Anda di halaman 1dari 2

Patgulipat

Mario melirik kertas contekan yang ia sembunyikan di laci mejanya. Matanya menyusuri
sekeliling ruang kelas, mengawasi agar tidak ada yang menyaksikan tindakan
curangnya. Dengan sigap, ia menyalin contekan ke kertas ujiannya.

Mario adalah anak yang pemalas. Ia tak pernah belajar, bahkan mendengar kata itu
saja, ia muak. Ia juga lamban dalam memahami pelajaran, tetapi ia memang tak pernah
berusaha. Karena kemalasan dan ketakjujurannya, ia nekad menyontek saat ujian.

Tanpa Mario sadari, Pak Mahmudguru yang diamanatkan untuk mengawasi


kelangsungan ujianmencurigai gerak-geriknya, Pak Mahmud pun mengawasi Mario
dari belakang. Pak Mahmud membelalakkan matanya ketika menyaksikan Mario
sedang menyalin jawaban dari kertas contekan.

Dengan geram, Pak Mahmud menghampiri meja Mario dan menggebrak mejanya
dengan penggaris besi. Sontak, Mario terlonjak kaget. Pupilnya membesar dan
mulutnya menganga lebar.

Pak Mahmud merobek kertas ujian Mario hingga tak bersisa. Wajahnya memerah
karena marah akan tindakan muridnya tersebut.

Mario! Tindakanmu sama sekali tidak terpuji! Saya kecewa dengan tindakanmu,
Mario! gertak Pak Mahmud.

Semua murid menyaksikan Pak Mahmud yang sedang mencurahkan amarahnya pada
Mario. Mario tertunduk malu.

Mario! Kamu ikut saya ke ruang Kepala Sekolah, sekarang! pintah Pak Mahmud
tegas, masih dengan emosi yang membara.

Tanpa banyak berbicara, Mario berjalan mengekori Pak Mahmud ke ruang Kepala
Sekolah.

Kelar hidupku! batin Mario dalam hati.

Setelah Pak Mahmud mengetok pintu ruangan Pak HasanKepala Sekolah, Pak
Hasan segera menyambut mereka dengan hangat.

Apa tujuan kedatangan Bapak dan Mario kesini? tanya Pak Hasan ramah.

Begini Pak, tadi saya menangkap basah Mario sedang melakukan tindakan yang
sangat tidak terpuji. Ia menyalin jawaban dari kertas contekan. tutur Pak Mahmud
dengan emosi yang tertahan.

Pak Hasan yang semula ramah menampakkan raut kecewa.

Perbuatanmu adalah perbuatan yang sungguh tercela, Mario. tutur Pak Hasan.
Dengan sangat terpaksa, saya harus memanggil orangtuamu untuk datang ke sekolah
besok.

Seketika, Mario terperanjat.

______________________________________________________________________
_____________________

Keesokan harinya, Bu IrnaIbu Mariomemanggil Mario ke ruang duduk. Dengan


perasaan gelisah, Mario menghampiri ibunya itu.

Tadi, Ibu ke sekolahmu atas panggilan Kepala Sekolah. tutur Ibunya.

Kata beliau, kamu menyontek saat ulangan. lanjut Ibunya, ada sirat kecewa di
wajahnya.

Ibu kecewa sama kamu, Mario. Tidak seharusnya kamu menyontek, itu sama saja
dengan kamu berbuat curang. Ibu selalu mengingatkanmu untuk belajar, namun kamu
tidak pernah mengindahi nasihat Ibu. Mario, Ibu minta tolong padamu, belajarlah dengat
giat, agar kelak kamu bisa menjadi orang sukses. Ini kan batunya kalau kamu tidak
pernah belajar, kamu malah nekad menyalin jawaban saat ujian. Perbuatan curang itu
sangat tercela, Mario. tegur Ibunya, kemudian Ibunya melenggang pergi dengan raut
kecewa.

Perkataan Ibunya terngiang-ngiang dibenaknya. Ia pun sadar, bahwa perbuatannya


sangat tidak terpuji. Ia telah mengecewakan ibunya sendiri. Ia juga telah
mengecewakan gurunya. Mario pun bertekad, ia akan belajar dengan giat untuk
mencapai cita-cita dan membanggakan orang-orang terdekatnya. Ia juga berjanji, tak
akan pernah melakukan perbuatan tercela itu untuk yang kedua kalinya.