Anda di halaman 1dari 13

ASKEP PRE DAN POST OPERASI PADA SISTEM PERNAFASAN

ASKEP PRE DAN POST OPERASI PADA SISTEM


PERNAFASAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN
PRE DAN POST OPERASI PADA SISTEM PERNAFASAN. Penyusunan makalah ini
merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah.

Demikian penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen kami
yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas ini.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu,
kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Pekalongan, Agustus 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata pengantar ....................................................................................................................... i


Daftar isi ................................................................................................................................ ii
Bab I Pendahuluan ................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ...................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................................ 1
C. Tujuan ................................................................................................................................... 1
Bab II Pembahasan ............................................................................................................... 3
A. Definisi ................................................................................................................................. 3
B. Klasifikasi ............................................................................................................................. 3
C. Etiologi .................................................................................................................................. 5
D. Manifestasi Klinis ................................................................................................................. 5
E. Patofisiologi ........................................................................................................................... 6
F. Pathway ................................................................................................................................ 7
G. Pemeriksaan Diagnostik ....................................................................................................... 8
H. Penatalaksanaan .................................................................................................................... 9
I. Pengkajian ........................................................................................................................... 16
J. Diagnosa Keperawatan .......................................................................................... 18
K. Intervensi Keperawatan ......................................................................................... 18
L. Evaluasi .................................................................................................................. 22

Bab III Penutup


1. Kesimpulan ............................................................................................................... 23
2. Saran ......................................................................................................................... 23

Daftar Pustaka ....................................................................................................................... 24

BAB I
PENDAHULAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Gangguan pada sistem pernapasan adalah terganggunya pengangkutan O2 ke sel - selatau
jaringan tubuh; disebu asfiksi . Asfiksi ada bermacam-macam misalnya terisinyaalveolus
dengan cairan limfa karena infeksi Diplokokus pneumonia atau Pneumokokus
yangmenyebabkan penyakit pneumonia. Keracunan asam sianida, debu, batu bara dan
racunlain dapat pula menyebabkan terganggunya pengikatan O2 oleh hemoglobin
dalampembuluh darah, karena daya afinitas hemoglobin juga lebih besar terhadap
racundibanding terhadap O2. Asfiksi dapat pula disebabkan karena penyumbatan
saluranpernapasan oleh kelenjar limfa, misalnya polip, amandel, dan adenoid.
Gangguanpernapasan yang sering terjadi adalah emfisema berupa penyakit yang terjadi
karenasusunan dan fungsi alveolus yang abnormal.

B. KLASIFIKASI
1. Klien dengan infeksi dan inflamasi sistem pernafasan :
1.Tuberkolusis Paru
2.Pneumonia
3.Abses paru
4.Bronkhitis
2. Klien dengan gangguan pleura :
1.Efusi pleura
2. Pneumothoraks
3.Empiema
4.Hematothoraks

3. Klien dengan gangguan jalan nafas :


1.Penyakit Paru Obstruktif Menahun
2.Emfisema
3.Asma Bronkhial
4.Status Asmatikus
5.Bronkhiektasis
4. Klien dengan keganasan sistem pernafasan :
1.Karsinoma Bronkhogenik
2.Karsinoma Mediastinum
5. Klien dengan gangguan pernafasan:
1.Gagal Nafas
2.Adult Respiratory Distress Syndrome
3.Penyakit Jantun Paru ( Kor Pulmonal )
4.Embolisme Paru

C. ETIOLOGI( Penyebab Terjadinya Gangguan Pernapasan )

Penyebab utama penyakit pernapasan, yaitu:


a) Mikroorganisme patogen yang mampu bertahan terhadap fagositosis;
b) Partikel - partikel mineral yang menyebabkan kerusakan atau kematian makrofag yang
menelannya, sehingga menghambat pembersihan dan merangsang reaksi jaringan;
c) Partikel - partikel organik yang merespons imun;
d) Kelebihan beban sistem akibat paparan terus - menerus terhadap debu berkadartinggi yang
menumpuk disekitar saluran napas terminal.

Sedangkan faktor lain yang menyebabkan terjadinya gangguan pernapasan adalahkebiasaan


merokok, keturunan, perokok pasif, polusi udara dan riwayat infeksi pernapasansewaktu
kecil.

D. MANIFESTASI KLINIS
E. PATOFISIOLOGI
HIPOKSIA dan HIPOKSEMIA
a. Hipoksia merupakan suatu mekanisme utama yang terjadi pada penyakit paruparu akibat
adanya penurunan suplai oksigen. Hipoksia itu sendiri berarti kurangnya ( hipo) oksigen
dalam jaringan,
b. Hipoksemia merupakan kekurangan oksigen pada tingkatdarah / arteri ( heme ). (Irman
Somantri, 2009, hlm.17)Jenis hipoksia adalah sebagai berikut :a)Hipoksia HipoksikHipoksia
jenis ini muncul akibat kurangnya suplai oksigen ataupun kadar oksigenyang ada di
lingkungan ( tekanan parsial arteri [ PaO2] rendah ). Biasanyamerupakan masalah individu
normal pada dataran tinggi, dimana kadar PO2 sangat rendah sehingga orang yang berada
pada tempat tersebut akan merasa kesulitanmenarik nafas dan ini merupakan komplikasi dari
pneumonia, dapat pula terjadipada tempat dimana banyak sekali orang dalam satu ruangan
dengan ventilasi yangkurang. (Irman Somantri, 2009, hlm.18)
Penyebab Hipoksia Hipoksik antara lain adalah :
1)Penurunan PO2udara inspirasi ( ketinggian, kekurangan oksigen );
2)Hipoventilasi;
3)Gangguan difusi alveolar kapiler;
4)Rasio ventilasiperfusi abnormal atau gangguan ventilasiperfusi.b)

F. PATYWAY

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemerikasan gas-gas darah arteri


Hipoksemia
Ringan : PaO2 < 80 mmHg
Sedang : PaO2 < 60 mmHg
Berat : PaO2 < 40 mmHg
Pemeriksaan rontgen dada
Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui
Hemodinamik
Tipe I : peningkatan PCWP
EKG
Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan
Disritmia.

H. PENATALAKSANAAN
O
perasiPreoperasi merupakan tahapan dalam proses pembedahan yang dimulai prabedah
( preoperatif ), bedah ( intraoperatif ), pascaoperatif ( postoperatif ).Prabedah merupakan
masasebelum dilakukannya tindakan pembedahan dimulai sejak ditentukannya persiapan
pembedahan danberakhir sampai pasien di meja bedah. Intra bedah merupakan masa
pembedahan yang dimulai sejakditransfer kemeja bedah dan berakhir sampai pasien dibawa
ke ruang pemulihan. Pasca bedahmerupakan masa setelah dilakukan pembedahan yang
dimulai sejak pasien memasuki ruang danberakhir sampai evaluasi selanjutnya.
(scribd.com)2.

Pengkajian psikososial Dengan mengumpulkan riwayat kesehatan secara cermat, perawat


menemukan kekhawatiranpasien yang dapat menjadi beban langsung selama pengalaman
pembedahan. Tidak diragukan lagipasien yang mengalami pembedahan ini dilingkupi
oleh kecemasan, termasuk ketakutan akanketidaktahuan dan lain sebagainya. Akibatnya,
perawat harus memberikan dorongan pasien pre operatif berbagai kecemasan yang cukup
besar cemas dan takut terhadap anastesia, takut terhadap rasa nyeri dan kematian atau
ancamanlain yang dapat menimbulkan supaya dapat memberikan perasaan tenang pada
pasien apabila memungkinkan. (scribd.com)3.

Pengkajian fisik umumSebelum pengobatan dimulai, riwayat kesehatan dikumpulkan dan


pemeriksaan fisik dilakukan,selama pemeriksaan fisik tersebut, tanda-tanda vital di catat dan
data dasar ditegakan untukpembandingan dimasa yang datang, pemeriksaan
diagnostik dilakukan seperti Analisis Gas Darah( AGD ), pemeriksaan rontgen, endoskopi,
biopsi jaringan, dan pemeriksaan feses dan urin, perawatberada dalam posisi untuk
membantu pasien memahami perlunya pemeriksaan diagnostic adalah suatukesempatan
selama pemeriksaan fisik untuk memperhatikan temuan fisik yang signifikan, seperti

Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :


a. Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah operasi
dandapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi dengan nyeri
dan dapatmeningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi
paru dan oksigenasidarah setelah anastesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas
dalam secara efektif dan benarmaka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera
setelah operasi sesuai dengan kondisi dankebutuhan pasien. Latihan nafas dalam dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lututditekuk dan
perut tidak boleh tegang.
2. Letakkan tangan diatas perut
3. Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi muluttertutup
rapat.
4. Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udaradikeluarkan
sedikit demi sedikit melalui mulut.
5. Lakukan hal ini berulang kali (15 kali).
6. Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.

b. Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah operasi,
pasiendapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk mempercepat
prosespenyembuhan. Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru
tentangpergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan
tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan
seperti ini jelas keliru
karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien akan
lebih cepat merangsang usus(peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat kentut /
flatus. Keuntungan lain adalahmenghindarkan penumpukan lendir pada saluran pernafasan
dan terhindar dari kontraktur sendi danterjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah
memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena danmenunjang fungsi pernafasan
optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Rangeof Motion (ROM).
Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun
kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan
secaramandiri.

c. Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari


tindakanpembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak
meungkin bisamenentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien. Pemeriksaan
penunjang yangdimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi, laboratorium maupun
pemeriksaan lain seperti ECG,dan lain-lain.Sebelum dokter mengambil keputusan untuk
melakukan operasi pada pasien, dokter melakukanberbagai pemeriksaan terkait dengan
keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkanpenyakit yang diderita pasien.
Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokteranstesi berperan
untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokteranastesi
juga memerlukan berbagai macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan
masaperdarahan ( bledding time ) dan masa pembekuan ( clotting time ) darah pasien,
elektrolit serum,Hemoglobin, protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto
thoraks dan EKG.

d. Pemeriksaan Status AnastesiPemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan


dilakukan untuk keselamatan selamapembedahan. Sebelum dilakukan anastesi demi
kepentingan pembedahan, pasien akan mengalamipemeriksaan status fisik yang diperlukan
untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diripasien. Pemeriksaan yang biasa
digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of
Anasthesiologist ). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi padaumumnya
akan mengganggu fungsi pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf. Berikut adalah
tabelpemeriksaan ASA.

e. Persiapan Mental / Psikis Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya
dalam proses persiapan operasikarena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat
berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Tindakanpembedahan merupakan ancaman potensial
maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapatmembangkitkan reaksi stres fisiologis
maupun psikologis (Barbara C. Long). Contoh perubahan fisiologisyang muncul akibat
kecemasan dan ketakutan antara lain :Pasien dengan riwayat hipertensi jikamengalami
kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan
darahnyaakan meningkat sehingga operasi bisa dibatalkan. Pasien wanita yang terlalu cemas
menghadapi operasidapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi
terpaksa harus ditunda. Setiaporang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi
pengalaman operasi sehingga akanmemberikan respon yang berbeda pula, akan tetapi
sesungguhnya perasaan takut dan cemas selaludialami setiap orang dalam menghadapi
pembedahan.Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam
menghadapipembedahan antara lain :
1. Takut nyeri setelah pembedahan.
2. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal ( bodyimage ).
3. Takut keganasan ( bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti ).
4. Takut / cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain yang mempunyaipenyakit
yang sama.
5. Takut / ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.
6. Takut mati saat dibius / tidak sadar lagi.
7. Takut operasi gagal.
Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan
adanyaperubahan - perubahan fisik seperti : meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan,
gerakan - gerakantangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah,
menayakan pertanyaan yang samaberulang kali, sulit tidur, sering berkemih. Perawat perlu
mengkaji mekanisme koping yang biasadigunakan oleh pasien dalam menghadapi stres.
Disamping itu perawat perlu mengkaji hal - hal yangbisa digunakan untuk membantu pasien
dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini,seperti adanya orang terdekat,
tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung / support system.Untuk mengurangi /
mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal - hal yang terkaitdengan
persiapan operasi, antara lain :

1). Pengalaman operasi sebelumnyaPersepsi pasien dan keluarga tentang tujuan / alasan
tindakan operasiPengetahuan pasien dan keluarga tentang persiapan operasi baik fisik
maupun penunjang.

2). Pengetahuan pasien dan keluarga tentang situasi / kondisi kamar operasi dan
petugaskamar operasi
Pengetahuan pasien dan keluarga tentang prosedur ( pre, intra, post operasi )Pengetahuan
tentang latihan - latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harusdijalankan setalah
operasi, seperti : latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll. Persiapanmental yang kurang
memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dankeluarganya. Sehingga
tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujuidan biasanya pasien
pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi kerumah sakit setalah merasa
sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yangmestinya sudah dilakukan beberapa
hari / minggu yang lalu. Oleh karena itu persiapanmental pasien menjadi hal yang penting
untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga /orang terdekat pasien.Persiapan mental dapat
dilakukan dengan bantuan keluarga danperawat. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat
mendukung persiapan mental pasien.Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum
operasi, memberikan doa dan dukunganpasien dengan kata-kata yang menenangkan hati
pasien dan meneguhkan keputusan pasienuntuk menjalani operasi
.Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai
cara:
3). Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum
operasi,memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami
olehpasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll.

4). Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi
lebihsiap menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki
pasienmengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien.
5). Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi
sesuaidengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Misalnya:
jika pasienharus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan,
manfaatnyauntuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan penjelasan tujuan
dari pemeriksaandarah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan pemberian informasi yang
lengkap, kecemasanyang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan
mental pasien dengan baik

6).Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala
proseduryang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa
bersama-samasebelum pasien di antar ke kamar operasi.

7). Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain
karenapengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien

8). Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium
dandiazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat
tidursehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.

9). Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas
kesehatandi situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang.
Untukmemberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn untuk
mengantarpasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di
ruang tungguyang terletak di depan kamar operasi.

10). Obat
Obatan Pre MedikasiSebelum operasi dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan
obat - obatan premedikasiuntuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat
yang cukup. Obat obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau
diazepam. Antibiotik profilaksis biasanya diberikan sebelum pasien di operasi. Antibiotik
profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegahterjadinya infeksi selama tindakan
operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1 - 2 jam sebelumoperasi dimulai dan
dilanjutkan pasca bedah 2 - 3 kali. Antibiotik yang dapat diberikan adalahceftriakson 1gram
dan lain - lain sesuai indikasi pasien.

I. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh(Boedihartono, 1994 : 10). Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges,
1999) meliputi :
1) Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau
stasisvascular (peningkatan risiko pembentukan trombus
2) Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
financial,hubungan, gaya hidup.Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka
rangsang ; stimulasi simpatis.
3) Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas / DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;
malnutrisi(termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan /
periode puasapra operasi).
4) Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
5) Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi
immune(peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya
kanker / terapikanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi
anestesi ; Riwayat penyakithepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah
koagulasi) ; Riwayat transfusedarah / reaksi transfuse.Tanda : menculnya proses infeksi yang
melelahkan ; demam.
6) Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik
glokosid,antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi,
antikonvulsan atautranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional.
Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan
anastesia, dan jugapotensial bagi penarikan diri pasca operasi ).

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun
potensialberdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).Diagnosa
keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) meliputi:
1.
Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahansta
tus kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi
ataukrisis maturasi.
2.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factorbu
daya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan.
3. Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan,
keluhanterhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
4.
Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks,MM hospitalisasi /per
ubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan
5. Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit / prognosis ( misalnya kanker ),
Ketidakberdayaan
6.
Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan saraf /oto
t, dan nyeri

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan
untukmenanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,
1994:20).Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun padatahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith,
2006)adalah:
1.
Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dreadyan
g disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidakdiketahui
oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadapbahaya.ini
merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi danmemampukan
individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman.Tujuan : ansietas
berkurang/terkontrol.
Kriteria hasil :
1. klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress.
2. klien mampu mempertahankan penampilan peran.
3. klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori
4. klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
5. tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

L. EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuankeperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan(Brooker, Christine. 2001).Evaluasi yang diharapkan pada
pasien dengan Pre Operasi Respirasi adalah :
1) Ansietas berkurang/terkontrol.
2) Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
3) Pasien menunjukkan koping yang efektif.
4) Pasien dan keluarga memahami perubahan - perubahan dalam peran keluarga.
5) Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
6) Pasien akan menunjukkan tingkat Respirasi yang optimal.

BAB III
PENUTUP