Anda di halaman 1dari 29

BAB II

PENGATURAN HUKUM TENTANG PENGELOLAAN KOPERASI


MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2012 Jo. UNDANG-
UNDANG NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN

A. Pengertian Koperasi Sebagai Badan Hukum

Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan

atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya

sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan

bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip

Koperasi. Defenisi tersebut menjelaskan bahwa koperasi merupakan badan hukum

yang didirikan oleh orang perseorang dimana koperasi juga bagian dari badan

usaha yang bersifat lebih mengikat dan mempunyai sanksi yang tegas apabila

terjadi pelanggaran sehingga koperasi juga dapat dipersamakan dengan badan

usaha lainnya. Di Indonesia koperasi diatur dalam Undang-Undang Nomor 17

Tahun 2012 Jo. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. 21

Membicarakan mengenai badan hukum sebenarnya perlu terlebih dahulu

untuk mengerti apa yang dimaksud dengan badan hukum tersebut, dalam

pergaulan hukum, manusia bukanlah satu-satunya pendukung hak dan kewajiban.

Selain manusia adalagi suatu subyek hukum lain yang pergaulan hukum dapat

melakukan tindakan hukum serta mempunyai hak dan kewajiban dan mempunyai

harta kekayaan sendiri. Dapat kita lihat dalam bidang hukum sebagai suatu realita,

walaupun tidak berwujud manusia yaitu apa yang dinamakan badan hukum. 22

2121
Syamsul Arifin dkk Op.Cit hlm 59
22
Ibid

Universitas Sumatera Utara


Sebagaimana halnya subjek hukum manusia, badan hukum inipun dapat

mempunyai hak-hak dan kewajiban, serta dapat pula mengadakan hubungan-

hubungan hukum baik antara badan hukum yang satu dengan badan hukum yang

lain maupun antara badan hukum dengan manusia. Oleh sebab itu, badan hukum

dapat mengadakan jual-beli, tukar-menukar, sewa menyewa dan segala macam

perbuatan di lapangan harta kekayaan. Dengan demikian, badan hukum ini adalah

pendukung hak dan kewajiban yang tidak berjiwa sebagai lawan pendukung hak

dan kewajiban yang berjiwa yakni manusia. 23

Sri Soedewi Maschun Sofwan mengatakan manusia adalah badan pribadi

itu adalah manusia tunggal. Selain dari manusia tunggal, dapat juga oleh hukum

diberikan kedudukan sebagai badan pribadi kepada wujud lain disebut badan

hukum yaitu kumpulan dari orang-orang bersama-sama mendirikan suatu badan

(perhimpunan) dan kumpulan harta kekayaan, yang ditersendirikan untuk tujuan

tertentu (yayasan). 24 Kedua-duanya merupakan badan hukum. Menurut Utrecht

badan hukum (rechtpersoon) yaitu badan yang menurut hukum berkuasa

(berwenang) menjadi pendukung hak yang tidak berjiwa atau lebih tepat yang

bukan manusia. Badan hukum sebagai gejala kemasyarakatan adalah suatu gejala

riil, merupakan fakta yang benar-benar dalam pergaulan hukum biarpun tidak

berwujud manusia atau benda yang dibuat dari besi, kayu dan sebagainya. 25

Menurut Wirjono Prodjodikoro mengemukakan pengertian suatu badan

hukum yaitu badan yang disamping manusia perseorangan juga dianggap dapat
23
Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni Bandung,
Bandung, 1989 hlm 55
24
http://www.jurnalhukum.com/pengertian-badan-hukum/ diakses pada tanggal 23
Februari 2014 pada pukul 18.00 wib
25
Neni Sri Imaniyati, Hukum Bisnis: Telaah Tentang Pelaku dan Kegiatan Ekonomi,
Graha ilmu, Yogyakarta, 2009 hlm 124

Universitas Sumatera Utara


bertindak dalam hukum dan mempunyai hak-hak, kewajiban-kewajiban dan

perhubungan hukum terhadap orang lain atau badan lain. 26 Dari pendapat-

pendapat diatas dapatlah disimpulkan tentang pengertian badan hukum sebagai

subjek hukum itu mencakup hal berikut, yaitu : 27

1. Perkumpulan orang atau organisasi;


2. Dapat melakukan perbuatan hukum dalam hubungan-hubungan
hukum;
3. Mempunyai harta kekayaan sendiri;
4. Mempunyai pengurus;
5. Mempunyai hak dan kewajiban
6. Dapat digugat atau menggugat didepan pengadilan.

Koperasi adalah suatu perkumpulan yang mempunyai anggota-anggota,

semuanya itu dapat kita lihat dalam pergaulan masyarakat dewasa ini, dinamakan

subyek hukum dapat melakukan perbuatan hukum misalnya membeli rumah,

mengadakan perjanjian-perjanjian dan lain-lainnya. Tidak perlu semua anggota-

anggota ikut serta melakukan hal itu. Jika subyek hukum ini atau yang disebut

badan hukum ditunjuk dan ditugaskan sebagai badan penyalur untuk melakukan

distribusi barang sandang pangan misalnya tekstil, beras, maka rakyat yang

membeli dengan harga murah itu merasakan betul-betul akibat hukumnya dari

perhubungan hukum antara mereka dengan badan hukum yang bertugas

melakukan distribusi itu. Perbuatan badan hukum dirasakan oleh mereka

manfaatnya, dimana mereka betul-betul menerima dan menjadi pemilik baru dari

tekstil dan beras akibat penyerahan tersebut. Oleh sebab itu, mereka menerima

26
Chaidir Ali, Badan Hukum, Alumni Bandung, Bandung, 1999 hlm 86
27
Ibid

Universitas Sumatera Utara


barang-barang tadi bukan dari anggota-anggota badan itu, bukan dari manusia

(naturlijk persoon) tetapi dari badan hukum itu sendiri. 28

Sama halnya dengan Perseroan Terbatas, koperasi yang berstatus sebagai

badan hukum adalah merupakan subjek hukum, sehingga merupakan sebuah

organisasi yang berdiri sendiri yang dapat mempunyai hak dan kewajiban dimata

hukum. Pembentukan sebuah koperasi yang berstatus badan hukum adalah

merupakan subjek hukum dan mempunyai kedudukan yang disamakan dengan

persoonrecht. Perolehan status badan hukum tersebut tergantung dari ketentuan

hukum yang dibuat untuk mengatur prosedurnya, kapan dan apa syarat-syarat dan

ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhinya. 29

Berdasarkan Pasal 13 ayat (1) UU Koperasi menyebutkan koperasi

memperoleh sebagai badan hukum setelah akta pendirian koperasi sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) disahkan oleh menteri. Pada ayat (2)

disebutkan bahwa pengesahan koperasi sebagai badan hukum sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam waktu paling lambat 30 hari terhitung

sejak tanggal permohonan diterima.

Pada Pasal 10 ayat (1) dijelaskan bahwa akta pendirian koperasi memuat

anggaran dasar dan keterangan yang berkaitan dengan pendirian koperasi. Lebih

jelas dalam ayat (4) menyebutkan permohonan akta pendirian koperasi

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara tertulis oleh para pendiri

secara bersama-sama atau kuasanya kepada menteri untuk mendapatkan

pengesahan sebagai badan hukum. Pada ayat (5) ditegaskan ketentuan mengenai

28
Syamsul Arifin, Op.Cit hlm 61
29
Andjar Pachta W dkk, Hukum Koperasi Indonesia Pemahaman, Pendirian dan Modal
Usaha, Kencana, Jakarta, 2005 hlm 77

Universitas Sumatera Utara


tata cara dan persyaratan permohonan pengesahan koperasi sebagai badan hukum

sebagimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam peraturan menteri.

Sebagai pelaksanaan dari ketentuan tersebut telah dibuat Peraturan

Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Nomor 1 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan

Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi. Pada bab IV Pasal 10

Peraturan Menteri ini menegaskan bahwa (1) Koperasi memperoleh status badan

hukum setelah mendapat pengesahan oleh Menteri atau Pejabat yang berwenang;

(2) Nomor dan tanggal surat keputusan pengesahan akta pendirian koperasi

merupakan nomor dan tanggal perolehan status badan hukum koperasi; (3) Nomor

status badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kuranya

mencantumkan kode dengan huruf BH dan kode daerah yang bersangkutan. 30

Koperasi diakui sebagi badan hukum adalah suatu badan yang ada karena

hukum dan memang diperlukan keberadaannya sehingga disebut legal entity. Oleh

karena itu maka disebut antificial person/ rechts person. Sebagaimana halnya

dengan pendirian suatu badan hukum, maka pendirian suatu koperasi tidak dapat

digolongkan pada suatu perjanjian obligatoir yang dimana pihak-pihak sepakat

mengikatkan diri untuk melakukan penyerahan suatu benda kepada pihak lain,

tetapi merupakan tindakan hukum berganda berdasarkan pada aturan hukumnya

sendiri serta formil sifatnya. Suatu koperasi mempunyai kedudukan sebagai badan

hukum, maka akta pendirian termasuk didalamnya anggaran dasarnya perlu

disahkan oleh pemerintah. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pengesahan

30
Budi Untung, Hukum Koperasi dan Peran Notaris Indonesia, Andi , Jakarta, 2004 hlm
31

Universitas Sumatera Utara


tersebut para pendirinya mengajukan permintaan tertulis disertai dengan akta

pendirian koperasi. 31

Menurut doktrin pengakuan sebagai badan hukum pada umumnya berlaku

extunct yang berarti segala tindakan hukum yang dilakukan atas nama badan

hukum tersebut sebelum pengakuan sebagai badan hukum beralih kepada badan

hukum tersebut kecuali undang-undang menentukan lain. 32 Suatu koperasi setelah

disahkan oleh pemerintah adalah badan hukum, maka segala hak dan kewajiban

serta perikatan atas nama koperasi yang diperoleh atau dibuat sebelum tanggal

resmi diakui sebagi badan hukum seketika itu beralih kepada koperasi. 33

Suatu koperasi yang sudah merupakan suatu badan hukum, maka dia juga

berpredikat sebagai subjek hukum, karena hukum telah mengatakan demikian;

karena itu ia dapat bertindak dan berwenang untuk melakukan perikatan atau

tindakan hukum lainnya sebagaimana layaknya orang pribadi atau badan hukum

pribadi dan dapat pula dituntut atau dikenakan sanksi dan hukuman. Oleh sebab

itu, bagi orang perorangan atau badan hukum lainnya yang hendak membuat

hubungan hukum dengan badan usaha koperasi tersebut menjadi jelas untuk

mendudukkan posisinya atau kepentingan dalam berhubungan dengan badan

usaha koperasi tersebut. Namun, demikian sangat baik dan menjadi lebih tegas

jika dalam ketentuan perundang-undangan tentang koperasi berisi ketentuan yang

mengatur mengenai prinsip-prinsip umum hukum perusahaan dalam koperasi

sebagaimana yang terdapat didalam ketentuan perundang-undangan Perseroan

Terbatas; seperti mengenai tingkat dan bentuk tanggung jawab dari para pendiri,

31
Ibid
32
Ibid., hlm 32
33
Herlien Budiono, perkoperasian di Indonesia, Paper, hlm 6

Universitas Sumatera Utara


para anggota, para pengurus dan para manajer dari suatu koperasi dalam kaitan

dengan status badan usaha koperasi sebagai suatu badan hukum. 34

B. Organ Dalam Koperasi

Badan hukum (rechts persoon) merupakan badan-badan perkumpulan

yakni orang-orang (persoon) yang diciptakan oleh hukum. Badan hukum sebagai

subyek hukum dapat bertindak hukum (melakukan perbuatan hukum) seperti

manusia. Oleh sebab itu, suatu badan hukum selaku subjek hukum dapat

melakukan perbuatan hukum selayaknya manusia. Koperasi merupakan subyek

hukum abstrak yang keberadaannya berdasar atas bentukan/rekayasa dari

manusia/orang (persoon), untuk memenuhi kebutuhan dari manusia itu sendiri di

bidang ekonomi. Oleh karena koperasi adalah merupakan subyek hukum abstrak,

maka untuk melaksanakan/menjalankan kegiatan usahanya atau untuk mengelola

jalannya koperasi, perlu kehadiran subyek hukum manusia atau orang (persoon).

Mereka ini disebut sebagai perangkat organisasi koperasi. 35

Koperasi sebagai badan usaha yang berbadan hukum walaupun

kedudukannya sebagai subjek hukum, tetapi bukanlah makhluk hidup seperti

manusia melainkan tetap merupakan sebagai badan hukum. Koperasi kehilangan

daya berfikir dan kehendaknya serta tidak mempunyai central bewustzijn karena

koperasi tidak dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum sendiri. 36 Berbeda

34
Andjar Pachta W, Op,Cit hlm 94
35
R.T. Sutantya Rahardja Hadhikusuma, SH., M.H, Hukum Koperasi Indonesia, Rajawali
Pers, Jakarta, 2005 hlm 81
36
Ali Ridho, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan. Perkumpulan
Koperasi, Yayasan, Wakaf, Bandung, Alumni, 1986, hlm 17.

Universitas Sumatera Utara


dengan manusia yang dapat bertindak sendiri, koperasi sekalipun sebagai badan

hukum merupakan subjek hukum mandiri.

Struktur organisasi koperasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu : 37

1. Segi intern Organisasi Koperasi

2. Segi ekstern Organisasi Koperasi

Intern organisasi koperasi ialah organisasi yang ada di dalam setiap tubuh

koperasi, baik di dalam Koperasi Primer, Koperasi Pusat, Koperasi Gabungan

maupun Koperasi Induk. Adapun ekstern Organisasi ialah organisasi yang

berhubungan dengan tingkat-tingkat koperasi itu, yaitu hubungan antara koperasi

primer, koperasi pusat, koperasi gabungan dan koperasi induk. 38

Organisasi Koperasi menurut Ropke, dimana Ropke mengidentifikasikan

ciri-ciri dari organisasi koperasi sebagai berikut : 39

1. Terdapat sejumlah individu yang bersatu dalam suatu kelompok, atas dasar

sekurang-kurangnya satu kepentingan atau tujuan yang sama, yang disebut

sebagai kelompok koperasi;

2. Terdapat anggota-anggota koperasi yang bergabung dalam kelompok usaha

untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi mereka sendiri, yang disebut

sebagai swadaya dari kelompok koperasi;

3. Anggota yang bergabung dalam koperasi memanfaatkan koperasi secara

bersama, yang disebut sebagai perusahaan koperasi;

37
Pengetahuan Koperasi, Buku pelajaran Koperasi Tingkat Lanjutan, Departemen
Koperasi Direktorat penyuluhan Koperasi, Jakarta, 1984 hlm 180
38
Ibid
39
Arifin Sitio dan Halomoan Tamba, Koperasi Teori dan Praktek, Erlangga, Jakarta,2001
hlm 34

Universitas Sumatera Utara


4. Koperasi sebagai perusahaan mempunyai tugas untuk menunjang

kepentingan para anggota kelompok koperasi, dengan cara menyediakan

barang dan jasa yang dibutuhkan oleh anggota dalam kegiatan ekonominya.

Pada UU Koperasi secara limitatif disebutkan bahwa koperasi mempunyai

organ intern yang terdiri atas : rapat anggota, pengurus dan pengawas. Ketiga

organ itu masing-masing mempunyai fungsi, wewenang dan tugas yang terpisah.

Ketentuan yang mengatur tentang organ dapat diketahui dengan melihat dari

beberapa pasal dalam undang-undang koperasi, adapun ketiga organ koperasi

tersebut adalah : 40

1. Rapat Anggota

Rapat anggota merupakan suatu wadah dari para anggota koperasi yang

diorganisasikan oleh pengurus koperasi, untuk membicarakan kepentigan

organisasi maupun usaha koperasi, dalam rangka mengambil suatu keputusan

dengan suara terbanyak dari para anggota yang hadir. Pelaksanaan rapat anggota

ini biasanya diatur dalam anggaran dasar koperasi, baik mengenai waktu

pelaksanaannya maupun menyangkut jumlah anggota minimal yang hadir. 41

Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi.

Pada rapat anggota, para anggota koperasi bebas untuk berbicara, memberikan

usul, pandangan dan tanggapan serta saran demi kemajuan usaha koperasi

keputusan rapat anggota diambil berdasarkan musyawarah untuk mencapai

mufakat. Sebaliknya, Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara

musyawarah, maka pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara

40
Ibid, hlm 35
41
Ibid

Universitas Sumatera Utara


terbanyak. Dalam hal, dilakukan pemungutan suara, setiap anggota mempunyai

hak satu suara. Ketidak hadiran anggota koperasi di dalam rapat anggota yang

diadakan tidak dapat diwakilkan atau dikuasakan kepada orang lain, jadi

pemungutan suara hanya dilakukan oleh anggota yang hadir. 42

Rapat anggota sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam koperasi

mempunyai hak dan wewenang : 43

1. Menetapkan kebijakan umum koperasi;

2. Mengubah anggaran dasar;

3. Memilih, mengangkat dan memberhentikan pengawas dan pengurus;

4. Menetapkan rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja

koperasi;

5. Menetapkan batas maksimum pinjaman yang dapat dilakukan oleh pengurus

untuk dan atas nama koperasi;

6. Meminta keterangan dan mengesahkan pertanggungjawaban pengawas dan

pengurus dalam pelaksanaan tugas masing-masing;

7. Menetapkan pembagian sisa hasil usaha;

8. Memutuskan penggabungan, peleburan, kepailitan dan pembubaran koperasi;

dan

9. Menetapkan keputusan lain dalam batas yang ditentukan oleh Undang-

Undang ini.

Rapat anggota diadakan paling sedikit sekali dalam 1 tahun, sehingga

sering disebut rapat anggota tahunan (RAT). Ketika keadaan mengharuskan

42
Muhammad Firdaus, Perkoperasian Sejarah Teori dan Praktek, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 2002 hlm 85-86
43
Periksa pasal 33 Undang-undang no 17 tahun 2012 tentang perkoperasian

Universitas Sumatera Utara


adanya keputusan segera demi kepentingan bersama dalam koperasi, maka dapat

dilakukan rapat anggota luar biasa (RALB). Alasan utama dilakukannya

permintaan RALB adalah apabila anggota menilai bahwa pengurus telah

melakukan kegiatan yang bertentangan dengan kepentingan koperasi dan

menimbulkan kerugian terhadap koperasi. Jika permintaan tersebut telah

dilakukan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar, maka pengurus harus

memenuhinya. RALB atas keputusan pengurus dilaksanakan untuk kepentingan

pengembangan koperasi. 44

2. Pengurus

Pengurus merupakan pemegang kuasa rapat anggota. Pengurus dipilih dari

dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota untuk masa jabatan paling lama 5

(lima) tahun. Pertama kalinya, susunan dan nama anggota pengurus dicantumkan

dalam akta pendirian. Persyaratan untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi

anggota pengurus ditetapkan dalam anggaran dasar. 45

Pengurus adalah perwakilan anggota koperasi yang dipilih melalui rapat

anggota, yang memperoleh kepercayaan dari rapat anggota untuk memimpin

organisasi dan usaha koperasi untuk satu periode tertentu. Penguruslah yang akan

menentukan apakah program-program kerja yang telah disepakati oleh rapat

anggota benar-benar dapat dijalankan. Dan pengurus pula yang akan menentukan

apakah koperasi dapat diterima sebagai rekan usaha yang terpercaya dalam

lingkungan dunia usaha. Pengurus memiliki fungsi dan wewenang sebagai

44
Muhammad Firdaus, Op.Cit hlm 86
45
Mulhadi, Hukum Perusahaan Bentuk-Bentuk Badan Usaha Di Indonesi, Diktat Kuliah
Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2013 hlm 139

Universitas Sumatera Utara


pelaksana keputusan rapat anggota sangat strategis dan menentukan maju

mundurnya koperasi 46

Menurut ketentuan Pasal 55 UU Koperasi pengurus dipilih dari orang

perseorangan, baik anggota maupun non anggota. Orang perseorangan

sebagaimana yang dimaksud harus memenuhi persyaratan :

1. Mampu melaksanakan perbuatan hukum;

2. Memiliki kemampuan mengelola usaha koperasi

3. Tidak pernah menjadi pengawas atau pengurus suatu koperasi atau komisaris

atau direksi suatu perusahaan yang dinyatakan bersalah karena menyebabkan

koperasi atau perusahaan itu dinyatakan pailit;dan

4. Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan

korporasi, keuangan negara, dan /atau yang berkaitan dengan sektor

keuangan, dalam waktu 5 tahun sebelum pengangkatan.

Ada persyaratan lain untuk dapat dipilih menjadi pengurus. Persyaratan

untuk dapat dipilih dan diangkat menjadi pengurus koperasi Indonesia ditetapkan

dalam anggaran dasar koperasi. Biasanya syarat-syarat tersebut sesuai dengan

jenis koperasi dimana pengurus itu akan memimpinnya, yaitu seperti berikut : 47

1. Harus turut ambil bagian dalam usaha koperasi, serta telah memenuhi

kewajiban dalam koperasi, seperti membayar simpanan pokok dan telah

mempunyai pengalaman dalam usaha koperasi;

46
Revrisond Baswir, Koperasi Indonesia, BPFE, Yogyakarta, 1997 hlm137
47
R.T. Sutantya Rahardja Hadhikusuma, Op.Cit, hlm85

Universitas Sumatera Utara


2. Harus menyediakan waktu untuk menghadiri rapat pengurus, serta turut

mengeluarkan pendapat dan buah pikiran yang berguna demi kemajuan para

anggota;

3. Harus mengerti dan mempunyai pengalaman tentang organisasi koperasi,

serta aktif memperhatikan kerapian organisasi koperasi;

4. Harus bersedia mendengar usul-usul atau keberatan dari pihak anggota guna

kebaikan bersama, serta membicarakan hal itu dalam rapat pengurus;

5. Harus menghargai pendapat sesama anggota walupun tidak selalu sama,

sebelum mengambil keputusan;

6. Harus mematuhi keputusan rapat pengurus dan tidak dibenarkan menjalankan

kemauannya sendiri-sendiri;

7. Harus mempunyai sikap terbuka dan mau menerima kemajuan-kemajuan

teknologi baru dan penemuan-penemuan kearah pembaruan;

8. Pengurus adalah pemegang kepercayaan dan pemegang kuasa dari rapat

anggota, karenanya merupakan suatu jabatan kehormatan, sehingga jangan

sampai mengecewakan para anggota yang telah memberi kepercayaan dan

kuasa kepadanya.

Setelah badan pengurus terbentuk, lalu ditetapkan kewajiban dan tanggung

jawab pengurus, umumnya dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga

maupun keputusan rapat sudah ditentukan. Pengurus harus benar-benar

memahami isi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian dan

anggaran dasar koperasinya serta mengatur perusahaannya sesuai dengan

Universitas Sumatera Utara


ketentuan undang-undang dan anggaran dasar tersebut. Tugas-tugas dari pengurus

diatur dalam UU Koperasi, mencakup antara lain : 48

1. Mengelola koperasi berdasarkan anggaran dasar;

2. Mendorong dan memajukan usaha anggota;

3. Menyusun rancangan rencana kerja serta rencana anggaran pendapatan dan

belanja koperasi untuk diajukan kepada rapat anggota;

4. Menyusun laporan keuangan dan pertanggung jawaban pelaksanaan tugas

untuk diajukan kepada rapat anggota;

5. Menyusun rencana pendidikan, pelatihan, dan komunikasi koperasi untuk

diajukan kepada rapat anggota;

6. Menyelenggarakan pembukuan keuangan dari inventaris secara tertib;

7. Menyelenggarakan pembinaan karyawan secara efektif dan efisien;

8. Memelihara buku daftar anggota, buku daftar pengawas, buku daftar

pengurus, buku daftar pemegang sertifikat modal koperasi, dan risalah rapat

anggota; dan

9. Melakukan upaya lain bagi kepentingan, kemanfaatan, dan kemajuan

koperasi sesuai dengan tanggung jawabnya dan keputusan rapat anggota.

Berdasarkan ketentuan tersebut pengurus mengemban amanat dan

keputusan rapat anggota untuk mengelola organisasi dan usaha koperasi. Tugas

dan wewenang yang dilakukan pengurus merupakan pelaksanaan kegiatan sebagai

lembaga eksekutif dan memliki identitas sendiri. Dalam mengelola koperasi ini,

sebagai kuasa rapat anggota, pengurus harus melaksanakan kegiatannya semata-

48
Periksa Pasal 58 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian

Universitas Sumatera Utara


mata untuk kepentingan dan kemanfaatan koperasi beserta anggotanya, sesuai

keputusan rapat anggota. 49

Susunan perangkat organisasi pengurus pada umumnya terdiri dari ketua,

sekretaris dan bendahara. Namun, dalam pelaksanaannya susunan perangkat

organisasi pengurus tersebut dapat bervariasi antara satu koperasi dengan koperasi

yang lain, tergantung besar kecilnya koperasi dan keinginan anggota.

Kecenderungan yang biasa terjadi pada banyak koperasi di Indonesia adalah

pengembangan struktur perangkat secara horizontal. Pemekaran tersebut lebih

banyak ditujukan untuk menampung yang lebih banyak orang dan bukan

didasarkan atas efektifitas pelaksanaan tugas. Ada juga koperasi yang menyusun

perangkat pengurus berdasarkan kepentingan usaha, yaitu besar kecil usaha

koperasi tersebut. 50

3. Pengawas

Pengawas adalah perangkat organisasi yang dipilih dari anggota dan diberi

mandat untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya roda organisasi dan

usaha koperasi. Pengawas organisasi koperasi merupakan suatu lembaga atau

badan struktural organisasi koperasi. Pengawas mengemban amanat anggota

untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan

pengelolaan koperasi, sebagaimana ditetapkan dalam anggaran dasar dan

anggaran rumah tangga koperasi, keputusan pengurus, serta peraturan lainnya

yang berlaku didalam koperasi. 51

49
R.T. Sutantya rahardja hadhikusuma, Op.Cit, hlm 87.
50
Muhammad Firdaus, Op.Cit hlm 89
51
Ibid

Universitas Sumatera Utara


Pengawas koperasi ini juga merupakan organisasi koperasi Indonesia yang

dipilih dari dan oleh anggota koperasi dalam rapat anggota, serta bertanggung

jawab kepada rapat anggota. Dengan demikian, pengawas ini tidak dibenarkan

diangkat dari orang diluar koperasi. Tugas pengawas ini secara umum adalah

mengawasi jalannya kegiatan koperasi yang dilaksanakan oleh pengurus, dan hasil

pengawasannya tersebut kemudian dilaporkan kepada rapat anggota secara

tertulis. Sebagai anggota pengawas, tidak dapat merangkap jabatan sebagai

pengurus, sebab kedudukan dan tugas pengawas ini adalah mengawasi

pelaksanaan tugas kepengurusan yang dilakukan oleh pengurus. Sehingga jika

terjadi perangkapan jabatan, sebagai anggota pengawas sekaligus juga sebagai

pengurus, maka laporan hasil pengawasan yang telah dilakukan diragukan

keobyektifannya. 52

Tugas dan wewenang pengawas diatur dalam UU Koperasi, yaitu : 53

1. Mengusulkan calon pengurus;

2. Memberi nasihat dan pengawasan kepada pengurus;

3. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan pengelolaan

koperasi yang dilakukan oleh pengurus;dan

4. Melaporkan hasil pengawasan kepada rapat anggota.

Kewenangan yang dimiliki oleh pengawas dalam suatu koperasi yaitu : 54

1. Menetapkan penerimaan dan penolakan anggota baru serta pemberhentian

anggota sesuai dengan ketentuan anggaran dasar;

52
Ibid, hlm 90
53
Periksa Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang
Perkoperasian
54
Periksa Pasal 50 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang
Perkoperasian

Universitas Sumatera Utara


2. Meminta dan mendapatkan segala keterangan yang diperlukan dari pengurus

dan pihak lain yang terkait;

3. Mendapatkan laporan berkala tentang perkembangan usaha dan kinerja

koperasi dari pengurus;

4. Memberikan persetujuan atau bantuan kepada pengurus dalam melakukan

perbuatan hukum tertentu yang ditetapkan dalam anggaran dasar; dan

5. Dapat memberhentikan pengurus untuk sementara waktu dengan

menyebutkan alasannya.

Ketika didalam meneliti segala catatan tentang seluruh harta kekayaan

koperasi dan kebenaran dari pembukuannya yang tercermin dalam neraca dan

perhitungan laba rugi menemui kesulitan serta dalam rangka peningkatan efisiensi

pengelolaan yang bersifat terbuka, dan melindungi pihak yang berkepentingan,

koperasi dapat meminta jasa audit kepada akuntan publik dan tidak menutup

kemungkinan permintaan tersebut dilakukan oleh pengawas. Dimaksud dengan

jasa audit adalah audit terhadap laporan keuangan dan audit lainnya sesuai

keperluan koperasi. 55

C. Pengelolaan Koperasi

Koperasi mempunyai ciri ganda, dalam arti bahwa koperasi itu

mengandung unsur ekonomi dan unsur sosial. Bagi suatu koperasi, ini berarti

bahwa dia harus bekerja menurut prinsip ekonomi dengan melandaskan pada

unsur sosial yang tersurat dan tersirat dalam azas-azas koperasi. Sebagaimana kita

55
Hendrojogi, Koperasi Azas-Azas, Teori dan Praktek, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta,
1997 hlm 155

Universitas Sumatera Utara


ketahui pada Pasal 58 ayat (1) UU Koperasi, telah mengatur tugas dari pengurus

yaitu mengelola koperasi berdasarkan anggaran dasar. 56

Pengurus koperasi dapat mengangkat pengelola yang diberi wewenang dan

kuasa untuk mengelola usaha koperasi. Ketentuan ini dimaksudkan untuk

mewujudkan profesionalisme dalam pengelolaan usaha koperasi. Oleh sebab itu,

pengurus dapat mengangkat tenaga pengelola yang ahli untuk mengelola usaha

koperasi yang bersangkutan. Penggunaan istilah pengelola dimaksudkan untuk

dapat mencakup pengertian yang lebih luas dan memberi alternatif bagi koperasi.

Dengan demikian, sesuai dengan kepentingannya, koperasi dapat mengangkat

pengelola sebagai manajer atau direksi. Sedangkan maksud dari kata diberi

wewenang dan kuasa adalah pelimpahan wewenang dan kuasa yang dimiliki oleh

pengurus. Dengan demikian, pengurus tidak lagi melaksanakan sendiri wewenang

dan kuasa yang telah dilimpahkan kepada pengelola dan tugas pengurus beralih

menjadi mengawasi pelaksanaan wewenang dan kuasa yang dilakukan oleh

pengelola. Besarnya wewenang dan kuasa yang dilimpahkan ditentukan sesuai

dengan kepentingan koperasi. Dalam hal, pengurus koperasi bermaksud untuk

mengangkat pengelola, maka rencana pengangkatan tersebut diajukan dalam rapat

anggota untuk mendapat persetujuan. Pengelola dalam menjalankan tugasnya

mengelola usaha koperasi bertanggung jawab kepada pengurus dan pengelolaan

usaha oleh pengelola tidak mengurangi tanggung jawab pengurus koperasi. 57

56
Ibid
57
Mulhadi,SH.,M.Hum, Op.Cit halaman 140

Universitas Sumatera Utara


Mengenai tugas dan kewajiban dari manajer pengelola koperasi dapat

dikemukakan sebagai berikut : 58

1. Memimpin pelaksanaan kegiatan usaha yang telah digariskan oleh pengurus;

2. Mengangkat dan/atau memberhentikan karyawan koperasi atas kuasa

dan/atau persetujuan pengurus;

3. Membantu pengurus dalam menyusun anggaran belanja dan pendapatan

koperasi;

4. Melaporkan secara teratur kepada pengurus tentang pelaksanaan tugas yang

diberikan kepadanya, dan jika perlu dapat memberikan saran perbaikan dan

saran peningkatan usaha koperasi yang dilakukannya;

5. Memberikan pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan tugas kepada

pengurus koperasi.

Pada koperasi yang yang kegiatannya telah meluas tentunya tidak hanya

memiliki seorang manajer saja tergantung dari luas lingkup kegiatannya serta

struktur organisasinya. Di samping itu, tentunya diperlukan seorang manajer yang

mengkoordinasi serta memberikan pengarahan-pengarahan kepada manajer

tingkat bawah. Manajer dapat diklasifikasikan menurut tingkatnya dalam

organisasi atau menurut ruang lingkup kegiatan yang dikelola manajer dan

tanggung jawabnya, dalam hal ini maka terdapatlah 3 buah tingkatan manajemen,

yaitu : 59

58
R.T. Sutantya Rahardja Hadhikusuma, Op.Cit hlm 89
59
Hendrojogi, Op.Cit hlm 149

Universitas Sumatera Utara


1. Manajemen puncak 60

Pada koperasi manajer puncak ini bertanggung jawab langsung kepada

pengurus. Kelompok ini bertanggung jawab atas manajemen bidang usaha yang

menyeluruh dari koperasi yang bersangkutan. Pada perusahaan swasta yang besar-

besar mereka ini disebut juga sebagai CEO ( chief executive officer).

2. Manajer Menengah 61

Manajer menengah ini memberi pengarahan kegiatan-kegiatan manajer

bawahan atau dalam hal-hal tertentu bisa juga kepada karyawan-karyawan

operasional, pada manajer puncak mereka menetapkan kebijaksanaan-

kebijaksanaan operasional dan pemecahan masalah lingkungan organisasi maka

middle management ini bertanggung jawab terhadap implement ini bertanggung

jawab terhadap implementasi kebijaksanaan organisasi.

3. Manajer Lini Pertama 62

Manajer lini pertama ini bertanggung jawab atas pekerjaan orang-orang

lain (bawahannya) dan memberikan pengarahan kepada mereka.

Berkaitan dengan hal klasifikasi dilakukan menurut ruang lingkup

kegiatan, maka terdapat 2 macam manajer, yaitu manajer fungsional dan manajer

umum. Manajer fungsional hanya bertanggung jawab atas suatu jenis kegiatan

dalam organisasi sehingga akan terdapat manajer pemasaran, manajer produksi,

manajer keuangan dan sebagainya, sedangkan manajer umum mengelola sebuah

unit yang kompleks, seperti sebuah perusahaan, anak perusahaan atau cabang

60
Ibid
61
Ibid, hlm 150.
62
Ibid

Universitas Sumatera Utara


perusahaan yang mandiri. Oleh sebab itu, manajer umum bertanggung jawab atas

semua kegiatan-kegiatan dalam unit tersebut. 63

Peran dari manajer adalah membuat rencana kedepan sesuai dengan ruang

lingkup dan wewenangnya, mengelola sumber daya secara efisien, memberikan

perintah-perintah, bertindak sebagai pemimpin dan mampu melaksanakan kerja

sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi (to get things done by

working with and through people). Manajer harus bisa mengkoordinir dan

memajukan segala sumber daya untuk bekerja sama sebagai suatu kesatuan.

Akhirnya dia harus bisa mengawasi menghargai dan menilai prestasi kerja dan

mengambil langkah-langkah pencegahan tepat pada waktunya bilamana ada

gejala-gejala terjadi penyimpangan-penyimpangan. 64

Seorang manajer yang cakap harus mampu mengapresiasikan segala

sumber daya yang dimiliki koperasi secara efisien, sesuai dengan azas-azas

koperasi dan sejalan dengan kebijaksanaan yang telah digariskan oleh pengurus.

Selain itu adanya kerja sama yang baik antara pengurus dan manajer merupakan

hal yang sangat penting, serta harus ada pembagian tugas dan wilayah kerja yang

jelas antara manajer dan pengurus dan diusahakan tidak adanya tugas yang

tumpang tindih antara pengurus dan manajer. 65

Membicarakan masalah pembagian kerja antara pengurus dan manajer,

maka masalahnya tidak bisa dilepaskan dari permasalahan wewenang yang

dimiliki oleh mereka masing-masing. Wewenang yang dimiliki oleh pengurus

bersumber pada undang-undang, anggaran dasar, keputusan rapat anggota atau

63
Ibid, hlm 151
64
ibid
65
ibid, hlm 153

Universitas Sumatera Utara


pada keputusan rapat umum pemegang saham (RUPS) kalau koperasi tersebut

adalah stock cooperatives seperti di Amerika Serikat dan keahliannya

(expertness), sedangkan wewenang dari para manajer bersumber pada pengurus

dan keahliannya dibidang yang disyaratkan. Wewenang pengurus yang bersumber

pada keahlian atau expertness disebut juga sebagai wewenang informal atau

informal authority.66

Kembali kepada ciri ganda dari organisasi koperasi, yang berarti bahwa

koperasi itu mengandung unsur ekonomi dan unsur sosial, dalam kenyataannya

sebagaimana yang dilihat sekarang ini, pengelolaan unsur sosial yang terkandung

dalam organisasi koperasi ini memang lebih banyak merupakan wewenang dari

pengurus dari pada sebagai wewenang dari manajer, seperti dalam masalah yang

menyangkut pembinaan anggota. Hal ini memberikan kesan bahwa seolah-olah

dalam tubuh koperasi terdapat 2 bidang yang bisa dikelola secara terpisah, yaitu

bidang yang mencakup pengelolaan organisasi dan bidang yang mencakup

pengelolaan usaha koperasi. Namun, dewasa ini masih banyak ditemukan

koperasi-koperasi di Indonesia, dimana pengelolaan organisasi dan usahanya

cukup ditangani oleh pengurus saja, terutama pada koperasi skala operasinya

kecil. Namun, secara lambat laun kini sudah mulai terlihat adanya koperasi-

koperasi dimana pengurus sudah melimpahkan sebagian wewenangnya kepada

manajer, terutama pada tingkat sekundernya. Meskipun demikian, pengelola

bertanggung jawab kepada pengurus dan bahwa dengan pemberian wewenang

66
Ibid, hlm 157

Universitas Sumatera Utara


pngelolaan usaha oleh pengurus kepada pengelola tersebut tidaklah berarti bahwa

pelimpahan wewenang tersebut akan mengurangi tanggung jawab pengurus. 67

D. Tanggung Jawab Pengelola Koperasi

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, Koperasi sebagai badan usaha

yang berbadan hukum walaupun kedudukannya sebagai subjek hukum, tetapi

bukanlah makhluk hidup seperti manusia melainkan tetap merupakan sebagai

badan hukum. Koperasi kehilangan daya berfikir dan kehendaknya serta tidak

mempunyai central bewustzijn karena koperasi tidak dapat melakukan perbuatan-

perbuatan hukum sendiri. Berbeda dengan manusia yang dapat bertindak sendiri,

koperasi sekalipun sebagai badan hukum merupakan subjek hukum mandiri.

Sehingga sebuah koperasi dalam hal pengelolaannya sangat menggantungkan

dirinya terhadap organ yang ada didalamnya terutama terhadap pengurus. 68

Manajemen yang baik adalah faktor yang paling penting untuk suksesnya

sebuah koperasi. Dalam menerapkan manajemen, pengurus mempunyai tanggung

jawab untuk merumuskan kebijaksanaan, menyetujui tanggung jawab untuk

merumuskan kebijaksanaan, menyetujui rencana dan program, melimpahkan

wewenang kepada manajer terkecuali bila dalam hak badan hukum dan anggaran

dasar koperasi tertera untuk dilimpahkan kepada para anggota. 69

Pengurus mengakui tanggung jawabnya dan keperluannya untuk

merumuskan kebijakan, menyetujui rencana dan program, melimpahkan

wewenang kepada manajer, untuk melaksanakan dan mengembangkan program

67
Ibid, hlm 159
68
Pandji Anoraga dan Ninik Widiyanti, Op.Cit hlm 109
69
Ibid

Universitas Sumatera Utara


dan kebijakan manajer, antara lain akan mempunyai wewenang untuk

mempekerjakan personil yang cakap sesuai dengan rencana dan kebijakan

penggajian dan pengupahan yang telah disetujui, selanjutnya ia juga memiliki

wewenang untuk menetapkan jadwal, mendidik, mengawasi dan jika perlu

mengganti mereka. 70

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, koperasi pada dasarnya

memerlukan tenaga manager untuk menjalankan kegiatan usahanya. Peranan

manajer dikaitkan dengan volume usaha, modal kerja dan fasilitas yang diatur

oleh pengurus. Besar kecilnya volume usaha merupakan batas dan ukuran perlu

tidaknya digunakan tenaga manajer. Bagi koperasi yang sederhana pengurus

bertindak sebagai manajer. 71

Namun dalam hal pengelolaan koperasi antara pengurus dan manajer

memiliki peran dan tanggungjawab yang berbeda diantara keduanya. Pembagian

kerja antara pengurus dan manajer tidak bisa dilepaskan dari permasalahan

wewenang yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Adanya kerja sama yang

baik antara keduanya serta pembagian tugas dan wilayah kerja yang jelas antara

manajer dan pengurus merupakan juga suatu hal yang sangat penting agar tidak

terjadinya tugas yang tumpang tindih antara pengurus dan manajer. 72

Masalah peranan dari pengurus dan manajer atau pembagian tugas dan

tanggung jawab antar pengurus dan manajer dalam suatu koperasi, akan

digunakan pendekatan participative management atau management peran serta,

yaitu suatu pendekatan manajemen yang melibatkan manajer bawahan dalam

70
Ibid
71
Hendrojogi, Op.Cit hlm 159
72
Ibid

Universitas Sumatera Utara


proses pengambilan keputusan. Pelaksanaan participative management yang

berlandaskan pada shared authority dari pengurus dengan manajer puncak atau

manajer atasan dengan manajer bawahannya, tidaklah berarti bahwa pengurus

akan melimpahkan semua wewenangnya kepada manajer puncak atau manajer

atasan melimpahkan semua wewenangnya dalam pengambilan keputusan kepada

manajer bawahannya, melainkan menyertakan manajer bawahan dalam membuat

keputusan dalam memecahkan persoalan penting. 73

Pada Pasal 58 Undang-Undang UU Koperasi telah mengatur secara umum

tugas dan tanggung jawab pengurus yaitu mengelola koperasi berdasarkan

anggaran dasar. Namun, meskipun pengurus telah memberikan wewenang dan

kuasanya kepada pengelola untuk mengelola usahanya, tanggung jawab dari

pengurus itu tidak berkurang terhadap pengelolaan koperasi dan usahanya.

Meskipun demikian, maka dalam rangka usaha menghindari adanya tumpang

tindih wewenang dan tanggung jawab antara pengurus dan manajer, dipandang

perlu untuk mengadakan penjabaran lebih lanjut tentang pembagian tugas dan

tanggung jawab antara pengurus dan manajer. 74

Pada umumnya wewenang yang diberikan kepada manajer oleh pengurus

seperti yang dijumpai pada banyak koperasi pada saat sekarang ini, berada

dibawah garis batas rencana operasional dan dalam kenyataannya mereka lebih

banyak hanya merupakan pelaksana saja dari kebijaksanaan yang telah

dirumuskan oleh pengurus, padahal sebagai manajer usaha dia mempunyai

tanggung jawab yang besar terhadap keberhasilan usahanya. Mengingat besarnya

73
Ibid
74
Ibid, hlm 164

Universitas Sumatera Utara


tanggung jawab dari manajer sebagai penerima pelimpahan wewenang dibidang

pengelolaan usaha dari pengurus, maka perlu kiranya kepada manajer diberikan

wewenang untuk berperan serta dalam menentukan sasaran dan dalam

penyusunan rencana strategi bersama-sama dengan pengurus. Dengan demikian,

maka ini berarti bahwa penentuan sasaran dan penyusunan rencana strategis

merupakan shared decision areas antara pengurus dan manajer puncak atau

eksekutif. 75

Diberikannya peran serta kepada manajer dalam penentuan sasaran dan

perencanaan strategi, maka makin besarlah tanggungjawab manajer. Karena itu

seorang manajer harus mempunyai wawasan usaha yang luas, mampu melihat

kekuatan dan kelemahan koperasi, mampu menangkap peluang usaha serta peka

terhadap lingkungannya. Namun demikian, dalam berperan serta dalam penentuan

sasaran dan penyusunan strategi, manajer harus tetap berpijak pada azas-azas

koperasi. Bagi seorang eksekutif atau manajer dalam melakukan tugas usahanya

memperhatikan unsur sosial yang tersirat dalam azas-azas koperasi, maka cara-

cara yang ditempuhnya itu telah memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta

bagi pengelola suatu organisasi ekonomi yang berciri ganda, dalam arti bahwa

pengelolaan usahanya telah diarahkan untuk tercapainya tujuan ekonomi, tanpa

mengabaikan azas-azas koperasi dan unsur-unsur sosial yang terkandung dalam

tubuh koperasi. 76

Pengurus untuk tidak terlepas dari tanggung jawabnya, pengurus harus

mengawasi pelaksanaan tugas-tugas manajer dalam pengelolaan usaha. Ini berarti

75
Ibid, hlm 166
76
Ibid, hlm 170

Universitas Sumatera Utara


bahwa pengurus berperan sebagai pengawas dalam rangka usaha menjaga

kontinuitas usaha dan organisasi, yang dalam perseroan terbatas kira-kira dapat

disamakan dengan peranan komisaris. Pengurus tetap bertanggung jawab

sepenuhnya atas pengelolaan usaha koperasi. Oleh karena itu dalam masalah

penentuan sasaran dan penyusunan strategi perusahaan, pengurus adalah

penanggung jawab utama (principal responbility), sedangkan manajer merupakan

penanggung jawab serta atau penanggung jawab kedua (secondary

responsibility). 77

Dengan menggunakan participative management sebagai metode

pendekatan manajemen seperti yang telah disebutkan di atas maka wewenang atau

wilayah-wilayah pengambilan keputusan dari pengurus dan manajer dapat

dijabarkan sebagai berikut :

Wilayah pengambilan keputusan pengurus, yaitu : 78

1. Menentukan tujuan (goal), misi (mission), maksud (purpose), sasaran

(objective), rencana strategi (strategic planning), kebijaksanaan perusahaan

(business policy), serta mengawasi kegiatan pengelolaan usaha yang

dikuasakan kepada pengelola;

2. Komitmen keuangan jangka panjang, termasuk sumber dan jenis

permodalannya;

3. Menseleksi C.E.O (manajer) dan menetapkan gajinya;

4. Menentukan tugas-tugas dan tanggung jawab dari manjer;

5. Pengisian kekosongan pengurus dengan persetujuan rapat anggota;

77
Ibid
78
Ibid, hlm 172

Universitas Sumatera Utara


6. Menunjuk akuntan publik luar (external public accountant) untuk melakukan

audit (kecuali ada ketentuan lain dari anggaran dasar);

7. Mengadakan perubahan struktur keuangan dari permodalan;

8. Memberikan persetujuan atas perubahan perencanaan dan komitmen-

komitmen, kecuali anggaran dasar mentukan lain;

9. Memilih bank dimana koperasi akan menempatkan dananya dan perusahaan

asuransi dengan siapa koperasi akan mengadakan kerjasama;

10. Memberikan persetujuan purnakarya karyawan dan program-program

kesejahteraan karyawan.

Wilayah pengambilan keputusan manajer, yaitu : 79

1. Bersama-sama dengan pengurus, berperan meningkatkan citra perusahaan,

terutama dalam rangka memenuhi tanggung jawab sosial;

2. Bersama-sama dengan pengurus berperan serta dalam penentuan sasaran dan

penyusunan strategi perusahaan/bidang usaha;

3. Menerjemahkan pernyataan atau pengarahan yang di peroleh dari decision

center tingkat atas kedalam sasaran-sasaran yang kongkret pada tingkat

bawah;

4. Menyusun rencana dan mengambil keputusan-keputusan pada tingkat

perangkat operasi;

5. Memilih/menunjuk konsultan usaha untuk tingkatan operasional dalam hal

koperasi memerlukan konsultan;

6. Menetapkan tugas dari kepala divisi, kepala-kepala bagian;

79
Ibid, hlm 174

Universitas Sumatera Utara


7. Menyiapkan anggaran, tencana produksi dan pemasaran untuk disetujui oleh

pengurus;

8. Menyeleksi calon-calon karyawan;

9. Menilai performance karyawan;

10. Mengadministir program-program kesejahteraan karyawan dan penentuan

gaji karyawan sesuai dengan skala gaji yang telah disetujui oleh pengurus;

11. Mengatur dan menjaga kondisi kerja karyawan.

Tanggung jawab yang sudah dijelaskan di atas harus dilaksanakan

dengan sebaik-baiknya oleh pengurus dan manajer selaku pengelola koperasi. Hal

ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam Pasal 60 UU Koperasi yang

menyatakan bahwa setiap pengurus wajib menjalankan tugas dengan itikad baik

dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan dan usaha koperasi. Pengurus

bertanggung jawab atas pengurusan koperasi untuk kepentingan dan pencapaian

tujuan koperasi kepada rapat anggota. Pada ayat-ayat selanjutnya disebutkan

bahwa setiap pengurus bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang

bersangkutan bersalah menjalankan tugasnya. Pengurus yang karena kesalahannya

menimbulkan kerugian pada koperasi dapat digugat ke pengadilan oleh sejumlah

anggota yang mewakili paling sedikit 1/5 anggota atas nama koperasi. Sehingga

atas tindakan hukum yang dilakukan oleh pengurus yang disengaja atau sebagai

akibat suatu kelalaian serta menimbulkan kerugian harus ditanggung oleh

pengurus baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan tidak menutup

kemungkinan bagi penuntut umum untuk melakukan penuntutan.

Universitas Sumatera Utara