Anda di halaman 1dari 13

Definisi Sinusitis didefinisikan sebagai suatu peradangan pada mukosa sinus paranasal yang umumnya terjadi karena alergi

atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada yaitu pada sinus maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pansinusitis.

(Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Sinusitis dapat menjadi berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intrakranial, serta peningkatan serangan asma yang sulit untuk diobati. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Anatomi

Sinus paranasal merupakan ruang udara yang berada di tengkorak. Bentuk sinus paranasal sangat bervariasi pada tiap individu dan semua sinus memiliki muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut: sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sphenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. (Evans KL. Diagnosis and management of sinusitis. BMJ 1994;309:1415-22 ; Fokkens W, Lund V, Mullol J. European Position Paper on Nasal Polyps. 2007) Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml. Sinus maksila berbentuk segitiga. Dinding anterior adalah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya ialah permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya ialah dasar orbita dan dining inferiornya ialah prosesua alveolaris dan palatum. Ostium sinus maksila berada disebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Sinus paranasal dan ostiumnya

Epidemiologi Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia. Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rhinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusitis. (PERHATI. Fungsional endoscopic sinus surgery. HTA Indonesia. 2006. Hal 1-6)

Etiologi dan Faktor Predisposisi Berbagai faktor infeksius dan nonifeksius dapat memberikan kontribusi dalam terjadinya obstruksi akut ostium sinus atau gangguan pengeluaran cairan oleh silia, yang akhirnya menyebabkan sinusitis. Penyebab nonifeksius antara lain

adalah rinitis alergika, barotrauma, atau iritan kimia. Penyakit seperti tumor nasal atau tumor sinus (squamous cell carcinoma), dan juga penyakit granulomatus (Wegeners granulomatosis atau rhinoskleroma) juga dapat menyebabkan obstruksi ostium sinus, sedangkan konsisi yang menyebabkan perubahan kandungan sekret mukus (fibrosis kistik) dapat menyebabkan sinusitis dengan mengganggu pengeluaran mukus. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan adenoidektomi untuk menghilangkan sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama akan menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis. Peran adenoid sebagai factor predisposisi sinusitis ada dua, yaitu: (Evans KL. Diagnosis and management of sinusitis. BMJ 1994;309:1415-22 ; Chen YL and Shyu BH. Rhinosinusitis Management in pediatric patients: perspectives of an otolaryngologist. Journal compilation Society of Pediatric Pulmonology, Taiwan 2011; 41-6) 1. sebagai barier mekanik yang menyebakan obstruksi, hipertrofi adenoid dapat menyebabkan stasis sekresi dan peradangan ostium sinus 2. sebagai reservoir bakteri

Di rumah sakit, penggunaan pipa nasotrakeal adalah faktor resiko mayor untuk infeksi nosokomial di unit perawatan intensif. Infeksi sinusitis akut dapat disebabkan berbagai organisme, termasuk virus, bakteri, dan jamur. Virus yang sering ditemukan adalah rhinovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza. Bakteri yang sering menyebabkan sinusitis adalah Streptococcus pneumonia (3050%), Haemophilus influenza (20-40%), moraxella catarralis (4%), dan lainnya seperti Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus, Streptococcus

haemoliticus, Pseudomonas. Bakteri anaerob juga terkadang ditemukan sebagai penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar. Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai penyebab sinusitis pada pasien dengan gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi invasif yang mengancam jiwa. Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain adalah dari spesies Rhizopus, rhizomucor,Mucor, Absidia, Cunninghamella, Aspergillus, dan Fusarium. (Munir, D. dan Kurnia, B. 2007. Pola Kuman Aerob Penyebab Sinusitis Maksilaris Akut. Cermin Dunia Kedokteran Vol.34 No.2/155 Maret-April 2007)

Patogenesis Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar di dalam kompleks osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi

Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Apabila organ organ yang membentuk KOM mengalami oedem, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drainase dan ventilasi didalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Patogenesis Sinusitis (Netter, Frank H. A Collection Of Medical Illustration. Di unduh dari www.netterimages.com) Klasifikasi Sinusitis Konsensus internasional tahun 2004 membagi sinusitis menjadi sinusitis akut, subakut dan kronis dengan kriteria sebagai berikut : (Pletcher SD, Golderg

AN. The diagnosis and treatment of sinusitis. Advanced Studies in Medicine 2003;3(9):495-505) 1. Sinusitis akut, bila infeksi dengan batas sampai 4 minggu. 2. Sinusitis subakut, bila infeksi antara 4 minggu sampai 3 bulan. 3. Sinusitis Kronis, bila infeksi lebih dari 3 bulan. Sinusitis kronik dengan penyebab rinogenik umumnya merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak terobati secara adekuat. Pada sinusitis kronik adanya factor predisposisi harus dicari dan diobati secara tuntas. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan keluhan utama sinusitis akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus purulen, yang sering sekali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena, merupakan ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga dirasakan di tempat lain (reffered pain). Nyeri pipi, gigi, dahi dan depan telinga menandakan sinusitis maksila. Nyeri di antara atau di belakang kedua bola mata dan pelipis menandakan sinusitis etmoid. Nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di verteks,

oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid. Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang menyebabkan batuk dan sesak pada anak. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI; Fokkens W, Lund V, Mullol J. European Position Paper on Nasal Polyps. 2007) Kriteria diagnosis sinusitis: (http://www.sinustreatmentcenter.com/BOOK/chapter3_0109.pdf; Pletcher SD, Golderg AN. The diagnosis and treatment of sinusitis. Advanced Studies in Medicine 2003;3(9):495-505) Tabel 1. Gejala Mayor dan Minor Gejala Mayor Nyeri atau rasa tertekan pada muka Kebas atau rasa penuh pada muka Obstruksi hidung Sekret hidung yang purulen, post nasal drip Hiposmia atau anosmia Demam (hanya pada rinosinusitis akut)

Gejala Minor Sakit kepala

Demam (pada sinusitis kronik) Halitosis Kelelahan Sakit gigi Batuk Nyeri, rasa tertekan atau rasa penuh pada telinga Diagnosis ditegakkan dengan dua gejala mayor atau satu gejala mayor ditambah dengan dua gejala minor. (Pletcher SD, Golderg AN. The diagnosis and treatment of sinusitis. Advanced Studies in Medicine 2003;3(9):495-505 ; http://www.sinustreatmentcenter.com/BOOK/chapter3_0109.pdf;) Pada sinusitis maksilaris ditandai dengan nyeri pada pipi. Gejala sinusitis maksilaris akut berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian analgetik biasa seperti aspirin. Wajah terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi dan perkusi. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Pada rinoskopi anterior tampak pus keluar dari meatus superior atau nanah di meatus medius pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior, sedangkan pada sinusitis etmoid posterior dan sinusitis sfenoid tampak

pus di meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak pus di nasofaring (post nasal drip). Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Pemeriksaan radiologik yang dibuat adalah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Pemeriksaan Radiologi untuk Sinus Paranasal (http://www.ghorayeb.com/ImagingMaxillarySinusitis.html) Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. Lebih baik lagi bila diambil sekret yang keluar dari pungsi sinus maksila. Dalam interpretasi biakan hidung, harus hati-hati, karena mungkin saja biakan dari sinus maksilaris dapat dianggap benar, namun pus tersebut berlokasi dalam suatu rongga tulang. Sebaiknya biakan

dari hidung depan, akan mengungkapkan organisme dalam vestibulum nasi termasuk flora normal seperti Staphilococcus dan beberapa kokus gram positif yang tidak ada kaitannya dengan bakteri yang dapat menimbulkan sinusitis. Oleh karena itu, biakan bakteri yang diambil dari hidung bagian depan hanya sedikit bernilai dalam interpretasi bakteri dalam sinus maksilaris, bahkan mungkin memberi informasi yang salah. Suatu biakan dari bagian posterior hidung atau nasofaring akan jauh lebih akurat, namun secara teknis sangat sulit diambil. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Penatalaksanaan Tujuan terapi sinusitis ialah: 1. Mempercepat penyembuhan 2. Mencegah komplikasi 3. Mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di Kompleks ostio-meatal sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat atau jenis sepalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotika diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai untuk kuman negative gram dan anaerob. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI) Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topical, pencucian rongga hidung denga NaCl atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat kolinergiknya dapat menyebabkan secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang dapat bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang berat. (Mangunkusumo, E. dan Soetjipto, D. Sinusitis. Dalam: Soepardi Efiaty Arsyad, dkk. 2008. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher Edisi kelima. Jakarta: FKUI)

Komplikasi Komplikasi sinusitis terbagi menjadi komplikasi intracranial dan

ekstrakranial: (Reuler JB, Lucas LM, Kumar KL: Sinusitis-A review for generalists. West J Med 1995; 163:40-48) Introcranial Meningitis Epidural or subdural empyema Brain abscess Cavernous sinus thrombosis Extracranial Osteomyelitis Orbital cellulitis Subperiosteal abscess Orbital abscess Blindness Superior orbital fissure syndrome Epiphora