Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang pantas pertama kali diucapan selain ucapan syukur kepada
ALLAH SWT dengan ucapan Alhamdulillahirrabilaalamin yang mana kita telah
diberi nikmat yang luar biasa dan dengan petunjuknya sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah tepat dengan waktunya. Shalawat serta salam tidak lupa
kami ucapkan kepada baginda nabi Muhammad SAW. serta para keluarga,
sahabat, tabiin dan para pengikutnya dan dengan itu kita selalu menantikan
syafaatnya kelak di hari pembalasan.
Pada kesempatan yang sangat baik ini kami menyusun sebuah makalah
yang berjudul Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia.
Sebelumnya kami mengucapkan terimakasih kepada.
1. Rektor IAIN Tulungagung Dr. Maftukhin, M.Pd yang telah memberikan
kesempatan kepada kami untuk belajar di kampus tercinta ini.
2. Dosen matakuliah Pengembangan Kurikulum IPA SMP/MTs Bapak
Lukman Hakim Abbas yang telah memberikan kepercayaan kepada kami
untuk menyusun makalah ini.
3. Teman-teman yang ikut membantu dalam pembuatan makalah ini. Dengan
amanat itu kami akan memberikan hasil yang terbaik untuk makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak untuk mengevaluasi makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semuanya.

Tulungagung, September 2017

Tim penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................i
DAFTAR ISI ...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................2
C. Tujuan............................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Rencana Pelajaran 1947.................................................................3
B. Rencana Pelajaran Terurai 1952....................................................5
C. Rencana Pendidikan 1964..............................................................6
D. Kurikulum 1968.............................................................................8
E. Kurikulum 1975 ...........................................................................10
F. Kurikulum 1984.............................................................................14
G. Kurikulum 1994.............................................................................17
H. Kurikulum Berbasis Kompetensi versi 2002 dan 2004.................19
I. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006...................26
J. Kurikulum 2013.............................................................................34
BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan.....................................................................................37

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan dalam sejarah peradaban anak manusia adalah salah satu
komponen kehidupan yang paling urgen. Semenjak manusia berinteraksi
dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil
merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini
kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam
perkembangan peradaban manusia. Secara paralel proses pendidikan pun
mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana
maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat
dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju. Apabila sebuah
pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau
malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah
terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan, dan
sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan sebuah
kurikulum. Menurut Sukmadinata Kurikulum (curriculum) merupakan suatu
rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan
belajar mengajar. Dalam suatu sistem pendidikan kurikulum itu sifatnya
dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan, agar
dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian,
perubahan dan pengembanganya harus dilakukan secara sistematis, terarah,
tidak asal berubah. Sejalan dengan pernyataan di atas, penulis melalui
makalah ini akan menjelaskan mengenai perkembangan kurikulum
pendidikan di Indonesia yang sudah melalui perjalanan panjang mulai dari
masa pasca kemerdekaan hingga masa setelah reformasi yang meliputi tahun
1947, 1952, 1964,1975,1984,1994, 2002 dan 2004, 2006, dan yang paling
anyar adalah kurikulum 2013.

B. Rumusan Masalah

1
2

1. Bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia pada masa


orde lama (kurikulum 1947, 1952, dan 1964)?
2. Bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia pada masa
orde baru (kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994)?
3. Bagaimana perkembangan kurikulum pendidikan di Inonesia pada masa
reformasi (Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi tahun 2002 dan
2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) 2006 dan
Kurikulum 2013) ?

C. Tujuan
1. Menjelaskan perkembangan kurikulum pendidikan di Inonesia pada masa
orde lama (kurikulum 1947, 1952, dan 1964) ?
2. Menjelaskan perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia pada masa
orde baru (kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994) ?
3. Menjelaskan perkembangan kurikulum pendidikan di Inonesia pada masa
reformasi (Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) versi tahun 2002 dan
2004, Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) 2006 dan
Kurikulum 2013) ?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kurikulum Pada Masa Awal Kemerdekaan atau Masa Orde Lama


1. Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama yang lahir setelah Indonesia merdeka disebut
rencana pelajaran atau dalam bahasa belanda leer plan. Perubahan
orientasi pendidikan lebih bersifat politis dari orientasi pendidikan
Belanda kepada kepentingan nasional. Kurikulum 1947 dilandasi dengan
semangat zaman dan suasana kehidupan berbangsa, pendidikan pada masa
ini lebih menekankan kepada pembentukan karakter manusia indonesia
yang merdeka dan berdaulat serta sejajar dengan bangsa lain. Materi
pelajaran dihubungkan dengan kejadian dan kehidupan sehari-hari serta
memberikan perhatian terhadap pendidikan kesenian dan pendidikan
jasmani. Kurikulum 1947 baru secara resmi dilaksanakan di sekolah-
sekolah mulai tahun 1950. Bentuk kurikulum ini memuat dua hal pokok
yaitu daftar mata pelajaran dan jam pelajarannya, disertai dengan garis-
garis besar pengajaran. Sejumlah kalangan menyebut sejarah
perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya
memuat dua hal pokok1:
a) Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya
b) Garis-garis besar pengajaran (GBP)
Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran dalam arti
kognitif, namun yang diutamakan pendidikan watak atau perilaku (value
dan attitude), meliputi :
a) Kesadaran bernegara dan bermasyarakat
b) Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari
c) Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa,
Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah
Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat,
Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan
1
Hidayat Sholeh, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT Risdakarya, 2013), hal. 2

3
4

Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan,


Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran
agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan
sejak kelas 1. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada
cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran
bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca, dan
menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari,
bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa,
timbangan, dll), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya
mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada
malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik.
Kelebihan Kurikulum 1947
1) Mencerminkan kesadaran sebagai bangsa yang berdaulat, dan
mendudukkan pendidikan sebagai faktor penting dalam memperkokoh
berdirinya negara Indonesia melalui persatuan dan kesatuan untuk
mengusir penjajah.
2) Memiliki fungsi strategis dalam mempersatukan bangsa Indonesia
melalui pendidikan
3) Kurikulum 1947 mengadopsi dari pengalaman pendidikan Indonesia
yang telah lalu di masa penjajahan, sehingga memudahkan dalam
penyusunannya.
Kelemahan Kurikulum 1947
1) Dibayang-bayangi pendidikan jaman penjajahan, sehingga mengarah
pada pola pengajaran penjajah.
2) Belum memiliki orientasi ranah kognitif dan psikomotor namun lebih
dominan ranah afektif.
3) Belum diterapkan di sekolah-sekolah sehingga belum memberikan
dampak pada terlaksananya pendidikan dan terbentuknya bangsa
Indonesia hingga secara resmi dilaksanakan pada tahun 1950.
5

2. Rencana Pelajaran Terurai 1952


Setelah Rencana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di
Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini, pemerintah
Indonesia melalui Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan
menerbitkan buku pedoman kurikulum SD yang lebih merinci setiap mata
pelajaran kemudian diberi nama Rencana Pelajaran Terurai 1952 yang
berfungsi membimbing para guru dalam kegiatan mengajar di SD. Di
dalamnya tercantum jenis-jenis pelajaran yang menjadi kegiatan murid
dalam belajar di sekolah.
Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional.
Yang paling menonjol dan sekaligus ciri kurikulum 1952 ini bahwa
Silabus mata pelajarannya jelas sekali dan seorang guru mengajar satu
mata pelajaran. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu
sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP.
Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian,
pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak yang tidak mampu
sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja. Mata Pelajaran yang ada
pada Kurikulum 1954 yakni untuk jenjang Sekolah Rakyat (SD) menurut
Rencana Pelajaran 1947 adalah sebagai berikut.2
1. Bahasa Indonesia
2. Bahasa daerah
3. Berhitung
4. Ilmu Ayam
5. Ilmu Hayat
6. Ilmu Bumi
7. Sejarah
8. Menggambar
9. Menulis
10. Seni Suara
11. Pekerjaan Tangan
12. Pekerjaan Kepurian

2
Ibid, hal. 3
6

13. Gerak Badan


14. Kebersihan dan Kesehatan
15. Budi pekerti
16. Pendidikan Agama
Kelebihan Kurikulum 1952
1) Kurikulum 1952 telah mengarah pada sistem pendidikan nasional,
walaupun belum merata pada seluruh wilayah di Indonesia, namun
dapat mencerminkan suatu pemahaman dan cita-cita para praktisi
pendidikan akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi seluruh
bangsa Indonesia.
2) Pada Kurikulum 1952, materi pelajaran sudah berorientasi pada
kebutuhan hidup para siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna
ketika ditengah masyarakat.
3) Karena setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki
keuntungan untuk lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih
baik, dari pada mengajar berbagai mata pelajaran.
Kelemahan Kurikulum 1952
1) Karena kurikulum 1952 baru mengarah pada sistem pendidikan
nasional, maka belum mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
2) Materi pelajaran belum orientasi masa depan, karena yang diajarkan
berorientasi kebutuhan untuk hidup di masyarakat saat itu, dengan
demikian belum memiliki visi kebutuhan dimasa mendatang.
3) Kurang membangkitkan kreatifitas dan inovasi guru, karena setiap mata
pelajaran sudah terinci dalam rencana pelajaran terurai, hal ini
mempersempit kreatifitas dan inovasi guru baik dalam perencanaan,
pelaksanaan, maupun menentukan sumber materi pelajaran.3

3. Rencana Pendidikan 1964


Di penghujung era pemerintahan presiden Soekarno menjelang tahun
1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di
Indonesia. Kurikulum ini diberi nama Rencana Pendidikan 1964 atau

3
Ibid,
7

kurikulum 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri


dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginaan agar
rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang
SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana.
Fokus kurikulum 1964 pada pengembangan Pancawardhana, yaitu :
Daya cipta, Rasa, Karsa, Karya, dan Moral. Mata pelajaran
diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi yaitu; moral,
kecerdasan, emosional, keterampilan, dan jasmaniah. Pendidikan Dasar
lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis yang
disesuaikan dengan perkembangan anak.
Cara belajar dijalankan dengan metode disebut gotong royong
terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida.
Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegitan di
bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan permainan, sesuai minat
siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pacasialis
yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS
No II tanun 1960. Penyelenggaraan pendidikan dengan kurikulum 1964
mengubah penilaian di rapor bagi kelas I dan II yang asalnya berupa skor
10 100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas II hingga VI
tetap menggunakan skor 10 100. Kurikulum 1964 bersifat separate
subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima
kelompok bidang studi (Pancawardhana). Mata Pelajaran yang ada pada
Kurikulum 1968 adalah sebagai berikut.4
1. Pengembangan Moral
a) Pendidikan kemasyarakatan
b) Pendidikan agama/budi pekerti
2. Perkembangan kecerdasan
a) Bahasa Daerah
b) Bahasa Indonesia
c) Berhitung
d) Pengetahuan Alamiah

4
Ibid, hal. 3
8

3. Pengembangan emosional atau Artistik


a) Pendidikan kesenian
4. Pengembangan keprigelan
a) Pendidikan keprigelan
5. Pengembangan jasmani
a) Pendidikan jasmani/Kesehatan

B. Kurikulum Pada Masa Orde Baru


1. Kurikulum 1968
Lahirnya kurikulum 1968 sebagai perubahan dari kurikulum 1964
dipengaruhi oleh perubahan sistem politik dari pemerintahan rezim orde
lama ke pemerintahan rezim orde baru. Kurikulum 1968 melakukan
perubahan struktur kurikulum dari Pancawardhana dan menekankan
pendekatan organisasi mata pelajaran menjadi kelompok pembinaan jiwa
Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968
merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD
1945 secara murni dan konsekuen. Jumlah mata pelajarannya 9 mata
pelajaran. Titik berat kurikulum ini terletak pada materi apa saja yang
dapat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
Dari segi tujuan pendidikan, kurikulum 1968 diarahkan pada upaya
untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani,
moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan
kepada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta
mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.5 Muatan materi pelajarannya
sendiri hanya teoritis, tak lagi mengkaitkannya dengan permasalahan
faktual di lingkungan sekitar. Metode pembelajaran sangat dipengaruhi
oleh perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi pada akhir tahun 1960-
an. Salah satunya adalah teori psikologi unsur. Contoh penerapan metode
pembelajaran ini adalah metode eja ketika pembelajaran membaca. Begitu
juga pada mata pelajaran lain, anak belajar melalui unsur-unsurnya dulu.
Struktur kurikulum 1968 adalah sebagai berikut ini.

5
Ibid, hal. 4
9

1. Pembinaan Jiwa Pancasila


a) Pendidikan kewarganegaraan
b) Pendidikan agama/budi pekerti
c) Bahasa Daerah
d) Bahasa Indonesia
e) Pendidikan Olahraga
2. Pengembangan Pengetahuan Dasar
a) Berhitung
b) IPA
c) Pendidikan kesenian
d) Pendidikan kesejahteraan keluarga
3. Pembinaan Kecakapan Khusus
a) Pendidikan kejuruan
Kelebihan Kurikulum 1968
1) Kurikulum 1968 dibuat untuk menjadi pedoman penyelenggaraan
pendidikan secara nasional, namun penerapannya di daerah (di sekolah)
diberi kebebasan menurut situasi dan kondisi daerah atau sekolah yang
bersangkutan.
2) Kurikulum 1968 telah dikembangkan dalam nuansa otonomi dimana
semua komponen kurikulum dilaksanakan oleh sekolah.
3) Sistem pembelajaran di ruangan kelas diserahkan kepada masing-
masing guru, yang penting tujuan pendidikan dapat tercapai.
4) Kurikulum ini berupaya mendorong pengembangan kreativitas dan
persaingan kompetitif diantara daerah, sekolah, dan guru untuk
mengembangkan kurikulum.
5) Kurikulum ini memberikan peluang bagi tamatan sekolah untuk
melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi.

2. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan 1975


a. Latar Belakang
Dalam Kata Pengantar Kurikulum 1975, Menteri Pendidikan
Republik Indonesia Sjarif Thajeb, menjelaskan tentang latar belakang
10

ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan


pengajaran di sekolah. Penjelasan tersebut sebagai berikut :
1) Sejak Tahun 1969 di Negara Indonesia telah banyak perubahan
yang terjadi sebagai akibat lajunya pembangunan nasional, yang
mempunyai dampak baru terhadap program pendidikan nasional.
Hal-hal yang mempengaruhi program maupun kebijaksanaan
pemerintah yang menyebabkan pembaharuan itu adalah :
Selama Pelita I, yang dimulai pada tahun 1969, telah banyak
timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan
nasional.
Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan
nasional yang digariskan dalam GBHN yang antara lain
berbunyi : Mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi untuk mempercepat lajunya pembangunan.
Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh
Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong
pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan nasional.
Adanya inovasi dalam system belajar-mengajar yang dianggap
lebih efisien dan efektif yang telah memasuki dunia pendidikan
Indonesia.
Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk
meninjau sistem yang kini sedang berlaku.
2) Pada Kurikulum 1968, hal-hal yang merupakan faktor
kebijaksanaan pemerintah yang berkembang dalam rangka
pembangunan nasional tersebut belum diperhitungkan, sehingga
diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut agar
sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun. Atas
dasar petimbangan tersebut maka dibentuklah kurikulum tahun
1975 sebagai upaya untuk mewujudkan strategi pembangunan di
bawah pemerintahan orde baru dengan program Pelita dan
Repelita.6
6
Soemanto Wasty dan Soeyarno, Landasan Historis Pendidikan Indonesia, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1983), hal. 122
11

b. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum 1975


Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan
prinsip-prinsip di antaranya sebagai berikut.
1) Berorientasi pada tujuan. Dalam hal ini pemerintah merumuskan
tujuan-tujuan yang harus dikuasai oleh siswa yang lebih dikenal
dengan khirarki tujuan pendidikan, yang meliputi : tujuan
pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan
instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
2) Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran
memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya
tujuan-tujuan yang lebih integratif.
3) Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan
waktu.
4) Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan
Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang
senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik,
dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
5) Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada
stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (Drill). Pembelajaran
lebih banyak menggunaan teori Behaviorisme, yakni memandang
keberhasilan dalam belajar ditentukan oleh lingkungan dengan
stimulus dari luar, dalam hal ini sekolah dan guru.

c. Komponen Kurikulum 1975


Kurikulum 1975 memuat ketentuan dan pedoman yang meliputi
unsur-unsur sebagai berikut.
1. Tujuan institusional.
Berlaku mulai SD, SMP maupun SMA.Tujuan Institusional adalah
tujuan yang hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan program
pendidikannya.
2. Struktur Program Kurikulum.
12

Struktur program adalah kerangka umum program pengajaran yang


akan diberikan pada tiap sekolah.
3. Garis-Garis Besar Program Pengajaran
Sesuai dengan namanya, Garis-Garis Besar Program Pengajaran,
pada bagian ini dimuat hal-hal yang berhubungan dengan program
pengajaran, yaitu.
a) Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah
mengikuti program pengajaran yang bersangkutan selama
masa pendidikan.
b) Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai
dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu semester
maupun satu tahun.
c) Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan
bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
d) Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu
ke tahun pelajaran berikutnya dan dari semester satu ke
semester berikutnya.
4. Sistem Penyajian dengan pendekatan PPSI (Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional)
Sistem PPSI berpandangan bahwa proses belajar-mengajar
merupakan suatu sistem yang senantiasa diarahkan pada
pencapaian tujuan. Sistem pembelajaran dengan pendekatan sistem
instruksional inilah yang merupakan pembaharuan dalam sistem
pengajaran di Indonesia. Sistem Penilaian dengan melaksanakan
PPSI, penilaian diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada
akhir satuan pelajaran tertentu. Inilah yang membedakan dengan
kurikulum sebelumnya yang memberikan penilaian pada akhir
semester atau akhir tahun saja.7
5. Sistem Penilaian
Dengan melaksanakan PPSI, penilaian diberikan pada setiap akhir

7
Hidayat Sholeh, Pengembangan Kurikulum Baru, (Bandung: PT Risdakarya, 2013), hal. 7
13

pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran tertentu. Inilah yang


membedakan dengan kurikulum sebelumnya yang memberikan
penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja.
6. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan
Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak sama.
Di samping itu mereka mereka memerlukan pengarahan yang akan
mengembagkan mereka menjadi manusia yang mampu meraih
masa depan yang lebih baik. Dalam kaitan ini maka perlu adanya
bimbingan dan penyuluhan bagi para siswa dalam meniti hidupnya
meraih masa depan yang diharapkanya.
7. Supervisi dan Administrasi
Sebagai suat lembaga pendidikan memerlukan pengelolaan yang
terarah, baik yang digunakan oleh para guru, administrator sekolah,
maupun para pengamat sekolah. Bagaimana teknik supervisi dan
administrasi sekolah ini dapat dipelajari pada Pedoman
pelaksanaan kurikulum tentang supervise dan administrasi.Ketujuh
unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang mewarnai Kurikulum
1975 sebagai suatu sistem pengajaran.8
Mata Pelajaran dalam Kurikulum tahun 1975 adalah
1. Pendidikan agama
2. Pendidikan Moral Pancasila
3. Bahasa Indonesia
4. IPS
5. Matematika
6. IPA
7. Olah raga dan kesehatan
8. Kesenian
9. Keterampilan khusus
3. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan Tahun 1984

8
Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), hal.260
14

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak


relevan lagi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu
pengetahuan. Dalam GBHN 1983 hasil sidang umum MPR 1983
menyiratkan keputusan yang menghendaki perubahan kurikulum dari
kurikulum 1975 kepada kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984
pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum
1984. Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984
diantaranya sebagai berikut:
a. Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung
dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
b. Terdapat ketidakserasian terhadap kurikulum berbagai bidang studi
dengan kemampuan anak didik.
c. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya
dalam sekolah.
d. Terlalu padatnya kurikulum yang harus diajarkan hampir disetiap
jenjang.
Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara
kebutuhan dan perkembangan IPTEK terhadap kurilkulum 1975 dianggap
sudah tidak relevan karena itu diperlukan perubahan kurikulum.
Kurikulum 1984 lahir sebagai revisi kurikulum 1975. Kurikulum 1984
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Berorientasi kepada tujuan pembelajaran, maksudnya sebelum
memilih atau menentukann bahan ajar, yang pertama harus
dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.
b. Pendekatan pembelajarannya berpusat pada anak didik melalui cara
belajar siswa aktif.
c. Materi dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah
pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar
berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
d. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan.
e. Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan dan kematangan siswa.
15

f. Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses


adalah pendekatan belajar dan pembelajaran yang memberi tekanan
kepada proses pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan
dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan
proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam
mencapai tujuan pelajaran.9
Kebijakan dalam penyusunan Kurikulum 1984 adalah sebagai
berikut.
1. Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti. Kalau pada
Kurikulum 1975 terdapat delapan pelajaran inti, pada Kurikulum 1984
terdapat enam belas mata pelajaran inti. Mata pelajaran yang termasuk
kelompok inti tersebut adalah : Agama, Pendidikan Moral Pancasila,
Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Bahasa dan Kesusasteraan
Indonesia, Geografi Indonesia, Geografi Dunia, Ekonomi, Kimia,
Fisika, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris, Kesenian, Keterampilan,
Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Sejarah Dunia dan Nasional.
2. Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan
masing-masing.
3. Perubahan program jurusan. Kalau semula pada Kurikulum 1975
terdapat 3 jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam
Kurikulum 1984 jurusan dinyatakan dalam program A dan B. Program
A terdiri dari.
a) A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika
b) A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi
c) A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi
d) A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya.

Sedangkan program B adalah program yang mengarah kepada


keterampilan kejuruan yang akan dapat menerjunkan siswa langsung
berkecimpung di masyarakat. Tetapi mengngat program B
memerlukan sarana sekolah yang cukup maka program ini untuk
sementara ditiadakan.

9
Ibid, hal. 8
16

4. Pentahapan waktu pelaksanaan.


Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas I SMA
berturut tahun berikutnya di kelas yang lebih tinggi.
Kelebihan kurikulum 1984
1. Kurikulum ini memuat materi dan metode yang disebut secara rinci,
sehingga guru dan siswa mudah untuk melaksanakannya.
2. Prakarsa siswa dapat lebih dalam kegiatan belajar yang ditunjukkan
melalui keberanian memberikan pendapat
3. Keterlibatan siswa di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang telah
berlangsung yang ditunjukkan dengan peningkatan diri dalam
melaksanakan tugas.
4. Anak dapat belajar dari pengalaman langsung.
5. Kualitas interaksi antara siswa sangat tinggi, baik intelektual maupun
sosial.
6. Memasyarakatkan keterampilan berdiskusi yang diperlukan dengan
berpartisipasi secara aktif
Kekurangan kurikulum 1984
1. Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat
adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-
sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok.
2. Adanya ketergantungan pada guru dan siswa pada materi dalam suatu
buku teks dan metode yang disebut secara rinci, sehingga membentuk
guru dan siswa tidak kreatif untuk menentukan metode yang tepat dan
memiliki sumber belajar sangat terbatas.
3. Dapat didominasi oleh seorang atau sejumlah siswa sehingga dia
menolak pendapat peserta lain.
4. Siswa yang pandai akan bertambah pandai sedangkan yang bodoh akan
ketinggalan.
5. Peranan guru yang lebih banyak sebagai fasilitator, sehingga prakarsa
serta tanggung jawab siswa atau mahasiswa dalam kegiatan belajar
sangat kurang.
6. Diperlukan waktu yang banyak dalam pembelajaran menyebabkan
materi pelajaran tidak dapat tuntas dikuasai siswa.
7. Guru kurang berperan aktif.

4. Kurikulum Berorientasi Pencapaian Tujuan Tahun 1994


17

Pada tahun sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran


menekankan pada pola pembelajaran yang berorientasi pada teori belajar
mengajar, kurang memperhatikan muatan pelajaran. Hal ini terjadi karena
sesuai dengan suasana pendidikan di LPTK (Lembaga Penidikan tenaga
Kependidikan) yang lebih mengutamakn teori tentang proses belajar
mengajar. Akibatnya pada saat itu dibentuklah tim Basic Science yang
salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini
memandang bahwa materi pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada
siswa, sehingga siswa selesai mengikuti materi pelajaran yang cukup
banyak.
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurna kurikulum 1984 dan
dilaksanakan sesuai dengan undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang
sistem pendidikan nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian
waktu pelajaran yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem
caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu
tahun menjadi tiga tahap, diharapkan dapat memberi kesempatan bagi
siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.10
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pembentukan kurikulum 1994,
antara lain sebagai berikut :
a. Pembentukan tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
b. Pembelajaran disekolah lebih menekankan materi pelajaran yang
cukup padat.
c. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang meberlakukan satu
sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum
ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat
mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan
dan kebutuhan masyarakat sekitar.
d. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan
menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik
secara mental, fisik dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat

10
Ibid, hal. 10
18

memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban yang


konvergen, divergen, dan penyelidikan.
e. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan
dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir
siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran
yang menekankan kepada pemahaman konsep dan pengajaran yang
menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan
masalah.
f. Pengajaran dari hal yang konkret ke hal yang abstrak, dari hal yang
mudah ke hal yang sulit, dari hal yang sederhana ke hal yang
kompleks.
g. Pengulangan pengulangan materi yang di anggap sulit perlu dilakukan
pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa
permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada
pendekatan penguasaan materi diantaranya sebagai berikut :
a. Belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi setiap mata pelajaran.
b. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kuranganya relevan
dengan tingkat perkembangan berpikir siswa. Dan kurang bermakna
karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari hari.
Permasalahan diatas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan
kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk
menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan
itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut
dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan
kurikulum, yaitu :
a. Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya
menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan IPTEK, serta
tuntutan kebutuhan masyarakat.
19

b. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi


yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar,
potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukung.
c. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran
substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat
perkembangan siswa.
d. Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek
terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan
sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
e. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam
mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku
pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di
sekolah. Penyempurnaan kurikulum1994 pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah dilaksanakan bertahap penyempurnaan jangka
pendek dan penyempurnaan jangka panjang.11

C. Kurikulum Masa Reformasi


1. Kurikulum Berbasis kompetensi Tahun (KBK ) versi 2002 dan 2004
a. Latar Belakang Munculnya KBK
Kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan (1975-1994)
berimplikasi pada penguasaan kognitif lebih dominan namun kurang
dalam penguasaan keterampilan (skill). Sehingga lulusan pendidikan
kita tidak memiliki kemampuan yang memadai terutama yang bersifat
aplikatif, sehingga diperlukan kurikulum yang berorientasi pada
penguasaan kompetensi secara holistik. Kemampuan secara holistik ini
sejalan dengan perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di Indonesia tidak
terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sertaseni dan budaya.
Perubahan secara terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan
sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulumuntuk

11
Ibid,
20

mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikandiri


dengan perubahan zaman. Untuk itu upaya peningkatan mutu
pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh yang mencakup
pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-
aspek moral, akhlaq, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, seni, olah
raga, dan perilaku.
Pengembangan aspek-aspektersebut bermuara pada peningkatan
dan pengembangan kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan
melalui pencapaian kompetensi peserta didik untuk bertahan hidup,
menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang, dengan demikian
peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang
dikembangkan melalui pembelajaran dan atau pelatihan yang
dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Penyempurnaan
kurikulum untuk mewujudkan peserta didik yangdimaksudkan itu telah
diamanatkan dalam kebijakan-kebijakan nasional sebagai berikut.12
1) Perubahan keempat UUD 1945 Pasal31 tentang Pendidikan.
2) Tap MPR No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999-2004.
3) Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.
4) Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
Otonomi Daerah.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Daerah sebagai Daerah Otonom, yang antara lain
menyatakan pusat berkewenangan dalam menentukan : kompetensi
siswa; kurikulum dan materi pokok; penilaian nasional; dan kalender
pendidikan.13

b. Kurikulum Berbasis Kompetensi


Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK (kurikulum
Berbasis Kompetensi). Lahir sebagai respon dari tuntutan
reformasi, diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU

12
Depdiknas, Pedoman Umum Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Pusat Kurikulum), hal.3
13
Sanjaya Wina, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis KBK, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2008), hal. 11
21

No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan


propinsi sebagai daerah otonom, dam Tap MPR No IV/MPR/1999
tentang arah kebijakan pendidikan nasional.
KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses
pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru, yang
terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai kompetensi
yang diharapkan. Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan
pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir, dan bertindak. Seseorang telah memiliki kompetensi
dalam bidang tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari.
Kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge,
understanding, skill, value, attitude, dan interest. Dengan
mengembangkan aspek-aspek ini diharapkan siswa memahami,
mengusai, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari materi-materi
yang telah dipelajarinya. Adapun kompentensi sendiri diklasifikasikan
menjadi: kompetensi lulusan (dimilik setelah lulus), kompetensi standar
(dimiliki setelah mempelajari satu mata pelajaran), kompetensi dasar
(dimiliki setelah menyelesaikan satu topik/konsep), kompetensi
akademik (pengetahuan dan keterampilan dalam menyelesaikan
persoalan), kompetensi okupasional (kesiapan dan kemampuan
beradaptasi dengan dunia kerja), kompetensi kultural (adaptasi terhadap
lingkungan dan budaya masyarakat Indonesia), dan kompetensi
temporal (memanfaatkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa.
Secara umum kompetensi diartikan sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan
berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurkikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan
tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai pebelajar,
penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya
pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Kompetensi Utama mengacu pada kompetensi yang dikembangkan
Anderson dan Krathwhol (2001:ii), maka Kompetensi Utama dapat
22

dikelompok menjadi 4 (empat) gugus, yaitu: 1) factual knowledge, 2)


conceptual knowledge, 3) procedural knowledge, dan 4) metacognitive
knowledge. Factual knowledge menyangkut pengetahuan tentang fitur-
fitur dasar yang harus diketahui oleh pebelajar dalam sebuah disiplin
keilmuan dan dapat digunakan dalam memecahkan masalah. Jenis
kompetensi ini terdiri dari dua, yaitu: pengetahuan tentang terminologi,
dan 2) pengetahuan tentang detil spesifik (specific details) dan fitur-
fitur dasar (basic elements). Conceptual knowledge meliputi
kompetensi yang menunjukkan pemahaman tata hubungan antar fitur
dasar dalam suatu struktur yang lebih luas dan yang memungkinkan
berfungsinya fitur-fitur tersebut. Termasuk ke dalam kompetensi ini
adalah: 1) pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, 2) pengetahuan
tentang prinsi-prinsip kerja dan generalisasinya, 3) pengetahuan tentang
teori, model, paradigma dan struktur dasar.
Procedural knowledge meliputi pengetahuan dan pemahaman
bagaimana melakukan sesuatu (technical know how), metode inkuiri,
dan kriteria dalam menggunakan keterampilan, algotima, teknik, dan
metode. Termasuk dalam kompetensi ini, yaitu: 1) pengetahuan tentang
keterampilan khusus (subject-specific skills) dan perhitungan-
perhitungan (algorithm), 2) pengetahuan tentang teknik dan metode
khusus (subject-specific techniques and methods), 3) pengetahuan
tentang kriteria penggunaan sebuah prosedur yang tepat. Metacognitive
knowledge merupakan kompetensi yang menyangkut tentang
pengetahuan terhadap kognisi secara umum dan kesadaran serta
memahami kognisi diri sendiri. Kompetensi ini meliputi 3 hal, yaitu: 1)
pengetahuan strategis, 2) pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif,
termasuk pengetahuan tentang kontekstualitas dan kondisi khusus, dan
3) pengetahuan tentang diri sendiri.
Ke-empat gugus kompetensi utama tersebut perlu dijembatani
dengan lima unsur pokok yang diamanatkan dalam Kepmen
045/U/2002, yaitu: Pengembangan kepribadian (MK), pengembangan
keahlian dan keterampilan (MKK), pengemabngan keahlian berkarya
23

(MKB), pengembangan perilaku berkarya (PPB), dan pengembangan


berkehidupan bermasyarakat (PBB). Bila unsur-unsur kompetensi
utama ini diwujudkan ke dalam sebuah matrik, maka akan tampak
sebagai berikut.14
Tabel Matrik Kompetensi

Gugus
Kompetensi Factual Conceptual Procedural Metacogntive
Unsur knowledge knowledge knowledge knowledge
Kompetensi

Pengembangan
Kepribadian X X X
Pengembangan
Keilmuan dan
Keterampilan X X

Pengembangan
Keahlian Berkarya X X
Pengembangan
Perilaku Berkarya X X
Pengembangan
Berkehidupan
Bermasyarakat X X X

Keterangan: X persilangan antar gugus dan unsur yang perlu


dikembangkan sebagai kompetensi utama.(Hanya contoh)

c. Karakteristik dan Tujuan KBK


KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki tiga karakteristik utama:
1) KBK memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh
siswa
2) Implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan kepada proses
pengalaman dengan memerhatikan keberagaman setiap individu.
3) Evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi hasil dan proses
belajar.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci:

14
Depdiknas, Pedoman Umum Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Pusat Kurikulum), hal. 4
24

1) Menekankan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara


individual maupun klasikal. Ini mengandung pengertian bahwa
Kurikulum Berbasis Kompetensi menekankan kepada ketercapaian
kompetensi.
2) Berorientasi pada hasil belajar (Learning outcomes) dan
keberagaman. Ini artinya, keberhasilan pencapaian kompetensi dasar
diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang selanjutnya
dijadikan acuan apakah kompetensi yang diharapkan sudah tercapai
atau belum. Proses pencapaian hasil belajar itu tentu saja sangat
tergantung pada kemampuan siswa. Sebab diyakini, siswa memiliki
kemampuan dan kecepatan yang berbeda. KBK memberikan peluang
yang sama kepada seluruh siswa untuk dapat mencapai hasil belajar.
3) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan
metode yang bervariasi. Artinya, sesuai dengan keberagaman siswa,
maka metode yang digunakan dalam proses pembelajaran harus
bersifat multimetode.
4) Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya
yang memenuhi unsur edukatif. Artinya, sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi
informasi.
5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Artinya, keberhasilan
pembelajaran KBK tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat
menguasai isi atau materi pelajaran, akan tetapi juga bagaimana cara
mereka menguasai pelajaran tersebut.15
Tujuan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah memandirikan
atau memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang
akan disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi
lingkungan. KBK memberi peluang bagi kepala sekolah, guru, dan
peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah,
berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial, dan lain

15
Depdiknas, Pedoman Umum Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Pusat Kurikulum), hal.4
25

sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas, dan profesionalisme


yang dimiliki. Tujuan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah
mengembangkan potensi peserta didik untuk menghadapi perannya
dimasa datang dengan mengembangkan sejumlah kecakapan hidup.16

d. Keunggulan KBK
1) KBK yang dikedepankan Penguasaan materi Hasil dan
kompetenasiParadigma pembelajaran versi UNESCO: learning to
know, learning to do, learning to live together, dan learning to be.
2) Silabus ditentukan secara seragam, peran serta guru dan siswa dalam
proses pembelajaran, silabus menjadi kewenagan guru.
3) Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam perminggu, tetapi
jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi.
4) Metode pembelajaran Keterampilan proses dengan melahirkan
metode pembelajaran PAKEM dan CTL,
5) Sistem penilaian Lebih menitik beratkan pada aspek kognitif,
penilaian memadukan keseimbangan kognitif, psikomotorik, dan
afektif, dengan penekanan penilaian berbasis kelas.
6) KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar
(KHB), penilaian berbasis kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar
(KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS). KHB
berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yang
perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun.
PBK adalah melakukan penilaian secara seimbang di tiga ranah,
dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang berupa
portofolio, produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada
kegiatan aktif siswa dala membangun makna atau pemahaman, guru
tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai
motivator yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan
siswa dapat belajar secara penuh dan optimal

16
Mulyasa. E., Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan Implementasinya,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 10
26

2. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006


Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum
operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran
2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang
diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing
Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan
Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.17
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai
dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan
tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan
pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu
pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan
SKL. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang
dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan
kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar
isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan
pendidikan yang memuat (1) kerangka dasar dan struktur kurikulum, (2)
beban belajar, (3) kurikulum tingkat satuan pendidikan yang
dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan (4) kalender pendidikan.
SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan
kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.SKL meliputi kompetensi
untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.Kompetensi
lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah

17
Depdiknas, Pedoman Umum Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Pusat Kurikulum), hal.5
27

disepakati. Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam


peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang
Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah
memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah.
Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada
sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau
Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan
guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para
ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah
dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan
aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan
masyarakat.
Penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun
oleh BSNP dimana panduan tersebut berisi sekurang-kurangnya model-
model kurikulum tingkat satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tersebut
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/
karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta
didik.18

a. Konsep Dasar KTSP


Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15)
dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksnakan oleh
masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP diakukan oleh
satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar
kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan

18
Ibid,
28

Standar Nasional Pendidikan (BSNP). KTSP disusun dan


dikembangkan berdasarkan Undang-undang No 20 tahun 2003 tantang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut.
a) Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional
Pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional.
b) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan
dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi
daerah dan peserta didik.19
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan KTSP adalah
sebagai berikut:
a) KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi
dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan
peserta didik.
b) Sekolah dan komite sekolah mengembangkan KTSP dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi
lulusan, di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan
departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
c) Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi
diperguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing
perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk
mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP
merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan
otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat
dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah.
Otonomi diberikan agar satuan pendidikan dan sekolah memiliki
keleluasaan dalam mengelola sumber daya sumber dana, sumber belajar,
dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih
tanggap terhadap kebutuhan setempat.
Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dikembangkan oleh guru,
kepala seolah, serta Komite Sekolah dan Dewan pendidikan. Badan ini
19
Mulyasa. E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006),
hal. 18
29

merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat


daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan rakyat daerah
(DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga kependidikan,
perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah
yang menetapkan segala kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-
ketentuan tentang pendidikan yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah
perlu merumuskan dan menetapkan visi misi dan tujuan sekolah dengan
berbagai implikasinya terhadap program-program kegiatan operasional
untuk mencapai tujuan sekolah.20

b. Tujuan KTSP
Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan
dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan
(otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk
melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam
pengembangan kurikulum.Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP
adalah untuk21:
1) Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif
sekolah dalam mengembangkan kurikulum.
2) Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3) Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan yang
akan dicapai.
KTSP perlu diterapkan pada satuan pendidikan berkaitan dengan tujuh
hal berikut : (a) Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman bagi dirinya. (b) Sekolah lebih mengetahui kebutuhan
lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan. (c)
Pengambilan keputusan lebih baik dilakukan oleh sekolah karena sekolah
sendiri yang paling tahu yang terbaik bagi sekolah tersebut.(d)
Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan
kurikulum dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. (e)
20
Ibid., hal. 22
21
Ibid., hal. 24
30

Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikannya masing-


masing. (f) Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan
sekolah-sekolah lain dalam meningkatkan mutu pendidikan. (g) Sekolah
dapat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah secara
cepat serta mengakomodasikannya dengan KTSP.
Adapun prinsip-prinsip pengembangan KTSP menurut Permendiknas
nomor 22 tahun 2006 sebagaimana dikutip dari Mulyasa adalah sebagai
berikut.22
1) Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik
dan lingkungannya. Pengembangan kurikulum didasarkan atas prinsip
bahwa peserta didik adalah sentral proses pendidikan agar menjadi
manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, serta warga negara
yang demokratis sehingga perlu disesuaikan dengan potensi,
perkembangan, kebutuhan, dan lingkungan peserta didik.
2) Beragam dan terpadu. Kurikulum dikembangkan dengan
memperhatikan keragaman peserta didik, kondisi daerah dengan tidak
membedakan agama, suku, budaya, adat, serta status sosial ekonomi
dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib
kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu.
3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni. Kurikulum dikembangkan atas kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis.
4) Relevan dengan kebutuhan.
5) Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan relevansi
pendidikan tersebut dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja.
6) Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum
direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua
jenjang pendidikan.
7) Belajar sepanjang hayat, kurikulum diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.

22
Ibid., hal. 151-153
31

8) Seimbang antara kepentingan global, nasional, dan lokal.Kurikulum


dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional,
dan lokal untuk membangun kehidupan masyarakat.
c. Landasan Pengembangan KTSP
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang
dan peraturan pemerintah sebagai berikut.
1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.
2) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
3) Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Stanadar Isi.
4) Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Stanadar kompetensi
Lulusan
5) Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan permendiknas
no. 22, dan 33.
d. Karakteristik KTSP
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah
dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses
pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga
kependidikan, seta sistem penilaian. Berdasarkan uraian diatas, dapat
dikemukakan beberapa karakteristik KTSP sebagai berikut:23
a. Pemberian Otonomi Luas Kepada Sekolah dan Satuan Pendidikan
KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan
pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk
mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah
dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang
luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Melalui otonomi
yang luas, seolah dapat meningkatkan kinerja tenaga kependidikan
dengan menawarkan partisipasi aktif mereka dalam pengambilan
keputusan dan tanggungjawab bersama dalam pelaksanaan keputusan
yang diambil secara proporsional dan profesional.

23
Ibid., hal. 29
32

b. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi


Orang tua peseta didik dan mayarakat tidak hanya mendukung sekolah
melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan
pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program
yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Masyrakat dan orang
tua menjalin kerja sama unntuk membantu sekolah sebagai nara
sumber pada berbagai kegiatan sekolah untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran.
c. Kepemipinan yang Demokratis dan Profesional
Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum,
kepala sekolah adalah manajer pendidikan profesional yang direkrut
komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan. Guru-guru yang direkrut sekolah adalah
pendidik profesional dalam bidangnya masing-masing. Dalam proses
pengambilan keputusan, kepala sekolah mengimplementasikan proses
bottom-up secara demokratis, sehingga semua pihak memiliki
tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil beserta
pelakanaanya.
d. Tim-Kerja yang Kompak dan Transparan
Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah misalnya, pihak-pihak
yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan posisinya
masing-masing untuk mewujudkan suatu sekolah yang dapat
dibanggakan. Mereka tidak saling menunjukan kuasa atau paling
berjasa, tetapi masing-masing berkontribusi terhadap upaya
peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.

e. Komponen KTSP
Secara garis besar, KTSP memiliki enam komponen penting sebagai
berikut.
a. Visi dan misi satuan pendidikan
Visi merupakan suatu pandangan atau wawasan yang merupakan
representasi dari apa yang diyakini dan diharapkan dalam suatu
33

organisasi dalam hal ini sekolah pada masa yang akan datang.
b. Tujuan pendidikan satuan pendidikan
Tujuan pendidikan satuan pendidikan merupakan acuan dalam
mengembangkan KTSP. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan
untuk pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c. Kalender pendidikan
Dalam penyusunan kalender pendidikan, pengembang kurikulum harus
mampu menghitung jam belajar efektif untuk pembentukan kompetensi
peserta didik, dan menyesuaikan dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik.
d. Struktur muatan KTSP
1) Mata pelajaran
2) Muatan lokal
3) Kegiatan pengembangan diri
4) Pengaturan beban belajar
5) Kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan
6) Pendidikan kecakapan hidup
7) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global.
e. Silabus
Silabus merupakan rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata
pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi
waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan
pendidikan.
f. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk
mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam
Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.
34

3. Kurikulum 2013
Makna manusia yang berkualitas, menurut Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu manusia
terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kurikulum 2013
adalah kurikulum yang dirancang baik dalam bentuk dokumen, proses,
maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan
pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada
Standar Kompetensi Lulusan. Konten pendidikan dalam SKL
dikembangkan dalam bentuk kurikulum satuan pendidikan dan jenjang
pendidikan sebagai suatu rencana tertulis (dokumen) dan kurikulum
sebagai proses (implementasi). Dalam dimensi sebagai rencana tertulis,
kurikulum harus mengembangkan SKL menjadi konten kurikulum yang
berasal dari prestasi bangsa di masa lalu, kehidupan bangsa masa kini, dan
kehidupan bangsa di masa mendatang. Kurikulum 2013 bertujuan untuk
mengarahkan peserta didik menjadi:
1. Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan
zaman yang selalu berubah;
2. Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri;
3. Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
1. Tantangan Internal
Tantangan internal antara lain terkait dengaan kondisi pendidikan
dikaitkan dengaan tuntutan pendidikan yangg mengacu kepada 8
(delapan) Standar Nasional Pendidikan yangg meliputi standar isi,
standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan
tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar
pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan internal lainnya terkait dengaan perkembangan penduduk
Indonesia dilihat darii pertumbuhan penduduk usia produktif.
35

2. Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal antara lain terkait dengaan arus globalisasi dan
berbagai isu yangg terkait dengaan masalah lingkungan hidup,
kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan
budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.
Adapun ciri kurikulum 2013 yangg paling mendasar ialah:
1. Menuntut pengetahuan Guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu
pengetahuan sebanyak banyaknya karena siswa zaman sekarang
telah mudah mencari informasi dengaan bebas melalui perkembangan
teknologi dan informasi.
2. Siswa lebih didorong untukk memiliki tanggung jawab kepada
lingkungan, kemampuan interpersonal, antar personal, maupun
memiliki kemampuan berpikir kritis.
3. Memiliki tujuan agar terbentuknya genenrasi produktif, kreatif,
inovativ, dan avektif.
4. Khusus tingkat SD, pendekatan tematik integrative memberi
kesempatan siswa untukk mengenal dan memahami suatu tema dalam
berbagai pelajaran.24
Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut.
1. Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam
bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke
dalam Kompetensi Dasar (KD).
2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial
mengenai kompetensi yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu
jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran
3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari
peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu.
4. Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif,
keterampilan psikomotorik, dan pengetahuan untuk suatu satuan
pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh banyaknya KD suatu

24
Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembanagn Kurikulum, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008), hal. 19
36

mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi kepedulian


utama kurikulum.
5. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan
konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal dari pendekatan
disciplinarybased curriculum atau content-based curriculum.
6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip
akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.
7. Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi
pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan karakteristik
konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat
tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah
kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan
sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit
dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak
langsung.
8. Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat
formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial
untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan
(Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM dapat dijadikan tingkat
memuaskan).
9. Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Prof.Ir. Muhammad Nuh, DEA
mengatakan bahwa Kurikulum 2013 ini lebih ditekankan pada
kompetensi dengan pemikiran kompetensi berbasis sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.
BAB III
KESIMPULAN

Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama rencana
pembelajaran 1947. Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang
sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam psoses
perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah
lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar
dengan bangsa lain.Pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami
37

penyempurnaan, dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952.


Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus
memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-
hari.Tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum
pendidikan di Indonesia, dan diberi nama dengan rencana pendidikan 1964. Yang
menjadi ciri dari kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program
pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan
jasmani.
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964. Yaitu
perubahan struktur pendiddikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa
pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pemabelajaran diarahkan
pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan
fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968
menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Kurikulum
1984 mengusung proses skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses,
tapi faktor tujuan itu penting. Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya
memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum 1994 dibuat sebagai
penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang
no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kemudian KBK tahun 2004 dan KBK tahun 2006 (versi KTSP), bahwa
sekolah diberi kewenangan penuh dalam menyusun rencana pendidikannya
dengan mengacu pada standar-standar yang ditetapkan, mulai dari tujuan, visi-
misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan hingga
pengembangan silabusnya. Inti dari Kurikulum 2013, adalah ada pada upaya
penyederhanaan, dan tematik-integratif. Bertujuan untuk mendorong peserta didik
mampu dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mempresentasikan,
apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2002. Pedoman Umum Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Pusat


Kurikulum

Hamalik, Oemar. 2006. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya

Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya

Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Risdakarya

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan


Implementasinya.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Sanjaya Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis


KBK. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Soemanto Wasty dan Soeyarno. 1983. Landasan Historis Pendidikan Indonesia.


Surabaya: Usaha Nasional.

38