Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kesehatan bersifat komprehensif yang meliputi seluruh aspek

kehidupan untuk mencapai suatu keadaan sejahtera baik fisik, mental/jiwa,

sosial, atau spiritual. Kesehatan didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera

secara fisik, mental, dan sosial yang optimal dan bukan hanya bebas dari

penyakit atau kelemahan (World Health Organization, 2005).


Menurut Potter dan Perry (2009) ada faktor internal dan eksternal

yang berpengaruh terhadap kesehatan individu yang terdiri atas: tingkat

perkembangan, latar belakang intelektual, persepsi tentang fungsi, emosional,

spiritual, perilaku keluarga, dan sosioekonomi. Semua faktor-faktor yang

dapat mempengaruhi kesehatan tersebut harus saling berkesinambungan

sesuai tugas dan fungsinya agar tercapai derajat kesehatan yang lebih baik.
Kesehatan jiwa sangat erat kaitannya dengan konsep tentang

kesehatan secara umum. Individu yang sehat jiwa dapat beradaptasi dari

lingkungan internal dan eksternal sesuai norma dan budayanya. Kesehatan

jiwa didefinisikan sebagai suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan

sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan, perilaku

dan koping yang efektif, konsep diri yang positif, dan kestabilan emosional

(Videbeck, 2008).
Menurut National Alliance of Mental Illness (NAMI) (2015)

gangguan jiwa adalah suatu kondisi yang mempengaruhi pikiran seseorang,

perasaan dan suasana hati (mood) serta dapat mempengaruhi kemampuannya

1
2

untuk berhubungan dengan orang lain. Setiap orang akan memiliki

pengalaman yang berbeda, bahkan dengan orang-orang yang diagnosisnya

sama.
Fenomena gangguan jiwa saat ini mengalami peningkatan yang sangat

signifikan, dan setiap tahun berbagai belahan dunia jumlah penderita

gangguan jiwa bertambah. Berdasarkan data dari World Health Organization

(WHO) (2001 dalam Yosep, 2013), ada sekitar 450 juta orang didunia

mengalami gangguan jiwa, setidaknya ada satu dari empat orang didunia

mengalami gangguan mental dan masalah kesehatan gangguan jiwa yang ada

diseluruh dunia sudah menjadi masalah yang sangat serius.


Penderita gangguan jiwa rata-rata nasional dengan gangguan mental

emosional ringan, seperti: cemas dan depresi pada penduduk berusia 15 tahun

keatas mencapai 19 juta jiwa (11,6%). Penderita gangguan jiwa dengan

gangguan mental berat, seperti: psikotis, skizofrenia, dan depresi berat

berjumlah sekitar 1 juta jiwa (0,46%). Penderita gangguan jiwa ringan pada

perempuan terjadi dua kali lebih banyak dibanding laki-laki dan sangat

dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Penderita gangguan jiwa berat lebih

banyak diderita laki-laki daripada perempuan (Depkes, 2007). Prevalensi

masalah kesehatan jiwa di Indonesia sebesar 6,55%. Data dari Rumah Sakit

Jiwa yang ada di seluruh Indonesia menyebutkan hingga kini jumlah

penderita gangguan jiwa berat mencapai 2,5 juta orang (Maslim, 2011).
Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil.

Gangguan jiwa terbanyak di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali dan

Jawa Tengah (Depkes, 2013). Jumlah kunjungan pasien gangguan jiwa tahun

2011 di Provinsi Riau sebanyak 29.727 orang, pada tahun 2012 menurun
3

menjadi 18.343 orang, pada tahun 2013 meningkat menjadi 26.138 orang

(Dinkes Prov. Riau 2013). Sedangkan, jumlah kunjungan di Rumah Sakit

Jiwa Tampan Pekanbaru pada tahun 2014 sebanyak 19.911 orang dan pada

tahun 2015 (Januari-September) sebanyak 21.699 orang (LAKIP RSJ Tampan

Pekanbaru, 2015).
Menurut Wartonah (2007, dalam Sasmita, 2012) gangguan jiwa dapat

terjadi dalam bentuk halusinasi, perilaku kekerasan, isolasi sosial, harga diri

rendah, dan defisit perawatan diri. Kebutuhan aktifitas perawatan diri

merupakan fokus dalam asuhan keperawatan jiwa, sehingga perawat harus

memiliki kemampuan dan pengetahuan cara pemenuhan kebutuhan aktifitas

perawatan diri klien dengan memantau dan mengikuti perkembangan

kemampuan pasien dalam melaksanakan aktifitas perawatan diri terutama

pasien gangguan jiwa yang mengalami defisit perawatan diri.


Defisit perawatan diri merupakan salah satu diagnosa keperawatan yang

sering ditemukan di keperawatan jiwa karena adanya gangguan kemampuan

melakukan aktivitas yang terdiri dari mandi, berpakaian, berhias, makan,

toileting atau kebersihan diri secara mandiri (NANDA, 2012). Defisit

perawatan diri adalah suatu keadaan dimana seseorang yang mengalami

hambatan atau gangguan dalam kemampuan untuk melakukan atau

menyelesaikan aktifitas perawatan diri, seperti mandi, berpakaian, makan,

dan eliminasi untuk diri sendiri (NANDA, 2012; Wilkinson, 2011).

Pengukuran defisit perawatan diri didasarkan pada tingkat kemampuan pasien

dalam melakukan perawatan diri sesuai dengan batasan karakteristik menurut

NANDA (2012) dan Wilkinson (2011). Klasifikasi penggolongan tingkat

kemampuan perawatan diri pasien dibagi menjadi mandiri total, perlu


4

menggunakan alat bantu, semi mandiri, ketergantungan sebagian, dan

ketergantungan total (Wilkinson, 2011).


Sebuah penelitian melaporkan bahwa upaya perawatan diri yang

adekuat sangat dibutuhkan bagi klien yang mengalami gangguan jiwa untuk

memenuhi keinginan mereka dalam mencapai kehidupan yang normal

(Moore & Pichler, 1999 dalam Susanti, 2010). Ada beberapa terapi untuk

merubah gangguan perilaku pasien dengan defisit perawatan diri diantaranya:

terapi kognitif, terapi keluarga, terapi lingkungan dan terapi perilaku. Salah

satu jenis terapi perilaku yang bisa digunakan adalah metode Token Economy
Token economy merupakan wujud modifikasi perilaku yang dirancang

untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang

tidak diinginkan dengan pemakaian Token (tanda-tanda). Secara singkatnya

Token Ekonomi merupakan sebuah sistem reinforcement untuk perilaku yang

dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi/diberikan penguatan untuk

meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan (Nasir & Muhith,

2011). Berdasarkan hasil penelitian Gholipur, et al (2012) menyebutkan

bahwa Token Economy mampu menurunkan gejala perilaku negatif sebanyak

58,8% pada pasien skizofrenia. Penelitian oleh Kokaridas juga menyebutkan

bahwa Token Economy mampu membantu dalam memperbaiki kualitas hidup

pasien skizofrenia sebanyak 60%.


Jumlah pasien rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau

pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai dengan September sebanyak 2.224

orang dengan pasien halusinasi berjumlah 844 orang (38%), resiko perilaku

kekerasan 516 orang (23,3%), isolasi sosial 213 orang (9,6%), harga diri

rendah 142 orang (6,4%), waham 103 orang (4,6%), resiko bunuh diri 52
5

orang (2,3%), napza 16 orang (0,7%) dan desifit perawatan diri 338 orang

(15,2%).
Pasien defisit perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi

Riau mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data rekapitulasi

tahun tahun 2011 sebanyak 104 orang (9,7%), tahun 2012 sebanyak 335

orang (7,3%), tahun 2013 sebanyak 342 (9,8%) dan tahun 2014 sebanyak 357

orang (26,6%) (LAKIP RSJ Tampan, 2014).


Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau mempunyai lima ruangan

Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) dengan masalah

keperawatan defisit perawatan diri yaitu: di ruang Kuantan sebanyak 7 orang

pasien (22,6%), di ruang Siak sebanyak 6 orang pasien (27,3%), di ruang

Sebayang sebanyak 2 orang pasien (5,5%), di ruang Indragiri sebanyak 11

orang pasien (36,6%) dan di ruang Kampar 1 orang pasien (5%).


Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah satu perawat Rumah

Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau pada tanggal 24 November 2015,

menyebutkan bahwa sudah dilakukan terapi generalis untuk mengatasi

masalah defisit perawatan diri, namun belum optimal. Belum ada terapi lain

yang diterapkan dalam mengatasi masalah defisit perawatan diri, termasuk

terapi perilaku: token economy. Menurut Stuart (2012) Token Economy ini

dapat diterapkan dalam mengubah perilaku pasien dengan defisit perawatan

diri.
Berdasarkan survey pada 5 orang pasien di ruang Indragiri ditemukan

pasien yang tampak kumal (40%), bau (80%), sering menggaruk-garuk kepala

(akibat kutu rambut) (60%), penampilan tidak rapi (80%), makanan

berceceran (60%) dan tidak membersihkan diri dengan baik setelah

BAB/BAK (40%).
6

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut

tentang pengaruh terapi perilaku: Token Economy terhadap perawatan diri

pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa

Tampan Provinsi Riau.

B. RUMUSAN MASALAH

Defisit perawatan diri adalah salah satu perilaku pasien skizofrenia

yang mengalami hambatan dalam melakukan perawatan diri. Padahal telah

sering dilakukannya strategi pelaksanaan yang dilakukan oleh perawat

ruangan dan mahasiswa residensi yang praktek di Rumah Sakit Jiwa Tampan

Provinsi Riau.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis membuat rumusan masalah

yaitu Apakah terapi perilaku: Token Economy dapat mempengaruhi

perawatan diri pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri di

Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau?.

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh terapi perilaku: Token Economy terhadap

perawatan diri pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri di

Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.


2. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui kemampuan pasien gangguan jiwa dengan defisit

perawatan diri dalam perawatan diri sebelum diberi terapi perilaku:

Token Economy di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.


7

b. Untuk mengetahui kemampuan pasien gangguan jiwa dengan defisit

perawatan diri dalam perawatan diri sesudah diberi terapi perilaku:

Token Economy di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.


c. Untuk mengetahui pengaruh terapi perilaku: Token Economy

terhadap perawatan diri pasien gangguan jiwa dengan defisit

perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Pelayanan Kesehatan
Bagi pelayanan kesehatan khususnya perawat ruangan dapat memberikan

asuhan keperawatan pada pasien defisit perawatan diri dengan tepat.


2. Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang perbedaan

kemampuan pasien defisit perawatan diri dalam merawat diri sebelum

dan sesudah terapi perilaku: Token Economy.


3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam pembelajaran atau

penelitian yang lebih lanjut.