Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. PENGERTIAN KONSTITUSI
Konstitusi dalam pengertian luas adalah keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar
atau hukum dasar. Konstitusi dalam pengertian sempit berarti piagam dasar atau undang-
undang dasar (Loi constitutionallle) ialah suatu dokumen lengkap mengenai peraturan dasar
negara. Sedangkan menurut EC Wade Konstitusi adalah naskah yang memaparkan rangka
dan tugas pokok dari badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara
kerja badan tersebut dan menamakan undang-undang dasar sebagai riwayat hidup suatu
hubungan kekuasaan. Konstitusi dapat diartikan sebagai sekelompok ketentuan yang
mengatur organisasi Negara dan susunan pemerintahan suatu Negara Sedangkan istilah
Undang-Undang Dasar merupakan terjemahan istilah yang dalam bahasa
belandanya grondwet. Perkataan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia undang-undang,
dan grondberarti tanah/dasar. Terkait dengan pertanyaan apa itu konstitusi yakni jawabannya
menurut Jhon Alder dalam bukunya Constitutional and Administrative Law, memberikan
jawaban sebagai berikut: the term constitution means a foundation or basis, and the
constitution of a country embodies the basic framework or rules about the government of that
country and about its fundamental values.
Hans Kelsen dalam bukunya General Theory of Law and State, membagi pengertian
konstitusi menjadi konstitusi dalam arti formal dan konstitusi dalam pengertian materil.
Menurut Hans Kelsen dalam pengertian formal konstitusi adalah : Suatu dokumen resmi,
seperangkat norma hukum yang hanya dapat diubah di bawah pengawasan ketentuan-
ketentuan khusus, dengan tujuan untuk menjadikan perubahan norma-norma tersebut menjadi
lebih sulit. Sedangkan dalam arti materil konstitusi adalah dokumen hukum yang berisi
peraturan-peraturan yang mengatur tentang pembentukan norma-norma hukum yang bersifat
umum, khususnya pembentukan undang-undang. Secara umum terdapat dua macam
konstitusi yaitu : konstitusi tertulis dan konstitusi tak tertulis. Dalam hal yang kedua ini,
hampir semua negara di dunia memiliki konstitusi tertulis atau undang-undang dasar (UUD)
yang pada umumnya mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara
bekerja berbagai lembaga kenegaraan serta perlindungan hak azasi manusia. Negara yang
dikategorikan sebagai negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis adalah Inggris dan
Kanada.

4
Di kedua negara ini, aturan dasar terhadap semua lembaga-lembaga kenegaraan dan
semua hak azasi manusia terdapat pada adat kebiasaan dan juga tersebar di berbagai
dokumen, baik dokumen yang relatif baru maupun yang sudah sangat tua seperti Magna
Charta yang berasal dari tahun 1215 yang memuat jaminan hak-hak azasi manusia rakyat
Inggris.Karena ketentuan mengenai kenegaraan itu tersebar dalam berbagai dokumen atau
hanya hidup dalam adat kebiasaan masyarakat itulah maka Inggris masuk dalam kategori
negara yang memiliki konstitusi tidak tertulis.
Pada hampir semua konstitusi tertulis diatur mengenai pembagian kekuasaan
berdasarkan jenis-jenis kekuasaan, dan kemudian berdasarkan jenis kekuasaan itu
dibentuklah lembaga-lembaga negara. Dengan demikian, jenis kekuasaan itu perlu ditentukan
terlebih dahulu, baru kemudian dibentuk lembaga negara yang bertanggung jawab untuk
melaksanakan jenis kekuasaan tertentu itu. Beberapa sarjana mengemukakan pandangannya
mengenai jenis tugas atau kewenangan itu, salah satu yang paling terkemuka adalah
pandangan Montesquieu bahwa kekuasaan negara itu terbagi dalam tiga jenis kekuasaan yang
harus dipisahkan secara ketat. Ketiga jenis kekuasaan itu adalah :
1. Kekuasaan membuat peraturan perundangan (legislatif);
2. Kekuasaan melaksanakan peraturan perundangan (eksekutif) dan kekuasaan
kehakiman (judikatif).
Pandangan lain mengenai jenis kekuasaan yang perlu dibagi atau dipisahkan di dalam
konstitusi dikemukakan oleh van Vollenhoven dalam buku karangannya Staatsrecht over
Zee. Ia membagi kekuasaan menjadi empat macam yaitu :
1. Pemerintahan (Bestuur);
2. Perundang-Undangan;
3. Kepolisian, dan
4. Pengadilan.
Van Vollenhoven kemungkinan menilai kekuasaan eksekutif itu terlalu luas dan
karenanya perlu dipecah menjadi dua jenis kekuasaan lagi yaitu kekuasaan pemerintahan dan
kekuasaan kepolisian. Menurutnya kepolisian memegang jenis kekuasaan untuk mengawasi
hal berlakunya hukum dan kalau perlu memaksa untuk melaksanakan hukum. Wirjono
Prodjodikoro dalam bukunya Azas-azas Hukum Tata Negara di Indonesia mendukung
gagasan Van Vollenhoven ini, bahkan ia mengusulkan untuk menambah dua lagi jenis
kekuasaan negara yaitu kekuasaan Kejaksaan dan Kekuasaan untuk memeriksa keuangan
negara untuk menjadi jenis kekuasaan ke-lima dan ke-enam. Berdasarkan teori hukum

5
ketatanegaraan yang dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa jenis kekuasaan negara
yang diatur dalam suatu konstitusi itu umumnya terbagi atas enam dan masing-masing
kekuasaan itu diurus oleh suatu badan atau lemabaga tersendiri yaitu:
1. Kekuasaan membuat undang-undang (legislatif),
2. Kekuasaan melaksanakan undang-undang (eksekutif),
3. Kekuasaan kehakiman (judikatif),
4. Kekuasaan kepolisian,
5. Kekuasaan kejaksaan,
6. Kekuasaan memeriksa keuangan Negara,

2. NILAI NILAI KONSTITUSI


1) Nilai Normati. Bagi suatu Bangsa konstitusi itu bukan saja berlaku dalam arti hukum,
tetapi juga merupakan suatu kenyataan (Reality). Dalam arti sepenuhnya diperlukan
dan efektif. Contoh negara yang menganutnya yaitu negara Amerika Serikat.
2) Nilai Nominal. Dalam hal ini konstitusi menurut hukum memang berlaku tetapi
kenyataanya tidak sempurna. Ketidak sempurnaan berlakunya suatu konstitusi ini
jangan dikacaukan bahwa sering kali suatu konstitusi yang tertulis berbeda dari
konstitusi yang dipraktekan oleh negara Indonesia.
3) Nilai Semantik. Konstitusi itu secara hukum tetap berlaku, tetapi dalam kenyataannya
hanya sekedar untuk memberi bentuk dari tempat yang telah ada dan untuk
melaksanakan kekuasaan politik contoh negara Indonesia pada masa Orde Lama.

3. FUNGSI KONSTITUSI
1) Menentukan pembatasan terhadap kekuasaan sebagai suatu fungsi konstitusionalisme;
2) Memberikan legitimasi terhadap kekuasaan pemerintah.
3) Sebagai instrumnen untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang kekuasaan asal
(baik rakyat dalam sistem demokrasi atau raja dalam sistem monarki) kepada organ-
organ kekuasaan negara;

4. SIFAT SIFAT KONSTITUSI


1) Formil dan materiil; Formil berarti tertulis. Materiil dilihat dari segi isinya berisikan
hal-hal bersifat dasar pokok bagi rakyat dan negara. (sama dengan konstitusi dalam
arti relatif).

6
2) Flexibel dan rigid, Kalau rigid berarti kaku suliot untuk mengadakan perubahan
sebagaimana disebutkan oleh KC Wheare Menurut James Bryce, ciri flexibel :
a. Elastis.
b. Diumumkan dan diubah sama dengan undang-undang.
3) Tertulis dan tidak tertulis

5. TUJUAN KONSTITUSI
Secara garis besar konstitusi bertujuan untuk membatasi tindakan sewenang-
wenangpemerintah, menjamin hak-hak pihak yang diperintah (rakyat) dan menetapkan
pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Sehingga pada hakekatnya tujuan konstitusi
merupakan perwujudan paham tentang konstitusionalisme yang berate pembatasan terhadap
kekuasaan pemerintah diastu pihak dan jaminan terhadap hak-hak warga Negara maupun
setiap penduduk dipihak lain. Tujuan konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-
wanang pemerintah dan menjamin hak-hak rakyat yang diperintah, dan menetapkan
pelaksanaan kekuasan yang berdaulat. Menurut Bagir Manan, hakekat dari konstitusi
merupakan perwujudan paham tentang konstitusi atau konstitusionalisme, yaitu pembatasan
terhadap kekuasaan pemerintah di satu pihak dan jaminan terhadap hak-hak warga negara
maupun setiap penduduk di pihak lain.
Sedangkan, menurut Sri Soemantri, dengan mengutip pendapat Steenbeck,
menyatakan bahwa terdapat tiga materi muatan pokok dalam konstitusi, yaitu :
1) Jaminan hak-hak manusia;
2) Susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar;
3) Pembagian dan pembatasan kekuasaan.
Dalam paham konstitusi demokratis dijelaskan bahwa isi konstitusi meliputi :
1) Anatomi kekuasaan (kekuasaan politik) tunduk pada hukum.
2) Jaminan dan perlindungan hak-hak asasi manusia.
3) peradilan yang bebas dan mandiri.
4) pertanggungjawaban kepada rakyat (akuntabilitas publik) sebagai sendi utama dari
asas kedaulatan rakyat.
Keempat cakupan isi konstitusi di atas merupakan dasar utama dari suatu pemerintah
yang konstitusional. Namun demikian, indikator suatu negara atau pemerintah disebut
demokratis tidaklah tergantung pada konstitusinya. Sekalipun konstitusinya telah menetapkan
aturan dan prinsip-prinsip diatas, jika tidak diimplementasikan dalam praktik

7
penyelenggaraan tata pemerintahan, ia belum bisa dikatakan sebagai negara yang
konstitusional atau menganut paham konstitusi demokrasi. Tujuan-tujuan adanya konstitusi
tersebut, secara ringkas dapat diklasifikasikan menjadi tiga tujuan, yaitu :
1) Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan pembatasan sekaligus
pengawasan terhadap kekuasaan politik;
2) Konstitusi bertujuan untuk melepaskan control kekuasaan dari penguasa sendiri;
3) Konstitusi berjuan memberikan batasan-batasan ketetapan bagi para penguasa dalam
menjalankan kekuasaannya.