Anda di halaman 1dari 2

Isolasi bakteri

Isolasi atau pembiakan adalah proses menumbuhkan mikroorganisme dari tempat


infeksi (lingkungan in vivo) melalui berbagai spesimen dan menumbuhkan dalam lingkungan
tiruan di laboratorium (lingkungan invitro). Ketika bakteri tumbuh pada media, pada
umumnya populasi bakteri akan mudah diamati tanpa mikroskop karena berada dalam jumlah
yang banyak berupa koloni bakteri sehingga memungkinkan untuk identifikasi laboratorik
selanjutnya . Keberhasilan pemindahan bakteri dari lingkungan in vivo ke in vitro
memerlukan nutrisi dan lingkungan yang dibutuhkan oleh bakteri patogen tersebut. Karena
pada lingkungan in vivo bakteri dapat menggunakan berbagai hasil metabolik dan jalur
fisiologik untuk pertumbuhan selama berada di dalam tubuh hospes kemudian secara tiba-tiba
harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi tiruan di laboratorium. Dengan demikian
sangatlah penting untuk menyediakan nutrisi yang dibutuhkan dan lingkungan yang sesuai
untuk pertumbuhan bakteri
Di dalam tubuh, populasi mikroba tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi
terdiri dari campuran berbagai macam jenis bakteri untuk memisahkan bakteri patogen perlu
dilakukan isolasi di laboratorium populasi bakteri ini dapat diisolasi menjadi kultur murni
yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari morfologi, sifat dan kemampuan
biokimiawinya.
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pertumbuhan bakteri maka perlu cara kerja
yang aseptik, dan sterilisasi ose sebelum digunakan mengambil koloni yang dicurigai sebagai
penyebab infeksi.
Inkubasi
Metode-metode yang digunakan untuk mengoptimalkan kondisi inkubasi :

inkubasi dilakukan pada suhu optimum untuk pertumbuhan bakteri (35C-37C) dan

kelembaban udara yang mengandung CO2 sekitar 3-5%


untuk pertumbuhan bakteri yang memerlukan CO2 lebih banyak diperlukan inkubasi pada
tempat khusus yang mengandung CO2 (tablet natrium bikarbonat dengan kelembaban dan
penutupan yang sangat erat akan menghasilkan CO2 yang cukup , sebagai alternatif dapat
juga dilakukan inkubasi pada sungkup lilin yang dapat menghasilkan CO2 3%
Identifikasi bakteri
Setelah isolasi, bakteri yang tumbuh pada media perbenihan dilakukan identifikasi
dengan tahapan sebagai berikut:
1) Evaluasi morfologi koloni
Evaluasi morfologi koloni dengan memperhatikan warna koloni, bentuk koloni (seperti titik,
bundar, berfilamen,atau tidak beraturan), elevasi koloni (cembung, cekung, datar), serta batas
koloni (halus atau tidak beraturan)
2) Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis dengan cara pewarnaan gram dengan melihat diferensiasi
(termasuk bakteri gram positif atau negatif), bentuk (coccus, batang, koma, atau pleimorf),
susunan (sendiri-sendiri, diplo, berantai, atau seperti anggur)
3) Uji biokimia
Uji biokimia dilakukan untuk melihat karakteristik bakteri melalui reaksi biokimia, yang
biasa dilakukan diantaranya:
l Sugar Iron Agar)
Digunakan untuk identifikasi bakteri gram negatif batang, untuk melihat kemampuan meragi
glukosa dan sukrosa atau laktosa. Contohnya hasil untuk Escherichia coli (acid/acid),
Salmonella thypii (alkali/acid+H2S) sedangkan Pseudomonas aerugenosa (alkali/alkali)
Gambar 5. Hasil uji pada TSIA
2. Fermentasi karbohidrat/gula-gula
Gambar 6. Hasil positif (tabung berwarna kuning) fermentasi gula-gu
3. MR/VP (methyl red /voges proskauer)
Uji ini dilakukan untuk menentukan organisme yang memproduksi dan mengelola asam dan
produk-produknya dari hasil fermentasi glukosa, memperlihatkan kemampuan sistem buffer
dan menentukan organism yang menghasilkan prosuk netral (asetil metal karbinol atau
aseton) dari hasil fermentasi glukosa
Gambar.7 hasil uji MR(kiri) dan VP(kanan)
4. SIM(sulfur, indol, motility)
Uji ini untuk mengetahui pergerakkan bakteri, produksi indol dan pembentukkan gas H2S
Gambar 8. Hasil uji pada media SIM
5. Simon citrate
Uji ini dilakukan untuk menentukkan bakteri yang menggunakan sitrat sebagai sumber
karbon
Gambar 9. Hasil uji simon citrate (positif warna biru)