

1.

Anti Iskemia

a.

Penyekat Beta (Beta blocker).


Keuntungan utama terapi penyekat beta terletak pada efeknya terhadap

reseptor beta-1 yang mengakibatkan turunnya konsumsi oksigen miokardium. Terapi


hendaknya tidak diberikan pada pasien dengan gangguan konduksi atrio-ventrikler
yang signifikan, asma bronkiale, dan disfungsi akut ventrikel kiri. Pada kebanyakan
kasus, preparat oral cukup memadai dibandingkan injeksi. Penyekat beta
direkomendasikan bagi pasien UAP atau NSTEMI, terutama jika terdapat hipertensi
dan/atau takikardia, dan selama tidak terdapat indikasi kontra (Kelas I-B).penyekat
beta oral hendaknya diberikan dalam 24 jam pertama (Kelas I-B). Penyekat beta juga
diindikasikan untuk semua pasien dengan disfungsi ventrikel kiri selama tidak ada
indikasi kontra (Kelas I-B). Pemberian penyekat beta pada pasien dengan riwayat
pengobatan penyekat beta kronis yang datang dengan SKA tetap dilanjutkan kecuali
bila termasuk klasifikasi Kilip =III (Kelas I-B).
Tabel 1. Jenis dan dosis penyekat beta untuk terapi IMA
Penyekat beta

Selektivitas

Aktivitas
parsial

agonis Dosis
angina

untuk

Atenolol

B1

50-200 mg/hari

Bisoprolol

B1

10 mg/hari

Carvedilol

a dan b

2x6,25 mg/hari,
titrasi sampai
maksimum 2x25
mg/hari

Metoprolol

B1

50-200 mg/hari

Propanolol

Nonselektif

2x20-80 mg/hari

b.

Nitrat
Keuntungan terapi nitrat terletak pada efek dilatasi vena yang mengakibatkan

berkurangnya preload dan volume akhir diastolic ventrikel kiri sehingga konsumsi
oksigen miokardium berkurang. Efek lain dari nitrat adalah dilatasi pembuluh darah
koroner baik yang normal maupun yang mengalami aterosklerosis.
1. Nitrat oral atau intravena efektif menghilangkan keluhan dalam fase akut dari

episode angina (Kelas I-C).


2. Pasien dengan UAP/NSTEMI yang mengalami nyeri dada berlanjut sebaiknya
mendapat nitrat sublingual setiap 5 menit sampai maksimal 3 kali pemberian, setelah
itu harus dipertimbangkan penggunaan nitrat intravena jika tidak ada indikasi kontra
(Kelas I-C).
3. Nitrat intravena diindikasikan pada iskemia yang persisten, gagal jantung, atau
hipertensi dalam 48 jam pertama UAP/NSTEMI. Keputusan menggunakan nitrat
intravena tidak boleh menghalangi pengobatan yang terbukti menurunkan mortalitas
seperti penyekat beta atau angiotensin converting enzymes inhibitor (ACE-I) (Kelas
I-B).
4. Nitrat tidak diberikan pada pasien dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg atau
>30 mmHg di bawah nilai awal, bradikardia berat (<50 kali permenit), takikardia
tanpa gejala gagal jantung, atau infark ventrikel kanan (Kelas III-C).

5. Nitrat tidak boleh diberikan pada pasien yang telah mengkonsumsi inhibitor
fosfodiesterase: sidenafil dalam 24 jam, tadalafil dalam 48 jam. Waktu yang tepat
untuk terapi nitrat setelah pemberian vardenafil belum dapat ditentukan (Kelas IIIC).
Tabel 2. Jenis dan dosis nitrat untuk terapi IMA
Nitrat
Isosorbid dinitrate (ISDN)

Dosis
Sublingual 2,515 mg (onset 5 menit)
Oral 15-80 mg/hari dibagi 2-3 dosis

Isosorbid 5 mononitrate

Intravena 1,25-5 mg/jam


Oral 2x20 mg/hari

Nitroglicerin

Oral (slow release) 120-240 mg/hari


Sublingual tablet 0,3-0,6 mg1,5 mg

(trinitrin, TNT, glyceryl trinitrate)

Intravena 5-200 mcg/menit

c.

Calcium channel blockers (CCBs).


Nifedipin dan amplodipin mempunyai efek vasodilator arteri dengan sedikit

atau tanpa efek pada SA Node atau AV Node. Sebaliknya verapamil dan diltiazem
mempunyai efek terhadap SA Node dan AV Node yang menonjol dan sekaligus efek
dilatasi arteri. Semua CCB tersebut di atas mempunyai efek dilatasi koroner yang
seimbang.Oleh karena itu CCB, terutama golongan dihidropiridin, merupakan obat
pilihan untuk mengatasi angina vasospastik. Studi menggunakan CCB pada UAP dan
NSTEMI umumnya memperlihatkan hasil yang seimbang dengan penyekat beta
dalam mengatasi keluhan angina.
1. CCB dihidropiridin direkomendasikan untuk mengurangi gejala bagi pasien yang
telah mendapatkan nitrat dan penyekat beta (Kelas I-B).
2. CCB non-dihidropiridin direkomendasikan untuk pasien NSTEMI dengan indikasi
kontra terhadap penyekat beta (Kelas I-B).
3. CCB nondihidropiridin (long-acting) dapat dipertimbangkan sebagai pengganti
terapi penyekat beta (Kelas IIb-B).

4. CCB direkomendasikan bagi pasien dengan angina vasospastik (Kelas I-C).


5.

Penggunaan

CCB

dihidropiridin

kerja

cepat

(immediate-release)

tidak

direkomendasikan kecuali bila dikombinasi dengan penyekat beta. (Kelas III-B).


Tabel 3. Jenis dan dosis penghambat kanal kalsium untuk terapi IMA
Penghambat kanal kalsium
Verapamil
Diltiazem
Nifedipine GITS (long acting
Amlodipine

Dosis
180-240 mg/hari dibagi 2-3 dosis
120-360 mg/hari dibagi 3-4 dosis
30-90 mg/hari
5-10 mg/hari

2.

Antiplatelet

1.

Aspirin harus diberikan kepada semua pasien tanda indikasi kontra dengan
dosis loading 150-300 mg dan dosis pemeliharaan 75-100 mg setiap harinya
untuk jangka panjang, tanpa memandang strategi pengobatan yang diberikan
(Kelas I-A).

2.

Penghambat reseptor ADP perlu diberikan bersama aspirin sesegera mungkin


dan dipertahankan selama 12 bulan kecuali ada indikasi kontra seperti risiko
perdarahan berlebih (Kelas I-A).

3.

Penghambat pompa proton (sebaiknya bukan omeprazole) diberikan bersama


DAPT (dual antiplatelet therapy - aspirin dan penghambat reseptor ADP)
direkomendasikan pada pasien dengan riwayat perdarahan saluran cerna atau
ulkus peptikum, dan perlu diberikan pada pasien dengan beragam faktor risiko
seperti infeksi H. pylori, usia =65 tahun, serta konsumsi bersama dengan
antikoagulan atau steroid (Kelas I-A).

4.

Penghentian penghambat reseptor ADP lama atau permanen dalam 12 bulan


sejak kejadian indeks tidak disarankan kecuali ada indikasi klinis (Kelas I-C).

5.

Ticagrelor direkomendasikan untuk semua pasien dengan risiko kejadian


iskemik sedang hingga tinggi (misalnya peningkatan troponin) dengan dosis
loading 180 mg, dilanjutkan 90 mg dua kali sehari. Pemberian dilakukan
tanpa memandang strategi pengobatan awal.Pemberian ini juga dilakukan
pada pasien yang sudah mendapatkan clopidogrel (pemberian clopidogrel
kemudian dihentikan) (Kelas I-B).

6.

Clopidogrel direkomendasikan untuk pasien yang tidak bisa menggunakan


ticagrelor. Dosis loading clopidogrel adalah 300 mg, dilanjutkan 75 mg setiap
hari (Kelas I-A).

7.

Pemberian dosis loading clopidogrel 600 mg (atau dosis loading 300 mg


diikuti dosis tambahan 300 mg saat IKP) direkomendasikan untuk pasien yang
dijadwalkan menerima strategi invasif ketika tidak bisa mendapatkan
ticagrelor (Kelas I-B).

8.

Dosis pemeliharaan clopidogrel yang lebih tinggi (150 mg setiap hari) perlu
dipertimbangkan untuk 7 hari pertama pada pasien yang dilakukan IKP tanpa
risiko perdarahan yang meningkat (Kelas IIa-B).

9.

Pada pasien yang telah menerima pengobatan penghambat reseptor ADP yang
perlu menjalani pembedahan mayor non-emergensi (termasuk CABG), perlu
dipertimbangkan penundaan pembedahan selama 5 hari setelah penghentian
pemberian ticagrelor atau clopidogrel bila secara klinis memungkinkan,
kecuali bila terdapat risiko kejadian iskemik yang tinggi (Kelas IIa-C).

10.

Ticagrelor atau clopidogrel perlu dipertimbangkan untuk diberikan (atau


dilanjutkan) setelah pembedahan CABG begitu dianggap aman (Kelas IIa-B).

11.

Tidak disarankan memberikan aspirin bersama NSAID (penghambat COX2


selektif dan NSAID non-selektif) (Kelas III-C).

Keterangan: DAPT perlu tetap diberikan selama 12 bulan tanpa memperdulikan jenis
stent.
Tabel 4. Jenis dan dosis antiplatelet untuk terapi IMA
Antiplatelet
Aspirin

Dosis
Dosis loading 150-300 mg, dosis

Ticagrelor

pemeliharaan 75-100 mg
Dosis loading 180

mg,

dosis

Clopidogrel

pemeliharaan 2x90 mg/hari


Dosis loading 300 mg,

dosis

pemeliharaan 75 mg/hari
3.

Penghambat Reseptor Glikoprotein IIb/IIIa


Pemilihan kombinasi agen antiplatelet oral, agen penghambat reseptor

glikoprotein IIb/IIIa dan antikoagulan dibuat berdasarkan risiko kejadian iskemik dan
perdarahan (Kelas I-C).Penggunaan penghambat reseptor glikoprotein IIb/IIIa dapat
diberikan pada pasien IKP yang telah mendapatkan DAPT dengan risiko tinggi
(misalnya peningkatan troponin, trombus yang terlihat) apabila risiko perdarahan
rendah (Kelas I-B).Agen ini tidak disarankan diberikan secara rutin sebelum
angiografi (Kelas III-A) atau pada pasien yang mendapatkan DAPT yang diterapi
secara konservatif (Kelas III-A).
4.

Antikogulan.
Terapi antikoagulan harus ditambahkan pada terapi antiplatelet secepat

mungkin.
1. Pemberian antikoagulan disarankan untuk semua pasien yang mendapatkan terapi
antiplatelet (Kelas I-A).
2. Pemilihan antikoagulan dibuat berdasarkan risiko perdarahan dan iskemia, dan
berdasarkan profil efikasi-keamanan agen tersebut. (Kelas I-C).
3. Fondaparinuks secara keseluruhan memiliki profil keamanan berbanding risiko
yang paling baik. Dosis yang diberikan adalah 2,5 mg setiap hari secara subkutan
(Kelas I-A).
4. Bila antikoagulan yang diberikan awal adalah fondaparinuks, penambahan bolus
UFH (85 IU/kg diadaptasi ke ACT, atau 60 IU untuk mereka yang mendapatkan
penghambat reseptor GP Iib/IIIa) perlu diberikan saat IKP (Kelas I-B).
5. Enoksaparin (1 mg/kg dua kali sehari) disarankan untuk pasien dengan risiko
perdarahan rendah apabila fondaparinuks tidak tersedia (Kelas I-B).

6. Heparin tidak terfraksi (UFH) dengan target aPTT 50-70 detik atau heparin berat
molekul rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang direkomendasikan)
diindaksikan apabila fondaparinuks atau enoksaparin tidak tersedia (Kelas I-C).
7. Dalam strategi yang benar-benar konservatif, pemberian antikoagulasi perlu
dilanjutkan hingga saat pasien dipulangkan dari rumah sakit (Kelas I-A).
8. Crossover heparin (UFH and LMWH) tidak disarankan (Kelas III-B).

Tabel 5. Jenis dan dosis antikoagulan untuk IMA


Antikoagulan
Fondaparinuks
Enoksaparin
Heparin tidak terfraksi

Dosis
2,5 mg subkutan
1mg/kg, dua kali sehari
Bolus i.v. 60 U/g, dosis
maksimal 4000 U.
Infus i.v. 12 U/kg selama
24-48 jam dengan dosis maksimal 1000 U/jam
target aPTT 11/2-2x control

5.

Kombinasi Antiplatelet dan Antikoagulan

1. Penggunaan warfarin bersama aspirin dan/atau clopidogrel meningkatkan risiko


perdarahan dan oleh karena itu harus dipantau ketat (Kelas I-A).
2. Kombinasi aspirin, clopidogrel dan antagonis vitamin K jika terdapat indikasi
dapat diberikan bersama-sama dalam waktu sesingkat mungkin dan dipilih targen
INR terendah yang masih efektif. (Kelas IIa-C).
3. Jika antikoagulan diberikan bersama aspirin dan clopidogrel, terutama pada
penderita tua atau yang risiko tinggi perdarahan, target INR 2- 2,5 lebih terpilih
(Kelas IIb-B).

6.

Inhibitor ACE dan Penghambat Reseptor Angiotensin


Inhibitor angiotensin converting enzyme (ACE) berguna dalam mengurangi

remodeling dan menurunkan angka kematian penderita pascainfark-miokard yang


disertai gangguan fungsi sistolik jantung, dengan atau tanpa gagal jantung
klinis.Penggunaannya terbatas pada pasien dengan karakteristik tersebut, walaupun
pada penderita dengan faktor risiko PJK atau yang telah terbukti menderita PJK,
beberapa penelitian memperkirakan adanya efek antiaterogenik.
1. Inhibitor ACE diindikasikan penggunaannya untuk jangka panjang, kecuali ada
indikasi kontra, pada pasien dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri =40% dan pasien
dengan diabetes mellitus, hipertensi, atau penyakit ginjal kronik (PGK) (Kelas I-A).
2. Inhibitor ACE hendaknya dipertimbangkan pada semua penderita selain seperti di
atas (Kelas IIa-B). Pilih jenis dan dosis inhibitor ACE yang telah direkomendasikan
berdasarkan penelitian yang ada (Kelas IIa-C).
3. Penghambat reseptor angiotensin diindikasikan bagi pasien infark mikoard yang
intoleran terhadap inhibitor ACE dan mempunyai fraksi ejeksi ventrikel kiri =40%,
dengan atau tanpa gejala klinis gagal jantung (Kelas I-B).
Tabel 6. Jenis dan dosis inhibitor ACE untuk IMA
Inhibitor ACE
Captopril
Ramipril
Lisinopril
Enalapril
7.

Dosis
2-3 x 6,25-50 mg
2,5-10 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis
2,5-20 mg/hari dalam 1 dosis
5-20 mg/hari dalam 1 atau 2 dosis

Statin
Tanpa melihat nilai awal kolesterol LDL dan tanpa mempertimbangkan

modifikasi diet, inhibitor hydroxymethylglutary-coenzyme A reductase (statin) harus


diberikan pada semua penderita UAP/NSTEMI, termasuk mereka yang telah
menjalani terapi revaskularisasi, jika tidak terdapat indikasi kontra (Kelas I-A).
Terapi statin dosis tinggi hendaknya dimulai sebelum pasien keluar rumah sakit,

dengan sasaran terapi untuk mencapai kadar kolesterol LDL <100 mg/dL (Kelas IA). Menurunkan kadar kolesterol LDL sampai <70 mg/dL mungkin untuk dicapai.
2.6

Prognosis
Perdarahan dikaitkan dengan prognosis yang buruk pada NSTEMI, sehingga

segala upaya perlu dilakukan untuk mengurangi perdarahan sebisa mungkin.


Variabel-variabel yang dapat memperkirakan tingkat risiko perdarahan mayor selama
perawatan dirangkum dalam CRUSADE bleeding risk score, antara lain kadar
hematokrit, klirens kreatinin, laju denyut jantung, jenis kelamin, tanda gagal jantung,
penyakit vaskular sebelumnya, adanya diabetes, dan tekanan darah sistolik. Dalam
skor CRUSADE, usia tidak diikutsertakan sebagai prediktor, namun tetap
berpengaruh melalui perhitungan klirens kreatinin. Skor CRUSADE yang tinggi
dikaitkan dengan kemungkinan perdarahan yang lebih tinggi.
Tabel 2 Skor risiko perdarahan CRUSADE
Prediktor
Hematokrit
<31
31-33,9
34-36,9
37-39.9
40
Klirens kreatinin, mL/menit
15
>15-30
>30-60
>60-90
>90-120
>120
Laju denyut jantung (kali per menit)
70
71-80
81-90
91-100
101-110
111-120
121

Skor
9
7
3
2
0
39
35
28
17
7
0
0
1
3
6
8
10
11

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Tanda gagal jantung saat datang
Tidak
Ya
Riwayat penyakit vaskular sebelumnya
Tidak
Ya
Diabetes
Tidak
Ya
Tekanan darah sistolik, mmHg
90
91-100
101-120
121-180
181-200
200

0
8
0
7

0
6
0
6
10
8
5
1
3
5

Tabel 3. Stratifikasi risiko berdasarkan skor CRUSADE


Skor CRUSADE
1-20
21-30
31-40

Tingkat risiko
Sangat rendah
Rendah
Moderat

Risiko perdarahan
3,1%
5,5%
8,6%

41-50
>50

Tinggi
Sangat tinggi

11,9%
19,5%

BAB III
ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien
Nama

: Tn. R

Umur

: 48 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: wiraswasta

Status

: Menikah

Alamat

: Jl. Istiqomah, Simp.Perawang

Masuk RS

: 17 Desember 2016

ANAMNESIS (auto anamnesis)


Keluhan Utama
Nyeri dada yang memberat sejak 4 jam SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
4 jam SMRS pasien merasakan nyeri hebat pada bagian tengah dada. Nyeri
muncul secara tiba-tiba saat pasien bangun tidur dan hendak ke kamar mandi. Nyeri

dirasakan di bagian tengah dada seperti dihimpit benda berat, menjalar ke punggung
dan lengan kiri dengan durasi lebih kurang 30 menit. Nyeri tidak berkurang dan tidak
hilang dengan beristirahat. Lokasi nyeri tidak dapat ditunjuk dengan satu jari dan
tidak dipengaruhi posisi. Pasien juga mengeluhkan sesak nafas, mual, lemah. Tidak
ada batuk, muntah, demam tidak ada dan nyeri ulu hati tidak ada. BAK dan BAB
tidak ada keluhan. Pasien di bawa ke RSUD AA. Kemudian di rawat di bangsal
RSUD Arifin Achmad bagian Kardiologi.
Riwayat Penyakit Dahulu
-Pasien mengaku belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya
-Riwayat hipertensi tidak ada
-Riwayat Diabetes Melitus (+) sejak 15 tahun yang lalu, pasien pernah kontrol
namun tidak rutin
-Riwayat Stroke (-)
- Riwayat penyakit vaskuler (-)
-Riwayat trauma (-)
Riwayat Penyakit Dalam Keluarga

Orang tua pasien meninggal karena komplikasi dari DM

Riwayat stroke di keluarga (-)

Riwayat Pekerjaan, Kebiasaan

Pasien bekerja sebagai buruh

Pasien merokok sejak usia muda , merokok sebanyak 2 bungkus sehari.

Pasien jarang berolahraga dan suka mengkonsumsi jeroan, makanan berlemak


serta makanan bersantan.

Alkohol (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
Kesadaran

: Komposmentis

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Vital Sign

: - Tekanan darah

: 170/100 mmHg

Frekuensi nadi

: 90x/menit, regular

Frekuensi napas : 26x/menit

Suhu

: 36,40 C

Tb

:160 cm

Bb

: 70 kg

IMT

: 27,34 ( Obesitas 1)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Kepala Leher

Mata
-

Konjungtiva pucat (-)

Sklera ikterik (-)


Refleks pupil (+/+) isokor

Telinga Hidung Mulut


-

Tidak ada kelainan

Leher
-

JVP 5-2 cmH2O

Pembesaran KGB (-)

Pemeriksaan Thorax
Paru
Inspeksi

: Gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan

Palpasi

: Vocal fremistus simetris

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Wheezing (-), rhonki (-)

Jantung

Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis teraba di SIK 5 linea midclavicula kiri

Perkusi

: Batas kanan linea parasternalis dextra

Batas kiri 2 jari medial linea midclavicula sinistra SIK V

Auskultasi

: S1 (+), S2 (+),murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: datar, simetris, venektasi (-),

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-) epigastrium,


hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: tympani

Auskultasi

: BU (+) normal

Ekstremitas

Clubbing finger (-)

Akral hangat

Udem ekstremitas (-/-)

CRT < 2detik

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium (17/12/2016) :
Darah rutin :
HGB

: 11,3g/dL (N)

HCT

: 33,2% (N)

WBC

: 20.130 /uL ()

PLT

: 216.000/ uL ( N)

GLUKOSA

: 377 ()

COL. Total

: 323 ()

LDL

: 247 ()

HDL

: 57 (N)

TG

: 93(N)

Ureum

: 45

Kreatinin

: 2,20

FAAL HATI :
AST

: 25 IU/L (N)

ALT

: 24 U/L (N)

ALB

: 3,2

ELEKTROLIT
Na+ : 134 (134-145 mmol/L)
K+

: 4,1 (3.5-5.5 mmol/L)

Ca++ : 1,09 (0.90-1.08 mmol/L)


-

Troponin I

: 0,50 ug/l

EKG ( 17 Desember 2016 )

Interpretasi :

Ritme : Sinus rythm


Heart Rate : 68 x/ menit reguler
Axis: normoaxis
Gelombang P: 0,08 detik
PR interval: 0,20 detik
QRS durasi: 0,08 detik
ST segment : Gambaran ST depresi pada 1, Avl,V4,V5,V6
Gambaran T inferted : 1, V4,V5,V6

Kesan : Infark miocard Akut tanpa ST Elevasi (iskemik anterolateral)


RESUME
Tn. 48 tahun datang ke RSUD AA dengan keluhan nyeri dada sejak 4 jam
SMRS. Nyeri muncul secara tiba-tiba saat pasien bangun tidur dan hendak pergi
kekamar mandi. Nyeri dirasakan di bagian tengah dada seperti dihimpit benda berat,
menjalar ke punggung dengan durasi lebih kurang 30 menit. Nyeri dirasakan terusmenerus. Nyeri tidak berkurang dan tidak hilang dengan beristirahat. Lokasi nyeri
tidak dapat ditunjuk dengan 1 jari dan tidak dipengaruhi perubahan posisi. pasien

mengeluhkan sesak nafas, mual, lemah. Tidak ada batuk, muntah,dan nyeri ulu hati
tidak ada. BAK dan BAB tidak ada keluhan.
Pada pemeriksaan fisik TD 170/100, kepala dan leher tidak ditemukan
kelainan. Pemeriksaan fisik jantung, paru, abdomen dan ekstremitas dalam batas
normal. Dari pemeriksaan EKG didapatkan ST Depresi pada lead I, Avl, V4,V5,V6
dan T inferted pada : lead I, V4,V5,V6 serta pemeriksaan troponin I 0,50 ug/l. Dari
hasil foto rontgen didapat kan CTR > 58 % ,di temukan efusi pleura minimal pada
kedua lapangan paru dan infiltrat pada perihiler.
DIAGNOSIS KERJA
-Hipertensi heart desease
- Akut Non STEMI
- DM tipe II
-Dislipidemia
RENCANA PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi:
Posisikan pasien semi fowler
Bedrest
Farmakologis :
Oksigen 3 Liter/menit nasal kanul
IVFD Ringer laktat 12 tpm
ISDN 3 x 5 mg
Aspilet 1 x 80 mg
Clopidogrel 1 x 75 mg
Novorapid 3 x 16 unit
Ramipril 1x 5 mg
Spironolakton 1x 100 mg
Simvastatin 1 x 20mg
Inj.Ceftriaxon 2x 1 gr
Ranitidin 2 x 1
FOLLOW UP
1. 19 Desember 2016 ( hari kedua )
S : Nyeri dada dirasakan berkurang, sesak napas berkurang, mual muntah (-),
demam (-), bak dan bab lancar .

O : keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, TD 170/110


mmHg, nadi 90x/menit, nafas 23x/menit.

A: Hipertensi heart desease, Akut non stemi, DM tipe II,Dislipidemia


P: Oksigen 3 Liter/menit nasal kanul, IVFD Ringer laktat 12 tpm , ISDN SL
5 mg, diberikan 3 x , Aspilet 1 x 1, Clopidogrel 1 x 75 mg, Novorapid 3 x 16
unit, Ramipril 1x 5 mg, Spironolakton 1x 100 mg, Simvastatin 1 x 20mg,
Inj.Ceftriaxon 2x 1 gr
2. 20 Desember 2016 ( hari ketiga )
S: Nyeri dada dirasakan berkurang, sesak napas berkurang , mual muntah (-),
demam (-), bak dan bab lancar .
O : keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, TD 160/100
mmHg, nadi 80x/menit, nafas 23x/menit.

A: Hipertensi heart desease, Akut non stemi, DM tipe II,Dislipidemia


P: Oksigen 3 Liter/menit nasal kanul, IVFD Ringer laktat 12 tpm , ISDN SL 5
mg, diberikan 3 x , Aspilet 1 x 1, Clopidogrel 1 x 75 mg, Novorapid 3 x 16 unit,
Ramipril 1x 5 mg, Spironolakton 1x 100 mg, Simvastatin 1 x 20mg, Inj.Ceftriaxon 2x
1 gr.

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat
disimpulkan bahwa pasien mengalami infark miokard akut tanpa ST elevasi. Dari
hasil anamnesis didapatkan keluhan nyeri dada tipikal angina yaitu nyeri yang berupa
rasa tertekan/berat daerah retrosternal, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, area
interskapular,

bahu,

atau

epigastrium,

keluhan

ini

dapat

berlangsung

intermiten/beberapa menit atau persisten (>20 menit) .2 Pasien juga memiliki faktor
risiko berupa hipertensi, DM Tipe 2, Dislipidemia yang merupakan faktor resiko dari

PJK.5 Keluhan nyeri dada pada pasien terjadi karena oklusi lumen arteri koroner yang
mendadak sehingga mengganggu aliran darah ke distal dan menyebabkan infark pada
miokard.5
Dari pemeriksaan fisik jantung didapatkan batas jantung dalam batas normal,
suara jantung 1 dan 2 reguller, tidak ditemukan mumur ataupun gallop. Dari
pemeriksaan EKG didapatkan adanya gambaran ST depresi di Lead I, aVL, V4-V6,
dan gambaran T inverted V4-V6, Dari hasil laboratorium didapatkan peningkatan
kadar kolesterol, trigliserida, dan penurunan kadar HDL. Hal ini merupakan faktor
resiko terjadinya aterosklerosis. Selain itu didapatkan juga peningkatan enzim
Jantung yaitu Troponin I. Hal ini menandakan bahwa pasien mengalami infark.4
Penatalaksanaan pasien saat di ruangan adalah dengan pemberian Oksigen 3
liter/menit dan tatalaksana farmakologisnya IVFD RL, ISDN 3x5 mg, Aspilet 1x80
mg, Clopidogrel 1x75 mg, ISDN 3 x 5 mg, Ranitidin 2x 50 mg, Simvastatin 1x20 mg,
Ramipril 1x 5 mg, Spironolakton 1 x 100 mg, novorapid 3 x 16 unit. Penatalaksanaan
pada pasien sudah sesuai dengan anjuran terapi pada pasien IMA tanpa ST elevasi,
dimana telah dilakukan pemberian oksigen, anti angina : ISDN , antiplatelet :
clopidogrel dan aspilet, ACE Inhibitor : Ramipril, golongan ACE Inhibitor untuk
mengurangi remodeling, dan pemberian statin: simvastatin. Pada pasien dengan Akut
NSTEMI juga diberikan anti koaguan yang bertujuan untuk menghambat terjadinya
agregasi trombosit.3 Pada pasien ini tidak diberikan antikoagulan karena berdasarkan
nilai score Crusade pasien ini adalah 45 dan termasuk kedalam risiko tinggi untuk
mengalami perdarahan. Antikoagulan tidak dianjurkan diberikan bersama aspirin dan
clopidogrel, terutama pada penderita tua atau yang risiko tinggi perdarahan.3
Prediktor
Hematokrit
<31
31-33,9 33,2
34-36,9
37-39.9
40
Klirens kreatinin, mL/menit
15
>15-30
>30-60 40

Skor
9
7
3
2
0
39
35
28

>60-90
>90-120
>120
Laju denyut jantung (kali per menit)
70
71-80
81-90 90
91-100
101-110
111-120
121
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Tanda gagal jantung saat datang
Tidak
Ya
Riwayat penyakit Cascular sebelumnya
Tidak
Ya
Diabetes
Tidak
Ya
Tekanan darah sistolik, mmHg
90
91-100
101-120
121-180 170
181-200
200
Total

17
7
0
0
1
3
6
8
10
11
0
8
0
7
0
6
0
6
10
8
5
1
3
5
45

DAFTAR PUSTAKA

1.

Fitri Z, Masrul S, Eti Y. Gambaran Profil Lipid pada Pasien Sindrom Koroner
Akut di Rumah Sakit Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012. Artikel
penelitian dalam Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 3(2) 167 Available from :
http://jurnal.fk.unand.ac.id

2. Meidiza A, Afriwardi, Masrul S. Gambaran Tekanan Darah pada Pasien Sindrom


Koroner Akut di RS Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012 . Artikel
penelitian dalam Jurnal Kesehatan Andalas. 2014; 3(2) Available from :
http://jurnal.fk.unand.ac.id
3. Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Indonesia 2015. Pedoman
tatalaksana sindrom koroner akut. PERKI; 2015
4. Alwi I. Infark Miokard Akut tanpa Elevasi ST. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi
B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid II. Edisi V. Jakarta: Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2010: 1741-56.
5. Dharma, Surya. Sistematika Interpretasi EKG.Jakarta: EGC. 2009.