Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI 1
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya
disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sering disebut rhinosinusitis.
Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus,
yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Sinusitis dikarakteristikkan
sebagai suatu peradangan pada sinus paranasal.

Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis
disebut pansinusitis. Disekitar rongga hidung terdapat empat sinus yaitu sinus
maksilaris (terletak di pipi), sinus etmoidalis (kedua mata), sinus frontalis
(terletak di dahi) dan sinus sfenoidalis (terletak di belakang dahi).

EPIDEMIOLOGI 2,7
Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan, dengan dampak
signifikan pada kualitas hidup dan pengeluaran biaya kesehatan, dan dampak
ekonomi pada mereka yang produktivitas kerjanya menurun. Diperkirakan
setiap tahun 6 miliar dolar dihabiskan di Amerika Serikat untuk pengobatan
rhinosinusitis. Pada tahun 2007 di Amerika Serikat, dilaporkan bahwa angka
kejadian rhinosinusitis mencapai 26 juta individu. Di Indonesia sendiri, data
dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus
berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar
102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.

Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maksila dan sinusitis ethmoid,
sedangkan sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih jarang ditemukan. Pada
anak hanya sinus maxilla dan sinus etmoid yang berkembang sedangkan
sinus frontal dan sinus sphenoid mulai berkembang pada anak berusia kurang
lebih 8 tahun. Sinusitis pada anak lebih banyak ditemukan karena anak-anak
mengalami infeksi saluran nafas atas 6 8 kali per tahun dan diperkirakan
5% 10% infeksi saluran nafas atas akan menimbulkan sinusitis.
FAKTOR RISIKO 1,3,8
Beberapa faktor predisposisi terjadinya sinusitis antara lain ISPA akibat virus,
bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil,
polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka,
sumbatan kompleks ostio-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan
imunologik, diskinesia silia seperti pada sindrom Kartagener, dan di luar
negeri adalah penyakit fibrosis kistik.

Faktor predisposisi yang paling lazim adalah polip nasal yang timbul pada
rinitis alergika; polip dapat memenuhi rongga hidung dan menyumbat sinus. Pada
anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis
sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan
menyembuhkan rhinosinusitisnya. Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan
foto polos leher posisi lateral. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah
lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok.
Keadaaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.

ETIOLOGI 1,8
Berbagai faktor infeksius dan nonifeksius dapat memberikan kontribusi
dalam terjadinya obstruksi akut ostium sinus atau gangguan pengeluaran cairan
oleh silia, yang akhirnya menyebabkan sinusitis. Penyebab nonifeksius antara lain
adalah rinitis alergika, barotrauma, atau iritan kimia. Infeksi sinusitis akut dapat
disebabkan berbagai organisme, termasuk virus, bakteri, dan jamur.Virus
yang sering ditemukan adalah rhinovirus, virus parainfluenza, dan virus
influenza. Bakteri yang sering menyebabkan sinusitis adalah Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarralis.Bakteri anaerob
juga terkadang ditemukan sebagai penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan
infeksi pada gigi premolar.Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai penyebab
sinusitis pada pasien dengan gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi
invasif yang mengancam jiwa. Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain
adalah dari spesies Rhizopus, Rhizomucor, Mucor, Absidia, Cunninghamella,
Aspergillus, dan Fusarium.

Penyebab sinusitis dibagi menjadi 3:


Rhinogenik
Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat
menyebabkan sinusitis. Contohnya rinitis akut, rinitis alergi, polip, deviasi
septum dan lain-lain. Alergi juga merupakan predisposisi infeksi sinus
karena terjadi edema mukosa dan hipersekresi. Mukosa sinus yang
membengkak menyebabkan infeksi lebih lanjut, yang selanjutnya
menghancurkan epitel permukaan, dan siklus seterusnya berulang.

Sinusitis Dentogen
Merupakan penyebab paling sering terjadinya sinusitis kronik. Dasar sinus
maksila adala prosessus alveolaris tempat akar gigi, bahkan kadang-
kadang tulang tanpa pembatas. Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi
gigi apikal akar gigi, atau inflamasi jaringan periondontal mudah
menyebar secara langsung ke sinus, atau melalui pembuluh darah dan
limfe. Harus dicurigai adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksila
kronik yang mengenai satu sisi dengan ingus yang purulen dan napas
berbau busuk. Bakteri penyebabnya adalah Streptococcus pneumoniae,
Hemophilus influenza, Streptococcus viridans, Staphylococcus aureus,
Branchamella catarhalis dan lain-lain.

Sinusitis Jamur
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan yang
jarang ditemukan.Angka kejadian meningkat dengan meningkatnya
pemakaian antibiotik, kortikosteroid, obat-obat imunosupresan dan
radioterapi. Kondisi yang merupakan faktor predisposisi terjadinya
sinusitis jamur antara lain diabetes mellitus, neutopenia, penyakit
AIDSdan perawatan yang lama di rumah sakit. Jenis jamur yang sering
menyebabkan infeksi sinus paranasal ialah spesies Aspergillus dan Candida.

PATOGENESIS 1,3,8
Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril.Sinusitis dapat terjadi bila klirens
silier sekret sinus berkurang atau ostium sinus menjadi tersumbat, yang
menyebabkan retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan
parsial oksigen.Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme
patogen.Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus
yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.Pada dasarnya patofisiologi dari
sinusitis dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu obstruksi drainase sinus (sinus ostium),
kerusakan pada silia, serta kuantitas dan kualitas mukosa. Sebagian besar episode
sinusitis disebabkan oleh infeksi virus.Virus tersebut sebagian besar menginfeksi
saluran pernapasan atas seperti Rhinovirus, Influenza A dan B, Parainfluenza,
Respiratory syncytial virus, Adenovirus dan Enterovirus.Sekitar 90 % pasien yang
mengalami ISPA memberikan bukti gambaran radiologis yang melibatkan sinus
paranasal.

Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya edema pada dinding hidung


dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan atau obstruksi pada
ostium sinus, dan berpengaruh pada mekanisme drainase dalam sinus. Selain itu
inflamasi, polip, tumor, trauma, juga menyebabkan menurunya patensi ostium
sinus.Virus yang menginfeksi tersebut dapat memproduksi enzim dan
neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus
pada lapisan mukosilia.Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret
yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat
baik untuk berkembangnya bakteri patogen.Silia yang kurang aktif fungsinya
tersebut terganggu oleh terjadinya akumulasi cairan pada sinus.Terganggunya
fungsi silia tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kehilangan
lapisan epitel bersilia, udara dingin, aliran udara yang cepat, virus, bakteri,
mediator inflamasi, kontak antara dua permukaan mukosa, parut, atau primary
cilliary dyskinesia (Sindrom Kartagener).

Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan


kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi
oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus
dan akan memberikan media yang menguntungkan untuk berkembangnya
bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan
silia dan aktivitas leukosit. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan
mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan
terdapatnya beberapa bakteri patogen.Antrum maksila mempunyai hubungan yang
sangat dekat dengan akar gigi pre molar dan molar atas.Hubungan ini dapat
menimbulkan problem klinis seperti infeksi yang berasal dari gigi dan fistula
oroantral dapat naik ke atas dan menimbulkan infeksi sinus. Sinusitis maksila
diawali dengan sumbatan ostium sinus akibat proses inflamasi pada mukosa
rongga hidung. Proses inflamasi ini akan menyebabkan gangguan
drainase sinus.

Keterlibatan antrum unilateral seringkali merupakan indikasi dari keterlibatan gigi


sebagai penyebab. Bila hal ini terjadi maka organisme yang bertanggung jawab
kemungkinan adalah jenis gram negatif yang merupakan organisme yang lebih
banyak didapatkan pada infeksi gigi daripada bakteri gram positif yang
merupakan bakteri khas pada sinus.Penyakit gigi seperti abses apikal, atau
periodontal dapat menimbulkan gambaran histologi yang didominasi oleh bakteri
gram negatif, karenanya menimbulkan bau busuk. Pada sinusitis yang
dentogennya terkumpul kental akan memperberat atau mengganggu drainase
terlebih bila meatus medius tertutup oleh oedem atau pus atau kelainan anatomi
lain seperti deviasi, dan hipertropi konka. Akar gigi premolar kedua
dan molar pertama berhubungan dekat dengan lantai dari sinus maksila dan
pada sebagian individu berhubungan langsung dengan mukosa sinus maksila.
Sehingga penyebaran bakteri langsung dari akar gigi ke sinus dapat terjadi

MANIFESTASI KLINIS 1,3


Keluhan utama rinosinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai dengan
nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang seringkali turun ke
tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai dengan gejala sistemik seperti demam
dan lesu.Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena
merupakan ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di
tempat lain (referred pain). nyeri pipi menandakan sinusitis maksila, nyeri
di antara atau di belakang kedua bola mata menandakan sinusitis etmoida,
nyeri di dahi atau kepala menandakan sinusitis frontal, dan nyeri di kepala
yang mengarah ke vertex cranium menandakan sinusitis sfenoid. Pada sinusitis
maksila kadang-kadang terdapat nyeri alih ke gigi dan telinga.

Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post-nasal drip


yang dapat menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Keluhan sinusitis kronik
tidak khas sehingga sulit didiagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari
gejala-gejala di bawah ini:
a. Sakit kepala kronik
b. Post-nasal drip
c. Batuk kronik
d. Ganguan tenggorok
e. Ganguan telinga akibat sumbatan di muara tuba Eustachius

KLASIFIKASI 1,9
Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila gejalanya
berlangsung kurang dari 12 minggu, sedangkan kronis berlangsung lebih dari 12
minggu. Tetapi apabila dilihat dari gejala, maka sinusitis dianggap sebagai
sinusitis akut bila terdapat tanda-tanda radang akut. Sinusitis kronis adalah suatu
inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal yang dapat ditegakkan berdasarkan
riwayat gejala yang diderita sudah lebih dari 12 minggu, dan sesuai dengan 2
kriteria mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor.Berdasarkan
beratnya penyakit, rinosinusitis dapat dibagi menjadi ringan, sedang dan berat
berdasarkan total skor visual analogue scale (VAS) (0-10) :
- Ringan = VAS 0-3
- Sedang = VAS >3-7
- Berat = VAS >7-10
Untuk menilai beratnya penyakit, pasien diminta untuk menentukan dalam
VAS jawaban dari pertanyaan: Berapa besar gangguan dari gejala rinosinusitis
saudara?

DIAGNOSIS 1,3,8
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Tabel 1 : Tanda dan gejala sinusitis
Rhinosinusitis task force, 1996

Berdasarkan lokasinya, diagnosis sinusitis dapat ditegakkan sebagai berikut :


1. Sinusitis Maksilaris
Nyeri pipi menandakan sinusitis maksila. Gejala sinusitis maksilaris akut
berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya
reda dengan pemberian analgetik biasa seperti aspirin. Wajah terasa
bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak,
misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi
khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi dan perkusi.
Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.
2. Sinusitis Etmoidalis
Sinusitis etmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali
bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Dari anamnesis didapatkan nyeri
yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang
nyeri di bola mata atau di belakangnya, terutama bila mata digerakkan.
Nyeri alih di pelipis, post nasal drip dan sumbatan hidung. Pemeriksaan fisik
didapatkan nyeri tekan pada pangkal hidung.
3. Sinusitis Frontalis
Nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi hari dan memburuk
menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga
menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri
bila disentuh dan mungkin terdapat pembengkakan supra orbita. Pemeriksaan
fisik, nyeri yang hebat pada palpasi atau perkusi di atas daerah sinus yang
terinfeksi merupakan tanda patognomonik pada sinusitis frontalis.
4. Sinusitis Sfenoidalis
Sinusitis sfenoidalis dicirikan oleh nyeri kepala yang mengarah ke
verteks kranium. Penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis
dan oleh karena itu gejalanya menjadi satu dengan gejala infeksi sinus
lainnya.

Pada rhinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema, pada
sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak nanah
di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis
sphenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. (Pada sinusitis akut
tidak ditemukan polip, tumor maupun komplikasi sinusitis. Jika ditemukan
maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai). Pada rinoskopi
posterior tampak pus di nasofaring (post nasal drip). Pada posisional test
yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit, dan
provokasi test, yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet
hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut
dengan rapat. Jika positif sinusitis maksilaris, maka akan keluar pus dari
hidung.

Pemeriksaan penunjang yang penting adalah foto polos atau CT-Scan. Foto polos
posisi Waters, PA, lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-
sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat
perselubungan, air-fluid level , atau penebalan mukosa. Rontgen sinus dapat
menunjukkan kepadatan parsial pada sinus yang terlibat akibat pembengkakan
mukosa atau dapat juga menunjukkan cairan apabila sinus mengandung pus.
Pilihan lain dari rontgen adalah ultrasonografi terutama pada ibu hamil untuk
menghindari paparan radiasi.CT-Scan sinus merupakan gold standard diagnosis
sinusitis karena mampu menilai secara anatomi hidung dan sinus, adanya
penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya. CT
scan mampu memberikan gambaranyang bagus terhadap penebalan mukosa,
air-fluid level, struktur tulang, dan kompleks osteomeatal. Namun karena
mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronis yang
tidak membaik dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai panduan operator
saat melakukan operasi sinus.

DIAGNOSIS BANDING 8
Diagnosos banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak
sensitif dan spesifik.Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan
kokain, rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang
dengan gejala pilek dan kongesti nasal.Rhinorrhea cairan serebrospinal harus
dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat cedera kepala.Pilek persisten
unilateral dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma atau benda asing
nasal.Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah diagnosis
alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah.Pasien dengan demam
memerlukan perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi
sinusitis saja atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau
abses intrakranial

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1,7,8


Pemeriksaan radiologis untuk mendapatkan informasi dan untuk mengevaluasi
sinus paranasal adalah; pemeriksaan foto kepala dengan berbagai posisi yang
khas, pemeriksaan tomogram dan pemeriksaan CT-Scan. Dengan pemeriksaan
radiologis tersebut para ahli radiologi dapat memberikan gambaran anatomi
atau variasi anatomi, kelainan-kelainan patologis pada sinus paranasalis dan
struktur tulang sekitarnya, sehingga dapat memberikan diagnosis yang lebih
dini.Pemeriksaan foto kepala untuk mengevaluasi sinus paranasal terdiri atas
berbagai macam posisi antara lain:

a. Foto kepala posisi anterior-posterior ( AP atau posisi Caldwell)


Foto ini diambil pada posisi kepala meghadap kaset, bidang midsagital
kepala tegak lurus pada film. Idealnya pada film tampak pyramid tulang
petrosum diproyeksi pada 1/3 bawah orbita atau pada dasar orbita. Hal
ini dapat tercapai apabila orbito-meatal line tegak lurus pada film dan
membentuk 1500 kaudal.
Gambar 3 : Foto konvensional caldwell posisi PA menunjukkan air fluid
level pada sinus maksilaris

https://de.wikipedia.org/wiki/Sinusitis
b. Foto kepala lateral
Dilakukan dengan film terletak di sebelah lateral dengan sentrasi di luar
kantus mata, sehingga dinding posterior dan dasar sinus maksilaris
berhimpit satu sama lain. Pada sinusitis tampak : penebalan mukosa, air
fluid level (kadang-kadang), perselubungan homogen pada satu atau lebih
sinus para nasal, penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus
kronik)

Gambar 4 : Foto lateral menunjukkan gambaran air fluid level di sinus maksila

http://atlas.mudr.org/img

c. Foto kepala posisi waters


Foto ini dilakukan dengan posisi dimana kepala menghadap film, garis orbito
meatus membentuk sudut 370 dengan film. Pada foto ini, secara ideal
piramid tulang petrosum diproyeksikan pada dasar sinus maxillaris
sehingga kedua sinus maxillaris dapat dievaluasi sepenuhnya. Foto Waters
umumnya dilakukan pada keadaan mulut tertutup. Pada posisi mulut
terbuka akan dapat menilai dinding posterior sinus sphenoid dengan baik.
Pemeriksaan Foto Waters merupakanpemeriksaan yang paling baik untuk
mengevaluasi sinus maksilaris. William et al menyimpulkan bahwa Foto
Waters dapat diterima untuk mendiagnosis suatu kelainan di sinus maksilaris.
Pemeriksaan ini dari sudut biaya cukup ekonomis dan pasien hanya
mendapat radiasi yang minimal. Sensitifitas dan spesifisitasnya yaitu 85%
dan 80%. Berdasarkan gambaran radiologis dengan Foto Waters dapat
menilai kondisi sinus maksilaris yang memperlihatkan perselubungan, air
fluid level, dan penebalan mukosa.

Gambar 3 : Foto waters sinus maksilaris

http://www.ssmedika.co.id/ref/sinusitis/
9,10,11
TATALAKSANA

Tujuan utama penatalaksanaan sinusitis adalah:


Mempercepat penyembuhan
Mencegah komplikasi
Mencegah perubahan menjadi kronik.
Sinusitis akut dapat diterapi dengan pengobatan (medikamentosa) dan
pembedahan (operasi). Penatalaksanaan yang dapat diberikan pada pasien sinusitis
akut, yaitu:
Antibiotik. Berikan golongan penisilin selama 10-14 hari meskipun gejala
klinik sinusitis akut telah hilang.
Dekongestan lokal. Berupa obat tetes hidung untuk memperlancar drainase
hidung.
Analgetik. Untuk menghilangkan rasa sakit.
Irigasi Antrum. Indikasinya adalah apabila terapi diatas gagal dan ostium
sinus sedemikian edematosa sehingga terbentuk abses sejati. Irigasi antrum
maksilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat melalui fossa
incisivus ke dalam antrum maksilaris. Cairan ini kemudian akan mendorong
pus untuk keluar melalui ostium normal.
Menghilangkan faktor predisposisi dan kausanya jika diakibatkan oleh gigi.
Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan
sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus.

a. Antibiotik
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan sinusitis supuratif
akut. Amoksisilin merupakan pilihan tepat untuk kuman gram positif dan
negatif.Vankomisin untuk kuman S. pneumoniae yang resisten terhadap
amoksisilin. Pilihan terapi lini pertama yang lain adalah kombinasi
eritromisin dan dulfonamide atau cephalexin dan sulfonamide.Terapi
antibiotik harus diteruskan minimum 1 minggu setelah gejala terkontrol.
Karena banyaknya distribusi ke sinus-sinus yang terlibat, perlu
mempertahankan kadar antibiotika yang adekuat bila tidak, mungkin terjadi
sinusitis supuratif kronik. Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk
membantu memperbaiki drainase dan pembersihan sekret dari sinus.
Untuk sinusitis maxilaris dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan
untuk sinusitis ethmoidalis frontalis dan sinusitis sfenoidalis dilakukan
tindakan pencucian Proetz. Irigasi dan pencucian dilakukan 2 kali dalam
seminggu. Bila setelah 5 atau 6 kali tidak ada perbaikan dan klinis
masih tetap banyak sekret purulen, maka perlu dilakukan bedah radikal.

Antibiotik parenteral diberikan pada sinusitis yang telah mengalami


komplikasi seperti komplikasi orbita dan komplikasi intrakranial, karena
dapat menembus sawar darah otak. Ceftriakson merupakan pilihan yang
baik karena selain dapat membasmi semua bakteri terkait penyebab
sinusitis, kemampuan menembus sawar darah otaknya juga baik. Pada
sinusitis yang disebabkan oleh bakteri anaerob dapat digunakan
metronidazole atau klindamisin. Klindamisin dapat menembus cairan
serebrospinal. Antihistamin hanya diberikan pada sinusitis dengan
predisposisi alergi. Analgetik dapat diberikan. Kompres hangat dapat
juga dilakukan untuk mengurangi nyeri.
Untuk pasien yang menderita alergi, pengobatan alergi yang dijalani
bermanfaat. Pengontrolan lingkungan, steroid topikal, dan imunoterapi
dapat mencegah eksesarbasi rhinitis sehingga mencegah perkembangannya
menjadi sinusitis.
b. Dekongestan
Dekongestan Oral (Lebih aman untuk penggunaan jangka panjang) berupa
Phenylproponolamine dan pseudoephedrine, yang merupakan agonis alfa
adrenergik. Obat ini bekerja pada osteomeatal komplek .Dekongestan topikal
yaitu Phenylephrine Hcl 0,5% dan oxymetazoline Hcl 0,5 % bersifat
vasokonstriktor lokal. Obat ini bekerja melegakan pernapasan dengan
mengurangi oedema mukosa.
c. Antihistamin
Antihistamin golongan II yaitu Loratadine.Anti histamin golongan II
mempunyai keunggulan, yaitu lebih memiliki efek untuk mengurangi rhinore,
dan menghilangkan obstruksi, serta tidak memiliki efek samping menembus
sawar darah otak.
d. Kortikosteroid
bisa diberi oral ataupun topikal, namun pilihan disini adalah kortikosteroid
oral yaitu metil prednisolon, efek samping berupa retensi air sangat minimal,
begitupula dengan efek terhadap lambung juga minimal.

Skema 1 : Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Dewasa Untuk


Pelayanan Kesehatan Primer.
European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis.EPOS
2012
Skema 2 : Penatalaksanaan Rinosinusitis Akut Pada Anak Untuk
Pelayanan Kesehatan Primer.

European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis.EPOS


2012

Skema 3 : Pedoman rujukan pasien rhinosinusitis


European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyposis.EPOS
2012

KOMPLIKASI 1,3
Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis
kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial.
Komplikasi infeksi rinosinusitis sangat jarang dan paling sering terjadi pada
anak dan pasien imunocompromised. Perluasan yang tidak terkendali dari
penyakit bakteri atau jamur mengarah kepada invasi struktur sekitarnya
terutama orbital dan otak.Sinusitis merupakan suatu penyakit yang tatalaksananya
berupa rawat jalan. Pengobatan rawat inap di rumah sakit merupakan hal yang
jarang kecuali jika ada komplikasi dari sinusitis itu sendiri. Walaupun tidak
diketahui secara pasti, insiden dari komplikasi sinusitis diperkirakan sangat
rendah. Salah satu studi menemukan bahwa insiden komplikasi yang
ditemukan adalah 3%. Sebagai tambahan, studi lain menemukan bahwa
hanya beberapa pasien yang mengalami komplikasi dari sinusitis setiap
tahunnya. Komplikasi dari sinusitis ini disebabkan oleh penyebaran bakteri yang
berasal dari sinus ke struktur di sekitarnya.Penyebaraan yang tersering
adalah penyebaran secara langsung terhadap area yang mengalami
kontaminasi. Komplikasi dari sinusitis tersebut antara lain :
1. Komplikasi lokal
a) Mukokel
b) Osteomielitis (Potts puffy tumor)
2. Komplikasi orbital
a) Inflamatori edema
b) Abses orbital
c) Abses subperiosteal
d) Trombosis sinus cavernosus.
3. Komplikasi intrakranial
a) Meningitis
b) Abses Subperiosteal

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya


antibiotik. Komplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis
kronis dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intrakranial. CT
scan merupakan suatu modalitas utama dalam menjelaskan derajat penyakit
sinus dan derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan
kranium. Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter,
kronik atau berkomplikasi.

PROGNOSIS 2,3
Sinusitis tidak menyebabkan kematian yang signifikan dengan sendirinya.
Namun, sinusitis yang berkomplikasi dapat menyebabkan morbiditas dan dalam
kasus yang jarang dapat menyebabkan kematian. Sekitar 40 % kasus sinusitis
akut membaik secara spontan tanpa antibiotik. Perbaikan spontan pada
sinusitis virus adalah 98 %.Pasien dengan sinusitis akut, jika diobati dengan
antibiotik yang tepat, biasanya menunjukkan perbaikan yang cepat. Tingkat
kekambuhan setelah pengobatan yang sukses adalah kurang dari 5 %. Jika
tidak adanya respon dalam waktu 48 jam atau memburuknya gejala, pasien
dievaluasi kembali.