Anda di halaman 1dari 28

BAB II

ISI

Pada BAB II, akan dibahas mengenai badan penyelenggara


jaminan sosial, pelaksanaan BPJS di masyarakat, prinsip etika dalam pelayanan
BPJS, serta prinsip keutamaan moral.

II.1 Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)


BPJS Kesehatan mulai beroperasi pada 1 Januari 2014 sebagai
transformasi PT Asuransi Kesehatan Indonesia (Persero) dalam memberi jaminan
kesehatan. Peserta BPJS Kesehatan adalah peserta PT Askes Indonesia, PT
Jamsostek, program Jaminan Kesehatan Masyarakat, program Penerima Bantuan
Iuran, dan peserta mandiri. Keikutsertaan masyarakat untuk menjadi peserta
program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan
cukup besar. Proyeksi tahun 2015, jumlah peserta meningkat menjadi 168 juta
orang dengan 30 juta orang merupakan pekerja penerima upah (PPU).
Landasan Hukum BPJS Kesehatan :
1. Undang-Undang Dasar 1945.
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional.
3. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial.
Dalam Pengelolaan BPJS Kesehatan, manajemen berpedoman pada tata kelola
yang baik antara lain :
1. Pedoman Umum Good Governance BPJS Kesehatan
2. Board Manual BPJS Kesehatan
3. Kode Etik BPJS Kesehatan
Demi mewujudkan tugasnya sebagai lembaga jaminan sosial di
Indonesia,

II-1
II.2 Visi dan Misi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial memiliki visi dan misi sebagia berikut,
1. Visi BPJS
Sesuai dengan Cakupan Semesta Tahun 2019, paling lambat 1
Januari 2019, seluruh penduduk Indonesia memiliki jaminan
kesehatan nasional untuk memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatannya yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan yang
handal, unggul dan terpercaya.
2. Misi BPJS:
Membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga dan
mendorong partisipasi masyarakat dalam perluasan kepesertaan
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Menjalankan dan memantapkan sistem jaminan pelayanan
kesehatan yang efektif, efisien dan bermutu kepada peserta melalui
kemitraan yang optimal dengan fasilitas kesehatan.
Mengoptimalkan pengelolaan dana program jaminan sosial dan
dana BPJS Kesehatan secara efektif, efisien, transparan dan
akuntabel untuk mendukung kesinambungan program.
Membangun BPJS Kesehatan yang efektif berlandaskan prinsip-
prinsip tata kelola organisasi yang baik dan meningkatkan
kompetensi pegawai untuk mencapai kinerja unggul.
Mengimplementasikan dan mengembangkan sistem perencanaan
dan evaluasi, kajian, manajemen mutu dan manajemen risiko atas
seluruh operasionalisasi BPJS Kesehatan.
Mengembangkan dan memantapkan teknologi informasi dan
komunikasi untuk mendukung operasionalisasi BPJS Kesehatan. 1
Dalam pelaksanaannys, berdasarkan UU No. 24 Tahun 2011, kini Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial terbagi menjadi dua lembaga besar, yaitu BPJS

1Admin BPJS. 2014, BPJS Kesehatan, Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (April 2016), http://bpjs-
kesehatan.go.id/bpjs/dmdocuments/a5aa2414827b8f62878c495a0a1c34a3.pdf (diakses pada 18.4.2016)

II-2
Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Namun, dalam pembahasan ke depannya,
lembaga BPJS yang menjadi sorotan adalah lembaga BPJS Kesehatan.

II.3 Kendala BPJS Kesehatan


Pada awalnya, BPJS Kesehatan sempat mengalami kendala hal ini
dikarenakan kesadaran masyarakat yang masih rendah dan kekurangan sarana dan
transportasi untuk sosialisasi dan pelaksanaan BPJS Kesehatan. Selain itu BPJS
Kesehatan juga dikhawatirkan oleh para tenaga kesehatan akan membuat mereka
rugi, seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Zaenal Abidin secara terang-terangan mengatakan sistem kapitasi yang hendak
diterapkan bagi para dokter di layanan kesehatan primer (puskesmas) bisa
membuat para dokter "tekor" (rugi) atau berkurang pendapatannya akibat
bertambahnya jumlah pasien. Hal ini karena sistem kapitasi yang diberlakukan
untuk dokter layanan primer yang menandatangi kontrak dengan BPJS Kesehatan
saat ini membuat pendapatan para dokter tersebut akan bergantung pada sisa biaya
kapitasi yang diberikan. Jika masyarakat yang sakit banyak, maka biaya kapitasi
tersebut akan banyak digunakan untuk melakukan pengobatan sehingga sisanya
yang bisa diberikan untuk jasa medik dokter makin sedikit.2
Selama 2 tahun BPJS Kesehatan berjalan, peserta BPJS Kesehatan tak bisa
bebas memilih fasilitas kesehatan (faskes) karena program JKN menggunakan
pola rujukan berjenjang. Pasien diharapkan berobat terlebih dahulu ke faskes
tingkat pertama, seperti puskesmas, klinik, ataupun dokter keluarga. Jika
membutuhkan layanan lebih lanjut dari dokter spesialis, pasien akan dirujuk ke
faskes yang tingkat layanannya lebih tinggi. Masalah lain, masih sedikit fasilitas
kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Hal ini kerap
mengakibatkan antrean panjang pasien untuk mendapat pelayanan kesehatan.
Bahkan, antrean panjang pun terjadi ketika warga hendak mendaftarkan diri
sebagai peserta di kantor cabang BPJS Kesehatan.

2 Gabriel Abdi S, Kisruh Program BPJS Kesehatan, Liputan 6 (Januari 2014),


http://health.liputan6.com/read/797784/kisruh-program-bpjs-kesehatan (diakses pada 18.4.16).

II-3
II.4 Perkembangan Pelayanan BPJS Kesehatan
Pada April 2014, jumlah pasien yang ditanggung BPJS Kesehatan baru
sekitar 86,4 juta jiwa sesuai Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang telah ditetapkan.
Targetnya, dalam 5 tahun ke depan (Sejak 2014) seluruh masyarakat Indonesia
yang jumlahnya 270 juta jiwa akan mendapat jaminan kesehatan3.
Pada September 2015, BPJS Kesehatan menjangkau para penderita
kanker. Menurut Pendiri Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Ira
Soelistyo mengatakan, program BPJS Kesehatan sangat membantu anak-anak
penderita kanker mencapai kehidupan yang lebih baik. Terlebih bagi keluarga pra
sejahtera yang berada di daerah-daerah terpencil. BPJS Kesehatan membuat orang
berani berobat. Dulu mereka tidak mau karena takut akan biaya yang relatif
mahal. Guna membantu program pemerintah itu, Ira pun menyediakan rumah
singgah di Jakarta dan kota-kota lain yang sudah menerapkan sistem BPJS
Kesehatan ini agar pasien kanker anak mendapat tempat tinggal yang layak, aman,
dan nyaman.

II.5 Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan4


Pelayanan yang tidak di jamin Jaminan Kesehatan Nasional ( JKN ) /
BPJS adalah :
Pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur
sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, kecuali untuk kasus gawat
darurat.

3 Wawan Isab R, Seluk Beluk BPJS Kesehatan, Liputan 6 (April 2014),


http://health.liputan6.com/read/2034111/infografis-seluk-beluk-BPJSKesehatan,(diakses pada 18.4.16).
4 Sucipto Kuncoro.2015. Pelayanan Yang Dijamin BPJS Kesehatan. Infografis Kesehatan.
http://infografiskesehatan.blogspot.co.id/2015/03/pelayanan-yang-dijamin-bpjs-kesehatan.html (diakses 18
April 2016).

II-4
Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan
kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cidera akibat kecelakaan kerja
atau hubungan kerja.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan diluar negeri.
Pelayanan kesehatan untuk tujuan kosmetik dan atau estesik.
Pelayanan untuk mengatasi infertilitas ( memperoleh keturunan ).
Pelayanan meratakan gigi.
Gangguan kesehatan / penyakit akibat ketergantungan obat dan atau
alkohol.
Gangguan kesehatan / penyakit akibat sengaja menyakiti diri sendiri ,
atau akibat melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri.
Pengobatan Komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk
akupuntur, shin she, chiropractic, yang belum dinyatakan efektif
berdasarkan penilaian teknologi kesehatan ( Health Tecnology
Assesment / HTA ).
Pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan
/ experimen.
Alat kontrasepsi , kosmetik, makanan bayi, dan susu.
Pembekalan kesehatan rumah tangga.
Pelayanan kesehatan akibat bencana , pada masa tanggap darurat,
kejadian luar biasa atau wabah.
Biaya pelayanan lainya yang tidak ada hubungan dengan manfaaat
jaminan kesehatan yang diberikan.

Pelayanan yang di jamin JKN ( Jaminan Kesehatan Nasional ) / BPJS :


Pelayanan Kesehatan Tingkat 1/Dasar, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik,
mencakup :
Pelayanan promotif dan preventif
Pemeriksaan / pengobatan dan konsultasi medis
Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif
Pelayanan obat dan alat bahan habis pakai

II-5
Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis
Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama
Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan indikasi medis

Pelayanan Kesehatan Tingkat 2 / Lanjutan


1. Pelayanan kesehatan yang di jamin mencakup :
Pemeriksaan, Pengobatan dan konsultasi spesialistik oleh dokter
spesialis dan sub-spesialis
Tindakan medis spesialistik sesuai dengan indikasi medis
Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai
Pelayanan alat kesehatan implant
Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis
Rehabilitasi medis
Transfusi darah sesuai dengan kebutuhan medis
Pelayanan kedokteran forensik
Pelayanan jenazah di fasilitas kesehatan
2. Rawat Inap yang mencakup
perawatan inap non intensif
perawatan inap di ruang intensif

II.6 Peningkatan Fasilitas Kesehatan


Data BPJS Kesehatan menyebutkan, pada triwulan I-2015, ada
14.619.528 kunjungan di faskes tingkat pertama. Dari data itu, 2.236.379
kunjungan dirujuk dari pelayanan primer (puskesmas) ke tingkat pelayanan
sekunder (rumah sakit).
Pada Februari 2015, dalam upaya peningkatkan kepuasan masyarakat
khususnya dalam memperoleh pelayanan administratif di kantor cabang, pada
Senin (16/2/2015) di Palembang BPJS Kesehatan meresmikan sembilan kantor
baru yang terdiri atas tujuh Kantor Cabang (KC) dan dua Kantor Layanan
Operasional Kabupatan/Kota (KLOK). Kesembilan kantor tersebut adalah KC
Batam, KC Bekasi, KC Mataram, KC Tanjung Pinang, KC Sumedang, KC Banda

II-6
Aceh, KCU Palembang, KLOK Wonosobo, dan KLOK Cilacap. Peningkatan
sarana-prasarana tersebut diharapkan dapat memfasilitasi tingginya jumlah
masyarakat yang hendak melakukan pendaftaran peserta BPJS Kesehatan secara
manual. Hal ini dikarenakan antusiasme masyarakat untuk menjadi peserta BPJS
Kesehatan meningkat pesat setelah mengetahui besarnya manfaat program
jaminan kesehatan. Berdasarkan data per 6 Februari 2015, terdapat 136.610.852
jiwa peserta BPJS Kesehatan. Dengan disediakannya tempat yang lebih luas dan
lebih strategis dengan fasilitas penunjang lainnya, diharapkan ke depannya tidak
ada lagi keluhan peserta soal fasilitas di lokasi pendaftaran yang kurang memadai.
Selain melalui kantor cabang, BPJS Kesehatan juga telah membuka pendaftaran
online melalui website BPJS Kesehatan-kesehatan.go.id. Selain prosesnya lebih
singkat dan praktis, masyarakat juga dapat mencetak kartu BPJS Kesehatan-nya
sendiri (e-ID), yang mana sama sahnya dan sama validnya dengan Kartu BPJS
KESEHATAN pada umumnya.5

II.7 Jumlah Peserta Kesehatan dan Fasilitas BPJS Kesehatan (per April
2016)
Jumlah Peserta BPJS Kesehatan sejauh ini adalah 165.332.746.
Sedangkan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS kesehatan
adalah sebagai berikut.

Tabel II.1 Jumlah Fasilitas BPJS Kesehatan

Fasilitas Kesehatan Jumlah


Puskesmas 9812
Kliniki Tni 714
Klinik Polri 569
(lanjut)

5 Admin BPJS, Agar BPJS Kesehatan Tidak Layu sebelum Berkembang,Info BPJS Kesehatan
(2015)http://BPJSkesehatankesehatan.go.id/BPJSKESEHATAN/dmdocuments/e5c72beb564da7a5323d9ac52
8caca87.pdf (diakses pada 18.4.2016)

II-7
Tabel II.1 Jumlah Fasilitas BPJS Kesehatan (lanjutan)

Fasilitas Kesehatan Jumlah

Klinik Pratama 3401

Dokter Praktik
4429
Perorangan

Dokter Gigi 1142

Rs Kelas D Pratama 10

Rumah Sakit 1749

Klinik Utama 104

Apotek 1891
Optik 917

Saat ini, peserta BPJS KESEHATAN PPU mencapai 33,9 juta peserta,
terdiri dari PPU swasta; PPU PNS, TNI, dan Polri aktif; serta pensiunan. Rasio
klaim BPJS Kesehatan 2014 mencapai 103,88 persen. Artinya, klaim yang harus
dibayar pada program Jaminan Kesehatan Nasional lebih besar dibandingkan
dengan iuran yang diperoleh. Karena itu, Dewan Jaminan Sosial Nasional
mengusulkan kenaikan iuran bagi semua kelompok peserta.6

II.8 Iuran BPJS Kesehatan


Kondisi yang belum optimal dalam menjaring kerja sama dengan faskes
dan banyak peserta potensial yang belum dirangkul, ditambah kualitas layanan
yang belum memuaskan, membuat publik menilai iuran belum layak dinaikkan.
Dari 53,7 persen responden yang tidak setuju iuran BPJS Kesehatan dinaikkan,
58,8 persen merupakan peserta dan 39,3 persen belum menjadi peserta.

6Admin BPJS. 2014, BPJS Kesehatan, Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (April 2016), http://bpjs-
kesehatan.go.id/bpjs/index.php/pages/detail/2014/12 (diakses pada 18.4.2016)

II-8
Per 1 April 2016, Pemerintah akan menerapkan kenaikan iuran BPJS
Kesehatan. Kenaikan iuran ini berasal dari Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun
2016 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013
tentang Jaminan Kesehatan. Peraturan Presiden ini sudah diundang-undangkan
pada 1 Maret 2016. Melalui penerbitan Peraturan Presiden itu, besaran iuran kelas
I yang semula Rp 59.500 menjadi Rp 80 ribu. Iuran kelas II yang semula Rp
42.500 naik menjadi Rp 51 ribu. Sedangkan iuran kelas III yang semula Rp
25.500 menjadi Rp 30 ribu. Iuran peserta penerima bantuan iuran (PBI) 2016
serta penduduk yang didaftarkan pemerintah daerah (Jamkesmas atau Jamkesda)
juga mengalami kenaikan, dari sebelumnya Rp 19.225 menjadi Rp 23 ribu.
Kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini diputuskan pemerintah setelah BPJS
Kesehatan mengalami defisit penerimaan.
Namun Bapak Sekjen Kemkes, dr Untung Suseno Sutarjo mengatakan
Bagaimana pun seluruh masyarakat akan terlayani kesehatannya. Beliau
mengatakan bahwa dengan kenaikan iuran JKN akan meningkatkan pelayanan
kesehatan sehingga menjadi semakin baik. Saat ini Kemkes mendapat anggaran
besar sekitar Rp 15 triliun untuk pembangunan puskesmas dan rumah sakit. Tahun
lalu hanya Rp 4 triliun dan memprioritaskan program promotif dan preventif
untuk pencegahan penyakit. Selain itu juga rencananya akan diadakan
peningkatkan antigen-jenis imunisasi yang saat ini baru delapan. Mungkin tahun
depan bisa 12 sehingga ada banyak penyakit yang bisa dicegah. Kementrian
Kesehatan juga sedang melihat hasil penelitian untuk vaksin DBD. Dengan
kenaikan iuran BPJS Kesehatan, pelayanan minimal juga akan ditugaskan ke
Pemerintah Daerah dan akan memastikan penyakit hipertensi dan diabetes
terdeteksi. Hal dilakukan dengan harapan deteksi dini, Perilaku Hidup Bersih
Sehat (PHBS) dan angka kesakitan diharapkan turun.

II.9 Review terhadap pelayanan BPJS Kesehatan


Komposisi opini peserta BPJS Kesehatan juga tecermin dari jajak
pendapat Kompas. Dari 592 responden jajak pendapat Litbang Kompas di 12 kota,
53,5 persen telah mengikuti BPJS Kesehatan. Komposisinya, lebih dari 60 persen

II-9
pegawai negeri sipil dan pensiunan. Namun, dari 317 responden yang menjadi
peserta program JKN BPJS Kesehatan hanya 39,1 persen yang menyatakan puas
terhadap layanan BPJS Kesehatan. Sebanyak 42,9 persen responden pengguna
layanan BPJS Kesehatan masih menyatakan tidak puas. Ketidakpuasan tersebut
berdasarkan pada pengalaman mereka dalam berbagai hal, mulai dari kerumitan
prosedur untuk mendapatkan layanan sejak pendaftaran keanggotaan hingga saat
pemeriksaan. Berikut merupakan persentase dari 592 responden yang dilakukan
Kompas,

PESERTA BPJS
SUDAH BELUM BUKAN TIDAK MENJAWAB
3% 1%

42%
54%

Gambar II.1 Grafik Jumlah Peserta BPJS


(Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/09/Menilik-Layanan-Kesehatan-BPJS, diakses
pada 18.4.2016)

Berdasarkan gambar tersebut, jumlah peserta BPJS di 12 kota sudah


melebihi dari setengah jumlah responden. Dimana hanya sekitar 3% responden
yang belum menjadi peserta dan 1% yang tidak menjaawab. Berikut, merupakan
persentase layanan fasilitas kesehatan secara umumnya,

II-10
Layanan Fasilitas
Kesehatan
Layanan Fasilitas Kesehatan

48.90% 42.59%
8.52%
PUAS TIDAK PUAS TIDAK MENJAWAB

Gambar II.2 Grafik Layanan Fasilitas Kesehatan


(Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/09/Menilik-Layanan-Kesehatan-BPJS, diakses
pada 18.4.2016)

Beradasarkan survey yang dilakukan terhadap fasilitas kesehatan,


sebanyak 48,9% menjawab puas terhadap pelayanan kesehatan yang ada.
Sedangkaan 42,59% menjawab tidak puas terhadap layanan fasilitas kesehatan
yang ada saat ini. Berikutnya merupakan persentase layanan BPJS,

Layanan BPJS
Layanan BPJS

39.12% 42.90%
17.89%

PUAS TIDAK PUAS TIDAK


MENJAWAB

Gambar II.3 Grafik Layanan BPJS


(Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/09/Menilik-Layanan-Kesehatan-BPJS, diakses
pada 18.4.2016)

Berdasarkan data diatas, dapat terlihat bahwa lebih banyak responden


yang merasa tidak puas dibandingkan dengan responden yang puas terhadap
kinerja layanan BPJS saat ini.

II-11
Data-data diatas didapatkan dari pengumpulan jajak pendapat yang
dilakukan oleh Litbang Kompas melalui telepon pada 22-23 April 2015 dengan
592 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode
pencuplikan sistematis dari telepon terbaru. Responden berdomisili di Medan,
Palembang, Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar,
Pontianak, Banjarmasin, Manado dan Makasar.7
Salah satu penyebab munculnya kasus rujukan nonspesialistik adalah
kapasitas sumber daya manusia di faskes tingkat pertama belum memadai.
Tingginya angka rujukan yang tidak perlu itu mengakibatkan penumpukan pasien
di rumah sakit sebagai tingkat layanan sekunder, yang sampai kini masih terjadi.
Pelayanan menjadi terganggu karena panjangnya antrean, sementara sumber daya
manusia di rumah sakit terbatas.
Untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi BPJS Kesehatan tidak
cukup dengan menaikkan iuran peserta. Harus ada evaluasi komprehensif antara
lembaga Kementerian Kesehatan, Dewan Jaminan Sosial Nasional, dan BPJS
Kesehatan. Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kualitas pelayanan
di faskes, baik di jenjang primer maupun lanjutan. Perbaikan mutu layanan dan
kualitas sumber daya manusia di faskes primer perlu diprioritaskan agar
pengobatan dapat dilakukan lebih awal dan lebih cepat. Dengan demikian, faskes
yang lebih tinggi tidak terbebani dan semua faskes diberdayakan secara optimal
dan merata.

II.10 Studi Kasus Pelaksanaan BPJS Kesehatan dalam Masyarakat


Selain melakukan studi pustaka dalam penulisan makalah ini, penulis
juga melakukan studi kasus berdasarkan contoh yang baik dari adanya BPJS
Kesehatan juga contoh yang kurang memuaskan dengan adanya BPJS Kesehatan.
Berdasarkan hasil studi kasus, data tersebut akan dijadikan bahan analisis
mengenai BPJS seterusnya.

7Endang Suprapti, 2015, Menilik Layanan Kesehatan, Kompas:Amanat Hati Nurani Rakyat (April 2015),
http://print.kompas.com/baca/2015/06/09/Menilik-Layanan-Kesehatan-BPJS (diakses pada 18.4.2016)

II-12
Berikut merupakan contoh yang tidak memuaskan dari adanya BPJS Kesehatan,
Salah satu masalah dalam pelayanan kesehatan BPJS adalah keterbatasan
fasilitas rumah sakit. Hal inilah yang dirasakan oleh Adinda Yulia (3,5), anak dari
Ramlan terserempet mobil dan dilarikan ke klinik Anisa4, Serang dan dirujuk ke
Rumah sakit Amanda sekitar pukul 10.00 WIB, namun di Amanda tidak
mendapatkan pelayanan terbaik. Asalannya bahwa kamar sudah penuh menurut
keterangan petugas Rumah sakit, sehingga pasien tersebut diberikan rujukan lagi
ke Rumah sakit Hosana.
Di rumah sakit Hosana, Ramlan mengisi formulir dan kronologi kejadian,
namun setelah selesai petugas rumah sakit yang tidak mau disebut namanya
menyarankan untuk dirujuk kembali. Lagi-lagi alasannya karena kamar rawat inap
sedang penuh.
Tapi pihak rumah sakit tidak memberikan layanan antar pasien ke Rumah
sakit yang dirujuk, padahal dalam peraturan BPJS Kesehatan, layanan antar pasien
rujukan ke rumah sakit berikutnya adalah tugas rumah sakit dan menjadi hak
peserta BPJS tanpa dipungut biaya.
Selanjutnya, keluarga Ramalan membawa anaknya ke Rumah sakit
Harapan keluarga di Kota cikarang baru. Di RS Harapan Keluarga tersebut, pasien
mendapatkan perawatan Trauma Centre, namun pasien dikenakan biaya untuk
tindakan medis karena Rumah sakit belum kerjasama dengan BPJS Kesehatan.
Setelah dilakukan mediasi, pihak Rumah Sakit memutuskan pasien
dirujuk kembali ke rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, dan
terlebih dulu membayar seluruh tindakan medis yang sudah dilakukan oleh
Rumah sakit Harapan keluarga.
Pukul 20.30 WIB, Pasien Tiba di RSUD Cibitung dan Langsung Dibawa
ke IGD. Setelah berkomunikasi dengan dokter jaga, tim Jamkeswatch mendapat
keterangan bahwa dokter ortopedi sedang cuti selama 14 hari dan tidak ada dokter
pengganti, sehingga tidak bisa memberikan perawatan terhadap pasien.
Ramlan bersama tim Jamkeswatch maminta agar pasien Anisa Widiya
mendapatkan perawatan, sementara ke dokter jaga RSUD Cibitung. Pasien
Ananda Widiya, korban kecelakaan tunggal di kota serang baru hingga saat ini,

II-13
Senin 07 maret 2016 masih berada di ruang IGD dan belum mendapatkan
perawatan medis yang semestinya.8

Sedangkan berikut merupakan contoh yang memuaskan dari BPJS


Kesehatan,
Salah satu penyakit yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan
swasta adalah kanker atau tumor ganas. BPJS mau menanggung biaya pengobatan
penyakit ini. Contohnya adalah yang dialami oleh Suhartati yang berasal dari
Lampung. Ibu Suhartati mengalami tumor ganas di payudaranya. Lalu Ibu
Suhartati mendaftar BPJS kelas 3. Setelah kartu BPJS dapat digunakan, Ibu
Suhartati melaksanakan operasi pengangkatan tumor ganas di Rumah Sakit
Umum Ryacudu, Kotabumi, Lampung Utara.
Seluruh biaya pengangkatan tumor ganas ini ditanggung oleh BPJS.
Tidak hanya itu, Bu Suhartati juga harus menjalankan kemoterapi setiap tiga
minggu sekali. Biaya kemoterapi ini pun ditanggung oleh BPJS. Beliau merasa
sangat tertolong dengan adanya program BPJS ini.9

II.10.1 Kekurangan dan Kelebihan BPJS Kesehatan


Program BPJS Kesehatan sudah berjalan di masyarakat sejak tahun 2014.
Dalam pelaksanaannya, BPJS masih menuai pro kontra dari masyarakat. Banyak
pengguna BPJS yang mengeluhkan pelayanan BPJS. Berikut adalah beberapa hal
yang dikeluhkan oleh pengguna BPJS.
1. Metode berjenjang
Jika pasien ingin berobat ke dokter spesialis, pasien harus memperoleh
surat pengantar dari puskesmas atau dari dokter keluarga. Pasien boleh
langsung dibawa ke rumah sakit jika kondisinya sudah darurat dan
harus dirawat.
8 Nimpuno, Ref. 2016. Rumah Sakit Tolak Pasien Peserta BPJS Kesehatan. Neters.
http://netters.redaksikota.com/2016/03/07/rumah-sakit-tolak-pasien-peserta-bpjs-kesehatan/ (diakses pada 18
April 2016)
9 Asmadi, Andi. 2015. Berkat BPJS Kesehatan, Operasi Tumor Ganas Suhartati Tertolong. Tribun
Lampung. http://lampung.tribunnews.com/2015/12/15/berkat-bpjs-kesehatan-operasi-tumor-ganas-suhartati-
tertolong (diakses pada 18 April 2016)

II-14
2. Mengantri
Pengguna BPJS yang banyak tidak sebanding dengan fasilitas dan
pekerja BPJS. Antrian pasien terjadi hampir di setiap loket
pendaftaran BPJS.
3. Kamar inap sering penuh
Kembali pada keterbatasan fasilitas yang tidak sebanding dengan
jumlah pasien. Pasien sering ditolak dengan alasan kamar penuh.
4. Tidak semua obat ditanggung oleh BPJS
Obat yang tidak ditanggung oleh BPJS harus dibayar sendiri oleh
pasien10.
Akan tetapi, BPJS juga membawa sejumlah manfaat dalam pelayanan
kesehatan bagi masyarakat. Berikut adalah beberapa kelebihan BPJS Kesehatan.
1. Hampir semua penyakit ditanggung oleh BPJS Kesehatan termasuk
penyakit yang dikecualikan asuransi swasta
2. Asuransi swasta biasanya tidak mau menanggung penyakit kronis,
seperti kanker, penyakit hormonal, dan penyakit bawaan lahir. BPJS
menanggung penyakit yang tidak diterima oleh asuransi swasta
tersebut. Penyakit yang tidak ditanggung BPJS berhubungan dengan
estetika, infertilitas, alternatif, komplementer, dll.
3. Premi murah
Dibandingkan dengan asuransi swasta, BPJS mempunyai premi yang
lebih murah. Berikut adalah premi BPJS yang berlaku mulai 1 April
2016.
Berikut merupakan tabel perbadingan premi BPJS yang diambil pada
tahun 2014 dan tahun 2015. Terdapat kenaikan hampir mencapai 20%. Hal ini lah
yang menjadi salah satu keluhan yang sering dikeluarkan oleh masyarakat pada
umumnya. Meski demikian, kenaikan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari sisi
negatifnya saja.

10 Anonim. 2015. Kelemahan dan Kekurangan BPJS Kesehatan. Informasi BPJS.


http://infobpjs.net/kelemahan-dan-kekurangan-bpjs-kesehatan/ (diakses pada 18 April 2016)

II-15
Tabel II.2 Tabel Perbandingan Premi BPJS
Kelas Premi sebelumnya Premi baru
PBI` Rp19.225,- Rp23.000
Kelas 1 Rp59.500 Rp80.000
Kelas 2 Rp42.500 Rp51.000
Kelas 3 Rp25.500 Rp30.000

Berdasrkan tabel tersebut, terdapat tiga kelas yang dapat ditunjang BPJS
dan satu PBI. Kenaikan harga iuran BPJS ini menjadi ramai diperbincangkan
mengingat keluhan terhadap fasilitas kesehatan BPJS.
4. Jaminan seumur hidup
Asuransi swasta umumnya hanya menanggung sampai 100 tahun.
BPJS memberikan jaminan pelayanan kesehatan hingga seumur hidup.
11

II.10.2 Premi BPJS


Peserta BPJS Kesehatan pada bulan Maret 2016 mencapai 163.327.183
peserta 12 . Peserta ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu penerima bantuan iuran
(PBI), pekerja penerima upah (PPU), dan peserta mandiri. Peserta bpjs mandiri
masih terbagi menjadi subkategori yakni bukan pekerja dan pekerja bukan
penerima upah.
Peserta BPJS dari berbagai kategori masih mengeluhkan kualitas
pelayanan BPJS. Sejak munculnya program BPJS ini, pasien rumah sakit menjadi
meningkat drastis. Peningkatan ini tidak disertai dengan peningkatan tenaga kerja
dan infrastruktur yang memadai. Pasien harus menunggu antrian yang panjang
untuk dapat berobat. Selain itu, tidak semua obat dapat ditanggung oleh BPJS.
Prosedur yang cukup panjang juga dikeluhkan oleh warga.
Akan tetapi, BPJS mempunyai sisi positif yang banyak. Hampir semua
penyakit dapat ditanggung biayanya oleh BPJS. Asuransi swasta biasanya tidak
11ibid
12Berita BPJS, Jumlah Total Peserta BPJS Maret 2016. Informasi BPJS, http://infobpjs.net/jumlah-total-
peserta-bpjs-maret-2016/ (diakses pada 16 April 2016).

II-16
menanggung beberapa penyakit, seperti penyakit bawaan lahir, hormonal, dan
penyakit jiwa. Selain itu, iuran BPJS kesehatan juga cukup murah.
Mulai tanggal 1 April 2016, iuran BPJS Kesehatan akan mengalami
kenaikkan sesuai dengan Perpres no.19 tahun 2016. Dari berbagai kateogri peserta
BPJS, berikut kategori yang terdampak kenaikan iuran, yaitu: WNI Pekerja Bukan
Penerima Upah ( 15.993.399 ), WNA Pekerja Bukan Penerima Upah ( 1.203 ),
Penerima Pensiun Swasta (107.660 ), dan Bukan Pekerja lainnya ( 2.777 ). Jumlah
keseluruhan peserta yang akan terdampak kenaikan iuran sebanyak 16.185.039
jiwa atau 9,91% dari seluruh peserta BPJS Kesehatan yang hingga 11 maret
ini 163.327.183 jiwa.
Dari data tersebut terlihat bahwa yang mengalami kenaikan premi hanya
9,91% persen peserta. Tetapi manfaat dari kenaikan premi ini akan dirasakan oleh
seluruh peserta BPJS. Menurut teori utilitarian, kenaikan iuran BPJS ini baik
karena memberikan dampak positif untuk lebih banyak orang. Berikut adalah
beberapa manfaat kenaikan BPJS13.
1. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
Dapat dilakukan peningkatan dan rasionalisasi tarif sehingga akan
berdampak secara langsung terhadap kualitas layanan untuk
masyarakat.
2. Penyesuaian rasio (distribusi dokter)
Rasio dokter 1 : 5.000 peserta akan semakin merata pada Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama (FTKP) sehingga layanan kepada
masyarakat lebih baik.
3. Peningkatan akses dan fasilitas kesehatan
Jumlah FKTP (puskesmas, klinik pratama, dokter praktik perorangan)
semakin bertambah, sebanyak 37.309. Sementara jumlah rumah sakit
mencapai 2.068.
4. Kinerja pelayanan dilakukan melalui kontrak komitmen pelayanan

13 Berita BPJS, Inilah Manfaat Setelah Iuran BPJS Naik. Informasi BPJS, http://infobpjs.net/inilah-
manfaat-setelah-iuran-bpjs-naik/ (diakses pada 16 April 2016).

II-17
Dalam hal ini, dapat diterapkan upaya promotif dan preventif berjalan
optimal.
5. Penambahan manfaat pelayanan kesehatan
Dalam peraturan terbaru disebutkan, pelayanan KB (Tubektomi
Interval) dan pemeriksaan medis dasar di rumah sakit (UGD) akan
dijamin BPJS.

II.11 Tinjauan Etis Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan terhadap Pelayanan


Kesehatan yang Diberikan
Menurut Ikatan Dokter Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adalah
ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat
melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Dari batasan ini dapat
disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan
sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.
Penilaian keberhasilan seorang administrator atau para tim medis
dibidang pelayanan kesehatan tidak semata didasarkan pada pencapaian kriteria
efisiensi, ekonomi, dan prinsip-prinsip administrasi lainnya, tetapi juga kriteria
moralitas, khususnya terhadap kontribusinya terhadap public interest atau
kepentingan umum (Henry, 1995). Alasan mendasar mengapa pelayanan
kesehatan harus diberikan adalah adanya public interest atau kepentingan
masyarakat yang harus dipenuhi oleh pemerintah terutama dibidang pelayanan
kesehatan, karena pemerintahlah yang memiliki tanggung jawab atau
responsibility. Dalam memberikan pelayanan ini pemerintah diharapkan secara
profesional melaksanakannya, dan harus mengambil keputusan politik secara
tepat mengenai siapa mendapat apa, berapa banyak, dimana, kapan, dsb.
Bertens (2000) menggambarkan konsep etika dengan beberapa arti, salah
satu diantaranya dan biasa digunakan orang adalah kebiasaan, adat atau akhlak
dan watak. Filsuf besar Aristoteles, kata Bertens, telah menggunakan kata etika ini
dalam menggambarkan filsafat moral, yaitu ilmu tentang apa yang biasa
dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Bertens juga mengatakan bahwa di

II-18
dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, karangan Purwadarminta, etika
dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral),
sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988), istilah etika disebut sebagai
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan
kewajiban moral
2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat.
Dengan memperhatikan beberapa sumber diatas, Bertens berkesimpulan bahwa
ada tiga arti penting etika, yaitu
1. Etika sebagai nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur
tingkah lakunya, atau disebut dengan sistem nilai
2. Etika sebagai kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal
dengan kode etik;
3. Sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk, yang acapkali disebut
filsafat moral.
Dengan definisi diatas kelompok kami meninjau BPJS Kesehatan dari
berbagai pandangan etika untuk menilai apakah kenaikan iuran BPJS Kesehatan
terhadap perlayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis tersebut etis atau
tidak.

II.11.1 Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan ditinjau dari Etika Pelayanan


Kesehatan
Menurut Soerjono Soekamto (1986), Etika kesehatan mencakup penilaian
terhadap gejala kesehatan baik yang disetujui maupun tidak disetujui, serta
mencakup rekomendasi bagaimana bersikap/ bertindak secara pantas dalam
bidang kesehatan.
BPJS menerapkan sejumlah prinsip agar dalam pelaksanaannya sesuai
dengan prinsip dasar keutamaan moral. Prinsip ini diterapkan agar pelaksanaan

II-19
BPJS masih dalam taraf wajar dan sesuai dengan kode etik yang berlaku. Berikut
merupakan prinsip-prinsip dalam etika pelayanan kesehatan yang diterapkan
BPJS,
a. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa dianggap
kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki
berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip
otonomi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai
persetujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan
hak kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek
profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
b. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan
atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang,
dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan
otonomi.
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap
orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai
ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis
pada klien
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan
oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap

II-20
klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity
berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran.
Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang
sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan
keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
Walaupun demikian, terdapat beberapa argument mengatakan adanya
batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien
untuk pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa doctors knows best
sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan
informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam
membangun hubungan saling percaya.
f. Menepati janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan menepati
janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan, adalah kewajiban
seseorang untuk mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetiaan,
menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa
tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan,
mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
g. Kerahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus
dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan
kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada
seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien
dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan
lain harus dihindari.

II-21
h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.14

Disamping menggunakan prinsip etika pelayanan kesehatan, dalam


prakteknya, BPJS juga menerapkan sejumlah etika bisnis diantaranya adalah,
a. Kejujuran ketika berkomunikasi dan bersikap
Kejujuran merupakan poin penting dalam menjalankan usaha sekaligus
membangun kepercayaan. Dalam berbisnis, Anda wajib bersikap jujur dalam
segala hal. mulai dari memberikan informasi dan menganalisa kekuarangan
perusahaan.
b. Integritas
Seseorang yang mempimpin perusahaan mendapatkan keparcayaan dari
oran lain karena mempunyai integritas. Integritas dapat diartikan sebagai
konsistensi antara pemikiran, perkataan, dan perbuatan.
c. Memenuhi janji serta komitmen yang dibuat
Seorang pebisnis dapat dipercaya karena mampu memenuhi semua janji
serta komitmennya yang pernah dibuat. Dalam berbisnis Anda tidak boleh asal
membuat janji, tetapi saat diucapkan Anda dapat langsung memenuhinya dengan
baik.
d. Loyalitas
Loyalitas merupakan hal yang penting dalam berbisnis. Hal ini agar
bisnis yang Anda jalani dapat berjalan dengan baik tanpa adanya konflik.
Keloyalan dapat ditunjukan dengan bekerja keras sesuai dengan visi misi
perusahaan serta mampu membedakan urusan kantor dengan masalah pribadi.
Loyalitas juga dapat terlihat dari keseriusan Anda mengembangkan bisnis yang
dijalani.15

14http://www.g-excess.com/prinsip-prinsip-etik-dalam-bidang-kesehatan-atau-keperawatan.html
15 http://bisnisi.com/pengertian-definisi-tujuan-dan-fungsi-etika-bisnis/

II-22
Jika dilihat dari segi etika kesehatan dan etika bisnis, BPJS dinilai masih
kurang etis dalam memberikan pelayanan. Masih banyak keluhan dari para pasien
tentang BPJS, dimulai dari kesulitan dalam menggunakan BPJS, pelayanan yang
diberikan tidak maksimal, dll. Padahal BPJS merupakan solusi bagi mereka yang
kesulitan untuk mendapatkan kesembuhan. Saat ini pelayanan BPJS di kota-kota
besar memang sudah memiliki peningkatan, namun di daerah-daerah kecil BPJS
masih harus melakukan penyempurnaan pelayanan sehingga pelayanan BPJS
dapat berjalan sesuai dengan visi mereka yaitu mewujudkan BPJS Kesehatan yang
menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi 121,6 juta
jiwa penduduk Indonesia di wilayah Indonesia mulai 1 Januari 2014, dan secara
bertahap mampu mencakup seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar
257 juta jiwa. Sehingga akan menjadi etis apabila kenaika iuran BPJS diiringi
dengan peningkatan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan
serta pemerataan pelayanan BPJS Kesehatan.

II.11.2 Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Ditinjau dari Kode Etik Profesi
Selain itu jika dilihat dari kacamata kode etik profesi kesehatan, BPJS
Kesehatan juga merupakan perwujudan dari sumpah dokter dan perawat serta
tenaga medis lain yang ingin turut menyelamatkan nyawa manusia dan
menghargai martabat manusia. BPJS Kesehatan dapat memberikan manfaat bagi
masyakarat yang mendapatkan pengobatan dan juga pengetahuan serta
pengalaman bagi para tenaga medis dalam karir medisnya. Setiap tenaga medis
hendaknya berpegang teguh pada janji yang sudah diucapkannya dan juga pada
kode etik profesinya sehingga dapat menjadi seorang tenaga medis yang etis dan
tidak merugikan orang lain. Walaupun pada awalnya banyak dokter yang menolak
menerima pasien yang menggunakan kartu BPJS Kesehatan karena takut
pendapatannya menurun, namun seiring dengan berjalannya waktu rumah sakit,
klinik dan para tenaga medis makin bisa menerima para pasien dengan baik
karena mereka terpanggil oleh profesi mereka untuk menyelamatkan manusia
siapapun itu. Menurut kami, selain mengingat kode etik profesi mereka, mereka
juga dipanggil oleh suara hati mereka untuk menyelematkan dan membantu

II-23
orang-orang yang membutuhkan uluran tangan mereka. Tindakan untuk menaikan
iuran BPJS Kesehatan menurut kami akan etis bila ada peningkatan pelayanan
yang sesuai dengan kode etik tenaga medis serta kode etik pelayanan masyarakat
yang diberikan oleh rumah sakit, klinik dan para tim medis.

II.11.3 Etika Teleologis


Dari pandangan Telelogis, yaitu suatu pandangan etika yang berpendapat
bahwa norma-norma moral terutama ditentukan oleh tindakan dari tujuan tersebut.
Etika teleologis sendiri terbagi atas tiga aliran yaitu hedonisme, utilitarianisme,
dan eudaimonisme. Namun, tim penulis hanya menggunakan pandangan
Eudaimonisme dan Utilitarisme sebagai acuan kerangka berpikir dalam makalah
ini.
1. Eudaimonisme
Menurut tim penulis dari pandangan Eudaimonisme, yaitu suatu
pandangan etika yang berpendapat bahwa tujuan akhir manusia adalah
kebahagiaan yang bisa dicapai melalui pengembangan potensi-potensi diri
(menurut Aristoteles) atau bisa juga dengan hidup menurut kodrat Tuhan (menurut
Thomas Aquinas). Dalam masalah BPJS Kesehatan ini, kami melihat praktik
BPJS Kesehatan sangat cocok dengan teori ini.
Melalui praktik BPJS Kesehatan, setiap tenaga medis berperan aktif
dalam pengembangan potensi-potensi dirinya dan juga secara tidak langsung
hidup menurut kehendak Tuhan. Melalui praktik yang diberikan dalam pelayanan
kesehatan masyarakat, tenaga medis serta para pelayan kesehatan secara tidak
langsung sedang mengaktualisasikan potensinya sehingga semakin berkembang.
Selain itu juga menjadi uluran tangan Tuhan untuk menolong dan menyelematkan
sesama yang membutuhkan bantuan. Sehingga kenaikan iuran BPJS Kesehatan
akan menjadi etis jika para pelayan kesehatan senantiasa mengaktualisasikan
potensi dirinya dan membantu sesama sesuai dengan kehendak Tuhan dengan
memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat, sehingga masyarakat

II-24
tidak merasa keberatan dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan tersebut karena
pelayanan yang didapatkan memuaskan.

2. Utilitarisme
Dari sudut pandang utilitarisme tim penulis melihat masalah pelayanan
BPJS Kesehatan merupakan suatu tindakan yang akan memberikan manfaat
terbesar bagi masyarakat. Pandangan utilitarisme menilai baik buruknya suatu
tindakan berdasarkan pada manfaat atau gunanya, maka suatu tindakan akan
dikatakan benar apabila tindakan tersebut bermanfaat.
Kenaikan iuran BPJS Kesehatan jika dibarengi dengan peningkatan
fasilitas kesehatan akan sangat berguna dan memberikan manfaat yang besar bagi
warga Indonesia yang menggunakan BPJS. Kami mendukung kenaikan iuran
BPJS Kesehatan yang dibarengi dengan peningkatan fasilitas kesehatan dan
peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sehingga akan memberikan
manfaat terbesar dalam bidang medis bagi masyarakat. Tindakan menaikkan
iuran BPJS Kesehatan akan menjadi etis apabila juga dibarengi dengan
peningkatan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, alat-alat medis dan obat-
obatan serta peningkatan pelayanan kesehatan seperti peningkatan jumlah dokter
dan tenaga medis yang melayani pasien pengguna BPJS. Dengan menaikkan iuran
BPJS Kesehatan dan juga menaikan fasilitas yang diberikan maka tindakan ini
akan membawa manfaat dan pengaruh yang lebih besar untuk masyarakat, maka
tindakan ini akan menjadi etis hanya apabila juga dibarengi dengan peningkatan
fasilitas kesehatan dan pelayanan kesehatan. 16

II.11.4 Etika Deontologis


Etika Deontologis adalah pandangan etika yang menilai baik buruknya
suatu tindakan berdasarkan pada kewajiban untuk melaksanakan tindakan tersebut
berdasarkan hukum atau peraturan yang ada. Teori etika deontologis didukung

16 Tim Dosen Etika UNPAR, Merumuskan Sebuah Definisi Etika, dalam Etika Dasar dan Terapan,
(Bandung: Pusat Kajian Humaniora UNPAR, 2005),37.

II-25
oleh Imanuel Kant dan menegaskan bahwa kewajiban moral harus selalu
dilaksanakan apapun akibatnya.
Menurut pandangan deontologis kelompok kami melihat bahwa
kebijakan untuk menaikan iuran BPJS Kesehatan dengan dibarengi peningkatan
pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan yang ada sebagai suatu hal yang
harus dilakukan. Dengan menaikkan iuran BPJS Kesehatan maka akan sangat
mungkin terjadi peningkatan pelayanan kesehatan dan juga peningkatan fasilitas
kesehatan yang nantinya juga akan dinikmati oleh para pasien pengguna BPJS
Kesehatan. Jika dilihat dari sisi ekonomi, kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini
memang akan memberatkan masyarakat tetapi masyarakat juga harus melihat hal
ini dari sudut pandang lain dimana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang
lebih baik diperlukan biaya yang lebih besar. Walaupun demikian biaya yang
dikeluarkan akan menjadi berarti jika pemerintah menggunakan dana BPJS
Kesehatan dengan benar dan mengalokasikannya untuk peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan yang ada. Pemerintah sebagai
lembaga yang dipercaya masyarakat tidak boleh mencurangi masyarakat dan
wajib menjunjung tinggi moral untuk melayani masyarakat. Selain itu para
petugas medis dan para pelayan kesehatan juga wajib memperlakukan semua
pasien dengan pelayanan terbaik. Masyarakat juga wajib membayar iuran sebagai
balas jasa atas pelayanan kesehatan yang sudah didapatkan. Apabila semua orang
melaksanakan apa yang semestinya dilakukan maka BPJS Kesehatan dapat
dijalankan dengan baik sehingga memberikan hasil yang memuaskan bagi setiap
pihak. Oleh karena itu, pemerintah wajib meningkatkan pelayanan kesehatan dan
fasilitas kesehatan serta peremataan BPJS Kesehatan diseluruh Indonesia jika
ingin menaikkan iuran BPJS Kesehatan. 17

II.11.5 Prinsip Dasar Moral dan Keutamaan Moral


Selain menggunakan prinsip-prinsip dasar etika, BPJS Kesehatan juga
menerapkan prinsip dasar moral, keutamaan moral, dan bonum commune dalam

17 Ibid.

II-26
melaksanakan tugasnya sebagai lembaga kesehatan nasional. Berikut merupakan
ketiga prinsip tersebut,
1. Prinsip sikap baik
Prinsip sikap baik akan mendorong manusia untuk mengusahakan
kebaikan, kesejahteraan, dan keselamatan sesamanya bahkan pada orang yang
tidak dikenal sebelumnya. Prinsip sikap baik membuat orang memiliki pikiran
positif terhadap orang lain, memiliki kemauan baik terhadapnya.
Ditinjau dari sikap baik, masalah kenaikan iuran BPJS Kesehatan ini
akan menjadi baik apabila dana yang diberikan benar-benar digunakan untuk
melakukan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan, meningkatkan fasilitas
kesehatan, melakukan pemerataan pelayanan kesehatan dan juga meningkatkan
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan. Jika pemerintah
berpegang teguh pada prinsip moral ini maka Pemerintah benar-benar akan
menyalurkan dana yang diberikan untuk meningkatkan fasilitas kesehatan dan
pelayanan kesehatan untuk masyarakat sehingga masyarakat yang sudah percaya
dan menerima kenaikan iuran BPJS Kesehatan tidak akan kecewa dengan
kenaikan iuran tersebut. Oleh karena itu ditinjau dari prinsip sikap baik, jika
semua pihak memiliki pikiran positif mengenai kenaikan iuran BPJS Kesehatan
ini akan memperbaiki pelayanan BPJS Kesehatan yang kurang memuasakan saat
ini dan pemerintah juga membuktikannya dengan meningkatkan pelayanan BPJS
Kesehatan maka perbuatan ini tidak akan menjadi masalah yang tidak etis.

2. Prinsip keadilan
Prinsip keadilan adalah kehendak kuat dan tetap memberikan apa yang
menjadi hak setiap orang (tribuere suum cuique). Dalam prinsip keadilan semua
orang harus diperlakukan sama.
Masalah kenaikan iuran BPJS Kesehatan akan dinilai adil dan etis
apabila dibarengi dengan peningkatan fasilitas kesehatan dan peningkatan kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan. Masyarakat akan melakukan kewajibannya
untuk membayar iuran yang lebih tinggi, sebalikanya pemerintah dan para
pelayan kesehatan BPJS Kesehatan harus memberikan apa yang menjadi hak

II-27
masyarakat yaitu fasilitas kesehatan yang baik kualitasnya dan juga pelayanan
kesehatan yang juga baik dan memuaskan masyarakat. Dengan kenaikan iuran
BPJS Kesehatan, masyarakat berhak mendapatkan fasilitas kesehatan yang lebih
lengkap, mudah diakses dan juga berkualitas serta mendapatkan perlakuan dan
pelayanan kesehatan yang memuaskan dari para pelayan kesehatan dan tim medis.
Oleh karena itu, kenaikan iuran BPJS Kesehatan boleh saja dilakukan dengan
catatan bahwa harus ada peningkatan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan
yang sebanding dengan kenaikan iuran tersebut sehingga masyarakat tidak
dirugikan dan mendapatkan apa yang menjadi haknya.

3. Prinsip bonum commune


Prinsip bonum commune menekankan pada kemauan dan kemampuan
untuk bersikap altruis yaitu membuka diri terhadap kebutuhan dan situasi orang
lain. Jadi manusia tidak hanya bertindak untuk kepentingan diri sendiri tetapi
mau berkorban demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.
Jika dikaitkan dengan prinsip bonum commune, maka kenaikan iuran
BPJS Kesehatan akan menjadi etis jika tindakan tersebut membawa masyarakat
kea rah yang lebih sejahtera. Maksudnya dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan
tersebut akan memberikan manfaat bagi masyarakat luas sehingga akan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.18

18 ibid

II-28