Anda di halaman 1dari 2

MENGHINDARI GAS

PADA PROSES PELEBURAN


PADUAN ALUMINIUM
R. Widodo

Paduan Al aman terhadap oksigen, mengingat O2 akan segera bereaksi dengan Al dan
membentuk Al2O3. Bahaya terbesar adalah kontaminasi gas Hidrogen (H2), sebab reaksi
Al dengan H2O (kelembaban udara) akan menyisakan H2.

Tingginya kontaminasi H2 didalam Aluminium disebabkan oleh tingkat reaksi yang kuat
dan atau ketersediaan H2 yang banyak, sebagai berikut:

Temperatur cairan terlalu tinggi, sehingga afinitas Al terhadap O2 yang


terdapat didalam kelembaban udara menjadi sangat tinggi.
Kelembaban udara, peralatan maupun bahan baku terlalu tinggi, sehingga
ketersediaan H2 menjadi besar.
Peleburan tanpa perlindungan akibat selalu rusaknya lapisan Al2O3
dipermukaan, sehingga kontaminasi kelembaban udara selalu terjadi.

Solusi dari kontaminasi tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa metode,
sebagai berikut:

KELEBIHAN/ CARA
METODE
KEKURANGAN PELAKSANAAN
1. Menurunkan temperatur Waktu panjang, hasil Pengaturan temperatur
peleburan, holding sangat tergantung dari dapat dilakukan dengan
cairan sedikit diatas kondisi bahan baku cara pengendalian
garis liquidus selama maupun proses peleburan. pengapian atau dengan
sedikitnya 60 menit. Semakin buruk, semakin menarik keluar krusibel.
lama. Perlu diperhatikan,
2. Pengaturan pemanasan Waktu lebih pendek dari bahwa pemanasan
saat peleburan hanya cara 1. Perlu diperhatikan, kembali cairan (bila
sampai antara liquidus bahwa bila temperatur temperatur turun terlalu
dan solidus. terlalu rendah sehingga banyak) juga akan
Selanjutnya pemanasan cairan kembali beku, pada berakibat kontaminasi
hingga temperatur saat pencairan kembali kembali gas-gas
tuang dan langsung dapat meretakkan krusibel. tersrebut.
taping Untuk kondisi dimana
tidak terdapat bahan
degassing secara fisik (gas
Chlor, trigas, argon
maupun nitrogen), maka
cara peleburan ini sangat
dianjurkan.
3. Pengubahan tekanan Mengabaikan metode Hasil dari proses ini
parsial H2 dengan vacuum, maka sebenarnya tergantung dari serberapa
hembusan gas pereaksi degassing dengan gas banyak oksida maupun
seperti gas Chlor, Chlor masih merupakan inklusi non-metalik yang
Trigas (15% Cl2 + 10% cara tercepat, termurah terkandung didalam
CO + 75% N2) atau gas serta terefektif. cairan. Untuk hasil yang
mulia sepert Argon dan Kekurangannya hanya baik, maka sebelum
Nitrogen. pada faktor tingkat racun pengegasan, oksida serta
yang cukup tinggi inklusi tersebut harus
sehingga dituntut disingkirkan terlebih
penggunaan perangkat dahulu. Kandungannya
pencucian gas buang. yang tinggi didalam
Penggunaan Trigas cairan akan menyulitkan
mengurangi efek racun ini proses degasing sebab H2
hingga tinggal 15%. melekat kuat
Sedangkan gas mulia, dipermukaan pengotor-
karena berfungsi hanya pengotor tadi.
sebagai pendorong,
membutuhkan waktu lama
dan cukup mahal.
4. Degassing dengan Cukup efisien diterapkan Tablet senyawa Chlor
bahan aditiv pada pada tanur bekapasitas dicelupkan hingga
prinsipnya sama dengan kecil (sampai dengan 100 kedasar tanur dengan alat
memasukkan gas Chlor. kg Al). Namun untuk tanur celup berbentuk lonceng
Dalam hal ini Cl besar cara ini lebih mahal dan didiamkan hingga
dimasukkan dalam dari pada cara 3 mengingat reaksi berakhir.
bentuk tablet senyawa jumlah tablet yang banyak Perhatikan faktor
Hexachloratan (C2Cl6) serta pencelupan yang keselamatan dan
ataupun harus berulang-ulang. kesehatan kerja,
Hexachlorbenzol Penggunaan NaCl sangat mengingat gas buang
(C6Cl6) serta senyawa- baik untuk paduan AlSi yang terbentuk adalah
senyawa berkandungan diatas eutektik. Dari Na gas HCl. Jumlah
Cl lainnya seperti AlCl3 dapat diharapkan pemberian tablet sangat
dan NaCl (garam terjadinya efek modifikasi. tergantung dari kondisi
dapur). bahan baku dan
Cara lain yang lebih peleburan.
aman adalah dengan
memasukkan Titanium
sisi proses pemesinan
yang telah dibersihkan
dairi oli maupun
kotoran lainnya.
5. Vacuum degassing Cara yang paling aman dan efektif namun memerlukan
infestasi peralatan yang besar dengan tuntutan
teknologi tinggi serta kecermatan pengukuran.

Sumber:
Mueler HJ, Handbuch der Legierungspraxis fuer Leichtmetalle. Schiele & Schoen.
D-1000 Berlin 61. 1977.