Anda di halaman 1dari 11

FE 034: METALLOGRAFI 1

PERTEMUAN MINGGU 1

1. Pendahuluan.

Ilmu metalografi adalah bagian dari ilmu pengetahuan bahan, yaitu suatu
pengetahuan tentang struktur mikro logam, sifat-sifat logam dan bahan-bahan
paduan yang dianalisis melalui diagram biner.

Tujuan dari metalografi adalah memprakirakan sifat-sifat maupun perilaku teknis


suatu bahan logam paduan dengan komposisi tertentu melalui gambar struktur mikro
ataupun makronya. Dengan demikian dapat ditentukan proses-proses yang harus
diterapkan terhadap bahan maupun aplikasinya. Disamping itu metalografi juga
menjadi suatu alat kontrol terpenting untuk mengendalikan kualitas suatu proses
pengerjaan logam yang berkaitan dengan kesalahan-kesalahan pada bahan tersebut.

Namun demikian bagaimanapun metalografi memiliki keterbatasan-keterbatasan,


dimana hubungan antara struktur mikro dengan sifat-sifat material belum
sepenuhnya diketahui sehingga kasus-kasus nyata yang dihadapi seringkali harus
dianalisis secara ideal dengan mengabaikan hal-hal yang kadang-kadang
berlawanan.

Disisi lain keterbatasan analisis juga sangat ditentukan oleh kemampuan mikroskop
dalam menampilkan gambar-gambar yang mudah diinterpretasi. Perbesaran standar
sesuai dengan lensa yang tersedia kadang-kadang meresolusikan gambar yang
terlalu kecil untuk sustu struktur tertentu namun pada perbesaran berikutnya justru
terlalu besar.

Namun demikian, walaupun memiliki keterbatasan, metalografi tidak dapat


dipisahkan dari penelitian-penelitian bidang pengembangan maupun pengujian
bahan moderen. Dan perkembangan ilmu metalografi sendiri telah maju dan akat
terus maju dengan pesat mengikuti tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan bahan.

1
2. Struktur Kristal Logam.

Logam adalah suatu bahan dengan elekton terluar atomnya dapat bergerak dalam
keadaan bebas, yang dengan demikian memiliki karakter yang khas antara lain:

a. Memliki kekuatan, kemampuan bentuk dan ketermesinan yang baik.


b. Memiliki bangun kristalin.
c. Memiliki konduktifitas thermal maupun listrik yang baik.
d. Memiliki kilap metalik dan memantulkan cahaya.
e. Melalui pelepasan electron dapat memiliki ikatan ion positip (kation) yang
ringan.
f. Larut didalam asam dan membentuk garam.

Ikatan logam terutama disebabkan oleh gaya tarik menarik antara ion-ion positip dan
elektron-elektron bebas. Salah satu akibet yang paling penting dari bentuk ikatan ini
adalah bahwa gaya ikat (bonding force) tidak mengikuti arah yang tertentu sehingga
ion-ion akan mengelompok menurut bentuk geometri yang paling memungkinkan.
Bagaimanapun p[erlu diingat, bahwa apabila dua ion saling mendekati maka akan
terjadi gaya tolak menolak antara keduanya. Gaya ini membatasi derajat
kerapatannya, sehingga ion-ion logam dapat dipandang sebagai bola-bola keras.
Dengan demikian susunan ion-ion tersebut dalam membentuk struktur kristal logam
identik dengan pengepakan sejumlah bola berukuran sama.

Ion logam memiliki diameter hanya beberapa kali 10-10 mm, atau kurang dari satu
nanometer. Dengan demikian setiap 1 mm3 logam diperkirakan mengandung ion
sebanyak 1022. Mengingat susunan ion logam tertata sedemikian rupa secara
beraturan hingga volume yang paling kecil, maka akan terjadi geometri-geometri
sederhana yang untuk setiap unit terkecilnya disebut sebagai unit sel. Bila unit sel ini
disusun dan ditata secara teratur dan berulang-ulang diseluruh badan logam, maka
posisi semua ion akan memenuhi semua kristal logam bersangkutan.

2
Gambar 1 merupakan ilustrasi dari susunan atom yang paling populer dimana
penataan bola-bola yang memungkinkan volume minimum. Gambar 1a adalah FCC
(Face Centered Cubic = Kubus Pusat Muka) dan ganbar 1b adalah CPH (Closed
Paced Hexagonal = Heksagonal Susunan Rapat). Susunan lain yang walaupun tidak
terlalu rapat namun dianut oleh banyak logam dapat dilihat pada gambar 1c, yaitu
susunan BCC (Body Centered Cubic = Kubus Pusat Ruang).

Gambar 1. Susunan atom yang


membentuk unit sel.
(a) FCC, (b) CPH dan (c) BCC.

3
Gambar 2. Jenis-jenis unit sel. Titik tebal mengindikasikan posisi dari atom.

4
Secara umum logam mengikuti 7 jenis susunan atom dalam unit sel sebagai berikut:
Sistem Kristal Konstanta sisi Sudut
Kubus a=b=c = = = 90o
Tetragonal a=b8c = = = 90o
Ortorombik a8b8c = = = 90o
Rombohedral a=b8c = = 8 90o
Heksagonal a=b8c = = 90o; = 120o
Monoklinik a8b8c = = 90o; ;8 90o
Triklinik a8b8c 8 90o
Tabel 1. Susunan atom dalam unit sel.

Secara grafis unit sel sebagaimana table diatas dapat dilihat pada gambar 2,
sedangkan tabel 2 memperlihatkan unit sel yang dianut oleh sejumlah logam pada
temperatur kamar.

Tabel 2. Unit Sel beberapa logam pada suhu ruang.

5
3. Pertumbuhan Butiran.

Pada proses pembekuan, inti (sebagai awal pembekuan) akan terbentuk ketika jarak
atom yang saling mendekatkan diri akibat pendinginan, dimana pada saat tersebut
enerji potensial akibat gaya tolak maupun gaya tarik antar atom telah mencapai
harga terkecil (gambar 3).

Gambar 3. Perubahan enerji potensial berbanding dengan jarak atom.

Jumlah inti yang terbentuk ditentukan oleh kecepatan pendinginan, dimana semakin
cepat pendinginan akan menghasilkan inti dalam jumlah yang lebih banyak. Unit-unit
sel yang terjadi berikutnya akan menempatkan diri pada inti, sehingga inti kemudian
tumbuh membesar menjadi butiran kristal dengan orientasi pertumbuhan tertentu.
Gambar 4 dan gambar 5 mengilustrasikan proses pertumbuhan butiran.

6
(a) Pengintian (b) Pertumbuhan (c) Akhir pertumbuhan

Gambar 4. Pertumbuhan inti menjadi butiran

Gambar 5. Tahap-tahap pembekuan logam.

Besar dari butiran tergantung dari jumlah inti yang terbentuk selama proses
pembekuan. Sedangkan banyaknya inti merupakan akibat langsung dari undercooling
maupun banyaknya partikel asing didalam cairan.

4. Peristiwa-peristiwa pada proses pemanasan, pencairan dan


pendinginan.

Pada temperatur T = 0 K (absolut) atau -273 oC, atom berada diam pada tempatnya.
Atom-atom mulai bergerak dengan kecepatan meningkat serta saling menjauh
sejalan dengan naiknya temperatur. Akibat dari saling menjauhnya atom-atom
tersebut terjadi pemuaian.

7
Dari gambar 6, dimana pemanasan dilakukan terhadap bahan tembaga, pada
temperature perubahan fasa dari padat menjadi cair terjadi lonjakan volume spesifik
yang cukup tajam. Hal ini terjadi kareda pada saat tersebut atom-atom harus menata
dirinya menjadi tatanan struktur yang lain.

Pada saat yang sama kenaikan temperature juga mengalami hambatan (terjadi
temperatur isothermal) selama beberapa saat dimana enerji pemanasan yang
diberikan digunakan oleh atom-atom untuk menata diri (gambar 7).

Gambar 6. Pemuaian Cu akibat pemanasan.

Gambar 7. Temperatur isothermal pada perubahan fasa

Pada proses pendinginan peristiwa temperatur isothermal juga terjadi. Pada


temperatur ini cairan tertransformasi menjadi padatan (gambar 8). Kecepatan
pendinginan yang sangat lambat secara praktis sulit dilakukan, sehingga pada
akhirnya proses kristalisasi terjadi agak terlambat (pendinginan lebih cepat dari pada
pembentukan inti)k Kelambatan ini menyebabkan baha masih tetap cair walaupun
8
temperaturnya telah berada dibawah temperatur pembekuan. Fenomena ini disebut
undercooling. Dan cairan akan menyimpan enerji potensial yang besar.

Gambar 8. Kurva Pendinginan


vB0

Gambar 9. Kurva pendinginan


dengan udercooling

Pada saat akhirnya kristalisasi terjadi, enerji potensial akan dilepaskan. Sedemikian
besarnya enerji ini sehingga akan memanaskan kembali cairan kembali ke
temperatur kristalisasinya (gambar 9).

9
Pertumbuhan kristal selalu berawal dari inti (kecambah). Inti ini dapat berasal dari
partikel asing atau unit sel tunggal sebagai molekul baik material itu sediri unsur
bahan asing, misalnya Al2O3 dalam baja yang secara sengaja diberikan pada saat
proses peleburan. Bentuk maupun jenis kristal ditentukan oleh jumlah maupun jenis
inti yang terbentuk.

Gambar 10. Pengaruh kecepatan pengintian dan jumlah inti


terhadap kekasaran butiran.
a) JI > KP: Strutur halus.
b) JI < KP Struktur kasar.

Jumlah inti yang terbentuk dapat dikendalikan dengan mengatur proses peleburan
maupun penuangan, sehingga dengan demikian dapat pula dibuat material dengan
struktur yang direncanakan. Secara kualitativ proses pembekuan dapat didefinisikan
sebagai Kecepatan Pengkristalan (KP) dan Jumlah Inti (JI).

Kecepatan Pengkristalan (KP) adalah perpanjangan kristal kesalah satu arah setiap
satuan waktu, dengan satuan mm/menit. Sedangkan Jumlah Inti (JI) adalah jumlah
inti kristal yang terbentuk dalam setiap satuan waktu dalam 1 cm3 cairan, dengan
satuan cm-3min-1. KP dan JI tidak berhubungan satu sama lain, sebab pada proses
kristalisasi, sisa cairan, dimana masih dapat terbentuk inti-inti baru volumenya terus
menyusut.

10
KP dan JI juga bukan merupakan besaran konstan, melainkan dipengaruhi oleh
adanya Undercooling (FT = TR T0) dimana TR = Temperatur actual cairan dan T0
= Temperatur pembekuan ideal. Pada titik cair/beku ideal dimana FT = 0, maka baik
KP maupun JI sama dengan nol. Pembentukan inti yang merupakan reaksi
eksotermal kemudian memberikan enerji yang dilepaskannya sehingga
mengakibatkan tejadi pemanasan kembali cairan yang sedang didinginkan.

Dengan demikian semakin bertambahnya undercooling meningkat pula KP dan JI


proporsional dengan FT. Struktur mikro yang terbentuk kemudian sangat
dipengaruhi oleh bagaimana hubungan antara FT disalah satu pihak dengan KP dan
JI pada pihak yang lain, serta undercooling yang terjadi.

Gambar 10 memperlihatkan 2 kemungkinan terjadinya undercooling. Bila JI untuk


setiap undercooling lebih besar dari KP akan terbentuk struktur yang halus a).
Sedangkan bila KP lebih besar dari JI maka akan didapatkan struktur yang kasar.

11