Anda di halaman 1dari 8

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM PANTI WRHEDA BUDI DHARMA

Panti Wrheda Budi Dharma terletak di desa ponggalan kecamatan

Umbulharjo 7/203 Rt. 14 Rw. V dan termasuk ke dalam wilayah kota

Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Panti Wrheda Budi Dharma

terletak di kampung Ponggalan, Kelurahan Giwangan, kecamatan Umbulharjo

Yogyakarta memiliki batas sebagai berikut:

Sebelah utara : persawahan

Sebelah timur : kampung tegal gendu

Sebalah selatan : kampung ponggalan

Sebelah barat :rumah dan persawahan

Tugas mulia Panti Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta ialah

melaksanakan pelayanan, perawatan jasmani dan rohani kepada manusia usia

lanjut terlantar, agar mereka dapat hidup secara wajar, sehingga mereka

mendapatkan kesejahteraan lahir batin.

B. HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 April 2008 sampai dengan 25 April

2008, yang bertempat di Panti Wrheda Budi Dharma Yogyakarta. Adapun

pengambilan sampel diperoleh responden yang telah memenuhi kriteria sebanyak

40 orang sebagai kelompok eksperimen. Perlakuan yang diberikan oleh peneliti

dalam penelitian ini adalah penerapan terapi bekam kering dengan cara menghisap

49
2

permukaan kulit dan memijat tempat sekitarnya yang sebelumnya diolesi minyak

but- but dengan menggunakan alat bekam yaitu: penghisap (hand pump),

mangkuk (cupping set), minyak but-but, sarung tangan (rubber gloves atau hand

scoon) pada area pada tubuh yang mengalami nyeri tanpa mengeluarkan darah

kotor.

1. Karakteristik Responden

Berikut ini adalah data gambaran umum responden pasien yang menderita

nyeri di Panti Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta yang diperoleh dari

penelitian yang akan dijelaskan dengan menggunakan tabel berdasarkan

karakteristik responden menurut jenis kelamin dan umur yang dapat dilihat

dibawah ini :

a. Karakteristik Responden Berdasarkan jenis kelamin

Tabel. 4.1. Karakteristik Responden di Panti Wrheda Budi Dharma kota


Yogyakarta

Karakteristik Jumlah %
responden total total
Jenis Kelamin
Laki laki 12 30
Perempuan 28 70

Total 40 100
Sumber : Data Primer bulan April 2008

Berdasarkan table 4.1 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden kelompok perlakuan berjenis kelamin perempuan dengan

jumlah 28 orang (70%) dari jumlah seluruh responden yang berada pada

kelompok perlakuan.
3

b. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Tabel. 4.2. Karakteristik Responden di Panti Wrheda Budi Dharma kota


Yogyakarta

Karakteristik Jumlah %
responden total total
Umur
55 62 5 13
62 - 73 31 77
> 73 4 10

Total 40 100
Sumber : Data Primer bulan April 2008

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa dari 40 responden

paling banyak berumur antara 62-73 tahun yaitu 31 (77,5%) responden.

2. Distribusi tingkat nyeri sebelum perlakuan dan setelah perlakuan

Tabel 4.3 Tingkat Nyeri pada Kelompok eksperimen di Panti Wrheda Budi
Dharma kota Yogyakarta

Tingkat Nyeri Sebelum Sesudah


Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase
Ringan 7 17,5 19 47,5
Sedang 25 62,5 19 47,5
Berat 8 20 2 5
Jumlah 40 100 40 100
Sumber: Data Primer bulan April 2008

Dari tabel 4.3 di atas terlihat bahwa rerponden yang mengalami nyeri

ringan sebelum pemeberian terapi bakam kering sebanyak 7 responden

(17,5%), yang mengalami nyeri sedang sebelum pemberian terapi bekam

kering sebanyak 25 responden (62,5%) dan yang mengalami nyeri berat 8

responden (20%). Sedangkan setelah pemberian terapi bekam kering terdapat

penurunan jumlah responden yang mengalami nyeri sedang dari 25 responden

menjadi 19 responden dan yang dari nyeri berat yang semula berjumlah 8
4

responden menjadi 2 responden, hal ini berarti jika dilihat dari tabel hampir

semua responden mengalami perubahan tingkat nyeri.

Dari data tersebut di atas selanjutnya dilakukan analisis dengan uji beda

rata- rata untuk sampel yang berhubungan dengan rumus / uji Parametrik

Paired t- Test dengan menggunakan SPSS 10.0 yang hasilnya tampak pada

tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4 Pengaruh terapi bekam kering terhadap perubahan tingkat nyeri di Panti
Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta(N=40)
Variabel mean SD t p

Tingkat nyeri
Pre 5,00 1.649 7,965 ,000
1.502
post 3,37
Sumber : Data Primer bulan April 2008

Berdasarkan tabel 4.4 di atas menggunakan uji statistik paired t-Test

didapatkan hasil bahwa nilai signifikasi (p) sebesar ,000. Hal ini menunjukkan

bahwa nilai signifikasi (p) < 0,05, yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha

diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Terdapat Pengaruh Terapi

Bekam Kering Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Pada Lansia Di Panti

Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta. Selain itu untuk melihat Ho ditolak

dapat pula diketahui dari nial t hitung yaitu sebesar 7,965, menunjukkan

bahwa sebelum pemberian terapi bekam kering lebih kecil dari setelah

pemberian terapi bekam kering.


5

C. PEMBAHASAN

1. Sebelum Dilakukan Bekam kering

Berdasarkan Tabel 4.1 dan 4.2 diatas Karakteristik responden berdasarkan

jenis kelamin dan umur yang berada di Panti Wrheda Budi Dharma kota

Yogyakarta apabila karakteristik responden tersebut dihubungkan dengan

tingkat nyeri pada awal atau sebelum perlakuan akan diketahui bahwa

sebagian besar pada responden mengalami nyeri dengan tingkat nyeri sedang

yaitu sebesar 62,5% (25 responden dari 40 responden), hal ini sesuai dengan

pernyataan potter (2006) bahwa usia merupakan variabel penting yang

mempengaruhi nyeri, khususnya pada anak-anak dan lansia. Perbedaan

perkembangan, yang ditemukan di antara kelompok usia ini dapat

mempengaruhi bagaimana anak-anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.

Anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami nyeri dan

prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan nyeri. Anak-anak kecil

yang belum dapat mengucapkan kata-kata juga mengalami kesulitan untuk

mengungkapkan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua

atau petugas kesehatan. Sedangkan lansia yang mengalami nyeri, perlu

dilakukan pengkajian, diagnosis, dan penatalaksanaan secara agresif. Namun,

individu yang berusia lanjut memiliki resiko tinggi mengalami situasi-situasi

yang membuat mereka merasakan nyeri dimungkinkan responden lebih

mempersiapkan untuk mengurangi rasa nyeri (potter 2006).


6

2. Setelah Dilakukan Bekam kering

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dilihat dari hasil penelitian mengenai

pegaruh terapi bekam kering terhadap perubahan tingkat nyeri pada lansia di

Panti Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta yang terdiri dari 40 responden.

Dari 40 responden tersebut terdapat 25 responden yang mengalami nyeri

sedang sebelum pemberian terapi bekam kering. Namun, setelah pemberian

terapi bekam kering yang semula responden paling banyak berada pada

tingkat nyeri sedang yaitu sebanyak 25 responden, mengalami perubahan atau

penurunan dari 25 responden menjadi 19 responden yang berada pada kategori

tingkat nyeri sedang. Selain itu responden yang berada pada tingkat nyeri

ringan yang semula berjumlah 7 responden naik menjadi 19 responden. Hal ini

dikarenakan responden yang berada pada kategori tingkat nyeri sedang dan

berat mengalami perubahan atau penurunan pada tingkat nyeri ringan. Begitu

pula uji statistik menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen terjadi

perubahan bermakna bahwa terdapat perngaruh terapi bekam kering

terhadap perubahan tingkat nyeri pada lansia di Panti Wrheda Budi Dharma

kota Yogyakarta.

Dari hal tersebut di atas, sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa ada

beberapa manajemen nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, salah satunya

adalah stimulasi kutan yaitu stimulasi pada kulit yang dilakukan untuk

menurunkan nyeri (Potter dan Perry, 2006). Terapi bekam kering ini sendiri

merupakan teknik yang memberikan stimulus pada saraf tubuh seperti halnya

akupuntur (Omar et al, 2007). Sebagaimana yang diungkapkan (Yasin, 2005)


7

bahwa pembekaman di kulit akan menstimulasi kuat sayraf pemukaan kulit

yang akan dilanjutkan pada cornu posterior medulla spinalis melalui syaraf A-

delta dan C, serta traktus spino thalamicus ke arah thalamus yang akan

menghasilkan endorphin. Sedangkan sebagian rangsangan lainya akan

diteruskan melalui serabut aferen simpatik menuju ke motor neuron dan

menimbulkan reflek intubasi nyeri.

Secara fisiologis terapi bekam dapat menurunkan nyeri karena pada terapi

bekam memberikan stimulus atau rangsangan pada saraf tubuh, hal ini sesuai

teori Gate Control bahwa sensasi nyeri dapat di blok pada gate-nya dengan

memberikan stimulasi pada serat syaraf berdiameter besar A-delta yang

membawa sensasi umum. Aplikasi teori gate control untuk mengatasi nyeri

adalah dengan relaksasi. Hal tersebut dapat menurunkan nyeri dengan cepat

karena impuls yang bergerak cepat dari reseptor syaraf perifer mencapai

gate terlebih dahulu dan impuls nyeri berjalan lebih lambat sepanjang serat

nyeri. Kemudian otak menerima dan menginterpretasikan secara umum

sensasi pesan dan tidak menerima pesan nyeri. Endorphin adalah satu jenis

neurochemical alami dari nyeri. Endorphin adalah substansi yang diproduksi

tubuh mirip morphin yang dapat memblok reseptor narkotik di ujung syaraf di

otak dan corda spinalis sehingga transmisi sensasi nyeri terhambat. Dengan

memahami apakah dapat mempengaruhi Gate/gerbang-gerbang ini, para

perawat dapat memperoleh sebuah kerangka kerja konseptual yang berguna

untuk manajemen rasa nyeri. Teori ini menyatakan bahwa rangsangan akan
8

dirintangi ketika sebuah pintu tertutup. Penutupan pintu adalah dasar untuk

terapi pertolongan rasa sakit (Potter, 2006).

Selanjutnya apabila hasil tersebut dianalisis statistik dengan uji beda rata-

rata untuk sampel yang berhubungan dengan rumus / uji Parametrik Paired t-

Test nilai signifikasi pada kelompok eksperimen yaitu 0.000 < 0,05. yang

berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa

terdapat pengaruh terapi bekam kering terhadap penurunan tingkat nyeri pada

lansia di Panti Wrheda Budi Dharma kota Yogyakarta.

D. KETERBATASAN PENELITIAN

Mengingat kekurangan dan keterbatasan peneliti, bisa jadi penelitian ini

tidak seperti yang sudah dilaksanakan, misalnya dalam mengetahui skala nyeri

peneliti hanya menggunakan dua metode atau cara untuk mengetahui skala

nyeri responden yaitu dengan skala nyeri numerikal (0-10). Padahal selain

dengan cara ini ada beberapa metode lainnya. Apabila klien tidak dapat

membaca dan memahami skala nyeri serta tidak mampu memahami

penjelasan dari peneliti maka deskripsi nyeri tidak akurat. Karena keterbatasan

waktu dan jumlah populasi penelitian kali ini tidak menggunakan kelompok

kontrol dan jumlah respondennya relatif sedikit. Jika menggunakan kelompok

kontrol maka sampel yang digunakan sebagai eksperimen dan kelompok

kontrolnya akan lebih sedikit lagi.