Anda di halaman 1dari 8

29

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran umum

a. Data Geografi

Desa Parumasan Kecamatan Sodonghilir berada diwilayah

Kabupaten Tasikmalaya. Jarak Desa Parumasan ke Kecamatan

Sodonghilir adalah 7 km dengan jarak tempuh 1 jam, sedangkan jarak dari

Desa Parumasan ke Kota Tasikmalaya 63 km dengan lama tempuh 2

jam. Kendaraan umum yang digunakan adalah mini bus.

b. Data Demografi

Penduduk Desa Parumasan Kecamatan Sodonghilir terdiri dari

2.358 orang laki-laki dan 2.275 orang perempuan, dengan 1.206 kepala

keluarga.

Gambaran kependudukan di Desa Parumasan Kecamatan

Sodonghilir menurut jenis pekerjaan dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
30

Tabel 5.1 Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan di Desa Parumasan


Kecamatan Sodonghilir Tahun 2008
No Pekerjaan Jumlah
1 Petani 1.096
2 Buruh Tani 1.196
3 Buruh / Swasta 120
4 Pegawai Negeri 69
5 Pengrajin 15
6 Pedagang 20
7 Peternak 11
Sumber: Profil Desa Parumasan Tahun 2008

Berdasarkan tabel diatas, ditinjau dari jenis pekerjaan, masyarakat

Desa Parumasan Kecamatan Sodonghilir sebagian besar bekerja sebagai

petani dan buruh tani.

Tabel 5.2 Komposisi Penduduk Menurut Status Pendidikan Di Desa


Parumasan Kecamatan Sodonghilir Tahun 2008

NO Pendidikan Jumlah

1 Belum Sekolah 694


2 Tidak pernah Sekolah 29
3 Tidak Tamat SD 58
4 Tamat SD / Sederajat 2.625
5 SLTP / Sederajat 975
6 SLTA / Sederajat 225
7 D1 7
8 D2 2
9 D3 2
10 S1 16
Jumlah 4.633
Sumber : Profil Desa Parumasan tahun 2008

Berdasarkan tabel diatas distribusi penduduk menurut status

pendidikan, didominasi oleh strata pendidikan SD sebanyak 2.625 orang


31

dan lulusan SMP sebanayak 975 orang. Dengan komposisi seperti tersebut

diatas, maka secara umum status pendidikan kepala keluarga di Desa

Parumasan Kecamatan Sodonghilir sebagian besar, tingkat pendidikannya

rendah dan menengah.

2. Hasil Analisis Data

a. Analisis Univariat

1) Pengetahuan

Hasil analisis data mengenai pengetahuan santri tentang

pencegahan skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan Kecamatan

Sodonghilir, dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Santri tentang Pencegahan


Skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan Kecamatan
Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2009

Kategori Frekwensi Persentase


Kurang 24 37,5
Cukup 21 32,8
Baik 19 29,7
Jumlah 64 100.0

Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa pengetahuan santri

mengenai pencegahan skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan

Kecamatan Sodonghilir frekuensi tertinggi adalah kategori kurang

yaitu 24 santri (37,5%) dan frekuensi terendah adalah baik yaitu 19

santri (29,7%).
32

2) Perilaku

Hasil analisis data mengenai perilaku santri tentang pencegahan

skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan Kecamatan

Sodonghilir, dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Perilaku Santri tentang Pencegahan


Skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan
Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya Tahun
2009

Kategori Frekwensi Persentase


Kurang 26 40,6
Cukup 25 39,1
Baik 13 20,3
Jumlah 64 100,0

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa perilaku santri terhadap

pencegahan skabies di Pesantren Malabar Desa Parumasan Kecamatan

Sodonghilir frekuensi tertinggi adalah kategori kurang yaitu 26 santri

(40,6%) dan frekuensi terendah adalah kategori baik yaitu 13 santri

(20,3%).
33

b. Analisis Bivariat

1) Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Dengan Perilaku Pencegahan

Skabies

Tabel 5.5 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Dengan Perilaku


Pencegahan Skabies

Perilaku Pencegahan Skabies Total


Pengetahuan Kurang Cukup Baik
N % N % N % N %
Kurang 24 100 0 0 0 0 24 100
Cukup 1 4,8 20 95,2 0 0 21 100
Baik 1 5,3 5 26,3 13 68,4 19 100
Total 26 40,6 25 100 13 20,3 64 100
p-value = 0,000

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 24 santri yang mempunyai

pengetahuan kurang semuanya yaitu 24 santri mempunyai perilaku

kurang. Dari 21 santri yang mempunyai pengetahuan cukup, 1 santri

berperilaku kurang dan 20 santri berperilaku cukup. Dan dari 19 santri

yang mempunyai pengetahuan baik, 1 santri berperilaku kurang, 5

santri berperilaku cukup dan 13 santri berperilaku baik. Hasil uji

statistik Rank Spearman menunjukkan p-value = 0,000 maka

keputusan Ho ditolak yang artinya ada hubungan antara pengetahuan

dengan perilaku pencegahan skabies di Pesantren Malabar Desa

Parumasan Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya tahun

2009.
34

c. Hasil Uji Rank Spearman

Table 5.6 Hasil Uji Rank Spearman

No Variabel Yang Diuji p-value Keterangan


1 Pengetahuan dengan 0,000 Ada hubungan
perilaku

B. Pembahasan

1. Pembahasan Analisis Univariat

a. Pengetahuan

Pengetahuan santri tentang kejadian skabies dikelompokan menjadi

3 kategori, yaitu kurang, cukup dan baik. Pengetahuan santri frekuensi

tertinggi adalah kategori kurang yaitu 24 santri (37,5%) dan frekuensi

terendah adalah baik yaitu 19 santri (29,7%). Notoatmodjo (2003 : 121)

memberi batasan pengetahuan sebagai berikut: Pengetahuan merupakan

hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan

terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera

manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).

b. Perilaku

Perilaku santri terhadap kejadian scabies dikelompokan menjadi 3

kategori, yaitu kurang, cukup dan baik. Perilaku santri frekuensi tertinggi
35

adalah kategori kurang yaitu 26 santri (40,6%) dan frekuensi terendah

adalah kategori baik yaitu 13 santri (20,3%). Faktor perilaku adalah suatu

faktor yang timbul karena ada aksi dan reaksi seseorang atau organisme

terhadap lingkungannya (Depkes RI, 2002).

Menurut Green (1980) dalam Notoatmojo (2005) Bahwa kesehatan

seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yakni

faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non

behavior) yang terdiri dari lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan.

2. Pembahasan Analisis Bivariat

a. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan perilaku Pencegahan Skabies

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24 santri yang

mempunyai pengetahuan kurang semuanya yaitu 24 santri mempunyai

perilaku kurang. Dari 21 santri yang mempunyai pengetahuan cukup, 1

santri berperilaku kurang dan 20 santri berperilaku cukup. Dan dari 19

santri yang mempunyai pengetahuan baik, 1 santri berperilaku kurang, 5

santri berperilaku cukup dan 13 santri berperilaku baik. Hasil uji statistik

menunjukkan p-value = 0,000 maka keputusan Ho ditolak yang artinya

ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan skabies di

Pesantren Malabar Desa Parumasan Kecamatan Sodonghilir Kabupaten

Tasikmalaya tahun 2009. Kejadian skabies disebabkan oleh faktor ketidak

tahuan santri terhadap kebersihan kulit, kebersihan rambut, kebersihan


36

pakaian dan kebiasaan cuci tangan. Sehingga mereka tidak memahami

bahwa kurangnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dapat

menyebabkan terjadinya penyakit skabies.

Hubungan yang positif dan bermakna antara pengetahuan dengan

kejadian skabies, berarti tinggi rendahnya kasus skabies di Pesantren

Malabar Desa Parumasan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat

pengetahuan santri mengenai cara menjaga kebersihan diri.

Kejadian skabies juga dipengaruhi oleh faktor perilaku, diantaranya

kurang menjaga kebersihan diri seperti mandi tidak pakai sabun, mandi

pakai air yang kotor, mencuci pakaian tidak bersih, jarang mencuci dan

menjemur alas tidur, sehingga dapat menggakibatkan terjadinya penyakit

skabies.

Hubungan yang positif dan bermakna antara pengetahuan dengan

perilaku pencegahan skabies, berarti menggambarkan bahwa periaku

santri yang tidak sehat di Pesantren Malabar Desa Parumasan dipengaruhi

oleh kurangnya pengetahuan santri dalam menjaga kebersihan diri

sehingga tinggi rendahnya kasus skabies di Pesantren Malabar Desa

Parumasan dipengaruhi oleh sehat atau tidaknya perilaku santri dalam

menjaga kebersihan diri. Sehat tidaknya perilaku mencegah skabies akan

dipangaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pengetahuan santri dalam

menjaga kesehatan diri dan kesehatan lingkungan.