Anda di halaman 1dari 23

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi yang diderita seseorang erat kaitannya dengan

tekanan sistolik dan diastolik atau keduanya secara terus

menerus. Tekanan sistolik berkaitan dengan tinnginya tekanan

pada arteri bila jantung berkontraksi, sedangkan tekanan darah

diastolik berkaitan dengan tekanan arteri pada saat jantuk

relaksasi diantara dua denyut jantung. Dari hasil pengukuran

tekanan sistolik memiliki nilai yang lebih besar dari tekanan

diastolik (Corwin, 2009)

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana dijumpai tekanan

darah lebih dari 140/90 mmHg atau lebih untuk usia 13 50

tahun dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia di

atas 50 tahun. Dan harus dilakukan pengukuran tekanan darah

minimal dua kali untuk lebih memastikan keadaan tersebut

(WHO, 2001).

Hipertensi juga dikatakan sebagai suatu keadaan dimana

tekanan darah seseorang adalah > 140 mmHg (tekanan sistolik)

dan/ atau > 90 mmHg (tekanan diastolik) (Joint National

Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and

Treatment of High Blood Pressure VII, 2003).


Hipertensi dapat diartikan sebagai tekanan darah persisten

dimana tekanan darahnya diatas 140/90 mmHg. Pada manula

hipertensi di definisikan sebagai tekanan sistoliknya 160 mmHg

dan tekanan distoliknya 90 mmHg (Brunner dan Suddarth, 2002).

Saat ini terdapat kecenderungan pada masyarakat perkotaan

lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan masyarakat

pedesaan. Hal ini antara lain dihubungkan dengan adanya gaya

hidup masyarakat kota yang berhubungan dengan risiko hipertensi

seperti stress, obesitas (kegemukan), kurangnya olah raga,

merokok, alkohol, dan makan makanan yang tinggi kadar

lemaknya. Perubahan gaya hidup seperti perubahan pola makan

menjurus kesajian siap santap yang mengandung banyak lemak,

protein, dan garam tinggi tetapi rendah serat pangan, membawa

konsekuensi sebagai salah satu faktor berkembangnya penyakit

degeneratif seperti hipertensi (Yundini, 2006). Hipertensi yang

tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan angka mortalitas

dan menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital seperti

jantung (infark miokard, jantung koroner, gagal jantung kongestif),

otak (stroke, enselopati hipertensif), ginjal (gagal ginjal kronis),

mata (retinopati hipertensif) (Anggraini, et al.,2009).


2. Klasifikasi Hipertensi

Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on

Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure

(JNC VII) tahun 2003, klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa

dengan usia lebih dari 18 tahun terbagi menjadi kelompok normal,

prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (Chobanian, et al., 2004).

Tabel Tabel 2.1. Klasifikasi tekanan darah pada orang


dewasa menurut JNC VII (2003)
Klasifikasi tekanan Tekanan darah sistolik Tekanan darah

darah (mmHg) diastolik (mmHg)

Normal * <120 dan < 80

Prehipertensi ** 120 139 atau 80 89

Hipertensi grade 1 140 159 atau 90 99

Hipertensi grade 2 > 160 atau > 100

Keterangan:

1. Tanda * yaitu batas optimal untuk resiko penyakit

kardiovaskuler. Namun, tekanan darah yang terlalu rendah juga

dapat mengakibatkan masalah jantung dan membutuhkan bantuan

dokter.

2. Tanda ** yaitu prehipertensi merupakan keadaan dimana

tidak memerlukan medikasi, namun termasuk pada kelompok

beresiko tinggi untuk menjadi hipertensi, penyakit jantung koroner


dan stroke. Individu dengan prehipertensi tidak memerlukan

medikasi, tetapi dianjurkan untuk modifikasi pola hidup sehat yang

mencakup penurunan berat badan, mengurangi asupan garam,

berhenti merokok dan membatasi minum alkohol.

3. Etiologi Hipertensi

Hipertensi dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi yaitu dengan

penyebab yang tidak diketahui (hipertensi esensial/ primer atau idiopatik)

dan dengan penyebab diketahui (hipertensi sekunder). Sebagian besar

kasus hipertensi sekitar 90% kasus diklasifikasikan sebagai hipertensi

esensial, yaitu tanpa kelainan dasar patologi yang jelas. Penyebabnya

multifaktorial meliputi faktor genetik, lingkungan. Faktor genetik

mempengaruhi kepekaan natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas

pembuluh darah terhadap vasokonstriktor, resistensi insulin dan lain-lain.

Sedangkan yang termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan

merokok, stress emosi, obesitas dan lain-lain (Nafrialdi, 2007).

Hipertensi sekunder adalah hipertensi dengan penyebabnya

diketahui dan ini menyangkut 10% dari kasus-kasus hipertensi (Padila,

2013). Menurut Nafrialdi (2007), yang termasuk dalam kelompok ini

adalah hipertensi akibat penyakit ginjal (hipertensi renal), hipertensi

endokrin, kelainan syaraf pusat, obat-obatan dan lain lain.


Hipertensi renal dapat berupa hipertensi renovaskular, misalnya

padastenosis arteri renalis, vaskulitis intrarenal; dan hipertensi akibat lesi

parenkim ginjal seperti pada glomerulonefritis, pielonefritis, penyakit

ginjal polikistik, nefropati diabetik dan lain-lain. Hipertensi endokrin

antara lain akibat kelainan korteks adrenal (hiper aldosteronisme primer,

sindrom cushing, tumor medulla adrenal (feokromositoma),

hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, dan lain-lain (Nafrialdi, 2007)

4. Patofisiologi Hipertensi

Corwin (2009:485) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada

kecepatan denyut jantung, volume sekuncup dan Total Peripheral

Resistance (TPR). Peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak

dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan

denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau

hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung kronik

sering menyertai keadaan hipertiroidisme, namun peningkatan kecepatan

denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup

atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi.

Peningkatan volume sekuncup yang kronis dapat terjadi jika

volume plasma meningkat dalam waktu lama, karena peningkatan volume

plasma direfleksikan dengan peningkatan volume diastolik akhir sehingga

volume sekencup dan tekanan darah meningkat. Peningkatan volume

distolik akhir dihubungkan dengan peningkatan preload jantung.


Peningkatan preload biasanya berhubungan dengan peningkatan hasil

pengukuran tekanan darah sistolik (Corwin, 2009)

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi

akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi

garam yang berlebihan. Penelitian epidemiologis, migrasi, dan genetik

pada manusia dan hewan memperlihatkan bukti yang kuat hubungan

antara asupan tinggi garam dan peningkatan tekanan darah. Dari perspektif

evolusi, manusia beradaptasi dengan ingesti dan ekskresi kurang dari 1

gram per hari, yang setidaknya kurang dari sepuluh kali atau rata-rata

konsumsi garam di negara-negara industri (Corwin, 2009)

Selain peningkatan asupan diet garam, peningkatan abnormal kadar

renin dan aldosteron atau penurunan aliran darah ke ginjal juga dapat

mengganggu pengendalian garam dan air. Peningkatan TPR yang kronis

dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf simpatis atau hormon

pada arteriol, atau respontivitas yang berlebihan dari arteriol terhadap

rangsangan normal. Kedua hal tersebut akan menyebabkan penyempitan

pembuluh darah. Pada peningkatan TPR, jantung harus memompa lebih

kuat, dan dengan demikian menghasilkan tekanan yang lebih besar, untuk

mendorong darah melintasi pembuluh pembuluh yang menyempit. Hal ini

disebut peningkatan pada afterload jantung, dan biasanya berkaitan dengan

peningkatan tekanan distolik. Apabila peningkatan afterload berlangsung

lama, ventrikel kiri mungkin mulai mengalami hipertrofi (pembesaran).

Dengan hipertrofi, kebutuhan oksigen ventrikel semakin meningkatkan


sehingga ventrikel harus memompa darah lebih keras lagi untuk

memenuhi kebutuhan tersebut (Corwin, 2009)

Setiap kemungkinan penyebab hipertensi yang disebutkan di atas

dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas susunan saraf simpatis. Bagi

banyak individu, peningkatan rangsangan saraf simpatis, atau mungkin

responsivitas yang berlebihan dari tubuh terhadap rangsangan simpatis

normal, dapat ikut berperan menyebabkan hipertensi. Hal ini dapat terjadi

akibat respons stress yang berkepanjangan, yang diketahui melibatkan

pengaktifan sistem simpatis, atau mungkinakibat kelebihan gentik reseptor

norepinefrin di jantung atau otot polos vaskular. Pengaruh genetik lain

mungkin dipengaruhi oleh ras. Sebagai contoh, terdapat bukti bahwa

individu Afro-Amerika, yang parah, menunjukkan gangguan pemompaan

natrium-kalsium sehingga kalsium berakumulasi di sel-sel otot polos

akibatnya meningkatkan kontraksi dan tahanan otot (Corwin,2009).

5. Manifestasi Klinis Hipertensi

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan

gejala sampai bertahun-tahun. Perubahan patologis pada ginjal dapat

bermanifestasi sebagai nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan

azetoma (peningkatan nitrogen urea darah dan kreatinin. Keterlibatan

pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroke atau serangan iskemik

transien yang bermanifestasi sebagai paralisis sementara pada satu sisi

(hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan (Wijayakusuma, 2000).


Menurut Corwin (2009) bahwa sebagian besar gejala klinis timbul

setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa nyeri kepala saat

terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan

tekanan darah intrakranial, penglihatan kabur akibat kerusakan retina

akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan

susunan saraf pusat, nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan

filtrasi glomerolus, edema dependen dan pembengkakan akibat

peningkatan tekanan kapiler.

6. Komplikasi Hipertensi

Hipertensi yang tidak mendapat perawatan dan sudah berlangsung

dalam waktu yang lama akan menimbulkan komplikasi. Berikut ini

komplikasi dari hipertensi menurut Elizabeth J. Corwin (2009):

a. Stroke

Stroke dapat dapat terjadi pendarahan di otak, atau akibat

embolus yang terlepas dari pembuluh darah selain otak yang

terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi

kronik apabila arteri arteri yang memperdarahi otak

mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke

daerah daerah yang di pendarahinya berkurang. Arteri arteri

otak yang mengalami arterosklerosis dapat melemah dan

kehilangan elastisitas sehingga meningkatkan kemungkinan

terbentuknya anuerisma.
b. Infark Miokardium

Infak miokardium dapat terjadi apabila arteri koroner yang

aterosklerotik tidak dapat menyuplai darah yang cukup oksigen

ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang

menghambat aliran darah melalui arteri koroner. Karena

hipertensi kronik dan hipertrifi ventrikel, maka kebutuhan

oksigen miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat

terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Hipertrofi

ventrikel dapat menimbulkan perubahab-perubahan waktu

hantar listrik melintasi ventrikel sehingga terjadi disritmia,

hipoksia jantung dan peningkatan pembentukan pembekuan

darah.

b. Gagal Ginjal

Gagal Ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif

akibat tekanan yang tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, yaitu

glomerulus. Dengan rusaknya glomerulusm, darah akan

mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu

dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan

rusaknya membrane glomerulus protein akan keluar melalui

urin sehingga osmotik koloid plasma berkurang menyebabkan

edema yang sering dijumpai pada hipertensi kronik.

c. Ensefalopati
Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna

(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi

pada kelainan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan

kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang interstitium di

seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron disekitranya

kolaps dan terjadi koma serta kematian.

7. Penatalaksanaan Hipertensi

Menurut Ganiswarna (2007), penatalaksanaan penyakit hipertensi

ini memerlukan terapi dalam pengobatannya. Tujuan terapi hipertensi

adalah mencapai dan mempertahankan tekanan darah sitolik di bawah 140

mmHg dan tekanan darah diastolik di bawah 90 mmHg dan mengontrol

faktor resiko. Menurut Corwin (2009) untuk mengobati hipertensi dengan

menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup atau TPR.

Pengobatan hipertensi juga dapat dilakukan dengan dua terapi. Terapi

yang diberikan pada penderita hipertensi yaitu terapi farmakologis dan

terapi nonfarmakologis (Katzung, G. & Bertram 2007).

a. Terapi farmakologis

Menurut The Joint National Committe on Prevention, detection,

evaluation and treatment of high blood pressure membagi tata laksana

terapi hipertensi secara farmakologi menjadi dua yaitu :.


1) First Line : obat antihipertensi diberikan bila dalam pemantauan

selama 3 bulan, tekanan darah tetap tinggi setelah melakukan

modifikasi gaya. Obat nya golongan diuretik, penyekat ACEIs

(Angiotensin Converting Enzymes), penyekat beta (beta blockers),

penyekat reseptor Angiotensin dan penyekat Calsium Channel

Bloker atau dimungkinkan kombinasi obat. Pada hipertensi grade I

dapat diberikan monoterapi (1 macam obat).

2) Second Line

Penghambat saraf adrenergik, penghambat adrenoreseptor alpha

dan vasodilator

Menurut Sukandar, et al (2009) membagi penanganan hipertensi

secara farmakologi sebagai berikut:

obat pilihan pertama

Tanpa Compeling dengan compelling


indication indication

Obat yang spesifik untuk


Hipertensi tahap I Hipertensi Tahap II comelling indication.
(TDS 140-159 atau TDO (TDS > 160 Atau TDO < obat antihipertensi
90-99 mmHg) 100 (diuretik, inhibitor ACE
ARB Bloker

Diuretik tiazida umumnya kombinasi 2 obat pada


dapat dipertimbangkan umumnya diuretik tiazida
inhibitor ACE, ARB, - dengan inhibitor ACE
Bloker, CCB, Kombinasi atau ARB atau bloker.
i. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama

yang diberikan untuk mengobati hipertensi. Diuretik

membantu ginjal membuang garam dan air yang akan

mengurangi volume cairan diseluruh tubuh sehingga

menurunkan tekanan darah. Diuretik menyebabkan

hilangnya kalium melalui air sehingga harus diberikan

tambahan kalium atau obat penahan kalium.

ii. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat

yang terdiri dari alfa-blocker, beta-blocker dan alfa-

beta-blocker labetalol, yang menghambat efek system

saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah system

saraf yang dengan segera akan memberikan respon

terhadap stress dengan cara meningkatkan tekanan

darah.

iii. Angiotensin Conferting Enzyme Inhibitor (ACE-

Inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah

dengan cara melebarkan arteri.

iv. Angiotensin II Blocker menyebabkan penurunan

tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip

dengan ACE-inhibitor.

v. Antagonis Kalsium menyebabkan melebarnya

pembuluh darah dengan mekanisme yang benar-benar

berbeda.
vi. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya

pembuluh darah. Obat dari golongan ini hampur selalu

digunakan sebagai tambahan terhdap obat anti

hipertensi lainnya.

b. Terapi nonfarmakologi

Terapi ini meliputi perubahan gaya hidup yang merupakan kunci

utama dalam pengendalian penyakit hipertensi. Terapi yang

menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang dan melakukan

modifikasi gaya hidup yang terbukti dapat menurunkan tekanan darah,

mempertinggi kinerja obat-obat antihipertensi dan mengurangi resiko

terserang penyakit kardiovaskuler (Chobanian et al., 2003).

Modifikasi gaya hidup yang dapat menurunkan tekanan darah

meliputi: mengurangi berat badan untuk individu yang obesitas atau

gemuk dapat mengurangi beban kerja jantung sehingga kecepatan

denyut jantung dan volume sekuncup juga berkurang, perencanaan

pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang

kaya akan potassium dan kalsium, diet rendah natrium, mengkonsumsi

alkohol seperlunya, olahraga aerobik secara teratur seperti jogging,

berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, menghentikan rokok,

mempelajari cara mengendalikan diri/ stres seperti melalui relaksasi

atau yoga dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara

menghambat respons stress saraf. Berhenti merokok penting untuk


mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok

diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat

meningkatkan kerja jantung (Corwin,2009).

8. Pengertian kepatuhan

Kepatuhan (adherence) adalah suatu bentuk perilaku yang timbul

akibat interaksi antara petugas kesehatan dan pasien sehingga pasien

mengerti rencana dengan segala konsekwensinya dan menyetujui rencana

tersebut serta melaksanakannya (Kemenkes RI, 2001).

Sackett (1976) dalam Niven (2000) mendefinisikan kepatuhan

pasien sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang

diberikan oleh profesional kesehatan. Kepatuhan adalah merupakan suatu

perubahan perilaku dari perilaku yang tidak mentaati peraturan ke perilaku

yang mentaati peraturan (Lawrence Green dalam Notoatmodjo, 2007).

a. Faktor yang dapat mendukung sikap patuh pasien

Dalam beberapa penelitian (Dimatteo dan Dinicola, 1986) di

diskusikan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dapat

dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor

internal meliputi karakteristik penderita seperti usia, latar belakang sosial,

nilai, sikap dan emosi yang disebabkan oleh penyakit. Faktor eksternal

meliputi dampak pendidikan kesehatan, hubungan antara penderita dengan


petugas kesehatan dan dukungan dari keluarga, petugas kesehatan dan

teman

Menurut Feuer Stein, et al. dalam Niven (2002), ada beberapa

1) Pendidikan

Pendidikan pasien dapat meningkatkan kepatuhan sepanjang

pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif, seperti

penggunaan buku dan lain-lain.

2) Akomodasi

Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian pasien

yang dapat mempengaruhi kepatuhan. Pasien yang lebih mandiri, harus

dilibatkan secara aktif dalam program pengobatan sementara pasien

yang tingkat ansietasnya tinggi harus diturunkan terlebih dahulu.

Tingkat ansietas yang terlalu tinggi atau rendah, akan membuat

kepatuhan pasien berkurang.

3) Modifikasi faktor lingkungan dan sosial

Membangun dukungan sosial dari keluarga dan teman-teman sangat

penting, kelompok pendukung dapat dibentuk untuk membantu

memahami kepatuhan terhadap program pengobatan, seperti

pengurangan berat badan dan lainnya.

4) Perubahan Model Terapi

Program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin dan pasien

terlibat aktif dalam pembuatan program tersebut.


5) Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien.

Hal penting memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh

informasi diagnosis.

9. Cara Mengukur Kepatuhan Minum Obat Pasien

Keberhasilan pengobatan pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh

beberapa faktor, salah satu di antaranya adalah kepatuhan dalam

mengonsumsi obat, sehingga pasien hipertensi dapat mengendalikan

tekanan darah dalam batas normal. Tetapi 50% dari pasien hipertensi tidak

mematuhi anjuran petugas kesehatan untuk mengonsumsi obat, yang

menyebabkan banyak pasien hipertensi yang tidak dapat mengendalikan

tekanan darah dan berujung pada kematian pasien. Kepatuhan pasien

dalam mengonsumsi obat dapat diukur menggunakan berbagai metode,

salah satu metode yang dapat digunakan adalah Skala MMAS-8 (Morisky

Medication Adherence Scale) yang terdiri dari tiga aspek yaitu frekuensi

kelupaan dalam mengonsumsi obat, kesengajaan berhenti mengonsumsi

obat tanpa diketahui oleh tim medis, kemampuan mengendalikan diri

untuk tetap mengonsumsi obat (Morisky & Munter, 2009).

10. Rumah Sakit

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.


Pelayanan Kesehatan Paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi

promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif (Depkes, 2009).

Menurut peraturan Menkes RI No.1045/Menkes/PER/XI/2006,

rumah sakit adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan yang

menyediakan rawat inap dan rawat jalan yang memberikan pelayanan

kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang terdiri dari observasi,

diagnostik, terapeutik dan rehabilitatif untuk orang-orang yang menderita

sakit, cidera dan melahirkan. Menurut Undang-Undang Republik

Indonesia nomor 44 tahun 2009 bahwa rumah sakit mempunyai tugas

memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Untuk

menjalankan tugas rumah sakit mempunyai fungsi :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan

sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui

pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga

sesuai kebutuhan medis.

c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia

dalam rangka meningkatkan kemampuan dalam pemberian

pelayanan kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan

teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan kesehatan

dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.


11. Pelayanan Kefarmasian

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Pelayanan Farmasi di Rumah

Sakit, pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di

rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu, hal

tersebut diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor

1333/Menkes/SK/XII/1999 tantang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang

menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang

tidak terpisah dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang

berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu,

termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan

masyarakat.

Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi,

mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama (drug

oriented) ke paradigma baru (patient oriented) dengan filosofi

Pharmaceutical Care (pelayanan kefarmasian). Praktek Pelayanan

kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk

mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah

yang berhubungan dengan kesehatan. Tujuan pelayanan farmasi ialah:

a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan

biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan

pasien maupun fasilitas yang tersedia.


b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan

prosedur kefarmasian dan etik profesi.

c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai

obat.

d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang

berlaku.

e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah

dan evaluasi pelayanan.

f. Mengawasi dan member pelayanan bermutu melalui analisa, telaah

dan pelayanan.

e. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda

(DepKes, 2004
B. Kerangka Konsep

Faktor Internal

- Usia
- Jenis kelamin
- Riwayat pendidikan
- Pekerjaan
- Pendapatan
- Status pernikahan
- Riwayat hipertensi keluarga
- Penyakit kronis lain
- Kebiasaan merokok
- Anti hipertensi yang
digunakan

Kepatuhan Minum
Obat Pasien Hipertensi

Faktor Eksternal

- dampak
pendidikankesehatan
- hubungan antara
penderita dengan
petugas kesehatan
- dukungan dari
keluarga, petugas
kesehatan dan teman
C. Penelitian terkait

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan hubungan karakteristik

responden dengan tingkat kepatuhan, antara lain :

1. Nama Peneliti : Saepudin, Siwi Padmasari, Puri Hidayanti, dan

Endang S. Ningsih (2012)

Judul penelitian : Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Hipertensi di

Puskesmas.

Hasil Penelitian : Dari hasil pengukuran kepatuhan dengan menggunakan

kuesioner MMAS ( Morisky Medication Adherance) didapatkan 62,3%

responden patuh terhadap penggunaan antihipertensi. Variabel

karakteristik responden yang memiliki hubungan dengan kepatuhan

penggunaan antihipertensi adalah riwayat pendidikan, pendapatan

perbulan, adanya penyakit kronis lain, dan regimen antihipertensi yang

digunakan.

D. Hipotesa

1. Ada hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum

obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak Tulungagung.

2. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan pasien

dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak

Tulungagung
3. Ada hubungan antara riwayat pendidikan dengan tingkat kepatuhan pasien

dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak

Tulungagung

4. Ada hubungan antara pekerjaan dengan tingkat kepatuhan pasien dalam

minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak

Tulungagung

5. Ada hubungan antara pendapatan berbulan dengan tingkat kepatuhan

pasien dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr.

Iskak Tulungagung

6. Ada hubungan antara status pernikahan dengan tingkat kepatuhan pasien

dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak

Tulungagung

7. Ada hubungan antara riwayat hipertensi keluarga dengan tingkat

kepatuhan pasien dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum

Daerah dr. Iskak Tulungagung

8. Ada hubungan antara penyakit kronis lain dengan tingkat kepatuhan

pasien dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr.

Iskak Tulungagung

9. Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan tingkat kepatuhan pasien

dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak

Tulungagung
10. Ada hubungan antara antihipertensi yang digunakan dengan tingkat

kepatuhan pasien dalam minum obat antihipertensi di Rumah Sakit Umum

Daerah dr. Iskak Tulungagung