Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kista sebasea (kista ateroma) adalah kista yang kecil, berbentuk kubah
yang berkembang di kulit. Kista sebasea disebabkan akibat obstruksi/sumbatan
pada duktus gland sebasea sehingga terjadi penimbunan sekret sebum yang diikuti
deskuamasi sel-sel dan detritus yang mengandung kristal-kristal kolesterol. Kista
ini diisi dengan substansi yang tebal, berminyak seperti keju (disebut substansi
sebaseus) yang secara lambat mengisi kista dengan waktu hitungan tahun.1

Kista sebasea umumnya tidak menimbulkan gejala seperti nyeri. Dari segi
ukuran, diameter kista sebasea bervariasi dari 1-4 cm. Warna benjolan pun sama
dengan warna kulit. Sehingga mayoritas penderita lebih memilih untuk
membiarkan benjolan tersebut. Umumnya penderita baru datang ke dokter apabila
benjolan sudah terinfeksi dan menimbulkan gejala seperti nyeri, benjolan
membesar dan kemerahan.1

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Payudara

2.1.1. Anatomi Payudara

Anatomi Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan yaitu
jaringan kelenjar dan jaringan stromal. Jaringan kelenjar meliputi lobus dan
duktus. Sedangkan jaringan stromal meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat.
Payudara terdapat dalam fasia superfisialis dinding torak ventral yang
berkembang menonjol tegak dari subklavikula sampai dengan costae atau
intercostae kelima sampai keenam.2

Gambar 2.1. Anatomi mammae anterior.2

Perdarahan jaringan payudara berasal dari arteri perforantes anterior yang


merupakan cabang dari arteri mammaria interna, arteri torakalis lateralis, dan
arteri interkostalis posterior. Sedangkan, sistem limfatik payudara terdiri dari
pleksus subareola dan pleksus profunda. Pleksus subareola mencakup bagian
tengah payudara, kulit, areola dan puting yang akan mengalir kearah kelenjar
getah bening pektoralis anterior dan sebagian besar ke kelenjar getah bening
aksila. Pleksus profunda mencakup daerah muskulus pektoralis menuju kelenjar

2
getah bening rotter, kemudian ke kelenjar getah bening subklavikula atau route of
Grouzsman, dan 25% sisanya menuju kelenjar getah bening mammaria interna.3

Gambar 2.2. Sistem limfatik mammae

Persarafan sensorik payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan


cabang saraf interkostalis kedua sampai keenam sehingga dapat menyebabkan
penyebaran rasa nyeri terutama pada punggung, skapula, lengan bagian tengah,
dan leher .2

2.1.2. Histologi Payudara

Payudara terdiri dari 15 sampai 25 lobus kelenjar tubuloalveolar yang


dipisahkan oleh jaringan ikat padat interlobaris. Setiap lobus akan bermuara ke
papila mammae melalui duktus laktiferus. Dalam lobus payudara terdapat
lobuluslobulus yang terdiri dari duktus intralobularis yang dilapisi oleh epitel
kuboid atau kolumnar rendah dan pada bagian dasar terdapat mioepitel kontraktil.
Pada duktus intralobularis mengandung banyak pembuluh darah, venula, dan
arteriol.4 Adapun gambaran histologi payudara dan predileksi lesi payudara tersaji
pada gambar berikut.

3
Gambar 2.3. Histologi Mammae4

Gambar 2.4. Predileksi lesi payudara2

2.1.3. Fisiologi Payudara

Secara fisiologi, unit fungsional terkecil jaringan payudara adalah asinus.


Sel epitel asinus memproduksi air susu dengan komposisi dari unsur protein yang
disekresi apparatus golgi bersama faktor imun IgA dan IgG, unsur lipid dalam
bentuk droplet yang diliputi sitoplasma sel. Dalam perkembangannya, kelenjar
payudara dipengaruhi oleh hormon dari berbagai kelenjar endokrin seperti
hipofisis anterior, adrenal, dan ovarium. Kelenjar hipofisis anterior memiliki
pengaruh terhadap hormonal siklik follicle stimulating hormone (FSH) dan
luteinizing hormone (LH). Sedangkan ovarium menghasilkan estrogen dan
progesteron yang merupakan hormon siklus haid. Pengaruh hormon siklus haid
yang paling sering menimbulkan dampak yang nyata adalah payudara terasa

4
tegang, membesar atau kadang disertai rasa nyeri. Sedangkan pada masa
pramenopause dan perimenopause sistem keseimbangan hormonal siklus haid
terganggu sehingga berisiko terhadap perkembangan dan involusi siklik fisiologis,
seperti jaringan parenkim atrofi diganti jaringan stroma payudara, dapat timbul
fenomena kista kecil dalam susunan lobular atau cystic change yang merupakan
proses aging.5

2.2. Kulit

2.2.1. Fisiologi Kulit

Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis


tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi,
ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan
vitamin D.6 Kulit juga sebagai barier infeksi dan memungkinkan bertahan dalam
berbagai kondisi lingkungan.6

Gambar 2.5. Struktur kulit6

a. Fungsi proteksi6

Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai berikut:

1) Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia.

5
2) Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan
dehidrasi, selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh
melalui kulit.

3) Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari
kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di
permukaan kulit.

4) Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada
stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di
sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari,
sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan
pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan.

5) Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang
pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap
mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang
masuk melewati keratin dan sel Langerhans (Martini, 2006).

b. Fungsi absorpsi6

Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti
vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida
(Djuanda, 2007). Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air
memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu
beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl4, dan merkuri (Harien,
2010). Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga
mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat peradangan
(Martini, 2006). Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit,
hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat
berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar, tetapi
lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar
(Tortora dkk., 2006).

6
c. Fungsi ekskresi6

Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar


eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:

1) Kelenjar sebasea

Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut


dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen (Harien, 2010).
Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar
sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit.
Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan
elektrolit. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan
memproteksi keratin (Tortora dkk., 2006).

2) Kelenjar keringat

Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat
keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari (Djuanda, 2007).
Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat
tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain
mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk
mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil
pemecahan protein yaitu amoniak dan urea (Martini, 2006).

d. Fungsi persepsi6

Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis (Djuanda,


2007). Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di
dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang
terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan
terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis.
Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Saraf-
saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik (Tortora
dkk., 2006).

7
e. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) 6

Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua


cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler
(Djuanda, 2007). Pada saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam
jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas
akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan
mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah
(vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh (Harien,
2010).

f. Fungsi pembentukan vitamin D6

Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi


kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet (Djuanda, 2007). Enzim di hati dan
ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan kalsitriol, bentuk vitamin D
yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium
makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah (Tortora dkk.,
2006).

2.2.2. Histologi Kulit

Kulit manusia tersusun atas dua lapisan, yaitu epidermis dan dermis.7
Epidermis merupakan lapisan teratas pada kulit manusia dan memiliki tebal yang
berbeda-beda: 400600 m untuk kulit tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki)
dan 75150 m untuk kulit tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki
rambut). Selain sel-sel epitel, epidermis juga tersusun atas lapisan:

a. Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses melanogenesis


(Junqueira dan Carneiro, 2007).

b. Sel Langerhans, yaitu sel yang merupakan makrofag turunan sumsum tulang
yang merangsang sel Limfosit T. Sel Langerhans juga mengikat, mengolah, dan
merepresentasikan antigen kepada sel Limfosit T (Djuanda, 2007). Dengan
demikian, sel Langerhans berperan penting dalam imunologi kulit.7

8
c. Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris dan
berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.

d. Keratinosit, yang secara bersusun dari lapisan paling luar hingga paling dalam
sebagai berikut:

1) Stratum Korneum, terdiri atas 1520 lapis sel gepeng, tanpa inti dengan
sitoplasma yang dipenuhi keratin.

2) Stratum Lucidum, terdiri atas lapisan tipis sel epidermis eosinofilik yang
sangat gepeng.

3) Stratum Granulosum, terdiri atas 35 lapis sel poligonal gepeng yang


sitoplasmanya berisikan granul keratohialin..

4) Stratum Spinosum, terdiri atas sel-sel kuboid. Sel-sel spinosum saling terikat
dengan filamen.

5) Stratum Basal/Germinativum, merupakan lapisan paling bawah pada


epidermis, terdiri atas selapis sel kuboid (Junqueira dan Carneiro, 2007).

Dermis, yaitu lapisan kulit di bawah epidermis. Dermis terdiri atas dua
lapisan dengan batas yang tidak nyata, yaitu stratum papilare dan stratum
reticular.

a. Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis, terdiri atas
jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel mast, makrofag, dan
leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi).

b. Stratum retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun atas
jaringan ikat padat tak teratur (terutama kolagen tipe I).7

Selain kedua stratum di atas, dermis juga mengandung beberapa turunan


epidermis, yaitu folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebacea. 6 Pada
bagian bawah dermis, terdapat suatu jaringan ikat longgar yang disebut jaringan

9
subkutan dan mengandung sel lemak yang bervariasi. Jaringan ini disebut juga
fasia superficial, atau panikulus adiposus.7

2.3. Kista Sebasea (Kista Ateroma)

2.3.1. Definisi

Kista sebasea (kista ateroma) adalah kista yang kecil, berbentuk kubah
yang berkembang di kulit. Kista sebasea disebabkan akibat obstruksi/sumbatan
pada duktus gland sebasea sehingga terjadi penimbunan sekret sebum yang diikuti
deskuamasi sel-sel dan detritus yang mengandung kristal-kristal kolesterol. Kista
ini diisi dengan substansi yang tebal, berminyak seperti keju (disebut substansi
sebaseus) yang secara lambat mengisi kista dengan waktu hitungan tahun.8
Disamping akibat obstruksi kelenjar sebasea, kista sebasea uga dihubungkan
dengan sisa patologis penyakit dan insersi materi epidermis ke lapisan dermis.
Kista sebasea jarang muncul sebelum usia dewasa. Kista sebasea tumbuh secara
lambat sehingga kemunculan kista ini lebih banyak ditemukan pada usia dewasa
dan lansia. Benjolan dapat nampak seperti benjolan biasa dibawah kulit dengan
warna pucat. Terkadang titik hitam dapat terlihat di pusat kista. Titik inilah yang
menghubungkan kista ke kulit bagian luar.9

Gambar 2.6. Kista sebasea, biasanya diangkat bersama dengan kantungnya.

10
Kista sebasea sangat sering muncul di area tubuh yang terdapat rambut,
paling sering di rambut. Kista sebasea juga sering muncul di wajah, leher, dada
dan juga skrotum.9

2.3.2. Etiologi

Kista sebasea terbentuk karena adanya sumbatan di muara duktus kelenjar


sebasea yang dapat disebabkan oleh infeksi, trauma/luka maupun jerawat.9

2.3.3. Gejala dan Tanda Klinis

Kista sebasea berbentuk kubah, bisa berwarna putih pucat atau sama
dengan warna kulit. Ukuran kista bervariasi, dengan diameter mulai 1-4 cm. Kista
dapat muncul sendiri atau dapat berkelompok. Kiste biasanya tidak nyeri, namun
bila terinfeksi dapat menjadi kemerahan dan terasa sakit.8,9

2.3.4. Patogenesis

Terjadi invaginasi komponen epidermis atau komponen epitel yang


berinfundibulum ke bagian dermis, kemudian berproliferasi untuk membentuk
kista yang mengandung substansi sebasea.10

2.3.5. Patologi

Dinding kista punya struktur yang sama dengan struktur normal epidermis
: basalis, suprabasalis, dan granula. Namun di dinding sel tersebut tidak terdapat
sel tanduk, melainkan berisi substansi seperti bubur yang berlapiskan keratinosa.
Bila dinding kista ruptur, substansi keratin akan dilepas ke dermis dan
mengakibatkan reaksi imun untuk melawan substansi tersebut, dan badan
granuloma yang berisi giant sel dapat terbentuk. Kista sebasea terbentuk di folikel
rambut, dimana terdapat celah keluar kecil di permukaan kulit. Apabila duktus
tersumbat, sekresi melalui celah tersebut dapat terhambat dan kista dapat
terbentuk. Kista dapat terjadi pada semua umur, namun biasanya terjadi pada
umur 40 tahun ke atas.10

11
2.3.6. Diagnosis Banding

a) Kista Sebasea (Kista Ateroma)


b) Lipoma
c) Limfangioma

2.3.7. Diagnosa

Secara klinis kista ateroma ditemukan di daerah yang mengandung


kelenjar sebasea seperti di kulit kepala, dada, punggung dan skrotum. Kista dapat
muncul dalam bentuk tunggal atau berkelompok. Karakteristik kista ateroma yaitu
bentuknya bulat, berbatas tegas, berdinding tipis, warna benjolan sama dengan
warna kulit, bebas dari dasar, tetapi melekat pada dermis di atasnya. Kista ini
biasanya tidak menimbulkan nyeri. Nyeri didapat apabila sudah terjadi infeksi,
sehingga benjolan dapat membesar dan kemerahan.8,9

2.3.8. Tatalaksana

Kista sebasea (kista ateroma) sebenarnya tergolong jinak, sehingga


biasanya tatalaksana berupa eksisi dilakukan apabila benjolan dirasakan
mengganggu (kosmetik maupun bila terjadi infeksi). Eksisi bisa dilakukan dalam
pengaruh anestesi lokal. Insisi kecil dibuat di kulit di atas kista, kantung beserta
isi dibuang sampai bersih, dan luka insisi dijahit. Apabila kista tersebut terinfeksi
dan menimbulkan gejala (nyeri, benjolan membesar dan kemerahan), infeksi
sebaiknya diobati terlebih dahulu dengan pemberian antibiotik, tunggu hingga
benjolan mengecil lalu dapat dilakukan eksisi.8,9

2.3.9. Komplikasi

1. Cemas karena faktor kosmetik.9


2. Infeksi.8
3. Berkembang menjadi keganasan (jarang).9
4. Rekurensi kista8,9

12
2.3.10. Prognosis

Quo ad vitam : bonam.


Quo ad functionam : bonam.

13
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Evi Erliyanti


Tanggal lahir : 10 Desember 1976
Jenis kelamin : Perempuan
No. RM : 04.12.24
Tanggal masuk : 24-7-2017
Tanggal keluar : 26-7-2017

3.2 Anamnesis

Keluhan utama : Benjolan di dada sebelah kiri

Keluhan Tambahan : Benjolan terasa sakit

Riwayat penyakit sekarang :

Pasien datang ke poli bedah RS. Palembang Bari dengan keluhan benjolan
berwarna kemerahan di dada sebelah kiri 2 cm di atas papilla mama.
Benjolan mulai timbul sekitar 2 bulan SMRS. Benjolan awalnya kecil
seperti biji jagung, warna sama dengan warna kulit, terasa lunak-kenyal,
mobile, terdapat titik hitam, namun benjolan tidak terasa sakit. Dua
minggu SMRS, benjolan mulai membesar dengan diameter sekitar 5 cm,
berwarna kemerahan, terasa sakit, namun tidak mengeluarkan nanah. Os
sempat datang ke puskesmas namun tidak ada perubahan. Lima hari
SMRS, os datang ke Poli Bedah Bari, dan diberikan obat tablet. Lima hari
setelah pemberian obat, benjolan kembali mengecil menjadi berukuran 1x2
cm. Os pernah mengalami penyakit yang sama di tahun 2012 yang lalu,
dan sudah dilakukan eksisi di tahun yang sama. Os merupakan seorang
pedagang makanan di SD. Saat siang hari terutama saat bekerja tubuh os

14
sering berkeringat. Os juga sering memegang dan memencet benjolan di
dada baik saat bekerja maupun saat di rumah. Untuk personal hygiene, os
mandi 2x sehari, di pagi hari dan sore hari setelah bekerja.

Riwayat penyakit :

DM (-) TB Paru (-) Hepatitis B-C (-)

Hipertensi (-) AMI (-) HIV/ AIDS (-)

Asma (-) CHF (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki penyakit yang sama
dengan penyakit yang diderita pasien

Riwayat Pengobatan :

Ketika benjolan mulai membesar, pasien sempat datang ke Puskesmas,


namun tidak ada perubahan. Pasien kemudian mendapat pengobatan dari
dokter spesialis dan benjolan pun mengecil. Pasien tidak memiliki riwayat
alergi obat.

3.3 Pemeriksaan Fisik

A. Status Generalis
1. Keadaan umum : Tampak Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
TD : 120/80 mmHg

N : 78 x/menit

RR : 20 x/menit

T : 36.6 C

15
2. Kepala : Normocephali

3. Mata : Pupil Isokor, Refleks Cahaya (+/+), Konjungtiva

Anemis (-), Sklera Ikterik (-)

4. THT : Otorea (-), Rhimorea (-), T1/T1, Hiperemis (-)

5. Leher : Pembesaran KGB (-), thyroid (-), JVP 5-2 cmH2O

6. Thoraks

Inspeksi : Pergerakan Dinding Dada Simetris, Retraksi (-), terdapat


benjolan berwarna kemerahan 2 cm di atas papilla
mama berukuran 1x2 cm.
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara Napas Vesikuler, Bunyi Jantung I dan II, Wheezing
(-), Ronkhi (-), Gallop (-)
7. Abdomen
Inspeksi : Datar , Simetris
Palpasi : Nyeri Tekan (-), Nyeri Lepas (-), Defans Muskuler (-)
Perkusi : Tymphani Di Seluruh Lapang Abdomen
Auskultasi : Bising Usus (+)

Ekstremitas : Akral teraba hangat

B. Status Lokalis

Regio : Mama sinistra


Inspeksi : Tampak adanya benjolan di toraks anterior kiri 2 cm di
atas papilla mama, warna kemerahan, ukuran 1x2 cm,
bentuk agak lonjong, puncta (+), gambaran kulit jeruk (-).
Palpasi : Teraba adanya benjolan di toraks anterior sinistra,
konsistensi lunak-kenyal, berbatas tegas, tepi rata,

16
permukaan rata, tidak berbenjol-benjol, mobile, melekat
pada kulit, nyeri tekan (-), multiple (-), benjolan di axilla
(-), benjolan di subklavikula (-).

Keterangan :

Titik merah : lokasi benjolan

Titik hitam : Papilla mama sinistra

3.4 Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium :

Darah rutin 20 Juli 2017

Hb : 11

Leukosit : 5700

Trombosit : 247.000

Ht : 33 %

Waktu pendarahan : 3

Waktu pembekuan : 7

Basofil :0

Eosinofil :0

Neutrofil Batang :2

Neutrofil Segmen : 47

Limfosit : 44

Monosit :7

3.5 Diagnosis Banding

Soft Tissue Tumor Toraks Anterior Sinistra susp. kista sebasea

17
Soft Tissue Tumor Toraks Anterior Sinistra susp. lipoma

Soft Tissue Tumor Toraks Anterior Sinistra susp. kista sebasea

3.6 Diagnosis Kerja

Soft Tissue Tumor Toraks Anterior Sinistra susp. kista sebasea

3.7 Penatalaksanaan

Dilakukan eksisi kecil untuk pengangkatan kista sebasea. Eksisi dapat


dilakukan di bawah pengaruh anestesi lokal menggunakan lidokain 0,5 %
untuk infiltrasi. Setelah itu dilakukan eksisi dengan bentuk elips agar kista
tidak pecah.

3.8 Prognosa
Quo ad vitam : bonam.
Quo ad functionam : bonam.

3.9 Komplikasi
Infeksi kista sebasea (kista ateroma).

18
BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien datang ke poli bedah RS. Palembang Bari dengan keluhan benjolan
berwarna kemerahan di dada sebelah kiri 2 cm di atas papilla mammae. Benjolan
mulai timbul sekitar 2 bulan SMRS. Benjolan awalnya kecil seperti biji jagung,
warna sama dengan warna kulit, terasa lunak-kenyal, mobile, terdapat titik hitam,
namun tidak terasa sakit. Dua minggu SMRS, benjolan mulai membesar dengan
diameter sekitar 5 cm, berwarna kemerahan, terasa sakit, namun tidak
mengeluarkan nanah. Os sempat datang ke puskesmas namun tidak ada
perubahan. Lima hari SMRS, os datang ke Poli Bedah Bari, dan diberikan obat
tablet. Lima hari setelah pemberian obat, benjolan kembali mengecil menjadi
berukuran 1x2 cm. Os pernah mengalami penyakit yang sama di tahun 2012 yang
lalu, dan sudah dilakukan eksisi di tahun yang sama. Os merupakan seorang
pedagang makanan di SD. Saat siang hari terutama saat bekerja tubuh os sering
berkeringat. Os juga sering memegang dan memencet benjolan di dada baik saat
bekerja maupun saat di rumah. Untuk personal hygiene, os mandi 2x sehari, di
pagi hari dan sore hari setelah bekerja.

Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan hasil


diagnosa tumor mama sinistra suspek kista sebasea (kista ateroma). Diagnosa
didapatkan berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan
keluhan berupa benjolan di dada kiri di atas papilla mama sinistra yang awalnya
kecil seperti biji jagung, konsistensi lunak-kenyal, berbatas tegas, terdapat puncta,
warna sama dengan warna kulit, tidak nyeri sejak 2 bulan SMRS. Benjolan mulai
dirasakan nyeri, kemerahan dan membengkak 2 minggu SMRS yang
kemungkinan disebabkan oleh infeksi. Dugaan infeksi semakin diperkuat dengan
adanya riwayat pemberian obat oral kepada pasien dari dokter spesialis 5 hari
SMRS dan benjolan pun mulai mengecil kembali. Benjolan muncul di dada sesuai
dengan prendileksi dari kista ateroma yaitu pada kulit kepala, wajah, dada,
punggung dan skrotum. Benjolan yang sempat membesar 2 minggu SMRS,

19
menandakan bahwa kista tersebut terinfeksi, mengingat personal hygiene os yang
sering memegang benjolan di dada kiri baik saat di tempat kerja maupun saat di
rumah.

Untuk memastikan diagnosis kista sebasea (kista ateroma) perlu dilakukan


pemeriksaan patologi anatomi jaringan di bawah mikroskop. Tatalaksana yang
dapat dilakukan untuk kasus ini yaitu dengan tindakan bedah yaitu eksisi. Eksisi
dapat dilakukan di bawah pengaruh anestesi lokal menggunakan lidokain 0,5%
maupun anestesi umum. Kista ateroma tergolong tumor jinak sehingga prognosis
cenderung bonam, baik vitam maupun functionam.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Love, William R, Montgomery H: Epithelial cysts. Arch. Dermat. Syph.1943;


47: 185.
2. Moore K.L., Dalley A.F., Agur A.M.R. 2010. Clinically oriented anatomy. 6th
edition. Lippincott William and Wilkins. Amerika.
3. Soetrisno E, 2010. Payudara. Dalam: Nasar IM, Himawan S, Marwoto W.
Buku ajar patologi II. Edisi ke1. Jakarta: Sagung Seto.
4. Eroschenko VP. 2010. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional
Edisi 11. Jakarta: EGC.
5. Coopeland III, E.M., M.D, Kirby I. Bland, M.D. Payudara. Dalam David C.
Sabiston, Jr.,M.D. 2011, Sabiston Buku Ajar Bedah, Jakarta : EGC.
6. Djuanda Adhi., 2007., Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi kelima.Balai
Penerbit FKUI. Jakarta.
7. Mescher, A.L. 2011. Histologi Dasar Junqueira, Teks dan Atlas, Edisi 12.
EGC. Jakarta.
8. Sjamsuhidajat & de jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC.
9. Epidermoid and pilar cysts British Association of Dermatologists Retrieved
April 2 2014.
10. Epidermoid and pilar cysts (previously known as sebaceous cysts). British
Association of Dermatologists.Retrieved April 2, 2014.

21