Anda di halaman 1dari 27

1

PENGARUH JUAL BELI CENGKEH TERHADAP PERTUMBUHAN


PEREKONOMIAN MASYARAKAT PASCA PANEN DI DESA LELEWAWO
KEC. BATUPUTIH KAB. KOLAKA UTARA

A. Latar Belakang Masalah


Islam mengajarkan agar manusia menjalani kehidupan secara benar,

sebagaimana telah diatur oleh Allah swt dalam al-Quran dan sunnah Rasulullah saw.

Bahkan, usaha untuk hidup secara benar dan menjalani hidup secara benar inilah yang

menjadikan hidup seseorang bernilai tinggi.

Ukuran baik buruk kehidupan sesungguhnya tidak diukur dari indikator-

indikator lain melainkan dari sejauh mana seorang manusia berpegang teguh kepada

kebenaran. Untuk itu, manusia membutuhkan suatu pedoman tentang kebenaran

dalam hidup, yaitu agama (dien). Seorang muslim yakin bahwa Islam adalah satu

satunya agama yang benar dan diridai Allah. Islam telah mencakup seluruh ajaran

kehidupan secara komperehensif. Agama merupakan kebutuhan manusia yang paling

penting. Islam mengajarkan bahwa agama bukanlah hanya ritualitas,1 namun agama

berfungsi untuk menuntun keyakinan, memberikan ketentuan atau aturan

berkehidupan serta membangun moralitas manusia.

Dalam konsep Islam, semua sistem kehidupan yang di dalamnya termasuk

sistem ekonomi harus dibangun dengan sebuah kebenaran.2 Manusia hidup dengan

berbagai macam tuntutan kebutuhan, membuat manusia untuk berfikir bagaimana

1
P3EI Universitas Islam Indonesia, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,
2008), h. 6
2
M. Sholahuddin, Asas-asas ekonomi Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h.11
cara untuk memenuhi semua tuntutan hidup, dalam pemenuhan kebutuhan hidup

manusia menggunakan sumber daya dalam rangka memproduksi berbagai komuditi,

kemudian disalurkan atau didistribusikan komoditi tersebut kepada berbagai individu/

personal dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. Dalam konsep Islam, Allah

telah menyediakan sumber daya dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup manusia

salah satu jenis usaha yang dibolehkan agama Islam adalah jual beli.

Membahas mengenai jual beli Cengkeh sistem Panjar yang terjadi di desa

Lelewawo, belakangan ini dapat dilihat bahwa persaingan para pedagang dalam

mencari keuntungan tidaklah lepas dari apa yang mereka pahami, yang mereka

lakukan hanya berfikir untuk mendapat keuntungan besar, tanpa melihat apakah ada

yang dirugikan dalam bermuamalah (jual beli). Memang masih banyak yang

dilakukan oleh masyarakat selama ini untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-

besarnya, seperti memberikan panjar kepada petani kemudian hasil pertaniannya

nanti akan dijual kepada sipemilik modal dengan ketentuan harga yang sudah di

sepakati. Namun jika dianalisa menurut Syariat Islam, masih terdapat hal-hal yang

tidak sesuai syariat Islam dalam melakukan transaksi jual beli.

Transaksi jual beli dibolehkan dalam Islam selama tidak ada yang saling

merugikan. Akan tetapi dilihat dari aspek harga yang kini terjadi justru ada

permainan, harga cengkeh sering kali mengalami pasang surut dalam artian harga

dipermainkan oleh para pedagang, inilah yang selalu menjadi permasalahan yang

2
mengakibatkan adanya penimbunan barang. Padahal dalam Islam yang namanya

penimbunan barang itu sangat dilarang karena bisa saja terjadi yang monopoli barang.

Islam telah mengajarkan bermuamalah dengan jalan saling tolong menolong,

ini akan lebih memudahkan manusia untuk mencapai kemajuan dalam hidup, karena

manusia tidak akan mungkin dapat memenuhi hajat hidupnya seorang diri tanpa

bantuan orang lain. Salah satu usaha untuk mencapai hajat hidup dengan

meningkatkan taraf hidup adalah dengan cara melakukan transaksi jual beli, pada

prinsip jual beli (perdagangan) adalah halal selama tidak melanggar aturan-aturan

syariah Islam, bahkan usaha perdagangan itu dianggap mulia apabila di lakukan

dengan cara jujur dan tidak ada unsur tipu menipu antara satu sama lain dan benar

berdasarkan prinsip syariah Islam.

Jual beli merupakan tindakan yang telah di syariahkan dalam Islam telah

terdapat hukumnya yang jelas dalam Islam, yang3 berkenaan dengan hukum taklifi.

Hukumnya adalah boleh atau kebolehannya dapat ditemukan dalam QS. An-nisa/4:

29








Terjemahannya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta


sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang
3
Departemen Agama RI,Al-Quran dan Terjemahaan, op.cit,. h.124

3
Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu
membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan penulis di atas, maka penulis

dapat mengemukakan pokok permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana jual beli Cengkeh sistem Panjar di Desa Lelewawo?

2. Bagaimana pelaksanaan jual beli cengkeh sistem Panjar di desa Lelewawo?

3. Bagaimana pelaksanaan jual beli cengkeh sistem Panjar di desa Lelewawo

berdasarkan ekonomi Islam?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk jual beli Cengkeh sistem Panjar yang terjadi di

Desa Lelewawo?

2. Untuk mengetahui pelaksanaan jual beli Cengkeh sistem Panjar yang terjadi

di desa Lelewawo?

3. Untuk mengetahui bentuk pelaksanaan jual beli cengkeh yang terjadi di desa

Lelewawo berdasarkan ekonomi Islam?

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini di harapkan dapat memberi mamfaat bagi semua pihak antara

lain:

1. Ilmiah

4
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat pendapatan masyarakat

setelah melakukan panen.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat di jadikan sebagai acuan di masa akan datang apabila

kelak menjadi seorang pedagang yang sukses.

E. Defenisi oprasional

Untuk menghindari kekeliruan penafsiran terhadap variabel, kata dan istilah

teknis yang terdapat dalam judul, maka penulis merasa perlu untuk mencantumkan

definisi operasional dan ruang lingkup penelitian dalam skripsi ini. Judul penelitian

ini adalah Persfektif Ekonomi Islam Terhadap Jual Beli Cengkeh System Panjar Pada

Masyarakat Petani Desa Lelewawo Kolaka Utara dengan pengertian antara lain :

1. Jual beli merupakan salah satu bentuk dasar dari kegiatan ekonomi yang

selalu di jumpai dan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari manusia karena itu

sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendasar.

2. Ekonomi adalah ilmu yang mengatur tentang alur keuangan dalam suatu

keluarga atau kelompok yang dapat dipergunakan dan dimanfaatkan.

3. Islam adalah agama yang mengatur kehidupan manusia secara kaffa agar

dapat memilih jalan yang benar sesuai apa yang telah di syariatkan.

4. Ekonomi Islam adalah ilmu eyang mengatur tentang keuangan dalam suatu

kelompok yang sesuai syariat agama Islam..

5
5. System Panjar adalah jual beli yang terjadi dimana pemilik modal

meminjamkan modalnya kepada petani untuk digunakan dimana hasil

pertaniannya akan dijual kepada yang memberikan modal dengan harga yang

miring.

Jadi defenisi oprasional dari judul ini adalah jual beli merupakan salah satu

kegiatan ekonomi yang selalu dijumpai dikehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk

jual beli yang terjadi di desa Lelewawo yaitu jual beli dengan system Panjar, system

ini gunakan antara pedagang dan petani, dalam bertani ada istilah panen yang

merupakan cara masyarakat untuk memetik hasil tanaman yang siap diambil buahnya

untuk dikelolah.

F. Penelitian terdahulu yang relevan

Penelitian terdahulu yang relevan adalah bertujuan untuk mendapatkan bahan

perbandingan dan acuan, serta untuk menghindari anggapan kesamaan dengan

penelitian ini, maka peneliti mencantumkan hasil penelitian terdahulu.

1. Ferawati Hamka.2013,Transaksi jual beli di pusat niaga Palopo

(PNP)dalampersfektif ekonomi syariah. Skripsi Institut Agama Islam Negri (IAIN)

Palopo Fakultas ekinomi dan bisnis Islam Jurusan ekonomi Islam.

Penelitian ini digunakan untuk mengetahui bentuk transaksi jual beli yang

terjadi di Pusat Niaga Palopo sesuai dengan ekonomi Syariah. Jenis penelitian ini

yaitu peneliktian lapangan untuk memberikan gambaran mengenai situasi, cara dan

6
factor yang menjelaskan hubungan dari berbagai permasalahan yang akan ndi teliti.

Adapun penelitian lapangan ini termasuk kategori dekskriptif kualitatif.

2. Penelitian yang dilakukan Ilyas (2011) dengan judul sistem jual beli di

pasar sentral Belopa Kabupaten Luwu (perspektif syariat Islam). Dalam penelitian

ini menggunakan metode Field Research dan metode Library Research.4 Hasil

penelitian ditemukan bahwa proses jual beli yang ada di pasar sentral Belopa sekitar

50% menjalankan sistem jual beli dalam pandangan syariat Islam, sebagian yang lain

masih melanggar aturan-aturan pemerintah maupun syariat Islam.5

Dari literatur yang telah dikemukakan di atas terdapat perbedaan dari

penelitian ini, yaitu penelitian terdahulu terletak pada lokasi penelitian dan rumusan

masalahnya.Maksudnya, penelitian sebelumnya berlokasi di Pasar Niaga Palopo dan

Pasar Sentral Belopa. Dari objek tersebut penelitian sebelumnya mengangkat suatu

masalah yang berkaitan dengan hakikat jual beli dalam perspektif syariat Islam dan

hambatan apa yang dihadapi oleh masyarakat dalam melakukan sistem transaksi jual

beli, serta memberikan suatu solusi dari masalah tersebut. Sedangkan penelitian

penulis berlokasi di Desa Lelewawo, dan penulis akan menjelaskan tentang persfektif

ekonomi Islam terhadap jual beli cengkeh pada masyarakat petani. Kemudian dari

hasil penguraian masalah tersebut peneliti akan membandingkan melalui pandangan

jual beli.

4
Ferawati Hamka, transaksi jual beli di pusat niaga palopo (PNP) dalam perspektif syariah
Islam.skripsi, (jurusan syariah STAIN: palopo, 2011), h.10
5
Ilyas, transaksi jual beli di pasar sentral Belopa Kabupaten Luwu (perspektif syariat Islam).
Skripsi, (jurusan syariah STAIN: Palopo, 2013), h.10

7
G. Kanjian Pustaka

1. Pengertian jual beli

Perkataan jual beli terdiri dua suku kata yaitu jual dan beli kata jual

menunjukkan bahwa adanya perbuatan menjual, sedangkan beli adalah adanya

perbuatan pembeli. Dengan demikian, perkataan jual beli menunjukkan adanya

perbuatan dalam satu peristiwa, yaitu satu pihak menjual dan pihak lain membeli

maka dalam hal ini terjadilah hukum jual beli.

Adapun pengertian jual beli menurut syariat Islam adalah pertukaran harta

atas dasar saling rela atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan

oleh hukum Islam (berupa alat tukar yang sah). Sebagian ulama memberi pengertian:

tukar menukar harta meskipun masih ada dalam tanggungan atau pemanfaatan yang

mubah dengan sesuatu yang semisal dengan keduanya, untuk memberikan secara

tetap.

Sedangkan jual beli menurut terminologi ada beberapa definisi yang

dikemukakan oleh ulama fiqih. Dikalangan ulama Mahzhab diantaranya :

1) Mazhab Hanafiyah yang dikutip oleh Suhrawardi K. Lubis terdapat dua

definisi:

8
a. Pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang

di bolehkan)6

b. Tukar menukar sesuatu yang di inginkan dengan yang sepadam melalui

cara tertentu yang bermanfaat. 7

2) Sedangkan menurut ulama Mahzhab Maliki, Syafii, dan Hambali Adalah

yang dimaksud jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk

pemindahan milik dan pemilikan. Dalam hal ini Mereka melakukan penekanan pada

kata milik dan pemilikan, karena ada juga tukar-menukar harta tersebut yang

sifatnya, seperti sewa-menyewa (ijarah).

Jual beli merupakan tindakan atau transaksi yang telah disyariatkan dalam

arti telah ada hukumnya yang jelas dalam Islam yang berkaitan dengan hukum jual

beli.Seperti yang telah di jelaskan Allah dalam QS.Al-Imran/3: 130






Terjemahanya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat
ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.

Firman Allah dalam QS. Ar-Rum/30: 39

6
Rahmat syafei, fiqihmuamalah, (Cet. 1; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), h. 74

7
M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, (Cet. 2; Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2004), h. 113

9







Terjemahannya :

dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada
harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan
Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat
gandakan (pahalanya).

memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya, dan orang yang

menyuburkan sedekah adalah mengembangkan harta yang telah dikeluarkan

sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.

Allah itu tidak menghalalkan sesuatu kecuali kalau ada kemaslahatan umum

dan tidak mengharamkannya kecuali mengandung bahaya dan menjadikan cara-cara

bermuamalah dengan manusia dan mengambil faedah bagi satu pihak dari pihak lain

tanpa kerja, karena itu maempunyai unsur bathil karena tidak mempunyai

kompensasi.

Sedangkan orang-orang yang meribahkan hartanya tidak dapat bangkit dari

kuburnya nanti, seperti bangunnya orang yang di serang pukulan syetan dengan

kekuatan yang sudah menurun tercengang lagi terhuyung-huyung. Hal ini di sebabkan

karena mereka menganalogikan riba dengan jual beli.Sedang pada hakekatnya

tidaklah demikian.Allah menghalalkan jual beli, lantaran berdiri di atas peraturan

10
yang adil dan mengharamkan riba lantaran riba membahayakan masyarakat dalam

perekonomian.

Sesungguhnya Allah memberikan syariat bagi para hamba-Nya sesuatu hal

yang dapat mendidik mereka agar mempunyai sifat saling tolong-menolong bukan

membahayakan satu sama lain, terlebih lagi ketika ada orang yang sangat

membutuhkan pertolongan. Karena itu Allah mengharamkan riba bagi para hamba-

Nya karena dapat membelenggu kesulitan saudaranya, dan menghalalkan jual-beli

yang tujuannya tidak mengambil keuntungan dengan memakan harta orang miskin

yang kesusahan.

Jual beli artinya menukarkan barang dengan barang atau barang dngn uang.

Dengan jalan melepaskan hak milik dari seseorang terhadap orang lain atas dasar

kerelaan kedua belah pihak. Jual beli juga merupakan suatu perbuatan tukar menukar

dengan barang atau uang dengan barang, tampa bertujuan mencari keuntungan. Hal

ini karna alas an orang menjual membeli barang adalah untuk suatu keperluan, tampa

menghiraukan untung ruginya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa setiap

perdagangan dapat dikatakan jual beli, tetapi tidak semua jual beli dapat dikatakan

perdagangan.

Adapun rukun perdagangan jual belin adalah :

1. Ada baarang atau uang

2. Ada penjual atau pembeli

11
3. Ada ijab kabul, sebagai tanda kerelaan antara kedua pihak baik di lakukan

dengan lisan maupun dengan surat-menyurat sebagaimana akan di terangkan

pada uraian selanjunya. Firman Allaah SWT dalam Q.s at-taubah/9: 111















Terjemahannya :

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada
jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji
yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah
yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah
dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang
besar.8

2. Mencari barang yang halal

Dalam melakukan jual beli, hal yang penting diperhatikan ialah mencari

barang yang halal dan dengan jalan yang halal pula. Artinya, carilah barang yang

halal untuk diperjual belikan atau diperdagangkan dengan cara yang sejujur-jujurnya.

8
Ibnu masud dan Zainal abidin s, muamalah, munakahat, jinayat. (CV. Pustaka setia, 2000),
h. 23

12
Bersih dari segala sifat yang dapat merusak jual beli, seperti penipuan, pencurian,

perampasan, riba, dan lain-lain.

Jika barang yang di perjualbelikan tidak sesuai dengan yang tersebut di atas,

artinya tidak mengindahkan peraturan-peraturan jual beli, perbbuatan dan barang

hasil jual beli yang dilakukan haram hukumnya.Haram dipakai dan haram dimakan

sebab tergolong perbuatan batil (tidak sah).

Yang termasuk perbuatan batil adalah sebagai berikut :

1. Penipuan (khidah)

2. Perampasan (gasab)

3. Makan riba (aklur riba)

4. Penghianatan (khianat penggelapan)

5. Perjudian (maisir)

6. Suap (risywah)

7. Berdusta (kiddzid)

8. Pencurian (sirqah)

Semua hasil di peroleh dengan kedelapan cara tersebut, haram dimakan,

haram dipakai, dan haram dipergunakan.

3. Rukun jual beli

Rukun jual beli terdiri atas tiga macam yaitu :

a. Akad (ijab Kabul)

b. Orang yang berakad (pembeli dan penjunal)

c. Makud alaihi (uang dan barang)

13
1. Akad

Akad artinya persetujuan antara si penjual dan si pembeli. Umpamanya, aku

menjual barangku dengan harga sekian, kata si penjual. aku membeli barangmu

dengan harga sekian,sahut si pembeli. Perkataan penjual di namakan ijab, sedangkan

perkataan pembeli di namakan Kabul.

Jual beli belum dapat dikatakan sah sebelum ijab Kabul dilakukan. Hal karna

ijab Kabul menunjukkan kerelaan kedua belah pihak. Pada dasarnya ijab kabul itu
9
harus dilakukan dengan lisan. Akan tetapi, atau penjualnya jauh, boleh dengan

perantara surat-menyurat yang mengandung arti ijab kabul itu. Hadits Rasulullah

SAW, menyatakan : 10

Adapun kerelaan tidak dapat dilihat sebab berhubungan dengan hati. Oleh karna

itu, wajiblah dihubungkan dengan sebab lahhir yang meunjukkan kerelaan itu, yaitu

sigad (ijab kabul). Pengarang subulussalam lebih lanjut mengatakan, Dalam hal ini

dapat dikecualikan jual beli barang yang tidak begitu tinggi harganya, seperti jual beli

barang-barang keperluan sehari-hari. Karna sudah menjadi kebiasaan, dalam jual beli

tersebut tidak perlu lagi ijab Kabul. Ini adalah pendapat di kalangan jumhur ulama.

Menurut fatwa ulama Syafiiyah, pada jual beli yang kecil pun harus disebutkan

lafal ijab Kabul, seperti jual beli lainnya. Akan tetapi, Nawawi dan kebanyakan

ulama Mutaakhirin dari ulama Syafiiyah tidak mensyaratkan akad pada barang yang

tidak begitu tinggi harganya, seperti jual beli sebungkus rokokdan lain-

9
ibid, hal. 25
10
ibid, hal. 26

14
lainnya.Selanjutnya, pengarang subulussalam berkata lagi, pendapat yang hak dalam

personal ini ialah belumlah sempurna dalil yang menjelaskan diisyarakannya ijab

Kabul itu.Hakikat jual beli yang sebenarnya ialah tukar-menukar yang timbul dari

kerelaan masing-masing, sebagaimana yang dipahami dari ayat dan hadits. Karena itu

tersembunyi di dalam hati, kerelaan harus diketahui denganqarinah tanda-tanda),

yang sebagiannya ialah dengan ijab Kabul.

Adapun syarat sah ijab Kabul antara lain :

a. Tidak ada yang membatasi (memisahkan). Si pembeli tidak boleh diam saja

setelah si penjualmenyatakan ijab, atau sebaliknya.

b. Tidak diselingi oleh kata-kata lain.

c. Tidak ditalikkan. Umpamanya, jika bapakku telah mati, barang ini akan

kujual kepadamu, dan lain-lain.

d. Tidak dibatasi waktunya. Umpamanya, aku jual barang ini kepadamu untuk

sebulan ini saja, dan lain-lain.

Jual beli seperti ini tidak sah sebab suatu barang yang sudah dijual menjadi

hak milik bagi Si pembeli untuk selama-lamanya, dan Si penjual tidak berkuasa lagi

atas barang itu.11

2. Orang yang berakal

Bagi orang yang berakad diperlukan beberapa syarat antara lain :

11
Ibib, h. 27

15
a. Balig (berakal) agar tidak mudah ditipu orang. Tidak akad anak kecil, orang

gila, atau orang yang bodoh sebeb mereka bukan ahlitasarruf (pandai

mengendalikan harta). Oleh sebab itu, harta benda yang dimilikinya sekalipun

tidak boleh diserahkan kepadanya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An-

nisa : 5.

Harta benda tidakboleh diserahkan kepada orang yang bodoh (belum

sempurna akalnya).Hal ini berarti orang yang bukan merupakan ahli tasarruf

tidak boleh melakukan jual beli dan melakukan akad (ijab Kabul).

b. Beragama Islam. Syarat hanya tertentu untuk pembeli saja, bukan untuk

penjual, yaitu di dalam yang dibeli tertulis firman Allah walaupun satu ayat,

seperti membeli kitab Al-quran atau kitab-kitab hadits Nabi. Begitu juga

kalau yang dibeli adalah budak yang beraga islam. Kalau dujual kepada kafir,

mereka akan kerendahkan atau menghina Islam dan kaum muslimin sebab

mereka berhak berbuat apapun kepada sesuatu yang sudah dibelinya. Allah

SWT melarang keras orang-orang mukmin member jalan bagi orang kafir

untuk menghina mereka.

3. Barang yang diperjual belikan

Syarat barang yang diperjual belikan adalah sebagai berikut :12

a. Suci atau mungkin disucikan. Tidaklah sah menjual barang najis, seperti

anjing, babi, dan lain-lainnya.

Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya :

12
Ibid, h. 28

16


:




:




:
:
:



Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, sesungguhnya Allah dan
Rasul telah mengharamkan jual beli arak, bangkai, babi, dan berhala. (H.R.
Bukhari dan Muslim)

Menurut madzhab SyafiI, penyebab diharamkannya jual beli arak,

bangkai, babi dan anjing adalah najis (rijs,keji), sebagaimana yang dijelaskan

dalam hadits Nabi SAW di atas. Adapun mengenai berhala, pelarangannya

bukan karena najis, melainkan semata-mata tidak ada manfaatnya. Bila iatelah

dipecah-pecah menjadi batu biasa, berhala tersebut boleh diperjual belikan

sebab dapat dipergunakan untuk bahan bangunan, dan lain-lainnya.

Pengarang kitab subulissalam berkata, Dikatakan bahwa yang

menjadi illat dalam persoalan haram menjual tiga macam yang pertama (arak,

bangkai, dan babi) ialah najis.13Akan tetapi, dalil yang menunjukkan najis

arak, (najis aini) tidak dapat dipahami.Demikian pula najis bangkai dan

babi.Barang siapa yang menjadikan najis sebagai illat larangan itu, berlaku

pula hukum itu pada haramnya menjual tiap-tiap yang najis.14

Adapun tentang perkara kucing, pengarang itu berkata, Dalam

perkara ini timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mereka yang


13
Ibid,h. 29
14
Ibid, h. 30

17
mengharamkan jual beli kucing ialahAbu Hurairah, Thaus, dan Mujahid,

sedangkan jumhur berkata bahwa jual beli kucing dibolehkan kalau ada

manfaatnya.Mereka mengatakan bahwa larangan yang terkandung dalam

hadits tersebut menyalahi lahir hadits.

Pengarang kitab Bidayatul Mujatahid berkata :

Adapun mengambil (menerima) uang penjualan kucing tetap haram

hukumnya karena beralasan hadits yang sahih.Akan tetapi, jumhur

membolehkan karena kucing itu suci airnya (boleh disentuh) dan boleh pula

diambil manfaatnya.

b. Member manfaat menurut syarah. Tidaklah sah memperjual belikan jangkrik,

ular, semut, atau binatang buas.15 Harimau, buaya, dan ular boleh dijual kalau

hendak diambil kulitnya untuk disamat, dijadikan sepatu, dan lain-lain.

Namun tidak sah bila digunakan untuk permainan karena menurut syara tidak

ada manfaatnya. Begitu juga alat-alat yang digunakan untuk perbuatan yang

haram atau meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT. Perbuatan itu

digolongkan mubazir (sia-sia) dan dilarang keras oleh agama.

c. Dapat diserahkan secara cepat atau lambat. Tidaklah sah menjual binatang-

binatang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap lagi, atau barang-barang

yang hilang, atau barang yang sulit dihasilkan.16

d. Milik sendiri. Tidaklah sah menjual barang orang lain tampa seizin

pemiliknyaatau menjual barang yang hendak menjadi milik.


15
Ibid, h. 31
16
Ibid, h. 32

18
e. Diketahui (dilihat). Barang yang diperjualbelikan harus diketahui banyak,

berat, dan jenisnya.

Melempar di sini adalah melempar suatu barang tertentu atau melempar

barang yang telah disediakan di suatu tempat, kemudian tak ada satu barang pun yang

terkena lemparan, si pembeli tidak mendapat apa-apa padahal uangnya telah

diserahkan kepada penjual.Dengan demikian, hal it merugikan pembeli.Begitu pula

member tanah sejauh lemparan, membeli ikan yang ada di dalam kolam, dan

sebagainya sebab tidak kelihatan jumlah dan jenisnya.Perbuatan ini tidak hanya

tergolong npenipuan, tetapi juga termasuk judi.

4. Dasar hukum jual beli


Dasar hukum dari jual beli terdapat dalam QS. Al-Baqarah (2) : 275


...........

Terjemahnya :
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.17

Hal yang menarik dari ayat tersebut adalah dengan adanya pelarangan riba

yang didahului oleh penghalalan jual beli.Jual beli (trade) adalah bentuk dasar dari

kegiatan ekonomi manusia.Kita mengetahui bahwa pasar tercipta oleh adanya

transaksi dri jual beli.Pasar dapat timbul manakala terdapat penjual yang menawarkan

barang maupun jasa untuk dijual kepada pembeli.Dari konsep sederhana tersebut

lahirlah sebuah aktivitas ekonomi yang kemudian berkembang menjadi suatu sistem

perekonomian. . Firman Allah dalam QS.al-Baqarah (2) : 198

Rahmat syafei, fiqihmuamalah, (Cet. 1; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), h. 108
17

19

...
Terjemahnya:

Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu.

5. Kerangkan Fikir
Kerangka fikir, merupakan model konseptual tentang bagaimana teori

berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang

penting.kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar

variabel yang akan diteliti.18

Kerangka fikir yang dikemukakan dalam penelitian ini, adalah garis besar

struktur teori yang digunakan untuk mengarahkan penelitian mengumpulkan data

tentang Pengaruh Jual Beli Cengkeh Terhadap Pertumbuhan Prekonomian

Masyarakat Pasca Panen.

Berikut pemaparan kerangka fikir dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Masyarakat Petani Cengkeh

Desa Lelewawo

Juall beli sistem


Ekonomi Islam
panjar

18
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan , (Cet. XV; Bandung: Alfabeta, 2012), h. 91.

20
Dalam kerangka fikir di atas menggambarkan alur para petani Cengkeh di

Desa Lelewawo melakukan transaksi jual beli. Dimana jual beli tersebut akan

berimplikasi pada keadaan Ekonomi mereka, dalam penelitian ini akan dilihat proses

jual beli yang dilakukan oleh para petani tersebut apakah sesuai dengan syariat Islam

atau tidak, dan apakah selama ini masyarakat melakukan jual beli sudah sesuai

dengan norma-norma yang di syariatkan.

H. Metode Penelitian

1. pendekatan dan jenis penelitian


a. Pendekatan penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriktif kualitatif.

Metode deskriktif tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji

hipotesa atau membuat19 prediksi. Metode deskriktif bertujuan untuk

melukiskan secara sistematis karakteristik populasi atau bidang-bidang

tertentu secara faktual dan cermat tampa mencari atau menjelaskan suatu

hubungan.

b. Jenis penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan usaha memberikan

gambar situasi dan kejadian

2. Lokasi penelitian

19
Djamaan Satori dan Komaria, Metode Penelitian, (Jakarta: Kencana Media, 1995, h, 2

21
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di Desa Lelewawo. Lokasi ini

di pilih sesuai dengan objek yang akan dikaji dalam penelitian ini.

3. Sumber data

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber yang

diteliti. Yang dilakukan dengan cara wawancara langsung kepada narasumber

penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak tertentu yang sangat

berhubungan dengan penelitian. Data diperoleh dengan cara:

1) Pencatatan, yaitu dengan mencatat dari laporan-laporan yang mendukung

penelitian.

2) Studi Kepustakaan, yaitu metode pengumpulan data dengan membaca

referensi yang berhubungan dengan objek penelitian. 20

3) Literatur, yaitu dari internet dan buku-buku yang dianggap relevan terutama

dalam hal menunjang tinjauan teoritis terhadap penulisan skripsi ini.

4. Teknik pengumpulan data


Dalam proses pengumpulan data, penulis menggunakan beberapa teknik

sebagai berikut:

a. Field Research
20
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, h. 85

22
pengumpulan data yang berkaitan dengan judul skripsi ini langsung dari

lokasi penelitian. Pada teknikini digunakan beberapa instrument sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yang21 dilakukan adalah observasi terstruktur, yaitu observasi yang

telah dirancang secara sistemastis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana

tempatnya. Dalam hal ini peneliti terlebih dahulu merencanakan hal-hal apa saja

yang akan diamati agar masalah yang dipilih dapat di pecahkan. Menurut Husaini

Ustman dan Purnomo Setiady Akbar, observasi ialah pengamatan dan pencatatan

yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.22 Observasi menjadi salah satu

teknik pengumpulan data yang memiliki tujuan untuk mengetahui proses transaksi

jual beli yang dilakukan oleh para pedagang jilbab dengan para konsumen.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung

secara lisan antara dua orang.23 atau lebih bertatap muka mendengarkan secara

langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.24 Wawancara merupakan

alat pengukuran informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada

narasumber yang diajukan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. Hasil

wawancara kemudian diolah dan dikolaborasikan dengan hasil yang dikumpulkan

21
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 205
22
Husaini Ustman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi PenelitianSocial, (cet. III;
Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 5.

23
Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B, h. 142
24
Cholid narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Cet. X; Jakarta: PT. Bumi
Aksara 2009), h. 83

23
dari pola pengumpulan data yang lainnya. Teknik wawancara yang digunakan peneliti

adalah wawancara tidak terstruktur karena peneliti tidak menggunakan pedoman

wawancara, penelliti menyiapkan alat perekam suara, buku dan lembaran kertas

untuk mencatat informasi yang diperoleh.

3. Dokumentsi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis

catatan seperti catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, notulen rapat, agenda dan

lain sebagainya. Teknik dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan

mencatat data-data yang sudah ada.

Berdasarkan pengertian dari dokumentasi dapat dipahami bahwa dokumen

merupakan data-data yang telah lalu baik yang dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan

ataupun gambar yang berkaitan dengan penellitian ini.Dokumen bisa berbentuk

tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.

b. Library Research,

metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca buku-buku

yang merujuk dengan pembahasan skripsi ini penulis menggunakan teknik

pengutipan sebagai berikut:

1) Kutipan langsung, yaitu mengutip tanpa mengubah redaksi teks yang

dikutip sebagaimana dengan teks aslinya.

24
2) Kutipan tidak langsung, yaitu mengutip dengan hanya mengambil intisari

atau makna dari teks yang dikutip tanpa mengikuti redaksi aslinya.25

5. Teknik pengelolaan data dan analisis data

Maleong menyimpulkan bahwa analisis data adalah proses

mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola,26 kategori, satuan uraian

dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dirumuskan hipotesis kerja sebagaimana

yang disarankan oleh data.27

Data yang telah diperoleh dan diolah dalam penulisan proposal ini, akan

dianalisa dengan menggunakan teknik sebagai berikut:

a. Teknik induktif, yaitu teknik analisis data yang bertitik tolak pada teori

pengetahuan yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan yang

bersifat umum.

b. Teknik deduktif, yaitu suatu bentuk penganalisaan yang bersifat umum

kemudian menarik kesimpulan yang bersifat khusus.

c. Teknik komporatif, yaitu analisa data dengan membandingkan suatu fakta

dengan fakta yang lain tentang masalah yang berhubungan dengan

pembahasan kemudian suatu kesimpulan.28

25
Amirul Hadi Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan II, (Bandung: Pustaka Setia,
1998), h. 83

26
Menurut L.C Maleong Dalam Lestari (2013
27
Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian Research, (Cet, II: Yogyakarta: UGM, 1997),h. 66
28
Winarni Surachman, Desain Tehnik Research, (Bandung: Tarsito, 1997), h. 137

25
I. Daftar pustaka

Hadi Sutrisno, Metodologi Penelitian Research, Cet, II: Yogyakarta: UGM. 1997

P3EI Universitas Islam Indonesia, Ekonomi Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo

Persada, 2008

L.C Maleong Dalam Lestari 2013

M. Sholahuddin, Asas-asas ekonomi Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007

Ferawati Hamka, Transaksi jual beli di pusat niaga palopo (PNP) dalam perspektif
syariah Islam. skripsi, (jurusan syariah STAIN: palopo, 2011)
Ilyas, transaksi jual beli di pasar sentral Belopa Kabupaten Luwu (perspektif
syariat Islam).Skripsi, jurusan syariah STAIN: Palopo, 2013
Rahmat syafei, fiqih muamalah, Cet. 1; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001

M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, Cet. 2; Jakarta: PT


RajaGrafindo Persada, 2004

26
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta: PT. Syaamil Cipta

Media, 2004

Ibnu masud dan Zainal abidin s, Muamalah, Munakahat, Jinayat. CV. Pustaka setia,

2000

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan , Cet. XV; Bandung: Alfabeta, 2012

Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B

Satori Djamaan dan Komaria, Metode Penelitian, Jakarta: Kencana Media, 1995

Surachman Winarno, Desain Tehnik Research, Bandung: Tarsio, 1997

27