Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

HIPOSPADIA

Oleh
Nama

: Ade Lucky Yani

NPM

: 314.E.0018

Prodi

: Kebidanan

PROGRAM STUDI KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA
2014/2015

HIPOSPADIA
A. DEFINISI
Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo (below) dan
spaden (opening). Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan
defisiensi uretra.
Hipospadia adalah kelainan kongenital berupa muara uretra yang
terletak

di sebelah ventral penis dan sebelah proksimal ujung penis.

Hipospadia terjadi pada 1 sampai 3 per 1.000 kelahiran dan merupakan


anomali penis yang paling sering. (Muttaqin, 2011).
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang
terletak di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).

B. KLASIFIKASI
Hipospadia adalah keadaan dimana lubang kencing terletak dibawah
batang kemaluan / penis. Ada beberapa type hipospadia :

a.

Hipospadia type Perenial, lubang kencing berada di antara anus dan buah
zakar (skrotum).

b.

Hipospadia type Scrotal, lubang kencing berada tepat di bagian depan


buah zakar (skrotum).

c.

Hipospadia type Peno Scrotal, lubang kencing terletak di antara buah


zakar (skrotum) dan batang penis.

d.

Hipospadia type Peneana Proximal, lubang kencing berada di bawah


pangkal penis.

e.

Hipospadia type Mediana, lubang kencing berada di bawah bagian


tengah dari batang penis.

f.

Hipospadia type Distal Peneana, lubang kencing berada di bawah bagian


ujung batang penis.

g.

Hipospadia type Sub Coronal, lubang kencing berada pada sulcus


coronarius penis (cekungan kepala penis).

h.

Hipospadia type Granular, lubang kencing

sudah berada pada kepala

penis hanya letaknya masih berada di bawah kepala penisnya.

Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra


eksternum yaitu sebagai berikut :
a.

Tipe Sederhana / Tipe Anterior


Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara
klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu
tindakan.

Bila meatus agak

sempit dapat dilakukan dilatasi atau

meatotomi.
b.

Tipe Penil / Tipe Middle


Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan peneescrotal.
Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum.
Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit
prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah
atau glands penis menjadi pipih.

c.

Tipe Penoskrotal dan Tipe Perineal / Tipe Posterior


Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang
disertai dengan skrotum bifida,
umumnya testis tidak turun.

meatus uretra terbuka lebar dan

C. ETIOLOGI
Penyebab sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum
diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang
oleh para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
a.

Faktor Genetik
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi
karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut
sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.

b.

Faktor Gangguan dan Ketidakseimbangan Hormon


Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang
mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor
hormone androgennya

sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak

ada. Sehingga walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup


akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan
memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan
dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak
sama.
c.

Faktor Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan
dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

D. PATOFISIOLOGI
Hipospadia merupakan suatu cacat bawaan yang diperkirakan terjadi
pada masa embrio selama pengembangan uretra, dari kehamilan 8-20 minggu.
Perkembangan terjadinya fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak
lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis.
Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit
pergeseran pada glans, kemudian di sepanjang batang penis hingga akhirnya
di perineum.

Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topu yang
menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai
chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari
penis.
Chordee atau lengkungan ventral dari penis, sering dikaitkan dengan
hipospadia, terutama bentuk-bentuk yang lebih berat. Hal ini diduga akibat
dari perbedaan pertumbuhan antara punggung jaringan normal tubuh kopral
dan uretra ventral dilemahkan dan jaringan terkait. Pada kondisi yang lebih
jarang, kegagalan jaringan spongiosum dan pembentukan fasia pada bagian
distal meatus uretra dapat membentuk balutan berserat yang menarik meatus
uretra sehingga memberikan kontribusi untuk terbentuknya suatu korda
(Mutaqqin,2011).
E. TANDA DAN GEJALA
a.

Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah,
menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok
pada saat BAK.

b.

Pada hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri


dengan mengangkat penis keatas.

c.

Pada hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.

d.

Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.

e.

Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di
bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.

f.

Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian


punggung penis.

g.

Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan


membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan
sekitar.

h.

Kulit penis bagian bawah sangat tipis.

i.

Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.

j.

Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans
penis.

k.

Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.

l.

Sering disertai undescended

testis (testis tidak turun ke kantung

skrotum).
F. KOMPLIKASI
a.

Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin


dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu)

b.

Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK.

c.

Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat


dewasa.

d.

Infertility

e.

Resiko hernia inguinalis

f.

Gangguan psikososial

Komplikasi pasca operasi yang terjadi :


a.

Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya


dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah
kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari
paska operasi.

b.

Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh


angulasi dari anastomosis.

c.

Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing


berulang atau pembentukan batu saat pubertas.

d.

Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan


sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu
tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.

e.

Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak


sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau

pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat


jarang.
f.

Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar,


atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.

Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis


hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG
mengingat hipospadi sering disertai kelainan pada ginjal.

b.

Ultrasound perinatal untuk mendeteksi agenesis ginjal.

c.

Segera setelah lahir, scan computerized axial tomography (CAT) atau


ultrasoud ginjal digunakan untuk mendiagnosis kelainan.

d.

Uretroskopi

dan

sistoskopi

membantu

dalam

mengevaluasi

perkembangan reproduksi internal.


e.

Urografi untuk mendeteksi kelainan kongenital lain pada ureter dan


ginjal.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
a.

Tujuan

utama

dari

penatalaksanaan

bedah

hipospadia

adalah

merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat


yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan
dan dapat melakukan coitus dengan normal.
b.

Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi
atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan
untuk pembedahan nanti.

c.

Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari


beberapa tahap yaitu: Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah
tunneling Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan Devine.

a) Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:


Tahap

pertama

eksisi dari chordee dan bisa sekaligus

dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan


pada usia 1 - 2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih
pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan
preputium bagian dorsal dan kulit penis.
Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat
parut sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran
kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah.
Setelah uretra terbentuk,

luka ditutup

dengan flap dari kulit

preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan


pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan
harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
b) Teknik Horton dan Devine
Dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan
penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis
distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap
mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel
(kaki) kemudian dipindah ke bawah.
Mengingat pentingnya prepurium untuk bahan dasar perbaikan
hipospadia,

maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan

dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadia.


I.

EPIDEMIOLOGI
Hipospadia terjadi pada sekitar 1 dari setiap 250 kelahiran laki-laki.
Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin meningkat. Laporan saat
ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir
prematur, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah.
Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih.

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)
Pokok Pembahasan

: Penyakit Kelainan

Sub Pokok Pembahasan

: Hipospadia

Sasaran

: Masyarakat Desa Sidamulya RT.005/RW. 004

Hari/tanggal

: Kamis, 24 Desember 2015

Tempat

: Balai Desa Sidamulya

Pukul

: 10.00-10.45

Penyuluh

: Ade Lucky Yani

I.

Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Setelah mengikuti pengajaran selama 30 menit diharapakan masyarakat
Desa Sidamulya memiliki pengetahuan tentang penyakit hipospadia.

II. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Diharapkan masyarakat dapat :
1.

Menjelaskan Pengertian Hipospadia

2.

Menjelaskan Penyebab Hipospadia

3.

Menyebutkan Tanda dan Gejala Hipospadia

4.

Menyebutkan Komplikasi Hipospadia

III. Pokok Materi


1.

Pengertian Hipospadia

2.

Etiologi Hipospadia

3.

Tanda dan Gejala Hipospadia

4.

Komplikasi Hipospadia

IV. Strategi Pelaksanaan:


Metode :
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
V. Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan

Penyuluhan

Peserta

Waktu

Pendahuluan

- Salam Pembuka

- Menjawab Salam

5 menit

- Menyampaikan

Tujuan

Penyuluhan

- Mendengarkan,

- Apresiasi
Isi

- Menyimak
Menjawab Pertanyaan

- Menjelaskan

Pengertian, - Mendengarkan

Penyebab, Patofisiologi, Tanda

dengan

dan

Perhatian

Gejala

dan Komplikasi

Hipospadia
- Memberi

Penuh

- Menanyakan
Kesempatan

Kepada Peserta untuk


Bertanya
- Menjawab Pertanyaan

- Memperhatikan
Jawaban
- Menjawab Pertanyaan

- Menyimpulkan

- Mendengarkan

- Salam Penutup

- Menjawab salam

VI. Media : Leaflet

Hal-Hal

yang Belum Jelas

- Evaluasi
Penutup

20 menit

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. (2009). Pathofisiologi : Buku saku. Jakarta : EGC.


http://id.scribd.com/doc/70233922/HIPOSPADIA
Muttaqin, Arief. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan sistem Perkemihan.
Jakarta : Salemba

medika.

Purnomo,Basuko. (2011). Dasar-dasar Urologi edisi ketiga.Malang : Sagung


seto.
Syaifudin,. (2002). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :
EGC.