Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka Stomatitis

1. Pengertian Asuhan Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses rangkaian kegiatan pada

praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai

tantanan pelayanan kesehatan, dalam upaya pemenuhan KDM, dengan

menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar

keperawatan, dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup

wewenang serta tanggung jawab keperawatan. Asuhan Keperawatan

dilaksanakan dalam bentuk proses keperawatan yang meliputi tahap ;

pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan (intervensi), pelaksanaan

(implementasi), evaluasi (formatif/proses dan sumatif).

Proses keperawatan sebagai salah satu pendekatan utama dalam

pemberian asuhan keperawatan, pada dasarnya suatu proses pengambilan

keputusan dan penyelesaian masalah (Nursalam, 2015).

2. Pengertian Stomatitis

Stomatitis merupakan radang yang terjadi pada mukosa mulut yang

biasanya berupa bercak putih kekuningan dengan permukaan yang agak

cekung. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun kelompok.

Stomatitis yang terjadi berulang pada rongga mulut disebut Reccurent

Apthous Stomatitis (RAS). RAS merupakan salah satu kelainan mukosa

yang paling sering terjadi dan menyerang kirakira 15-20% populasi di

8
9

Inggris. Penyakit ini umumnya terjadi dan seringkali mengenai wanita dan

lakilaki. Prevalensi yang lebih tinggi juga didapatkan pada golongan

sosial ekonomi atas dan di antara para mahasiswa selama waktuwaktu

ujian.

Manifestasi klinis dari RAS adalah ulser tunggal atau multipel,

dangkal, bulat, lonjong dan sakit. Prevalensi pada populasi secara umum

berkisar 50-66%. Hipotesis dari terjadinya RAS bermacam-macam

tergantung pada faktor pemicunya, antara lain disebabkan karena alergi,

faktor genetik, kekurangan nutrisi, kelainan hematologi, hormonal, infeksi,

trauma dan stres.

Didalam rongga mulut, RAS merupakan kondisi yang paling

banyak dijumpai pada jaringan lunak mukosa. Diperkirakan sebanyak 15%

- 20% populasi penduduk diseluruh dunia terserang penyakit seperti ini.

Penyakit ini nampak lebih banyak di Amerika Utara khususnya pada

kelompok sosial ekonomi rendah, insiden ini nampak hingga mendekati

40%.

3. Klasifikasi Stomatitis

a. Stomatitis apthous Reccurent

Stomatitis yang sifatnya berulang atau Reccurent Apthous Stomatitis

dapat diklasifikasikan berdasarkan karakteristik klinis yaitu ulser minor,

ulser major, dan ulser herpetiform:

b. Rekuren apthous stomatitis minor


10

Sebagian besar pasien (80%) yang menderita bentuk minor ditandai

dengan ulser berbentuk bulat atau oval dan dangkal dengan diameter

yang kurang dari 5 mm serta pada bagian tepinya terdiri dari

eritematous. Ulserasi bisa tunggal ataupun merupakan kelompok yang

terdiri atas empat atau lima dan akan sembuh dalam waktu 10-14 hari

tanpa meninggalkan bekas.5 Ulkus ini mempunyai kecendrungan untuk

terjadi pada mukosa bergerak yang terletak pada kelenjar saliva minor.

Pernah dilaporkan adanya gejala-gejala pendahulu seperti parastesia

dan hiperestesia. Ulkus ini sangat bervariasi, kambuh, dan pola

terjadinya bervariasi.

GAMBA

GAMBAR.1 Minor apthous ulcer

Ulkus yang berkelompok dapat menetap dalam jangka waktu beberapa

bulan. Ulserasi yang menetap seringkali sangat sakit dan biasanya

mempunyai gambaran tak teratur. Frekuensi RAS lebih sering pada laki-

laki daripada wanita dan mayoritas penyakit terjadi pada usia antara 10

dan 30 tahun. Pasien dengan ulser minor mengalami ulserasi yang

berulang dan lesi individual dapat terjadi dalam jangka waktu pendek
11

dibandingkan dengan tiga jenis yang lain. Ulser ini sering muncul pada

mukosa nonkeratin. Lesi ini didahului dengan rasa terbakar, gatal dan rasa

pedih dan adanya pertumbuhan makula eritematus. Klasiknya, ulserasi

berdiameter 3-10 mm dan sembuh tanpa luka dalam 7-14 hari.

c. Rekuren Apthous Stomatitis Major

Rekuren apthous stomatitis major diderita kira-kira 10% dari penderita

RAS dan lebih hebat dari bentuk minor. Secara klasik, ulser ini

berdiameter kira-kira 1-3 cm dan berlangsung selama empat minggu atau

lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut termasuk

daerah-daerah yang berkeratin.5 Dasar ulser lebih dalam, melebihi 0,5 cm

dan seperti ulser minor, hanya terbatas pada jaringan lunak tidak sampai ke

tulang.

GAMBAR. 2 Mayor apthous ulcer

Ulser mayor dikenal sebagai periadenitis mukosa nekrosis yang rekuren

atau disebut juga penyakit Sutton. Penyebabnya belum diketahui secara

pasti, namun banyak bukti yang berhubungan dengan defek imun.11 Tanda

adanya ulser seringkali dilihat pada penderita bentuk mayor. Jaringan


12

parut terbentuk karena keparahan dan lamanya lesi terjadi.5 Awal dari ulser

mayor terjadi setelah masa puberti dan akan terus menerus tumbuh hingga

20 tahun atau lebih.

d. Herpetiformis apthous stomatitis

Istilah herpertiformis digunakan karena bentuk klinis dari ulserasi

herpetiformis (yang dapat terdiri atas 100 ulser kecil pada satu waktu)

mirip dengan gingivostomatitis herpetik primer tetapi virus-virus herpes

tidak mempunyai peranan dalam etiologi ulserasi herpertiformis atau

dalam setiap bentuk ulserasi aptosa.

GAMBAR.3 Multiple herpetiform ulcers

Herpertiformis apthous stomatitis menunjukkan lesi yang besar dan

frekuensi terjadinya berulang. Pada beberapa individu, lesi berbentuk kecil

dan berdiameter rata-rata 1-3 mm. Gambaran dari ulser ini adalah erosi-

erosi kelabu putih yang jumlahnya banyak, berukuran sekepala jarum yang

membesar, bergabung dan mnjadi tak jelas batasnya. Pada awalnya ulkus-

ulkus tersebut berdiameter 1-2 mm dan timbul berkelompok terdiri atas


13

10-100. Mukosa disekitar ulkus tampak eritematous dan diperkirakan ada

gejala sakit.

e. Oral thrush

Yaitu sariawan yang disebabkan jamur Candida Albican, biasanya banyak

dijumpai di lidah. Pada keadaan normal, jamur memang terdapat di dalam

mulut. Namun, saat daya tahan tubuh anak menurun, ditambah

penggunaan obat antibioka yang berlangsung lama atau melebihi jangka

waktu pemakaian, jamur Candida Albican akan tumbuh lebih banyak lagi.

f. Stomatitis Herpetik

Yaitu sariawan yang disebabkan virus herpes simplek dan beralokasi di

bagian belakang tenggorokan. Sariawan di tenggorokan biasanya langsung

terjadi jika ada virus yang sedang mewabah dan pada saat itu daya tahan

tubuh sedang rendah sehingga sistem imun tidak dapat menetralisir atau

mengatasi virus yang masuk sehingga terjadilah ulser.

4. Etiologi Stomatitis

Semakin banyaknya penelitian dan teori-teori baru mengenai faktor

predisposisi stomatitis memungkinkan suatu saat nanti apa yang saat ini

masihkita anggap faktor predisposisi telah terbukti sebagai etiologi.

Seperti yang telah diketahui bahwa faktor etiologi stomatitis adalah

idiopatik (belum diketahui) namun telah banyak dugaan mengenai faktor

predisposisi stomatitis.5 Faktorfaktor predisposisi yang dapat

menyebabkan terjadinya stomatitis adalah sebagai berikut :

g. Genetik
14

Riwayat keluarga terdapat pada 50% kasus. Insiden tertinggi terdapat di

antara saudara bila kedua orang tua terkena stomatitis. Beberapa

peneliti menyatakan bahwa hubungan genetik berpengaruh terhadap

timbulnya stomatitis. Salah satu penelitian menemukan bahwa 35% dari

orang yang menderita stomatitis memiliki paling tidak satu orang tua

yang juga menderita stomatitis Penelitian lain menemukan bahwa 91%

kembar identik menderita stomatitis dimana untuk kembar biasa hanya

57%.

h. Imunologik

Respon imun mungkin merupakan peran utama stomatitis umum terjadi

pada pasien dengan imunodefisiensi sel B dan 40% dari pasien-pasien

stomatitis mempunyai kompleks dari sirkulasi imun. Ulserasi dapat

disebabkan oleh pengendapan imonoglobulin dan komponen-komponen

komplemen dalam epitel atau respons imun seluler terhadap komponen-

komponen epitel. Antibodi tersebut bergantung pada mekanisme

sitoksik atau proses penetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh.

Sehingga jika sistem imunologi mengalami abnormalitas, maka dengan

mudah bakteri ataupun virusmenginfeksi jaringan lunak disekitar mulut.

i. Hematologik

15-20% pasien stomatitis adalah penderita kekurangan zat besi, vitamin

B12 atau folid acid dan mungkin juga terdapat anemia. Penyembuhan

stomatitis sering terjadi sesudah terapi untuk mengatasi kekurangan-

kekurangan tersebut. Seperti frekuensi defisiensi pada pasien awalnya


15

akan menjadi lebih buruk pada pertengahan usia. Banyak pasien yang

defisiensinya tersembunyi, hemoglobulin dengan batasan yang normal

dan ciri utama adalaah mikrositosis dan makrositosis pada sel darah

merah.

j. Gastrointestinal

Hanya sebagian kecil dari pasien-pasien mempunyai gejala

gastrointestinal, terutama penyakit pada usus kecil yang berhubungan

dengan malabsorpsi. Walaupun hanya 2-4% pasien-pasien stomatitis

mempunyai penyakit seliak tetapi terdapat 60% pasien-pasien dengan

penyakit seliak yang menderita stomatitis. Stomatitis dapat dihubungan

dengan penyakit Crohn dan colitis ulseratif.

k. Hormonal

Pada umumnya penyakit stomatitis banyak menyerang wanita,

khususnya terjadi pada fase stress dengan sirkulasi menstruasi. Dalam

sebuah penelitian, ditemukan kadar hormon progesterone yang lebih

rendah dari normal pada penderita RAS sementara kadar hormone

Estradiol, LH, Prolaktin, FSH pada kedua grup adalah normal. Pada

wawancara didapat adanya riwayat anggota keluarga yang mengalami

RAS dibanding bukan penderita RAS. Dari penelitian tersebut dapat

disimpulkan bahwa penderita RAS pada umumnya mempunyai kadar

hormon progesteron yang lebih rendah dari normal dan ada salah satu

keluarganya yang menderita RAS.


16

Stomatitis dapat berlanjut atau berhenti selama kehamilan dan karena

pada sebagian kecil wanita ulserasi berkembang hanya selama fase

luteal dari siklus menstruasi maka kadang-kadang hal ini berhubungan

dengan adanya perubahan-perubahan pada hormonal.

l. Trauma

Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa trauma pada bagian

rongga mulut dapat menyebabkan stomatitis. Dalam banyak kasus,

trauma ini disebabkan oleh masalahmasalah yang sederhana. Trauma

merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan ulser terutama

pada pasien yang mempunyai kelainan tetapi kebanyakan stomatitis

mempunyai daya perlindungan yang relatif dan mukosa mastikasi

adalah salah satu proteksi yang paling umum.

Faktor lain yang dapat menyebabkan trauma di dalam rongga mulut

meliputi:

1) Pemakaian gigi tiruan

Rekuren apthous stomatitis disebabkan oleh pemasangan gigi palsu.

Seringkali, gigitiruan yang dipasang secara tidak tepat dapat

mengiritasi dan melukai jaringan yang ada di dalam rongga mulut.

Masalah yang sama sering pula dialami oleh orang-orang yang

menggunakan gigitiruan kerangka logam. Logam dapat melukai

bagian dalam rongga mulut.

2) Trauma makanan
17

Banyak jenis makanan yang kita makan dapar menggores atau

melukai jaringan-jaringan yang ada di dalam rongga mulut dan

menyebabkan RAS. Contohnya adalah keripik, kue yang keras,dll.

3) Trauma sikat gigi

Beberapa pasien berpikir bahwa ulser terjadi karena trauma pada

mukosa rongga mulut yang disebabkan oleh cara penggunaan dari

sikat gigi yang berlebihan dan cara menyikat gigi yang salah dapat

merusak gigi dan jaringan yang ada dalam rongga mulut.

4) Menggigit bagian dalam mulut

Banyak orang yang menderita luka di dalam mulutnya karena

menggigit bibir dan jaringan lunak yanga da di dalam rongga mulut

secara tidak sengaja. Seringkali, hal ini dapat menjadi kebiasaan yang

tidak disadari atau dapat terjadi selama tidur dan luka juga

disebabkan oleh tergigitnya mukosa ketika makan dan tertusuk kawat

gigi sehingga dapat menimbulkan ulser yang mengakibatkan RAS.

Luka tergigit pada bibir atau lidah akibat susunan gigi yang tidak

teratur.

5) Prosedur dental

Prosedur dental dapat mengiritasi jaringan lunak mulut yang tipis dan

menyebabkan terjadinya RAS. Terdapat informasi bahwa hanya

dengan injeksi novacaine dengan jarum dapat menyebabkan

timbulnya RAS beberapa hari setelah dilakukan penyuntikan.

6) Stres
18

Banyak orang yang menderita stomatitis menyatakan bahwa

stomatitis yang mereka alami disebabkan oleh stres. Terkadang orang

secara objektif menghubungkan timbulnya stomatitis dengan

peningkatan stres.

7) HIV

Stomatitis dapat digunakan sebagai tanda adanya infeksi HIV.

Stomatitis memiliki frekuensi yang lebih tinggi pada keadaan

defisiensi imun seperti yang telah dibahas sebelumnya. Namun

infeksi akibat virus HIV biasanya menunjukkan tanda klinis yang

sangat jelas yaitu kerusakan jaringan yang sudah parah.

8) Kebiasaan merokok

Kelainan stomatitis biasanya terjadi pada pasien yang merokok.

Bahkan dapat terjadi ketika kebiasaan merokok dihentikan.

9) Kondisi Medik

Beberapa kondisi medik yang berbeda juga dapat dihubungkan

dengan timbulnya stomatitis. Untuk pasien yang mengalami

stomatitis yang resisten harus mendapatkan evaluasi dan tes dokter

untuk mengetahui ada tidaknya penyakit sistemik. Beberapa kondisi

medik yang dihubungkan dengan stomatitis yaitu seperti penyakit

Behcet, disfungsi neutrofil, radang usus, dan HIV-AIDS.


19

10) Pengobatan

Penggunaan obat-obatan anti peradangan, beta bloker, kemoterapi,

dan nicorandil dilaporkan menjadi salah satu pemicu timbulnya

stomatitis.

11) Infeksi

Fakta bahwa zat-zat kimia seperti pada penggunaan kemoterapi dan

radiasi biasanya dihubungkan dengan bakteri seperti ANUG yang

kaya dengan bacillus fusiformis dsn spirochete, dan virus pada Virus

Herpes Simpleks yang meliputi sitomegalovirus, virus voricella

zoster, Epstein Bar ini ternyata dapat menjadi salah satu penyebab

dari stomatitis.

Berikut ini ada beberapa fakta tentang faktor predisposisi dari penyebab

stomatitis

TABEL 1. Faktor etiologi stomatitis apthosa rekuren

Faktor Predisposisi Fakta

Defisiensi Adanya defisiensi zat besi, asam folat, vitamin B12,

atau B kompleks

Psikologis Meningkatnya insiden stomatitis pada populasi

mahasiswa menjelang ujian

Trauma Terbentuknya ulser pada daerah-daerah setelah

bekas terjadinya luka penetrasi

Endokrin Terbentuknya stomatitis pada fase luteal dari siklus

haid pada beberapa penderita wanita


20

Alergi Kenaikan kadar IgE dan keterkaitan antara beberapa

jenis makanan dan timbulnya ulser

Merokok Pembentukan stomatitis pada perokok yang

dahulunya bebas simtom, ketika kebiasaan merokok

dihentikan

Herediter Meningkatnya insiden pada anak-anak yang kedua

orantuanya menderita stomatitis, kesamaan yang

tinggi pada anak kembar

Inunologi Fakta bertentangan, tetapi beberapa informasi

mengenai kadar imunoglobulin abnormal

5. Gambaran Klinis Stomatitis

Awalnya timbul rasa sedikit gatal atau terbakar pada 1 sampai 2 hari di

daerah yang akan mengalami stomatitis. Rasa ini timbul sebelum luka

dapat terlihat di rongga mulut. Stomatitis dimulai dengan adanya luka

seperti melepuh di jaringan mulut yang terkena berbentuk bulat atau oval.

Setelah beberapa hari, luka tersebut pecah dan menjadi berwarna putih

ditengahnya dibatasi dengan daerah kemerahan. Bila berkontak dengan

makanan dengan rasa yang tajam seperti pedas atau asam, daerah ini akan

terasa sakit dan perih serta aliran saliva menjadi meningkat berdasarkan

ciri khasnya secara klinis. Adanya ulkus kecil didalam mulut biasanya

dibagian dalam, atas, dan bawah bibir pada pipi, lidah, dan gusi.
21

Gejalanya berupa rasa sakit dan rasa terbakar yang terjadi satu sampai dua

hari yang kemudian menimbulkan luka di rongga mulut. Bercak luka yang

ditimbulkan akibat dari stomatitis ini agak kaku dan sangat peka terhadap

gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit atau rasa panas yang

dirasakan ini dapat membuat kita susah makan, susah minum ataupun

susah bicara dan mengeluarkan banyak air liur.

Rasa sakit akibat stomatitis yang berukuran kecil biasanya akan hilang

antara 7 sampai 10 hari dan lesi ini akan sembuh secara sempurna dalam

waktu satu sampai dua minggu. Namun, apabila ukuran lesi stomatitis

cukup besar biasanya lesi membutuhkan waktu mulai dari beberapa

minggu sampai beberapa bulan untuk sembuh. Stomatitis yang tidak

sembuh dalam waktu 2 minggu sebaiknya segera dikonsultasikan dengan

dokter gigi.

6. Penanganan Stomatitis

Terapi stomatitis aftosa rekuren tidak memuaskan dan tidak ada yang

pasti. Terapi dilakukan secara siptomatik. Telah banyak obat yang dicoba

menanggulangi stomatitis namun tidak ada yang efektif. Penatalaksanaan

stomatitis aftosa rekuren ditujukan untuk mengurangi rasa sakit, atau

mencegah timbulnya lesi baru. Rasa sakit dapat dikurangi dengan cara

menghindari makanan yang berbumbu, asam, atau minuman beralkohol.

Anastetikum topikal merupakan obat yang umumnya digunakan dalam

pengobatan stomatitis. Pengolesan anastetikum sebelum makan dapat

mengurangi rasa sakit.


22

Faktor predisposisi yang berperan perlu ditelusuri agar dapat meringankan

penderitaan pasien. Tujuan dari pengobatan adalah untuk meringankan

penderitaan pasien yang harus berdampingan engan ulserasi sepanjang

hidupnya. Pasien perlu diyakinkan bahwa stomatitis aftosa rekuren bukan

suatu penyakit yang berbahaya walaupun merepotkan. Dengan adanya

keyakinan tersebut kemungkinan tidak diperlukan pengobatan sistemik,

covering agent atau kumur antiseptik.

Masa perjalanan dapat dipersingkat dengan pemberian kortikosteroid

topikal, seperti triamcinolone acetonide 0,1% dalam orabase yang bersifat

adesif. Contoh lain adalah fluocinonide gel yang lebih kuat dan rasanya

lebih enak. Obat dioleskan pada ulserasi 48 kali sehari. Untuk lesi yang

parah dapat diberikan kortikosteroid sistemik. Lesi akan segera sembuh

sehingga memperpendek perjalanan lesi selama obat digunakan.

Penggunaan secara sistemik perlu berhatihati karena apabila terlalu lama

digunakan dapat menimbulkan efek samping. Beberapa ahli ada yang

mencoba tetrasiklin yang dipakai secara topikal atau sistemik. Penggunaan

secara topikal dilakukan dengan melarutkan obat dalam 30 mL air dan

digunakan sebagai obat kumur.

Obatobat sistemik seperti levamisole, inhibitor monoamine oksidase,

thalidomide atau dapsone digunakan untuk penderita yang sering

mengalami ulserasi oral yang serius. Tetapi, penggunaan obatobat ini

harus dipertimbangkan efektifitas serta efek sampingnya.


23

Untuk pasien dengan gangguan hematologi maka terapi yang diberikan

kepada pasien anemia karena kekurangan zat besi adalah tablet zat besi

yang berisi ferrous sulfate, ferrous gluconate, dan ferrous fumarate yang

diberikan peroral. Respon tubuh pada terapi biasanya cepat, sel darah

merah akan kembali normal setelah 1-2 bulan. Oleh sebab itu pasien

diberikan sulemen yang berisi zat besi 2x1 sehari yang diminum selama

dua minggu.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa lidah buaya memiliki khasiat bagi

kesehatan terutama untuk mukosa mulut antara lain sebagai analgesik,

antiseptik, dan antiinflamasi karena bahan yang terkandung antara lain

aloktin A dan asam salisilat.

B. Tinjauan Pustaka Teori Keperawatan

1. Konsep Dasar Teori Dorothea E. Orem

Dorothea E. Orem menjalani pendidikan sekolah perawatan di

rumah sakit Providence di Washington DC. Lulus Sarjana Muda tahun

1930. Lulus Master tahun 1939 pendidikan keperawatan. Tahun 1945

bekerja di Universitas Katolik di Amerika selama perjalanan kariernya ia

telah bekerja sebagai staf perawat, perawat tugas pribadi, pendidik,

administrasi keperawatan dan sebagai konsultan (1970).

1. Tahun 1958- 1959 sebagai konsultan di Departemen kesehatan pada

bagian pendidikan kesejahteraan dan berpartisipasi pada proyek

pelatihan keperawatan

2. Tahun 1959 konsep perawatan Orem dipublikasikan pertama kali


24

3. Tahun 1965 bergabung dengan Universitas Katolik di Amerika

membentuk model teori keperawatan komunitas

4. Tahun 1968 membentuk kelompok konferensi perkembangan

keperawatan, yang menghasilkan kerja sama tentang perawatan dan

disiplin keperawatan

5. Tahun 1976 mendapat gelar Doktor Honoris Causa

6. Tahun 1980 mendapat gelar penghargaan dari alumni Universitas

Katolik Amerika tentang teori keperawatan

7. Selanjutnya Orem mengembangkan konsep keperawatan tentang

perawatan diri sendiri dan dipulikasikan dalam keperawatan (Concept

of Pratice tahun 1971).

8. Tahun 1980 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang edisi

pertama diperluas pada keluarga, kelompok dan masyarakat.

9. Tahun 1985 mempublikasikan buku kedua yang berisi tentang tiga

teori, yaitu ; Theory self care, theory self care deficit, theory system

keperawatan.

2. Model Konsep Keperawatan Orem

Model Keperawatan menurut Orem dikenal dengan Model Self Care.

Model Self Care ini memberi pengertian bahwa bentuk pelayanan

keperawatan dipandang dari suatu pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan

individu dalam memenuhi kebutuhan dasar dengan tujuan memperthankan

kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan keadaan sehat dan

sakit. Model keperawatan ini berkembang sejak tahun 1959-2001.


25

Model Self Care (perawatan diri) ini memiliki keyakinan dan nilai

yang ada dalam keperawatan diantaranya dalam pelaksanaan berdasarkan

tindakan atas keampuan. Self Care didasarkan atas kesengajaan serta

dalam pengambilan keputusan dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan.

Dalam pemahaman konsep keperawatan khususnya dalam pandangan

mengenai pemenuhan kebutuhan dasar, Orem membagi dalam konsep

kebutuhan dasar yang terdiri dari:

1. Air (udara): pemelihraan dalam pengambian udara.

2. Water (air): pemeliaraan pengambilan air

3. Food (makanan): pemeliharaan dalam mengkonsumsi makanan

4. Elimination (eliminasi): pemeliharaan kebutuhan proses eliminasi

5. Rest and Activity (Istirahat dan kegiatan): keseimbangan antara

istirahat dan aktivitas.

6. Solitude and Social Interaction ( kesendirian dan interaksi sosial):

pemeliharaan dalam keseimbangan antara kesendirian dan interaksi

sosial.

7. Hazard Prevention (pencegahan risiko): kebutuhan akan pencegahan

risiko pada kehidupan manusia dalam keadaan sehat .

3. Teori Keperawatan Orem

Pandangan teori Orem dalam tatanan pelayanan keperawatan ditujukan

kepada kebutuhan individu dalam melakukan tindakan keperawatan

mandiri serta mengatur dalam kebutuhannya. Dalam konsep praktik


26

keperwatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori Self Care, di

antaranya :

a. Perawatan Diri Sendiri (Self Care)

Orem berpendapat bahwa teori perawatan diri yang ia kemukakan,

merupakan bagian dari model konseptual keperawatan yang dapat

diterapkan oleh semua professional yang bekerja di bidang layanan

kesehatan, seperti dokter, ahli fisioterapi, ahli terapi wicara, dll dalam

pandangan Orem, perawatan diri merupakan proses pribadi yang

bersifat unik, serta suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang

perawat yang berlangsung secara continue sesuai dengan keadaan dan

keberadaannya , dan dipengaruhi oleh factor-faktor berikut ini :

1) usia

a) gender

b) kesehatan

c) pertumbuhan dan perkembangan

d) lingkungan social/budaya

e) sistem layanan kesehatan

f) keluarga

g) gaya hidup

Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari

seseorang dalam memelihara kesehatannya serta mempertahankan

kehidupannya. Terjadi hubungan antar pembeli self care dengan


27

penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan

tiga kategori / persyaratan self care yaitu :

2) Kebutuhan perawatan diri universal / Universal self care requisite :

Hal yang umum bagi semua individu, seperti kebutuhan untuk

memastikan seseorang bahwa ia makan dan minum, mendapat

istirahat yang cukup, eliminasi, serta berkaitan dengan fungsi

kemanusian dan proses kehidupan, biasanya mengacu pada

kebutuhan dasar manusia. Universal self care requisite yang

dimaksudkan adalah :

a) Pemeliharaan kecukupan intake udara

b) Pemeliharaan kecukupan intake cairan

c) Pemeliharaan kecukupan intake makanan

d) Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat

e) Pemeliharaan keseimbangan antara solitut dan interaksi sosial

f) Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan

kesejahteraan manusia.

1) Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses-proses eleminasi

dan exrement.

3) Kebutuhan perawatan diri pengembangan / Developmental self care

requisite : terjadi berhubungan dengan tingkat perkembangan

individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal, yang

berkaitan dengan perubahan hidup seseorang atau tingkat siklus

kehidupan.
28

4) Kebutuhan deviasi kesehatan / Health Deviation self care requisite :

timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan merupakan kebutuhan-

kebutuhan yang menjadi nyata karena sakit atau ketidakmampuan

yang menginginkan perubahan dalam perilaku self care.

b. Macam-macam teori self care :

1) Self Care Agency: merupakan suatu kemampuan individu dalam

melakukan perawatan diri sendiri, yang dapat dipengaruhi oeh usia,

perkembangan, sosiokultural, kesehatan dan lain-lain.

2) Theurapetic Self Care Demand: tuntutan atau permintaan dalam

perawatan diri sendiri yang merupakan tindakan mandiri yang

dilakukan dalam waktu tertentu untuk perawatan diri sendiri dengan

menggunakan metode dan alat dalam tindakan yang tepat.

3) Self Care Requisites: kebutuhan self care merupakan suatu tindakan

yang ditujukan pada penyediaan dan perawatan diri sendiri yang

bersifat universal dan berhubungan dengan proses kehidupan

manusia serta dalam upaya mepertahankan fungsi tubuh. Self Care

Reuisites terdiri dari beberapa jenis, yaitu: Universal Self Care

Requisites (kebutuhan universal manusia yang merupakan kebutuhan

dasar), Developmental Self Care Requisites (kebutuhan yang

berhubungan perkembangan indvidu) dan Health Deviation

Requisites (kebutuhan yang timbul sebagai hasil dari kondisi pasien).

c. Self Care Defisit


29

Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan

secara umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada

saat perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada

saat tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self carenya secara

terus menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang

belum dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta

adanya perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan

tuntutan dalam peningkatan self care, baik secara kualitas maupun

kuantitas. Dalam pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu

dalam proses penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk

proses tersebut diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain,

sebagai pembimbing orang lain, memberi support, meningkatkan

pengembangan lingkungan untuk pengembangan pribadi serta

mengajarkan atau mendidik pada orang lain.

4. Teori Sistem Keperawatan

a. Teori Sistem Keperawatan merupakan teori yang menguraikan secara

jelas bagaimana kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi oleh

perawat atau pasien sendiri. Dalam pandangan sistem ini, Orem

memberikan identifikasi dalam sistem pelayanan keperawatan

diantaranya:

b. Sistem Bantuan Secara Penuh (Wholly Copensatory System ).

Merupakan suatu tindakan keperawatan dengan memberikan bantuan

secara penuh pada pasien dikarenakan ketidamampuan pasien dalam


30

memenuhi tindakan perawatan secara mandiri yang memerlukan

bantuan dalam pergerakan, pngontrolan, dan ambulansi serta adanya

manipulasi gerakan. Pemberian bantuan sistem ini dapat dilakukan pada

orang yang tidak mampu melakukan aktivitas dengan sengaja seperti

pada pasien koma pada pasien yang sadar dan mungkin masih dapat

membuat suatu pengamatan dan penilaian tentang cedera atau masalah

yang lain akan tetapi tidak mampu dalam melakukan tindakan yang

memerlukan ambulasi atau manipulasi gerakan, seperti pada pasien

yang fraktur vetebrata dan pada pasien yang tidak mampu mengurus

sendiri, membuat penilaian serta keputusan dalam self care-nya dan

pasien tersebut masih mampu melakukan melakukan ambulasi dan

mungkin dapat melakukan beberapa tindakan self care-nya melalui

bimbingan secara continue seperti pada pasien retardasi mental.

d. Sistem bantuan sebagian ( Partially Compensasi System )

Merupakan sistem dalam pemberian perawatan diri secara sebagian saja

dan ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara minimal

seperti pada pasien yang post operasi abdomen dimana pasien ini

memiliki kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi, cuci muka akan

tetapi butuh pertolongan perawat dalam ambulasi dan melakukan

perawatan luka.

e. Sistem suportif dan edukatif.

Merupakan sistem bantuan yang diberikan pada pasien yang

membutuhkan dukungan pendidikan dengan harapan pasien mampu


31

memerlukan perawatan secara mandiri .sistem ini dilakukan agar pasien

mampu melakukan tindakan keperawatan setelah dilakukan

pembelajaran. Pemberian sistem ini dapat dilakukan pada pasien yang

memerlukan informasi dalam pengaturan kelahiran.

f. Metode bantuan :

Perawat membantu klien dengan menggunakan system dan melalui lima

metode bantuan yang meliputi :

1) Acting atau melakukan sesuatu untuk klien

2) Mengajarkan klien

3) Mengarahkan klien

4) Mensupport klien

Untuk melaksanakan hal tersebut, lima area utama untuk praktek

keperawatan di diskripsikan sebagai berikut :

1) Masuk kedalam dan memelihara hubungan perawat klien dengan

individu, keluarga atau kelompok sampai klien dapat diizinkan pulang

dari perawatan.

2) Menetapkan jika dan bagaimana klien dapat dibantu melalui perawatan.

3) Merespon keperluan klien, keinginannya dan kebutuhannya untuk

kontak dengan perawat dan asisten.

4) Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan keperawatan dan kehidupan

sehari-hari klien, pelayanan kesehatan yang dibutuhkan atau diterima,

atau pelayanan sosial dan penyuluhan yang dibutuhkan atau yang

diterima.
32

5. Hubungan model dengan paradigma keperawatan meliputi :

a. Manusia

Model orem membahas dengan jelas individu dan berfokus pada ide diri

dan perawatan diri . namun demikian seseorang dianggap paling

eksklusif dalam konteks ini, sedangkan kompleksitas perawatan

manusia dan tindakan manusia tiddak dipertimbangkan .

b. Lingkungan

Lingkungan juga dibahas dengan jelas dalam model ini . namun, hal ini

terutama dianggap sebagai situasi tempat terjadinya perawatan diri atau

kurangnya perawatan diri .

c. Sehat dan Sakit

Ide ini juga terdapat dalam model tersebut, namun dibahas dalam

kaitanya dengan perawatan diri. Alasanya adalah bahwa jika individu

dalam keadaan sehat mereka dapat memenuhi sendiri deficit perawatan

diri yang mereka alami.

d. Keperawatan

Model ini mebahas dengan cara yang jelas dan sistematik sifat dari

keperawatan dan kerangka kerja untuk memberikan asuhan

keperawatan.Harus diketahui bahwa hal tersebut ditampilkan dalam

entuk pendekatan mekanistik berdasarkan pendekatan suportif-edukatif,

kompensasi parsial, dan kompensasi total . pendekatan tersebut

merupakan pendekatan langsung yang dapat di tata laksanakan. Karena

hal itulah model ini sangat popular diantara para praktisi yang
33

berpendapat bahwa model yang lebih kompleks sulit untuk

diimplementasikan .

6. Tujuan Keperawatan Model Orem

Tujuan keperawatan pada model Orem"s secara umum adalah :

a. Menurunkan tuntutan self care pada tingkat dimana klien dapat

memenuhinya, ini berarti menghilangkan self care deficit.

b. Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi

tuntutan self care.

c. Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk

memberikan asuhan dependen jika self care tidak memungkinkan, oleh

karenanya self care deficit apapun dihilangkan.

Jika ketiganya diatas tidak tercapai perawat secara langsung dapat

memenuhi kebutuhan-kebutuhan self care klien.

Tujuan keperawatan pada model Orem's yang diterapkan kedalam praktek

keperawatan keluarga / komunitas adalah :

a. Menolong klien dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri

secara terapeutik.

b. Menolong klien bergerak kearah tidakan-tidakan asuhan mandiri.

c. Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluarganya yang

mengalami gangguan secara kompeten.

Dengan demikian maka fokus asuhan keperawatan pada model orem's

yang diterapkan pada praktek keperawtan keluaga/komunitas adalah:

a. Aspek interpersonal : hubungan didalam kelurga


34

b. Aspek social : hubungan keluarga dengan masyarakat disekitarnya.

c. Aspek procedural : melatih ketrampilan dasar keluarga sehingga

mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi

d. Aspek tekhnis : mengajarkan kepada keluarga tentang tehnik dasar yang

dilakukan di rumah, misalnya melakukan tindakan kompres secara

benar.