Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PENYAKIT EMPIEMA

Disusun oleh :

Nama : Asty Lestari Octaviani

NIM : 34403515016

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN CIANJUR
BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD)
Jalan Pasir Gede Raya No. 19 (0263) 267206 Fax.270953 Cianjur

2017
LAPORAN PENDAHULUAN EMPIEMA

A. PENGERTIAN
Empiema adalah keadaan terkumpulnya nanah (pus) didalam
rongga pleura dapat setempat/ mengisi seluruh rongga pleura (Ngastiyah,
1997). Empiema adalah penumpukan cairan terinfeksi atau pus pada
cavitas pleura (Diane C. Baughman, 2000).Empiema adalah penumpukan
materi purulen pada areal pleural (Hudak dan Gallo, 1997).
B. PENYEBAB
1. Infeksi yang berasal dari dalam paru :
a. Pneumonia
b. Abses paru
c. Bronkiektasis
d. TBC paru
e. Aktinomikosis paru
f. Fistel Bronko-Pleura
2. Infeksi yang berasal dari luar paru :
a. Trauma Thoraks
b. Pembedahan thorak
c. Torasentesi pada pleura
d. Sufrenik abses
e. Amoebic liver abses
3. Bakteriologi :
a. Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab
dikenal sebagai Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-
penyakit sebagai akibat dari infeksi beragam jaringan-jaringan tubuh.
Bakteri-bakteri Staph dapat menyebabkan penyakit tidak hanya secara
langsung oleh infeksi (seperti pada kulit), namun juga secara tidak
langsung dengan menghasilkan racun-racun yang bertanggung jawab
untuk keracunan makanan dan toxic shock syndrome. Penyakit yang
berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan dan tidak
memerlukan perawatan sampai berat/parah dan berpotensi fatal.
b. Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat
menyebabkan infeksi serius seperti radang paru-paru
(pneumonia),meningitis (radang selaput otak) dan infeksi darah
(sepsis).Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi
hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk
kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus
inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.
C. TANDA DAN GEJALA
Tanda dan gejala empiema secara umum adalah :
1. Demam
2. Keringat malam
3. Nyeri pleural
4. Dispnea
5. Anoreksia dan penurunan berat badan
6. Auskultasi dada, ditemukan penurunan suara napas
7. Perkusi dada, suara flatness
8. Palpasi , ditemukan penurunan fremitus
Tanda gejala empiema berdasarkan klasifikasi empiema akut dan empiema
kronis.
1. Emphiema akut.
a. Panas tinggi dan nyeri pleuritik.
b. Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
c. Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia,
anemia, dan clubbing finger.
d. Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-
pleural.
e. Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan
darah dan nanah banyak sekali.
2. Emphiema kronis:
a. Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
b. Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
c. Pucat, clubbing finger.
d. Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.
e. Terjadi fibrothorak trakea dan jantung tertarik kearah yang sakit.
f. Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.
D. EPIDEMOLOGI
Penyebab empiema toraks yang paling utama adalah infeksi yang
berasal dari paru, selain itu tindakan bedah (paru dan gastroesofageal) juga
merupakan faktor predisposisi penting terjadinya empiema.9,16. Sejak
ditemukannya antibiotik, penyakit ini diperkirakan sudah jauh berkurang,
namun meskipun demikian morbiditas maupun mortalitasnya masih
cukup tinggi.3,11,13. Di bagian Paru RSU Dr. Soetomo Surabaya tahun
2000 - 2004, dirawat sebanyak 1,07 1,29% penderita dengan empiema
toraks, dengan perbandingan pria : wanita = 3,4 : 1.1,2.
Akibat kemajuan dari pemakaian obat antituberkulosa dan
antibiotik menyebabkan para dokter cenderung untuk merawat penderita
empiema secara medikamentosa, sehingga sering terjadi keterlambatan
konsultasi dan tindakan bedah yang mana hal ini mempengaruhi
morbiditas dan mortalitas.
E. PATOFISIOLOGI
Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbulah
peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat serous.
Dengan sel polimorphonucleus (PMN) baik yang hidup maupun yang mati
dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi keruh dan kental.
Adanya endapan - endapan fibrin akan membentuk kantung - kantung
yang melokalisasi nanah tersebut. Sekresi cairan menuju celah pleura
normalnya membentuk keseimbangandengan drainase oleh limfatik
subpleura. Sistem limfatik pleura dapatmendrainase hampir 500 ml/hari.
Bila volume cairan pleura melebihi kemampuanlimfatik untuk
mengalirkannya maka, efusi akan terbentuk.
Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia
mencetuskan respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura
dapat meningkatkan permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan
sel terluardari pleura. Sel mesotelial yang terkena meningkat
permeabilitasnya terhadap albumin dan protein lainnya. Hal ini mengapa
suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein. Mediator kimia dari
proses inflamasi menstimulasi mesotelial untuk melepas kemokin, yang
merekrut sel inflamasi lain. Sel mesotelial memegang peranan penting
untuk menarik neutrofil ke celah pleura. Pada kondisi normal, neutrofil
tidak ditemukan pada cairan pleura. Neutrofil ditemukan pada cairan
pleura hanya jika direkrut sebagai bagian dari suau proses inflamasi.
Netrofil, fagosit, mononuklear, dan limfosit meningkatkan respon
inflamasi dan mengeleluarkanmediator untuk menarik sel-sel inflamator
lainya ke dalam pleura.
Efusi pleura parapneumoni dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan
patogenesisnya, yaitu efusi parapneumoni tanpa komplikasi, dengan
komplikasi dan empiema torakis. Efusi parapneumoni tanpa komplikasi
merupakan efusi eksudat predominanneutrofil yang terjadi saat cairan
interstisiil paru meningkat selama pneumonia.Efusi ini sembuh dengan
pengobatan antibiotik yang tepat untuk pneumonia. Efusi
parapneumonikomplikasi merupakan invasi bakteri pada celah pleura yang
mengakibatkan peningkatan jumlah neutrofil, asidosis cairan pleura dan
peningkatan konsentrasi LDH. Efusi ini sering bersifat steril karena bakteri
biasanya dibersihkan secara cepat dari celah pleura.Pembentukan empiema
terjadi dalam 3 tahap, yaitu :
1. Fase eksudatif : Selama fase eksudatif, cairan pleura steril
berakumulasisecara cepat ke dalam celah pleura. Cairan pleura memiliki
kadar WBC dan LDH yang rendah, glukosa dan pH dalam batas normal.
Efusi ini sembuh dengan terapi antibiotik, penggunaan chest tube tidak
diperlukan.
2. Fase fibropurulen : invasi bakteri terjadi pada celah pleura, dengan
akumulasi leukosit PMN, bakteri dan debris. Terjadi kecendrungan untuk
lokulasi, pH dan kadar glukosa menurun, sedangkan kadar LDH
menngkat.
3. Fase organisasi : Bentuk lokulasi. Aktivitas fibroblas menyebabkan
pelekatan pleura visceral dan parietal. Aktivitas ini berkembang dengan
pembentukan perlengketan dimana lapisan pleura tidak dapat dipisahkan.
Pus, yang kaya akan protein dengan sel inflamasi dan debris berada pada
celah pleura. Intervensi bedah diperlukan pada tahap ini.
Gambaran bakteriologis efusi parapneumoni dengan kultur positif
berubah seiring berjalannya waktu. Sebelum era antibiotik, bakteri yang
umumnya didapatkan adalah Streptococcus pneumoniae danstreptococci
hemolitik. Saat ini, organisme aerob lebih sering diisolasi dibandingkan
organisme anaerob. Staphylococcus aureus dan S pneumoniae tumbuh
pada 70 % kultur bakteri gram positif aerob. Bakteriologi suatu efusi
parapneumoni berhubungan erat dengan bakteriologi pada proses
pneumoni. Organisme aerob gram positif dua kali lebih sering diisolasi
dibandingkan organisme aerob gram negatif. Klebsiela, Pseudomonas, dan
Haemophilus merupakan 3 jenis organisme aerob gram negatif yang paling
sering diisolasi.
Bacteroides danPeptostreptococcus merupakan organisme anaerob
yang paling sering diisolasi. Campuran bakteri aerob dan anaerob lebih
sering menghasilkan suatu empiema dibandingkan infeksi satu jenis
organisme. Bakteri anaerob telah dikultur 36 sampai 76 % dari empiema.
Sekitar 70 % empiema merupakan suatu komplikasi dari pneumoni. Pasien
dapat mengeluh menggigil, demam tinggi, berkeringat, penurunan nafsu
makan, malaise, dan batuk. Sesak napas juga dapat dikeluhkan oleh
pasien.
PATHWAY DARI EMPIEMA
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Radiologi

a. Foto thoraks PA dan lateral didapatkan gambaran opacity yang


menunjukan adanya cairan dengan atau tanpa kelaina paru. Bila terjadi
fibrothoraks , trakhea di mediastinum tertarik ke sisi yang sakit dan
juga tampak adanya penebalan.
b. Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut
kostofrenikus pada posisi posteroanterior atau lateral.
c. Dijumpai gambaran yang homogen pada daerah posterolateral dengan
gambaran opak yang konveks pada bagian anterior yang disebut
dengan D-shaped shadow yang mungkin disebabkan oleh obliterasi
sudut kostofrenikus ipsilateral pada gambaran posteroanterior.
d. Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan
dengan efusi.
e. Air-fluid level dapat dijumpai jika disertai dengan pneumotoraks,
fistula bronkopleural.
2. Pemeriksaan pus
Aspirasi pleura akan menunjukan adanya pus di dalam rongga
dada(pleura). Pus dipakai sebagai bahan pemeriksaan sitologi,
bakteriologi, jamur dan amoeba. Untuk selanjutnya, dilakukan jkultur
(pembiakan) terhadap kepekaan antobiotik
3. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) :
a. Pemeriksaan dapat menunjukkan adanya septa atau sekat pada suatu
empiema yang terlokalisir.
b. Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk menentukan letak
empiema yang perlu dilakukan aspirasi atau pemasangan pipa drain.
4. Pemeriksaan CT scan :
a. Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya suatu penebalan dari
pleura.
b. Kadang dijumpai limfadenopati inflamatori intratoraks pada CT scan.
5. Sinar x.
a. Mengidentifikasi distribusi stuktural, menyatakan absesluas/infiltrate,
empiema (strafilokokus). infiltrat menyebar atau terlokalisasi
(bacterial).
6. GDA /nadi oksimetri.
a. Tidak normal mungkin terjadi,tergantung pada luas paru yang terlibat
dan penyakit paru yang ada.
7. Tes fungsi paru.
Dilakukan untuk menentukan penyebab dipsnea, untuk menentukan
apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk
memperkirakan derajat disfungsi.
8. Pemeriksaan Gram/kultur sputum dan darah
Dapat diambil dengan biopsy jarum,aspirasi transtrakeal,bronkoskopi
fiberoptik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme
penyebab. Lebih dari satu tipe organisme ada bakteri yang umum meliputi
diplokokus pneumonia, strafilokokus aureus, A-hemolitik streptokokus,
haemophilus influenza:CMV. Catatan: kultur sputum dapat tak
mengidentifikasi semua organisme yang ada, kultur darah dapat
menunjukkan bakterimia sementara.
9. EKG latihan,tes stress
Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru perencanaan/
evaluasi program latihan.

G. PENATALAKSANAAN
1. Pengosongan Nanah
Prinsip ini seperti umumnya yang dilakukan pada abses, untuk mencegah
efek toksisnya.
2. Closed drainage toracostomy water sealed drainage dengan indikasi :
a. Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
b. Nanah terus terbentuk setelah dua minggu
c. Terjadinya piopneumotoraks
d. Upaya WSD juga dapat dibantu dengan pengisapan negative sebesar
10-20 cmH2O. Jika setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan, harus
ditempuh cara lain seperti pada empiema kronis.
3. Drainase terbuka (open drainage)
Karena menggunakan kateter karet yang besar, maka perlu disertai juga
dengan reseksi tulang iga. Open drainage ini dikerjakan pada empiema
kronis, hal ini bisa terjadi akibat pengobatan yang terlambat atau tidak
adekuat misalnya aspirasi yang terlambat atau tidak adekuat, drainase tidak
adekuat sehingga harus seing mengganti atau membersihkan drain.
4. Antibiotic
Mengingat kematian sebagai akibat utama dari sepsis, maka antibiotic
memegang peranan penting. Antibiotic harus segera diberikan begitu
diagnosis ditegakkan dan dosisnya harus tepat. Pemilihan antibiotic
didasarkan pada hasil pengecatan gram dan apusan nanah. Pengobatan
selanjutnya tergantung pada hasil kultur dan sensitivitasnya. Antibiotic
dapat diberikan secara sistematik atau tropical. Biasanya diberikan
penisilin.
5. Penutupan Rongga Empiema
a. Pada empiema menahun sering kali rongga empiema tidak menutup
karena penebalan dan kekakuan pleura. Pada keadaan demikian
dilkukan pembedahan (dekortikasi) atau torakoplasti.
6. Dekortikasi, Tindakan ini termasuk operasi besar, dengan indikasi :
a. Drain tidak berjalan baik karena banyak kantung-kantung.
b. Letak empiema sukar dicapai oleh drain.
c. Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura visceralis.
7. Torakoplast
Jika empiema tidak mau sembuh karena adanya fistel bronkopleura
atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi. Pada pembedahan ini, segmen
dari tulang iga dipotong subperiosteal, dengan demikian dinding toraks
jatuh ke dalam rongga pleura karena tekanan atmosfer.
8. Pengobatan Kausal
Misalnya subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi
spesifik pada amoeboiasis, dan sebagainya.
9. Pengobatan Tambahan
Perbaiki keadaan umum lalu fisioterapi untuk membebaskan jalan napas.
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN EMPIEMA

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Nama
b. Umur
c. Suku/ bangsa
d. Agama
e. Alamat
f. Pendidikan
g. Pekerjaan
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : nyeri pada dada pleuritik
b. Riwayat kesehatan sekarang : yaitu panas tinggi dan nyeri pada dada
pleuritik. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan
dalam rongga pleura. Bila stadium ini dibiarkan sampai beberapa
minggu maka akan timbul toksemia, anemia, dan clubbing finger.
c. Riwayat kesehatan masa lalu : pernah mengalami radang paru-paru
(pneumonia), ,meningitis (radang selaput otak) dan infeksi darah
(sepsis).
d. Riwayat kesehatan keluarga : pernah terinfeksi bakteri Staphylococcus
atau Pneumococcus
e. Riwayat lingkungan : rumah yang kumuh, kotor, dekat dengan sampah,
f. Riwayat psikososial : stres psikologik sehingga menurunkan imunitas
tubuh.
3. Dasar Data Pengkajian Pasien
a. Pernapasan
Gejala : Nafas pendek, batuk menetap dengan produksi sputum stiap
hari, dispnea.
Tanda : Takipnea, dispnea, batuk, pengembangan pernafasan tak
simetri, perkusi pekak,penurunan fremits, bunyi nafas menurun/ tak
ada secara bilateral atau uni lateral.
b. Makanan / cairan
Gejala : mual, muntah, ketidakmampuan untuk makan karena distress
pernafasan, kehilangan nafsu makan.
Tanda : Turgor kulit buruk,kering, kehilangan tonus, berkeringat
c. Eliminasi
BAB dan BAK teratur.
d. Aktivitas
Gejala : Keletihan, kelelahan, dispnea pada saat istirahat atau respon
terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda : Keletihan, gelisah, kelemhan umum/ kehilangan massa otot,
takikardia, dispnea, nyeri
e. Istirahat dan Tidur
Gejala : Keletihan, kelelahan, dispnea pada saat istirahat atau respon
terhadap aktivitas atau latihan.
Tanda : Keletihan, gelisah, pucat, lemah.
f. Berpakaian
Gejala : Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda: pakaian pasien tidak pernah diganti, keluarga tampak
memakaikan klien pakaian.
g. Rasa nyaman
Data : nyeri, sesak.
Tanda : gelisah, meringis.
h. Rasa Aman
Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat atau factor-
faktor lingkungan adanya/ berulangnya infeksi.
i. Kebersihan Diri
Gejala : Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari.
Tanda : kebersihan buruk, bau badan.
j. Komuikasi dan Hubungan dengan orang lain
Gejala : Hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan dari/terhadap
pasangan/ orang terdekat, penyakit lama atau ketidakmampuan
membaik.
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara
karena distress pernafasan, kelalaian hubungan dengan anggota
keluarga lain.
k. Beribadah
Gejala: Klien lebih sering melakukan ibadah karena ingin sembuh dari
penyakitnya
Tanda: wajah tampak lebih tenang.
l. Bekerja
Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari.
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara
karena distress pernafasan, tidak bisa melakukan aktivitas dengan
normal.
m. Rekreasi
Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara
karena distress pernafasan, tidak pernak berekreasi dan lebih memilih
untuk tinggal di rumah
n. Belajar
Gejala : Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kegagalan
untuk membaik
Tanda: kondisi semakin memburuk karena menggunakan erbagai obat
untuk menyembuhkan diri
4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : demam, berkeringat, pucat, compos mentis,
ketakutan, gelisah, penurunan BB, dispnea, lemah.
b. Pemeriksaan TTV, RR : >24 x/mnt, Nadi : >100 x/mnt, TD :
>120/70 mmHg Suhu : >36,5 oC
c. Pemeriksaan kepala dan leher : batuk produktif, pernafasan cuping
hidung.
d. Pemeriksaan dada : nyeri pleuritik, penggunaan otot bantu pernafasan,
perkusi dada ditemukan suara flatness, palpasi ditemukan penurunan
fremitus, auskultasi dada ditemukan penurunan suara napas, funnel
chest.
e. Pemeriksaan abdomen : peristaltic usus < 8 x/mnt
f. Pemeriksaan ekstremitas : clubbing finger
5. Pemeriksaan penunjang
a. foto thorak
b. kultur darah
c. USG
d. Sampel sputum
e. Torakosenstesi
f. Pemeriksaan cairan Pleura
g. Hitung sel darah dan deferensiasi
h. Protein, LDH, glucose, dan pH
i. Kultur bakteri aerob dan an aerob, mikobakteri, fungi dan mikoplasma

B. MASALAH KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sputum,
obesitas.
2. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi tubuh.
3. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane kapiler-alveolar,
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
4. Nyeri pleuritik b.d empiema
5. Hypertermi b.d infeksi saluran pernapasan.
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, intoleransi
makanan, hilangnya nafsu makan, mual/ muntah.
7. Ansietas b.d nyeri pleuritik, dan ketidaktahuan.
8. Intoleransi aktivitas b.d perubahan respon pernapasan terhadap aktivitas.

C. RENCANA KEPERAWATAN
1. PRIORITAS MASALAH
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sputum,
obesitas.
b. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi tubuh.
c. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane kapiler-alveolar,
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
d. Nyeri pleuritik b.d empiema
e. Hypertermi b.d infeksi saluran pernapasan.
f. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia,
intoleransi makanan, hilangnya nafsu makan, mual/ muntah.
g. Ansietas b.d nyeri pleuritik, dan ketidaktahuan.
h. Intoleransi aktivitas b.d perubahan respon pernapasan terhadap
aktivitas.
2. RENCANA KEPERAWATAN

Masalah
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Ketidakefektifan Setelah diberikan asuhan 1. Kaji frekuensi atau 1. takipnea pernapasan dangkal dan gerakan
bersihan jalan selama 3x24 jam, diharapkan kedalaman pernapasan dada tak simetris terjadi karena
napas b.d dapat: dan gerakan dada. ketidaknyamanan gerakan. Gerakan
peningkatan mengidentifikasi/menunjukan dinding dada dan cairan paru paru.
produksi sputum perilaku mencapai bersihan 2. Auskultasi area paru,
2. Penurunan aliran darah terjadi pada area
obesitas jalan napas. catat area penurunan/tak ada
konsolidasi dengan cairan. Bunyi napas
aliran udara dan bunyi
bronchial (normal pada bronkus) dapat
Menunjukkan jalan napas napas adventisius, missal
terjadi juga pada area konsolidasi.
paten dengan bunyi napas krekels mengi.
Krekels, rongkhi, dan mengi terdengar
bersih, tidak ada dispnea,
pada inspirasi dan atau ekspirasi pada
sianosis. 333. Penghisapan sesuai dengan
respon terhadap pengumpulan cairan,
Mendemonstrasikan batuk indikasi
secret kental, dan spasme jalan
efektif
napas/obstruksi.
4. 4. Berikan cairan sedikitnya
3. Merangsang batuk atau pembersihan
2.500 ml/hari, tawarkan air
hangat.
jalan napas secara mekanik pada pasien
5.Ajarakan metode batuk yang tak mampu melakukan karena
efektif dan terkontrol batuk tak efektif atau penurunan tingkat
kesadaran
6. Pemeriksaan sputum
4. Cairan (khususnya yang hangat)
pasien di laboratorim
memobilisasi dan mengeluarkan sekret.

5. Batuk tidak terkontrol akan melelahkan


klien

4 6. Sputum yang di periksa guna untuk


mengetahui adanya penyakit lain

2 Ketidakefektifan Setelah diberikan asuhan 1. Kaji frekuensi, 1. Berguna dalam evaluasi derajat distress
pola napas b.d selama 3x24 jam diharapkan kedalaman pernapasan. pernapasan dan atau kronisnya proses
dispnea, pasien dapat: Catat penggunaan otot penyakit
2. Bunyi napas mungkin redup karena
ansietas, posisi a. Menunjukkan pola pernapasan aksesori, napas bibir,
penurunan aliran udara atau area
tubuh. efektif, dibuktikan dengan ketidakmampuan bicara. konsolidasi. Adanya mengi
2. Auskultasi bunyi napas,
status pernapasan yang tidak mengindikasikan spasme bronkus /
catat area penurunan
berbahaya : ventilasi dan status tertahannya secret
aliran udara dan atau 3. Penurunan tekanan vibrasi diduga ada
tanda vital
bunyi tambahan. pengumpulan cairan atau udara terjebak
b.
3. Palpasi fremitus 4. Salah saut faktor penyebab hiperventilasi
Menunjukkan status 4. Anjurkan klien untuk
adalah ansietas
pernapasan: ventilasi tidak tidak memikirkan hal-hal 5. Meningkatkan kemampuan kontrol
terganggu, ditandai dengan yang menyebabkan individu terhadap proses ekspirasi
6. Agar pernapasan dapat berjalan dengan
indicator gangguan sebagai ansietas
5. Pertimbangkan baik
berikut :
7. Posisi semifowler dapat mempermudah
penggunaan kantung
c. Kedalaman inspirasi
pasien dalam bernafas efektif
kertas saat ekspirasi latih
dankemudahan bernapas.
individu bernapas
perlahan dan efektif
d. Ekspansi dada simetris.
6. Pemberian oksigen
7. Jaga posisi agar tetap
e. Tidak adanya penggunaanotot semifowler
bantu.

f. Bunyi napas tambahan tidak


ada.

g. Napas pendek tidak ada

Setelah diberikan asuhan 1. Pantau perubahan tanda 1. Perubahan frekuensi jantung atau TD
selama 3X24 jam diharapkan vital menunjukkan bahwa pasien mengalami
2. Jika tidak dapat berjalan,
Gangguan pasien dapat: nyeri, khususnya bila alasan lain untuk
tetapkan suatu aturan
pertukaran gas Menyatakan nyeri perubahan tanda vital telah terlihat.
untuk turun dari tempat 2. Meningkatkan kemampuan ekspansi
b.d perubahan hilang/terkontro
tidur, duduk di kursi paru. Jika klien dalam posisi duduk,
membrane Menunjukkan rileks,
beberapa hari sekali kemampuan ekspansi paru akan
3 kapiler-alveolar, istirahat/tidur, dan peningkatan
3. Bantu reposisi, setiap
meningkat.
ketidakseimban aktivitas dengan tepat.
jam jika mungkin 3. Membantu drainase postural, mencega
gan perfusi- Mencapai fungsi paru yang 4. Dorong klien untuk
depresi jaringan paru atau dada untuk
ventilasi. maksimal. melakukan latihan napas
pernapasan.
Mengutarakan pentingnya dalam dan latihan batuk 4. Meningkatkan ekspansi paru dan asupan
latihan paru setiap hari terkontrol 5 kali setiap oksigen kedalam paru dan sistem
jam peredaran darah.
D. KRITERIA EVALUASI
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi
sputum, obesitas.
a. Mengidentifikasi/menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan
napas.
b. Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, tidak
ada dispnea, sianosis.
c. Mendemonstrasikan batuk efektif
2. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi tubuh.
a. Menunjukkan pola pernapasan efektif, dibuktikan dengan status
pernapasan yang tidak berbahaya : ventilasi dan status tanda vital
b. Menunjukkan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu,
ditandai dengan indicator gangguan sebagai berikut
c. Kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas.
d. Ekspansi dada simetris.
e. Tidak adanya penggunaan otot bantu.
f. Bunyi napas tambahan tidak ada.
g. Napas pendek tidak ada
3. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane kapiler-alveolar,
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
a. Menyatakan nyeri hilang/terkontrol
b. Menunjukkan rileks, istirahat/tidur, daan peningkatan aktivitas
dengan tepat.
c. Mencapai fungsi paru yang maksimal.
d. Menutarakan pentingnya latihan paru setiap hari
DAFTAR PUSTAKA

Morton, Gallo, Hudak, 2012. Keperawatan Kritis Volume 1 dan 2 Edisi 8. EGC
, Jakarta.
Price, Sylvia A. Dkk.2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Edisi 6 Volume 1. EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzanna C. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner
dan Suddarth Edisi 8 Volume 2. EGC, Jakarta.
T. Heather Herdman. Ph D, RN. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. EGC. Jakarta