Anda di halaman 1dari 31

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada, sehingga jika

ditumbuhkan di dalan suatu medium tidak ada lagi jasad renik yang dapat berkembang biak.
Sterilisasi harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri
(Fardiaz, 1992
Menurut Arthur (1962) sterilisasi yang umum dilakukan antara lain sterilisasi kering, sterilisasi
basah, penyaringan, sterilisasi kimia dan sterilisasi dengan radiasi. Sesuai dengan praktikum
yang dilakukan kita menggunakan strerilisasi basah yaitu menggunakan autoklaf. Sterilisasi
menggunakan autoklaf dilakukan dengan memasukkan agar dan bahan-bahan lain ke dalam
autoklaf selama 15 menit dengan suhu 1210 C pada tekanan 2 atm.
Sterilisasi basah tersebut dilakukan dengan menggunakan air, yang dimanfaatkan adalah uap
airnya dalam proses sterilisasi.

Berdasarkan kandungannya dan penggunaannya maka media dapat dibedakan menjadi:


a. Medium serbaguna
Medium yang paling umum digunakan dalam bakteriologi karena dapat menunjang pertumbuhan
sebagian besar bakteri. Contoh: kaldu nutrient
b. Medium selektif
Medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang dapatmenghambat pertumbuhan satu
kelompok bakteri atau lebih tanpa menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang diinginkan
c. Medium diferensial
Medium yang mengandung zat-zat kimia tertentu yang memungkinkan dipengamat membedakan
tipe-tipe bakteri (Hadiotomo, 1993).

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan media buatan, PDA atau Potato Dextrose Agar.
PDA termasuk dalam media serbaguna yang lebih dikenal media umum, media umum dapat
digunakan untuk menumbuhkan semua jenis patogen yang dapat ditumbuhkan dimedia buatan.
Potato Dextrose Agar merupakan salah satu media biakan karena kaya akan nutrisi yang
dibutuhkan oleh mikroba untuk hidup. Nutrisi yang diberikan media untuk mikroba berupa
karbohidrat (pati) dari kentang, glukosa dari dekstrosa atau fruktosa serta kandungan air dalam
agar.
King B Agar atau Raja agar B memungkinkan produksi fluoresceine (atau pyoverdin), pigmen
kuning-hijau yang berfluoresensi di bawah sinar ultraviolet dalam strain tertentu Pseudomonas.
Media yang digunakan terutama dalam analisis air untuk deteksi dan diferensiasi Pseudomonas
aeruginosa, yang menghasilkan pigmen karakteristik sementara spesies lain dari Pseudomonas
tidak. Media digambarkan oleh Raja, Ward dan Raney pada tahun 1954, dan kemudian
dimodifikasi sesuai dengan rekomendasi dari US Pharmacopoeia. Para penulis juga bertanggung
jawab untuk pengembangan Raja Sebuah media, yang mendukung produksi pyocyanin (pigmen
biru neon) atas bahwa dari pyoverdine.

Triphenyl klorida tetrazolium, TTC/TZC atau klorida hanya tetrazolium merupakan indikator
redoks umum digunakan dalam percobaan biokimia terutama untuk menunjukkan respirasi
selular. Ini adalah bubuk kristal putih, larut dalam air, etanol , dan aseton , tetapi larut dalam eter
.
IV. KESIMPULAN

Kesimpulan dari parktikum yang dilakukan sebagai berikut


1. Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik agar tidak
terjadinya kontaminan
2. Sterilisasi menggunakan alat yaitu autoklaf
3. Berdasarkan penggunaannya media dibagi menjadi media umum dan selektif
4. Pembuatan media yang digunakan adalah media umum yaitu media PDA
(Potato Dextroose Agar)
DAFTAR PUSTAKA

Arthur, H. B., Charles, A. B., Charles, G. B. 1962. Bacteriology. Barnes and


Noble, New York.

Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


PAU Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.

Hadiotomo, Ratna Sri. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktikum. Jakarta: PT.
Gramedia (Hlm. 44-46, 55-60)
3.2 Pembahasan
Sterilisasi adalah proses atau kerja untuk membebaskan suatu bahan
seperti medium pertumbuhan mikroba atau peralatan laboratorium dari semua
bentuk kehidupan. Proses sterilisasi dapat dibedakan menurut teknik
pengerjaannya, yaitu sterilisasi dengan penyaringan, khususnya untuk bahan cair
yang bersifat termolabil, seperti ekstrak enzim, serum, toksin bakteri, dan medium
pertumbuhan, sterilisasi dengan pemanasan melalui teknik pemijaran, udara
panas, uap air panas maupun uap air panas bertekanan, sterilisasi dengan senyawa
kimia, seperti etilen oksida, maupun beta propiolacton dan sterilisasi melalui
medium UV.
Untuk sterilisasi dengan menggunakan pemanasan, biasanya yang
digunakan adalah pemanasan kering yaitu menggunakan oven sebagai alat
sterilisasinya, dimana dengan menggunakan suatu siklus oven modern yang
dilengkapi udara yang dipanaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat
diterima di dalam bejana sterilisasi kosong adalah lebih kurang 15
o
, jika alat
sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang dari 250
o
. selain menggunakan oven,
pemanasan kering juga bisa menggunakan alat yang disebut bunsen dan spiritus,
dimana alat ini biasanya untuk mensterilisasi jarum ose yang akan digunakan pada
proses inokulasi mikroba. Sedangkan pada pemanasan basah yaitu menggunakan
alat yang disebut autoclave, dimana alat ataupun bahan yang akan disterilisasi
akan dipanaskan dengan suhu 121
0
C, dengan tekanan 1-2 atm, selama 15 menit.
Medium pertumbuhan mikrobia adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran nutrient yang diperlukan mikrobia untuk pertumbuhannya. Untuk
memberikan kondisi hidup yang cocok bagi pertumbuhan bakteri maka media
harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba, harus
mempunyai tekanan osmosis, tegangan permukaan, dan pH yang sesuai dengan
kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan serta tidak mengandung zat-zat yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroba, dan harus berada dalam kondisi yang steril
sebelum digunakan.
Medium NA berdasarkan susunan kimianya merupakan medium non
sintetik/semi almiah, berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat.
Medium ini digunakan untuk pertumbuhan bakteri. Medium PDA menurut
konsistensinya termasuk medium padat, berdasarkan susunan kimianya termasuk
non sintetik/semi alamiah. Medium PDA digunakan untuk menumbuhkan jamur
(fungi).
Komposisi yang digunakan untuk membuat medium NA seberat 11,5
gram adalah bacterial pepton 5 gr/l, meal extract 3 gr/l, agar 15 gr/l dan aquades
500 ml. Sedangkan untuk media PDA seberat 19,5 gram, bahan yang digunakan
meliputi potato extract 4 gr/l, glukosa 70 gr/l, agar 15 gr/l dan aquades 500 ml.
Komposisi NA yang terdiri dari: meal ekstract berfungsi sebagai sumber
karbohidrat, mengandung senyawa nitrogen organik yang dibutuhkan mikroba.
Pepton merupakan sumber protein dan penghasil nitrogen, agar berfungsi sebagai
pemadat medium, dan aquades berfungsi sebagai pelarut. Komposisi PDA yang
terdiri dari: glukosa berfungsi sebagai sumber karbon. Potato ekstract sebagai
sumber karbohidrat, agar berfungsi memadatkan medium serta aquades berfungsi
sebagai pelarut dan sumber oksigen. Medium NA pada tahap akhir berwarna
kuning sedangkan medium PDA berwarna kuning pucat

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh suatu
kesimpulan, dimana sterilisasi merupakan suatu proses pemusnahan mikrobia
yang tidak kita inginkan dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut.
Metode sterilisasi dapat menggunakan cara pemanasan, menggunakan bahan
kimia, penyaringan serta radiasi. Pemanasan dapat terbagi menjadi 2 meliputi
pemanasan basah dengan uap air panas dan autoclave, sedangkan pemanasan
kering dengan cara dibakar serta uap panas.
Tahapan pembuatan medium tumbuh mikroba meliputi pencampuran
semua bahan yang digunakan, yang kemudian dengan proses sterilisasi basah
(autoclave) dan terakhir menginkubasi medium tersebut paling sedikit 2 x 24 jam.
Medium NA pada tahap akhir berwarna kuning, sedangkan medium PDA
berwarna kuning pucat. Medium NA berguna untuk menumbuhkan bakteri dan
medium PDA berguna untuk menumbuhkan fungi.
4.2 Saran
Karena waktu yang dibutuhkan sangat sedikit, maka praktikan kurang
memahami cara pembuatan medium. Untuk itu kecermatan dan ketelitian
praktikan sangat diperlukan agar tidak terjadi kekeliruan dalam memperoleh hasil
yang diinginkan

DAFTAR PUSTAKA
Banyu. 2010. Fermentasi.
http://banyublogz.blogspot.com/2010_01_01_archive.html
Diakses tanggal 10 Oktober 2010
Hadioetomo, R.S. 1993. Mikrobiologi Dasar dalam Praktik : Teknik dan
Prosedur Dasar Laboratorium. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kusnadi, Peristiwati, Ammi Syulasmi, Widi Purwianingsih, & Diana
Rochintaniawati. 2003. Mikrobiologi.
http://file.upi.edu/Direktori/D%20-%20FPMIPA/JUR.%20PEND.
%20BIOLOGI/196805091994031%20-%20KUSNADI/BUKU
%20COMMON%20TEXT%20MIKROBIOLOGI%2C%20Kusnadi
%2Cdkk/BAB%20II%20metode.pdf
Diakses tanggal 10 Oktober 2010
Lay, B.W & S. Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Rajawali Pers, Jakarta.
Suriawirnia, U. 1995. Pengantar Biologi Umum. Angkasa, Bandung.
Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi dasar. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press, Malang
ISOLASI

1.1. Latar Belakang


Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya di alam dan
menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan. Isolasi harus diketahui cara-cara
menanam dan menumbuhkan mikrobia pada medium biakan serta syarat-syarat lain untuk
pertumbuhannya. Memindahkan bakteri dari medium lama kedalam medium yang baru
diperlukan ketelitian dan pengsterilan alat-alat yang digunakan, supaya dapat dihindari terjadinya
kontaminasi. Pada pemindahan bakteri dicawan petri setelah agar baru, maka cawan petri
tersebut harus dibalik, hal ini berfungsi untuk menghindari adanya tetesan air yang mungkin
melekat pada dinding tutup cawan petri (Alam dkk. 2013)
Bakteri mudah ditemukan di air, udara dan tanah. Mereka hidup dalam suatu koloni, baik
bersimbiose, bebas ataupun parasit pada makhluk hidup. Jumlah bakteri di alam sangat
melimpah dengan keragaman yang sangat tinggi. Untuk mempelajari kehidupan dan keragaman
bakteri, diperlukan suatu usaha untuk mengembakbiakkan mereka dalam skala laboratorium.
Pengembangbiakan ini dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dari sumber isolat, seperti tanah,
udara, sisa makanan, dan lain-lain, dalam media yang mengandung nutrisi. Media pertumbuhan
bakteri sangat beragam, mulai dari media selektif, media penyubur, media diferensial, dll.
Masing-masing media memiliki fungsi berbeda dan digunakan tergantung tujuan dari praktikan.
Dalam mempelajari sifat pertumbuhan dari masing-masing jenis mikroorganisme, maka
mikroorganisme tersebut harus dipisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga didapatkan kultur
murni yang disebut isolat. Kultur murni merupakan suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari
satu species atau satu galur mikroorganisme. Kultur murni diperoleh dengan cara isolasi
menggunakan metode tuang maupun gores (Elfita, 2010).
Dalam kegiatan mikrobiologi pembuatan isolasi dilakukan dengan cara mengambil sampel
mikroba dari lingkungan yang ingin diteliti. Dari sampel tersebut kemudian dikultur/dibiakan
dengan menggunakan media universal atau media selektif, tergantung tujuan yang ingin dicapai.
Untuk mendapatkan atau menumbuhkan jenis mikroorganisme tertentu, maka dilakukan isolasi.
Dengan isolasi inilah dapat diidentifikasi jenis bakteri tertentu baik dari kelimpahan maupun
morfologinya. Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan
mikroba tertentu dari lingkungannya sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur
murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Kultur
murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan
mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis,
maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme
saja. Sebelum mengisolasi, harus diketahui mikroba apa yang akan diisolasi dan habitatnya
menentukan sampel dan media apa yang akan digunakan. Pemilihan mikroba sebagai sumber
enzim mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan yang diisolasi dari tanaman ataupun
hewan. Antara lain adalah sel mikroba relatif lebih mudah ditumbuhkan, kecepatan pertumbuhan
relatif lebih cepat, skala produksi sel lebih mudah ditingkatkan bila dikehendaki produksi yang
lebih besar, biaya produksinya relatif rendah, kondisi selama produksi tidak tergantung oleh
adanya pergantian musim dan waktu yang dibutuhkan dalam proses produksi lebih pendek
(Torben,2007)

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari cara mengisolasi mikroba dari berbagai
metode.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Isolasi Bakteri


Isolasi adalah mengambil mikroorganisme yang terdapat di alam dan menumbuhkannya
dalam suatu medium buatan. Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba
dengan mikroba lainnya yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat
dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu
koloni sel yang tetap pada tempatnya. Isolasi bakteri atau biakan yang terdiri dari satu jenis
mikroorganisme (bakteri) dikenal sebagai biakan murni atau biakan aksenik. Biakan yang berisi
lebih dari satu macam mikroorganisme (bakteri) dikenal sebagai biakan campuran, jika hanya
terdiri dari dua jenis mikroorganisme, yang dengan sengaja dipelihara satu sama lain dalam
asosiasi, dikenal sebagai biakan dua-jenis (Alam dkk, 2013)
Mikroorganisme tidak memerlukan banyak ruangan untuk perkembangannya, sebab itu
media buatan (agar) dapat dimasukkan ke dalam sebuah tabung percobaan labu atau cawan Petri.
Pada permulaannya tabung atau cawan Petri harus dalam keadaan steril (bebas dari setiap
mikroorganisme hidup) lalu setelah itu dimasukkan mikrobia yang diinginkan, tabung atau
cawan harus dilindungi terhadap kontaminasi dari luar. Sumber utama pencemaran dari luar
adalah udara, yang banyak mengandung mikroorganisme yang berterbangan. Bentuk cawan
petri, dengan tutup yang saling menyelubungi, dirancang untuk mencegah pencemaran udara
(Alam dkk, 2013)
Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan campuran
mikroorganisme sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisah-pisah. Teknik yang
digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar memungkinkannya tumbuh
dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga memungkinkan setiap selnya berhimpun
membentuk koloni, yaitu sekelompok massa sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Bahan
yang diinokulasikan pada medium disebut inokulum, dengan menginokulasi medium agar
nutrient dengan metode cawan gores atau media cawan tuang, sel-sel mikroorganisme akan
terpisah sendiri-sendiri. Setelah inkubasi, sel-sel mikroba individu memperbanyak diri secara
cepat sehingga dalam waktu 18-24 jam terbentuklah massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan
koloni. Koloni dapat terlihat oleh mata telanjang. Setiap koloni merupakan biakan murni satu
macam mikroorganisme (Joddi, 2006).

2.2. Metode Isolasi


Mikroba yang hidup di alam terdapat sebagai populasi campuran dari bebagai jenis mikrobia
yang berbeda prinsip dari isolasi mikrobia dalam memisahkan satu jenis mikroba dengan
mikroba lainnya dari lingkungannya dialam dan ditumbuhkan dalam medium buatan.
Pertumbuhan mikroba dapat dilakukan dalam medium padat, karena dalam medium padat sel-sel
mikroba akan terbentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya, ada beberapa teknik isolasi
mikroba yakni (Wati, 2013)
1. Metode gores atau streak plate menggunakan loop ose dan menggoreskannya ke permukaan
medium agar dengan pola tertentu dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri
tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan
membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar
didapatkan biakan murni.
2. Metode tuang atau pour plate dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur suspensi
bakteri dengan medium agar pada suhu 50C kemudian menuangkannya pada petridisk atau
dengan menyemprotkan suspensi pada dasar petridisk, kemudian menuang medium agar
keatasnya dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masing-
masing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal.
3. Metode sebar atau spread plate dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar
kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri
terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal (Wati, 2013)

2.3. Jenis-Jenis Bakteri


2.3.1. Bakteri Termofilik
Mikroorganisme termofilik merupakan mikroorganisme yang tahan terhadap suhu tinggi
O
dengan suhu optimum pertumbuhan mencapai lebih dari 60 C. Salah satu pemanfaatan
mikoorganisme termofilik yaitu sebagai penghasil berbagai enzim yang bersifat termostabil.
Enzim yang dapat dihasilkan dari mikroorganisme termofilik antara lain selulase, amilase,
kitinase dan lipase (Rosliana, 2009)
Mikroorganisme termofilik mampu mensintesis molekul stabil pada kondisi panas, termasuk
molekul enzim. Bioteknologi umumnya tertarik pada enzim dari mikroorganisme yang
mendukung untuk bekerja dibawah kondisi normal dimana enzim dari mikroorganisme mesofilik
akan mengalami denaturasi. Dengan alasan inilah enzim ini menjadi sasaran termasuk
kelayakannya sebagai model untuk penelitian dan penyelidikan protein-protein yang bersifat
termostabil dan kemampuannya sebagai biokatalis pada bioteknologi modern (Elfita, 2010).

2.3.2. Bakteri Selulolitik Termofilik


Mikroorganisme selulolitik termofilik merupakan mikroorganisme termofilik yang dapat
menghasilkan selulase. Isolasi bakteri penghasil selulase sangat penting untuk dilakukan,
mengingat besarnya potensi selulase pada industri antara lain industri makanan dan minuman,
industri pulp dan kertas, industri tekstil, industri deterjen, industri pakan ternak dan pertanian.
Bakteri penghasil selulase dapat diisolasi dari berbagai sumber, antara lain lambung sapi,
kompos pertanian, sumber air panas. Salah satu sumber isolasi bakteri selulolitik termofilik
alternatif aitu dari kompos pertanian, dimana penelitian tentang eksplorasi bakteri selulolitik
termofilik di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Tengah khususnya masih jarang dilakukan.
Desa Bayat Klaten merupakan desa dengan potensi kompos yang besar dan belum dieksplorasi
dengan maksimal. Pada penelitian ini dilakukan isolasi bakteri termofilik penghasil selulase dari
kompos pertanian desa Bayat, Klaten dan dilakukan penentuan suhu optimum pertumbuhan
bakteri selulolitik termofilik (Elfita, 2010).

2.3.3. Bakteri Mesofilik


Mikroba yang hidup pada suhu kamar sampai paling tinggi 45 OC. Contoh : Methylococcus
capsulatus, Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, Rhizobium leguminosarum,
Rhodospirillum rubnum, Bacillus subtilis, L. Bulgaricus, Clostridium butyricum, Bacillus
mascerans, Clostridium sporongenes (wati, 2013).

2.3.4. Bakteri Psikrofilik


Mikroba yang hidup pada suhu rendah sampai paling tinggi 25 OC. Contoh :
Bakteri yang hidup di laut (Fototrof), bakteri besi (Gallionella), Bacillus polymixa,
Pseudomonas, Micrococcus, Clostridium botulinum E (Elfita, 2010).
Temperatur mempengeruhi pertumbuhan mikroorganisme dan kecepatan reaksi dalam
pembentukkan biogas. Proses produksi biogas dapat terjadi dalam dua rentang temperatur, yaitu
rentang temperatur mesofilik 25-45 OC dan rentang temperatur termofilik 56-60 OC. Temperatur
kerja yang lebih tinggi akan memberikan hasil biogas yang lebih tinggi, namun pada temperatur
yang terlalu tinggi bakteri akan mudah mati (Wati, 2013).
BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

2.4. Waktu dan Tempat


Praktikum dasar-dasar mikrobiologi akuatik tentang isolasi bakteri dan penghitungan
jumlah bakteri ini dilaksanakan pada hari Selasa, 03 Maret 2015 pukul 14.20 WIB sampai
dengan selesai, di Ruang Seminar program studi Akuakultur, Fakultas Pertanian, Universitas
Sriwijaya.

2.5. Alat, Bahan dan Metoda


3.2.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yakni seperti Bunsen, Cawan petri, Gelas Beker,
Jarum Ose, Plastik Repting, Spatula kaca, Tabung reaksi.

3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum yakni, Agar, Air coberan, Alkohol, Kaldu ikan, dan 2
Jenis rambut yang berbeda,
3.2.3. Metoda
Metoda yang digunakan dalampraktikum isolasi bakteri dan penghitungan jumlah bakteri
adalah sebagai berikut:
1. Metode gores dengan menggunakan tabung reaksi
a. Hidupkan bunsen.
b. Panaskan jarum ose menggunakan bunsen.
c. Ambil sampel ( sampel yang digunakan adalah air comberan ).
d. Goreskan ke dalam tabung reaksi yang telah diisi media agar sebelumnya.
e. Bungkus tabung reaksi menggunakan kertas.
2. Metode gores dengan menggunakan cawan petri
a. Hidupkan bunsen.
b. Panaskan jarum ose menggunakan bunsen.
c. Ambil sampel ( sampel yang digunakan adalah air comberan ).
d. Goreskan jarum ose sampai kuadran 1-2.
e. Kemudian panaskan lagi jarum ose dan ambil sampel kembali.
f. Lanjutkan goresan jarum ose ke kuadran 3-4.
g. Tutup cawan petri, lalu rekatkan cawan petri menggunakan kertas repting.
h. Bungkus cawan petri menggunakan kertas.
3. Metode sebar menggunakan cawan petri
a. Ambil cawan petri yang masih kosong.
b. Tuangkan sampel yang berisi rambut.
c. Panaskan spatula kaca yang telah disterilkan menggunakan alkohol.
d. Ratakan sampel menggunakan spatula kaca tersebut.
e. Tutup cawan petri, lalu rekatkan cawan petri menggunakan kertas repting.
f. Bungkus cawan petri menggunakan kertas.
4. Metoda menghitung bakteri.
a. Buka bungkus kertas cawan petri dan tabung reaksi yang telah di inapkan selama 1 hari.
b. Hidupkan coloni counter, dengan menekan tombol ON pada coloni counter.
c. Letakkan cawan petri tepat dibawah kaca pembesar pada coloni counter.
d. Sebelum menghitung, aturlah terlebih dahulu angka pada coloni counter menjadi angka
0.
e. Amati cawan petri menggunakan kaca pembesar, lalu hitung menggunakan pensil atau
pena untuk memposisikan bakteri yang ada.
f. Lalu catat hasil pengamatan bakteri yang ada.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.6. Hasil
Hasil perhitungan bakteri yang tumbuh dari praktikum penumbuhan bakteri di dalam media
Agar ini adalah sebagai berikut pada tabel :
Tabel. 1. hasil perhitungan
No. Metode Sampel Perhitungan
Air comberan Air rambut
1. Gores - 1x 10126
2. Sebar - Tidak ada
1 x1016
1 x 1048
1 x 10138

2.7. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yang akan dilakukan adalah mengisolasi bakteri dan kemudian
melakukan perhitungan bakteri. Di dalam praktikum hal yang paling utama harus dilakukan,
yaitu melakukan praktikum dengan fokus sehingga meminimalisir kesalahan yang akan terjadi di
dalam praktikum. Dalam praktikum ini mengharuskan kita untuk melakukan sterilisasi dan
pastikan semua alat benar-benar telah steril. Apabila meragukan alat tersebut telah disterilkan
atau belum, sebaik dilakukan sterilisasi ulang pada alat tersebut untuk memastikan alat tersebut
telah steril. Kemudian disini penggunaan media agar PCA, apabila media agar tidak membeku
sempurna atau belum memenuhi kriteria media agar yang bagus untuk media penumbuhan
bakteri akan menyebabkan pada saat setelah dikeluarkan dari dalam oven hasilnya bakteri yang
ditanamkan tidak tumbuh atau hasilnya akan gagal. Namun, perlu diperhatikan lagi pada saat
larutan PCA telah dimasukkan ke dalam cawan petri akan dilakukan pengerakkan cawan petri
dengan membentuk angka 8. Pada saat itu lakukan dengan perlahan saja tidak terlalu cepat juga
tidak terlalu lambat, karena apabila terlalu cepat akan menyebabkan struktur daripada media agar
rusak. Apabila telah rusak dan sampai tidak dapat membeku dengan sempurna akan sama halnya
yang terjadi pada yang dari awal telah tidak dapat membeku dengan sempurna dan hasilnya akan
negatif atau gagal.
Setelah di inkubasi selama 24 jam diperoleh hasil pertumbuhan mikroba. Penggoresan
media yang benar dan baik akan terlihat hasil biakan bakteri murni pada satu titik koloni pada
kuadran empat, sedangakn pada praktikum ini media isolasi bakteri telah mengalami kesalahan
pengoresan sehingga tidak didapatkan biakan murni bakteri pada satu titik pada kuadran empat,
melainkan terdapat banyak titik biakan dan bakteri pada alur penggoresan, kesalahan
penggoresan ini mungkin terjadi pada saat jarum ose tidak didinginkan terlebih dahulu, sehingga
penggoresan pada setiap kuadaran penggoresan terlalu dalam dan tidak melemah sesuai dengan
metode yang ada.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1. Isolasi suatu mikrobia ialah memisahkan mikrobia tersebut dari lingkungannya di alam dan
menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium buatan.
2. Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan campuran mikroorganisme
sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisah-pisah.
3. Ada 2 metode isolasi yang digunakkan saat praktikum yaitu metode gored dan metode tebar.
4. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar
memungkinkannya tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga memungkinkan setiap
selnya berhimpun membentuk koloni.
5. Sel-sel mikroba individu memperbanyak diri secara cepat sehingga dalam waktu 18-24 jam
terbentuklah massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan koloni. Koloni dapat terlihat oleh mata
telanjang.

5.2. Saran
Dari praktikum yang dilakukan ini sebaiknya kita menggunakkan 4 metode yaitu metode
tuang, gores, terbar, dan tusuk jadi praktikan mendapatkan perbandingan dari masing-masing
metode.

DAFTAR PUSTAKA

Afriyanto Eddy. 2005. Pakan Ikan dan Perkembangannya. Penerbit Kanisius


Jakarta.
Alam, M.S, Sarjono P.R, Aminin, A.L.N. 2013. Isolasi Bakteri Selulolitik Termofilik Kompos
Pertanian Desa Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Chem Info. No.1(1) :
190-195.
Candra, Joddi Iryadi. 2006. Isolasi dan Karakteristik Bakteri Asam Laktat Dari Produk Bekasam
Ikan Bandeng (Chanos chanos).[Skripsi]. Institut Pertanian
Bogor : Bogor.
Elfita, Muharni, Munawar, Salni, dan Ade Oktasari. 2010. Senyawa Antimalaria dari Jamur
Endofitik Tumbuhan Sambiloto (Andographis paniculata Nees). Jurnal
Natur Indonesia. No.13(2) : 123-129.
Rosliana. 2009. Isolasi Bakteri dan Uji Aktivitas Protease Termofilik dari Sumber Air Panas
Sipoholon Tapanuli Utara Sumatera Utara. [Tesis]. Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara : Medan.
Singleton Paul. 2006. Dictionary of Microbiology And Molecular Biology Third
Edition. John wiley & Sons Inc. : England.
Skou Torben dan Sogaard Jensen Gunnar. 2007. Microbiologi. Forfattern Og
Systime : England.
Wati, Dwi Setiana, Rukmanasari Dwi Prasetyani. 2013. Pembuatan Biogas dari Limbah Cair
Industri Bioetanol Melalui Proses Anaerob (Fermentasi). Universitas Diponegoro : Semarang.
Pada umumnya mikroba yang hidup di alam terdapat dalam bentuk populasi campuran. Sangat
jarang mikroba di alam dijumpai sebagai spesies yang tunggal. Dengan demikian, agar mikroba
tersebut dapat diidentifikasikan, sehingga mudah dipelajari sifat pertumbuhan, morfologis, dan
fisiologis masing-masing mikroba maka langkah pertama yang harus dilakukan yaitu spesies
tersebut dipisahkan dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, kemudian
ditumbuhkan menjadi biakan murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari sel-sel dari satu spesies.
Mikroorganisme tersebar luas di dalam lingkungan baik di tanah, air,maupun udara. Keberadaan
mikroorganisme baru dapat kita rasakan melewatimakanan yang kita konsumsi dan sebagai
akibatnya produk pangan jarang sekali yang steril dan umumnya tercemar oleh berbagai
mikroorganisme. Bahan panganselain merupakan sumber gizi bagi manusia, juga sebagai sumber
makanan bagi perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan atau perkembangan
mikroorganisme dalam makanan sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia.
Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang sangat banyak, baik ditanah, air maupun udara.
Untuk itu perlunya isolasi maupun permurnian untuk mendapatkan mikroorganisme tersebut.
Populasi yang besar dan kompleks dengan berbagai mikroba terdapat dalam tubu manusia
termasuk dimulut, saluran pencernaan dan kulit. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau
memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan
murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu
seltunggal. Kultur murni atau biakan murni diperlukan karena semua metode mikrobiologis yang
digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri
kultural, morfologis, fisiologis,maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari
satu macam mikroorganisme saja.
Adapun yang melatar belakangi sehingga peraktikum ini dilaksanakan adalah untuk
mengetahui dan menguasai teknik isolasi mikroba dari wadah yang satu ke wadah yang lain
sehingga hanya biakan murni yang dapat tumbuh.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan Teknik Isolasi Mikroba adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan memahami teknik pengisolasian mikroba.
2. Untuk mengetahui teknik pemindahan biakan mikroba dari wadah satu ke wadah yang lain
sehingga tidak bercampur dengan bakteri lain.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba
lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapat dilakukan dengan
menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni sel yang tetap
pada tempatnya (Nur, I. dan Asnani, 2007).
Dikenal beberapa cara atau metode untuk memperoleh biakan murni dari suatu biakan
campuran. Dua diantaranya yang paling sering digunakan adalah metode cawan gores dan
metode cawan tuang. Yang didasarkan pada prinsip pengenceran dengan maksud untuk
memperoleh spesies individu. Dengan anggapan bahwa setiap koloni dapat terpisah dari satu
jenis sel yang dapat diamati (Afrianto, 2004).
Biakan murni diperlukan dalam berbagai metode mikrobiologis, antara lain digunakan
dalam mengidentifikasi mikroba. Untuk mengamati ciri-ciri kultural morfologi, fisiologi dan
serologi dibutuhkan mikroba yang berasal dari satu spesies (Dwidjoseputro, 2005).
Menurut Hadioetomo (1993), ada dua metode yang dilakukan untuk memperoleh biakan
murni yaitu :
1. Metode cawan gores
Metode ini mempunyai dua keuntungan, yaitu menghemat bahan dan waktu. Metode
cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya
mikroorganisme yang diinginkan.
2. Metode cawan tuang
Cara lain untuk memperoleh koloni murni dari populasi campuran mikroorganisme
adalah dengan mengencerkan spesimen dalam medium agar yang telah dicairkan dan
didinginkan ( 50 oC ) yang kemudian dicawankan. Karena konsentrasi sel-sel mikroba di dalam
spesimen pada umunya tidak diketahui sebelumnya, maka pengenceran perlu dilakukan beberapa
tahap sehingga sekurang-kurangnya satu di antara cawan tersebut mengandung koloni terpisah di
atas permukaan ataupun di dalam agar. Metode ini memboroskan bahan dan waktu namun tidak
memerlukan keterampilan yang tinggi.
Metode cawan gores memiliki dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu. Namun
untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan yang lumayan yang biasanya
diperoleh dari pengalaman. Metode cawan gores yang dilaksanakan dengan baik kebanyakan
akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme seperti yang diinginkan. Dua macam kesalahan
yang umum sekali dilakukan oleh para mahasiswa yang baru mulai mempelajari mikrobiologi
ialah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik-baiknya untuk digores sehingga
pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan
inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel-sel yang digoreskan (Ratna, 1990).
Menurut Dwidjoseputro (1980), sifat-sifat koloni yang tumbuh pada agar-agar lempengan,
pada agar-agar miring dan pada tusukan gelatin adalah sebagai berikut :
1. Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan dan tepi. Bentuk
koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat berbenang, tak teratur, serupa akar, serum kumparan.
Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul mencembung,
timbul membukit dan timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh, ada yang berombak, ada
yang berbelah-belah, ada yang bergerigi, ada yang berbenang-benang dan ada yang keriting.
2. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring. Sifat ini berkisar pada bentuk dan tepi koloni dan sifat
itu dinyatakan dengan kata-kata seperti : serupa pedang, serupa duri, serupa tasbih, serupa titik-
titik, serupa batang dan serupa akar.
3. Sifat koloni tusukan dalam gelatin. Ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin. Karena itu,
maka bentuk-bentuk koloninya juga berbeda-beda. Lagipula bentuk koloni yang tidak dapat
mengencerkan gelatin. Bila dilihat dari samping koloni yang tidak mengencerkan gelatin dapat
serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol dan berjonjot. Jika bakteri mampu mengencerkan gelatin,
maka bentuk koloninya dapat serupa kawah, serupa mangkuk, serupa corong, pundi-pundi dan
berlapis.
Setelah mikroba ditumbuhkan pada media agar tabung maupun cawan dan estelah
inkubasi akan terlihat pertumbuhan bakteri dengan berbagai macam bentuk, ukuran, sifat, dan
berbagai ciri khas yang lain. Ciri-ciri ini akan mengarahkan ke sifat-sifat mikroba tersebut pada
media pertumbuhan, sehingga pengamatan morfologi ini sangat penting untuk diperhatikan
(Ratna,1990).
Bakteri yang memiliki flagella sering kali membentuk koloni yang menyebar terutama
jika menggunakan lempengan agar basah, untuk mencegah menyebarnya koloni maka harus
digunakan agar benar-benar kering (Djida, N., 2000).

BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum adalah sebagai berikut :
Hari/Tanggal : Rabu, 04 April 2012
Waktu : 13.15 Selesai WITA
Tempat : Laboratorium Mikrobiologi Dasar FMIPA UNTAD

B. Alat dan Bahan


1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Hot plate
2. Jarum ose
3. Cawan Petri
4. Bunsen
5. Inkubator
6. Hand sprayer
7. Kertas
8. Erlenmeyar
2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang dipakai adalah sebagai berikut :
1. Alkohol (ethanol)
2. Sampel bakteri
3. Medium NA
4. Medium PDA

C. Prosedur Kerja
a. Membuat PCA (Plating Count Agar)
1. Mensterilkan tangan dengan menyemprotkan alcohol 70 % secara menyeluruh pada telapak
sampai permukaan lengan.
2. Mensterilkan cawan petri dengan melidah-apikan cawan petri secara merata.
3. Mensterilkan mulut Erlenmeyer dengan cara melidah-apikan pada api Bunsen.
4. Memasukkan medium dengan cara membuka penutup cawan petri dengan sudut 30o dan
mendekatkannya pada api Bunsen.
5. Menutup kembali cawan petri lalu member label pada bagian bawahnya.
6. Menunggu sampai medium yang telah dibuat memadat.
b. Isolasi Bakteri (Teknik Goresan Langsung)
1. Mensterilkan jarum ose dengan membakar sampai pijar pada api bunsen lalu mencelupkan ke
dalam larutan alkohol 70 %
2. Melidah-apikan kembali jarum ose pada api Bunsen.
3. Menyentuhkan jarum ose ke atas bakteri, lalu menggoreskan secara langsung ke agar cawan.
Model goresan langsung seperti gambar :

4. Membungkus agar cawan tersebut dengan menggunakan kertas secara terbalik dan setelah itu
menyimpan ke inkubator dengan suhu 37 oC selama 48 jam.
B. Pembahasan
Percobaan kali ini membahas tentang cara-cara atau teknik yang biasa digunakan dalam
mengisolasi mikroba dari habitat alaminya. Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha
untuk menumbuhkan mikroba di luar lingkungan alamiahnya. Pemisahan mikroorganisme dari
lingkungannya ini bertujuan untuk memperoleh biakan bakteri yang sudah tidak bercampur lagi
dengan bakteri lainnya atau yang disebut biakan murni. Di kehidupan normalnya atau di habitat
alamiahnya mikroba sulit ditemukan dalam bentuk koloni sendiri. Mikroba ini pasti ditemukan
dalam bentuk koloni yang hidup bersama-sama dengan koloni mikroba yang lainnya. Oleh
karena itu, pengisolasian ini dilakukan.
Percobaan ini diawali dengan tahap pengenceran. Dalam hal ini, medium agar yang
digunakan diencerkan terlebih dahulu selama 15 menit pada Hot Plate dengan suhu 300C. Hal
ini bertujuan agar medium yang digunakan dapat mencair setelah disimpan selama beberapa hari
di refrigerator. Setelah diencerkan dengan menggunakan Hot Plate, medium ini didinginkan
sekitar 5 menit namun tidak jangan sampai dingin sekali. Hal ini dilakukan untuk menghindari
medium agar tidak kembali mengeras. Setelah agak dingin, medium ini pun siap untuk
digunakan.
Pengisolasian ini dilanjutkan dengan pembuatan medium tempat mikroba ini nantinya akan
tumbuh atau dengan kata lain membuat habitus sintetisnya. Medium ini terlebih dahulu
disterilkan dengan cara melidah-apikan mulut botol tempat penyimpanan medium agar tersebut.
Begitupun dengan cawan petri itu sendiri. Sebelum semua prosedur kerja dilakukan terlebih
dahulu tangan harus disterilkan menggunakan alcohol 70% yang disemprotkan ke seluruh
permukaan tangan.
Dalam percobaan ini, kami menggunakan jarum ose sebagai media untuk memindahkan
mikroba tersebut dari habitus alaminya. Jarum ose tersebut terlebih dahulu harus disterilkan
dengan cara membakarnya pada bunsen sampai jarumnya pijar. Lalu jarum ose tersebut
didiamkan selama 2 menit, tujuan hal ini yaitu untuk mendinginkan jarum ose-nya yang habis
dipijarkan tadi agar ketika jarum ose itu digoreskan ke dalam cawan petri yang berisi objek
mikroba yang akan diisolasi, tidak segera mematikan mikrobanya.
Praktikum kali ini adalah mempelajari teknik isolasi mikroba dengan cara goresan. Teknik
goresannya dilakukan dalam cawan petri. Dengan menggunakan jarum ose yang sebelumnya
dipanaskan pada api bunsen lalu dicelupkan pada alkohol untuk sterilisasi jarumnya. Goresan
diberikan sangat tipis sekali pada permukaan atas medium dalam cawan petri secara zig-zag,
Pada percobaan ini mikroba yang digunakan hanya satu jenis yaitu bakteri dan
menggunakan dua medium yakni medium NA dan medium PDA.
Medium NA berfungsi untuk membiakan berbagai macam mikroorganisme serta kultur
bakteri. Sedangkan medium PDA berfungsi untuk menumbuhkan fungi jenis kapang. Pada
praktikum ini kita mempelajari bagaimana melakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme
pada medium steril sehingga bisa mendefinisikan bahwa teknik inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium lama kemedium baru dengan tingkat ketelitian sangat tinggi
dan dituntut untuk bekerja secara aseptic yaitu bebas dari pengaruh kontaminan mikroorganisme
yang lain. Teknik aseptic dilakukan dengan penyediaan alat-alat kerja yang steril dan bekerja
didekat api Bunsen agar terhindar dari kontaminan udara.pada waktu inokulasi jarum yang
digunakan untuk meindahkan mikroba harus dipijarkan diatas api segera sebelum dan sesudah
melakukan pemindahan. Pemanasan ini menghancurkan semua bentuk kehidupan yang ada pada
permukaan jarum atau alat pemindahan, setelah di inokulasi biakan bakteri disimpan dan
diinkubasi dalam lingkungan yang sesuai untuk petumbuhan.
Setelah diinkubasi selama 48 jam diperoleh hasil pertumbuhan mikroba hanya pada
medium NA, sedangkan pada medium PDA tidak mengalami pertumbuhan sama sekali. Hal ini
dikarenakan mikroba yang diisolasi adalah jenis bakteri, dan bakteri hanya dapat tumbuh pada
medium NA. Jadi yang akan dibahas pada kali ini adalah bagaimana pertumbuhan mikroba pada
medium NA. Pada cawan petri pertama, jumlah koloni yang tumbuh adalah sebanyak 8 koloni
dan memiliki morfologi seperti warna putih susu, tepi berlekuk, bentuk tak beraturan dan
menyebar, permukaan timbul, dan tekstur kusam. Pada cawan petri kedua, jumlah koloni yang
ditemukan adalah sebanyak 4 koloni dan berwarna kream, tepi berlekuk, bentuk tak beraturan
dan menyebar, permukaan timbul, dan tekstur kusam. Pada cawan petri ketiga dan keempat,
masing-masing ditemukan mikroba dengan jumlah 5 koloni dan 1 koloni, dan untuk
morfologinya sama dengan pada cawan petri kedua. Untuk cawan petri terakhir ditemukan
mikroba sebanyak 6 koloni, dan memiliki morfologi seperti warna kream, tepi tak beaturan,
bentuk tak beraturan dan menyebar, permukaan timbul dan tekstur kusam.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut diatas maka dapat dikatakan percobaan tersebut
belum berhasil. Menurut Ratna (1990), bila menggunakan teknik menggores yang baik maka
pada suatu area tertentu pada permukaan medium yang digores, sel-sel bakteri akan terpisahkan
satu dari lainnya. Sel-sel tunggal yang terpisahkan seperti ini disebut sel induk. Bagi kebanyakan
bakteri, setelah masa inkubasi selama 24 jam, satu koloni murni dapat terdiri dari 50-72 generasi
sel yang timbul dari satu sel induk tunggal. Dengan perkataan lain, satu koloni murni terdiri dari
bermilyar-milyar sel anak. Karena itu, hendaklah dipahami bahwa pertumbuhan bakteri
sesungguhnya merupakan pertambahan jumlah sel dan bukan ukuran sel.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun yang dapat disimpulkan dari percobaan Teknik Isolasi Mikroba adalah sebagai
berikut:
1. Teknik isolasi mikroorganisme adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba diluar dari
lingkungan alamiahnya, untuk memperoleh biakan murni. Biakan murni yaitu mikroba yang
sudah tidak bercampur lagi dengan mikroba lainnya.
2. Teknik yang digunakan untuk teknik isolasi mikroba adalah teknik goresan, yaitu metode
goresan radian, langsung dan kuadran.
3. Medium yang digunakan untuk biakkan murni adalah medium NA untuk biakkan bakteri dan
medium PDA untuk biakkan kapang.

B. Saran
Pada praktikum selanjutnya sebaiknya praktikan lebih memperhatikan lagi pada saat
praktikum dilaksanakan. Agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan kecil yang bisa mempengaruhi
hasil yang diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, L., 2004, Menghitung Mikroba Pada Bahan Makanan, Cakrawala (Suplemen pikiran rakyat
untuk iptek), Farmasi FMIPA ITB : Bandung.

Djida, N., 2000, Metode Instrumental dalam Mikrobiologi Umum, UNHAS Press : Makassar.

Dwidjoseputro, 1980, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan : Jakarta.

Hadioetomo, R. S., 1993, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Gramedia : Jakarta.

Nur Indriyani, Asnani, 2007, Penuntun Praktikum Mikrobiologi Akuatik, Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Unhalu : Kendari.

Ratna, Sri, 1990, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Jakarta : Gramedia.