Anda di halaman 1dari 2

Deskripsi :

Kolesterol total merupakan pemeriksaan yang menentukan jumlah kolesterol yang terdapat di dalam
semua partikel lipoprotein tubuh (semua jenis kolesterol dan trigliserida). Pada kondisi penyakit
jantung koroner, kolesterol total adalah suatu alat untuk menentukan risiko, bukan sebagai uji
diagnostik.

Kolesterol HDL atau High-Density Lipoprotein merupakan lipoprotein yang berasal dari hati,
memiliki densitas tinggi dan tidak mudah menggumpal. Disebut juga sebagai kolesterol 'baik' karena
membantu "membersihkan" tumpukan kolesterol dari pembuluh darah dan mengangkutnya ke dalam
hati (proses Reserve Cholesterol Transport).

Kolesterol LDL atau Low Density Lipoprotein merupakan lipoprotein yang berasal dari penyerapan
makanan di usus, memiliki densitas rendah, mudah menggumpal dan lengket pada dinding pembuluh
darah. Disebut juga sebagai kolesterol 'jahat' karena dapat membentuk plak aterosklerosis yang
mempersempit pembuluh darah.

Glucosa 2 jam PP adalah Pemeriksaan ini ditujukan untuk diagnosis DM. Pengambilan spesimen
dilakukan 2 jam setelah pembebanan glukosa setara dengan 75 gram glukosa. Berdasarkan konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan DM 2006, berikut kriteria pengendalian DM berdasarkan level glukosa
darah 2 jam .

Pemeriksaan glukosa darah berguna untuk mengukur jumlah glukosa dalam darah saat sampel
diperiksa. Glukosa darah digunakan untuk mendeteksi hiperglikemik maupun hipoglikemik untuk
membantu menegakkan diagnosis diabetes dan memantau kadar glukosa pada penyandang diabetes.
Glukosa puasa diukur saat keadaan puasa ( 8-10 jam). Berdasarkan konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan DM 2006, berikut kriteria pengendalian DM berdasarkan level glukosa puasa : Baik (80-
100 mg/dL), Sedang (100-125 mg/dL), Buruk (126 mg/dL). Glukosa puasa juga dapat menegakkan
kriteria prediabetes bila memiliki kadar glukosa puasa 100-125 mg/dL (5,6-6,9 mmol/L).
Beberapa penyebab konsentrasi gula yang tinggi selain diabetes antara lain: spesimen tidak puasa,
infus intravena glukosa yang baru dilakukan, kondisi stress, cushing disease, akromegali,
pheochromocytoma, glukagonoma, penyakit hati yang parah, pankreatitis, dan obat-obat tertentu
seperti diuretik, glukortikoid, -blocker, asam nikotinat, obat yang mengandung estrogen, dll).

Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan
waktu makan terakhir. Diagnosis diabetes dapat ditegakkan bila terdapat gejala klasik DM disertai
glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL (11,1 mmol/L). Apabila konsentrasi glukosa >400 mg/dL,
kemungkinan adanya ketonemia perlu dipertimbangkan.

Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (GOT) atau Aspartate Aminotransferase (AST)


merupakan suatu enzim yang banyak ditemukan dalam oragn jantung dan hati, serta sel otot lainnya.
Ketika organ hati atau sel otot mengalami luka, AST akan dikeluarkan ke dalam aliran darah.

Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (GPT) atau Alanine Aminotransferase (ALT) merupakan
suatu enzim yang banyak ditemukan dalam organ hati. Selain itu, dalam jumlah yang kecil juga
ditemukan pada organ ginjal, jantung, dan sel otot. Pada kondisi normal, konsentrasi serum ALT
dalam darah rendah. Namun, ketika terjadi kerusakan pada organ hati, ALT akan dilepaskan ke dalam
aliran darah sebelum gejala kerusakan hati nampak seperti jaundice (mata dan kulit berwarna kuning).
ALT lebih spesifik dari AST dalam mendeteksi adanya kerusakan hati. Jumlah sel hati yang mati
tidak berkaitan dengan peningkatan konsentrasi serum ALT sehingga pada kerusakan hati yang parah,
konsentrasi serum ALT bisa saja normal atau menurun.

Kreatinin merupakan produk sampah dari pemecahan sel-sel otot selama beraktivitas. Ginjal yang
sehat akan membuang kreatinin dari sirkulasi melalui urine. Kerusakan ginjal akan menyebabkan
peningkatan kreatinin dalam darah. Namun peningkatan kreatinin dalam darah belum tentu
menunjukkan adanya kerusakan ginjal karena kreatinin tinggi dapat dipengaruhi oleh massa otot,
makanan, ras, jenis kelamin, usia dan obat-obatan yang mempengaruhi sekresi kreatinin. Penggunaan
kreatinin serum untuk deteksi dini penurunan fungsi ginjal kurang tepat karena serum kreatinin baru
menunjukkan abnormalitas setelah fungsi ginjal turun lebih dari 50%. Pernefri (Perhimpunan
Nefrologi Indonesia) menyarankan untuk setiap pemeriksaan kreatinin serrum agar disertai hasil
perhitungan perkiraan laju filtrasi glomerulus (eLFG).