Anda di halaman 1dari 21

JOURNAL READING

Congenital Heart Disease and Impacts on Child Development

Pembimbing

dr. Etty Widyastuti, Sp.A

Disusun oleh:

Alyssa Fairudz Shiba, S.Ked


Hanif Abdurrahman Latief, S.Ked

SMF ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MULUK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
Congenital Heart Disease and Impacts on Child Development

(Penyakit Jantung Kongenital dan Dampak pada Perkembangan Anak)

Mariana Alievi Mari, MD; Marcelo Matos Cascudo, MD, PhD; Joo Carlos Alchieri, PhD

Abstrak

Tujuan: Untuk mengevaluasi perkembangan anak dan mengevaluasi kemungkinan adanya


hubungan antara komitmen dengan faktor biopsikososial pada anak dengan atau tanpa
penyakit jantung bawaan. Metode: Studi observasi case control dengan 3 grup: Grup 1-anak
anak dengan PJB tanpa koreksi pembedahan, Group 2-anak-anak dengan PJB yang telah
melewati operasi, dan Grup 3-anak-anak yang sehat. Anak-anak tersebut dinilai dengan
kuesioner Sosio-demografik dan klinis dan dengan Denver II Screening Test. Hasil: 128 anak
telah dievaluasi, 29 anak pada Grup 1, 43 pada Grup 2, dan 56 pada Grup 3. Dari total,
51,56% adalah perempuan dan usia berkisar dari 2 bulan sampai 6 tahun (dengan median usia
24,5 bulan). Berdasarkan Denver II , anak-anak dengan penyakit jantung memiliki lebih
banyak nilai/rating suspicious/mencurigakan dan suspect/diduga abnormal dan pada grup
anak yang sehat 53,6% dinilai normal (P <0,0001). Variabel biopsikosial yang berhubungan
dengan kemungkinan keterlambatan perkembangan adalah gender (P=0,042), usia anak
(P=0,001) dan pendapatan perkapita (P=0,019). Kesimpulan: Hasil memberi kesan bahwa
anak dengan PJB lebih cenderung dapat mengalami keterlambatan perkembangan dengan
perbedaan yang signifikan antara anak-anak yang sudah menjalani operasi dan anak-anak
yang masih menunggu operasi

Kata kunci: Perkembangan anak, Defek jantung, Kongenital, Kedokteran behavioral,


Psikologi, Anak

Pendahuluan
Perkembangan anak merupakan hasil dari interaksi berbagai aspek, termasuk biologi,
psikologi dan faktor sosial. Kemampuan yang didapat berhubungan dengan usia anak dan
pengalaman berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sosialnya. Studi menunjukkan
bahwa penilaian kondisi lingkungan dan stimulasi yang diberikan kepada anak oleh
keluarganya dapat memberikan data penting untuk pengembangan dari preventive dan
promotional health intervention.

Dengan mempertimbangkan aspek biologi, hal tersebut dapat mengidentifikasi banyak


penyakit kronik yang mempengaruhi populasi anak, seperti pada kasus Penyakit Jantung
Bawaan (CHD). CHD meliputi berbagai malformasi baik secara anatomi dan secara
fungsional. Hal tersebut saat ini merupakan hal yang biasa terjadi pada bayi baru lahir,
mencapai 1% dari populasi di Brazil. Adanya penyakit ini ini juga berhubungan dengan
gejala seperti dipsnea, fatigue, pusing, berat badan rendah, sering terkena infeksi saluran
nafas, aritmia, dan sianosis yang bergantung pada derajat, dapat menyebabkan kendala
hambatan fisik dan motorik yang secara langsung mempengaruhi perkembangan emosional
dan kognitif. Sebagai tambahan, faktor budaya dapat mengubah perkembangan otak dan
harus dianggap sebagai variabel dependen yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Faktor tersebut adalah tingkat sosial ekonomi yang meliputi pendidikan, status
gizi, kuantitas dan kualitas stimulasi dari perawatan medis, risiko perinatal, pekerjaan,
keluarga dan interaksi sosial dan gaya kondisi perumahan.

Anak-anak dengan PJB dapat menunjukkan perubahan dalam perkembangan psikomotor


mereka oleh faktor patofisiologi seperti berat badan lahir rendah, sianosis, antara satu dan
lainnya, tetapi juga untuk penyakit kronis yang memberlakukan berbagai rawat inap,
pemeriksaan ulang, kendala fisik dan akibatnya, penarikan diri dari sekolah dan sosial.
Mengingat semua konteks ini, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan, tergantung pada
beratnya penyakit, bisa mendapatkan skor signifikan lebih rendah dibandingkan dengan anak-
anak tanpa penyakit yang berkaitan dengan perubahan perkembangan anak. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi perkembangan anak dan memverifikasi hubungan yang
mungkin dengan komitmen oleh faktor biopsikososial dari anak-anak dengan dan tanpa PJB.
Anak-anak dinilai menggunakan Denver II Screening Test, yang diterbitkan pada tahun 1992
dan dikonfigurasi sebagai salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam evaluasi
anak usia nol sampai enam tahun dan merupakan hasil dari pembaruan dan komprehensif dari
Denver Developmental Screening Test ( DDST ) diterbitkan oleh Frankenburg et al. Para
peserta adalah anak-anak yang secara sistematis mendapat perawatan oleh Dinas Pediatric
dari INCOR / Natal - Brasil dan Amico Friends Association for Childrens Heart
Institutions yang menyediakan dukungan bagi anak-anak dengan penyakit jantung di seluruh
negara bagian Rio Grande do Norte, di Brasil.

Metode
Desain Penelitian dan Partisipan

Penelitian ini merupakan studi case-control yang membandingkan perkembangan pada anak
dengan dan tanpa penyakit jantung. Mereka dimasukkan ke dalam grup 1 (G1) yaitu usia 0-6
tahun, kedua gender dan dalam daftar tunggu untuk operasi dari data Brazilian National
Health Care System (SUS); Grup 2 (G2) anak anak usia 0-6 tahun, kedua gender, didata dari
SUS, telah menjalani setidaknya satu kali prosedur operasi untuk penyakit jantung bawaan
sampai setidaknya 1 tahun sebelum studi dilakukan, dan grup 3 (G3) anak usia 0-6 tahun,
sehat, kedua gender, didata dan merupakan anggota SUS. Waktu antara operasi dan mulainya
studi (adminitrasi instrumen studi) diatur dalam jarak waktu 1 bulan sampai 1 tahun setelah
pembedahan pertama selesai, karena sebelum 1 bulan anak masih dalam percepatan
penyembuhan dan setelah satu tahun evaluasi perkembangan dari manfaat yang diberikan
pasca operasi bisa mengalami interferensi dari variabel lainnya. Anak-anak pada kelompok
G1 dan G2 direkrut dan dipilih dari Divisi Pelayanan Kardiologi Natal dan anak-anak pada
kelompok G3 direkrut dan dipilih dari Municipal Center for Child Education dari kota yang
sama. Eksklusi pada studi ini adalah anak anak dengan sindrom, tanpa kelainan neurologis
dari penyakit jantung yang dimiliki atau ibu atau wali pasien tidak hadir saat administrasi dari
studi ini.

Instrumen
Sebagai instrumen kami menggunakan kuesioner biopsikososial yang secara spesifik
dikembangkan untuk penelitian ini dan meliputi sosial, demografi, faktor psikologi dan faktor
klinik dan Denver II Development Screening Test (DDST), yang meliputi 125 komponen,
dibagi dalam 4 bidang fungsi: personal sosial, adaptasi motorik halus, bahasa dan motorik
kasar. Tiap 125 komponen direpresentasikan dalam bar yang didalamnya ada usia usia
dimana 25%, 50%, 75% dan 90% anak-anak mampu melakukan kemampuan tersebut. Untuk
melakukan tes, dihitungdari usia anak dalam umur dan bulan dan kami menggambar garis
vertikal pada umur yang bersesuaian di bar. Jumlah dari komponen yang semestinya dikuasai
berdasarkan usia anak dan semua komponen dipotong oleh garis vertikal dan setidaknya 3
komponen tertinggal didalam garis tersebut. Dipublikasikan pada tahun 1992, DENVER II
adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi anak dari usi 0-6 tahun dan
merupakan hasil review komprehensif dan baru dari DDST yang dipublikasikan Frankenburg
et.al

Analisa Statistik
Untuk menganalisis data dan karakteristik sampel, digunakan analisa statistik deskriptif dan
tendensi sentral (frekuensi dan persentase, median dan persentil, rerata dan standar deviasi).
Untuk memverifikasi perbedaan rerata diantara kelompok kelompok, sampel studi tidak
menunjukkan distribusi normal, karena itu dilakukan Uji Non Parametri. Pearson Chi Square
digunakan untuk uji sampel independen dan kategorik dan Uji Kruskal Wallis dan Mann-
Whitney digunakan untuk membandingkan variabel kontinyu. Uji partisipasi paternal dinilai
dengan Tes Normalitas Shapiro Wilk untuk menentukan apakah data terdistribusi normal dan
setelah analisa Chi-Square untuk perbandingan antar kelompok. Uji One Way ANOVA
dilakukan untuk membandingkan rerata usia orangtua pasien antar kelompok. Hubungan
antara variabel biopsikososial dengan Dener II dianalisa dengan Uji Fisher Exact Test dengan
mempertimbangkan ukuran sampel. Analisa statistik ini mengeksklusi 17 partisipan yang
mendapat review sulit untuk dilakukan tes berdasar Denver II Test, dengan
mempertimbangkan variabel ini dapat menjadi bias

Aspek Etika
Studi ini disetujui oleh Komite Etik Penelitian Onofre Lopes Hospital/Natal-RN (CAAE No.
01120112.1.0000.5292) pada Juli 2013. Sebelum administrasi instrumen (studi), ibu atau
wali pasien diinstruksikan mengenai prosedur penelitian dan diundang untuk menandatangani
informed consent.

HASIL

Hasil studi dari 128 anak dikumpulkan, 29 anak berasal dari grup G1 (22,66%; anak-anak
preoperatif dengan penyakit jantung), 43 orang dari grup G2 (33,59% anak-anak postoperasi
dengan penyakit jantung) dan 56 orang dari grup G3 (43,75%; anak anak dengan keadaan
sehat). Dari total, 66 merupakan perempuan (51,56%) berkisar dari usia 2 bulan sampai usia
6 tahun (median 24,5 bulan). Karakterisasi ketiga grup dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 2
mempresentasikan overview dari anak anak dengan penyakit jantung pada kelompok G1 dan
G2. Pada G3, 15 orang (26,5%) anak telah menjalani perawatan di RS, 8 diantaranya
dikarenakan penyakit respirasi. Jumlah penerimaan berkisar dari tidak ada sampai 5
perawatan, dimana 10,6% telah dirawat 1 kali dan 7,2% dirawat 2 kali atau lebih di RS.
Review perkembangan dari Denver II Screening Test dari ketiga kelompok ditunjukkan pada
Tabel 3. Dengan menghubungkan variabel biopsikososial dengan penilaian Denver II,
variabel gender, usia dan pendapatan per kapita ditunjukkan pada Tabel 4, menampilkan
perbedaan signifikan (P=0.042, P=0.001, P=0.019). Statistik interferensial dilakukan pada
111 partisipan, sejak 17 anak dinyatakan sulit untuk dinilai, sehingga mereka dikeluarkan
karena menjadi bias.

Usia dan edukasi orangtua menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam hubungan
dengan klasifikasi Denver II. Variabel yang tidak menunjukkan perbedaan bermakna adalah:
variabel yang berhubungan dengan prenatal dan postpartum (kehamilan yang direncanakan,
masalah pada kehamilan,cara persalinan dan bayi prematur). Komplikasi persalinan
menunjukan menunjukkan kecenderungan signifikansi ( P = 0,065 ) , dan 44 % dari anak-
anak yang memiliki komplikasi yang diklasifikasikan sebagai "diduga/abnormal

Pada analisa kelompok G1 dan G2 didapatkan tidak ada perbedaan bermakna antara variabel
biopsikososial , usia saat diagnosis, orangtua yang mendapat informasi tentang penyakit,
pengertian mengenai penyakit dan perawatan anak, aktivitas yang terbatas dan perubahan
sikap setelah diagnosis. Pada grup G3, 50% anak yang menjalani perwatan RS setidaknya
sekali menunjukkan hasil Denver II sebagai suspect (P=0,025). Ditemukan bahwa semakin
sering anak dirawat di RS, semakin tinggi frekuensi rating mencurigakan dan
suspect/abnormal (P=0,023)
DISKUSI

Fitur Sampling

Pendapatan perkapita menunjukkan perbedaan statistik diantara 3 grup yang mungkin


berhubungan dengan ibu dari anak dengan penyakit kronis yang kebanyakan tidak memiliki
pekerjaan dan mendedikasikan diri untuk perawatan anak. Anggota keluarga yang menjadi
pengurus anak dengan penyakit kronis hidup merekaterpengaruh dalam banyak hal , seperti
gangguan dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi . Dalam kebanyakan kasus , anggota
keluarga yang merawat adalah ibu dan dalam pengertian tersebut, pemecatan pekerjaan bukan
hal yang tidak biasa yang memerlukan perubahan pada keadaan ekonomi keluarga. Fakta
bahwa bayi G1 dan G2 memiliki beberapa komplikasi pada kelahiran karena gangguan
kardioaskuler seperti dyspnea, sianosis, irama nadi ireguler yang merupakan salah satu gejala
utama yang muncul segera setelah perubahan signaling lahir. Pada G1 dan G2, penyakit
jantung yang paling umum adalah: tetralogi of Fallot, patent ductus arteriosus,Ventricular
Septal Defect, atrial septal defect dan atrial septal defect dihubungkan dengan stenosis
pulmonal. Hasil ini konsisten dengan penemuan pada literatur yang menyatakan bahwa
penyakit ini merupakan penyakit penyakit paling umum.

Tidak seperti studi lain yang mengklasifikasikan kelompok kelompok anak dengan PJB
berdasarkan keparahan penyakit atau kompromisasi hemodinamik, studi ini membuat aksi
terpisah berkaitan dengan prosedur operasi, tanpa memperhatikan diagnosis. Pada sebuah
studi untuk menilai perkembangan psikomotor setelah perbaikan atau prosedur paliatif
terhadap 243 anak usia 5 tahun dengan penyakit jantung, pasien dibagi menjadi 2 grup: grup
dengan perbaikan biventricular dan grup dengan perbaikan ventrikel tunggal. Pada studi lain,
pasien dibagi oleh penulisnya menjadi 2 grup: grup dengan konsekuensi hemodinamik dan
grup tanpa konsekuensi hemodinamik. Pada saat ini studi bertujuan untuk memverifikasi
faktor psikososial yang berhubungan dengan penyakit dan bukan fakor biologis atau
psikologi dari klasifikasi penyakit jantung, kami membagi kelompok anak menjadi dua
kategori: anak sebelum dan sesudah operasi.

Mengenai usia, sebagian besar pasien terdiagnosis pada usia 1 bulan sampai usia 1 tahun.
Meskipun begitu, penting diketahui bahwa hanya di G2 (anak-anak post operasi PJB) kami
menemukan bahwa ibu pasien telah mengetahui diagnosis PJB di saat kehamilan. Ini
mungkin terkait dengan fakta bahwa diagnosis intrauterine lebih dikaitkan dengan penyakit
jantung yang lebih serius dan butuh intervensi segera, seperti pada kasus hypoplastic left
heart dimana bagian kasar cavitas ventrikel kiri menurun yang memudahkan untuk dilihat
bahkan untuk yang bukan profesional di bidangnya.

Para ibu yang anaknya telah menjalani operasi mengindikasikan mereka telah menerima lebih
banyak informasi dibandingkan dengan mereka yang anaknya masih dalam tahap preoperatif.
Pada review literatur mengenai kebutuhan informasi dan orangtua untuk pendukung pasien
anak dengan PJB, penulis, setelah menganalisa beberapa poin, menganggap bahwa
pengetahuan orangtua kurang lengkap dan pengetahuan ini dipengaruhi oleh tingkat
keparahan penyakit jantungnya. Penting untuk diketahuibahwa ini pengetahuan adalah bidang
yang luas yang melibatkan pengetahuan dari informasi tentang diagnosis dengan manifestasi
klinis.

Infornasi dari profesional medis biasanya dibatasi hanya seputar aspek fisik ari pengobatan
seperti makanan, observasi keadaan patologis dan pemberitahuan tentanng higiene untuk
mencegah infeksi. Panduan ini membuat ibu atau pengasuh pasien menjadi meningkatkan
perhatian, memaksakan sejumlah batasan dan oer proteksi terhadap anak. Kurangnya
informasi yang memadai atau sesuai dapat berhubungan dengan banyaknya jumlah ibu yang
membatasi kegiatan anak dan pada studi ini, kebanyakan ibu pasien dari G1 dan G2 tidak
memperbolehkan anak untuk menangis, merangkak, berjalan atau berlari, seperti perubahan
pada sikap setelah diagnosis (87% pada G2). Meskipun mayoritas ibu menunjukkan
perubahan positf, sejumlah laporan signifikan melaporkan perubahan yang negatif.

Profil perkembangan
Denver II mendeteksi kemungkinan keterlambatan perkembangan. Mengingat bahwa
perkembangan anak adalah proses yang luas dan kompleks, keterlambatan perkembangan
harus dikonfirmasi, melalui instrumen yang dapat memberikan sebuah studi yang tepat untuk
memastikan diagnosis. Pemilihan instrumen ini didasarkan dari kesadaran bahwa tidak ada
toolyang tersedia bagi psikolog untuk menilai perkembangan anak di bawah usia 5 tahun.
Selama populasi PJB menderita gangguan penyakit sejak lahir, disarankan untuk studi
perkembangan untuk menilai anak-anak ini sebelum tahun pertama kehidupan.

Berdasarkan hasil, kita dapat mengatakan bahwa anak-anak dengan PJB memiliki
kemungkinan keterlambatan perkembangan, dengan perbedaan yang signifikan antara anak-
anak yang menjalani operasi untuk koreksi kelainan jantung dan mereka menunggu operasi,
di bawah follow-up klinis. Hasil yang diperoleh sesuai dengan penelitian lain, meskipun
kriteria pembagian kelompok berbeda mengenai penelitian. Dalam sebuah studi pada
perkembangan anak-anak dengan penyakit jantung bawaan yang diselenggarakan di New
York, 64 anak-anak dinilai menggunakan Denver II, dibagi menjadi: PJB yang diperlukan
pembedahan atau intervensi kateter dan PJB tanpa dampak hemodinamik. Hasil dari
pengamatan didapatkan bahwa 54 % dari anak-anak yang paling serius diklasifikasikan
sebagai "abnormal, diragukan atau diuji " dan pada kelompok anak-anak tanpa menimbulkan
kehebohan hemodinamik, 86 % dicirikan sebagai " normal". Disimpulkan bahwa anak-anak
dengan CHD kompleks lebih mungkin untuk terjadi resiko keterlambatan dari anak-anak
dengan penyakit jantung bawaan yang hemodinamiknya tidak terganggu.

Penelitian serupa yang bertujuan untuk mengevaluasi parameter pertumbuhan fisik dan
neurologis pada bayi dan anak-anak dengan PJB dan efek status hemodinamik pada aspek-
aspek ini melalui Denver II. Dengan membandingkan anak-anak yang sehat dengan orang-
orang dengan penyakit jantung, para peneliti menemukan bahwa anak-anak dengan masalah
jantung hemodinamik gangguan memiliki tingkat "keabnormal" lebih dibanding kelompok
tanpa gangguan hemodinamik (P0.0001) dan kelompok kedua menyerupai hasil dengan
kontrol kelompok. Sebuah studi longitudinal menggunakan Denver II dengan mengevaluasi
20 bayi dengan PJB pada tiga waktu yang berbeda: 24 jam sebelum operasi jantung, unit
perawatan intensif debit dan 3-6 bulan setelah operasi. Dari 20 bayi dievaluasi, 15 telah
diubah pemeriksaan neurologis dan keterlambatan perkembangan sebelum operasi, yang
normalisasi diamati hanya enam bulan setelah prosedur dalam enam peserta. Para penulis
menyimpulkan bahwa rata-rata setelah lima bulan, frekuensi operasi berkurang antara anak-
anak dengan Denver II "tersangka" delay dari 75% menjadi 55%

Penelitian ini menunjuk ke sebuah kemungkinan gangguan dari prosedur bedah dan
pemulihan dalam perkembangan anak, terlepas dari status hemodinamik atau keparahan
penyakit. Mengenai kemungkinan konsekuensi rawat inap dan prosedur invasif ( kateterisasi,
anestesi dan operasi ) dapat dikenai pasien dan keluarga untuk serangkaian situasi
mengganggu ditambahkan ke pengalaman sebelumnya yang merugikan, dapat menyebabkan
kerusakan besar.

Variabel Biopsikososial dan Perkembangan Anak


Ketika membandingkan variabel biopsikososial untuk hasil Denver II, kita bisa menemukan
beberapa aspek yang signifikan terkait dengan keterlambatan mungkin dalam pengembangan
dan bukti lain dalam penelitian ini menunjukkan ada hubungan statistik.

Dua faktor yang terkait dengan keterlambatan perkembangan adalah jenis kelamin ( P =
0,042 ) dan usia ( P = 0,001 ). Hal ini diamati bahwa sebagian besar anak laki-laki berfokus
pada klasifikasi " mencurigakan " dan " tersangka / tidak normal ". Mengenai jenis kelamin,
studi menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih baik di sekolah daripada anak laki-laki
dan bahwa perbedaan tersebut menjadi lebih jelas setelah usia tiga tahun, tapi rata-rata, anak
laki-laki dan anak perempuan lebih banyak yang sama daripada yang berbeda. Dalam sebuah
survei yang dievaluasi anak di Feira de Santana ( Bahia , Brazil) oleh Denver II, hubungan
antara laki-laki dan kinerja buruk dalam ujian ditemukan.

Perbedaan antara usia dapat dilihat dari beberapa konsep yang terkait dengan perkembangan
anak. Faktor biologis mendominasi lebih dari yang sosial awal kehidupan. Begitu interaksi
terbentuk, terutama melalui bahasa, ini menjadi peran utama dalam perkembangan anak.
Aspek lain adalah bahwa hubungan dan interaksi dengan orang dewasa membuat anak
mengembangkan keterampilan kognitif melalui pengalaman bersama. Mengandalkan teori ini
adalah mungkin untuk berpikir bahwa sebagai anak tumbuh, mereka akan mengembangkan
keterampilan dan kompetensi yang akan mengganggu kinerja mereka.

Pendapatan keluarga dikonfigurasi sebagai faktor penentu penting dalam perkembangan


anak. Terbukti, rendahnya per kapita pendapatan keluarga berhubungan dengan frekuensi
yang lebih tinggi dari keterlambatan perkembangan. Temuan ini tampaknya hampir menjadi
konsensus di diantara para ahli. Status sosial ekonomi mempengaruhi proses dan hasil
pembangunan secara tidak langsung melalui jenis rumah dan lingkungan di mana orang hidup
dan kualitas gizi, perawatan medis dan sekolah yang tersedia .

Aspek yang berhubungan dengan usia dan tingkat pendidikan orang tua, jumlah anak per
keluarga dan perhatian sebelum dan setelah melahirkan tidak signifikan terkait dengan hasil
tes perkembangan. variabel lain yang tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan
keterlambatan perkembangan adalah: menyusui, masalah kesehatan ibu dan penggunaan
obat-obatan terkontrol atau penggunaan zat seperti alkohol, tembakau dan obat-obatan selama
kehamilan. Faktor-faktor ini tidak mungkin telah terbukti berhubungan dengan perubahan
dalam pembangunan untuk mengurangi karakteristik lingkungan, aspek pembangunan yang
terkandung kesulitan, dan juga penduduk. Dengan demikian, dapat dianggap bahwa dalam
populasi ini faktor risiko yang paling penting adalah kehadiran penyakit, sejak tiga kelompok
yang homogen mengenai variabel yang disebutkan di atas.

Namun, salah satu faktor yang menunjukkan kecenderungan untuk berhubungan dengan
perkembangan anak adalah bayi mengalami komplikasi setelah melahirkan ( P = 0,065 ). Hal
ini diyakini bahwa masalah ini lebih terkait dengan anak-anak dengan penyakit jantung
bawaan, yang karakteristik penyakitnya dapat menunjukkan perubahan kardiorespirasi dalam
jam pertama kehidupan.

Ketika berhadapan dengan variabel yang hanya terdiri atas kelompok anak-anak dengan
penyakit jantung ( G1 dan G2 ), yang berbeda dari apa yang dibayangkan pada fase awal
penelitian, aspek-aspek seperti usia saat diagnosis, jenis penyakit jantung, telah menjalani
prosedur hemodinamik atau tidak, informasi kepada orang tua tentang penyakit jantung,
memahami penyakit dan pengobatan, pembatasan kegiatan untuk anak-anak dan anak dengan
perubahan perilaku yang tidak terkait dengan perubahan dalam pembangunan. Fakta bahwa
variabel-variabel ini tidak mempengaruhi perkembangan anak-anak dengan penyakit jantung
bawaan mungkin berhubungan dengan faktor pelindung dan ketahanan.

Faktor pelindung mungkin terkait dengan fitur individu yang mengurangi efek dari risiko,
karena ketahanan terkait dengan faktor pelindung individu yang memprediksi konsekuensi
positif pada individu terkena konteks risiko. Dalam sebuah penelitian terhadap pasien dewasa
kronis di mana ketahanan diukur melalui skala, pasien menunjukkan tingkat tinggi ketahanan
dan kemampuapribadi dan keterampilan untuk menangani status kesehatan. Meskipun sangat
sulit untuk mengukur ketahanan pada anak-anak, adalah mungkin untuk mengatakan bahwa
pengalaman awal seorang anak adalah penting, tetapi anak-anak dapat sangat tangguh. Teori
evolusi/sosiobiologi sendiri menyatakan bahwa manusia memiliki mekanisme adaptif untuk
bertahan hidup dan ini mungkin berkaitan dengan faktor pelindung.

Namun, survei menunjukkan bahwa anak-anak yang sehat (G3) yang dirawat di rumah sakit
untuk perawatan kesehatan cenderung menunjukkan perilaku sugestif dari keterlambatan
perkembangan dan lebih, semakin besar jumlah hospitalisasi (rawat inap)yang anak-anak
hadapi, yang mereka ditandai sebagai "tersangka" dan "Tersangka /abnormal". Hospitalisasi
pada anak-anak adalah hal yang dipelajari sejak tahun 60-an dan 70-an. Proses pemikiran
yang belum matang dari seorang anak membawa mereka untuk memahami staf, peralatan dan
prosedur mereka jalani selama periode rawat inap dengan cara yang salah. Reaksi yang
berbeda, tergantung pada usia, akan dipengaruhi oleh karakteristik pribadi hubungan anak
dengan orang tua dan pendekatan dengan situasi rumah sakit. Dalam sebuah studi yang
menilai dampak dari hospitalisasi pada anak-anak berusia 1-5 tahun, ditemukan bahwa baik
dalam kelompok anak-anak dengan atau tanpa seseorang yang mendampingi mereka,
perilaku yang paling diamati menangis, kehilangan nafsu makan, detak jantung yang cepat,
muntah, insomnia dan hipertermia. Apa sebenarnya yang diwakili di sini adalah bahwa proses
penyakit dan perawatan di rumah sakit memiliki pengaruh kuat pada kehidupan sehari-hari
anak, dan dapat menyebabkan kerusakan tergantung pada bagaimana isu-isu ini telah
mengalami.

Kesimpulan
Ditemukan bahwa operasi adalah peristiwa traumatis dan membawa perubahan dalam
rutinitas anak-anak dan keluarga mereka, dengan signifikan mempengaruhi pengembangan
psikomotor mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun perkembangan
dipengaruhi oleh kondisi biologis, penyakit dan pengobatan, anak-anak dengan penyakit
jantung yang diteliti menunjukkan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologis secara signifikan
tidak mengganggu pengembangan mereka. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa anak-anak
dengan penyakit jantung, meskipun itu adalah kelompok yang rentan dari sudut pandang
biologi, mungkin terbukti tahan terhadap mereka yang mengalami gangguan. Dukungan
keluarga adalah penting, tetapi orang tua harus menerima bimbingan diantisipasi pada tahu
bagaimana menangani secara tepat dengan situasi ini, untuk menangani pertumbuhan dan
perkembangan anak mereka, serta untuk meningkatkan pelayanan mereka dan untuk
mendeteksi masalah dini .

Mungkin keterbatasan mengidentifikasi ukuran sampel yang dihasilkan dari logistik,


karakteristik operasi dari lokasi pengambilan sampel di samping proses penilaian
perkembangan. Pengolongan dengan kepastian penilaian perkembangan dalam satu saat bisa
membahayakan pemahaman ekspresi perilaku.

Berdasarkan isu yang disajikan, mengidentifikasi kebutuhan untuk penyelidikan lebih lanjut
sebagai penilaian awal, sistematis, pengembangan lapangan secara longitudinal dengan
maksud untuk bukti dukungan awal yang sesuai dan persiapan psikologis dari keluarga inti
dan anak. Hal ini penting untuk realisasi dari studi pemantauan perkembangan anak-anak
dengan penyakit jantung pada konsidisi lain, seperti pasien dengan lebih dibedakan,
dibantu oleh rencana kesehatan dan negara-negara lain, karakteristik ekspresi atau tidak
adanya variabel intervensi.

Proses perkembangan yang luas dan kompleks dan penyelidikan masalah ini pada populasi
berisiko seperti pasien dengan PJB melibatkan sejumlah variabel melalui penelitian lebih
lanjut perlu dikembangkan untuk memberikan kemajuan dalam pemahaman masalah ini .

Critical Appraisal
Analisis VIA

Validity

a. Desain

Penulis menggunakan studi case-control. Case control adalah studi analitik yang
menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan logika terbalik, yaitu
menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu kemudian mengidentifikasi penyebab
(faktor risiko). Validitas suatu jurnal tergantung dari hierarki desain studinya, semakin
tinggi maka semakin valid. Studi case-control berada di posisi keempat setelah
systematic review, RCT dan cohort studies.

b. Populasi dan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah anak-anak dengan Penyakit Jantung Bawaan atau
CHD sebelum dan sesudah operasi serta anak-anak tanpa kelainan jantung di Brazil
dengan kisaran usia 0-6 tahun tahun 2013. Penelitian ini memiliki distribusi data yang
tidak normal dan antara tiap kelompok memiliki jumlah sampel yang berbeda.

c. Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik consecutive sampling dalam mengumpulkan


sampelnya.

Importance

a. Karakteristik Subjek
Sampel meliputi 128 anak yang dibagi menjadi grup 1(G1) yaitu usia 0-6 tahun,
kedua gender dan dalam daftar tunggu untuk operasi dari data Brazilian National
Health Care System (SUS); Grup 2 (G2) anak anak usia 0-6 tahun, kedua gender,
didata dari SUS, telah menjalani setidaknya satu kali prosedur operasi untuk penyakit
jantung bawaan sampai setidaknya 1 tahun sebelum studi dilakukan, dan grup 3 (G3)
anak usia 0-6 tahun, sehat, kedua gender, didata dan merupakan anggota SUS. Hasil
studi dari 128 anak dikumpulkan, 29 anak berasal dari grup G1 (22,66%; anak-anak
preoperatif dengan penyakit jantung), 43 orang dari grup G2 (33,59% anak-anak
postoperasi dengan penyakit jantung) dan 56 orang dari grup G3 (43,75%; anak anak
dengan keadaan sehat). Grup G3

b. Kriteria Eksklusi
Eksklusi pada studi ini adalah anak anak dengan sindrom, tanpa kelainan neurologis
dari penyakit jantung yang dimiliki atau ibu atau wali pasien tidak hadir saat
administrasi dari studi ini.

c. Analisis
Untuk menganalisis data dan karakteristik sampel, digunakan analisa statistik
deskriptif dan tendensi sentral (frekuensi dan persentase, median dan persentil, rerata
dan standar deviasi). Untuk memverifikasi perbedaan rerata diantara kelompok
kelompok, sampel studi tidak menunjukkan distribusi normal, karena itu dilakukan
Uji Non Parametri. Pearson Chi Square digunakan untuk uji sampel independen dan
kategorik dan Uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitney digunakan untuk
membandingkan variabel kontinyu. Uji partisipasi paternal dinilai dengan Tes
Normalitas Shapiro Wilk untuk menentukan apakah data terdistribusi normal dan
setelah analisa Chi-Square untuk perbandingan antar kelompok. Uji One Way ANOA
dilakukan untuk membandingkan rerata usia orangtua pasien antar kelompok.
Hubungan antara variabel biopsikososial dengan Dener II dianalisa dengan Uji Fisher
Exact Test dengan mempertimbangkan ukuran sampel.

d. Hasil
Dengan menghubungkan variabel biopsikososial dengan penilaian Denver II, variabel
gender, usia dan pendapatan per kapita ditunjukkan pada Tabel 4, menampilkan
perbedaan signifikan (P=0.042, P=0.001, P=0.019). Statistik interferensial dilakukan
pada 111 partisipan, sejak 17 anak dinyatakan sulit untuk dinilai, sehingga mereka
dikeluarkan karena menjadi bias.
Dari tabel 3 diketahui, pada klompok G1, hasil DDST meliputi 7 dinyatakan normal,
11 sebagai suspect/tersangka abnormal, 8 abnormal dan 3 dinyatakan sulit untuk
dinilai. Pada kelompok G2, 9 orang dinyatakan normal, 10 orang dinyatakan
suspect/tersangka abnormal, 18 dinyatakan abnormal, dan 6 orang dinyatakan sulit
untuk dinilai. Kemudian pada kelompok G3, 30 orang dinyatakan normal, 15
dinyatakan suspect/tersangka abnormal, 3 orang abnormal dan 8 orang dinyatakan
sulit dinilai. Dari uji statistik, didapatkan perbedaan bermakna (P < 0,0001) antara
ketiga grup, sehingga disimpulkan bahwa memang terdapat perbedaan perkembangan
pada grup anak sebelum dan sesudah operasi jantung dan juga dengan grup anak yang
sehat.

Usia dan edukasi orangtua menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam
hubungan dengan klasifikasi Denver II. Variabel yang tidak menunjukkan perbedaan
bermakna adalah: variabel yang berhubungan dengan prenatal dan postpartum
(kehamilan yang direncanakan, masalah pada kehamilan,cara persalinan dan bayi
prematur). Komplikasi persalinan menunjukan menunjukkan kecenderungan
signifikansi ( P = 0,065 ) , dan 44 % dari anak-anak yang memiliki komplikasi yang
diklasifikasikan sebagai "diduga/abnormal

Pada analisa kelompok G1 dan G2 didapatkan tidak ada perbedaan bermakna antara
variabel biopsikososial , usia saat diagnosis, orangtua yang mendapat informasi
tentang penyakit, pengertian mengenai penyakit dan perawatan anak, aktivitas yang
terbatas dan perubahan sikap setelah diagnosis. Pada grup G3, 50% anak yang
menjalani perwatan RS setidaknya sekali menunjukkan hasil Denver II sebagai
suspect (P=0,025). Ditemukan bahwa semakin sering anak dirawat di RS, semakin
tinggi frekuensi rating mencurigakan dan suspect/abnormal (P=0,023).

Applicability
a. Apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan di Indonesia?

Penelitian ini tentu dapat diaplikasikan di Indonesia karena instrumen yang digunakan
cukup sederhana, yaitu Denver II Screening Test. DENVER II, dipulikasikan tahun
1992, adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi anak dari usia
0-6 tahun dan merupakan hasil review komprehensif dan baru dari DDST yang
dipublikasikan Frankenburg et.al. Denver II Development Screening Test (DDST),
yang meliputi 125 komponen, dibagi dalam 4 bidang fungsi: personal sosial, adaptasi
motorik halus, bahasa dan motorik kasar. Tiap 125 komponen direpresentasikan dalam
bar yang didalamnya ada usia usia dimana 25%, 50%, 75% dan 90% anak-anak
mampu melakukan kemampuan tersebut. Untuk melakukan tes, dihitungdari usia anak
dalam umur dan bulan dan kami menggambar garis vertikal pada umur yang
bersesuaian di bar. Jumlah dari komponen yang semestinya dikuasai berdasarkan usia
anak dan semua komponen dipotong oleh garis vertikal dan setidaknya 3 komponen
tertinggal didalam garis tersebut.

Bidang yang dinilai pada Denver II meliputi:


1. Personal social (Personal sosial)
Penyesuaian diri dengan masyarakat dan perhatian terhadap kebutuhan perorangan
2. Fine motor adaptive (Adaptif-Motorik halus)
Koordinasi mata tangan, memainkan, menggunakan benda-benda kecil
3. Language (Bahasa)
Mendengar, mengerti dan menggunakan bahasa.
4. Gross motor (Motorik kasar)
Duduk, jalan, melompat dan gerakan umum otot besar

b. Apakah Denver II Screening Test merupakan alat penilaian yang paling baik untuk
mengevaluasi perkembangan anak dengan penyakit jantung?

Evaluasi perkembangan anak dapat dilakuka dengan menggunakan beberapa alat


penilaian diantaranya Denver II Screening Test, Kuisioner Pra-Skrining
Perkembangan (KPSP) dan Parents' Evaluation of Developmental Status (PEDS).
Ketiganya merupakan alat skrining yang sudah teruji validitas dan realiabilitasnya.

Penggunaan Denver II Screening Test untuk mengevaluasi perkembangan anak


dengan penyakit jantung pada penelitian ini menurut kami sudah tepat. Karena pada
dasarnya penggunaan alat penilaian seperti Denver II Screening Test tidak
memerlukan kriteria eksklusi bagi subjek yang akan dinilai dengan kata lain dapat
digunakan pada semua bentuk subjek termasuk anak dengan PJB.
Analisis PICO

Problem
CHD meliputi berbagai malformasi baik secara anatomi dan secara fungsi. Hal tersebut saat
ini merupakan hal yang biasa terjadi pada bayi baru lahir, mencapai 1% dari populasi di
Brazil. Adanya penyakit ini ini juga berhubungan dengan gejala seperti dipsnea, fatigue,
pusing, berat badan rendah, sering terkena infeksi saluran nafas, aritmia, dan sianosis yang
bergantung pada derajat, dapat menyebabkan kendala hambatan fisik dan motorik yang
secara langsung mempengaruhi perkembangan emosional dan kognitif.
Anak-anak dengan PJB dapat menunjukkan perubahan dalam perkembangan psikomotor
mereka oleh faktor patofisiologi seperti berat badan lahir rendah, sianosis, antara lain, tetapi
juga untuk penyakit kronis yang memberlakukan berbagai rawat inap, pemeriksaan
ulang,kendala fisik dan akibatnya, sekolah dan penarikan sosial. Mengingat semua konteks
ini, anak-anak dengan penyakit jantung bawaan, tergantung pada beratnya penyakit, bisa
mendapatkan skor signifikan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak tanpa penyakit
yang berkaitan dengan perubahan perkembangan anak.
Penelitian ini menekankan ke kemungkinan adanya gangguan dari prosedur bedah dan
pemulihan dalam perkembangan anak, terlepas dari status hemodinamik atau keparahan
penyakit. Mengenai kemungkinan konsekuensi rawat inap dan prosedur invasif ( kateterisasi,
anestesi dan operasi ) dapat membuat pasien dan keluarga mengalami serangkaian situasi
yang mengganggu ditambah juga pengalaman sebelumnya yang merugikan, dapat
menyebabkan kerusakan besar.

Intervention
Penelitian ini merupakan studi case-control yang membandingkan perkembangan pada anak
dengan dan tanpa penyakit jantung. Penelitian ini merupakan studi case-control yang
membandingkan perkembangan pada anak dengan dan tanpa penyakit jantung. Oleh sebab
itu, intervensi tidak dilakukan.

Comparison
Penelitian ini membagi 128 anak-anak menjadi 3 kelompok, meliputi grup 1 (G1) yaitu usia
0-6 tahun, kedua gender dan dalam daftar tunggu untuk operasi dari data Brazilian National
Health Care System (SUS); Grup 2 (G2) anak anak usia 0-6 tahun, kedua gender, didata dari
SUS, telah menjalani setidaknya satu kali prosedur operasi untuk penyakit jantung bawaan
sampai setidaknya 1 tahun sebelum studi dilakukan, dan grup 3 (G3) anak usia 0-6 tahun,
sehat, kedua gender, didata dan merupakan anggota SUS. Hasil studi dari 128 anak
dikumpulkan, 29 anak berasal dari grup G1 (22,66%; anak-anak preoperatif dengan penyakit
jantung), 43 orang dari grup G2 (33,59% anak-anak postoperasi dengan penyakit jantung)
dan 56 orang dari grup G3 (43,75%; anak anak dengan keadaan sehat). Waktu antara operasi
dan mulainya studi (adminitrasi instrumen studi) diatur dalam jarak waktu 1 bulan sampai 1
tahun setelah pembedahan pertama selesai, karena sebelum 1 bulan anak masih dalam
percepatan penyembuhan dan setelah satu tahun evaluasi perkembangan dari manfaat yang
diberikan pasca operasi bisa mengalami interferensi dari variabel lainnya. Pada saat ini studi
bertujuan untuk memverifikasi faktor psikososial yang berhubungan dengan penyakit dan
bukan fakor biologis atau psikologi dari klasifikasi penyakit jantung, kami membagi
kelompok anak menjadi dua kategori: anak sebelum dan sesudah operasi.

Pada dasarnya terdapat beberapa penelitian lain serupa namun dengan aspek penilaian
berbeda telah dilakukan. Dalam sebuah studi pada perkembangan anak-anak dengan penyakit
jantung bawaan yang diselenggarakan di New York, 64 anak-anak dinilai menggunakan
Denver II, dibagi menjadi: PJB yang diperlukan pembedahan atau intervensi kateter dan PJB
tanpa dampak hemodinamik. Hasil dari pengamatan didapatkan bahwa 54 % dari anak-anak
yang paling serius diklasifikasikan sebagai "abnormal, diragukan atau diuji " dan pada
kelompok anak-anak tanpa menimbulkan kehebohan hemodinamik, 86 % dicirikan sebagai "
normal". Disimpulkan bahwa anak-anak dengan CHD kompleks lebih mungkin untuk terjadi
resiko keterlambatan dari anak-anak dengan penyakit jantung bawaan yang hemodinamiknya
tidak terganggu. Sebuah studi longitudinal lain menggunakan Denver II dengan
mengevaluasi 20 bayi dengan PJB pada tiga waktu yang berbeda: 24 jam sebelum operasi
jantung, unit perawatan intensif debit dan 3-6 bulan setelah operasi. Dari 20 bayi dievaluasi,
15 telah diubah pemeriksaan neurologis dan keterlambatan perkembangan sebelum operasi,
yang normalisasi diamati hanya enam bulan setelah prosedur dalam enam peserta. Para
penulis menyimpulkan bahwa rata-rata setelah lima bulan, frekuensi operasi berkurang antara
anak-anak dengan Denver II "tersangka" delay dari 75% menjadi 55%.

Outcome
Pada saat ini studi bertujuan untuk memverifikasi faktor psikososial yang
berhubungan dengan penyakit dan bukan fakor biologis atau psikologi dari klasifikasi
penyakit jantung, kami membagi kelompok anak menjadi dua kategori: anak sebelum dan
sesudah operasi. Berdasarkan hasil, kita dapat mengatakan bahwa anak-anak dengan PJB
memiliki kemungkinan keterlambatan perkembangan, dengan perbedaan yang signifikan
antara anak-anak yang menjalani operasi untuk koreksi kelainan jantung dan mereka
menunggu operasi, di bawah follow-up klinis. Hal itu dapat dilihat dari Tabel 3 yang
menunjukan hasil umum dari penilaian DDST II.

Dari tabel ini diketahui, pada kelompok G1, hasil DDST meliputi 7 dinyatakan
normal, 11 sebagai suspect/tersangka abnormal, 8 abnormal dan 3 dinyatakan sulit untuk
dinilai. Pada kelompok G2, 9 orang dinyatakan normal, 10 orang dinyatakan
suspect/tersangka abnormal, 18 dinyatakan abnormal, dan 6 orang dinyatakan sulit untuk
dinilai. Kemudian pada kelompok G3, 30 orang dinyatakan normal, 15 dinyatakan
suspect/tersangka abnormal, 3 orang abnormal dan 8 orang dinyatakan sulit dinilai. Dari uji
statistik, didapatkan perbedaan bermakna (P < 0,0001) antara ketiga grup, sehingga
disimpulkan bahwa memang terdapat perbedaan perkembangan pada grup anak sebelum dan
sesudah operasi jantung dan juga dengan grup anak yang sehat.

Penelitian ini juga menganalisa beberapa faktor atau variabel biopsikososial lain yang
dapat mempengaruhi perkembangan anak, seperti pada tabel 2 mengenai Overview anak-
anak dengan CHD. Penilaian variabel ini hanya untuk kelompok G1 dan G2 yaitu kelompok
anak-anak dengan penyakit jantung, meliputi penyakit yang diderita termasuk sianotik atau
asianotik, usia saat ditemukannya penyakit, jumlah penerimaan, pengertian mengenai
penyakit, perubahan sikap dan apakah sikap itu positif atau negatif dan adanya pembatasan
pada aktivitas anak. Selain itu, variabel lain yang dinilai adalah usia anak dan gender dengan
profil DDST II (Tabel 4) dan hubungan atara pendapatan perkapita dan pendapatan ke
penilaian DDST II (Tabel 5). Dengan menghubungkan variabel biopsikososial dengan
penilaian Denver II, variabel gender, usia dan pendapatan per kapita ditunjukkan pada Tabel
4, menampilkan perbedaan signifikan (P=0.042, P=0.001, P=0.019).

Pada analisa kelompok G1 dan G2 didapatkan tidak ada perbedaan bermakna antara variabel
biopsikososial , usia saat diagnosis, orangtua yang mendapat informasi tentang penyakit,
pengertian mengenai penyakit dan perawatan anak, aktivitas yang terbatas dan perubahan
sikap setelah diagnosis. Dua faktor yang terkait dengan keterlambatan perkembangan adalah
jenis kelamin ( P = 0,042 ) dan usia ( P = 0,001 ). Hal ini diamati bahwa sebagian besar anak
laki-laki berfokus pada klasifikasi " mencurigakan " dan " tersangka / tidak normal ".
Mengenai jenis kelamin, studi menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih baik di
sekolah daripada anak laki-laki dan bahwa perbedaan tersebut menjadi lebih jelas setelah usia
tiga tahun, tapi rata-rata, anak laki-laki dan anak perempuan lebih banyak yang sama
daripada yang berbeda.