Anda di halaman 1dari 10

Perubahan Fisik pada Lansia dan Inkonsistensi Urin pada Lansia

Kelompok F5
Winaldi Sandimusti 102012207
Anthoni Djohary 102012031
Asrianti Saddi Pairunan 102013280
Julio Atlanta Chandra 102014089
Venny Debora Yolanda 102014125
Mohamad Yanuar Prasetyo Nugroho 102014191
Nur Ayuni Syahira bt Rosli 102014238

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida


Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

1
Abstrak

Seseorang yang bertambah umurnya akan mencapai tingkat dimana ia menjadi


seorang lansia atau usia lanjut. Seseorang yang telah mencapai tingkat lansia akan mengalami
perubahan-perubahan yang umumnya merupakan penurunan dalam segi fisik, sosial dan
psikologisnya, yang umumnya dapat di cegah dengan memberikan perawatan pada diri sebaik
mungkin. Salah satu kelainan yang dapat dialami seseorang yang telah menjadi lansia adalah
inkonsistensi urin, kecil. Secara normal proses berkemih merupakan proses dinamik yang
memerlukan rangkaian koordinasi proses fisiologis yang berurutan, kelainan ini merupakan
kelainan yang terjadi karena seseorang tidak dapat menahan rasa ingin membuang air.
Terdapat 4 jenis inkonsistensi urin, yaitu inkonsistensi urgensi, stress, overflow dan
fungsional. Pada umumnya terapi inkontinensia urin adalah dengan cara operasi. Akan tetapi
pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif
Kata kunci: Perubahan fisik, proses berkemih, inkonsistensi urin, 4 jenis inkonsistensi urin

Abstract
People that become older will reach a level where he/she become an elderly. People
that become an elderly will have some changes that usually lower their physical, social and
psychology, that is generally could be prevented with giving treatment as best as they could.
One of many anomaly that could happen when someone become an elderly is urinary
incontinence. Normally, the process of micturition is a dynamic process that needs a series of
coordination of consecutive physiological process, this anomaly is an anomaly that happen
because someone cant hold their feeling to urinating. There is 4 kind of urine incontinence,
that is incontinence urgency, stress, overflow, and functional. Generally therapy for urine
incontinence is with operation, but there is some light and moderate cases that could be tried
with conservative therapy
Keyword: Physical changes, micturition process, urine incontinence, 4 kind of urine
incontinence

Perubahan tubuh pada lansia

Seseorang yang bertambah umurnya cepat atau lambat akan menjadi seorang lansia.
Ketika menjadi tua maka tentu akan terjadi dan terlihatan adanya perubahan pada fisik, sosial
dan psikologisnya. Perubahan-perubahan yang terjadi adalah:

1. Perubahan fisik
a. Sel : jumlah berkurang, ukuran membesar, cairan tubuh menurun, dan
cairan intraseluler menurun

2
b. Kardiovaskular : katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa
darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume), elastisitas pembuluh
darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
sehingga tekanan darah meningkat
c. Respirasi: otot-otot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas
paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik napas lebih
berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk
menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus.
d. Persarafan : saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta
lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan
dengan stres berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga
menyebabkan berkurangnya respon motorik dan refleks.
e. Muskuloskeletal: cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh
(osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku
(atrofi otot), kram, tremor, tendon mengerut, dan mengalami sklerosis.
f. Gastrointestinal: esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar
menurun, dan peristaltik menurun sehingga daya absorpsi juga ikut
menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun
sehingga menyebabkan berkurangnnya produksi hormon dan enzim
pencernaan
g. Genitourinaria: ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun,
penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga
kemampuan mengonsentrasi urin ikut menurun
h. Vesika urinaria: otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi
urin. Prostat terjadi hipertrofi pada 75% lansia.
i. Vagina: selaput lendir mengering dan sekresi menurun
j. Pendengaran: membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan
pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan
k. Pengelihatan: respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap
menurun, akomodasi mennurun, lapang pandang menurun, dan katarak
l. Endokrin: produksi hormon menurun
m. Kulit: keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung
dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut

3
memutih (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta
kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk.
n. Belajar dan memori: kemampuan belajar masih ada tetapi relatif menurun.
Memori ( daya ingat) menurun karena proses encoding (penerimaan
informasi) menurun
o. Intelegensi : secara umum tidak banyak berubah
p. Personalitas: tidak banyak perubahan, hampir seperti saat muda
2. Perubahan Psikologis : perubahan psikologis pada lansia meliputi short term
memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi
kematian, perubahan keinginan, depresi dan kecemasan. Dalam psikologi
perkembangan lansia dan perubahan yang dialaminya akibat proses penuaan
digambarkan oleh hal-hal berikut
a. Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus bergantung pada
orang lain
b. Status ekonominya sangat terancam, sehingga cukup beralasan untuk
melakukan berbagai perubahan besar dalam pola hidupnya.
c. Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi
dan kondisi fisik
d. Mencari teman baru untuk menggantikan suami atau istri yang telah
meninggal atau pergi jauh dan/ atau cacat.
e. Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin
bertambah
f. Belajar untuk memperlakukan anak yang sudah besar sebagai orang
dewasa
3. Perubahan umum dalam penampilan lansia
a. Bagian kepala: bentuk mulut berubah akibat kehilangan gigi atau karena
harus menggunakan gigi palsu, pengelihatan agak kabur, mata tidak
bercahaya dan sering mengeluarkan cairan, dagu mengendur dampak
berlipat, pipi berkerut, kulit berkerut dan kering, bintik hitam pada kulit
tampak lebih banyak, serta rambut menipis dan berbuah menjadi putih atau
abu-abu
b. Bagian tubuh: bahu membungkuk dan tampak mengecil, perut membesar
dan tampak membuncit, pinggul tampak mengendur dan lebih lebar
dibandingkan dengan waktu sebelumnya, garis pinggang melebar
4
menjadikan badan tampak seperti terhisap, serta payudara bagi wanita
menjadi kendur
c. Bagian persendian: pangkal tangan menjadi kendur dan terasa berat
sedangkan ujung tangan tampak mengkerut.

Penanggulangan masalah akibat perubahan-perubahan

1. Penanggulangan perubahan fungsi tubuh:


a. Perawatan diri sehari-hari.
b. Senam/latihan pergerakan secara teratur.
c. Pemeriksaan kesehatan secara rutin.
d. Minum obat secara teratur jika sakit.
e. Memakan makanan bergizi.
2. Penanggulangan masalah akibat perubahan psikologis
a. Mengenal masalah yang sedang dihadapi.
b. Menerima proses penuaan.
c. Memberi nasihat dan pandangan.
d. Beribadah secara teratur.1

Masalah kesehatan jiwa yang sering timbul pada lansia

1. Kecemasan
a. Perasaan khawatir atau takut yang tidak rasional akan kejadian yang akan
terjadi.
b. Sulit tidur sepanjang malam.
c. Rasa tegang dan cepat marah.
d. Sering membayangkan hal-hal yang menakutkan.
2. Depresi
a. Merupakan masalah kesehatan jiwa yang sering terjadi.
b. Sering mengalami gangguan tidur atau sering terbangun pagi-pagi yang bukan
merupakan kebiasaannya sehari-hari.
c. Kebersihan dan kerapihan diri sering terabaikan.
d. Cepat sekali marah atau tersinggung.
e. Daya konsentrasi berkurang.
f. Berkurang atau hilangnya nafsu makan sehingga berat badan menurun secara
cepat.

5
g. Kadang-kadang pembicaraannya ada kecendrungan untuk bunuh diri.
3. Insomnia
a. Kurangnya kegiatan fisik dan mental sepanjang hari sehingga mereka masih
semangat sepanjang malam.
b. Tertidur sebentar-bentar sepanjang hari.
c. Gangguan cemas dan depresi.
d. Tempat tidur dan suasana kamar kurang nyaman.
4. Paranoid
5. Demensia
a. Demensia senilis : gangguan mental yang berlangsung progresif, lambat, dan
serius yang disebabkan oleh kerusakan organik jaringan otak.1

Menurunnya respon tubuh cenderung membuat seorang yang usia lanjut sulit untuk
memelihara kestabilan homeostatis tubuh.

Salah satunya adalah inkontinensia urin dimana terjadi ketidakmampuan seseorang


dalam menahan air kencingnya. Inkontinensia urin merupakan salah satu keluhan utama pada
penderita lanjut usia, batasan inkontinensia adalah pengeluaran urin tanpa disadari, dalam
jumlah dan frekuensi yang cukup sehingga mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau
sosial.1

Proses Berkemih

Secara normal proses berkemih merupakan proses dinamik yang memerlukan rangkaian
koordinasi proses fisiologik yang berurutan. Secara umum terdapat 2 fase yaitu fase
penyimpanan dan fase pengosongan. Diperlukan keutuhan struktur dan fungsi komponen
saluran kemih bawah, kognitif, fisik, motivasi dan lingkungan.2

Ada mekanisme yang berada di luar kendali dalam melaksanakan proses berkemih.
Proses ini dikendalikan oleh sistem saraf. Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul
berada dibawah kendali saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih dan sfingter
uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom.

Vesika urinaria terdiri atas 4 lapisan, yaitu lapisan serosa, lapisan otot detrusor, lapisan
submukosa dan lapisan mukosa. Saat otot detrusor berelaksasi terjadi pengisian kandung
kemih, dan bila otot ini mengalami kontraksi maka urin yang telah tertampung didalamnya
akan dikeluarkan. Proses kontraksi ini berlangsung akibat kerja saraf parasimpatis, sedangkan

6
penutupan sfingter vesika urinaria agar dapat menampung urin dikerjakan oleh saraf simpatis
yang dipicu oleh noradrenalin.3

Mekanisme kerja pada otot detrusor melibatkan kerja otot itu sendiri, saraf pelvis,
medula spinalis dan kontrol sistem saraf pusat yang mengontrol jalannya proses berkemih.
Pada sistem saraf pusat ada bagian yang bernama pusat sobkortikal dan pusat kortikal. Ketika
urin mulai mengisi kandung kemih, pusat subkortikal akan bekerja agar otot-otot pada
kandung kemih dapat berelaksasi sehingga dapat berdistensi untuk menampung urin hasil
proses di ginjal. Ketika pengisian ini berlanjut akan tercapai suatu volume tertentu (biasanya
200 ml) yang memicu pusat kortikal yang ada pada lobus frontal untuk bekerja mengurangi
pasokan urin yang masuk ke dalam kandung kemih.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas relaksasi yang menyebabkan pengisian urin
ditimbulkan oleh pusat yang lebih tinggi yaitu korteks serebri atau dengan kata lain bersifat
menghambat proses miksi. Sedangkan pusat yang lebih rendah yaitu batang otak dan saraf
supra spinal memfasilitasi proses miksi dengan mendukung proses kontraksi otot yang terjadi.
Gangguan yang mungkin terjadi pada kedua bagian otak ini yang dapat menyebabkan
pengurangan kemampuan penundaan pengeluaran urin.

Ketika terjadi desakan untuk berkemih, maka rangsang saraf dari daerah korteks akan
disalurkan melalui medula spinalis ke saraf pelvis. Aksi saraf parasimpatis ini akan memicu
terjadinya kontraksi. Namun kontraksi ini tidak hanya semata-mata tergantung kepada
aktivitas saraf yang bersifat kolinergik. Otot detrusor memiliki reseptor prostaglandin. Obat-
obat yang menyebabkan inhibisi pada prostaglandin tentu saja akan mempengaruhi kontraksi
otot detrusor. Selain itu kontaksi otot detrusor juga bergantung pada calcium-channel. Oleh
karena itu bila pemberian calcium channel blocker seperti pada seseorang hipertensi dapat
menyebabkan terjadinya gangguan kontraksi kandung kemih.2

Selain faktor dari kandung kemih, juga harus diperhatikan sfingter uretra baik yang
interna dan eksterna. Proses kontraksi pada sfingter uretra dipengaruhi oleh aktivitas dari
adrenergik alfa. Pengobatan yang sifatnya agonis terhadap adrenergik alfa (pseudoefedrin)
dapat memperkuat kontraksi dari sfingter sehingga menahan urin secara berkelanjutan.
Sedangkan obat alpha-blocking dapat mengganggu penutupan sfingter. Persarafan adrenergik
beta dapat menyebabkan relaksasi pada sfingter uretra. Obat yang bersifat beta-adrenergic
blocking dapat mengganggu karena menyebabkan relaksasi uretra dan melepaskan aktivitas
kontraktil adrenergik alfa.

7
Inkontinensia Urin

Perlu diperhatikan bahwa meskipun inkontinensia urin kebanyakan dialami pada lansia,
sindrom ini bukanlah kondisi yang normal pada usia lanjut. Namun dapat dikatakan bahwa
usia lanjut yang dapat menjadi faktor predesposisi (faktor pendukung) terjadinya
inkontinensia urin. Proses menua akan menyebabkan perubahan anatomis dan fisiologis pada
sistem urogenital bagian bawah. Perubahan ini memiliki kaitan erat dengan menurunnya
kadar estrogen pada wanita dan kadar androgen pada laki-laki. Perubahan yang terjadi
meliputi penumpukan fibrosis dan kolagen pada dinding kandung kemih sehingga
menyebabkan penurunan efektivitas fungsi kontraksi dan memudahkan terbentuknya
trabekula maupun divertikula.3

Atrofi pada mukosa, perubahan vaskularisasi pada daerah submukosa dan menipisnya
lapisan otot uretra menyebabkan penurunan pada tekanan penutupan uretra dan tekanan
outflow. Selain itu pada laki-laki terjadi pembesaran prostat dan pengecilan testis sedangkan
pada wanita terjadi penipisan dinding vagina dengan timbulnya eritema atau ptekie,
pemendekan dan penyempitan ruang vagina serta peningkatan pH lingkungan vagina
akibatnya kurangnya lubrikasi.

Melemahnya fungsi otot dasar panggul yang disebabkan oleh berbagai macam operasi,
denervasi dan gangguan neurologik dapat menyebabkan prolaps pada kandung kemih
sehingga melemahkan tekanan akhir kemih keluar. Hal ini dapat memicu terjadinya
inkontinensia. Terdapat 4 jenis inkontinensia urin yaitu:

a. Pada inkontinensia urin tipe urgensi umumnya ditandai dengan ketidamampuan


seseorang untuk menunda berkemih bila sensasi berkemih muncul. Akibatnya
seseorang sering kencing, terutama pada malam hari (nokturia).
b. Pada inkontinensia urin tipe stress ciri yang paling khas adalah ketidakmampuan
menahan kemih pada saat peninggian tekanan intraabdomen seperti batuk, bersin dan
tertawa.5
c. Inkontinensia urin tipe overflow merupakan inkontinensia yang ditandai dengan
sering berkemihnya seseorang pada malam hari dengan jumlah urin yang kecil. Yang
dapat menjadi pembeda antara inkontinensia tipe ini dengan tipe urgensi dan tipe
stress adalah sisa urin setelah berkemih yang dapat mencapai 450 cc. Pada laki-laki
juga dapat terjadi inkontinensia overflow akibat hipertrofi prostat. Hal ini dapat

8
dideteksi dengan frekuensi miksi yang sering namun volume urin kecil dan dapat
tampak urin yang menetes setelah berkemih.
d. inkontinesia urin tipe fungsional sering disertai dengan gangguan fisik yang berat
seperti gangguan mobilitas (artritis genu, kontraktur), demensia berat, gangguan
neurologik dan psikologik. Keadaan ini umumnya membuat mobilitasnnya sangat
lemah sehingga tidak dapat mencapai tempat untuk berkemih seperti toilet. Oleh
karena itu dalam penatalaksanaanya nanti harus dipikirkan bagaimana cara mengatasi
toilet yang jauh, seperti dengan melakukan kateterisasi.

Setelah memperhatikan gejala yang mungkin timbul, kita juga dapat menentukan apakah
ada kemungkinan adanya inkontinensia campuran pada seseorang dengan memperhatikan ciri
dari tiap tipe tersebut.5

Pada umumnya terapi inkontinensia urin adalah dengan cara operasi. selain itu juga bisa
dipakaikan kateter, pampers, alat bantu toilet dan obat-obat yang dapat diberikan berupa:
a. pada inkontinensia urgensi adalah antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine,
Dicylomine, flavoxate, Imipramine.
b. pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine
untuk meningkatkan retensi urethra.5

Kesimpulan

Seseorang yang menjadi lansia dapat mengalami berbagai perubahan, dalam fisik,
sosial dan psikologis. Seseorang yang menjadi lansia dapat mengalami berbagai jenis kondisi
yang dimana dalam sistem tubuhnya salah satunya adalah inkontinesia urin yang membuat
seseorang tidak dapat menahan rasa ingin berkemih. Kondisi ini dapat di tangani bisa dengan
operasi, juga bisa dengan pemberian obat-obatan dan juga terapi. Kondisi ini dapat dicegah
dengan memudahkan akses ke toilet, kencing teratur dan membatasi cairan yang masuk ke
dalam tubuh.

9
Daftar Pustaka

1. Maryam RS, Ekasari MF, Rosidawati, dkk. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya.
Jakarta: Salemba Medika, 2008. Hal 55-71.
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi L, Simadribata M, Setiati S, Sudoyo AW, Setiyohadi
B, Alwi I, Simandibrata M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna
Publishing, 2009. Hal 865-75.

3. Martono HH, Pranarka K. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2009. Hal 226-41.
4. Hardman GJ, Limbird LE, Gillman AG. Dasar Farmakologi Terapi. Jakarta: EGC,
2008. Hal 312-23.
5. Sulistia G, Rianto S, Elysabeth, dkk. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI, 2010.
Hal 361-72.

10