Anda di halaman 1dari 63

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini sangat penting akan kebutuhan teknologi, disamping dengan
bertambahnya zaman dan diiringi dengan berkembangnya teknologi-teknologi yang canggih
(modern). Oleh karena itu agar tidak tertinggal dengan teknologi yang modern yang selalu
berkembang dengan pesat, maka kita dituntut mengikuti dan mempelajari agar tidak
ketinggalan teknologi tersebut.

Sehingga mahasiswa didalam universitas harus diadakan praktikum maupun


penelitian untuk mendalami atau menerapkan ilmu yang telah diberikan oleh dosen, supaya
mahasiswa mengetahui fungsi, guna, maupun spesifikasi dari bahan yang dipraktekkan atu
diuji.

Untuk mendalami ilmu yang didapatkan diperlukan realisasi dilapangan sebagai


penunjang agar dapat diselaraskan antara teori dengan prakteknya, dalam hal ini salah satu
dari semua itu adalah diantaranya diadakan praktikum Fenomena Dasar Mesin, yang
didalamnya terdapat beberapa hal yaitu penelitian tentang defleksi pada batang baja, putaran
pada transmisi, percobaan bernoulli, semua itu sangat penting bagi enginer untuk
mengaplikasikannya di lapangan.

1.2 Tujuan

Agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dengan cara
dipraktekkan ataupun terjun kelapangan untuk menerapkan teori hingga pembuatan laporan.
Dengan hasil yang didapatkan sangat besar , antara lain :

Mengetahui dan memahami mekanisme system transmisi


Mengetahui karakteristik defleksi
Memahami mekanisme dari percobaan Bernoulli

1
1.3 Batasan Masalah

Dalam praktikum Fenomena Dasar Mesin dapat dirumuskan beberapa masalah yang
dapat diambil didalamnya sebagai dasar pembuatan laporan. Rumusan masalah yang ada
pada saat praktikum Fenomena Dasar Mesin, yaitu :

System transmisi :

Menghitung jumlah gigi pada roda gigi gearbox


Mengetahui kerja dari system transmisi
Menghitung diameter puly
Menghitung kecepatan motor, input dan output dari system transmisi

Defleksi :

Meneliti bahan yang digunakan


Menyiapkan beban yang akan digunakan
Meneliti defleksi yang terjadi
Menghitung defleksi yang terjadi

Bernoulli :

Menghitung kecepatan aliran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Kajian pustaka

Dalam kajian pustaka diambil dari beberapa sumber, dari buku-buku maupun dari
internet agar bisa didapat hasil yang maksimal.

2.1.1 Kajian pustaka dari internet

1. Poros

Poros adalah salah satu bagian terpenting dari mesin. Hampir semua mesin
meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran. Peranan dalam transmisi seperti itu
dipegang oleh poros. ( Sularso. Ir.1987 )

Secara garis besarnya poros dibedakan menjadi:

1. Poros transmisi

Gambar.2.1 : poros transmisi

Sumber : Google

Poros ini mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur. Daya ditransmisikan kepada
poros ini melalui kopling, roda gigi, puli sabuk dan sproket rantai.

2. Spindel

Gambar.2.2 : poros spindel

Sumber : Google

Spindel adalah poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin perkakas,
dimana beban utamanya berupa puntiran. Syarat yang harus dipenuhi oleh poros ini adalah
depormasinya harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.

3
3. Gandar

Gambar.2.3 : poros gandar pada roda kereta api

Sumber : Google

Gandar adalah poros yang dipasang diantara roda-roda kereta barang dimana, tidak mendapat
beban puntir. Gandar ini hanya mendapat beban lentur.

4. Bantalan (Bearing)

Gambar.2.4 : Bantalan (Bearing)

Sumber : Google

Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeben, sehingga putaran atau gerak
an translasinya dapat berlangsung secara halus, aman, dan memiliki umur panjang. Bearing
(bantalan) harus cukup kokoh untuk memungkinkan poros dan elemen mesin lainnya dapat
bekerja dengan baik. Jika bantalan tidak bekerja dengan baik, maka seluruh sistem akan
menurun atau tidak dapat bekerja sempurna.

4. Uji defleksi

4
Tegangan geser yang bekerja disepanjang atau sejajar bidang, dengan demikian
perbedaan antara tegangan geser dengan tegangan normal adalah didasarkan pada arahnya.
Homogen yaitu mempunyai sifat elastis pada keseluruhan titik pada bahan Isotropis, sifat
elastis yang sama pada semua arah setiap titik pada bahan.

1. Modulus elastisitas
Rasio unit tegangan terhadap unit regangan adalah modulus elastisitas bahan yang
disebut modulus young. Karena regangan merupakan bilangan tanpa dimensi, maka
mempunyai bilangan satuan yang sama dengan tegangan.
2. Batas elastisitas
Ordinat suatu titik yang hampir berhimpitan dengan titik P diketahui sebagai batas
elastis. Yaitu tegangan maksimum yang terjadi selama tarikan sehingga tidak terjadi
perubahan deformasi maupun residu permanen ketika pembebanan dipindahkan.
3. Titik lelah
Terjadinya penambahan regangan tanpa adanya penambahan tegangan disebut titik
lelah dari bahan. Beberapa bahan terdapat dua titik pada kurva tegangan-regangan
yaitu titik lelah atas dan titik lelah bawah.
4. Moduus kekenyalan/keuletan
Gaya tarik yang diberikan pada bahan sampai batas proposionalnya disebut batas
kekenyalan.
5. Modulus kekerasan
Kekerasan bahan adalah kemampuan untuk menyerap energi pada selang plastis
, gaya tarik yang diberi selalu dinaikkan sampai batas nilai yang menyebabkan
keruntuhan di definisikan sebagai modulus kekerasan.
6. Kekuatan
Kekuatan merupakan kemampuan dari suatu untuk menahan beban tanpa mengalami
kepatahan.

Landasan teori

5
Transmisi manual

Kimono Hyuga dan Kenji Kiyokatsu ( 1862) menemukan cara untuk menurunkan
atau menaikan torsi pada mesin perkakas dengan mengatur putaran mesin dengan mengatur
diameter roda gigi pada mesin perkakas di kyoto yang berada di jepang .Poros engkol
meneruskan gerak rotasi dari motor penggerak melalui perangkat rodagigi, ke roda-roda agar
dengan mudah terjadi pemidahan kecepatan dilakukan dengan gear box. Dimana kecepatan
ini bisa dipilih sesuai kebutuhan. Pada saat kendaraan mulai berjalan atau menanjak,
kebutuhan momen yang besar kita membutuhkan bentuk perubahan momen. Hal ini
diperlukan dengan perpindahan gigi.

Dalam mekanisme perpindahan gigi kita mengenal antara :

Silindermesh type

Constanmesh type

Syncromesh type

Pada praktikum ini akan dibahas sliding mesh saja. Pada sliding mesh type, shift arm
menggerakan roda gigi yang terpasang pada spline main sahaft untuk menghubungkan antara
roda gigi yang terpasang pada conter sahaft

Gambar.2.5 : sliding mesh type


Sumber : Lab. Fenomena Dasar Univ. Janabadra

kecepatan out put shaft dapat diatur dengan 4 posisi kecepatan gerak maju dan 1 gerak
mundur.Prinsip-perinsip perindahan putaran yang terjadi dalam gear box ( kotak roda gigi )
akan dengan mudah kita pahami dengan acuan-acuan sebagai berikut :

a) proses pemindahan putaran antara roda gigi dalam 1 poros

berlaku :

w1 w2

2. .n rad
dimana : w = 60 det

6
w = kecepatan sudut ( rad
det )

360
1rad = 2. 57,3

V = w. R
R = jari-jari

b) perpindahan putaran melalui kontak langsung antara roda gigi kecepatan linier
V
V1 V
= 2
Vw.R
Dari persamaan di atas diperoleh
W1 R1 W2 R2
. .
Ini berlaku juga pada pemindahan putaran menggunakan sabuk / belt tanp slip

Gambar.2.6. : rangkaian roda gigi


Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

Gambar.2.7 : sepasang roda gigi yang saling bertaut


Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

Sehingga di peroleh :

W 1 R2
=
W 2 R1

7
2. . R .n
V=
60

Dimana : R = dalam meter


n = rpm

1. Angka perbandingan transmisi

R 2 D2 n1 Z 1
i R 1 = D1 = n2 = Z 2

Sehingga diperoleh

n1
n1 n2 n2
=I. atau = i

Gambar.2.8 : rangkaian roda gigi

Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

Jika ada beberapa rangkaian roda gigi seperti rangkaian roda gigi diatas maka angka
transmisi totalnya adalah :

It I1 I2
= x x

Dimana :

It
= angka transmisi total

I1
= angka transmisi pasangan roda gigi 1

I2
= angka transmisi pasangan roda gigi 2.

8
2. Diffrensial Gear

Diffrensial gear terbagi menjadi dua bagian utama :

1) final gear
terdiri dari drive pinion dan ring gear, dan berfungsi untuk memperbesar
momen dan merubah arah putaran sebesar 90
2) differensial gear
terdiri dari slide gear dan pinion gear, dan kanan pada saat belok

pada saat kendaraan membelok, jarak tempuh roda bagian dalam ( A ) lebih kecil dari
jarak tempuh roda bagian luar ( B ) dengan demikian roda bagian luar harus berputar lebih
cepat dari roda bagian dalam. Bila roda-roda berputar dengan kecepatan putaran yang sama,
maka salah satu ban akan cepat aus. Untuk mengatasi hal ini diperlukan differensial gear
dengan tujuan membedakan putaran kiri dan kanan :

Berlaku :

V1 W1 R1 V2 W2 R2
= . dan = .
Dimana
V 1 = kecepatan roda B ( lihat gambar )

V 2 = kecepatan roda A

R1 R2
= OB dan = OA

Prinsip dasar differensial gear

Bila kedua rack diberi beban yang sama, maka ketika shackle di tarik keatas akan
meyebabkan kedua rack terangkat pada jarak yang sama karena tahanannya sama dan pinion
gear tidak berputar. Lihat gambar di bawah ini.

Tetapi bila beban yang lebih besar diletakan pada rack sebelah kiri dan shackle ditarik ke
atas, maka pinion gear akan berputar sepanjang gigi rack yang mendapat beban yang lebih
besar disebebkan adanya perbedaan tahanannya dan ini mengakibatkan rack yang
mendapatkan beban yang lebih kecil akan terangkat.

Cara kerja differensial gear :

Di jalan lurus
Drive pinion memutar ring gear, ring gear memutar diffrensial case, diffrensial
case menggerakan pinion gear melalui pinion shaft dan pinion gear memutar
side gear dengan rpm yang sama karena tahanan roda kiri dan kanan sama,
sehingga menyebabkan putaran roda kiri dan kanan sama

9
Gambar.2.9 : keadaan di jalan lurus
Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

Ketika belok kanan


Drive pinion memutar ring gear, ring gear memutar diffrensial case,
menggerakan pinion gear melalui shaft dan pinion gear memutar side gear kiri
mengitari side gear kanan karena tahanan roda kanan lebih besar, sehingga
menyebabkan putaran roda kiri lebih cepat dari roda kanan.

Gambar.2.10 : keadaan ketika belok kanan


Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

Ketika belok kiri


Drive pinion memutar ring gear, ring gear memutar diffrensial case, diffrensial
case mengerakan pinion gear melalui pinion shaft dan pinion gear memutar
side gear kekiri lebih besar, sehingga menyebabkan putaran roda kanan lebih
cepat dari roda kiri.

Gambar.2.11 : keadaan ketika belok kiri


Sumber : buku panduan praktikum fenomena dasar

10
Pada diffrensial gear berlaku :

Perbandingan transmisi i
2 R 60
i=
1000 TR AR

Jumlah putaran ring gear


rpmsidegearkanan+ rpmsidegearkiri
Rpmringgear=
2

Kecepatan roda V
2 R 60. rpm
V
1000 TR AR

Dimana :
km
V = kecepatan roda . ( jam )
Rpm = putaran mesin R = jari-jari roda . (m)

AR = angka transmisi diffrensial

TR = angka transimi gear box

Berdasarkan cara pemindahan gigi maka transmisi manual dibedakan menjadi 3 yaitu:

1. Tipe Sliding mesh.


2. Tipe Constant mesh.
3. Tipe Sincromesh.

Transmisi Tipe Sliding Mesh.

Transmisi Tipe Sliding Mesh adalah jenis transmisi manual yang cara kerja dalam
pemindahan gigi dengan cara menggeser langsung roda gigi input dan out putnya. Transmsi
jenis ini jarang digunakan, karena mempunyai kekurangankekurangan :

a. Perpindahan gigi tidak dapat dilakukan secara langsung/memerlukan waktu beberapa


saat untuk melakukan perpindahan gigi.
b. Hanya dapat menggunakan salah satu jenis roda gigi.
c. Suara yang kasar saat terjadi perpindahan gigi.

11
Gambar.2.11 : Transmisi sliding mesh
Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

Transmisi Tipe Constant Mesh.

Transmisi tipe constant mesh adalah jenis transmisi manual yang cara kerja dalam
pemindahan giginya memerlukan bantuan kopling geser agar terjadi perpindahan tenaga dari
poros input ke poros out put. Transmisi jenis constant mesh antara roda gigi input dan out put
nya selalu berkaitan, tetapi roda gigi out put tidak satu poros dengan poros out put transmisi.
Tenaga akan diteruskan ke poros out put melalui mekanisme kopling geser. Transmisi jenis
ini memungkinkan untuk menggunakan roda gigi lebih dari satu jenis.

Gambar.2.12 : Transmisi constant mesh

Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

12
Transmisi Tipe Sincromesh.

Transmisi jenis sincromesh dapat menyamakan putaran antara roda gigi penggerak (in
put) dan roda gigi yang digerakkan (out put). Kelebihan yang dimiliki transmisi jenis
sincromesh yaitu :

a. Pemindahan gigi dapat dilakukan secara langsung tanpa nenunggu waktu yang lama.
b. Suara saat terjadi perpindahan gigi halus.
c. Memungkinkan menggunakan berbagai jenis roda gigi.

Gambar.II.3. : Transmisi sincromesh


Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

Mengenal Sincromesh.

Sincromesh berarti menyinkronkan atau menyamakan. Sincromeh terdiri dari berbagai


komponen yang menjadi satu (unit) yang dapat menyamakan putaran antara roda gigi input
dan out put pada transmisi.

13
Gambar.2.13 : bagian-bagian sincromesh

Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

Mekanisme sincromesh (hub assy) berfungsi untuk menghubungkan dan memindahkan


putaran input shaft ke output shaft melalui counter gear dan gigi percepatan. Mekanisme
sincromesh terdiri dari lima bagian, di antaranya adalah :

a. Clutch hub, berhubungan dengan output shaft melalui splin (alur), sehingga apabila
clutch hub berputar maka output shaft juga ikut berputar.
b. Hub sleeve, dapat bergerak maju mundur pada alur bagian luar clutch hub, sedangkan
hub sleeve berkaitan dengan garpu pemindah (shift fork). Hub sleeve berfungsi untuk
menghubungkan clutch hub dengan gigi percepatan melalui synchronizering dan gigi
konis yang terpasang pada tiap-tiap gigi sikap.
c. Sincromeh , terpasang pada bagian samping clutch hub yang berfungsi untuk
menyamakan putaran gigi percepatan dan hub sleeve dengan jalan mengadakan
pengereman terhadap gigi percepatan saat hub sleeve digeserkan (dihubungkan) oleh
garpu pemindah pada salah satu sikap.
d. Shifting key, dipasang pada tiga buah tempat yang terdapat pada sincromesh dan
clutch hub, seperti terlihat pada gambar. Fungsi shifting key untuk meneruskan gaya
tekan dari hub sleeve selanjutnya ditekan ke sincromesh agar terjadi pengereman pada
bagian tirus gigi percepatan (dudukan sincromesh).
e. Key spring, berfungsi untuk mengunci dan menekan shifting key agar tetap tertekan
kearah hub sleeve.

Cara Kerja Sincromesh.

a. Posisi Netral.
Saat posisi netral mekanisme sincromesh tidak berhubungan dengan salah satu gigi
14
tingkat, sehingga tidak terjadi perpindahan tenaga dari gigi tingkat ke mekanisme
sincromesh yang berati poros out put tidak berputar (bebas).

Gambar.2.14 : sincromesh posisi netral

Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

b. PosisiPengereman.
Jika hub slevee digeser kearah roda gigi tingkat maka akan terjadi pengereman,
sehingga kecepatan roda gigi tingkat berangsur angsur menurun dan setelah sesuai
(sinkron) maka akan segera terhubung antara roda gigi tingkat dengan mekanisme
sinkromesh .

Gambar.2.15 : sincromesh posisi pengereman

Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

c. Posisi Menghubung.
Pada akhir langkah pengereman akan terjadi hubungan antara gigi tingkat dengan
mekanisme sincromesh. Pada saat ini tenaga dari gigi tingkat dapat dihubungkan ke
poros out put transmisi melalui mekanisme sincromesh.

15
Gambar.2.16 : sincromeh posisi penghubung

Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html

Defleksi
A. Pengertian Defleksi

Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan
vertical yang diberikan pada balokatau batang.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Deflection_engineering). Deformasi padabalok secara sangat
mudah dapat dijelaskan berdasarkan defleksi balok dariposisinya sebelum mengalami
pembebanan. Defleksi diukur dari permukaannetral awal ke posisi netral setelah terjadi
deformasi. Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal
sebagai kurva elastis terdeformasi yang diasumsikan akibat aksi pembebanann terjadi
deformasi dan Gambar 1(b) adalah balok dalam konfigurasidari balok. Gambar 1(a)
memperlihatka n balok pada posisi awal sebelum.

P
x P
O
y

Gambar.2.17 (a)Balok sebelum terjadi deformasi,(b)Balok dalam konfigurasi


terdeformasi
Sumber : http://bambangpurwantana.staff.ugm.ac.id/KekuatanBahan

Jarak perpindahanydidefinisikan sebagai defleksi balok. Dalampenerapan, kadang kita


harus menentukan defleksi pada setiap nilaixdisepanjang balok. Hubungan ini dapat ditulis
dalam bentuk persamaan yangsering disebut persamaan defleksi kurva (atau kurva e lastis)

16
dari balok.Sistem struktur yang diletakkan horizontal dan yang terutama diperuntukkan
memikul beban lateral, yaitu beban yang bekerja tegak lurussumbu aksial batangBinsar
Hariandja1996).
keran,dan sebagainya.Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya.Beban
semacam ini khususnyamuncul sebagai beban gravitasi, seperti misalnya bobot sendiri, beban
hidupvertical, beban keran(crane)dan lain-lain.contoh system balok dapat dikemukakan
antara lain, balok lantai gedung, gelagar jembatan,balok penyanggakeran,dan
sebagainya.Sumbu sebuah batang akan terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda
dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan kata lain suatubatang akan mengalami pembebanan
transversal baik itu beban terpusatmaupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Unsure-
unsur dari mesin haruslah cukup tegar untuk mencegah ketidakbarisan dan mempertahankan
ketelitian terhadap pengaruh beban dalam gedung-gedung,balok lantai tidakdapat melentur
secara berlebihan untuk meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para penghuni
dan untuk memperkecil atau mencegah denganbahan-bahan jadi yang rapuh. Begitu pun
kekuatan mengenai karateristikdeformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk
mempelajarigetaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner danpenerbangandalam
menjalankan fungsinya, balok meneruskan pengaruh beban gravitasi ke perletakan terutama
dengan mengandalakan aksi lentur,yangberkaitan dengan gaya berupa momen lentur dan
geser. Kalaupun timbul aksinormal, itu terutama ditimbulkan oleh beban luar yang relative
kecil,misalnyaakibat gaya gesek rem kendaraan pada gelagar jembatan, atau misalnya akibat
perletakan yang dibuat miring.

Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :


1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi padabatang akan semakin
kecil.
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurusdengan besarnya defleksi
yang terjadi. Dengan kata lain semakin besarbeban yang dialami batang maka defleksi yang
terjadi pun semakin kecil.
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jikakarena itu besarnya
defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-bedatidaklah sama. Semakin banyak reaksi
dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol
lebih besar dari.
4. Jenis beban yang terjadi pada batangdari tumpuan jepit
tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih besar.
Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya memiliki kurvadefleksi yang
berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yangterjadi pada bagian batang yang
paling dekat lebih besar dari slope titik. Inikarena sepanjang batang mengalami beban
sedangkan pada beban titik.Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi
vertikal(Binsar Hariandja1996).

B.Jenis-Jenis Tumpuan

1. Engsel
Engsel merupakan tumpuanyang dapat menerima gaya reaksi vertikal dan gaya reaksi

17
horizontal. Tumpuan yang berpasak mampu melawan gayahanya terjadi pada beban titik
tertentu sajamenentukan kedua komponen ini, dua buah komponen statika harus
digunakanyang bekerja dalam setiap arah dari bidang. Jadi pada umumnya reaksi padasuatu
tumpuan seperti ini mempunyai dua komponen yang satu dalam arahhorizontal dan yang
lainnya dalam arah vertical. Tidak seperti padaperbandingan tumpuan rol atau penghubung,
maka perbandingan antarakomponen-komponen reaksi pada tumpuan yang terpasak tidaklah
tetap.

Gambar.2.18: Tumpuan engsel


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

2. Rol
Rol merupakan tumpuan yang hanyadapat menerima gaya reaksi vertical. Alat ini
mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik.Penghubung yang terlihat
pada gambar dibawah ini dapat melawan gaya hanyadalam arah AB rol. Pada gambar
dibawah hanya dapat melawan beban vertical.Sedang rol-rol hanya dapat melawan suatu tegak
lurus pada bidang cp

Gambar.2.19: Tumpuan Rol


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

3. Jepit

Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertical, gaya reaksi
horiz ontal dan momen akibatjepitan dua penampang. Tumpuanjepit ini mampu melawan gaya
18
dalam setiap arah dan juga mampu melawan suatu kopel atau momen. Secara fisik, tumpuan
ini diperoleh dengan membangun sebuah balok ke dalam suatu dinding batu bata.
Mengecornya kedalam beton atau mengelas ke dalam bangunan utama. Suatu komponen
gayadan sebuah momen.

Gambar.2.20 : Tumpuan Jepit


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

C.Jenis-Jenis Pembebanan

Salah satu factor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batangkecil


adalah jenis beban yang diberikan kepadanya. Adapun jenis pembeban :

1. Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas kontaknya.

Gambar.2.21 : Pembebanan Terpusat


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

2. Beban terbagi merata


Disebut beban terbagi merata karena merata sepanjang batangdinyatakan dalam (kg/m atau
KN/m).

19
Gambar.2.21: Pembebanan Terbagi Merata
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

3. Beban bervariasi unform


Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batangbesarnya tidak merata

Gambar.2.22 : Pembebanan Bervariasi uniform


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

D.Jenis-Jenis Batang

1. Batang tumpuan sederhana


Bila tumpuan tersebut berada pada ujung-ujung dan pada pasak atau rol.

Gambar.2.23 : Batang tumpuan sederhana


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

2. Balok kancilever

20
struktur balok kantilever statis tertentu, defleksi. Eleman struktur yang berfungsi
menahan gaya geser dan momen lentur akibat adanya beban yang bekerja pada balok
tersebut.

Gambar.2.24 : balok kontilever dengan beban terpuasat


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Apabila model balok (Gambar 2) diuraikan lebih lanjut (Gambar 3), maka akantimbul
gaya-gaya dalam (internal force) balok. Gaya-gaya dalam berfungsi menahan
adanya beban luar, agar struktur tetap berada dalam kondisi seimbang. Apabila terjadi
ketidakseimbangan, maka struktur dapat dikatakan gagal. Gaya-gaya dalam dapat
digambarkan dalam suatu diagram benda bebas / free body diagrams (Gambar 3.a).

Gambar.2.25 : Ilustrasi diagram benda bebas dan defleksi pada balok.


Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Struktur statis tertentu adalah struktur di mana jumlah gaya-gaya yang belumdiketahui
adalah sama dengan jumlah persamaan keseimbangannya. Persamaankeseimbangan meliputi
keseimbangan momen, keseimbangan gaya-gaya arahhorisontal vertikal.
a. Defleksi Balok

21
Akibat adanya beban yang bekerja pada balok maka pada sumbu longitudinal(sumbu-
x) akan terdeformasi menjadi suatu lengkungan, yang disebut kurva defleksibalok, atau
dengan kata lain, balok mengalami defleksi sebesar (Gambar 3.b).Defleksi yang terjadi,
untuk taraf nilai tertentu tidak akan memberi pengaruh besarpada konstruksi secara
keseluruhan, namun apabila melebihi suatu persyaratan ijin,hal ini akan berbahaya, karena
konstruksi bangunan menjadi tidak aman dan nyaman.Gambar 2 memperlihatkan suatu
model 3D balok kantilever dengan panjangbentang (L) dan terdapat beban terpusat (P)
bekerja pada ujungnya. Balok mempunyaipenampang uniform dengan ukuran dan dimensi
penampang b x h.Parameter-parameter L, P, b, dan h diperlukan sebagai langkah
penyederhanaandari kondisi sebenarnya. Namun pada kenyataannya, ketelitian besar beban
atauukuran penampang bisa saja tidak akurat. Hal ini menyebabkan adanya
suatuketidakpastian. Pada formulasi suatu persamaan implisit dengan memasukkan suatu
parameter ketidakpastian, maka diperlukan perhitungan keandalan.

b. Metode Analitis

Metode analitis untuk menyelesaikan persamaan defleksi balok dapatditentukan dengan


metode integrasi bertahap momen lentur (double intregation).Secara umum, persamaan
defleksi untuk balok kantilever statis tertentu dapatdiselesaikan dengan Persamaan 4,
Persamaan 5, dan Persamaan 6.Persamaan momen lentur,

Persamaan umum kemiringan balok,

Persamaan umum defleksi balok,

Gaya Dalam

Gaya Dalam ialah gaya yang terjadi didalam suatu elemen konstruksi (batang)
sebagai akibat adanya pengaruh gaya dari luar. Gaya dalam diklasifikasikan menjadi 2
jenis, yakni :

a. Gaya normal (gaya aksial) yakni gaya dalam yang bekerja tegak lurus terhadap
penampang potong atau sejajar dengan sumbu batang.

b. Gaya tangensial (gaya melintang) yakni gaya dalam yang bekerja sejajar dengan
penampang potong atau tegaklurus terhadap sumbu batang.

22
Pembebanan

Jika ditinjau dari arahnya (beban) dan akibatnya terhadap komponen yang
menahannya, pembebanan dikategorikan menjadi 5 jenis, yaitu :

a. Pembebanan Tarik yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan garis sumbu atau
tegak lurus terhadap penampang potong berorientasi kerja keluar (menjauh) sehingga
mengakibatkan batang atau elemen konstruksi mengalami perpanjangan.
b. Pembebanan Tekan yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan garis sumbu
atau tegak lurus terhadap penampang potong berorientasi kerja kedalam (menuju) sehingga
mengakibatkan batang atau elemen konstruksi mengalami perpendekan.
c. Pembebanan Bengkok yakni apabila gaya yang bekerja dengan jarak tertentu
terhadap penampang potong yang mengakibatkan momen bending pada batang atau elemen
konstruksi tersebut.
d. Pembebanan Geser yakni apabila gaya yang bekerja sejajar dengan penampang
potong atau tegak lurus terhadap garis sumbu yang mengakibatkan elemen kontruksi (batang)
mengalami pergeseran.
e. Pembebanan puntir yakni apabila gaya yang bekerja sejajar penampang potong
dengan jarak radius tertentu terhadap sumbu batang (garis sumbu) yang mengakibatkan
momen puntir .

Tegangan

Apabila suatu gaya dalam ditahan oleh penampang batang maka didalam penampang
batang tersebut akan mengalami adanya tegangan. Tegangan ialah besarnya gaya yang
diberikan per satuan luas penampang. Ditinjau dari arah gaya dalam yang terjadi, tegangan
diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu :

a. Tegangan Normal yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh dari Gaya Norma

b. Tegangan Tengansial yakni tegangan yang terjadi karena pengaruh Gaya Tangensial
Sedangkan menurut jenis pembebanan yang diberikan, tegangan diklasifikasikan menjadi :

1. Tegangan Tarik

2. Tegangan Geser

3. Tegangan Tekan

4. Tegangan Puntir

23
5. Tegangan Bengkok

Apabila didalam satu penampang terjadi lebih dari satu jenis tegangan dengan waktu
yang bersamaan, dalam hal ini terjadi Tegangan Gabungan yang didefinisikan sebagai
penjumlahan dari kuadrat Tegangan (Normal) dengan hasil kuadrat atas konversi tegangan -
Tegangan (Tangensial) yang dikalikan tiga. Kemudian hasil penjumlahan tersebut di Akar
kuadratkan sehingga akan diperoleh nilai Tegangan Gabungan. Besarnya konversi tegangan
tergantung dari jenis dan kasus pembebanan.

Definisi balok (beam)

Suatu batang yang dikenai gaya-gaya atau pasangan gaya-gaya serta momen (couple)
yang terletak pada suatu bidang yang mempunyai sumbu longitudinal disebut balok (beam).
Gaya-gaya disini bekerja tegaklurus terhadap sumbu horisontal.

Balok konsole (cantilever)


Jika suatu balok disangga atau dijepit hanya pada salah satu ujungnya sedemikian
sehingga sumbu balok tidak dapat berputar pada titik tersebut, maka balok tersebut disebut
balok gantung, balok kantilever (cantilever beam). Tipe balok ini antara lain ditunjukkan
pada Gb. 6-1. Ujung kiri balok adalah bebas terhadap tekukan dan pada ujung kanan dijepit.
Reaksi dinding penyangga pada ujung kanan balok terdiri atas gaya vertikal sebesar gaya dan
pasangan gaya-gaya yang bekerja pada bidang balok.

P W N/m

Gambar.2.26 : balok cantilever

Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Balok sederhana
Suatu balok yang disangga secara bebas pada kedua ujungnya disebut balok
sederhana. Istilah disangga secara bebas menyatakan secara tidak langsung bahwa ujung
penyangga hanya mampu menahan gaya-gaya pada batang dan tidak mampu menghasilkan
momen. Dengan demikian tidak ada tahanan terhadap rotasi pada ujung batang jika batang
mengalami tekukan karena pembebanan. Batang sederhana diilustrasikan pada gambar 2.27.

P W N/m

M
(a) (b)
24
Gambar.2.27 : Balok sederhana
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Perlu diperhatikan bahwa sedikitnya satu dari penyangga harus mampu menahan
pergerakan horisontal sedemikian sehingga tidak ada gaya yang muncul pada arah sumbu
balok. Balok pada Gb. 2.26(a) dikatakan dikenai gaya terkonsentrasi atau gaya tunggal;
sedang batang pada Gb. 2.27(b) dibebani pasangan beban terdistribusi seragam.

Balok menggantung
Suatu balok disangga secara bebas pada dua titik dan menggantung di salah satu
ujungnya disebut balok menggantung (overhanging beam). Dua contoh ditunjukan pada
Gb. 2.28.

P1 P2 P3 W P

Gambar.2.28 : Balok menggantung

Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Balok statis tertentu


Semua balok-balok yang kita diskusikan diatas, kantilever, balok sederhana, balok
menggantung, adalah balok dimana reaksi-reaksi gayanya dapat ditentukan dengan
menggunakan persamaan kesetimbangan statis. Nilai reaksi-reaksi ini tidak tergantung pada
perubahan bentuk atau deformasi yang terjadi pada balok. Balok-balok demikian disebut
balok statis tertentu.

Balok statis tak-tertentu


Jika jumlah reaksi yang terjadi pada balok melebihi jumlah persamaan kesetimbangan
statis, maka persamaan statis harus ditambah dengan suatu persamaan sebagai fungsi
deformasi balok. Pada kasus demikian balok dikatakan statis tak-tertentu. Contoh-contohnya
ditunjukkan pada Gb. 2.29.

P W P1 P2

25
(a) (b) (c)
Gambar.2.29 : Balok statis tak tertentu

Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Tipe pembebanan
Beban biasanya dikenakan pada balok dalam bentuk gaya terkonsentrasi (bekerja pada
satu titik), dan beban terdistribusi seragam dimana besarnya dinyatakan sebagai gaya per
satuan panjang, atau beban bervariasi seragam. Tipe beban yang terakhir ini diilustrasikan
pada Gb. 2.30.

Balok dapat juga dibebani dengan couple atau momen; besarnya biasanya dinyatakan
sebagai Newton-meter (N.m).

W0

Gambar.2.30 : saat diberi beban

Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Gaya internal dan momen pada balok


Ketika balok dibebani dengan gaya atau momen, tegangan internal terjadi pada batang.
Secara umum, terjadi tegangan normal dan tegangan geser. Untuk menentukan besarnya
tegangan-tegangan ini pada suatu bagian atau titik pada balok, perlu diketahui resultan gaya
dan momen yang bekerja pada bagian atau titik tersebut. Ini dapat dilakukan dengan
menggunakan persamaan-persamaan kesetimbangan.

Contoh 1.

Misalkan beberapa gaya bekerja pada balok seperti ditunjukkan pada Gb. 2.31(a).

P1 P2 P3 P4 b
M
a P1 P2
A B C D x A D

26
V
x x
R1 R2 R1
(a) (b)
Gambar.2.31 : saat terjadi gaya internal
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Pertama kita amati tegangan internal sepanjang bidang D, yang lerletak pada jarak x
dari ujung kiri balok. Untuk itu balok dipotong pada D dan porsi balok disebelah kanan D
dipindahkan. Porsi yang dipindahkan kemudian digantikan dengan suatu efek untuk bagian
sebelah kiri D yaitu berupa gaya geser vertikal V bersama-sama dengan suatu momen M
seperti ditunjukkan pada Gb. 6-6(b).
Gaya V dan momen M menahan balok sebelah kiri yang mempunyai gaya-gaya R1, P1,
dan P2 tetap dalam kesetimbangannya. Nilai-nilai V dan M adalah positip jika posisinya
seperti pada Gb. diatas.

Tahanan momen
Momen M yang ditunjukkan pada Gb. 6-6(b) disebut tahanan momen (resisting
moment) pada bagian D. Besarnya M dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan statis
yang menyatakan bahwa jumlah seluruh gaya terhadap poros yang melalui D dan tegak lurus
bidang adalah nol. Jadi,

M 0 M R1 x P1 ( x a ) P2 ( x b) 0 M R1 x P1 ( x a) P2 ( x b)
atau

Dengan demikian tahanan momen M adalah momen pada titik D yang dibuat dengan momen-
momen reaksi pada A dan gaya-gaya P1 dan P2. Momen tahanan M merupakan resultan
momen karena tekanan yang didistribusikan pada bagian vertikal pada D. Tegangan-tegangan
ini bekerja pada arah horisontal dan merupakan suatu tarikan pada bagian-bagian tertentu
pada penampang melintang dan suatu tekanan pada bagian-bagian lainnya. Sifat-sifat ini akan
didiskusikan di bab 8.

Tahanan geser
Gaya vertikal V yang ditunjukkan pada Gb. 6-6(b) disebut tahanan geser (resisting
shear) untuk D. Untuk kesetimbangan gaya pada arah vertikal,

F v R1 P1 P2 V 0 V R1 P1 P2
atau

Gaya V ini sebenarnya merupakan resultan tegangan geser yang didistribusikan pada bagian
verikal D. Sifat-sifat tegangan ini lebih lanjut akan didiskusikan di bab 8.

27
Momen tekuk
Jumlah aljabar momen-momen gaya luar pada satu sisi bagian D terhadap suatu sumbu
yang melalui D disebut momen tekuk (bending moment) pada D. Untuk pembebanan seperti
ditunjukkan pada Gb. 6-6, momen tekuk dinyatakan dengan:

R1 x P1 ( x a ) P2 ( x b)

Jadi momen tekuk merupakan kebalikan (arah) dari tahanan momen dengan besaran yang
sama. Momen tekuk juga dinotasikan dengan M. Momen tekuk lebih lazim digunakan
daripada tahanan momen dalam perhitungan karena momen ini dapat dinyatakan secara
langsung dari beban atau gaya-gaya eksternalnya.

Gaya geser
Jumlah aljabar seluruh gaya vertikal disebelah kiri titik D disebut gaya geser (shearing
R1 P1 P2
force) pada titik tersebut. Untuk pembebanan diatas dinyatakan dengan . Gaya
geser adalah berlawanan arah dengan tahanan geser tetapi besarnya sama. Biasanya
dinyatakan dengan V. Dalam perhitungan gaya geser lebih sering digunakan daripada tahanan
geser.

Konvensi tanda
Konvensi atau kesepakatan pemberian tanda untuk gaya geser dan momen tekuk
ditunjukkan pada Gb. 6-7. Suatu gaya yang menyebabkan balok tertekuk dalam posisi cekung
disebut menghasilkan momen tekuk positip. Suatu gaya yang menyebabkan pergeseran porsi
batang sebelah kiri naik terhadap porsi batang sebelah kanan dikatakan menghasilkan gaya
geser positip.Metode yang lebih mudah untuk menentukan tanda aljabar dari momen tekuk
pada sembarang titik adalah: gaya luar menuju keatas menghasilkan momen tekuk positip,
gaya kebawah menghasulkan momen tekuk negatif.

Persamaan pergeseran dan momen


Untuk mempermudah analisa biasanya digunakan sistem koordinat disepanjang
balok dengan origin di salah satu ujung balok. Dengan sistem koordinat ini maka akan dapat
diketahui gaya geser dan momen tekuk pada seluruh bagian disepanjang balok, dan untuk
tujuan ini maka biasanya dibuat dua buah persamaan, satu menyatakan gaya geser V sebagai
fungsi jarak, misal x, dari salah satu ujung balok, dan satu lagi menyatakan momen tekuk M
sebagai fungsi x.

Diagram gaya geser dan momen tekuk


Plot untuk persamaan gaya geser V dan momen tekuk M masing-masing disebut
diagram gaya geser dan diagram momen tekuk. Pada diagram ini absis (horisontal)
menyatakan posisi bagian disepanjang balok dan ordinat (vertikal) menyatakan nilai dari
gaya geser dan momen tekuk. Dengan demikian, diagram ini menyatakan secara grafis variasi
gaya geser dan momen tekuk pada sembarang titik dari batang. Dari plot-plot ini maka akan
sangat mudah untuk menentukan nilai maksimum setiap kuantitasnya

Hubungan antara intensitas beban, gaya geser, dan momen tekuk

28
Suatu balok sederhana dengan beban bervariasi yang dinyatakan dengan w(x)
diilustrasikan seperti pada Gb. 6-8. Sistem koordinat dengan origin diujung kiri (A) dan
variasi jaraknya dinyatakan dengan variabel x.

w(x)

Gb. 6-8
x dx
Gambar.2.32 : Hubungan antara intensitas beban, gaya geser, dan momen tekuk
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

Fungsi singularitas
Untuk mempermudah penanganan problem yang melibatkan beban dan momen
terkonsentrasi secara bersamaan, maka diperkenalkan fungsi sebagai berikut:

f n ( x) ( x a ) n

dimana untuk n> 0. Kuantitas didalam kurung akan bernilai nol jika x<a dan bernilai (x-a)n
jika x>a. Ini merupakan fungsi singularitas atau fungsi separoh selang. Dengan demikian juga
argumennya positip maka nilai didalam kurung berlaku sebagaimana pernyataan biasa.
Contoh aplikasinya akan kita diskusikan dalam contoh 3.

Contoh 2.
Jabarkan hubungan antara intensitas beban, gaya geser dan momen tekuk untuk suatu titik
pada balok.
Kita misalkan suatu balok dikenai pembebanan seperti pada gambar (a). Kita
isolasikan suatu elemen balok sepanjang dx dan menggambarkan diagram gaya-gaya yang
bekerja pada elemen tersebut. Gaya geser V bekerja pada sisi kiri elemen dan untuk elemen
sepanjang dx tersebut besarnya berubah menjadi V + dV. Demikian juga momen tekuk M
yang bekerja pada sisi kiri elemen berubah secara bertahap menjadi M + dM di sisi kanan.
Karena dx adalah sangat kecil, beban diatas elemen tersebut dapat dianggap seragam yaitu
sama dengan w N/m. Diagram gaya-gaya ini diilustrasikan pada gambar (b). Untuk
kesetimbangan momennya, kita peroleh

29
w N/m

w(x) V+dV
O. V
M M+dM

x
(a)
x dx dx
(b)

Gambar.2.33 : Hubungan antara intensitas beban, gaya geser, dan momen tekuk
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

M o M ( M d M) V d x wd x(d x/ 2) 0 dM Vdx 12 w(dx) 2


atau

Karena term terakhir berisi produk dua diferensial, maka term tersebut diabaikan untuk
diperbandingkan dengan bentuk lain yang hanya melibatkan satu diferensial. Dengan
dM
V
dM Vdx dx
demikian, atau
Jadi gaya geser adalah sama dengan laju perubahan momen tekuk terhadap x.
Persamaan ini sangat bermanfaat dalam penggambaran diagram gaya geser dan
momen tekuk khususnya untuk pembebanan yang sangat rumit. Misalnya, dari persamaan ini
diperoleh bukti bahwa bila gaya geser adalah positip pada suatu bagian balok maka slope atau
kemiringan momen tekuknya pada bagian atau titik itu juga positip. Juga, dapat dibuktikan
bahwa perubahan yang tiba-tiba pada gaya geser juga diikuti oleh perubahan yang tiba-tiba
pada kemiringan diagram momen tekuknya.
Selanjutnya, pada titik-titik dimana gaya gesernya nol, maka kemiringan diagram
momennya juga nol. Pada titik-titik ini, dimana diagram momennya adalah horisontal,
besarnya momen bisa merupakan nilai maksimum atau minimum. Ini mengikuti teknik
kalkulus dalam penentuan titik maksimum atau minimum suatu kurva dengan memberikan
nilai nol pada turunan pertama fungsi kurva. .
Untuk menentukan arah kecekungan kurva pada suatu titik, kita dapat membuat
turunan kedua dari M terhadap x, yaitu d2M/dx2. Apabila nilai turunan kedua ini positip maka
diagram momennya cekung keatas dan momennya menunjukkan nilai minimum. Bila turunan
kedua adalah negatip, maka diagram momen adalah cekung kebawah (cembung), dan
momennya memiliki nilai maksimum.
Untuk persamaan kesetimbangan vertikal pada elemen, kita peroleh
wdx V (V dV ) 0

dV
w
dx
atau
Formula ini bermanfaat untuk pembuatan diagram gaya.
30
Diagram gaya-gaya ditunjukkan pada gambar (b). Dari gambar ini kita peroleh
persamaan kesetimbangan statis:
wL wL2
V1 P M 1 PL
2 8

meskipun untuk kasus kantilever ini sebenarnya kita tidak perlu menuliskan persamaan-
persamaan gaya geser dan momen tekuknya.
Berdasarkan sistem koordinatnya, dengan origin O, beban terkonsentrasi P dan beban
terdistribusi menghasilkan gaya geser negatip berdasarkan konvensi tandanya. Dengan
demikian kita dapatkan:
1
L
V P ( x) 0 w x
2

yang mengindikasikan gaya geser pada setiap posisi x .


Secara sama, momen tekuk pada setiap posisi x adalah
2
w L
M P( x) x
1

2 2

Dengan demikian, diagram gaya geser dan momen tekuknya adalah seperti ditunjukkan pada
gambar (c) dan (d) dibawah ini.

P w / unit panjang

L/2 L/2

(a)
Gaya geser

woL/2

(c)

Momen tekuk

(d)

Gambar.2.34 : Hubungan antara intensitas beban, gaya geser, dan momen tekuk
Sumber : http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

31
Hukum Bernoulli

Bernoulli adalah sebuah istilah di dalam mekanika fluida yang menyatakan bahwa
pada suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan
tekanan pada aliran tersebut. Prinsip ini sebenarnya merupakan penyederhanaan dari
Persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu
aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama.
Prinsip ini diambil dari nama ilmuwan Belanda/Swiss yang bernama Daniel Bernoulli. Dalam
bentuknya yang sudah disederhanakan, secara umum terdapat dua bentuk persamaan
Bernoulli; yang pertama berlaku untuk aliran tak-termampatkan (incompressible flow), dan
yang lain adalah untuk fluida termampatkan (compressible flow).

Aliran Tak-termampatkan

Aliran tak-termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan tidak berubahnya
besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran tersebut. Contoh fluida tak-
termampatkan adalah: air, berbagai jenis minyak, emulsi, dll. Bentuk Persamaan Bernoulli
untuk aliran tak-termampatkan adalah sebagai berikut:

dimana:

v = kecepatan fluida

g = percepatan gravitasi bumi

h = ketinggian relatif terhadapa suatu referensi

p = tekanan fluida

32
= densitas fluida

Persamaan di atas berlaku untuk aliran tak-termampatkan dengan asumsi-asumsi sebagai


berikut:

Aliran bersifat tunak (steady state)

Tidak terdapat gesekan

Aliran Termampatkan

Aliran termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan berubahnya besaran
kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran tersebut. Contoh fluida
termampatkan adalah: udara, gas alam, dll. Persamaan Bernoulli untuk aliran termampatkan
adalah sebagai berikut:

Hukum Bernoulli menyatakan bahwa jumlah dari tekanan ( p ), energi kinetik per satuan
volum (1/2 PV^2 ), dan energi potensial per satuan volume (gh) memiliki nilai yang sama
pada setiap titik sepanjang suatu garis arus.

Dalam bagian ini kita hanya akan mendiskusikan bagaimana cara berfikir Bernoulli sampai
menemukan persamaannya, kemudian menuliskan persamaan ini. Akan tetapi kita tidak akan
menurunkan persamaan Bernoulli secara matematis.

Kita disini dapat melihat sebuah pipa yang pada kedua ujungnya berbeda dimanaujung pipa 1
lebih besar dari pada ujung pipa 2.

Penerapan Hukum Bernoulli dapat kita lihat pada:

a. Teorema Torriceli

Salah satu penggunaan persamaan Bernoulli adalah menghitung kecepatan zat cair
yang keluar

dari dasar sebuah wadah (lihat gambar di bawah)Kita terapkan persamaan Bernoulli pada titik
1 (permukaan wadah) dan titik 2 (permukaan lubang). Karena diameter kran/lubang pada
dasar wadah jauh lebih kecil dari diameter wadah, maka kecepatan zat cair di permukaan
wadah dianggap nol (v1 = 0). Permukaan wadah dan permukaan lubang/kran terbuka
sehingga tekanannya sama dengan tekanan atmosfir (P1 = P2). Dengan demikian, persamaan
Bernoulli untuk kasus ini adalah :

33
Gambar.2.36 : hukum bernoulli & rumus

Sumber : Google

Jika kita ingin menghitung kecepatan aliran zat cair pada lubang di dasar wadah,
maka persamaan ini kita oprek lagi menjadi :

Berdasarkan persamaan ini, tampak bahwa laju aliran air pada lubang yang berjarak h dari
permukaan wadah sama dengan laju aliran air yang jatuh bebas sejauh h (bandingkan Gerak
jatuh Bebas). Ini dikenal dengan Teorema Torricceli. Teorema ini ditemukan oleh Eyang
Torricelli, murid eyang butut Gallileo, satu abad sebelum om Bernoulli menemukan
persamaannya.

34
b. Efek Venturi

Selain teorema Torricelli, persamaan Bernoulli juga bisa diterapkan pada kasus
khusus lain yakni ketika fluida mengalir dalam bagian pipa yang ketinggiannya hampir sama
(perbedaan ketinggian kecil).

Gambar.2.37 : pipa venturi

Sumber : Google

Untuk memahami penjelasan ini, amati gambar di bawah.

Pada gambar di atas tampak bahwa ketinggian pipa, baik bagian pipa yang penampangnya
besar maupun bagian pipa yang penampangnya kecil, hampir sama sehingga diangap
ketinggian alias h sama. Jika diterapkan pada kasus ini, maka persamaan Bernoulli berubah
menjadi :

Gambar.2.38 : persamaan bernoulli

Sumber : Google

Ketika fluida melewati bagian pipa yang penampangnya kecil (A2), maka laju fluida
bertambah (ingat persamaan kontinuitas). Menurut prinsip Bernoulli, jika kelajuan fluida
bertambah, maka tekanan fluida tersebut menjadi kecil. Jadi tekanan fluida di bagian pipa
yang sempit lebih kecil tetapi laju aliran fluida lebih besar.Ini dikenal dengan julukan efek
Venturi dan menujukkan secara kuantitatif bahwa jika laju aliran fluida tinggi, maka tekanan
fluida menjadi kecil. Demikian pula sebaliknya, jika laju aliran fluida rendah maka tekanan
fluida menjadi besar.

c. Venturimeter

35
Penerapan menarik dari efek venturi adalah Venturi Meter. Alat ini dipakai untuk
mengukur laju aliran fluida, misalnya menghitung laju aliran air atau minyak yang mengalir
melalui pipa. Terdapat 2 jenis venturi meter, yakni venturi meter tanpa manometer danventuri
meter yang menggunakan manometer yang berisi cairan lain, seperti air raksa. Prinsip
kerjanya sama saja.

d. Venturi meter tanpa manometer

Gambar di bawah menunjukkan sebuah venturi meter yang digunakan untuk


mengukur laju aliran zat cair dalam pipa.

Gambar.2.39 : Venturi tanpa manometer

Sumber : Google

Amati gambar di atas. Ketika zat cair melewati bagian pipa yang penampangnya kecil (A2),
laju cairan meningkat. Menurut prinsipnya om Bernoulli, jika laju cairan meningkat, maka
tekanan cairan menjadi kecil. Jadi tekanan zat cair pada penampang besar lebih besar dari
P P v v
tekanan zat cair pada penampang kecil ( 1 > 2 ). Sebaliknya 2 > 1 . Sekarang
kita oprek persamaan yang digunakan untuk menentukan laju aliran zat cair pada pipa di atas.
Kita gunakan persamaan efek venturi yang telah diturunkan sebelumnya.

36
Gambar.2.40 : Persamaan efek venturi

Sumber : Google

Dalam pokok bahasan Tekanan Pada Fluida, gurumuda sudah menjelaskan bahwa untuk
menghitung tekanan fluida pada suatu kedalaman tertentu, kita bisa menggunakan
persamaan:

Jika perbedaan massa jenis fluida sangat kecil, maka kita bisa menggunakan persamaan ini
untuk menentukan perbedaan tekanan pada ketinggian yang berbeda (kalau bingung, baca
kembali

37
pembahasan mengenai Tekanan Dalam Fluida Fluida Statis). Dengan demikian,
persamaan a bisa kita oprek menjadi :

Gambar.2.41 : Persamaan laju cair dalam pipa

Sumber : Google

Persamaan ini kita gunakan untuk menentukan laju zat cair yang mengalir dalam pipa.Dalam
bidang kedokteran, telah dirancang juga venturi meter yang digunakan untuk mengukur laju
aliran darah dalam arteri.

38
TURBIN PELTON

Turbin pelton digolongkan ke dalam jenis turbin impuls atau tekanan sama. Karena
selama mengalir di sepanjang sudu-sudu turbin tidak terjadi penurunan tekanan, sedangkan
perubahan seluruhnya terjadi pada bagian pengarah pancran atau nosel.Energi yang masuk ke
roda jalan dalam bentuk ennnrgi kinetik. Pada waktu melewati roda turbin, energi kinetik
dikonversikan menjadi kerja poros dan sebagian kecil energi terlepas dan sebagian lagi
digunakan untuk melawan gesekan dengan permukaan sudu turbin.

Instalasi dan begian utama turbin pelton.

Turbin pelton biasanya berukuran besar. Hal ini dapat dimaklumi karena dioperasikan pada
tekananyang tinggi danperubahan momentum yang diterima sudu-sudu sangat besar, dengan
sendiri struktur turbin harus kuat.Pada turbin pelton semua energi tinggi tempet dan tekanan
ketika masuk kesudu jalan turbin telah telah diubah menjadi energi kecepatan Seperti terlihat
pada gambar dibawah ini:

Gambar.2.42 : bagian utama turbin pelton

Sumber : http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/31/klasifikasi-turbin/

Turbin pelton terdiri dari dua bagian utama yaitu :

Nosel

39
Roda jalan.

Nosel mempunyai beberapa fungsi yaitu:

1. Mengarahkan pancaran air ke sudu turbin.

2. Mengubah tekanan menjadi energi kinetik.

3. Mengatur kapasitas air yang masuk turbin.

Jarum yang berada pada nosel bertujuan untuk mengatur kapasitas dan
mengkonsentrasikan air yang terpancar di mulut nosel. Panjang jarum sangat menentukan
tingkat konsentrasi air, makin panjang jarum air makin terkonsentrasi.Untukturbin pelton
dengan daya kecil, debit bisa diatur dengan hanya menggeser kedudukan jarum sudu. Untuk
instalasi yang lebih besar harus menggunakan dua buah sistem pengaturan atau lebih. Tujuan
pengaturan ini adalah untuk menghindari terjadinya tekanan tumbukan yang besar dalam pipa
pesat yang timbul akibat penumpukkan nosel secara tiba-tiba ketika beban turbin berkurang
dengan tiba-tiba.Untuk mengurangi putaran turbin pada kondisi atas, pembelokkan pancaran
akan berayaun kedepan jarum nosel terlebihdahulu sehingga pancaran air dari nosel berbelok
sebagian.

Jumlah nosel tergantung pada bilangan-bilangan spesifik nq trubin pelton. Dimana nq


dirumuskan :

Roda jalan berbentuk pelek (rim) dengan sejumlah sudu di sekelilinnya. Pelek ini
dihubungkan dengan poros dan seterusnya menggerakkan generator. Sudu turbin pelton
berbentuk elipsoida yang dibuat dengan bucket (sudu) dan di tengahnya mempunyai splitter
(pemisah air). Bentuk sudu sedemikian dimaksudkan supaya bisa membalikkan putaran air
dengan baik dan membebaskan sudu dari gaya samping.

Berdasarkan fluida yang digunakan, maka turbin dapat dibagi atas:

1. Turbin Air

2. Turbin Uap

40
3. Turbin gas

Turbin air digunakan untuk mengubah energi hidro menjadi energi listrik. Beberapa
keuntungan dari trubin air ini adalah:

1. Efisiensi yang tinggi

2. Fleksibel dalam operasional

3. Perawatan mudah

4. Tidak ada energi potensial yang terbuang

5. Tidak ada bahan polutan

Turbin air mempunyai beberapa tipe diantaranya:

Turbin Impul

Pada turbin ini proses ekspansi fluida (penurunan tekanan fluida) hanya terjadi pada sudu-
sudu tetap, contohnya turbin pelton.

Turbin Reaksi.

Pada turbbin ini proses ekspansi fluida terjadi baik pada sudu-sudu gerak (sudu-sudu jalan),
contohnya Turbin Francis, turbin propeler dan turbin kaplan.

TURBIN FRANCIS.

Turbin francis bekerja dengan memakai proses tekanan lebih. Pada waktu air masuk
ke roda jalan, sebagian dari enrgi tinggi jatuh telah bekerja di dalam suddu pengarah diubah
sebagai kecepatan air masuk. Sisa energi tinggi jatuh dimamfaatkan dalam sudu jalan, dengan
adanya pipa isap memungkinkan energi tinggi jatuh bekerja di sudu jalan dengan
semaksimum mungkin.Turbin yang dikelilingi dengan sudu pengarah semuanya terbenam
dalm air. Air yang masuk kedalam turbin dialirkan melalui pengisian air dari atas turbin
(schact) atau melalui sebuah rumah yang berbentuk spiral (rumah keong). Semua roda jalan
selalu bekerja. Daya yang dihasilkan turbin diatur dengan cara mengubah posisi pembukaan
sudu pengarah. Pembukaan sudu pengarah dapat dilakuakan dengan tangan atau dengan
pengatur dari oli tekan(gobernor tekanan oli), dengan demikian kapasitas air yang masuk ke
dalam roda turbin bisa diperbesar atau diperkecil.Pada sisi sebelah luar roda jalan terdapat
tekanan kerendahan (kurang dari 1 atmosfir) dan kecepatan aliran yang tinggi. Di dalam pipa
isap kecepatan alirannya akan berkurang dan tekanannya akan kembali naik sehingga air bisa
dialirkan keluar lewat saluran air di bawah dengan tekanan seperti keadaan sekitarnya. Pipa
isap pada turbin ini mempunyai fungsi mengubah energi kecepatan menjadi energi tekan.

41
DAERAH KERJA TURBIN FRANCIS.

Jenis konstruksi turbin ini pertama kali dilaksanakan sekitar tahun 1950. Sekarang
turbin francis adalah yang paling banyak dipakai, karena tinggi air jatuh dan kapasitasnya
yang paling sering terdapat/ sesuai dengan kebutuhannya. Dari hasil penggunaan dan
penelitian yang terus-menerus untuk pengembangan selanjutnya, turbin francis sekarang
sudah bisa digunakan untuk tinggi air jatuh sampai 700m dengan kapasitas air dan kecepatan
air dan kecepatan putar yang sesuai memenuhi harapan. Gambar berikut adalah daerah
penggunaan dari beberapa jenis konstruksi turbin yang berbeda.

Gambar.2.43 : Turbin francis

Sumber : http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/31/klasifikasi-turbin/

Pokok utama pada gambar adalah adanya daerah penggunaan tipe turbin. Untuk diketahui
pada gambar diatas di dalam daerah yang dibatasi dengan garis terdapat banyak jenis turbin
yang dibuat, jadi sebetulnya garis tersebut sudah bukan merupakan garis batas lagi. Karena
ada turbin yang titik muatan beban penuhnya terletak di bawah atau di atas daerah yang
diberi tanda. Titik beban penuh turbin dapat juga terletak di bawah daerah tersebut, bila dari
kondisi tempat membutuhkan pemasangan turbin dengan tinggi khusus dan berdasarkan
alasan untuk menghindari kavitasi, sehingga dengan demikian harus dipilih kecepatan
spesifik yang kecil.

Turbin francis yang kecil sering terletak di bawah daerah tersebut, karena harus
menggerakkan generator yang mempunyai kecepatan putar yang tinggi dsan dihubungkna
langsung dengan roda gigi transmisi. Didalam daerah batas antara turbin francis dengan
turbin kaplan, Turbin kaplan lebih menguntungkan yaitu pada keadaan beban tidak penuh
randemennya lebih tinggi, karena sudu-suda turbin kaplan bisa diatur sesuai dengan beban
yang ada.

42
BAB III

METODOLOGI

III.1 Tempat Dan Waktu Penelitian

III.1.1 Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2014

III.1.2 Tempat Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di Lab.Fenomena Dasar Mesin Fakultas Teknik


Mesin Universitas Janabadra.

III.2 Alat Dan Bahan

III.2.1 Alat Penelitian

1. Alat yang digunakan dalam uji roda gigi

a. Tachometer Digital

b. Pengaturan tegangan

c. Jaka sorong

2. Alat yang digunakan dalam uji defleksi

a. Alat pengecek kerataan dasar

b. Mistar baja

c. Jaka sorong

d. pembeban

3. Alat yang digunakan dalam uji pengkodisian udara

a. Alat pengecek suhu


43
b. Alat pengecek kelembaman

III.2.2 bahan

1. Bahan yang digunakan dalam uji transmisi roda gigi

a. Gear box

b. Motor listrik

c. Differential gear

2. Bahan yang digunakan dalam uji defleksi

a. Plat baja

b. Alat penguji defleksi

3. Bahan yang digunakan dalam uji pengkondisian udara

a. Mesin ac

b. Freon

III.3 Prosedur

III.3.1 Sistem transmisi roda gigi

1. Gambarkan susunan roda gigi pada gear box

2. Hitung jumlah gigi pada roda gigi dalam gear box

3. Hitung diameter pully dan pully input roda gigi

4. Gambar posisi roda gigi pada tiap-tiap posisi : I, II, III,IV

5. Atur gear box dalam posisi netral

6. Hubungkan stiker kesumber arus listrik

7. Tekan tombol pada posisi on

8. Putar pengatur kecepatan sedikit demi sedikit sampai motor pengerak mulai
berputar

9. Atur kecepatan motor sengga dapat putaran 1450

10. Ukur putaran pada input gear box


11. tekan pedal kopling sehingga poros gear box berhenti berputar kemudian
masukan gigi pada posisi I
12. Ukur putaran Out put gear box

44
13. Tekan pedal kopling sehingga poros gear box berhenti berputar kemudian
masukan gigi pada posisi II
14. Ukur putaran Out put gear box
15. Tekan pedal kopling sehingga poros gear box berhenti berputar kemudian
masukan gigi pada posisi III
16. Ukur putaran Out put gear box
17. Tekan pedal kopling sehingga poros gear box berhenti berputar kemudian
masukan gigi pada posisi IV
18. Ukur putaran Out put Gear box
19. Tekan pedal kopling sehingga poros gear box berhenti berputar kemudian
masukan gigi pada posisi R ( retrun) lihat arah putaran & ukur putaran Out
put gear box

III.3.2 Uji Defleksi

Prosedur pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut:

1. Pengujian Defleksi balok dengan tumpuan sederhana :

a. Jarak antar tumpuan balok diukur dengan menggunakan mistar.

b. Panjang dan penampang balok yang digunakan untuk pengujian diukur


dan digambar.

c. Balok diletakan diatas tumpuan,kemudian diukur besarnya defleksi


pada balok tanpa beban ditiga titik, salah satu titik harus ditengah-
tengah balok, dengan menggunakan mistar dan digambar

d. Balok diberi beban tepat ditengah-tengah balok, kemudian diukur


defleksi pada balok ditiga titik, salah satu titik harus ditengah-tengah
balok, dengan menggunakan mistar dan digambar

2. Pengujian defleksi balok pada struktur cantilver

a. Balok disusun sedemikian sehingga membentuk struktur cantilver,


yakni satu ujung balok dijepit dan yang lain bebas.

b. Panjang dan penampang balok yang digunakan untuk pengujian diukur


dan digambar.

c. Besarnya defleksi pada balok pada beban diukur ditiga titik, salah satu
titik harus diujung balok yang bebas, dengan mengunakan mistar dan
digambar.

d. Balok diberi beban tepat diujung balok yang bebas, kemudian diukur
besaranya pada balok ditiga titik, salah satu titik harus diujung balok
yang bebas dengan mengunakan mistar dan digambar.

45
III.3.3. Pengujian turbin pelton

1. Buka katup pembuang dengan membuka katup yang lebar dan check apakah
pipa outlet terhubung dengan pembuang. Untuk mulai aliran fluida melalui uji
venturi, dapat dilakukan dengan katup inlet.

2. Check apakah semua tabung manometer tubing are terhubung dengan benar
dengan pressure tap dan apakah bebas dari gelombang udara dengan menutup
katup buang secara pelan-pelan dan buang air (dan gelembung udara) melalui
tabung manometer.

3. Aturlah katup inlet dan outlet sedemikian sehingga diperoleh beda ketinggian
yang maksimum pada tabung manometer.

4. Tunggu beberapa saat hingga beda ketinggian manometer stabil (diperlukan


beberapa saat untuk mencapai keadaan stabil).

5. Setelah keadaan stabil diperoleh, arahkan keluaran air menuju ke kontainer


yang telah diketahui kapasitasnya dan catat waktu yang diperlukan hingga
kontainer terisi penuh. Lakukan 3x pengukuran dan hitung rata-rata laju aliran.

46
BAB IV

PERHITUNGAN

4.1 Perhitungan transmisi

Menghitung angka transmisi pada posisi 1, 2, 3, 4, dan R. Penggambaran posisi gigi 1,


2, 3, 4, dan R beserta aliran transmisi.

5.1.1. Data penelitian :

Gambar susunan gear box

R 1 2 3 4

Keterangan :
1
Z1 Z 1 = 14
= 33 ;

Z2
= 27 ; Z 12 = 20

1
Z3 Z 3 = 24
= 21 ;

Z4
= 18 ; Z 14 = 29

1
R = 34 ; R = 19

Putaran motor N = 1450 rpm

47
Putaran input Ni = 693 rpm

Angka putaran transmisi pada posisi 1 :

Z
ni ( 1 Z11 )
=
n1

= 693(33 14)

= 1633,5 rpm

b. Angka transmisi pada posisi 2 :

48
Z2 27
i2
= Z3 = 20 = 1,35

1
n2
= n2 ( Z2 Z 2 )

= 693 ( 27 20 )

= 935,55 rpm

c. Angka transmisi pada posisi 3 :

Z3 21
i3
= Z4 = 24 = 0,87

1
n2
= n1 ( Z3 Z 3 )

= 693 ( 21 24 )

= 606,375 rpm

d. Angka transmisi pada posisi 4 :

49
Z4 18
i4
= Z5 = 29 = 0,6

1
n2
= n1 ( Z 4 Z 4 )

= 693 ( 18 29 )

= 430,13 rpm

e. Angka transmisi pada posisi R :

ZR 34
iR
= ZR2 = 19 = 1,79

1
n2
= n1 ( R R )

= 693 ( 34 19 )

50
= 1240,1 rpm

Angka transmisi total :

it i1 i2 i3 i4 iR
= x x x x

= 2,35 x 1,35 x 0,87 x 0,6 x 1,79

= 2,96

4.2. Defleksi

5.2.1 Data penelitian

1. 1.1 Balok sederhana

P1 P3

Panjang balok adalah 1200 mm

Tinggi tumpuan adalah 163 mm

Defleksi pada titik 1 = 158 mm

Defleksi pada titik 2 = 160 mm

Defleksi pada titik 3 = 162 mm

*Perhitungan balok sederhana

*Untuk beban dititik P

P1 P2 P3

A C D E B

c
51
l
Untuk mencari lendutan dan sudut putar dengan P : 0,5 kg

P1 P2 P3

A E B
C D

RA RB

52
0,5 kg

-
+
+

53
C MA=0

P1 . a + P2.b + P3.c l . RB = (0,5) . 158 + (0,5) .160 + (0,5) . 162 480 . RB


79+ 80+81
=0,5 kg
RB = 480

RA + RB = P1 + P2 + P3
RA = P1 + P2 + P3 - RB
RA = 0,5+0,5+0,5 0,5 = 1 kg
Mencari momen dititik C, D, E.

Untuk momen dititik C :


Mc = RA . a =1. 158 = 158 kg.mm
Md = RA . b P1 (b a) = 1 .160 0,5 (160 158) = 159 kg.mm
A
Me = RA . c P1 (b a) P2 (c b)
= 0,5 . 162 0,5 (160 158) 0,5(162 160) = 79 kg.mm

Menghitung sudut defleksi :

Persamaan Momen umum adalah :

M = RA . x P1 (x 158) P2 (x 160)

Persamaan Sudut putar :

dy RA P1 P2
2 2
EI. dx = 2 x 2 (x 158) 2 (x 160)2 + C1
D

Hasil perhitungan :

Titik C
0,5 0,5 0,5
EI. = 2 1582 2 (158 158)2 2 (158 160)2 + C1
C1 = - 99856
99856
= EI 9

Titik D
0,5 0,5 0,5
EI. = 2 1602 2 (160 158)2 2 (160 160)2 + C1

54
102384
= C1 = - 102384
EI

Titik E
0,5 0,5 0,5
2 2
EI. = 2 162 2 (162 158) 2 (162 160)2 + C1
C1 = - 104896
104896
= EI

Persamaan Defleksi

RA P1 P2
EI.y = 3 x3 3 (x 158)3 3 (x 160)3 + C1 . x + C2

Hasil Perhitungan

Titik C
0,5 0.5 0.5
EI.y = 3 1583 3 (160 158)3 3 (158 160)3+ . (-

99856) . 158+ C2 C2 = 8874702

8874702
.y = EI

Titik D
0.5 0.5 0.5
EI.y = 3 1603 3 (160 158)3 3 (160 158)3 + . (-

102384) . 160+ C2
C2 =9218510
9218510
.y = EI

Titik E

55
0,5 0.5 0.5
EI.y = 3 1623 3 (162 158)3 3 (162 160)3 + . (-

104896) . 162+ C2

10078848 C2 = 10078848
.y = EI

1.2 Balok cantilever

Panjang balok adalah 500 mm

p3 p2 p1

Panjang balok = 350mm

Tinggi tumpuan = 163 mm

Defleksi pada titik 1 =188 mm

Defleksi pada titik 2 =190 mm

Defleksi pada titik 3 =192 mm*Perhitungan Balok Kantilever

B A

B x A

L +
SFD RA P : 1 kg

- 56
BMD M : 80 kg.mm
SFD

RB = 0,5 kg

0,5 kg

Gambar 4.13. Skema Struktur cantiliver dengan beban


0,5 kg

Untuk beban 1 kg dapat dihitung sebagai berikut :


Langkah pertama adalah menghitung momen inersia. Dari data diatas b :
33 mm, h : 7 mm maka momen inersia dapat di hitung.
b h3 33 7 3
I= = =943 mm4
12 12

Sedangkan untuk asumsi Modulus Elastisitas (E) adalah 200000 MPa


RA = 1x kg
Dimana = 0 terletak pada ujung bebas dari batang. Besarnya momen
lentur pada jarak x dari A :

Mx = - P . x

Jika diambil x = 192 mm adalah

Mx = - 1 . 192 = -192 kg.mm


1
M 2 dx
W =
0 2 EI

1 BMD
P2 x 2 dx P2 l 3
=
0 2 EI 2 EI 3
ME= 79 kg.mm
MC = 158 kg.mm

P2 l3 l 3 MD = 160 kg.mm
W=
2 EI 3

W t (2 P)l 3 Pl 3
= = =
P 6 EI 3 EI

Jadi :

57
3
Pl 3 ( 1 ) .(192) 7077888
maks= = = =12,5 x 10 mm
3 EI 3 200000 943 565800000

Untuk beban 0,5 kg dapat dihitung sebagai berikut :

B A

x

B A

RA +
SFD P : 0,5 kg

BMD - M : 96 kg.mm

Dimana x = 0 terletak pada ujung bebas dari batang. Besarnya momen


lentur pada jarak x dari A :

Mx = - P . x

Jika diambil x = 192 mm adalah

Mx = - 0,5 . 192 = -96 kg.mm

Jadi :
3
Pl 3 ( 1 ) . ( 96 ) 884736 884736
maks= = = = =1,5 x 10 mm
3 EI 3 EI 3 200000 943 565800000

P
B A 58

a b
L
B A

SFD RA + P : 1 kg

BMD -

M : 190 kg.mm

Untuk beban 1 kg dapat dihiung sebagai berikut :


Diasumsikan bahan yang digunakan adalah sama dan nila dari momen
inersia adalah : 943 mm4, dan untuk modulus elastisitas (E) adalah :
200000 MPa
Jarak a : 190 mm; dan b : 300 mm.
Maka untuk :
M = - P . a = 1 . 190 = 190 kg.mm
Jadi untuk menghtiung lendutan maksimumnya adalah :
P a2 ( 1 1902
maks= 3 La )= ( 3 800190 )=0,070 mm
6 EI 6 200000 943

Untuk beban 0,5 kg dapat dihitung sebagai berikut :

P
B A

a b
L

59
B A

SFD RA + P : 0,5 kg

BMD -

M : 95 kg.mm

Jarak a : 190 mm; dan b : 200 mm.


Maka untuk :
M = - P . a = - 0,5 . 190 = -95 kg.mm
Jadi untuk menghtiung lendutan maksimumnya adalah :

P a2 ( 0,5 1902 ( 0.5 1902 (


maks= 3 La )= 3 800190 )= 3 800190
6 EI 6 EI 6 200000 943

4.3 Perhitungan Turbin pleton

5.3.1 Dari data yang diambil :

Q (debit air) = 33 ml = 0,0331


2
g (gravitasi) = 10 m dt

p (dansitas air) = 0,3

H (tinggi air jatuh/head) = 130 cm = 1,3 m

a. Daya air (WHF) :


P = p.Q.g.H
= 0,3x0,33x10x1,3
= 0,1287
Daya output :
P = V.I
= 0,8x3
= 2,4
Efisiensi :
P output
sys (
= WHP x100%)
60
2,4
= ( 0,1287 ) x100%

= 18,64%

b. Daya air (WHP)


P = p.Q.g.H
= 0,3x0,0165x10x1,3
= 0,06435
Daya output :
P = V.I
= 0,4x1,5
= 0,6
Efisiensi :
P output
sys (
= WHP x100% )
0,6
= ( 0,06435 ) x100%

= 9,32%

a. Daya air (WHP) :


P = p.Q.g.H
= 0,3x0,011x10x1,3
= 0,0429
Daya output :
P = V.I
= 0,3x0,5
= 0,15
Efisiensi :

sys
= ( PWHP ) x100%
output

0,15
= ( 0,0429 ) x100%

= 3,49%

5.4 Penelitian bernoulli


a. Laju aliran volume

61
Volume Waktu Laju aliran
Percobaan Vol T Qi =Vol/t
3
( m ) (s)
3
( m /s)
1 1 10 0,1
2 0,4 10 0,04
3 0,25 10 0,025
Qav 3
0,055
Average flow rate ( m /sec) 9

Qav 3 0,5 x 10
( mm /sec)

a. Hasil pembacaan manometer


Valev 1 2 3 4 5
dibuka
Fuel -1 -2 -5 6 6
1 15 15 10 21 21
2

1 8 8 4,5 15 15
4

62
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah selesai melaksanakanberbagai praktikum fenomena mesin dan defleksi beban
serta perhitungan,penulis dapat mengetahui fenomena yang timbul diturbin pelton, gear box
dan deflesksi beban. Perhatian dalam setiap pengukuran dan pencatatan waktu sangat
berpengaruh terhadap hasil percobaan sehingga perlu diperhatikan supaya tidak terjadi
kesalahan.

B. Saran
Dalam setiap praktikum diharapkan para peserta diharapkan harus memahami teori-
teori dasar-dasar praktikum supaya tidak kesulitan dalam pelaksanaaan praktikum dan
perlengkapan lab juga supaya diperhatikan supaya tidak menghambat pelaksanaan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
google.com
wikipedia.com
Lab.pratikum fenomena dasar
Buku panduan pratikum
pksm.mercubuana.ac.id/module/gear%20Transmission.ppt
http://okasatria.blogspot.com/2007/11/pengetahuan-bahan-teknik-dasar.html
http://m-edukasi.net/online/2008/transmisimanual/macam_transmisi.html
http://bambangpurwantana.staff.ugm.ac.id/KekuatanBahan/
http://yefrichan.wordpress.com/2010/05/31/klasifikasi-turbin/
http://tazziemania.wordpress.com/link-tazzie/

LAMPIRAN

63