Anda di halaman 1dari 8

Embalming Modern

Definisi Embalming Modern


Metode modern embalming didefinisikan sebagai desinfeksi dan pelestarian tubuh yang
sudah mati. Proses embalming modern dirancang untuk menghambat dekomposisi jaringan untuk
periode waktu yang diperlukan sebagaimana yang diinginkan oleh keluarga agar jenazah berada
dalam kondisi yang baik. Embalming modern telah terbukti mampu menjaga tubuh utuh selama
beberapa dekade. Atmadja DS. Pengawetan jenazah dan aspek medikolegalnya. Majalah
kedokteran Indonesia. 2002; 52(8): 293-7.

Embalming merupakan sebuah "fiksasi" kimia protein sel. Secara prinsip formaldehida
pada dasarnya bereaksi dengan albumin. Formaldehid larut dalam sel dan mengkonversinya
menjadi untuk albuminoids atau gel, saat yang sama, bakteri dihancurkan, sehingga
menghentikan atau setidaknya menunda dekomposisi pada jenazah. Setelah embalming selesai,
tubuh hanya dapat diserang oleh udara yang membawa bakteri dan jamur yang pada akhirnya
dapat menghancurkan tubuh dengan terpapar udara dan kelembaban yang cukup untuk
mendukung hadir pertumbuhan bakteri dan jamur. Atmadja DS. Pengawetan jenazah dan
aspek medikolegalnya. Majalah kedokteran Indonesia. 2002; 52(8): 293-7.

Embalming modern dilakukan dengan menggunakan cairan embalming yang bersifat


disinfektan dan pengawet. Cairan embalming disuntikkan ke dalam sistem peredaran darah tubuh
dengan pompa listrik, sementara darah dikeluarkan dari tubuh dan dibuang. Sehingga posisi darah
di tubuh diganti dengan disinfektan dan cairan pengawet.

Tujuan Embalming
Ada tiga alasan mengapa dilakukannya modern embalming, yaitu: Atmadja DS.
Pengawetan jenazah dan aspek medikolegalnya. Majalah kedokteran Indonesia. 2002;
52(8): 293-7.

1. Desinfeksi.
Saat seseorang meninggal, beberapa patogen akan ikut mati, namun sebagian besar masih
dapat bertahan hidup karena memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dalam jangka waktu
lama dalam jaringan mati. Orang yang datang dan kontak langsung dengan tubuh jenazah yang
tidak embalming dapat terinfeksi serta ada kemungkinan menjadi lalat atau agen lain mentransfer
patogen untuk manusia dan menginfeksi mereka. Atmadja DS. Pengawetan jenazah dan aspek
medikolegalnya. Majalah kedokteran Indonesia. 2002; 52(8): 293-7.

2. Pelestarian
Pelestarian, yaitu upaya pencegahan pembusukan dan dekomposisi jenazah, sehingga
jenazah di dikuburkan, dikremasikan tanpa bau atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya.
Atmadja DS. Pengawetan jenazah dan aspek medikolegalnya. Majalah kedokteran
Indonesia. 2002; 52(8): 293-7.
3. Restorasi
Restorasi, yaitu upaya untuk mengembalikan keadaan tubuh jenazah kembali seperti
masih hidup. Atmadja DS. Pengawetan jenazah dan aspek medikolegalnya. Majalah
kedokteran Indonesia. 2002; 52(8): 293-7.

Manfaat embalming modern


1. Wangi
Untuk menghindari bau yang tidak menyenangkan pada jenazah dan juga untuk
mendapatkan bau yang wangi, maka dibutuhkan campuran beberapa zat kimia, seperti
campuran formaldehid dengan deodorant dan juga pemberian aroma terapi. Wyoming
Funeral Directors Association. Embalming history. [Accessed on 10 november
2016] Available from: http://www.wyfda.org/basics_3.html, Chew JA,
Laframboise R. Applied embalming. [Accessed on 10 november 2016] Available
from: http://www.embalmers.com/applied.html

2. Rigor Mortis negative


Rigor mortis terjadi karena serabut otot mengandung Actin dan Myosin yang
mempunyai sifat untuk berkontraksi dan relaksi dengan adanya suatu konsentrasi dari
ATP dan kalium chlorida. Kelenturan dapat dipertahankan karena adanya metabolisme
sel yang menghasilkan energi. Energi ini untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama
ATP masih ada serabut aktin dan miosin berkontraksi. Bila cadangan glikogen habis
maka energi tidak terbentuk sehingga aktin dan miosin otot berubah menjadi massa
seperti jeli yang kaku sehingga terjadi suatu rigiditas. Perubahan-perubahan kimia juga
terjadi di dalam otot-otot pada waktu yang sama seperti meningkatnya asam laktat
akibat proses glikogenolisis secara anaerob, perubahan pH jaringan dan lain-lain.
Rigor mortis biasanya terjadi 2-4 jam sesudah kematian dan berlangsung selama 36-72
jam. Rigor mortis akan mempengaruhi proses embalming. Oleh karena itu, rigor mortis
harus dihilangkan terlebih dahulu dengan menetralkan pH atau merubah keadaannya
menjadi alkali. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan senyawa berupa
amonia. Dengan pemberian amonia, asam laktat akan ternetralisir sehingga serat otot
akan kembali dapat berkontraksi dan proses pembusukan segera dimulai. Pada kondisi
seperti inilah proses embalming dapat dilakukan. Chew JA, Laframboise R. Applied
embalming. [Accessed on 9 november 2016] Available from:
http://www.embalmers.com/applied.html

3. Hiperemis atau tidak pucat


Untuk mendapatkan jenazah yang tidak pucat, maka dibutuhkan campuran formaldehid
dengan lanolin atau humektan. Chew JA, Laframboise R. Applied embalming.
[Accessed on 9 november 2016] Available from:
http://www.embalmers.com/applied.html

Embalming Tradisional
Definisi Embalming Tradisional
Embalming tradisional dalah proses pengawetan mayat yang menggunakan bahan-bahan
yang berasal dari alam sekitar seperti tumbuhan dan garam garaman.

Bahan-bahan alam yang digunakan dalam Embalming Tradisional


Daun Widara
Bidara atau widara (Ziziphus mauritiana) adalah sejenis pohon kecil penghasil buah
yang tumbuh di daerah kering. Tanaman ini dikenal pula dengan berbagai nama daerah
seperti widara (sunda,jawa) atau dipendekkan
menjadi dara (Jawa.); bukol (madura); bkul (Bali);ko (Sawu); kok (Rote); kom,kon (Timor); bd
ara (Alor); bidara (Makasar., Bugis.); rangga(Bima);serta kalangga (sumba).

Sebutan di negara-negara lain di antaranya: bidara, jujub,


epalsiam (Malaysia);manzanitas(Filipina) zeepen (Burma); putrea (Kamboja); than (Laos); phuts
aa,matan (Thai); tao,tao nhuc (Vietnam)2]. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Jujube, Indian
Jujube, Indian plum, atau Chinese Apple; serta Jujubier dalam bahasa Prancis.

Gambar 3. Daun bidara. https://id.wikipedia.org/wiki/Bidara

Daun-daun penumpu berupa duri, sendirian dan lurus (57 mm), atau berbentuk pasangan
dimorfis, di mana yang kedua lebih pendek dan melengkung, kadang-kadang tanpa duri.
Daun-daun tunggal terletak berseling. Helai daun bundar telur menjorong atau jorong
lonjong, 29 cm x 1.55 cm; bertepi rata atau sedikit menginggit; gundul dan mengkilap di sisi
atas, dan rapat berambut kempa keputihan di sisi bawahnya; dengan tiga tulang daun utama yang
nampak jelas membujur sejajar; bertangkai pendek 815 mm.
Perbungaan berbentuk payung menggarpu tumbuh di ketiak daun, panjang 12 cm, berisi
720 kuntum. Bunga-bunga berukuran kecil, bergaris tengah antara 23 mm, kekuningan, sedikit
harum, bertangkai 38 mm; kelopak bertaju 5 bentuk delta (menyegitiga), berambut di luarnya dan
gundul di sisi dalam; mahkota 5, agak seperti sudip, cekung dan melengkung.
Buah batu berbentuk bulat hingga bulat telur, hingga 6 cm 4 cm pada kultivar-kultivar
yang dibudidayakan, namun kebanyakan berukuran jauh lebih kecil pada pohon-pohon yang
meliar; berkulit halus atau kasar, mengkilap, tipis namun liat, kekuningan, kemerahan hingga
kehitaman jika masak; daging buahnya putih, mengeripik, dengan banyak sari buah yang agak
masam hingga manis rasanya, menjadi menepung pada buah yang matang penuh. Biji terlindung
dalam tempurung yang berbingkul dan beralur tak teratur, berisi 12 inti biji yang coklat bentuk
jorong. Daun pokok bidara selalu digunakan ketika memandikan jenazah bagi orang Islam.
Selepas menghilangkan najis dari tubuh mayat, jenazah akan dimandikan tiga kali. Mandian
pertama ialah dengan air yang dicampur daun bidara. Penggunaan daun bidara itu bukan
merupakan kepercayaan tradisi sebaliknya sunah daripada Rasulullah sendiri.
Daun bidara dapat digunakan untuk mengawetkan jenazah karena kandungannya yang
berperan sebagai antimikroba dan antifungal. Pada suatu penelitian didapatkan bahwa ekstrak daun
bidara memiliki efektifitas dalam menghambat Stapyhlococus aureus, Micrococcus luteus,
Escerechia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter.

Penggunaan daun bidara di Indonesia sebagai pengawet jenazah ditemukan pada prosesi
pemakaman suku Sumba.

Gambar 4. Jenazah yang sudah diawetkan menggunakan cara tradisional masyrakat sumba.
http://nasional.kompas.com/read/2008/08/07/0823467/mengawetkan.mayat.di.sumba
1. Kaum bangsawan Sumba mempunyai tradisi untuk menyimpan mayat bertahun-tahun di rumah adat.
Agar mayat tetap awet membutuhkan pangawet. Dewasa ini kebanyakan orang menggunakan zat
pengawet kimia atau formalin. Bagi orang Sumba, formalin hanya merupakan tambahan dan baru
dikenal dalam satu dasawarsa terakhir. Sebelum mengenal formalin, orang Sumba biasa
menggunakan metode pengawetan tradisional. Pengawetan tradisonal itu bermacam-macam. Ada
yang menggunakan kapur sirih dicampur tembakau atau daun teh. Tetapi, yang sering digunakan
adalah kapur sirih dan tembakau. Untuk lebih bertahan lama, mayat ditambah daun bidara atau dalam
bahasa setempat disebut daun kom. Ada juga yang hanya menyelimuti mayat dengan ratusan lembar
kain adat. Menurut beberapa tokoh adat Sumba, kain adat Sumba yang menggunakan zat pewarna
asli dari tumbuh-tumbuhan sudah mengandung pengawet alami. Jadi, bau mayat akan terserap oleh
kain yang dibungkuskan pada jenazah. (Prosesi pemakaman suku Sumba. Available at:
http://nasional.kompas.com/read/2008/08/07/0823467/)

Untuk pengawetan metode pertama, dilakukan dengan cara menyiram kapur sirih di atas
kain yang digunakan sebagai alas mayat atau pembungkus mayat. Setelah kain pertama yang
ditabur kapur sirih dan tembakau, dilapisi lagi kain kedua. Kapur sirih dan tembakau ini yang akan
menyerap bau, bahkan membuat jenazah kering. Setelah dibaringkan di atas lapisan yang ditabur
kapur sirih, pusar jenazah ditutupi dengan cairan daun kom atau bidara yang sudah dikunyah.
2. Tidak sembarang orang bisa mengunyah daun kom yang akan ditaruh di pusar jenazah. Jika yang
meninggal adalah lelaki tua, maka daun kom harus diambil dan dikunyah oleh perempuan muda. Cara
mengambil daun kom juga menggunakan mulut seperti kambing. Daun kom itu dikunyah sampai halus
dan diletakan di pusar jenazah. Demikian juga sebaliknya jika yang meninggal perempuan tua, maka
yang mengambil dan mengunyah daun kom atau bidara adalah lelaki muda, dan sebaliknya apa bila
yang meninggal lelaki muda, maka yang mengunyah daun kom atau bidara adalah perempuan tua,
apabila yang meninggal permpuan muda yang menguyah daun kom atau daun bidara lelaki tua.
Secaral logika memang tidak ada hubungannya. Namun, pengalaman telah membuktikan metode
tersebut berhasil. (Prosesi pemakaman suku Sumba. Available at:
http://nasional.kompas.com/read/2008/08/07/0823467/)

Cara itu selama ini sering digunakan untuk mengawetkan mayat. Jika ingin awet lebih
lama, bisa juga ditambahkan dengan air garam dan cuka nira. Caranya, rebus cuka nira, campur
dengan garam sebanyak-banyaknya setelah itu diminumkan ke mayat dengan cara mengangkat
kepala jenazah kemudian menuangkan air cuka campur garam ke dalam mulut mayat, kepala
jenazah dibaringkan lagi. Ini dilakukan berulang-ulang hingga satu gelas air cuka campur garam
habis. Namun sebelum air garam cuka diminumkan ke jenazah, jenazah harus dalam keadaan
bersih. Yang dimaksud bersih adalah bersih dari seluruh kotoran yang ada dalam perut jenazah.

2.5.2.2 Sari Pohon Pinus

Manusia yang mati pasti jasadnya akan segera dimakan oleh berbagai mikroba tanah.
Pembusukan pada tubuh zat yang mati tersebut karena adanya aktifitas kerja bakteri yang
menghasilkan enzim yang dapat merusak dan menghancurkan tubuh. Bakteri yang biasa ada dalam
tanah yaitu Clostridium botulinum, Clostridium pasteurianum, Klebsiella pneumoniae, dan
Enterobacter aerogenes.Bakteri-bakteri tersebut akan memecah protein yang ada dalam tubuh
mayat. Ezugworie J, Anibeze C, Ozoemena F. Trends in the development of embalming
methods. The internet journal of alternative medicine. 2009; 7(2). [Accessed on 3 Desember
2011] Available from: http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_ alternativ
e_medicine/volume_7_number_2_21/article/trends-in-the-development-of-embal ming-
methods.html,
Proses pemecahan protein oleh mikroorganisme sering disebut dengan putrefaksi, dimana
terjadi dekomposisi asam amino. Enzim-enzim intraseluler akan memecah protein di dalam sel,
menghasilkan senyawa-senyawa yang lebih sederhana yang menimbulkan bau busuk. Clostridium
khususnya, akan memecah protein secara anaerobic menghasilkan senyawa-senyawa sulfur berbau
busuk seperti merkaptan dan hidrogen sulfida, disamping terbentuk pula indol, hidrogen,
ammonia, fenol, dan karbondioksida. Ezugworie J, Anibeze C, Ozoemena F. Trends in the
development of embalming methods. The internet journal of alternative medicine. 2009; 7(2).
[Accessed on 3 Desember 2011] Available from:
http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_ alternativ
e_medicine/volume_7_number_2_21/article/trends-in-the-development-of-embal ming-
methods.html
Sebuah tim peneliti Jerman menyatakan telah mengungkap rahasia pengawetan mumi
Mesir kuno. Masyarakat Mesir kuno saat itu menggunakan sari pohon pinus salju sebagai bahan
pengawet. Melalui percobaan kimiawi pinus salju pada potongan daging babi segar, peneliti
mendapati bahwa zat kimia ini memiliki efek antimikroba yang sangat kuat, dan tidak
mengakibatkan efek negatif terhadap susunan tubuh. Ezugworie J, Anibeze C, Ozoemena F.
Trends in the development of embalming methods. The internet journal of alternative
medicine. 2009; 7(2). [Accessed on 3 Desember 2011] Available from:
http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_ alternativ
e_medicine/volume_7_number_2_21/article/trends-in-the-development-of-embal ming-
methods.html