Anda di halaman 1dari 41

Pengaruh Persistensi Laba, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan

dan Alokasi Pajak Antar Periode Terhadap Kualitas Laba


(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)

Oleh:

SONYA ROMASARI
2009/13077

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

Wisuda Periode Juni 2013


Pengaruh Persistensi Laba, Struktur Modal, Ukuran Perusahaan
dan Alokasi Pajak Antar Periode Terhadap Kualitas Laba
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)

Sonya Romasari
Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
Jl. Prof. Dr. Hamka Kampus Air Tawar Padang
Email : onyaspecta@yahoo.co.id

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah (1) pengaruh persistensi laba tehadap kualitas laba, (2)
pengaruh struktur modal terhadap kualitas laba (3) pengaruh ukuran perusahaan terhadap kualitas laba
dan (4) pengaruh alokasi pajak antar periode terhadap kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian ini digolongkan sebagai penelitian yang bersifat
kausatif. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. Sampel ditentukan berdasarkan metode
purposive sampling, sehingga didapatkan sampel sebanyak 76 perusahaan manufaktur. Data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan
teknik dokumentasi yang diperoleh melalui situs resmi IDX: www.idx.co.id dan diperoleh dari website:
www.yahoofinace.com. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian
membuktikan bahwa (1) persistensi laba tidak berpengaruh terhadap kualitas laba, (2) struktur modal
tidak berpengaruh terhadap kualitas laba, (3) ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap kualitas
laba dan (4) alokasi pajak antar periode berpengaruh signifikan negatif terhadap kualitas
laba.Berdasarkan hasil penelitian diatas, disarankan: (1) Untuk penelitian yang sama, sebaiknya
menggunakan alat ukur lain dan menggunakan periode lebih dari 4 tahun agar periode pengamatan
lebih panjang. (2) Melakukan penelitian tentang pengaruh lain, seperti dari risiko sistematis, likuiditas,
investment opportunity set, dan kesempatan bertumbuh.
Kata kunci: Kualitas laba, Persistensi laba, Struktur modal, Ukuran perusahaan, Alokasi pajak antar
periode.

Absctract
The aimed of this research to test the effect of earnings persistence, capital structure, firm sized, and
inter-period tax allocation to the quality of earnings in manufacturing companies listed on the Indonesia
Stock Exchange. This study is classified to causative research. The population of this study is
companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2008 to 2011. Samples was determined by
purposive sampling method. There are 76 manufacturing companies. Data was collected by IDX
official website: www.idx.co.id and obtained from the website: www.yahoofinace.com. Analysis of the
data was use as multiple regression analysis. The result that inter-period tax allocation of a significant
negative effect on the quality of earnings but the persistence of earnings, capital structure, firm size
does not affect the quality of earnings. Based on the research, we can suggested: for the next research
you should use another variables such as systematic risk, liquidity, investment opportunity set, and a
chance to grow and add the longer period of observation.
Keywords: Quality of earnings, earnings persistence, capital structure, company size, inter-period tax
allocation.

1
1. PENDAHULUAN akan semakin tinggi koefisien respon laba
Teori pasar efisien menunjukkan yang menunjukkan kualitas labanya baik.
bahwa pasar akan bereaksi segera terhadap Struktur modal diukur berdasarkan rasio
informasi baru. Menurut Husnan (2005), antara total hutang dengan total aktiva.
Pasar efisien adalah harga keseimbangan Dalam penelitian ini struktur modal dilihat
yang mencerminkan semua informasi yang dari leveragenya. Semakin tinggi tingkat
tersedia bagi para investor pada suatu titik utang maka financial leverage juga akan
waktu tertentu. Laporan keuangan semakin tinggi. Jadi, meskipun kondisi
merupakan media bagi perusahaan untuk laba perusahaan semakin baik, pemegang
memberikan informasi penting kepada saham beranggapan bahwa laba tersebut
publik, khususnya bagi mereka yang hanya menguntungkan kreditur. Sehingga
menggunakan laporan keuangan untuk laba yang dihasilkan perusahaan kurang
tujuan pengambilan keputusan ekonomi direspon oleh pasar.
(Jumingan, 2006). Laporan laba rugi Ukuran perusahaan dapat
merupakan bagian dari laporan keuangan menentukan baik tidaknya kinerja
yang menyajikan laba (earnings) yang perusahaan. Investor biasanya lebih
diperoleh perusahaan dalam suatu periode. memiliki kepercayaan pada perusahaan
Bagi para investor, informasi laba penting besar, karena perusahaan besar dianggap
untuk mengetahui kualitas laba suatu mampu untuk terus meningkatkan kinerja
perusahaan sehingga mereka dapat perusahaannya dengan berupaya
mengurangi risiko informasi. Investor meningkatkan kualitas labanya. Pada saat
tidak mengharapkan kualitas informasi pengumuman laba, informasi laba akan
laba yang rendah (low quality) karena direspon positif oleh pasar. Dengan
merupakan sinyal alokasi sumber daya demikian semakin besar ukuran
yang kurang baik. Menurut C handarin perusahaan akan membuat investor
(2003) dalam Jang dkk (2007), laba semakin merespon laba yang diumumkan.
akuntansi yang berkualitas adalah laba Alokasi pajak antar periode menerapkan
akuntansi yang mempunyai sedikit hasil penerapan konsep akuntansi akrual
gangguan persepsian di dalamnya dan yang tercermin dari jumlah beban dan
dapat mencerminkan kinerja keuangan penghasilan pajak tangguhan yang
perusahaan yang sesungguhnya. Semakin dilaporkan bersamaan dengan beban pajak
besar gangguan persepsian yang kini dalam laporan laba rugi. Menurut
terkandung dalam laba akuntansi, maka Akhmad, 2006 sebagian besar investor
semakin rendah kualitas laba akuntansi belum sepenuhnya mampu
tersebut. Kualitas laba dalam penelitian ini menginterpretasikan dengan baik tentang
diukur dengan earnings response substansi penghasilan (beban) pajak
coefficients. tangguhan yang dilaporkan dalam laporan
Beberapa faktor yang laba-rugi. Menurut akuntansi akrual,
mempengaruhi kualitas laba yang diukur penghasilan pajak tangguhan yang
dengan koefisien respon laba, diantaranya: dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun
persistensi laba, struktur modal, ukuran berjalan secara substansial merefleksikan
perusahaan dan alokasi pajak antar penghematan pembayaran pajak yang
periode. Persistensi laba menunjukkan masih akan diperoleh perusahaan pada
kemampuan perusahaan dalam tahun-tahun mendatang atau penghematan
mempertahankan laba dari waktu ke pembayaran pajak yang telah diperoleh
waktu. Persistensi laba dapat dilihat dari perusahaan lebih dulu pada tahun-tahun
inovasi laba tahun berjalan yang lalu. Demikian pula, beban pajak
dihubungkan dengan perubahan harga tangguhan secara substansial
saham (Scott, 2009). Semakin permanen merefleksikan adanya beban pajak yang
perubahan laba dari waktu ke waktu maka masih harus dibayarkan oleh perusahaan

2
pada tahun-tahun mendatang atau beban Farma. Kasus ini mengharuskan penilaian
pajak yang sudah dibayar lebih dulu oleh kembali (restatement) laba yang
perusahaan pada tahun-tahun yang lalu. dilaporkan perusahaan PT Kimia Farma
Kekurang-mampuan investor untuk pada periode-periode yang lalu. Karena
menginterpretasikan substansi penghasilan terdapat indikasi bahwa manajemen
(beban) pajak tangguhan tersebut, akan melakukan penggelembungan (mark up)
mendorong investor untuk lebih berhati- laba. Selain itu, PT KF juga melakukan
hati dalam merespon laba akuntansi. pencatatan ganda atas penjualan pada 2
Walaupun investor menyadari bahwa unit usaha. Pencatatan ganda itu dilakukan
penghasilan (beban) pajak tangguhan pada unit-unit yang tidak disampling oleh
merupakan hasil dari proses akrual auditor eksternal
akuntansi, namun karena tidak didukung (www.tempointeraktif.com).
oleh kemampuan untuk Penelitian ini dilakukan pada
menginterpretasikan substansinya, maka perusahaan manufaktur yang terdaftar di
keinformatifan laba akuntansi bagi BEI. Hal ini dilakukan dengan alasan
investor menjadi berkurang. Oleh karena bahwa perusahaan manufaktur merupakan
itu, investor kurang memberikan respon kelompok dominan pada seluruh
terhadap perusahaan yang melaporkan perusahaan yang terdaftar di BEI. Dengan
penghasilan (beban) pajak tangguhan di demikian, kesimpulan yang diperoleh
dalam laporan laba-rugi. Hal ini tercermin dapat mewakili seluruh perusahaan yang
dari rendahnya koefisien respon laba yang terdaftar di BEI. Terkait dengan variabel
mengindikasikan bahwa rendahnya pada penelitian ini, di mana salah satu
kualitas laba. variabel penelitian adalah ukuran
Penelitian terdahulu tentang kualitas perusahaan yang diukur dengan melihat
laba yang diukur dengan earnings total asetnya dan perusahaan yang
response coefficient telah banyak memiliki total aset yang cukup besar
dilakukan sebelumnya, diantaranya adalah adalah perusahaan manufaktur. Terkait
Sri dan Nur (2007) hasil penelitiannya dengan salah satu skandal keuangan yang
yaitu faktor-faktor yang seperti persistensi terjadi di PT. Kimia farma yang sudah
laba, struktur modal, beta, kesempatan dijelaskan sebelumnya juga merupakan
bertumbuh, ukuran perusahaan dan salah satu perusahaan manufaktur yang
kualitas auditor berpengaruh signifikan terdaftar di BEI. Penelitian ini
terhadap earnings respons coefficient. menggunakan empat variabel yang
Risky (2009) juga meneliti tentang faktor mempangaruhi kualitas laba yang diukur
faktor yang mempengaruhi earnings dengan earnings response coefficient yaitu
response coefficient. Hasil penelitiannya persistensi laba, struktur modal, ukuran
alokasi pajak antar periode tidak perusahaan dan alokasi pajak antar
berpengaruh signifikan terhadap kualitas periode. Penelitian yang penulis lakukan
laba yang diukur dengan earnings adalah dengan melihat data-data perusahan
response coefficient. Tidak sejalan dengan sektor manufaktur yang terdaftar di BEI
hasil penelitian Rizky (2009) menurut dari tahun 2008-2011.
hasil penelitian Akhmad (2006) Selain masalah ketidak konsistenan
menyatakan alokasi pajak antar periode beberapa hasil penelitian, alasan penulis
berpengaruh signifikan terhadap kualitas melakukan penelitian terkait dengan
laba. kualitas laba, persistensi laba, struktur
Di Indonesia permasalahan tentang modal, ukuran perusahaan dan alokasi
kredibilitas atas informasi laba ini sering pajak antar periode sebagai variabel antara
terjadi sehingga menyebabkan turunnya lain sebagai berikut: pertama, informasi
kepercayaan investor terhadap kualitas laba merupakan informasi penting bagi
laba. Seperti yang terjadi di PT. Kimia investor dalam mengambil keputusan

3
terkait dengan investasi yang akan alokasi pajak antar periode dalam
dilakukan sehingga kualitas informasi laba kaitannya terhadap kualitas laba
yang dilaporkan perusahaan menjadi pada perusahaan manufaktur yang
perhatian utama. Karena laba yang tidak terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
berkualitas akan menyesatkan investor 2. Bagi peneliti lain, dapat digunakan
dalam mengambil keputusan. Kedua, untuk mengembangkan teori atau
meskipun terdapat beberapa faktor yang penelitian lain khususnya terkait
mempengaruhi kualitas laba yang di persistensi laba, struktur modal,
laporkan perusahaan. Namun, faktor-faktor ukuran perusahaan dan alokasi pajak
ini merupakan hal penting dan harus antar periode terhadap kualitas laba
diperhatikan sebelum melakukan investasi. pada perusahaan manufaktur yang
Apabila perusahaan mampu terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
mempertahankan labanya secara terus 3. Bagi mahasiswa, diharapkan bisa
menerus (persisten) akan menunjukkan menjadi bahan pertimbangan bagi
kualitas laba perusahaan yang baik. Dalam mahasiswa dalam menyusun
Scott (2009) persistensi laba digunakan penelitian ilmiah dengan topik yang
sebagai salah satu alat ukur untuk melihat sama guna menambah pengetahuan
kualitas laba. Investor juga harus mengenai kualitas laba.
mempertimbangkan sumber pendanaan 4. Bagi investor, diharapkan
yang ekonomis terkait risiko yang dihadapi bermanfaat untuk mengetahui
oleh investor dari tingkat pengembalian di perilaku manajemen dalam
masa akan datang. Subramanyam (1996) menyajikan laporan keuangannya
dalam Hanung (2007) menyatakan bahwa sehingga dapat dijadikan dasar
ukuran perusahaan merupakan salah satu dalam mengambil keputusan untuk
ukuran kinerja yang sering digunakan berinvestasi.
sebagai dasar pengambilan keputusan.
Perusahaan besar dianggap sudah mampu 2. TELAAH LITERATIUR DAN
meningkatkan kinerja perusahaaan dan PENEMBANGAN HIPOTESIS
meningkatkan kualitas labanya. Pasar Efisien
Sedangkan, alokasi pajak antar periode Menurut Tandelilin (2001) pasar
mampu mencerminkan laba bersih efisien adalah pasar dimana harga semua
sebenarnya yang dihasilkan oleh sekuritas yang diperdagangkan telah
perusahaan. mencerminkan semua informasi yang
Berdasarkan latar belakang yang tersedia. Informasi yang tersedia meliputi
diuraikan sebelumnya, tujuan penelitian ini informasi masa lalu, informasi saat ini,
adalah mengetahui: serta informasi yang bersifat sebagai
1. Pengaruh persistensi laba akuntansi pendapat atau opini rasional yang bisa
terhadap kualitas laba. mempengaruhi perubahan harga.
2.Pengaruh struktur modal terhadap Jika pasar efisien dan semua
kualitas laba. informasi bisa didapatkan dengan mudah
3.Pengaruh ukuran perusahaan dan dengan biaya yang murah oleh semua
terhadap kualitas laba. pihak yang ada di pasar, maka harga yang
4.Pengaruh alokasi pajak antar periode terbentuk adalah harga keseimbangan
terhadap kualitas laba. (Tandelilin, 2001). Semua informasi yang
Penelitian ini diharapkan memberikan masuk ke pasar akan langsung tercermin
manfaat: pada harga pasar saham yang baru,
1.Bagi peneliti, dapat lebih memahami sehingga tidak seorangpun investor yang
dan menambah cakrawala berpikir memperoleh abnormal return. Oleh karena
dalam hal persistensi laba, struktur itu, aspek penting dalam menilai efisiensi
modal, ukuran perusahaan dan pasar adalah seberapa cepat suatu

4
informasi baru diserap oleh pasar yang keuangan yang mendasari keputusan.
tercermin dalam penyesuaian menuju Dechow (2010) mengklasifikasikan proksi
harga keseimbangan yang baru. dari kualitas laba ke dalam tiga kategori
Fama (1970) dalam Tandelilin utama yaitu: sifat laba (properties of
(2001) mengklasifikasikan bentuk pasar earnings), respon investor terhadap laba
yang efisien ke dalam tiga Efficient (investor responsiveness to earning), dan
Market Hypothesis (EMH), yaitu: indikator eksternal dari salah saji laba
1) Efisien dalam bentuk lemah (weak (indicators external of earnings
form), pasar efisien dalam bentuk misstatement).
lemah berarti semua informasi di masa Kategori pertama meliputi:
lalu (historis) akan tercermin dalam persistensi laba (earnings persistence),
harga yang terbentuk sekarang. ukuran besarnya akrual (magnitude of
2) Efisien dalam bentuk setengah kuat accruals), nilai sisa model akrual (residual
(semistrong form), merupakan bentuk models accrual), perataan laba (earnings
efisiensi pasar yang lebih smoothness), dan ketepatan pengakuan
komprehensif karena dalam bentuk ini rugi (timely loss recognition). Kategori
harga saham di samping dipengaruhi kedua meliputi : earnings response
oleh data pasar (harga saham dan coefficient (ERC). Dan kategori ketiga
volume perdagangan di masa lalu), meliputi: Accounting and Auditing
juga dipengaruhi oleh semua informasi Enforcement Releases (AAERs),
yang dipublikasikan (seperti earning, pernyataan kembali (restatements), dan
dividen, pengumuman stock split, ketidakefisienan prosedur internal kontrol
penerbitan saham baru, dan kesulitan berdasarkan Sarbanes Oxley Act (internal
keuangan yang dialami perusahaan. control procedure deficiencies reported
3) Efisien dalam bentuk kuat (strong under the Sarbanes Oxley Act).
form), pasar efisien dalam bentuk kuat, Kualitas laba dalam penelitian ini
semua informasi baik yang terpublikasi dilihat dari respon investor terhadap laba.
atau tidak dipublikasikan, sudah Koefisien respon laba adalah ukuran
tercermin dalam harga sekuritas saat besaran abnormal return suatu sekuritas
ini. sebagai respon terhadap komponen laba
kejutan (unexpected earnings) yang
Kualitas Laba dilaporkan oleh perusahaan yang
Dechows (2010), mendefenisikan mengeluarkan sekuritas tersebut (Scott,
kualitas laba sebagai berikut: Higher 2009). Earnings response coefficient dapat
quality earnings provide more information diukur melalui beberapa tahap
about the features of a firms financial perhitungan. Tahap pertama menghitung
performance that are relevant to a specific cumulative abnormal return (CAR) dan
decision made by a specific decision- tahap kedua menghitung unexpected
maker. Dari definisi di atas, terdapat tiga earnings (UE).
hal yang harus digarisbawahi. Pertama, Perhitungan Akumulasi Return
kualitas laba tergantung pada informasi Tidak Normal (ARTN) atau Cummulative
yang relevan dalam membuat keputusan. Abnormal Return (CAR) untuk masing-
Dengan demikian, pedefenisian kualitas masing perusahaan merupakan akumulasi
laba di atas hanya dalam konteks model dari rata-rata abnormal return selama
keputusan tertentu. Kedua, kualitas dari periode jendela dengan menggunakan
angka laba yang dilaporkan dilihat dari rumus berikut ini:
apakah informasi tersebut menggambarkan
kinerja keuangan suatu perusahaan. . = .

Ketiga, kualitas laba secara bersama-sama =

ditentukan oleh relevansi dari kinerja

5
Return pasar harian dihitung sebagai
berikut (Jogiyanto, 2007):
=

Keterangan:
Rmt :Return pasar harian
R IHSGt :Indeks harga saham gabungan
T pada hari t

Keterangan:
ARTNi.t:Akumulasi Return Tidak Normal
(cummulative abnormal return)
sekuritas i pada waktu t, yang
diakumulasi dari return tidak
normal (RTN) sekuritas ke-i
mulai hari awal periode peristiwa
(t) sampai hari ke-t
:Return tidak normal (abnormal
return) untuk sekuritas ke-i pada
hari ke-a, yaitu mulai t3 (hari awal
periode jendela) sampai hari ke-t

Untuk menentukan return tidak


normal, digunakan selisih antara return U
sesungguhnya yang terjadi dengan return E

pasar (Soewardjono, 2005): i

RTNit = Rit-Rmt
Keterangan:
RTNit : return tidak normal sekuritas ke-i
pada periode peristiwa ke-t.
Rit : return sesungguhnya yang terjadi
untuk sekuritas ke-i pada periode
peristiwa ke-t
Rmt : return pasar (market) pada
periode peristiwa ke-t

Untuk memperoleh data abnormal


return, terlebih dahulu harus mencari
return saham harian dan return pasar
harian
Return saham harian dihitung dengan
rumus (Soewardjono, 2005) :
( )

Keterangan:
Rit : Return saham perusahaan i pada hari t
Pit : Harga penutupan saham i pada hari t P it-
1:Harga penutupan saham i pada hari t-1
IHSGt-1 :Indeks harga sahamgabungan akuntansi periode mengukur
pada hari t-1 sekarang dengan pembanding
laba akuntansi antara total utang
Unexpected earnings diukur menggunakan periode yang lalu. dengan total
pengukuran laba per lembar saham (Jogiyanto, Skala data yang aktiva. Dengan
2007): digunakan adalah kata lain,
EPSt EPS t-1
rasio, dengan seberapa besar
UEIt = rumus : aktiva
Keterangan: EPSt-1 Eit perusahaan
E
it-1
UEit :Unexpected earnings perusahaan = dibiayai oleh
i pada periode (tahun) t 0 utang atau
EPS it :Laba akuntansi perusahaan i + seberapa besar
pada periode (tahun) t 1 utang perusahaan
0
EPS
1 it-1 :Laba akuntansi perusahaan i Eit berpengaruh
pada periode (tahun) sebelumnya -1+ terhadap
it pengelolaan
Keterangan: aktiva.
Earnings response coefficient akan dihitung Eit : laba
dari slope b pada hubungan CAR dengan UE akuntansi
(Chandarin,2001 dalam Christine, 2008) yaitu : (earnings)
setelah
CARit = a + bUEit + it

Keterangan:
CARit :Abnormal return kumulatif
perusahaan i selama perioda amatan +
3 hari dari publikasi laporan keuangan
:Unexpected earnings
:Komponen error dalam model atas
perusahaan i pada perioda t

Persistensi Laba
Definisi persistensi laba menurut
Scott (2009) adalah revisi laba yang
diharapkan dimasa mendatang (expected
future earnings) yang diimplikasikan
oleh inovasi laba tahun berjalan
sehingga persistensi laba dilihat dari
inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan
dengan perubahan harga saham. Besarnya
revisi ini menunjukan tingkat persistensi laba.
Inovasi terhadap laba sekarang adalah
informatif terhadap laba masa depan
ekspektasian, yaitu manfaat masa depan yang
diperoleh pemegang saham (Wijayanti, 2009).

Persistensi laba akuntansi diukur


menggunakan koefisien regresi antara laba
=

pajak perusahaan i pada tahun t


: laba struktur modal utang yang
akuntansi akan sangat digunakan untuk Ukuran
(earnings tergantung pada Perusahaan
) setelah varian pada 7 Menurut
pajak pendapatan Home dan
perusahaa bersih Wachowicz dalam
n i perusahaan. Dinni (2008)
sebelum Perusahaa ukuran perusahaan
tahun t n dapat didanai (size) merupakan
: konstanta dengan hutang keseluruhan dari
: dan ekuitas. aktiva yang
persistensi Komposisi dimiliki
laba penggunaan perusahaan yang
akuntansi hutang dan dapat dilihat dari
Apabila ekuitas sisi kiri neraca.
persistensi tergambar dari Sedangkan
laba struktur modal. menurut
akuntansi Penggunaan Sudarsono (2005)
(1) > 1 hal ini hutang akan ukuran perusahaan
menunjukkan direspon negatif merupakan jumlah
bahwa laba oleh investor total hutang dan
perusahaan adalah
high persisten. karena investor ekuitas perusahaan
Apabila persistensi akan yang akan
laba (1) > 0 hal beranggapan berjumlah sama
ini menunjukkan bahwa dengan total
bahwa laba perusahaan akan aktiva. Pada
perusahaan lebih dasarnya
tersebut persisten. mengutamakan perusahaan dapat
Sebaliknya, pembayaran terbagi dalam dua
persistensi laba hutang daripada kategori yaitu
(1) 0 berarti pembayaran perusahaan besar
laba perusahaan dividen (Scott, (large firm) dan
fluktuatif dan tidak 2009). Hutang perusahaan kecil
persisten.
menimbulkan (small firm).
beban bunga Berdasarka
Struktur Modal yang mampu n uraian tentang
Menurut menghemat ukuran perusahaan
Keown dkk (2008) pajak, namun diatas maka dapat
struktur modal jika perusahaan disimpulkan
adalah panduan didanai dengan bahwa ukuran
atau kombinasi ekuitas maka perusahaan
sumber dana tidak terdapat merupakan suatu
jangka panjang beban bunga indikator yang
yang digunakan yang bisa dapat menunjukan
oleh perusahaan. mengurangi kondisi atau
Struktur modal beban pajak karateristik
menunjukkan perusahaan. perusahaan
perbandingan baik
Rasio dimana terdapat
dalam artian
pengukuran beberapa
absolut maupun
struktur modal parameter yang
relatif antara adalah debt dapat digunakan
hutang dengan ratio. Debt ratio untuk menentukan
modal sendiri. merupakan rasio ukuran (besar
Tingkat toleransi
kecilnya) perusahaan,
seperti banyaknya
jumlah karyawan yang
digunakan perusahaan
untuk melakukan
aktivitas operasi
perusahaan, total
penjualan perusahaan
yang dicapai oleh
perusahaan dalam
suatu periode, jumlah
aktiva yang dimiliki
perusahaan dan jumlah
saham yang beredar.
Beberapa
parameter yang
digunakan untuk
mengukur besar atau
kecilnya perusahaan
dapat dilihat dari
jumlah karyawan, total
penjualan dalam satu
periode, jumlah saham
yang beredar dan total
aktivanya. Dalam
penelitian ini penulis
menggunakan total
aktiva sebagai alat
ukur untuk melihat
ukuran perusahaan.

Alokasi Pajak Antar


Periode
Alokasi pajak
antar periode dapat
dilihat dari perbedaan
temporer pengakuan
pendapatan atau beban akuntansi pajak
penghasilan. yang ditampung dalam
akun PPh yang di tangguhkan dalam
neraca untuk dialokasikan pada beban
PPh untuk tahun-tahun mendatang
(Festy, 2011).
Menurut PSAK No. 46,
pengakuan alokasi pajak antar periode
lainnya yaitu diawali dengan adanya
keharusan bagi perusahaan untuk
mengakui aktiva dan kewajiban pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam
neraca. Pengakuan aktiva dan
kewajiban pajak tangguhan tersebut
merupakan pengakuan tentang
konsekuensi pajak di masa mendatang
atas efek akumulatif perbedaan
temporer pengakuan penghasilan dan
beban untuk tujuan akuntansi dan
tujuan fiskal.
Alokasi pajak antar periode
diukur dengan melihat besaran
penghasilan dan beban pajak
tangguhan yang dilaporkan dalam laba
rugi, kemudian membaginya dengan
jumlah laba akuntansi sebelum pajak,
skala data yang digunakan dengan
rasio. Dengan rumus (Rizky, 2009):
BPT it
=
LRSP it

PPT it
=
LRSP it

Keterangan:
ALPA1it :alokasi pajak antar periode
untuk perusahaan i yang
melaporkan beban pajak
tangguhan pada tahun t
A :alokasi pajak antar periode
LPA2i untuk perusahaan i yang
melaporkan penghasilan
pajak tangguhan pada tahun
B t
PTit :beban pajak tangguhan
P perusahaan i pada tahun t
PTit :penghasilan pajak
L tangguhan perusahaan i
RSPit pada tahun t
:laba (rugi) sebelum pajak
perusahaan i pada tahun t
8 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu telah
dilakukan oleh para peneliti lain untuk
menguji pengaruh persistensi laba, struktur
modal, ukuran perusahaan dan alokasi
pajak antar periode terhadap kualitas laba
dengan menggunakan earnings response
coefecient (ERC) sebagai alat ukur kualitas
laba, antara lain:
Penelitian Jang dkk (2007) menguji
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas laba dengan menggunakan
earnings response coefficient sebagai alat
ukur kualitas laba. Penelitian tersebut
dilakukan pada 44 perusahaan yang
terdaftar di BEJ pada tahun 2000-2004.
Dalam penelitiannya, ia menguji pengaruh
ukuran perusahaan (company size), struktur
modal, persistensi laba, pertumbuhan laba,
likuiditas dan kualitas akrual terhadap
kualitas laba yang diukur dengan earnings
response coefficient. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan
(company size) berpengaruh positif secara
signifikan terhadap kualitas laba, struktur
modal berpengaruh terhadap kualitas laba
tetapi arah pengaruhnya negatif,
pertumbuhan laba tidak berpengaruh
positif tetapi secara signifikan berpengaruh
negatif terhadap kualitas laba, likuiditas
berpengaruh positif secara signifikan
terhadap kualitas laba, dan kualitas akrual
berpengaruh signifikan terhadap kualitas
laba.
Margaretta (2006) menganalisis
faktor faktor yang mempengaruhi earnings
response coefficient, studi empiris pada
Bursa Efek Jakarta. Faktor faktor yang
diteliti adalah persistensi laba akuntansi,
prediktibilitas laba akuntansi, kesempatan
bertumbuh, ukuran perusahaan, resiko
kegagalan perusahaan, dan resiko
sistematis perusahaan. Penelitian ini
dilakukan pada seluruh perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama
tahun 1994 dan 2003. Hasil penelitiannya
adalah secara signifikan, koefisien respon
laba dipengaruhi oleh risiko sistematis dan
persistensi laba, dan pengaruh yang
diberikan adalah positif. Sedangkan faktor
prediktabilitas laba, kesempatan atau tetap perubahan laba dari waktu ke
bertumbuh, ukuran perusahaan, dan risiko waktu maka akan semakin menarik minat
kegagalan memberikan pengaruh negatif investor, respon investor ini tercermin dari
atas koefisien respon laba, sekalipun tingginya koefisien respon laba karena
pengaruh tersebut tidak signifikan. kondisi ini menunjukkan bahwa laba yang
Riduwan (2006) hasil penelitiannya diperoleh perusahaan dapat dipertahankan
Alokasi pajak antar periode berpengaruh secara terus menerus. Persistensi
signifikan negatif terhadap koefisien merupakan cermin kualitas laba yang
respon laba. Relevan dengan penelitian diperoleh perusahaan karena perusahaan
Festy (2011) yang meneliti tentang dapat mempertahankan perolehan laba
pengaruh alokasi pajak antar periode tersebut dari waktu ke waktu dan bukan
terhadap koefisien respon laba, hasilnya hanya karena suatu peristiwa tertentu,
alokasi pajak antar periode berpengaruh seperti penjualan aset, penjualan merek
negatif terhadap Earnings Response dagang, dan kegiatan non operasional
Coefficient. lainnya. Semakin tinggi persistensi laba
Perbedaan penelitian ini dengan maka koefisien respon laba akan
penelitian sebelumnya terletak pada tahun meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa
penelitiaannya, dimana sebelumnya Jang laba perusahaan berkualitas. Hal ini
dkk (2007) meneliti pada tahun 2000-2004, diperkuat dengan hasil penelitian Jang dkk,
dan Riduwan (2006) meneliti pada (2007) yang menyatakan bahwa persistensi
perusahaan manufaktur pada tahun 1997- laba berpengaruh positif terhadap earnings
2002. Sedangkan penulis saat ini response coefficients
melakukan penelitian pada tahun 2008- (sebagai alat ukur kualitas laba).
2011. Penulis saat ini melakukan penelitian
secara time series dan cross section. Jika Struktur Modal dengan Kualitas Laba
penelitian sebelumnya meneliti seluruh Struktur modal (capital structure)
faktor yang mempengaruhi ERC, peneliti adalah perbandingan atau imbangan
hanya berfokus pada pengaruh persistensi pendanaan jangka panjang perusahaan
laba, struktur modal, ukuran perusahaan yang ditujukan oleh perbandingan hutang
dan alokasi pajak antar periode terhadap jangka panjang terhadap sumber modal
kualitas laba dengan menggunakan ERC (Keown dkk, 2008). Perusahaan
sebagai alat ukur kualitas laba. menggunakan struktur modal dengan
tujuan agar keuntungan yang diperoleh
Hubungan Antar Variabel lebih besar daripada biaya aset dan sumber
Persistensi laba dengan Kualitas Laba dananya yang akan meningkatkan
Menurut Scott (2009) Persistensi keuntungan pemegang saham. Dalam
laba adalah revisi laba yang diharapkan penelitian ini struktur modal dilihat dari
dimasa mendatang (expected future leveragenya. Apabila perusahaan
earnings) yang diimplikasikan oleh inovasi melakukan pinjaman kepada pihak di luar
laba tahun berjalan sehingga persistensi perusahaan maka akan timbul utang
laba dapat dilihat dari inovasi laba tahun sebagai konsekuensi dari pinjamannya
berjalan yang dihubungkan dengan tersebut dan berarti perusahaan telah
perubahan harga saham. melakukan financial leverage. Semakin
Perusahaan yang mampu besar utang maka financial leverage juga
mempertahankan labanya dari tahun ke akan semakin besar. Berarti resiko yang
tahun lebih membuat para investor tertarik, dihadapi perusahaan akan semakin besar
karena menurut investor perusahaan ini karena utangnya tersebut. Sehingga
mampu menjaga kondisi perusahaan untuk semakin baik kondisi laba perusahaan
tetap stabil. Artinya semakin permanen maka semakin negatiflah respon pasar
(pemegang saham) karena pemegang
9
saham beranggapan bahwa laba tersebut perusahaannya dengan berupaya
hanya menguntungkan kreditur. meningkatkan kualitas labanya. Dengan
Hal ini diperkuat dengan hasil demikian semakin besar ukuran
penelitian Jang dkk, (2007) yang perusahaan yang dilihat dari total
menyatakan bahwa struktur modal aktivanya, akan membuat investor semakin
berpengaruh negatif terhadap earnings merespon laba yang diumumkan. Hal ini
response coefficients (sebagai alat ukur diperkuat dengan hasil penelitian Jang
kualitas laba). Selain itu Dhaliwal dkk et dkk, (2007) yang menyatakan bahwa
al (1991) hasil penelitian Noviyanti dan ukuran berpengaruh positif terhadap
Erni (2008) juga menyatakan bahwa earnings response coefficients (sebagai alat
struktur modal yang diukur dengan ukur kualitas laba).
leverage berpengaruh signifikan negatif
terhadap earnings response coefficients Alokasi Pajak Antar Periode dengan
(alat ukur kualitas laba). Kualitas Laba
Alokasi pajak antar periode
Ukuran Perusahaan dengan menerapkan hasil penerapan konsep
Kualitas Laba akuntansi akrual yang tercermin dari
Menurut Home dan Wachowicz jumlah beban dan penghasilan pajak
dalam Nisa (2010) ukuran perusahaan tangguhan yang dilaporkan bersamaan
(size) merupakan keseluruhan dari aktiva dengan beban pajak kini dalam laporan
yang dimiliki perusahaan yang dapat laba rugi (PSAK 46). Alokasi pajak antar
dilihat dari sisi kiri neraca. Sedangkan periode diawali dengan adanya keharusan
menurut Sudarsono (2005) ukuran bagi perusahaan untuk mengakui aktiva
perusahaan merupakan jumlah total hutang dan kewajiban pajak tangguhan yang
dan ekuitas perusahaan yang akan dilaporkan dalam neraca. Pengakuan
berjumlah sama dengan total aktiva. aktiva dan kewajiban pajak tangguhan
Perusahaan yang memiliki total tersebut merupakan pengakuan tentang
aktiva besar menunjukkan bahwa konsekuensi pajak di masa mendatang atas
perusahaan tersebut telah mencapai tahap efek akumulatif perbedaan temporer
kedewasaan. Dalam tahap ini arus kas pengakuan penghasilan dan beban untuk
perusahaan sudah positif dan dianggap tujuan akuntansi dan tujuan fiskal.
memiliki prospek yang baik dalam jangka Alokasi pajak merupakan suatu
waktu yang relatif lama, selain itu juga proses untuk mengasosiasikan pajak
mencerminkan bahwa perusahaan relatif penghasilan dengan laba dimana pajak itu
lebih stabil dan lebih mampu dikenakan. Karena tarif pajak penghasilan
menghasilkan laba dibanding perusahaan yang selalu berubah-ubah dari waktu ke
dengan total aktiva yang kecil (Indriani, waktu maka diperlukan metode alokasi
2005 dalam Zahroh dan Utama, 2006). agar diperoleh kepastian dan perlakuan
Perusahaan yang berukuran besar memiliki yang konsisten. Beban maupun
kinerja dan sistem yang baik untuk penghasilan pajak tangguhan mengandung
mengendalikan, mengelola, mengatur akrual yang tinggi sehingga laba yang
semua aktiva yang dimiliki oleh tercermin bukan lagi laba yang
perusahaan. Pengendalian, pengelolaan sebenarnya. Hal inilah yang menyebabkan
dan pengaturan aset perusahaan yang investor kurang memberikan respon
efektif dan efisien ini berpotensi untuk terhadap perusahaan yang melaporkan
mendatangkan laba. Hal itulah yang beban atau pajak penghasilan. Selain itu,
menyebabkan investor lebih memiliki Investor juga menyadari bahwa
kepercayaan pada perusahaan besar, penghasilan pajak tangguhan maupun
karena perusahaan besar dianggap mampu beban pajak tangguhan keduanya
untuk terus meningkatkan kinerja merupakan komponen transitori yang

10
menimbulkan gangguan persepsian dalam yang dilaporkan kurang atau tidak
laba akuntansi. Dengan kesadaran tersebut, berkualitas.
investor tidak dapat dikelabuhi dengan Persistensi laba adalah kemampuan
cara mengelola alokasi pajak antar perioda perusahaan untuk mempertahankan laba
yang diarahkan untuk mempengaruhi dari tahun ke tahun. Laba yang berkualitas
besar-kecilnya laba akuntansi. Oleh karena adalah laba yang persisten, yaitu laba yang
itu, investor kurang memberikan respon lebih bersifat permanen dan tidak bersifat
terhadap perusahaan yang melaporkan transistori (sementara). Investor akan lebih
penghasilan (beban) pajak tangguhan di melirik angka laba yang memiliki
dalam laporan laba-rugi. Hal ini tercermin persistensi diatas nol dan di bawah satu.
dari rendahnya koefisien respon laba yang Semakin permanen perubahan laba dari
mengindikasikan bahwa rendahnya waktu ke waktu maka semakin tinggi
kualitas laba. respon investor. Hal tersebut menunjukan
Penelitian ini sejalan dengan hasil bahwa laba yang diperoleh perusahaan
penelitian yang dilakukan oleh Festy dapat dipertahankan secara terus menerus
(2011), Rizky (2009), Riduwan (2006) dan berkualitas. Respon investor ini akan
yang menyatakan bahwa alokasi pajak tercermin dari tingginya koefisien respon
antar periode berpengaruh negatif terhadap laba yang mengindikasikan bahwa kualitas
ERC. laba perusahaan yang baik.
Dalam melakukan keputusan
KERANGKA KONSEPTUAL pendanaan (struktur modal), perusahaan
Informasi laba digunakan untuk dituntut untuk mempertimbangkan dan
menilai kinerja suatu perusahaan, apakah menganalisis sumber pendanaan yang
perusahaan tersebut melaporkan labanya ekonomis. Sumber pendanaan yang dipilih
lebih tinggi atau lebih rendah dari tahun oleh perusahaan harus bertujuan
sebelumnya serta menilai prospek mendatangkan keuntungan dan lebih besar
perusahaan di masa mendatang. dari biaya aset. Apabila perusahaan
Pentingnya informasi laba dalam memilih hutang sebagai sumber
mengambil keputusan menyebabkan pendanaanya maka akan timbul beberapa
kualitas laba yang dilaporkan perusahaan konsekuensi dari pinjaman tersebut seperti
menjadi hal yang penting untuk pembayaran bunga dan pokok pinjaman.
dipertimbangkan oleh para pengguna Apabila tingkat hutang tinggi akan
laporan keuangan. Kualitas laba yang berdampak pada rendahnya earnings
rendah akan membuat investor dan response coefficient. Karena investor
kreditor salah dalam pengambilan beranggapan setiap laba yang diperoleh
keputusan. Untuk mengetahui kualitas laba perusahaan hanya akan menguntungkan
yang baik dapat diukur dengan earnings debholders saja.
response coefficient. Laba yang Ukuran perusahaan dalam
dipublikasikan dapat memberikan respon penelitian ini diukur dari total aktivanya.
yang bervariasi. Dengan kata lain, laba Investor biasanya lebih memiliki
yang dihasilkan memiliki kekuatan respon kepercayaan pada perusahaan besar yang
(power of respon) yang berbeda-beda. memiliki aktiva dalam jumlah yang besar,
Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi karena perusahaan besar dianggap mampu
laba yang tercermin dari tingginya untuk terus meningkatkan kinerja
earnings response coefficient perusahaannya dan selalu berupaya
menunjukkan laba yang berkualitas. meningkatkan kualitas labanya. Dalam
Demikian sebaliknya, lemahnya reaksi perusahaan besar juga tersedia banyak
pasar tehadap informasi laba yang informasi non-akuntansi sepanjang tahun.
tercermin dari rendahnya earnings Informasi itu digunakan oleh pemodal
response coeffiecient menunjukkan laba sebagai alat untuk menginterpretasikan

11
laporan keuangan dengan lebih baik, Konseptual (lampiran). Berdasarkan
sehingga dapat dijadikan alat untuk kerangka konseptual yang ditetapkan
memprediksi arus kas dan mengurangi sebelumnya, maka hipotesis yang dapat
ketidakpastian. Oleh karena itu, pada saat ditetapkan adalah sebagai berikut:
pengumuman laba investor tidak H1 : persistensi laba berpengaruh positif
memberikan banyak respon. Dengan terhadap kualitas laba.
demikian, perusahaan skala besar memiliki H2 : struktur modal berpengaruh negatif
koefisien respon laba yang tinggi. terhadap kualitas laba.
Alokasi pajak antar periode H3 : ukuran perusahaan berpengaruh
merupakan metode yang dapat membuat positif terhadap kualitas laba.
laba bersih perusahaan yang merefleksikan H4 : alokasi pajak antar periode
laba sebenarnya karena beban atau pajak berpengaruh negatif terhadap
penghasilan berkorelasi langsung dengan kualitas laba.
laba sebelum pajak. Menurut akuntansi
akrual, penghasilan pajak tangguhan yang 3. METODE PENELITIAN
dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun Jenis Penelitian
berjalan secara substansial merefleksikan Berdasarkan rumusan masalah dan
penghematan pembayaran pajak yang tujuan yang telah dijelaskan pada bab
masih akan diperoleh perusahaan pada sebelumnya, maka penelitian ini tergolong
tahun-tahun mendatang atau penghematan penelitian kausatif (causative). Penelitian
pembayaran pajak yang telah diperoleh kausatif berguna untuk menganalisis
perusahaan lebih dulu pada tahun-tahun pengaruh antara satu variabel dengan
variabel lainnya, dimana penelitian ini
lalu. Demikian pula, beban pajak bertujuan untuk melihat seberapa jauh
tangguhan secara substansial variabel bebas mempengaruhi variabel
merefleksikan adanya beban pajak yang terikat. Dalam hal ini melihat seberapa
masih harus dibayarkan oleh perusahaan
jauh pengaruh persistensi laba (X1),
pada tahun-tahun mendatang atau beban
pajak yang sudah dibayar lebih dulu oleh struktur modal (X2), ukuran perusahaan
perusahaan pada tahun-tahun yang lalu. (X3) dan alokasi pajak antar perioda (X4)
Karena beban maupun penghasilan pajak terhadap kualitas laba suatu perusahaan.
tangguhan ini merupakan hasil akrual Populasi dan Sampel
maka laba yang tercermin dalam laporan Populasi merupakan keseluruhan
keuangan bukan lagi laba yang objek yang memenuhi syarat-syarat
sebenarnya. tertentu dan berkaitan dengan masalah
Selain itu, Investor juga menyadari yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini
bahwa penghasilan pajak tangguhan adalah seluruh perusahaan manufaktur
maupun beban pajak tangguhan keduanya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
merupakan komponen transitori yang (BEI) pada tahun 2008 sampai dengan
menimbulkan gangguan persepsian dalam tahun 2011.
laba akuntansi. Oleh karena itu, investor Penarikan sampel berdasarkan
kurang memberikan respon terhadap purposive sampling, teknik ini
perusahaan yang melaporkan penghasilan menggunakan pertimbangan tertentu untuk
(beban) pajak tangguhan di dalam laporan penentuan sampel. Populasi yang akan
laba-rugi. Hal ini tercermin dari rendahnya dijadikan sampel adalah populasi yang
koefisien respon laba yang memenuhi kriteria yang dipakai dalam
mengindikasikan bahwa rendahnya pengambilan sampel adalah sebagai
kualitas laba. berikut:
Berdasarkan uraian diatas maka 1) Perusahaan manufaktur yang terdaftar
dapat digambarkan kerangka konseptual di BEI dan tidak mengalami delisting
seperti pada Gambar 1. Kerangka

12
sejak Januari 2008 sampai Desember Variabel Penelitian dan Pengukurannya
2011. Variabel Terikat (Y)
2) Menerbitkan laporan keuangan yang Variabel terikat (dependent
sudah diaudit per 31 Desember setiap variabel) yaitu variabel dimana faktor
tahunnya konsisten serta memiliki data keberadaannya dipengaruhi oleh variabel
keuangan lengkap terutama tentang bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini
variabel yang diteliti. adalah kualitas laba.Kualitas laba diukur
3) Perusahaan manufaktur yang memiliki dengan menggunakan earnings response
tanggal publikasi dari tahun 2008- coefficient. Besarnya earnings response
2011. coefficient diperoleh dengan melakukan
Berdasarkan pada Tabel 1. beberapa tahap perhitungan. Tahap
Kriteria Pemilihan Sampel (lampiran), pertama menghitung cumulative abnormal
maka perusahaan yang memenuhi kriteria return (CAR) masing-masing sampel dan
dan dijadikan sampel dalam penelitian ini tahap kedua menghitung unexpected
berjumlah 76 perusahaan yang ditunjukkan earnings (UE) sampel.
dalam Tabel 2. Daftar Perusahaan Cummulative Abnormal Return (CAR)
Sampel (lampiran).
. = .

Jenis dan sumber data


=

Keterangan:
Ditinjau dari sumbernya, data ini ARTNi.t : Akumulasi Return Tidak Normal
merupakan data sekunder. Menurut waktu (cummulative abnormal return)
pengumpulannya data yang digunakan sekuritas i pada waktu t, yang
dalam penelitian ini digolongkan ke dalam diakumulasi dari return tidak
cross section. Sumber data adalah data normal (RTN) sekuritas ke-i
yang berasal dari laporan keuangan mulai hari awal periode
masing-masing perusahaan sampel setiap peristiwa (t3) sampai hari ke-t
akhir tahun selama masa penelitian yaitu RTN i.a : Return tidak normal (abnormal
dari tahun 2008 sampai 2011. return) untuk sekuritas ke-i pada
hari ke-a, yaitu mulai t3 (hari
Teknik Pengumpulan Data awal periode jendela) sampai
Penulis menggunakan teknik hari ke-t
observasi dokumentasi dengan melihat
laporan keuangan perusahaan sampel. Untuk menentukan return tidak
Dengan teknik ini penulis mengumpulkan normal, digunakan selisih antara return
data laporan keuangan perusahaan dari sesungguhnya yang terjadi dengan return
tahun 2008 sampai 2011 mengenai pasar (Soewardjono, 2005):
variabel yang akan diteliti yaitu persistensi RTNit = Rit-Rmt
laba, struktur modal, ukuran perusahaan, Keterangan:
Alokasi pajak antar periode, dan Kualitas RTNit : return tidak normal sekuritas ke-i
Laba. Data diperoleh melalui ICMD, data pada periode peristiwa ke-t.
dari pojok BEI FE UNP , situs resmi Bursa Rit : return sesungguhnya yang terjadi
Efek Indonesia (www.idx.co.id) dan web- untuk sekuritas ke-i pada periode
web terkait lainnya serta dengan cara peristiwa ke-t
mempelajari literatur yang berkaitan Rmt : return pasar (market) pada periode
dengan permasalahan penelitian baik peristiwa ke-t
media cetak maupun elektronik. Untuk memperoleh data abnormal
return, terlebih dahulu harus mencari
return saham harian dan return pasar

13
harian. Return saham harian dihitung
dengan rumus (Soewardjono, 2005):
(

)

Keterangan:
=

Rit= Return saham perusahaan i pada


hari t Pit = Harga penutupan saham i
pada hari t Pit-1= Harga penutupan
saham I pada hari t-1

Return pasar harian dihitung sebagai

Eit-1

berikut (Jogiyanto, 2007) :


=

Keterangan:
Rmt = Return pasar harian
IHSGt = Indeks harga saham
gabungan pada hari t
IHSGt-1= Indeks harga saham
gabungan pada hari t-1

EPSt-1 Unexpected earnings diukur


menggunakan pengukuran laba per
lembar saham (Jogiyanto, 2007):
UEIt = EPSt EPS t-1

Keterangan:
UEit = Unexpected earnings
perusahaan i pada periode
(tahun) t
EPSit = Laba akuntansi perusahaan i
pada periode (tahun) t
EPSit-1 = Laba akuntansi perusahaan i
pada periode (tahun)
sebelumnya

Earnings Response Coefficient (ERC)


akan dihitung dari slope b pada
hubungan CAR dengan UE
(Chandarin,2001 dalam Christine,
2008) yaitu:
UEit CARit = a + bUEit + it
it Keterangan:
CARit=abnormal return kumulatif
perusahaan i selama perioda
amatan + 3 hari dari
publikasi laporan keuangan
= unexpected earnings
= komponen error dalam model atas Variabel Bebas (X)
perusahaan i pada perioda t Persistensi laba (X1)
Persistensi laba akuntansi diukur
menggunakan koefisien regresi antara laba
akuntansi periode sekarang dengan laba
akuntansi periode yang lalu. Dengan
14 rumus:
Eit = 0 + 1 Eit-1+ it
Keterangan :
Eit = laba akuntansi (earnings) setelah
pajak perusahaan i pada tahun t
= laba akuntansi (earnings) setelah
pajak perusahaan i sebelum tahun t
= persistensi laba akuntansi

Struktur Modal (X2)


Perhitungan debt ratio setiap
tahunnya akan di rata-ratakan, sehingga
diperoleh satu nilai debt ratio selama
empat tahun penelitian. Hal ini dilakukan
untuk menyesuaikan nilai dari variabel
bebas dan variabel terikat yang diteliti.
Penelitian yang menggunakan alat ukur ini
juga dilakukan oleh (Rizky, 2009). Skala
yang digunakan adalah rasio, dengan
rumus sebagai berikut:

Keterangan :
DRit= debt ratio perusahaan i pada tahun t
TUit = total utang perusahaaan i pada
tahun t
TAit = total aktiva perusahaan i pada tahun
t

Ukuran Perusahaan (X3)


Salah satu tolak ukur yang
menunjukan besar kecilnya perusahaan
adalah skala perusahaan atau disebut juga
ukuran perusahaan. Dalam penelitian ini
menggunakan total aset sebagai alat ukur
dari ukuran perusahaan. Total aset setiap
tahunnya akan di rata-ratakan, sehingga
diperoleh satu nilai total aset selama empat
tahun penelitian.

Alokasi Pajak Antar Periode (X4)


Alokasi pajak antar periode
merupakan adanya perbedaan temporer
pengakuan pendapatan atau beban yang
ditampung dalam akun PPh yang di tangguhkan Smirnov dapat dilakukan untuk menguji
dalam neraca untuk dialokasikan pada beban PPh apakah residual terdistribusi secara normal.
untuk tahun-tahun mendatang. Perhitungan Dasar pengambilan keputusan uji
alokasi pajak antar periode setiap tahunnya akan di
rata-ratakan, sehingga diperoleh satu nilai alokasi
normalitas ini adalah jika nilai signifikan
pajak antar periode selama empat tahun uji Kolmogorov-Smirnov > 0,05 berarti
penelitian. Skala data yang digunakan dengan variabel dinyatakan terdistribusi normal,
rasio. Dengan rumus: dan begitu pula sebaliknya jika angka
= BPTit = PPTit
signifikansi < 0,05 maka data tidak
LRSP LRSP
berdistribusi normal.
Keterangan: it it

ALPA1it = alokasi pajak antar periode


untuk perusahaan i yang b. Uji Multikolonieritas
melaporkan beban pajak Pengujian uji multikolinearitas
tangguhan pada tahun t dimaksudkan untuk mengetahui apakah
ALPA2i = alokasi pajak antar periode terdapat korelasi yang tinggi antara
untuk perusahaan i yang variabel-variabel bebas dalam model yang
melaporkan penghasilan digunakan. Menurut Imam (2007),
pajak tangguhan pada tahun t multikolinearitas berarti situasi dimana dua
BPTit = beban pajak tangguhan variabel atau lebih bisa sangat
perusahaan i pada tahun t berhubungan liniear. Multikolonieritas
PPTit = penghasilan pajak tangguhan dapat dilihat dari tolerance value dan
perusahaan i pada tahun t Variance Inflation Factor (VIF).
LRSPit = laba(rugi) sebelum pajak Tolerance value mengukur variabilitas
perusahaan i pada tahun t variabel independen yang terpilih yang
tidak dijelaskan oleh variabel independen
Teknik Analisis data lainnya. Nilai cut off yang umum dipakai
Sesuai dengan tujuan penelitian untuk menunjukkan adanya
dan hipotesis, maka analisis data ini multikolonieritas adalah nilai tolerance <
bertujuan untuk mengetahui peran masing- 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 10
masing variabel bebas dalam (Imam, 2007).
mempengaruhi variabel terikat.
c. Uji Heterokedastisitas
Uji Asumsi Klasik Model regresi yang baik adalah
Sebelum melakukan pengujian model regresi yang tidak terjadi
regresi, terlebih dahulu dilakukan heteroskedastisitas. Menurut Imam (2007),
pengujian asumsi klasik yang berguna uji heteroskedastisitas bertujuan menguji
untuk mengetahui apakah data yang apakah dalam model regresi terjadi
digunakan telah memenuhi ketentuan ketidaksamaan varians dari residual satu
dalam model regresi. Pengujian ini pengamatan ke pengamatan lain. Salah
meliputi: satu cara untuk mendeteksi adanya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan
a.Uji Normalitas uji glejser. Uji glejser mempertimbangkan
Uji normalitas bertujuan untuk untuk meregresi nilai absolut residual
mengetahui apakah distribusi sebuah data terhadap variabel bebas (Gujarati, 2007).
mengikuti atau mendekati distribusi Jika variabel bebas signifikan secara
normal. Data yang baik adalah data yang statistik mempengaruhi variabel terikat,
mempunyai pola seperti distribusi normal. maka indikasi terjadinya
Menurut Imam (2007) uji Kolmogorov- heteroskedastisitas. Jika variabel bebas
tidak signifikan (sig > 0,05), berarti model
terbebas dari heteroskedastisitas.
15
bebas yang dimasukkan dalam model
Model Regresi Berganda regresi mempunyai pengaruh secara
Analisis regresi berganda adalah bersama-sama terhadap variabel terikat
analisis tentang hubungan antara satu (Imam, 2007). Setelah F garis regresi
dependent variable dengan dua atau lebih ditemukan hasilnya, kemudian
independent variable. Data yang telah dibandingkan dengan Ftabel. Untuk
dikumpulkan akan diolah dengan menentukan nilai Ftabel, tingkat
menggunakan software SPSS 16. Untuk signifikansi yang digunakan adalah sebesar
mengetahui pengaruh variabel bebas = 5% dengan derajat kebebasan (degree
terhadap variabel terikat digunakan model of freedom) df = (n-k) dimana n adalah
regresi linear berganda dengan persamaan jumlah observasi dan k adalah jumlah
sebagai berikut: variabel termasuk intersep. Jika Fhitung >
Y = a + b1X1+ b2X2+ b3X3 + b4X4 + e Ftabel maka hal ini berarti variabel bebas
Keterangan : mampu menjelaskan variabel terikat secara
Y : Kualitas laba bersama-sama. Sebaliknya jika Fhitung <
a : Konstanta Ftabel maka, hal ini berarti variabel bebas
b1b2,b3,b4: Koefisien regresi variabel secara bersama-sama tidak mampu
independen menjelaskan variabel terikatnya.
X1 : Persistensi Laba
X2 : Struktur Modal Uji Hipotesis (Uji t)
X3 : Ukuran Perusahaan Uji statistik t pada dasarnya
X4 : Alokasi Pajak antar Periode menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
e : Standar error variabel penjelas secara individual dalam
menerangkan variasi variabel terikat.
Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit Statistik t dihitung dari formula sebagai
Test) berikut (Agus, 2001):
2
a. Uji Koefisien Determinasi (R ) b
Uji ini bertujuan untuk mengukur tk S k
seberapa jauh kemampuan model dalam bk
Dimana: bk adalah koefisien regresi ke k
menerangkan variasi variabel terikat. S
Koefisien determinasi (R) menunjukkan S y.123...k
bk
proporsi yang diterangkan oleh variabel
(x 2 k ) (1 Ri 2 )
bebas dalam model terhadap variabel
terikatnya, sisanya dijelaskan oleh variabel Kriteria penerimaan hipotesis
lain yang tidak dimasukkan dalam model, 1. Jika sig. < 0,05, t hit > t tabel, maka
formulasi model yang keliru dan kesalahan Ho ditolak dan Ha diterima. Ini
eksperimen. Rumus yang dapat digunakan berarti bahwa ada pengaruh secara
menurut Gujarati (2007) adalah : parsial antara variabel bebas
=
terhadap variabel terikat.
2. Jika sig. 0,05, t hit < t tabel, maka
Keterangan:
2 Ho diterima dan Ha ditolak. Ini
R = Koefisien Determinasi
berarti bahwa tidak ada pengaruh
ESS = Explain sum square (jumlah
secara parsial antara variabel bebas
kuadrat yang diterangkan) dengan variabel terikat.
TSS = Total sum square (jumlah total
kuadrat)
Untuk uji hipotesis variabel
b. Uji F-statistik persistensi laba, dan ukuran perusahaan
terhadap kualitas laba:
Uji F-statistik pada dasarnya
menunjukkan apakah semua variabel

16
a) Jika probabilitas (p-value) < 0,05 dan pada Tabel 3. Statistik Deskriptif
positif (+) maka Ha diterima Variabel Penelitian (lampiran).
b) Jika probabilitas (p-value) < 0,05 dan Tabel 3 menjelaskan secara deskriptif
negatif (-) maka Ha ditolak variabel-variabel dalam penelitian ini.
c) Jika probabilitas (p-value) > 0,05 dan Kualitas laba memiliki rata-rata sebesar
positif atau negatif (+/-) maka Ha 0,0265 dengan standar deviasi 0,17278.
ditolak. Kualitas laba yang diukur dengan ERC
Untuk uji hipotesis variabel tertinggi terjadi pada angka 1,03 dan
struktur modal dan alokasi pajak antar terendah pada angka -0,51. Persistensi laba
periode terhadap kualitas laba: memiliki nilai rata-rata sebesar 0,2545
a) Jika probabilitas (p-value) < 0,05 dan dengan standar deviasi sebesar 0,69594.
negatif (-) maka Ha diterima Persistensi laba tertinggi terjadi pada
b) Jika probabilitas (p-value) < 0,05 dan angka 1,95 dan persistensi laba terendah
positif (+) maka Ha ditolak pada angka -1,50. Struktur modal yang
c) Jika probabilitas (p-value) > 0,05 dan diproksi dengan debt ratio memiliki nilai
positif atau negatif (+/-) maka Ha rata-rata sebesar 0.7881 dengan standar
ditolak. deviasi 1.07108. Struktur modal tertinggi
terjadi pada angka 6.26 sedangkan struktur
4. TEMUAN PENELITIAN DAN modal terendah adalah pada angka 0,07.
PEMBAHASAN Ukuran perusahaan memiliki nilai rata-rata
Gambaran Umum Perusahaan sebesar 2.857.641.267.212 dengan standar
Manufaktur deviasi sebesar 630.031.000.000.000.000.
Industri manufaktur adalah suatu Ukuran perusahaan tertinggi terjadi pada
kegiatan ekonomi yang melakukan angka 45.209.037.500.000 dan ukuran
kegiatan mengubah suatu barang dasar perusahaan terendah pada angka
menjadi barang jadi atau barang setengah 28.875.269.332. Alokasi pajak antar
jadi yang mempunyai nilai yang tinggi dan periode memiliki nilai rata-rata sebesar -
sifatnya berguna bagi pemakai atau 0,0348 dengan standar deviasi sebesar
konsumen. Karakteristik utama kegiatan 0,24267. Alokasi pajak antar periode
industri adalah mengolah sumber daya tertinggi terjadi pada angka 0,39 dan
menjadi barang jadi melalui proses alokasi pajak antar periode terendah pada
pabrikasi. Oleh karena itu perusahaan yang angka -1,56.
tergolong dalam kelompok industri
manufaktur memiliki ciri-ciri yaitu Uji Asumsi Klasik
mempunyai kegiatan utama: Sebelum melakukan analisis
a. Kegiatan untuk memperoleh atau regresi linear berganda, ada beberapa
menyimpan input bahan baku. syarat pengujian yang harus dipenuhi agar
b. Kegiatan mengolah atau pabrikasi dan hasil olahan data benar-benar dapat
perakitan atas bahan baku menjadi menggambarkan apa yang menjadi tujuan
barang jadi. penelitian. Pengujian tersebut adalah
c. Kegiatan menyimpan atau sebagai berikut:
memasarkan barang jadi tersebut.
a. Uji Normalitas Residual
Statistik Deskriptif Uji normalitas dilakukan untuk menguji
Untuk lebih mempermudah dalam apakah dalam model regresi variabel
melihat gambaran mengenai variabel yang pengganggu atau residual memiliki
diteliti dan setelah melalui proses distribusi normal atau tidak. Data yang
pengolahan dengan menggunakan program baik adalah data yang mempunyai pola
SPSS, variabel tersebut dapat dijelaskan seperti distribusi normal. Uji normalitas
secara statistic seperti yang tergambar dapat dilakukan dengan Kolmogorov-

17
Smirnov Test. Jika tingkat signifikansinya semua variabel bebas yang terdapat
> 0,05 maka data berdistribusi normal. penelitian.
Jika tingkat signifikansinya < 0,05 maka
data dikatakan tidak berdistribusi normal. Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat
Secara rinci hasil pengujian normalitas hasil perhitungan nilai tolerance dan VIF.
dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil Uji Nilai tolerance untuk variabel persistensi
Normalitas Sebelum Transformasi laba (X1) sebesar 0,596 dengan nilai VIF
(lampiran). sebesar 1,678. Untuk variabel struktur
Dari Tabel 4 tersebut dapat dilihat modal (X2) mempunyai nilai tolerance
bahwa residual belum berdistribusi sebesar 0,929 dengan nilai VIF sebesar
normal, dimana nilai signifikansi 0,000 < 1,076. Untuk variabel ukuran perusahaan
0,05. Imam (2007) menyatakan bahwa (X3) nilai tolerance sebesar 0,637 dengan
data outlier merupakan data yang memiliki nilai VIF sebesar 1,570, dan untuk variabel
karakteristik unik yang terlihat sangat
alokasi pajak antar periode (X4) nilai
berbeda jauh dari observasi lainnya yang
tolerance sebesar 0,693 dengan nilai VIF
muncul dalam bentuk ekstrim. Maka
sebesar 1,444. Masing-masing variabel
dilakukan penghilangan data-data yang independen tersebut memiliki angka
ekstrem tersebut. Hasil pengujian setelah tolerance diatas 0,1 danVIF < 10, jadi
dilakukan transformasi dapat dilihat pada dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Setelah gejala multikolinearitas antar variabel
Transformasi (lampiran). Berdasarkan independen.
Tabel 5 terlihat bahwa hasil uji normalitas
menunjukkan level signifikan lebih besar c. Uji Heterokedastisitas
dari yaitu 0,897 > 0,05 yang berarti Heterokedastisitas digunakan untuk
bahwa residual terdistribusi secara normal. menguji apakah dalam sebuah model
regresi terjadi ketidaksamaan varians dari
b. Uji Multikolonearitas residual dari suatu pengamatan ke
Gejala multikolinearitas ditandai pengamatan lainnya. Untuk mendeteksi
dengan adanya hubungan yang kuat adanya gejala heterokedastisitas digunakan
diantara variabel independen (bebas) uji Glejser. Apabila nilai sig > 0,05 maka
dalam suatu persamaan regresi. Apabila data tersebut bebas dari heterokedastisitas.
dalam suatu persamaan regresi terdapat Hasil pengujian heterokedastisitas dapat
gejala multikolinearitas, maka akan dilihat pada tabel sebagai berikut:
menyebabkan ketidakpastian estimasi, Hasil dari pengujian
sehingga kesimpulan yang diambil tidak heterokedastisitas dapat dilihat pada Tabel
tepat. Model regresi yang dinyatakan 7. Hasil Uji Heteroskedastisitas
bebas dari multikolinearitas apabila nilai (lampiran) Berdasarkan Tabel 7 dapat
Tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10. Hasil dilihat bahwa hasil perhitungan masing-
pengujian asumsi multikolinearitas untuk masing variabel menunjukkan bahwa level
variabel penelitian ini dapat dilihat sig > 0,05 yaitu 0,771 untuk persistensi
berdasarkan nilai VIF dan nilai Tolerance- laba, variabel struktur modal sebesar
nya. 0,136, variabel ukuran perusahaan sebesar
Tabel 6. Hasil Uji 0,098 dan variabel alokasi pajak antar
Multikolinearitas (lampiran) periode sebesar 0,462. Jadi dapat
menunjukkan bahwa semua variabel disimpulkan penelitian ini bebas dari
memiliki nilai Tolerance lebih dari 0,10 gejala heterokedastisitas dan layak untuk
dan Variance inflation factor (VIF) kurang diteliti.
dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa
tidak ada multikolinearitas antar

18
Koefisien Regresi Berganda bahwa setiap peningkatan satu
Model regresi berganda dalam satuan alokasi pajak antar periode
penelitian ini digunakan untuk menyatakan akan mengakibatkan penurunan
hubungan fungsional antara variabel bebas kualitas laba sebesar -0,502.
dan variabel terikat. Analisis regresi
berganda dilakukan dengan menggunakan a. Uji Koefisien Determinasi
2
program SPSS. Berdasarkan hasil yang Koefisien determinasi (R ) menunjukkan
terdapat pada Tabel 8. Hasil Uji Regresi proporsi yang diterangkan oleh variabel
Berganda (lampiran), maka dapat independen dalam model terhadap variabel
dirumuskan persamaan regresi linear terikatnya, sisanya dijelaskan oleh variabel
berganda sebagai berikut: lain yang tidak dimasukkan dalam model,
Y= -14,254 0,091 (X1) 0,410 (X2) + formulasi model yang keliru dan kesalahan
0,308 (X3) 0,502 (X4) eksperimen.
Angka yang dihasilkan dari Berdasarkan Tabel 9. Hasil Uji Koefisien
2
pengujian tersebut dijelaskan sebagai Determinasi (R ) nilai Adjusted R Square
berikut: menunjukkan 0,474. Hal ini mengindikasikan
a.Konstanta () bahwa konstribusi variabel independen
Nilai konstanta yang diperoleh terhadap variabel dependen 47,4% sedangkan
sebesar -14,254. Hal ini berarti 52,6% ditentukan oleh faktor lain.
bahwa jika varibel-variabel
independen tidak ada, maka besarnya
kualitas laba yang terjadi adalah b. Uji F
sebesar -14,254. Uji F dilakukan untuk menguji
b. Koefisien Regresi () X1
apakah secara serentak variabel
Nilai koefisien regresi variabel independen mampu menjelaskan variabel
dependen dengan baik dan untuk menguji
persistensi laba (X1) sebesar 0,091. apakah model yang digunakan telah fix
Hal ini menunjukkan bahwa setiap atau tidak. Kriteria pengujiannya adalah
peningkatan satu satuan persistensi
laba akan mengakibatkan penurunan jika Fhitung > Ftabel atau sig < 0,05. Apabila
kualitas laba sebesar 0,091. telah memenuhi kriteria maka model dapat
c.Koefisisen Regresi () X2 digunakan. Dari Tabel 10. Hasil Uji F
Nilai koefisien regresi variabel hasil pengolahan data menunjukkan F hitung
yaitu sebesar 5,048 dan nilai signifikan
struktur modal (X2) sebesar -0,410. pada 0,010. Jadi dapat disimpulkan bahwa
Hal ini menunjukkan bahwa setiap persamaan regresi yang diperoleh dapat
peningkatan satu satuan struktur diandalkan atau model sudah fix.
modal akan mengakibatkan
penurunan kualitas laba sebesar -
0,410. Pengujian Hipotesis (Uji t)
d.Koefisisen Regresi () X3 Uji t dilakukan untuk melihat
Nilai koefisien regresi variabel pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen dalam persamaan
ukuran perusahaan (X3) sebesar regresi secara parsial dengan
0,308. hal ini menunjukkan bahwa mengasumsikan variabel lain dianggap
setiap peningkatan satu satuan
konstan. Hasil pengujian menunjukkan
ukuran perusahaan akan
bahwa pada tingkat 0,05 diperoleh
mengakibatkan peningkatan kualitas
laba sebesar 0,308. kesimpulan sebagai berikut:
e.Koefisisen Regresi () X4 1) Pengujian hipotesis 1
Nilai koefisien regresi variabel Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk
alokasi pajak antar periode (X4) membuktikan pengaruh persistensi laba
sebesar -0,502. hal ini menunjukkan terhadap kualitas laba

19
yang dilakukan dengan pengujian koefien sebesar -0,502 dengan arah
statistik. negative. Hal ini menunjukkan bahwa
Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa variabel alokasi pajak antar periode
persistensi laba (X1) memiliki nilai (X4) berpengaruh signifikan negative
thitung < ttabel yaitu -0,163 < 1,9939 terhadap kualitas laba dan dapat
dengan nilai signifikan 0,873 > 0,05 disimpulkan bahwa hipotesis 4
dan koefien sebesar -0,091 dengan diterima.
arah negatif. Hal ini menunjukkan
bahwa persistensi laba tidak PEMBAHASAN
berpengaruh signifikan negatif Persistensi Laba Berpengaruh Positif
terhadap kualitas laba, sehingga dapat Terhadap Kualitas Laba
disimpulkan hipotesis 1 ditolak. Berdasarkan hasil analisis statistik
2) Pengujian hipotesis 2 dalam penelitian ini ditemukan bahwa
Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk hipotesis pertama (H1) ditolak. Koefisien
membuktikan pengaruh struktur modal regresi dari persistensi laba adalah -0,091
terhadap kualitas laba yang dilakukan dengan t sebesar -0,9163 dan signifikansi
dengan pengujian statistik. 0,163 > 0,05. Dengan demikian, penelitian
Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa ini membuktikan bahwa persistensi laba
struktur modal memiliki nilai t hitung < tidak berpengaruh terhadap kualitas laba.
Menurut Scott (2009) semakin
ttabel yaitu -0,951 < 1,9939 dengan nilai
persisten atau permanen perubahan laba
signifikan 0,358 > 0,05 dan koefien
dari waktu ke waktu, maka semakin tinggi
sebesar -0,410 dengan arah negatif. Hal
earnings response coefficient (ERC). Laba
ini menunjukkan bahwa variabel struktur
yang diperoleh perusahaan tersebut dapat
modal (X2) tidak berpengaruh signifikan meningkat secara terus menerus ataupun
negatif terhadap kualitas laba, dan dapat stabil dimasa yang akan datang. Sehingga
disimpulkan bahwa hipotesis 2 ditolak. reaksi pasar lebih tinggi terhadap informasi
3) Pengujian hipotesis 3 yang diharapkan berlaku konsisten
Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk (permanen) dalam jangka panjang
membuktikan pengaruh ukuran dibandingkan informasi yang bersifat
perusahaan terhadap kualitas laba yang sementara. Dalam penelitian ini semakin
dilakukan dengan pengujian statistik. persisten atau permanen laba dari waktu ke
Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa ukuran waktu, respon investor semakin rendah
perusahaan memiliki nilai thitung yang menunjukkan persistensi laba tidak
< ttabel yaitu 1,732 < 1,9939 dengan berpengaruh terhadap kualitas laba.
nilai signifikan 0,105 > 0,05 dan Menurut Ramakrishnan dan
koefien sebesar 0,308 dengan arah Thomas (1991) dalam Scott (2009)
positif. Hal ini menunjukkan bahwa persistensi laba adalah challenging and
variabel ukuran perusahaan (X3) tidak usefull. Perbedaan komponen laba dapat
berpengaruh signifikan positif terhadap menyebabkan perbedaan persistensi.
kualitas laba, dan dapat disimpulkan Terdapat 3 komponen laba yaitu:
bahwa hipotesis 3 ditolak. komponen permanen, diharapkan terjadi
4) Pengujian hipotesis 4 secara pasti (expect to persist indefinitely),
Pengujian hipotesis ini dilakukan untuk komponen transitory, memengaruhi laba
membuktikan alokasi pajak antar ditahun yang bersangkutan tapi tidak
periode terhadap kualitas laba yang berpengaruh ke masa yang akan datang.
dilakukan dengan pengujian statistik. Beberapa contoh dari komponen transitory
Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa adalah penutupan segmen, kerugian yang
alokasi pajak antar periode memiliki disebabkan oleh perubahan
nilai signifikan 0,019 < 0,05 dan

20
prinsip akuntansi dan extraordinary item ERC. Leverage bukan merupakan fokus
atau kejadian luar biasa seperti laba/rugi utama investor dalam membuat keputusan
kurs. Dan terakhir, price irrelevant tidak investasi. Investor lebih terfokus pada
memiliki persistensi sama sekali angka laba yang dipublikasikan. Hal ini
(persistence to zero). terbukti dari rata-rata perusahaan yang
Pemakaian komponen laba yang diteliti 51% perusahaannya masih
berbeda juga akan menyebabkan koefisien memiliki DR yang rendah (< 40%) artinya
respon laba yang berbeda pula. Dalam secara teori perusahaan masih dapat
penelitian ini, penulis tidak membedakan menambah utang untuk mendanai asetnya,
ketiga komponen laba seperti yang perusahaan dengan DR yang rendah juga
dijelaskan oleh Ramakrishnan dan Thomas memilki risiko perusahaan rendah. Atas
(1991), sehingga hasil penelitiannya juga dasar itulah investor lebih memperhatikan
berbeda. Dari seluruh perusahaan yang angka laba perusahaan daripada DR.
teliti, 44,74% merupakan perusahaan yang Berdasarkan penelitian terdahulu,
persisten. Beberapa perusahaan yang ada beberapa alasan yang menyebabkan
tergolong persisten memiliki kualitas laba struktur modal tidak berpengaruh terhadap
yang rendah. Contohnya PT Selamat kualitas laba, yaitu: pertama, investor
Sampurna Tbk (SMSM), PT. Pyridam berasumsi bahwa perusahaan dengan
Farma Tbk (PYFA), PT Set Nusapersada tingkat leverage tinggi berarti memiliki
Tbk (PTSN), PT. Siantar Top Tbk (STTP). utang yang lebih besar dibandingkan
Hal ini menunjukkan bahwa laba yang modal. Oleh karena itu besarnya leverage
dilaporkan tidak informatif bagi investor. tidak mempengaruhi respon investor
Selain itu, perbedaan hasil penelitian ini (Risky, 2009).
juga bisa disebabkan karena data yang Kedua, pasar modal yang tidak
kurang representatif. efisien. Tidak efisiennya pasar modal
Sejalan dengan hasil penelitian terbukti dari masih banyak return saham
yang dilakukan oleh Sri ambarawati yang nol. Dikarenakan return pasar
(2008), Wijayanti (2009) dan Rizky (2009) ditentukan oleh kondisi perdagangan
juga menyatakan persistensi tidak saham yang terjadi di pasar, dalam hal ini
berpegaruh terhadap kualitas laba yang perusahaan sektor manufaktur menghadapi
dilihat dari koefisien respon laba. kondisi buruk yang berhubungan dengan
krisis global. Akibatnya banyak
Struktur Modal Berpengaruh Negatif perusahaan yang memperoleh laba negatif.
Terhadap Kualitas Laba Sehingga rendahnya tingkat leverage yang
Berdasarkan hasil analisis statistik dimiliki oleh perusahaan yang berlaba
dalam penelitian ini ditemukan bahwa negatif tidak akan menarik perhatian
hipotesis kedua (H2) ditolak. Koefisien investor.
regresi dari struktur modal adalah -0,410 Penelitian ini relevan dengan
dengan t sebesar -0,951 dan signifikansi penelitian yang dilakukan oleh Dita (2012)
0,358 > 0,05. Dengan demikian, penelitian yang menemukan bahwa struktur modal
ini membuktikan bahwa struktur modal tidak berpengaruh terhadap kualitas laba
tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. pada perusahaan manufaktur yang terdaftar
Hubungan antara struktur modal di BEI selama tahun 2007 sampai dengan
dengan kualitas laba adalah negatif dan tahun 2010. Dan juga penelitian yang
tidak signifikan. Struktur modal dalam dilakukan oleh Rizky (2009) menemukan
penelitian ini dilihat dari leveragenya. struktur modal tidak berpengaruh terhadap
Jadi, perusahaan dengan leverage tinggi kualitas laba pada perusahaan manufaktur
akan menyebabkan earnings response yang go public di BEI.
coefficient rendah dan leverage tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap

21
Ukuran Perusahaan Berpengaruh inkremental pada penelitian kualitas laba
Positif Terhadap Kualitas Laba yang diukur dengan ERC.
Berdasarkan hasil analisis statistik
dalam penelitian ini ditemukan bahwa Alokasi Pajak Antar Periode
hipotesis ketiga (H3) ditolak. Koefisien Berpengaruh Negatif Terhadap
regresi dari ukuran perusahaan adalah Kualitas Laba
0,308 dengan t sebesar 1,732 dan Berdasarkan hasil analisis statistik
signifikansi 0,105 > 0,05. Dengan dalam penelitian ini ditemukan bahwa
demikian, penelitian ini membuktikan hipotesis keempat (H4) diterima. Koefisien
bahwa ukuran perusahaan tidak regresi dari alokasi pajak antar periode
berpengaruh terhadap kualitas laba. adalah -0,502 dengan t sebesar -2,647 dan
Ukuran perusahaan tidak signifikansi 0,019 < 0,05. Dengan
berpengaruh secara signifikan terhadap demikian, penelitian ini membuktikan
kualitas laba, dikarenakan investor bahwa alokasi pajak antar periode
menganggap bahwa perusahaan yang besar berpengaruh negatif terhadap kualitas laba.
belum tentu memberikan keuntungan, bisa Hasil empiris penelitian ini berarti
saja perusahaan tersebut juga memiliki semakin besar penghasilan pajak
hutang yang besar untuk mendanai tangguhan yang dilaporkan dalam laporan
kegiatan operasional perusahaan. laba-rugi (semakin besar laba akuntansi),
Contohnya PT. Asia Pasifik Fibers Tbk akan semakin rendah ERC. Sebaliknya,
(POLY) memiliki rasio utang sebesar 76 semakin besar beban pajak tangguhan yang
kali. Artinya proporsi utangnya sangat dilaporkan dalam laba rugi (semakin
besar untuk mendanai aset perusahaan. rendah laba akuntansi), akan semakin
Sebagian besar perusahaan tinggi ERC. Ada beberapa hal yang dapat
manufaktur merupakan perusahaan yang diduga menjadi alasan mengapa pelaporan
berukuran besar, namun investor lebih penghasilan (beban) pajak tangguhan
memilih melihat kondisi pasar perusahaan berpengaruh negative terhadap kulitas
secara umum daripada melihat total laba. Pertama, investor menyadari bahwa
asetnya. Selain itu, saat publikasi laporan penghasilan (beban) pajak tangguhan yang
keuangan, informasi yang tersedia tidak dilaporkan di dalam laporran laba-rugi
cukup informatif dan tidak lag menjadi merupakan hasil dari akuntansi akrual dan
perhatian investor dalam mengambl merupakan komponen yang bersifat
keputusan berinvestasi, investor transitori/sementara. Dengan kesadaran
beranggapan bahwa perusahaan yang besar tersebut, investor akan memahami bahwa
tidak selamanya dapat memberikan laba kenaikan (penurunan) laba akuntansi
yang besar begitu juga sebaliknya, hanyalah akibat dari
perusahaan kecil tidak menutup pengakuankonsekuensi pajak karena
kemungkinan dapat memberikan laba yang adanya perbedaan temporer nilai tercatat
tinggi bagi para investornya. aktiva dan kewajiban berdasarrkan
Hasil ini sesuai dengan Zubaidi ketentuan akuntansi dan ketentuan
(2011) yang menunjukkan bahwa ukuran perpajakan. Oleh karena itu, penghasilan
perusahaan tidak berpengaruh secara (beban) pajak tangguhan yang dilaporkan
signifikan terhadap kualitas laba. Hasil ini dalam laporan laba-rugi akan berpengaruh
juga sesuai dengan penelitian Collins dan negative terhadap respon investor pada
Kothari (1989) serta Easton dan Zmijweski laba akuntansi.
(1989) dalam Mayangsari (2004) yang Kedua, investor belum sepenuhnya
menyatakan bahwa ukuran perusahaan mampu menginterpretasikan dengan baik
bukan merupakan variabel penjelas yang tentang substansi penghasilan (beban)
singnifikan dan bermanfaat secara pajak tangguhan yang dilaporkan dalam
laporan laba-rugi. Menurut akuntansi

22
akrual, penghasilan pajak tangguhan yang 1. Persistensi laba tidak berpengaruh
dilaporkan dalam laporan laba-rugi tahun signifikan negatif terhadap kualitas
berjalan secara substansial merefleksikan laba pada perusahaan manufaktur
penghematan pembayaran pajak yang yang terdaftar di PT Bursa Efek
masih akan diperoleh perusahaan pada Indonesia (BEI).
tahun-tahun mendatang atau penghematan 2. Struktur modal tidak berpengaruh
pembayaran pajak yang telah diperoleh signifikan negatif terhadap kualitas
perusahaan lebih dulu pada tahun-tahun laba pada perusahaan manufaktur
lalu. Demikian pula, beban pajak yang terdaftar di PT Bursa Efek
tangguhan secara substansial Indonesia (BEI).
merefleksikan adanya beban pajak yang 3. Ukuran perusahaan tidak
masih harus dibayarkan oleh perusahaan berpengaruh signifikan positif
pada tahun-tahun mendatang atau beban terhadap kualitas laba pada
pajak yang sudah dibayar lebih dulu oleh perusahaan manufaktur yang
perusahaan pada tahun-tahun yang lalu. terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia
Kekurang-mampuan investor untuk (BEI).
menginterpretasikan substansi penghasilan 4. Alokasi pajak antar periode
(beban) pajak tangguhan tersebut, akan mempunyai pengaruh negatif dan
mendorong investor untuk lebih berhati- signifikan terhadap kualitas laba
hati dalam merespon laba akuntansi. pada perusahaan manufaktur yang
Walaupun investor menyadari bahwa terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia
penghasilan (beban) pajak tangguhan (BEI) .
merupakan hasil dari proses akrual
akuntansi, namun karena tidak didukung Keterbatasan Penelitian
oleh kemampuan untuk Meskipun peneliti telah berusaha
menginterpretasikan substansinya, maka merancang dan mengembangkan
keinformatifan laba akuntansi bagi penelitian sedemikian rupa, namun masih
investor menjadi berkurang. Oleh karena terdapat beberapa keterbatasan dalam
itu, investor kurang memberikan respon penelitian ini yang masih perlu direvisi
terhadap perusahaan yang melaporkan bagi peneliti selanjutnya antara lain:
penghasilan (beban) pajak tangguhan di 1. Metode pemilihan sampel yang
dalam laporan laba-rugi. Hal ini tercermin digunakan dalam penelitian ini
dari rendahnya koefisien respon laba yang menggunakan metode purposive
mengindikasikan bahwa rendahnya sampling. Perlu disadari bahwa
kualitas laba. metode ini akan berakibat pada
lemahnya validitas eksternal atau
5. PENUTUP kurangnya kemampuan generaliasasi
Kesimpulan hasil penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk 2. Penelitian ini hanya menggunakan
melihat apakah persistensi laba, struktur empat variabel independen (persistensi
modal, ukuran perusahaan dan alokasi laba, struktur modal, ukuran
pajak antar periode pada perusahaan perusahaan dan alokasi pajak antar
manufaktur yang terdaftar di PT Bursa periode yang mempengaruhi kualitas
Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008 laba).
sampai dengan tahun 2011 dapat 3. Hasil penelitian ini masih kurang baik
mempengaruhi kualitas laba. Berdasarkan dan masih belum menggambarkan
hasil temuan penelitian dan pengujian kondisi pasar yang sesungguhnya, hal
hipotesis yang diajukan sebelumnya dapat ini disebabkan karena penelitian ini
disimpulkan bahwa: hanya melihat reaksi pasar pada tiga
hari setelah dan sebelum tanggal

23
publikasi saja. Sebaiknya sistematis, good cooperate
memperpanjang masa pengamatan governance, dan kualitas akrual.
dengan tujuh hari sebelum dan
sesudah tanggal publikasi.
4. Tahun pengamatan penelitian yang DAFTAR PUSTAKA
masih terlalu singkat yaitu hanya dari
tahun 2008 sampai dengan tahun Agus Sartono. 2001. Manajemen
2011. Hal ini dikarenakan penulis Keuangan Teori dan Aplikasi.
kekurangan informasi mengenai Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
tanggal publikasi laporan keuangan
yang akan digunakan sebagai panduan A.Zubaidi Indra et al, 2011.
untuk melihat reaksi pasar ketika Analisisi faktor-faktor yang
laporan tersebut dipublikasikan. mempengaruhi ERC pada perusahaan real
estate. Jurnal Akuntansi dan Keuangan.
Saran Vol. 16 No.1, UNILA.
Berdasarkan keterbatasan yang ada
pada penelitia ini, maka saran dari Bandi. 2009. Kualitas Laba dalam
penelitian ini yaitu : Perspektif Akrual-Arus Kas dan
1. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik Persinyalan Dividen. Desertasi
meneliti judul yang sama, dengan Mahasiswa Universitas Diponegoro
melihat Adjusted R Square penelitian Semarang.
ini yang masih rendah maka peneliti
menyarankan untuk peneliti Beaver W.H. 1968. The Information
selanjutnya agar dapat menambahkan Content of Annual Earnings
dan menggunakan variabel Announcements. Journal of
independen lain seperti risiko Accounting Research. Supplement.
sistematis, likuiditas, kualitas akrual Pp. 67-49.
dan kesempatan bertumbuh (growth
opportunities). Brigham, Eugene F dan Joel F Houston.
2. Bagi perusahaan emiten hendaknya 2001. Manajemen Keuangan.
meningkatkan kualitas laba sehingga Jakarta: Erlangga.
dapat menarik investor untuk
berinvestasi pada perusahaan mereka, Chaney, Paul K. dan Debra C. Jeter. "The
dan perusahaan emiten hendaknya Effect of Size on The Magnitude of
juga mampu mempertahankan laba Long Window Earnings Reponse
(persistensi laba) perusahaannya Coefficients." Contemporary
sehingga kinerja keuangan menjadi Accounting Research Vol. 8, NO.2
baik dimata investor. (1991): 540-560.
3. Sebaiknya menggunakan proksi lain
untuk mengukur kualitas laba, Cho, Jang Youn dan Kooyul Jung.
persistensi laba, struktur modal, "Earnings ResponseCoefficient: A
ukuran perusahaan dan alokasi pajak Synthesis of Theory and Empirical
antar periode. Evidence." Journal of Accounting
4. Bagi investor, dalam memberikan Literature Vol. 10 (1991): 85-116.
penilaian terhadap perusahaan
sebaiknya juga memperhatikan faktor Christian paulus. 2011. Analisis faktor-
lain yang mempengaruhi kualitas laba faktor yang mempengaruhi kualitas
suatu perusahaan, seperti likuiditas, laba. Skripsi-SI. FE. Universitas
Investment opportunity set, risiko diponegoro. Semarang.

24
Christine Dwikarya Susilawati. 2008. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.
Faktor-faktor penetu ERC. Jurnal Vol. 11 No. 1.
Ilmiah Akuntansi. Vol. 7 No. 2. Hal:
146-161. Eduardus Tandelilin. 2001. Analisis
Investasi dan Manajemen
Collins. D. W. dan S. P. Kothari. 1989. Portofolio. Yogyakarata: BPFE
An Analysis of Intemporal And Yogyakarta.
Cross Sectional Determinants of Empat, Jakarta.
Earnings Response Coefficient. Etty Murwaningsari. 2008. Pengujian
Journal Of Accounting And Simultan : Beberapa Faktor Yang
Economics. 11: 143-182. Mempengaruhi Earning Response
Coefficient (Erc). Artikel
Dechows, Patricia., Weili Ge., Catherine keuangan. Melalui
Schrand. 2010. http://akutansiku.com.
Understanding
Earnings Quality: A Review of the Fendi Permana Widjadja dan Rovila el
ProxiesTheir Determinants maghviroh. 2011. Analisis
and perbedaan kualitas laba dan nilai
Their Consequences. Journal of perusahaan sebelum dan sesudah
Accounting and Economics. adanya komite pada bank-bank go
publik di Indonesia. The indonesian
Dhaliwal, D. S. dan N. L. Farger. 1991. accounting review. Vol.1, no.2. Hal
The Association Between 117-134.
Unexpected Earnings And
Abnormal Security Returns In The Festy Vita Septyana. 2011. Alokasi pajak
Presence of Financial Leverage. antar periode terhadap koefisien
Contemporary Accounting respon laba. Skripsi S-1, FE,
Research. 8: 20-41. Universitas Diponegoro, Semarang.

Dinni Elly Sartika. 2008. Pengaruh Ikatan Akuntansi Indonesia, 2009. Standar
Leverage Dan Ukuran Perusahaan Akuntansi Keuangan, PT Salemba
Terhadap Profitabilitas Pada
Perusahaan Industry Barang Imam Ghozali. 2007. Aplikasi analisis
Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa mutivariat dengan SPSS. Badan
Efek Jakarta. Skripsi S-1 Padang. Penerbitan Universitas Diponegoro:
Universitas Negeri Padang. Semarang.

Dita Willjayanti. 2012. Pengaruh Struktur Lesia Jang. Et al. 2007. Faktor-faktor yang
Modal dan Kualitas Audit terhadap mempengaruhi kualitas laba. STIE
Earning Response Institut bisnis dan informatika.
Coefficiens. Jakarta Utara.
Universitas Pelita Harapan.
Surabaya. Jogiyanto Hartono. 2007. Teori Portofolio
dan Analisis Investasi. Yogyakarta:
Djamaluddin, Subekti., Handayani Tri BPFE-YOGYAKARTA.
Wijayanti dan Rahmawati. 2008.
Analisis Pengaruh Perbedaan Jumingan, S.E., MM., M.Si. 2006.
Antara Laba Akuntansi dan Laba Analisis
Fiskal terhadap Persistensi Laba, Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi
Akrual Dan Aliran Kas pada Aksara.
Perusahaan Perbankan yang
Terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
25
Keown, Arthur J. 2008. Manajemen
keungan dan prinsip penerapannya. Scott, William R. 2009. Financial
Jakarta: PT Indeks. Accounting Theory, 5th Ed. Canada:
Prentice-Hall.
Kormendi, R. dan R. Lipe. (1987).
Earnings Innovations, Earnings Sekar Mayangsari. 2004 bukti empiris
Persistence And Stock Return. pengaruh spesialisasi industry
Journal of Bussiness. 60: 323-345. auditor terhadap earning response
coefficient. Jurnal riset akuntansi
Lipe, R. C. (1990). The Relation Between Indonesia. Vol. 7, no. 2. Hal 154-
Stock Return, Accounting Earnings 178.
And Alternative Information. The
Accounting Review. (January): 49- Soewardjono. 2005. Teori Akuntansi
71. Perekayasaan dan Pelaporan
Keuangan edisi ke 3. Yogyakarta.
Margaretta Jati Palupi. 2006. Analisis
Faktor Faktor Yang Sri Ambarwati. 2008. Earnings Response
Mempengaruhi Koefisien Respon Coefficient. Akuntabilitas. Vol. 7.
Laba Bukti Empiris pada Bursa Hal: 128-134.
Efek Jakarta. Jurnal EKUBANK,
Vol 3. Melalui Sri Mulyani dan Nur Fadrijih. 2007.
<http://akutansiku.com. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Earnings Response Coefficient Pada
Nisa Fitriani, 2010. Pengaruh Ukuran Perusahaan Yang
Perusahaan dan Struktur Modal Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta.
terhadap earning response JAAI Vol 11 NO. 1, hal: 3545
coefficient. Skripsi S-1. FE.
Universitas Negeri Padang. Padang. Suad Husnan. 2005. Dasar Dasar Teori
[Ortofolio Dan Analisis Sekuritas.
Noviyanti Tiolemba dan Erni Ekawati, Yogyakarta: Unit Penerbit dan
2008. Analisis faktor-faktor yang Percetakan AMP YKPN.
mempengaruhi koefisien respon laba
pada perusahaan manufaktur yang Sudarsono. J. 2005. Analisis Kinerja
terdapat di BEJ. Jurnal riset Keuangan dan Perencanaan
akuntansi & keuangan. Vol. 4 No. 2 Keuangan Perusahaan. Jakarta:
Agustus 2008. Hal: 100-115. Gramedia Pustaka Utama.

Riduwan Akhmad, 2006. Pengaruh Alokasi Weston, J Fred dan Brigham, F Eugene.
Pajak Antar Periode Berdasarkan 2001. Dasar Dasar Manajemen
PSAK No. 46 Terhadap Koefisien Keuangan Jilid 2, alih bahsa: Sirait,
Respon Laba Akuntansi, Simposium Alfonso. Jakarta: Erlangga.
Nasional Akuntansi VII, Bali 2-3
Desember, pp 220-245. Wijayanti. 2009. Faktor-faktor yang
mempengaruhi koefisien respon laba
Rizky Indra Pradita. 2009. Pengaruh akuntansi pada perusahaan
Alokasi pajak antar periode, manufaktur yang terdapat di BEI.
persistensi laba, struktur modal dan Skripsi S-1. Universitas
ukuran perusahaan terhadap Pembangunan Nasional veteran.
koefisien respon laba. Skripsi S-1, Jakarta.
STIE Perbananas, Jakarta.

26
www.idx.co.id

www.yahoofinance.co.id

www.tempointeraktif.co.id

Zahroh naimah dan Siddhartha utama.


2006. Pengaruh ukuran
perusahaan, pertumbuhan dan
profitabilitas terhadap koefisien
respon laba. Simposium Nasional
Akuntansi IX. Padang.

27
Gambar 1
Kerangka Konseptual

Persistensi
Laba

Struktur
Modal
Kualitas
Ukuran Laba

Perusahaan
Alokasi

Pajak antar
periode
Tabel 1

Kriteria Pengambilan Sampel


Perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2011 449

Perusahaan non manufaktur (312)

Perusahaan manufaktur 137


Perusahaan manufaktur yang delisting (13)

Perusahaan manufaktur yang tidak menyajikan data keuangan terkait (12)


variabel yang diteliti
Perusahaan manufaktur yang tidak memiliki tanggal publikasi (36)

Perusahaan yang dapat menjadi sampel 76


Sumber: IDX Statistics
Tabel 2

Daftar Perusahaan Sampel


No Kode Nama perusahaan
1 ADES Akhasa Wira Internasional Tbk
2 ADMG Polichem Indonesia Tbk
3 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
4 AKKU Alam Karya Unggul Tbk
5 ALKA Alakasa Industrindo Tbk
6 APLI Asiaplast Industries Tbk
7 ASII Astra International Tbk
8 AUTO Astra Otoparts Tbk
9 BIMA Primarindo Asia Infrastruktur Tbk
28
No Kode Nama perusahaan
11 BRAM Indo Kordsa Tbk
12 BRNA Berlina Tbk
13 BRPT Barito Pasifik Tbk
14 BTON Betonjaya Manunggal Tbk
15 BUDI Budi Acid Jaya Tbk
16 CEKA Cahaya Kalbar Tbk
17 DLTA Delta Djakarta Tbk
18 DPNS Duta Pertiwi Nusantara Tbk
19 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
20 EKAD Ekadharma Internasional Tbk
21 ESTI Ever Shine Textile Industries Tbk
22 FASW Fajar Surya Wisesa Tbk
23 GJTL Gajah Tunggal Tbk
24 HMSP HM Sampoerna Tbk
25 IGAR Champion Pasifik Indonesia Tbk
26 IKBI Sumi Indo Kabel Tbk
27 INAI Indal Aluminium Industri Tbk
28 INCI Intanwijaya Internasional Tbk
29 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
30 INDS Indospring Tbk
31 JPRS Jaya Pari Steel Tbk
32 KAEF Kimia Farma Tbk
33 KARW Karwell Indonesia Tbk
34 KBLM Kabelindo Murni Tbk
35 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk
36 KICI Kedawung Indah Tbk
37 KLBF Kalbe Farma Tbk
38 LION Lion Metal Works Tbk
39 LMPI Langgeng Makmur Industri Tbk
40 LMSH Lionmesh Prima TBK
41 LPIN Multi Prima Sejahtera Tbk
42 MASA Multistrada Arah Sarana Tbk
43 MERK Merck Tbk
44 MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk
45 MLIA Mulia Industrindo Tbk
46 MRAT Mustika Ratu Tbk
47 MYOR Mayora Indah Tbk
48 NIPS Nipress Tbk
49 PBRX Pan Brothers Tbk
50 PICO PT Pelangi Indah Canindo Tbk
51 POLY Asia Pasifik Fibers Tbk
29
No Kode Nama perusahaan
53 PRAS Prima Alloy Stell Tbk
54 PSDN PT Prasidha Aneka Niaga Tbk
55 PTSN Set Nusapersada Tbk
56 PYFA Pyridam Farma Tbk
57 RICY Ricky Putra Globalindo Tbk
58 RMBA Betoel Internasional Investma Tbk
59 SCPI Schering Plough Indonesia Tbk
60 SIMM Surya Intrindo Makmur Tbk
61 SIPD Sierad Produce Tbk
62 SKLT Sekar Laut Tbk
63 SMCB Holcim Indonesia Tbk
64 SMGR Semen Gresik Tbk
65 SMSM Selamat Sempurna Tbk
66 SPMA Suparma Tbk
67 STTP Siantar Top Tbk
68 SULI Sumalindo lestari Jaya Tbk
69 TCID Mandom Indonesia Tbk
70 TOTO Surya Toto Indonesia Tbk
71 TRST Trias Sentosa Tbk
72 TSPC Tempo Scan Pasific Tbk
73 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk
74 UNIT Nusantara Inti Corpora Tbk
75 UNTX Unitex Tbk
76 UNVR Unilever Indonesia Tbk

Tabel 3
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Y 76 -.51 1.03 .0265 .17278


X1 76 -1.50 1.95 .2545 .69594

X2 76 .07 6.26 .7881 1.07108

X3 76 28875269332 45209037500000 2857641267212 630031E12


X4 76 -1.56 .39 -.0348 .24267

Valid N (listwise) 76

Sumber : Data Olahan SPSS 2013

30
Tabel 4
Uji Normalitas Residual
One- Sample Kolmogrov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 76
a Mean .0000000
Normal Parameters

Std. Deviation .17185249


Most Extreme Differences Absolute .283
Positive .283
Negative -.219
Kolmogorov-Smirnov Z 2.470
Asymp. Sig. (2-tailed) .000

a. Test distribution is Normal.

Tabel 5
Uji Normalitas Residual
One- Sample Kolmogrov-Smirnov Test

Unstandardized
Residual
N 19
a Mean .0000000
Normal Parameters
Std. Deviation .99457093
Most Extreme Differences Absolute .132
Positive .132
Negative -.117
Kolmogorov-Smirnov Z .574
Asymp. Sig. (2-tailed) .897
a. Test distribution is Normal.

Tabel 6
Uji Multikolonearitas
a
Coefficients
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Model B Std. Error Beta t Sig. Tolerance VIF
1 (Constant) -14.254 5.090 -2.801 .014
LN_PL -.091 .557 -.036 -.163 .873 .596 1.678
LN_SM -.410 .431 -.169 -.951 .358 .929 1.076
LN_UP .308 .178 .371 1.732 .105 .637 1.570
LN_ALPA -.502 .190 -.544 -2.647 .019 .693 1.444

a. Dependent Variable: LN_KL

31
Tabel 7
Uji Heterokedastisitas
a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta T Sig.
1 (Constant) 5.712 2.858 1.999 .065
LN_PL -.093 .313 -.086 -.297 .771
LN_SM .383 .242 .367 1.580 .136
LN_UP -.177 .100 -.498 -1.773 .098
LN_ALPA -.081 .106 -.204 -.757 .462

a. Dependent Variable: abs_residual

Tabel 8
Regresi Berganda
a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -14.254 5.090 -2.801 .014
LN_PL -.091 .557 -.036 -.163 .873
LN_SM -.410 .431 -.169 -.951 .358
LN_UP .308 .178 .371 1.732 .105
LN_ALPA -.502 .190 -.544 -2.647 .019

a. Dependent Variable: LN_KL

Tabel 9
Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .768a .591 .474 1.12774
a. Predictors: (Constant), LN_ALPA, LN_SM, LN_UP, LN_PL

Tabel 10
Hasil Uji F Statistik
b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 25.678 4 6.420 5.048 .010a


Residual 17.805 14 1.272
Total 43.483 18

b. Dependent Variable: LN_KL


a. Predictors: (Constant), LN_ALPA, LN_SM, LN_UP, LN_PL

32