Anda di halaman 1dari 19

BERITA ACARA LAPORAN KASUS

Hari, Tanggal : Jumat, 31 Maret 2017


Presenter : dr. Wahyu Triadmajani
Judul Lapsus : Tuberkulosis Paru

No. Nama TTD


1. 1.
2. 2.
3. 3.
4. 4.
5. 5.
6. 6.
7. 7.
8. 8.
9. 9.
10. 10.
11. 11.
12. 12.
13. 13.

Pembimbing

dr. Rachmad Juni T.

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
a. Nama : Sdr. G
b. No. RM : 362450
c. Usia : 22 th
d. Jenis Kelamin : Laki-laki
e. Alamat : Semen, Kediri

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


f. Pekerjaan : Cleaning Service Graha Wijaya Kusuma
g. Agama : Islam
h. Suku : Jawa

II. Anamnesis
a. Keluhan Utama :
Batuk darah
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan batuk darah sejak 2 hari yang lalu. Batuk darah sangat
sering. Darah yang keluar kurang lebih gelas per hari. Pasien juga
mengeluhkan sesak 3 hari terakhir. Batuk darah kadang disertai nyeri dada.
Demam (+) 1 hari, sumer-sumer. Badan lemas. Berat badan menurun 2 kg dalam
2 bulan terakhir. Nafsu makan menurun. Keringat dingin pada malam hari (+)
namun hanya kadang-kadang. Pasien tidak mengeluhkan batuk-batuk lama
sebelumnya.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami batuk darah 2 bulan yang lalu, selama 2 hari namun
kemudian menghilang.
d. Riwayat Keluarga
Tidak ada yang mengalami keluhan serupa atau batuk lama saat ini di rumah.
Ayah meninggal karena penyakit TB sekitar 5 tahun yang lalu.
e. Riwayat Sosial
Pasien bekerja sebagai cleaning service di Graha Wijaya Kusuma RSUD
Gambiran. Tidak merokok.
f. Riwayat Pengobatan
Pasien periksa ke Puskesmas Semen 1 hari sebelumnya kemudian langsung
dirujuk ke RSUD Gambiran
III. Pemeriksaan Fisik
Kondisi Umum : Cukup
GCS : 456
Berat badan : 50 kg
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Frekuensi Nadi : 86x/m
Frekuensi Pernafasan: 24x/m
Status Generalis :
Kepala/Leher : konjungtiva anemis +/+ slightly
Pembesaran KGB (-)
Thorax : C/ Ictus invisible palpable at ICS V MCL Sinistra
RHM ~ SL D LHM ~ ictus
S1, S2 single, murmur (-) gallop (-)
P/ Inspeksi : Statis dan Dinamis dalam batas normal
Palpasi : Stem fremitus D=S
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler +/+, ditemukan rhonki
pada kedua apeks paru, tidak ada wheezing

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Abdomen : Flat, soefl, Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat, kering, merah, CRT<2 dtk

IV. Pemeriksaan Penunjang


Foto Thorax PA
Interpretasi :
PA simetris, KV cukup, inspirasi cukup
Jaringan lunak normal, Sistem tulang normal, Trakea di tengah
Hillus D/S normal
Cor : normal, CTR < 50%,
Hemidiafragma D/S dome shape
Pulmo : fibroinfiltrat pada apeks kiri
Kesimpulan : KP minimal lesion

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


VI. Diagnosis
TB Paru Lesi Minimal
VII. Planning
Planning Diagnosis : Pro Evaluasi BTA S-P-S
Planning Terapi : OAT Kategori 1
2 RHZE / 4 (HR)3 dengan BB 50 kg
Fase Intensif Fase Lanjutan 3x/minggu

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Rifampicin 1x450 mg Rifampicin 1x500
Isoniazid 1x300mg Isoniazid 1x500
Pirazinamid 1x1250
Ethambutol 1x750

OAT Kombinasi Dosis Tetap


Fase Intensif (56 hari) Fase Lanjutan (16 minggu)
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)
3 tablet 3 tablet

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


TINJAUAN PUSTAKA

Epidemiologi dan Permasalahan Tuberkulosis Dunia


Dalam laporan WHO pada tahun 2013, diperkirakan terdapat 8,6 juta
kasus TB pada tahun 2012 dimana 1,1 juta orang (13%) di antaranya adalah
pasien TB dengan HIV positif. Di tahun yang sama, diperkirakan terdapat
450.000 orang yang menderita TB-MDR dan 170.000 orang diantaranya
meninggal dunia.
Di Indonesia sendiri telah mencapai kemajuan yang bermakna dalam
upaya pengendalian TB. Tantangan terbesar saat ini yang harus dihadapi adalah
masih banyaknya kasus TB yang hilang atau tidak terlaporkan ke program.
Pada tahun 2-12 diperkirakan ada sekitar 130.000 kasus TB yang diperkirakan
ada tapi belum terlaporkan.

Karakteristik M. tuberculosis
M.tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang langsing berukuran
0,4x3m yang tahan asam dan bersifat aerobik. Disebut basil tahan asam karena
sulit didekolorisasi dengan alkohol maupun asam. Oleh karena sulit
didekolorisasi dengan alkohol. (95% etil alkohol yang mengandung 3% asam
hidroklorat), mikrobakterium tidak dapat diklasifikasikan gram negatif maupun
positif . Teknik pewarnaan yang digunakan adalah Ziehl Nieelsen(Kemenkes,
2011).
Mikrobakteri memperoleh energi dari oksidasi senyawa karbon sederhana
dimana peningkatan PCO2 memacu pertumbuhan. Pembelahan biner basil TB
adalah 18 jam dan cenderung lebih lambat dibandingkan dengan bakteri lainnya
( 60x lebih lambat dibanding Staphylococcus) hal ini dapat menerangkan
mengapa bakteri tuberculosis bermanifestasi pada gejala klinis kronik.
Dinding sel M.tuberkulosis sebagian besar tersusun oleh :
1. Lipid
Mikrobakteri kaya akan lipid, khususnya asam mikolat (asam lemak rantai
panjang C78-C90), wax, dan fosfatidat. Di dalam sel sebagian besar lipid
berikatan dengan protein dan polisakarida. Kompleks peptide dengan asam
mikolat membentuk granuloma, sedangkan fosfolipid merangsang pembentukan
nekrosis pengkejuan . Disamping itu lipid juga membentuk sifat tahan asam pada
mikobakteri.
2. Protein

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Tiap mikobakteri memiliki protein yang terikat dengan wax dan menginduksi
reaksi tuberkulin. Dengan kata lain, protein tersebut dapat menyebabkan
pembentukan berbagai antibodi.
3. Polisakarida
Peran polisakarida dalam menimbulkan penyakit TB masih belum pasti.
Polisakarida bisa menginduksi hipersensitivitas tipe cepat dan berperan sebagai
antigen ketika bereaksi dengan serum pasien.

Patogenesis Tuberkulosis
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif pada waktu
batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman tuberkulosis
masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut
dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran
darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak,
makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak
terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang
terinfeksi tuberculosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut.
Secara klinis, tuberkulosis dapat terjadi melalui infeksi primer dan pasca
primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman tuberkulosis untuk
pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam
alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman
tuberkulosis yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu
terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6
minggu. Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk
dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB
dengan cara menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa
kuman yang menetap sebagai persister atau dormant, sehingga daya tahan
tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya yang
bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis dalam beberapa bulan. Pada
infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan berlangsung tanpa

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem
imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat
sangat menular.
Infeksi pasca primer terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah
infeksi primer. Ciri khas tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang
luas dengan terjadinya efusi pleura.

Klasifikasi Pasien Tuberkulosis


Klasifikasi berdasarkan hasil konfirmasi pemeriksaan bakteriologis
Dikelompokan berdasar hasil pemeriksaan contoh uji biologinya dengan
pemeriksaan mikroskopis langsung, biakan atau tes diagnostic cepat yang
direkomendasikan oleh Kemenkes RI (GenExpert misalnya).
Termasuk dalam kelompok pasien ini adalah :
a. Pasien TB paru BTA positif
b. Pasien TB paru hasil biakan M.tb positif
c. Pasien TB paru hasil tes cepat M.tb positif
d. TB ekstraparu terkonfirmasi secara bakteriologis (baik BTA, biakan,
maupun tes cepat)
e. TB anak terdiagnosis dengan pemeriksaan bakteriologis
Klasifikasi Pasien TB terdiagnosis klinis
Pasien yang tidak memenuhi kriteria terdiagnosis secara bakteriologis
tetapi terdiagnosis sebagai pasien TB aktif oleh dokter dan diputuskan untuk
diberikan pengobatan TB.
Termasuk dalam kelompok pasien ini adalah
a. Pasien TB Paru BTA negative dengan hasil pemeriksaan foto thorax
mendukung TB
b. Pasien TB ekstraparu yang terdiagnosis secara klinis maupun
laboratories dan histopatoogis tanpa konfirmasi bakteriologis
c. TB anak yang terdiagnosis dengan sistem skoring
Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat
pengobatan sebelumnya.
Ada beberapa tipe pasien yaitu:
1. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2. Kasus kambuh (relaps)

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapi kambuh
lagi.
3. Kasus setelah putus berobat (default )
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
4. Kasus setelah gagal (failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Kasus lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, dalam
kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

Diagnosis TB Paru
Kelompok Resiko Tinggi TB
Kelompok beresiko tinggi seperti pada pasien HIV, diabetes mellitus, dan
malnutrisi.
Kelompok yang berada di lingkungan resiko tinggi penularan TB seperti :
Lapas/Rutan, penampungan pengungsi, daerah kumuh, tempat kerja,
asrama, dan panti jompo
Anak di bawah umur 5 tahun yang kontak dengan pasien TB
Kontak erat dengan pasien TB dan TB resisten obat
Gejala Klinis Tuberkulosis
Gejala utama : batuk berdahak 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti
dengan dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas,
nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat pada
malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari 1 bulan
Gejala di atas dapat dijumpai juga pada penyakit paru selain TB seperti
bronkiektasi, bronchitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.
Mengingat prevalensi TB di Indonesia masih tinggi, setiap orang dengan
gejala tersebut diduga sebagai pasien TB dan perlu dilakukan
pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan Dahak
a. Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Yaitu dilakukan dengan menampung dahak pada pasien terduga TB yang
dikumpulkan dalam 2 hari berturut-turut kunjungan ke fasyankes.
Sewaktu : Saat pertama kali ke fasyankes
Pagi : ditampung saat bangun tidur di rumah, pasien sebelumnya
membawa tempat dahak dari fasyankes
Sewaktu : ditampung saat hari kedua menyerahkan dahak pagi
b. Pemeriksaan biakan
Pemeriksaan biakan untuk identifikasi M. tuberculosis dimaksudkan untuk
menegakkan diagnosis pasti pada pasien tertentu seperti :
Pasien TB ekstra paru
Pasien TB anak
Pasien TB dengan pemeriksaan BTA negative
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi untuk membantu diagnosis tuberculosis adalah
foto toraks. Temuan pada foto toraks adalah sebagai berikut :
a. TB aktif
- Infiltrat atau fibroinfiltrat pada segmen apeks dan segmen posterior
lobus superior dan segmen superior pada lobus posterior
- Kavitas pada lobus atas
- Miliar
- Efusi pleura
b. TB inaktif
- Fibrosis
- Kalsifikasi
- Penebalan pleura
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat
dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA dahak negatif) :
Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru
dengan luas tidak lebih dari volume paru yang terletak di atas
chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari
vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5 (sela iga 2) dan tidak
dijumpai kaviti
Lesi luas
Bila proses lebih luas dari lesi minimal.

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Diagnosis TB Paru pada Dewasa
Dalam upaya pengendalian TB Nasional, TB Paru dewasa harus
ditegakkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan bakteriologis.
Apabila pemeriksaan bakteriologis negative, maka penegakan diagnosis
TB dapat dilakukan secara klinis menggunakan pemeriksaan klinis dan
penunjang (minimal foto toraks) yang sesuai ditetapkan oleh dokter yang
telah terlatih TB
Pemberian antibiotic spectrum luas (non OAT dan non kuinolon) tidak
mendapatkan perbaikan
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan foto toraks saja,
karena foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang spesifik TB
sehinggga dapat menyebabkan overdiagnosis atau underdiagnosis.
Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya menggunakan uji tubekulin

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Upaya Pengendalian TB
Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, pada awal tahun 1990-an WHO
dan IUALTD mengembangkan strategi pengendalian TB yang dikenal sebagi
strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course). Strategi DOTS terdiri
dari 5 komponen kunci, yaitu :
1. Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan
2. Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin
mutunya

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


3. Pengobatan yang standar, dengan supervise dan dukungan bagi pasien
4. Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif
5. Sistem monitoring, pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan
penilaian terhadal hasil pengobatan pasien dan kinerja program

Pengobatan TB
Tujuan, dan Prinsip Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
Pengelompokan OAT

Jenis, Sifat, dan Dosis OAT Lini pertama

Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:


- OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi
Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


- Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).
- Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
Tahap awal (intensif)
- Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
- Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
pasien menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
- Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
Tahap Lanjutan
- Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama
- Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan
Paduan OAT yang digunakan di Indonesia
Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian Tuberkulosis
di Indonesia:
o Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
o Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR
- Obat yang digunakan dalam tatalaksana pasien TB resistan obat di
Indonesia terdiri dari OAT lini ke-2 yaitu Kanamycin, Capreomisin,
Levofloksasin, Ethionamide, sikloserin dan PAS, serta OAT lini-1, yaitu
pirazinamid and etambutol.
Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket
berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari
kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan
berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.
Paket Kombipak
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin,
Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini
disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami
efek samping OAT KDT.

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket,
dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan
(kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien
dalam satu (1) masa pengobatan.
KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1) Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin
efektifitas obat dan mengurangi efek samping.
2) Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko
terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan
resep
3) Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat
menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien

Paduan OAT lini pertama dan peruntukannya


a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien baru TB paru BTA positif.
Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
Pasien TB ekstra paru
Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1 (Kemenkes, 2011)

Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
Pasien kambuh

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Pasien gagal
Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2

Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2

Catatan:
- Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk
streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
- Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
- Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan
aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).
Penggunaan OAT lini kedua misalnya golongan aminoglikosida
(misalnyakanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada
pasienbaru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih
rendah daripada OAT lini pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkan
terjadinya risiko resistensi pada OAT lini kedua.

Komplikasi TB Paru
Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi beberapa komplikasi,baik sebelum
atau dalam massa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.Beberapa
komplikasi yang mungkin timbul adalah:

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


1. Pneumothoraks
2. Luluh paru
3. Gagal nafas
4. Gagal jantung
5. Efusi pleura

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


PEMBAHASAN
Pada pasien ini dari identitas pasien kita melihat bahwa pasien adalah
seorang laki-laki berusia 22 tahun yang bekerja sebagai cleaning service Graha
Wijaya Kusuma RSUD Gambiran. Dalam hal ini lingkungan pekerjaan pasien
menjadi salah satu faktor resiko tinggi penularan TB.
Dari anamnesis, pasien mengeluhkan batuk darah. Batuk darah
merupakan salah satu gejala utama yang khas pada TB paru. Meskipun
sebelumnya pasien tidak mengeluh batuk lama (lebih dari 2 minggu), namun
pasien juga mengeluhkan keluhan yang sama 2 bulan yang lalu. Hal ini
kemungkinan 2 bulan yang lalu infeksi TB dari pasien telah aktif.
Keluhan pasien lainnya adalah sesak nafas sejak 3 hari terakhir. Batuk
darah kadang disertai nyeri dada. Demam (+) 1 hari, sumer-sumer. Badan lemas.
Berat badan menurun 2 kg dalam 2 bulan terakhir. Nafsu makan menurun.
Keringat dingin pada malam hari (+). Gejala di atas merupakan gejala yang
mendukung kea rah klinis TB. Meskipun demam pasien yang rasakan hanya 1
hari, dimana pada teori demam biasanya terjadi kurang lebih 1 bulan. Namun
gejala lain seperti penurunan berat badan, nafsu makan, dan keringat dingin
pada malam hari tanpa aktivitas fisik mendukung ke arah klinis dari TB paru.
Riwayat keluarga Ayah yang meninggal karena TB paru 5 tahun yang lalu
dapat menjadi kemungkinan kedua pasien mendapat penularan TB. Pasien yang
terinfeksi TB 5 tahun yang lalu belum menunjukkan gejala klinis karena kuman
TB mungkin dalam kondisi dormant dan muncul saat ini.
Dari pemeriksaan fisik, pada TB paru biasanya tidak terlalu spesifik.
namun bisa dijumpai Underweight konjungtiva anemis (dt penyakit kronis),
tampak sesak , pembesaran KGB, rhonkhi pada auskultasi paru, atau penurunan
suara nafas vesikuler (efusi pleura). Pada pasien ditemukan konjungtiva anemis
dan suara rhonkhi pada kedua apeks paru.
Pada pemeriksaan penunjang yang dilakukan pasien ini adalah
pemeriksaan foto toraks. Dari foto toraks pasien sangat mendukung ke arah TB
paru, yaitu ditemukannya fibroinfiltrat pada apeks paru kiri. Hal ini sesuai dengan
teori dimana pada foto toraks TB paru aktif adalah ditemukannya infiltrat atau
fibroinfiltrat pada segmen apeks dan segmen posterior lobus superior dan
segmen superior pada lobus posterior, kavitas pada lobus atas, miliar, efusi
pleura

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani


Pada pasien ini belum dilakukan pemeriksan mikroskopis dahak karena
rujukan dari puskesmas adalah untuk foto toraks.. Oleh karena itu, karena pasien
ini telah didiagnosis klinis sebagai TB paru, maka pasien direncanakan untuk
pemeriksaan dahak mikroskopis (SPS) untuk membantu penegakan diagnosis.
Karena pasien merupakan pasien TB paru baru, maka pengobatan
pasien termasuk OAT Kategori 1 dengan regimen 2 HRZE/ 4(HR)3. Pasien akan
dikembalikan ke Puskesmas Semen untuk melakukan pengobatan TB disana.

Laporan Kasus PIDI oleh dr. Wahyu Triadmajani