Anda di halaman 1dari 5

10 Kiat Menuju Kota Yang Tangguh Menghadapi

Bencana
Author by Ibnu RusydyPosted on May 14, 2013

Pada bulan April 2012, Lembaga PBB yang bergerak dalam


pengurangan risiko bencana United Nations International Strategy for Disaster
Reduction (UNISDR) mengeluarkan sebuah buku yang diperuntuhkan kepada
setiap Walikota yang ada di seluruh dunia. Buku tersebut berjudul How to Make
Cities More Resilient, dan dibuat dalam rangka kampanye global pengurangan
risiko bencana (PRB) dari tahun 2010 s/d 2015. Saat ini buku tersebut telah
diterjemahkan kedalam beberapa bahasa dan salah satunya bahasa Indonesia.
Dalam buku tersebut, UNISDR menjelaskan 10 kiat untuk menuju kota tangguh
dalam menghadapi bencana. Ke-10 tersebut merupakan turunan dari 5 aksi yang
terdapat dalam Kerangka Aksi Hyogo yang pernah saya jelaskan beberapa minggu
yang lalu.

Berikut 10 kiat menuju kota tangguh dalam menghadapi bencana sesuai dengan
buku tersebut.

1. Menciptakan organisasi dan koordinasi untuk memahami dan mengurangi


risiko bencana, berdasarkan partisipasi kelompok-kelompok masyarakat dan
masyarakat sipil. Membangun aliansi lokal. Memastikan bahwa semua bagian
memahami perannya dalam pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan.
Dalam pertama ini, setiap kelompok, stakeholder, dan pemangku kepentingan
yang berada disuatu kota harus melakukan koordinasi dan membuat Protap
sebelum, ketika dan sesudah terjadinya bencana.
2. Menyiapkan Anggaran dalam upaya pengurangan risiko bencana dan
penguatan kapasitas masyarakat, lembaga pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Kesediaan anggaran memungkinkan terlaksananya kegiatan seperti penguatan
kapasitas masyarakat, penguatan kapasitas pihak sekolah, percepatan
proses recovery kawasan yang terkena bencana, percepatan rehab-rekon
kawasan bencana dan beberapa kegiatan lainnya.
3. Menjaga keterbaruan data bahaya/ancaman dan kerentanan dalam
upaya pengkajian risiko bencana. Data pengkajian risiko tersebut harus
digunakan sebagai pertimbangan utama dalam membuat kebijakan arah
pembangunan dan pengambilan keputusan. Informasi bahaya/ancaman,
kerentanan dan risiko suatu kawasan harus disebarkan untuk membuat publik
tahu dan sadar akan ancaman yang ada di kota mereka. Salah satu contoh
upaya pengkajian bahaya/ancaman mempengaruhi arah kebijakan
pembangunan adalah pemetaan mikrozonasi untuk melihat tingkat goncangan
tanah suatu kawasan ketika terjadi gempa.
4. Melakukan investasi dalam upaya perlindungan, peningkatan dan
ketangguhan infrastruktur. Dalam kiat ke-empat ini, pemerintah kota
diharuskan untuk melakukan Investasi infrastruktur seperti membuat drainase
yang bagus untuk menghindari banjir, membangun infrastruktur yang tahan
gempa, dan melakukan perlindungan terhadap inftrastruktur vital yang ada di
dalam kota.
5. Melakukan perlindungan fasilitas Sekolah dan Rumah Sakit. Pelindungan
fasilitas sekolah secara struktural bisa dilakukan dengan cara membuat
bangunan sekolah dan rumah sakit yang tahan terhadap bencana seperti
sekolah dan rumah sakit tahan gempa serta membuat petunjuk arah evakuasi
apabila terjadi bencana. Namun demikian, perlindungan sekolah dan rumah
sakit secara non-struktural seperti penguatan kapasitas guru dan murid serta
penguatan kapasitas tenaga rumah sakit harus juga dilakukan untuk
membentuk sekolah dan rumah sakit yang tangguh dan tetap dapat beroperasi
dengan baik setelah bencana terjadi.
6. Membangun regulasi dan perencanaan penggunaan lahan. Membuat
peraturan seperti Building Code terhadap bangunan-bangunan dan melakukan
pemetaan kawasan-kawasan yang memiliki tingkat risiko rendah untuk dijadikan
kawasan pembangunan pada masa yang akan datang.
7. Memastikan terlaksananya program pendidikan dan pelatihan untuk
meningkatkan kesadaran publik. Dalam hal pendidikan, peintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam program pendidikan formal seperti
adanya kurikulum khusus mengenal bencana untuk sekolah yang di kota
tersebut. Pelatihan-pelatihan untuk penguatan kapasitas masyarakat kota perlu
segera dilakukan. Pelatihan ini sama dengan program Siaga bencana di Mulai
dari Desa yang pernah saya tulis sebelumnya.
8. Melakukan perlindungan terhadap lingkungan dan ekosistem. Memberikan
penyadaran kepada masyarakat akan dampak yang dihadapi apabila tidak
melindungin lingkungan. Penyadaran untuk menjaga lingkungan untuk
kawasan-kawasan tertentu bisa dilakukan dengan metode pendekatan secara
religius. Pada tulisan Etika Lingkugan dalam Islam, sedikit banyak saya sudah
menjelaskan bagaimana efektifnya memberikan pemahaman hukum-hukum
lingkungan berdasarkan agama. Selain itu, program penanaman sejuta atau
semilyar pohon perlu juga dilakukan untuk menjaga ekosistem di sekitar kota
tersebut.
9. Memasang peralatan peringatan dini dan penguatan kapasitas manajemen
tanggap darurat. Dalam hal manajemen tanggap darurat,
pelaksanaan drill atau simulasi secara berkala harus dilakukan sehingga
masyarakat kota tersebut bisa melakukan respon yang efektif dalam setiap
kejadian bencana. Penguatan koordinasi dan Table Top Simulation (TTS) antar
dinas terkait dalam menghadapi masa-masa tanggap darurat juga harus
dilakukan.
10. Setelah bencana, pemulihan dan dan pembangunan kembali
komunitas haruslah terkoordinir dengan baik. Pemulihan dan pembangunan
kembali harus menjadi momen mengatur kembali tata ruang berbasis
pengurangan risiko bencana dan harus melibatkan komunitas terdampak untuk
memetakan kebutuhan.

Demikian ke-sepuluh kiat untuk menuju kota tangguh dalam menghadapi bencana.
Pada tahun 2010-2011, Banda Aceh, Jakarta dan Makassar sudah mendaftarkan
diri sebagai kota tangguh dalam menghadapi bencana. Kita tunggu kota-kota lain
yang ada di Indonesia untuk menjadi kota tangguh.

Artikel ini bersumber dari: http://www.ibnurusydy.com/10-kiat-menuju-kota-yang-


tangguh-menghadapi-bencana/#ixzz3pwOUb3VM
Follow us: @melek_bencana on Twitter | MelekBencana on Facebook
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menuliskan bahwa kota dibangun sebagai puncak
peradaban manusia. Seperti itulah idealnya sebuah kota dibangun yaitu sebagai etalase untuk
memajang karya yang menandai kemajuan peradaban manusia, baik dari segi arsitektural
maupun dari segi sosial lingkungannya.

Namun pada kenyataannya, kehidupan kota tidaklah seindah itu. Ancaman-ancaman


terhadap peradaban kota selalu tidak bisa dipisahkan dari perjalanannya, khususnya bencana
alam. Indonesia adalah salah satu contoh terbaiknya. Betapa berbagai bencana seperti tak
henti-hentinya mendera negeri ini. Misalnya kebakaran hutan dan kabut asap, banjir, dan
gunung meletus. Dampak dari bencanapun datang dari segala sisi, baik dari sisi kesehatan,
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

Kota sebagai jantung kehidupan sebuah negara pun turut tidak luput dalam pusaran bencana
ini. Menyadari hal itu, pada satu dekade terakhir ini timbul kesadaran dari para pemangku
kebijakan, dalam hal ini pemerintah negara-negara yang tergabung dalam PBB, untuk
mencari suatu paradigma dan perspektif berpikir baru mengenai kebencanaan.

Konsep itu pun kemudian disebut dengan resilience (ketangguhan).


Konsep resilience bertumpu pada membangun sistem dan kapasitas kota untuk beradaptasi
terhadap datangnya bencana. Menurut Wildavsky, resilience adalah konsep agar suatu sistem
lebih tahan terhadap bencana, bukan hanya dengan kebal terhadap perubahan, tetapi juga
bagaimana sistem bisa bangkit kembali, memitigasi, dan pulih dari bencana. Wildavsky juga
mengemukan bahwa karakteristik umum dari sebuah sistem
yang resilience adalah redundansi(pengulangan), keragaman, efisiensi, otonomi, kekuatan,
saling ketergantungan, adaptasi, dan kolaborasi (Djalante dan Frank, 2010).

Untuk membangun konsep kota tangguh bencana ini memerlukan syarat yaitu:

Pertama, memilih pemimpin yang kapabel. Konsep resilience merupakan konsep yang telah
menjadi trend pada kota-kota di dunia saat ini, misalnya King County, New York City,
Tokyo, Singapura, Venesia, London dll. Untuk itu, pemimpin yang kapabel adalah pemimpin
yang mampu membuat kebijakan atau regulasi yang berwawasan tangguh bencana. Jangan
sampai penanganan bencana masih dengan cara selama ini yaitu bersifat spontanitas. Kita
jangan sampai lagi terbuai pada janji-janji pemimpin yang hanya berfokus pada pertumbuhan
dan pembangunan saja. Oleh karena itu melalui momen Pemilihan Umum 2014 ini
merupakan waktu yang paling tepat untuk memilih pemimpin yang berwawasan
kebencanaan. Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang harus mempunyai visi tangguh
bencana.
Kedua, memperkuat kapasitas masyarakat. Menyadarkan masyarakat untuk siaga terhadap
bencana mungkin tidak mudah. Contohnya seperti beberapa kasus erupsi gunung.
Kekurangpahaman masyarakat terhadap pertanda serta efek bencana serta mungkin juga
ditambah dengan paradigma Timur yang masih berpola mistik sehingga dalam beberapa
kasus erupsi harus memakan korban jiwa. Begitupula dengan beberapa kasus banjir di
beberapa kota. Bisa dilihat bahwa masih kurangnya organisasi dan manajemen dalam
menghadapi bencana, sehingga banyak masalah dalam hal mencari tempat untuk
menyelamatkan diri serta menghuni tempat penampungan. Memperkuat kapasitas
masyarakat untuk tangguh bencana adalah syarat mutlak masyarakat kota Indonesia masa
depan.