Anda di halaman 1dari 29

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Studi Pustaka

II.2. Landasan Teori


II.2.1. Teori tentang perancangan mekanis

Perancangan mekanis merupakan proses perancangan dan atau pemilihan


komponen-komponen mekanis dan menggabungkan keduanya secara bersama-
sama untuk mencapai fungsi yang diharapkan. Perancangan harus
mempertimbangkan bukan hanya untuk kerja elemen yang diracang pada waktu
tertentu, tetapi juga memikirkan elemen-elemen yang akan dipadukan [ ]

II.2.1.1. Tujuan perancangan mekanis

Perancangan mekanis mempunyai tujuan untuk menghasilkan produk yang


memenuhi kebutuhan konsumen dan pembuatannya cukup aman, efisien, andal,
ekonomis, dan praktis. [ ]

II.2.1.2. Fungsi, syarat perancangan, dan kriteria evaluasi

Sebelum memulai perancangan peralatan mekanis, kita dapat merumuskan


dengan membuat pernyataan-pernyataan yang jelas dan engkap mengenai fungsi,
syarat perancangan dan kriteria evaluasi [ ]:

1. Fungsi, menyatakan apa yang harus dikerjakan oleh peralatan itu, dengan
menggunakan pernyataan umum yang menggunakan frasa aksi seperti untuk
menyangga suatu beban, untuk mengangkat peti kayu, dll.
2. Syarat perancangan, adalah pernyataan terperinci yang biasanya bersifat
kuantitatif mengenai tingkat untuk kerja yang diharapkan, kondisi lingkungan
dimana peralatan harus beroperasi, keterbatasan ruang atau berat, atau bahan-
bahan dan komponen yang tersedia yang dapat digunakan.
3. Kriteria evaluasi, adalah pernyataan tentang pernyataan karakteristik
kualitatif yang diharapkan dari perancangan yang membantu perancangan
dalam memutuskan alternatif perencanaan mana yang optimal, yaitu
perancangan yang memperbesar manfaat dan mengurangi kerugian.

II.2.2. Densitas (massa jenis)

Salah satu sifat yang penting dari suatu bahan adalah densitas (density)-nya,
didefinisikan sebagai massa per satuan volume. Bahan yang homogen seperti es
atau besi, memiliki densitas yang sama di setiap bagiannya. Jika sebuah bahan
yang materialnya homogen bermassa (m) memiliki volume (V), densitasnya (
)[]:
(2.1)
m
=
v

Dimana :

=massa jenis

m = massa benda (Kg)

v = volume ( m3 )

II.2.3. Motor listrik

Motor listrik digunakan secara luas sebagai penyedia daya primer pada
mesin industri, produk konsumen dan perlengkapan bisnis. Motor AC adalah
motor yang memanfaatkan arus bolak-balik sebagai daya penggeraknya [ ].

Sumber daya AC juga dikelompokan dalam satu fasa dan tiga fasa. Sebagian
besar unit yang tetap dan instalasi komersial ringan hanya mempunyai sumber
daya satu fasa. daya tiga fasa disalurkan ke sistem tiga kawat yang tersusun dari
tiga gelombang yang berbeda amplitudonya dan frekuensi yang sama dengan beda
tiap fasa 120o, industri dan komersial yang besar menggunakan daya tiga fasa
untuk menangani beban listrik yang besar, karena memungkinkan penggunaan
motor-motor yang kecil dan lebih ekonomis pengoperasiannya [ ]

II.2.3.1. Perencanaan daya motor


Untuk menghitung daya motor terlebih dahulu mendefinisikan daya yaitu [ ]

usaha kerja
Daya=
waktu

Daya motor dapat dihitung dengan menggunakan rumus [ ] :

2 n (2.2)
P=T
60

Dimana :

P = daya motor (Watt)

n = putaran (Rpm)

T = Torsi (N.m)

II.2.4. Gearbox

Gear box digunakan untuk mereduksi putaran yang berasal dari motor. Jika
dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut saling bersinggungan pada
kelilingnya salah satu berputar maka yang lain akan ikut berputar pula. Alat yang
menggunakan cara kerja semacam ini adalah roda gesek. Cara ini cukup baik
untuk meneruskan gaya yang kecil dengan putaran yang tidak perlu tepat [ ].

Gambar 2.1. roda gesek dan roda gigi

Guna mentransmisikan gaya daya yang besar dan putaran yang tepat dapat
dilakukan dengan roda harus dibuat bergerigi pada kelilingnya sehingga
penerusan daya dilakukan oleh gigi-gigi yang saling berkait. Roda bergigi

semacam ini, yang dapat berbentuk silinder dan kerucut, disebut roda gigi [ ].
Gambar 2.2. terminologi roda gigi

II.2.4.1. Perbandingan putaran dan jumlah roda gigi

Jika putaran roda gigi yang berpasangan dinyatakan dengan n1 pada


poros penggerak dan n2 pada poros yang digerakan, diameter lingkaran jarak
bagi d 1 dan d 2 dan jumlah gigi z 1 dan z 2 maka perbandingan putaran
u adalah [ ]:

n2 d 1 z 1 1
u= = = =
n1 d 2 z 2 i

z2
i=
z1

Dimana :

u = perbandingan putaran

i = perbandingan roda gigi dan pinion

z1 = jumlah gigi gear besar

z2 = jumlah gigi gear kecil

n1 = jumlah putaran gear

n2 = jumlah putaran pinion


d1 = diameter jarak bagi gear

d2 = diameter jarak bagi pinion

II.2.5. Gripper

Gripper menurut definisi umum yaitu menggenggam sementara,


mempertahankan kondisi pencengkraman dan selanjutnya melepaskan benda dari
bentuk tertentu. Persyaratan gripper harus dapat mencengkeram, adanya gaya
pada gripper dan mencengkeram secara bersamaan [ ].

Gaya gaya yang bekerja pada gripper di tumpu oleh semua kaki gripper.
Beban yang diterima di distribusikan sama rata sehingga reaksi yang dihasilkan
selalu sama dan berlawanan dengan tindakan yang menandakan gaya dan reaksi
dalam keseimbangan. Macam-macam gripper diantaranya [ ]:

1. External gripping
2. Internal gripping
3. Combination gripping

Gambar 2.3. Macam-macam gripper [ ]

Gaya yang dibutuhkan fingers untuk menahan benda kerja dapat menggunakan :
(2.3)
G=F G n
(2.4)
m g
FG =
n

Dimana :
FG = Gaya yang dibutuhkan (N)

G = Gaya yang akan diangkat (N)

g = Gravitasi (m/s2)

m = Massa benda (Kg)

n = Jumlah fingers gripper

= Koefisien gesek

II.2.6. Perancangan ulir

Perancangan suatu peralatan atau mekanisme yang menggunakan baut-


mur sepertinya adalah salah satu aspek perancangan elemen mesin yang paling
sederhana. Aplikasi di dunia nyata berbeda, keberhasilan dan kegagalan suatu
peralatan sering sekali ditentukan oleh kesempurnaan pemilihan dan penggunaan
sistem sambungan baut-mur. Penggunaan sambungan (baut-mur, rivet) sangat
banyak digunakan dalam dunia mechanical, sehingga bisnis desain dan
manufaktur baut-mur ini sangat dominan, baik dari kuantitas maupun
perputaran uang didalamnya. Sebagai contoh, sebuah pesawat Boeing 747
menggunakan 2,5 juta sambungan (fastener). Tipe dan jenis sambungan dalam
dunia komersial sangat banyak variasinya. Pembahasan dalam diktat ini, akan
dibatasi dalam desain dan pemilihan sambungan konvensional menggunakan ulir,
baut, mur. Ulir dapat digunakan untuk [ ] :

1. Memegang atau mengencangkan dua komponen atau lebih.


2. Memindahkan beban atau benda. Fungsi yang pertama sering disebut
pengencang (fastener) dan yang kedua dikenal dengan nama ulir daya (power
screw atau lead screw). Sebagai fastener, konstruksi ulir dapat menerima beban
tensile, shear, maupun keduanya.

II.2.6.1. Terminologi, klasifikasi,dan standar


Variasi jenis ulir (screw dan thread) sangat banyak, maka perlu distandarkan
untuk menjamin sifat inter changeabity. Dua standar yang banyak diadopsi
yaitu UNS (Unified National Standard) yang digunakan di Inggris, Canada dan
Amerika serikat, untuk Standard Internasional ISO yang digunakan kebanyakan
negara Eropa dan Asia. Secara umum terminologi geometri ulir ditunjukkan pada
Gambar 2. [ ].

Gambar 2.4. istilah pad ulir [ ]

Parameter utama pada ulir

Ulir yang digunakan mempunyai parameter-parameter agar diketahui


jenisnya, parameter tersebut adalah [ ] :

1. Pitch
P jarak antar ulir yang diukur paralel terhadap sumbu ulir.
2. Diameter
D - major diameter, minor diameter, dan pitch diameter
3. Lead
L - adalah jarak yang ditempuh baut dalam arah paralel sumbu, jika baut
diputar satu putaran. Jarak ulir single thread, lead akan sama dengan pitch. Ulir
juga dapat dibuat multiple thread. Ulir tipe double thread, maka lead akan
sama dengan 2 kali pitch. triple thread akan memiliki lead sama dengan 3 kali
pitch dan seterusnya.
4. Thread
Per-inchi, n menyatakan jumlah ulir per-inchi, sering digunakan pada standar
UNS.
II.2.6.2. Mekanika ulir daya
Ulir daya (power screw) adalah perlatan yang berfungsi untuk mengubah
gerakan angular menjadi gerakan linear dan biasanya juga mentransmisikan daya.
Ulir daya secara khusus digunakan untuk [ ]:

1. Mendapatkan kelebihan mengangkat atau menurunkan beban, seperti


misalnya pada dongkrak mobil.
2. Memberikan gaya tekan atau tarik yang besar seperti misalnya pada mesin
press.
3. Positioning yang akurat seperti pada mikrometer atau pada lead screw mesin
bubut.

Mengingat fungsi ulir daya, maka profil yang paling tepat dan banyak
digunakan adalah profil square, acme, dan buttress. Profil square memberikan
efisiensi yang paling tinggi dan mampu mengeliminasi gaya dalam arah radial,
tetapi profil ini paling sulit dalam proses pembuatannya. Acme thread walaupun
efisiensinya lebih rendah, namun lebih mudah dalam pembuatan, dan juga
memiliki kekuatan yang lebih tinggi, sehingga profil ini paling banyak digunakan
untuk ulir daya. Aplikasi yang digunakan untuk arah beban adalah satu arah dan
sangat besar, maka profil buttress lebih cocok digunakan karena memiliki
kekuatan paling tinggi pada akar ulir [ ].

II.2.6.3. Jenis-jenis ulir

Jenis-jenis ulir yang biasa digunakan untuk penggunaan ulir daya adalah [ ] :

1. Square thread, Ulir ini banyak digunakan untuk transmisi daya, biasanya
dijumpai pada mekanisme mesin perkakas, katup, spindle, ulir jack dan
lain-lain, seperti pada Gambar 2. [ ]

Gambar 2.5. square thread

2. Acme thread, Ulir ini banyak digunakan pada ulir mesin bubut, katup
kuningan, ulir kerja bangku, seperti pada Gambar 2. [ ].
Gambar 2.6. acme thread

3. Buttress thread, Ulir ini banyak digunakan untuk transmisi daya satu arah,
seperti pada Gambar 2. [ ]

Gambar 2.7. buttress thread

II.2.6.4. Poros berulir

Poros berulir biasanya berfungsi untuk merubah putaran menjadi gerak


lurus. Poros berulir berpasangan dengan mur. Pada permesinan biasanya mur
bergerak lurus dan poros berulir berputar dan sebaliknya [ ].

Jika ulir mendapat beban tarik maka luas penampang yang paling kritis
adalah pada diameter minor (dc). Tetapi hasil pengujian menunjukkan bahwa
kekuatan tarik batang berulir lebih tepat diwakili oleh diameter rata-rata antara
diameter pitch dan diameter minor [ ].

II.2.6.5. Sudut kemiringan ulir

Rumus untuk menghitung sudut kemiringan ulir pada poros berulir adalah
[9]:

p (2.5)
. dm
=[ ]
tan

Dimana :
p = jarak antar puncak ulir

dm = diameter rata-rata ulir

= sudut kemiringan ulir

Diameter rata-rata dari ulir dapat diketahui dengan menggunakan rumus


berikut ini [9]:

p (2.6)
dm=d 0
2

Dimana :

dm = diameter rata-rata ulir

d0 = diameter luar dari ulir

II.2.6.6. Rumus menghitung torsi poros berulir

Rumus untuk menghitung torsi pada poros berulir adalah [ ]:

dm cos +sin (2.7)


T su=W ( )
2 cos a sin

Dimana :

W = beban yang bekerja pada ulir

dm = diameter pitch

= sudut kemiringan ulir

= koefisien gesek besi dengan besi dengan pelumasan adalah 0,16 (dapat
dilihat pada lampiran sekian)

II.2.6.7. Tegangan geser pada poros berulir

Tegangan geser pada poros berulir dapat dicari dengan menggunakan


perhitungan [ ]:

16 Ttotal (2.8)
T g=
. dc3
Dimana :

Tg = tegangan geser pada poros berulir

Ttotal = torsi total

dc = diameter dalam atau diameter minor

II.2.7. Sambungan las

Sambungan las merupakan jenis sambungan tetap serta menghasilkan


kekuatan sambungan yang besar. Proses pengelasan secara umum dibedakan
menjadi dua kelompok besar, yaitu [ ]:

1. Las dengan menggunakan panas saja yang meliputi thermit beling, gas
welding (las karbit/asitelin) dan electric welding (las listrik).

2. Las dengan menggunakan panas dan tekanan (forge welding) atau tempa.

Kekuatan las fillet transverse

Single fillet transversal b. Double fillet transversal

Gambar 2. 9. Jenis-jenis sambungan las fillet transvere

Beban maksimal untuk sambungan single fillet adalah [ ] :

P=0,707 s l t (2.9)

Atau, untuk beban maksimal sambungan double fillet adalah [ ] :

P=2 s l t (2.10)

Dimana :

t = tebal las
l = panjang las

s = tebal plat

t = tegangan tarik izin

Kekuatan las parallel fillet

Sambungan las fillet sejajar dirancang untuk kekuatan geser seperti


terlihat pada gambar 2.sekian

Gambar 2.10. Jenis-jenis sambungan las parallel fillet

Jika adalah tegangan geser yang diijinkan untuk logam las, kemudian
kekuatan geser dari sambungan untuk single paralel fillet weld (las fillet sejajar
tunggal), dapat dihitung menggunakan rumus :
P=0,707 s l (2.11)

Dan kekuatan geser sambungan untuk double parallel fillet weld

P=2 0,707 s l (2.12)

II.2.8. Kekuatan material

Kekuatan (Strength) adalah kemampuan bahan untuk menahan tegangan


tanpa kerusakan. Beberapa bahan seperti baja struktur, besi tempa, alumunium,
dan tembaga, mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama, sementara
kekuatan gesernya adalah kira-kira duapertiga kekuatan tariknya. Tegangan
(stress) adanya reaksi dari sistem pembebanan luar atau dalam yang menyebar
keseluruh permukaan yang menahan beban [ ]. Kekuatan material diantaranya :

II.2.9.1. Tegangan

Tegangan adalah tahanan akibat dari gaya luar yang bekerja pada benda,
benda tersebut akan mengalami deformasi. Ketika benda tersebut mengalami
deformasi, molekulnya akan membentuk tahanan terhadap deformasi. Tahanan ini
per satuan luas dikenal dengan istilah tegangan. Secara matematik tegangan (
) dapat ditulis [ ]

Gambar 2. 11. Tegangan

P
= (2.13)
A

Atau

F (2.14)
=
A

Dimana :

= Tegangan ( N /mm2 )

P atau F = Beban atau gaya yang bekerja ( N )

A = Luas penampang ( m2 )
II.2.9.2. Modulus elastisitas ( Young Modulus )

Elastisitas (elasticity) adalah sifat bahan yang dapat kembali (regain) ke


bentuk semula setelah deformasi terjadi, pada saat gaya luar atau beban
dihilangkan [ ]. Nilai angka elastisitas pada material ditentukan dengan Modulus
Elastistas yaitu ketahanan bahan untuk mengalami deformasi elastis ketika diberi
gaya pada benda [ ]. Nilai modulus Elastisitas material dapat dilihat pada tabel 2.
Dan nilai dari Modulus Elastisitas dengan menggunakan [ ]:

Atau

(2.15)
E=

Dimana :

E = Modulus elastisitas (Mpa)

= regangan

Tabel 2.1. Nilai modulus elastisitas material

Sumber : [ ]

II.2.9. Poros

Poros merupakan salah satu bagian yang penting dalam setiap perancangan
mesin. Hampir semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran.
Putaran utama dalam transmisi seperti itu dikerjakan oleh poros [ ].

Jenis poros ada dua macam yang penting untuk diketahui, yaitu :
a. Poros transmisi
Di sini poros mentransmisikan daya antara sumber dan mesin yang
digerakkan. Seluruh poros pabrik adalah poros transmisi. Karena di sini
poros meneruskan/membawa bagian mesin seperti pulley, roda gigi dan
lain-lain, oleh karena itu poros menerima bending sebagai tambahan
puntiran.
b. Poros mesin
Di sini poros dirakit menjadi satu kesatuan dari bagian mesin itu sendiri.
Poros engkol (crank shaft) adalah contoh dari poros mesin.

Berdasarkan spesifikasi fisik poros, tegangan geser yang diijinkan (t)


diambil 30% dari batas elastis tarik (el), tetapi tidak boleh melebihi 18%
tegangan tarik ultimate (u) dengan kata lain, tegangan geser yang diijinkan
adalah : (2.16)
ijin=0,3 el atau 0,18 u

II.2.10. Pasak

Pasak atau keys merupakan elemen mesin yang digunakan untuk


menetapkan atau mengunci bagian-bagian mesin seperti: roda gigi, puli, kopling
dan sprocket pada poros, sehingga bagian-bagian tersebut ikut berputar dengan
poros [ ].

Pemilihan jenis pasak tergantung pada besar kecilnya daya yang bekerja dan
kestabilan bagian-bagian yang disambung [ ].

Dilihat dari jenisnya, pasak dapat dibedakan yaitu [ ]:

1. Rectangle Sunk Keys (pasak benam)

Pasak benam memanjang dapat dilihat seperti pada Gambar 2.12 [ ]:


Gambar 2. 12. Pasak memanjang [ ]

Pasak benam memanjang ini dapat dihitung dengan rumus [ ]:

d (2.17)
W=
4

2w d (2.18)
t= =
3 6

2. Pasak bujur sangkar (Square Sunk Key)

Bentuknya sama seperti rectangular sunk key, tetapi lebar dan tebalnya sama.
Maka perhitungannya menjadi [ ]:

d (2.19)
W=t =
4

II.2.11.1. Rumus menghitung torsi pada pasak berdasarkan tegangan geser

Berikut adalah rumus untuk menghitung torsi pada pasak berdasarkan


tegangan geser [ ] :

d (2. 20)
T=lw
2

Dimana :

l = panjang pasak

= tegangan geser ijin

T = torsi

w = lebar pasak
d = diameter poros

II.2.11. Bantalan

Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban, sehingga


putaran atau gerakan bolak baliknya dapat berlangsung secara halus, aman, dan
panjang umur. Bantalan harus kokoh untuk memungkinkan poros serta elemen
mesin lainnya bekerja dengan baik [ ]

Bearing dapat diklasifikasikan sabagai berikut [ ] :

1. Atas dasar gerakan bantalan terhadap poros


a. Bantalan gelinding (rolling bearing). Bantalan ini mengalami gesekan
gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen
gelinding seperti bola (peluru), rol atau rol jarum, dan rol bulat.
b. Bantalan luncur (sliding bearing). Bantalan ini mengalami gesekan luncur
antar poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh
permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas.
2. Atas dasar arah dan beban, bearing dibagi menjadi [ ]
a. Bantalan radial (Radial Contact Bearing). Arah beban yang ditumpu
bantalan ini adalah tegak lurus sumbu poros, seperti : radial ball bearing
merupakan jenis bantalan gelinding untuk gaya yang kecil, roller bearing
merupakan jenis bantalan gelinding untuk gaya besar, dan sliding bearing.
b. Bantalan aksial (Aksial Contact Bearing). Arah beban bantalan ini sejajar
dengan sumbu poros, seperti : axial ball bearing untuk gaya yang besar,
dan tapper bearing untuk gaya yang kecil.
c. Bantalan gelinding khusus. Bantalan ini dapat menumpu beban yang
arahnya sejajar tegak lurus sumbu poros, seperti : radial ball bearing.

Tujuan sebuah bantalan adalah untuk menumpu suatu beban, tetapi tetap
memberikan kekuasaan gerak relatif antara dua elemen dalam sebuah mesin
Istilah bantalan gelinding mengacu pada berbagai jenis bantalan yang
menggunakan elemen-elemen gelinding berbentuk bola bundar atau beberapa
jenis rol lainnya antara bagian-bagian mesin yang diam dan yang bergerak. Jenis
bantalan yang paling umum digunakan untuk menumpu sebuah poros yang
berputar, menahan beban radial murni atau gabungan beban radial dan aksial.
Beberapa bantalan dirancang hanya untuk menahan beban aksial. Kebanyakan
bantalan digunakan dalam bank aplikasi yang berkaitan dengan gerakan berputar,
tetapi beberapa lainnya digunakan dalam aplikasi gerakan lurus [ ].

Dalam banyak jenis mesin berat dan mesin-mesin khusus yang diproduksi
dalam jumlah kecil, lebih dipilih bantalan-bantalan bercangkang dari pada

bantalan jenis lainnya. Bantalan bercangkang, blok bantalan (pillow block)


memberikan sarana pengikatan bantalan secara langsung ke rangka mesin dengan
menggunakan baut, bukan dengan menyisipkannya ke dalam ceruk yang dibuat
dalam rumah mesin yang terbuat dari baja bentukan, besi cor, atau baja cor,
seperti pada bantalan-bantalan di luar bantalan bercangkang.

Gambar 2.13. Bentuk -bentuk bantalan bercangkang [ ]

Pada bantalan luncur (take up pillow block) ketepatan pengarahan lebih


baik. Poros yang berbantalan luncur dapat mencapai putaran yang paling tinggi.
Pada film pelumas yang tidak cacat maka umur dari bantalan luncur hampir tidak
terbatas [ ]

II.2.12.1. Perhitungan umur bearing

Untuk mencari berapa lama umur bearing dapat diketahui dengan


menggunakan perhitungan berikut [ ] :

C k
L={ } 106 rev
Wc
(2.21)

Dimana :

C = beban dinamis yang mampu ditumpu oleh bearing

Wc = beban total yang ditumpu oleh bearing

10
k = 3 untuk ball bearing dan untuk roller bearing
3

umur bearing dalam satuan penggunaan dalam jam (LH) dapat diketahui dengan
menggunakan rumus berikut ini [ ] :

L=60 N LH (2.22)

L (2.23)
LH =
60 N

Dimana :

L = umur bearing (putaran / revolution )

LH = umur bearing (jam)

N = putaran poros

II.2.12. V-belt dan pulley

V-belt lebih banyak digunakan pada bengkel-bengkel dan pabrik-pabrik


dimana sejumlah besar daya yang ditransmisikan dari pulley satu ke pulley lain
jarak antar pulley adalah sangat dekat.

V-belt dibuat dari rajutan benang (fabric) dan tali (cord) yang didalamnya
terdapat karet (rubber) dan ditutup dengan fabric dan karet seperti ditunjukkan
pada Gambar 2 (a). Belt dicetak ke sebuah bentuk trapezoidal (bentuk
penampangnya) dan dibuat tidak berujung. V-belt sangat cocok untuk transmisi
0 0
jarak pendek. Sudut untuk V-belt biasanya dari 30 sampai 40 . Daya
yang ditransmisikan diakibatkan oleh aksi desak (wedging) antara belt dan alur V
dalam pulley.
Gambar 2.14. Penampang V-belt dan alur V pada pulley

Celah (clearance) harus diberikan pada bagian bawah alur seperti


ditunjukkan pada Gambar 1 (b), agar mencegah goresan pada bagian bawah yang
bisa menjadikan penipisan karena aus. Untuk menaikkan daya out put, V-belt
dioperasikan secara berganda (side by side). Ini perlu dicatat bahwa dalam V-belt
ganda, seluruh belt membentang pada laju yang sama sehingga beban yang
diberikan juga sama pada setiap belt.

II.2.13.1. Keuntungan V-belt

Keuntungan dari penggunaan V-belt, yaitu :

1. Penggerak V-belt lebih kokoh akibat jarak yang pendek diantara pusat pulley.
2. Gerakan adalah pasti, karena slip antara belt dan alur pulley diabaikan.
3. Karena V-belt dibuat tanpa ujung dan tidak ada gangguan sambungan, oleh
karena itu pergerakan menjadi halus.
4. Mempunyai umur yang lebih lama, yaitu 3 sampai 5 tahun.
5. Lebih mudah dipasang dan dibongkar.
6. Belt mempunyai kemampuan untuk melindungi beban kejut ketika mesin di-
start.
7. Mempunyai rasio kecepatan yang tinggi (maksimum 10).
8. Aksi desak belt dalam alur memberikan nilai rasio tarikan yang tinggi.
Oleh karena itu daya yang ditransmisikan oleh V-belt lebih besar dari pada
belt datar untuk koefisien gesek, sudut kontak dan tarikan yang sama dalam
belt.
9. V-belt dapat dioperasikan dalam berbagai arah, dengan sisi tight belt pada
bagian atas atau bawah. Posisi garis pusat bisa horizontal, vertical atau
miring.

II.2.13.2. Kerugian V-belt

Kerugian penggunaan V-belt,yaitu :

1. V-belt tidak bisa digunakan untuk jarak pusat yang panjang, karena berat per
unit panjang yang besar.
2. V-belt tidak bisa tahan lama sebagaimana pada belt datar.
3. Konstruksi pulley untuk V-belt lebih rumit dari pada pulley dari belt datar.
4. Karena V-belt mendapat sejumlah creep tertentu, oleh karena itu tidak
cocok untuk penerapan kecepatan konstan.
5. Umur belt sangat dipengaruhi oleh perubahan temperature, tarikan belt yang
tidak tepat dan panjang belt yang tidak seimbang.
6. Tarikan sentrifugal mencegah penggunaan V-belt pada kecepatan di bawah
5 m/s dan di atas 50 m/s.
II.2.13.3. Rasio kecepatan

Rasio antara kecepatan penggerak dan yang digerakkan dinamakan rasio


kecepatan. Ini dapat dinyatakan secara matematika sebagai berikut :

N 2 d1 (2.24)
=
N 1 d2

Dimana :

d1 = diameter pulley penggerak

d2 = diameter pulley digerakkan

N1 = putaran pulley penggerak (rpm)

N2 = putaran pulley digerakkan (rpm)

II.2.13.4. Panjang belt

Untuk belt terbuka, kedua pulley berputar pada arah yang sama seperti pada
gambar 2.sekian [ ]
Gambar 2.15. Belt terbuka [ ]

Misalkan

r 1 dan r 2 = radius pulley terbesar dan pulley terkecil

x = jarak antara pusat dua pulley

L = total panjang belt

Untuk perhitungan total panjang belt dapat dihitung dengan rumus :

(r 1r 2)2
(r 1 +r 2 )+ 2 x + (untuk radius pulley) (2.25)
x

2
(r r )
(d 1 +d 2 )+2 x + 1 2 (untuk diameter pulley) (2.26)
2 4x

II.2.13. Pengikat

Pengikat adalah sebuah alat yang digunakan untuk menghubungkan atau


menyambung dua komponen atau lebih. Tersedia ratusan jenis pengikat dan
variasinya. Paling umum adalah pengikat berulir yang berkaitan dengan banyak
sebutan, di antaranya baut, sekrup, mur, baut tap, paku sekrup, dan sekrup penetap
[ ].
Gambar 2.16. Model-model baut [ ]

Kekuatan dari baut serta pasak harus lebih tinggi daripada benda kerjanya,
umumnya St 50, St 60, atau C 35 untuk baut dan pasak yang berhubungan dengan
baja pegas untuk soket penegang dan sebagai nya [ ]

Beberapa keuntungan penggunaan sambungan mur dan baut adalah [ ]

1. Mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menerima beban


2. Kemudahan dalam pemasangan.
3. Dapat digunakan untuk berbagai kondisi operasi
4. Dibuat dalam standarisasi
5. Efisiensi tinggi dalam proses manufaktur

Gambar 2.17. Penamaan baut

Adapun tata cara penamaan baut adalah sebagaimana berikut [ ]:


1. Diameter mayor (do) adalah diameter luar baik untuk ulir luar maupun
dalam
2. Diameter minor (dl) adalah diameter ulir terkecil atau bagian dalam dari ulir
3. Diameter pitch (dp) adalah diameter dari lingkaran imajiner atau diameter
efektif dari baut 1/jumlah ulir per panjang baut
4. Pitch adalah jarak yang diambil dari satu titik pada ulir ke titik berikutnya
dengan posisi yang sama.
5. Lead adalah jarak antara dua titik pada kemiringan yang sama atau jarak
lilitan

Gambar 2.18. Bagian-bagian baut [ ]


Dimana :
a = diameter baut
b = panjang baut
c = daerah dekat efektif
d = lebar kunci
e = diameter baut
f = F jarak ulir
Tegangan geser pada baut dapat dihitung dengan rumus [ ]

P= d2 n
4 (2.27)
Dimana :
= tegangan geser baut ( N/ mm2 )
P = beban yang diterima oleh baut (N)
d = diameter baut (mm)
n = jumlah baut

II.2.14. Defleksi

Defleksi adalah perubahan bentuk yang terjadi pada beam dalam arah
horisontal maupun vertikal akibat adanya pembebanan yang diberikan pada beam
tersebut. Batas defleksi yang diizinkan untuk balok (beam) yaitu dapat diketahui
dengan rumus sebagai berikut.
l (2.28)
y ijin=
360
Dimana :
y ijin = defleksi yang diijinkan (mm)
l = panjang benda (mm)

1. Pembebanan terpusat pada beam


Untuk beban terpusat ditengah beam dapat dilihat pada gambar 2.19

Gambar 2.19. pembebanan terpusat pada beam


Nilai defleksi yang terjadi pada pembebanan terpusat dapat menggunakan :

- Reaksi tumpuan (R)

P (2.29)
R=
2

- Defleksi

P l 3 (2.30)
max=
48 E I

Dimana :

R = tumpuan beban (N)

P = beban yang diterima (N)

max = defleksi yang terjadi (mm)

E = modulus elastisitas (N/mm2)

I = momen inersia (mm4)

2. Pembebanan terpusat diujung batang


Untuk beban yang terpusat di ujung batang dapat dilihat pada gambar 2.20.
Gambar 2.20. Pembebanan terpusat diujung batang [ ]

Nilai defleksi yang terjadi pada pembebanan terpusat diujung batang dapat
menggunakan rumus :

- Reaksi tumpuan (R)


Pa
R 1= (2.31)
l
P
R2= ( l+ a)
l (2.32)
- Defleksi
P a 2
max= (l+a)
3 EI
(2.33)
II.2.15. Solidwork

Gambar 2.19. Solidworks

Solidwork adalah salah satu CAD perangkat lunak yang dibuat oleh
Dassault Systems digunakan untuk merancang bagian permesinan atau susunan
bagian permesinan yang berupa penggabungan dengan tampilan 3D untuk
merepresentasikan bagian sebelum hasil akhirnya dibuat atau tampilan 2D
(drawing) untuk gambar proses pemesinan [ ].
Solidwork merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk membuat
desain produk dari yang sederhana sampai yang kompleks seperti roda gigi,
cashing handphone, mesin mobil, dan lain-lain. Perangkat lunak ini merupakan
salah satu opsi diantara desain perangkat lunak lainnya seperti Catia, Autocad,
Inventor maupun yang lainnya. Namun bagi yang berkecimpund dalam dunia
teknik khususnya teknik mesin, file ini wajib dipelajari karena sangat sesuai dan
prosesnya lebih cepat daripada harus menggunakan Autocad. File dari Solidwork
ini bisa diekspor ke perangkat lunak analisis lainnya seperti Ansys, Flovent,dll.
Dalam solidwork sendiri dibagi menjadi 3 lembar kerja, yaitu :
1. Lembar kerja part
Lembar kerja ini digunakan untuk membuat komponen dari suatu rancangan
(desain), dalam lembar kerja part terdapat menu yang lebih banyak dibandingkan
dengan lembar kerja lainnya.

2. Lembar kerja assembly


Lembar kerja ini digunakan untuk menggabungkan komponen-komponen
yang telah dibuat dalam lembar kerja part. Dalam penyatuan part perlu dilakukan
dengan teliti agar hasil dari rancangan sesuai dengan yang diharapkan.

3. Lembar kerja drawing


Lembar kerja ini digunakan untuk membuat gambar dalam bentuk 2 dimensi
beserta ukurannya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam membuat desain
yang telah dibuat kedalam bentuk nyata.

Solidwork juga dapat mensimulasikan, menganalisis dari desain yang


sederhana maupun dibuat animasinya [ ]. Adapun jenis-jenis analisa yang dapat
dilakukan oleh solidwork yaitu :
1. Simulasi pembebanan static
2. Simulasi pembebanan thermal
3. Simulasi pembebanan buckling
4. Simulasi pembebanan fatigue
5. Simulasi pembebanan linear dynamic
6. Simulasi pembebanan drop test.

II.2.16. Faktor Keamanan (safety factor)

Merancang bagian-bagian mesin perlu diperhatikan pada faktor keamanan


untuk menjaga tegangan aktual yang terjadi lebih rendah dari tegangan maksimum
(ultimate) di mana kegagalan material berlangsung. Tegangan ini dikenal sebagai
working stress atau design stress, hal ini juga dikenal sebagai teganagan aman
atau tegangan yang diijinkan [ ].

Faktor keamanan merupakan rasio antara tegangan maksimum dengan


tegangan kerja. Untuk mendapatkan nilai faktor keamanan dapat menggunakan
[ ]:

Maximum stress
Sf =
Working stress
(2.34)

Faktor keamanan untuk material yang ulet seperti baja karbon rendah,
faktor keamanan didasarkan pada tegangan titik luluh (yield point stress) dengan
menggunakan [ ] :
Yield point stress
Sf =
Working stress
(2.35)

Sedangkan untuk nilai faktor keamanan dari material yang getas seperti besi cor,
didasarkan pada kekutan tarik (ultimate stress) dengan menggunakan [ ]:

Ultimate stress
Sf =
Working stress
(2.36)

Tabel 2.2. Nilai Faktor Keamanan


Sumber: [ ]