Anda di halaman 1dari 30

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan
mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rhinosinusitis dapat
mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi
dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang
baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit
rhinosinusitis ini.Penyebab utama sinusitis adalah infeksi virus, diikuti oleh
infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus
ethmoid dan maksilaris. Bahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita
dan intracranial, komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau
faktor predisposisi yang tidak dapat dihindari.1
Diperkirakan setiap tahun 7 miliar dolar dihabiskan di Amerika Serikat
untuk pengobatan rhinosinusitis. Pada tahun 2007 di Amerika Serikat,
dilaporkan bahayaangka kejadian rhinosinusitis mencapai 26 juta individu.Di
Indonesia sendiri,data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa
penyakit hidung dansinus berada pada urutan ke 25 dari 50 pola penyakit
peringkat utama atausekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit.2
Sejak pertengahan tahun 1990-an, istilah sinusitis diganti menjadi
rinosinusitis. Menurut American Academy of Otolaryngology Head &
Neck Surgery 1996 istilah sinusitis diganti dengan rinosinusitis (RS) karena
dianggap lebih akurat dengan alasan:1,2
1). Secara embriologis mukosa sinus merupakan lanjutan mukosa hidung
2). Sinusitis hampir selalu didahului dengan rinitis
3). Gejala-gejala obstruksi nasi, rinore dan hiposmia dijumpai pada rinitis
ataupun sinusitis.
Perkembangan penelitian mengenai patofisiologi, penegakan diagnosis,
dan penatalaksanaan kelainan pada sinus secara singkat dapat dilihat dalam
dua rekomendasi para ahli yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa.
Para ahli di Amerika Serikat, melalui rekomendasi Rhinosinusitis Task
Force (RSTF) pada tahun 1996, merekomendasikan bahwa rinosinusistis
2

didiagnosis berdasarkan gejala klinis, durasi gejala, pemeriksaan fisis,


nasoendoskopi dan tomografi komputer.3
Namun demikian, gejala dan tanda klinis pada semua penderita inflamasi
kronik pada sinus tampak tumpang tindih, baik pada penderita yang disertai
polip hidung atau tanpa polip hidung. Para ahli di Eropa, melalui
rekomendasi European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps
(EP3OS) menegaskan bahwa perbedaan antara penderita polip hidung dan
rinosinusitis kronik harus berdasarkan pemeriksaan nasoendoskopi. Selain
itu, rekomendasi ini menegaskan bahwa polip hidung merupakan
subkelainan dari rinosinusitis kronik.4
Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis dan bila mengenai
seluruh sinus paranasal, disebut pansinusitis. Sinus maksila sering terkena,
kemudian sinus etmoid, sinus frontal dan sinus sfenoid. Penyakit ini berasal
dari perluasan infeksi hidung, gigi, faring, tonsil atau adenoid. Tetapi dapat
juga terjadi akibat trauma langsung, barotrauma, berenang atau menyelam.
Ikut berperan pula beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan obstruksi
muara sinus maksila, sehingga mempermudah terjadinya sinusitis seperti
deviasi septum,hipertropi konka, massa di dalam rongga hidung dan
alergi.5,6
Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat,
sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk
memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode
diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini. Yang berbahaya dari sinusitis
adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi
akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat
dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap rinosinusitis ini sangat
penting. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi,
mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan
tindakan operasi.7
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Sinus Paranasal


Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada sisi hidung; sinus frontal
kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri , sinus maksila kanan dan kiri
dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua lapisan ini dilapisi oleh mukosa
yang merupakan lanjutan mukosa hidung; berisi udara dan semua bermuara
di rongga hidung melalui ostium masing masing. 5
Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok, anterior dan
posterior. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media, pada atau
didekat infundibulum, terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan sel-sel
sinus etmoid. Kelompok posterior bermuara di berbagai tempat di atas
konka media, terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sfenoid.
Garis perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan batas
antara kedua kelompok. Proctor berpendapat bahwa salah satu fungsi
penting sinus paranasal adalah sebagai sumber lender yang segar dan tidak
terkontaminasi dialirkan ke mukosa hidung.5
Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari
os.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior, yang memisahkan
rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum, dinding
lateral terdapat konka superior, konka media, dan konka inferior. Celah
antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior,
berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan
sebelah atas konka media disebut meatus superior.5
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsi karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Sinus
paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga
terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus bermuara ke dalam rongga
hidung. 6
4

a) Sinus Maksila
Pada waktu lahir sinus maksila hanya berupa celah kecil disebelah
medial orbita. Mula-mula dasarnya lebih tinggi daripada dasar rongga
hidung, kemudian terus mengalami penurunan, sehingga pada usia 8
tahun menjadi sama tinggi. 6
Perkembangannya berjalan kearah bawah, bentuk sempurna terjadi
erupsi gigi permanen. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15
dan 18 tahun. Sinus maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus
paranasal yang terbesar, bentuk piramid iregulerdengan dasarnya
menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya kearah apeks prosessus
zygomaticus os maksila. Menurut Moris pada buku anatomi tubuh
manusia, ukuranrata-rata pada bayi baru lahir 78 x 46 mm dan untuk
usia 15 tahun 3132 x 1820 x 1920 mm. Sinus maksila merupakan
sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus maksila bervolume 68
ml, sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. 6
Sinus maksila ini mendapat persarafan dari nervus maksilaris (V/2)
yang mempersarafi sensasi dari mukosa dibagian lateroposteriornasal
dan cabang superior alveolar dari nervus infraorbita. 6
Sinus maksila mempunyai beberapa dinding yaitu:
1. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os
palatum, prosesus unsinatus os etmoid, prosesus maksilaris konka
inferior dan sebagian kecil os maksilaris. Dinding medial sinus
maksila merupakan dinding lateral hidung dimana terdapat ostium
sinus yang menghubungkan sinus maksila dengan infundibulum
ethmoid. Ostium ini terletak pada bagian superior dari dinding
medial, biasanya pada pertengahan posterior dari infundibulum,
sekitar 9 mm ke arah posterior duktus nasolakrimalis. Ujung
posterior dari ostium berlanjut ke lamina papyracea dari tulang
etmoid.
2. Dinding atas memisahkan rongga sinus dengan orbita terdiri dari
tulang yang tipis yang dilewati oleh kanalis infra orbitalis
5

3. Dinding posteriorinferioratau dasarnya biasanya paling tebal dan


dibentuk oleh bagian alveolar os maksila atas dan bagian luar
palatum durum. Dinding posterior memisahkan sinus dari fossa
infratemporal dan fossa pterigomaksila.
4. Dinding anterior terbentuk dari fasia fasialis maksila yang
berhadapan dengan fossa kanina dan memisahkan sinus dari kulit
pipi.
5. Dasar dari sinus dibentuk oleh prosesus alveolaris maksila. Pada
anak letaknya sekitar 4 mm diatas dasar cavum nasi , dan pada
dewasa letaknya 4- 5 mm dibawah dasar cavum nasi. 5
Gigi premolar kedua dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat
dengan dasar sinus. Bahkan tumbuh kedalam rongga sinus,hanya
tertutup oleh mukosa saja. Proses supuratif yang terjadi disekitar gigi ini
dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe,
sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan
ronggga sinus yang akan mengakibatkan sinusitis. 5
b) Sinus Frontal
Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi, dan seringkali
juga sangat berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus pasangannya.
Kadang-kadang juga ada sinus yang rudimenter, tetapi tidak ada yang
tak terbentuk sama sekali. Mungkin ada septum tulang yang membagi
sinus menjadi satu kompartemen atau lebih. Sinus ini berhubungan
dengan meatus medius melalui duktus nasofrontal, yang berjalan
kebawah dan kebelakang dan bermuara pada infundibulum bagian atas.
Kadan-kadang kanalis frontonasalis ini bermuara langsung di meatus
medius.
Dinding depan sinus frontal hamper selalu diploik, terutama dibagian
sudut luar atau sudut infero-lateral dan pada sulkus superior tempat
pertemuan dinding anterior dan posterior.5
Sinus frontal jarang tampak pada pemeriksaan rontgen hingga tahun
kedua setelah kelahiran, kemudian sinus ini berkembang secara lambat
kearah vertikal pada tulang frontal dan telah lengkap pada usia remaja.
6

Sekitar 5% dari populasi mengalami kegagalan pertumbuhan dari sinus


ini. Ukuran sinus frontal pada orang dewasa sekitar 28 x 27 x 17 mm
dengan volume 6 sampai 7 ml. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang
relative tipis dari orbita dan fossa cerebri anterior, sehingga infeksi dari
sinus frontal mudah menjalar . Sinus frontal berdrenase melalui
ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan
infundibulum etmoid. 6
Perdarahan pada sinus frontal meliputi cabang supra troklear dan
supraorbital dari arteri optalmikus dan melalui vena superior optalmikus
yang mengalir kedalam sinus kavernosus. Sensasi mukosa sinus frontal
ini mendapati persarafan dari percabangan supratroklear nervus frontal
yang berasal dari nervus optalmikus (V/1). Sinus frontal terletak pada
tulang frontal dibatas atas supraorbital dan akar hidung. Sinus ini dibagi
dua oleh sekat secara vertikal dibatas midline dengan ukuran masing-
masing yang bervariasi. Sinus frontal sangat berhubungan erat dengan
tulang etmoid anterior. 6

Gambar 1. Sinus Paranasal tampak anterior dan tampak lateral


c) Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal sinus etmoid yang paling bervariasi dan
akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus
infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid
seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari
7

anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2,4 cm dan lebarnya 0,5 cm di bagian
anterior dan 1,5 cm di bagian posterior.6
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai
sarang tawon, yang terdapat di bagian massa lateral os etmoid, yang
terletak antara konka media dan dinding medial orbita. Sel-sel ini
jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi
menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan
sinus etmoid posterior yang bernuara di meatus superior. Sel-sel sinus
etmoid biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya didepan lempeng yang
menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral,
sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih
sedikit jumlahya dan terletak di posterior lamina basalis.5
Secara embriologis, sinus etmoid ini terbentuk dari lima
etmoturbinal. Kelima bagian tersebut yakni unsinatus, bula etmoid basal
lamella (ground lamella), konka superior dan konka suprema.Sel-sel
sinus etmoid ini akan tumbuh secara cepat sehingga pada usia dewasa
mencapai ukuran 20 x 22 x 10 mm pada kelompok sel anterior dan 20 x
20 x 10 mm pada kelompok sel posterior. Sel-sel etmoid ini biasanya
mengandung 1015 sel persisi dengan total volume 1415 ml.5
Sel-sel anterior dipisahkan oleh sel-sel posterior oleh lempeng tulang
transversal yang tipis. Tempat perlekatan konka media pada dinding
lateral hidung juga merupakan patokan letak perbatasan kelompok sel-
sel anterior dan posterior. Kelompok anterior terdapat di depan dan
bawahnya sedang kelompok posterior ada diatas dan dibelakangnya.5
Pada pemeriksaan, ukuran kedua kelompok sel-sel tersebut dapat
berbeda jauh, biasanya sel-sel etmoid posterior lebih sedikit jumlahnya
tetapi ukurannya lebih besar bila dibandingkan dengan bagian anterior. 5
Perdarahan pada sinus etmoid meliputi cabang arteri sfenopalatina,
arteri etmoidalis anterior dan posterior, cabang arteri optalmikus dari
arteri karotis interna. Sedangkan aliran vena berasal dari vena maksilaris
dan etmoidalis yang mengalir kedalam sinus kavernosus. Inervasi
persarafan dari sinus etmoid ini berasal dari cabang posterolateral
8

hidung dari nervus maksilaris (V/2) dan cabang nervus etmoidalis dari
nervus optalmikus (V/1).6
d) Sinus Sfenoid
Sebelum anak berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil namun telah
berkembang sempurna pada usia 12-15 tahun. Letaknya dalam korpus os
etmoid dan ukuran serta bentuknya bervariasi. Sepasang sinus ini
dipisahkan satu sama lain oleh septum tulang yang tipis, yang letaknya
jarang di tengah, sehingga salah satu sinus akan lebih besar dari sisis
lainnya.5
Sinus sfenoid mulai berkembang saat bulan ketiga setelah kelahiran
yang merupakan invaginasi dari mukosa bagiansuperior posteriordari
kavum nasi, yang juga dikenal sebagai sphenoethmoidal recess.
Pneumatisasi sfenoid ini terjadi selama pertengahan usia kanak-kanak
dan mengalami pertumbuhan yang cepat saat berusia 7 tahun. Sinus ini
mengalami pertumbuhan maksimal dan terhenti setelah berusia 12
sampai 15 tahun.5
Ukuran ostium sinus sfenoid berkisar antara 0,5 sampai 4mm dan
letaknya kira-kira 10-20 mm di atas dasar sinus sehingga kurang
menguntungkan dari segi drainase menurut gravitasi. Bila ada atrofi
konka atau ada deviasi septum ke sisi yang berlawanan, mungkin ostium
ini akan tampak pada pemeriksaan rhinoskopi anterior.5
Perdarahan sinus sfenoid meliputi cabang arteri sfenopalatina dan
arteri etmoidalis posterior, sedangkan aliran vena berasal dari vena
maksilaris dan pleksus pterigoid.Inervasi persarafan dari sinus sfenoid
ini berasal dari cabang nervus etmoidalis posterior dari nervus
optalmikus (V1), dan cabang nasal dan sfenopalatina dari nervus
maksilaris.5
Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari arteri
etmoidalis anterior dan posterior yang merupakan cabang dari arteri
oftalmika dari arteri karotis eksterna. Bagian bawah mendapat
pendarahan dari cabang arteri maksilaris interna, diantaranya ialah ujung
arteri palatine mayor dan arteri sfenopalatina yang keluar dari foramen
9

sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung konka


media. Bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
arteri sfenopalatina, arteri edmoidalis anterior, arteri labialis superior dan
arteri palatina mayor yang di sebut pleksus kisselbach.6
Hidung luar diinervasi oleh divisi oftalmika. Intocoklearis yang
membawa sensasi dari dorsum nasi bagian tulang dan n. Nasalis
eksternus yang membawa sensasi atap hidung bagian caudal. Pada
kavum nasi dan sinus, N. Ethmoidalis anterior cabang n.Oftalmika
membawa sensasi dari kavum nasi bagian antro-superior, septum dan
sinus ethmoidalis, N.ethmoidalis posterior rmembawa sensasi dari cavum
nasi posterior dan sinus yang berdekatan, N.Supraorbital dan
supratroclear membawa sensasi dari sinus frontalis. 5
e. Kompleks Ostio-Meatal

Gambar 2. Gambaran bagan dari kompleks ostiomeatal dan klirens mukosiliar


yang normal
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius,
ada muara-muara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid
anterior. Daerah ini rumit dan sempit dan dinamakan kompleks ostio-
meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang
prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid
anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.4
10

2.2. Fisiologi Sinus Paranasal


Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional,
maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah : 1) fungsi respirasi
untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara,
humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme
imunologik lokal ; 2) fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa
olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus
penghidu ; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu
proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi
tulang ; 4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala,
proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; 5) refleks nasal.6
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara
lain adalah:
1. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan
mengatur kelembaban udara inspirasi.Keberatan terhadap teori ini ialah
ternyata tidak didapati pertukaran udara yangdefinitif antara sinus dan
rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan
beberapa jam untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula
mukosa sinus tidak mempunyai vaskularisasi dan kelenjar yang
sebanyak mukosa hidung.
2. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas,
melindungi orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang
berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya, sinus-sinus yang besar tidak
terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.
3. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat
tulang muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang
11

hanya akan memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat


kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.
4. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi
sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai
resonator yang efektif. Tidak ada korelasi antara resonansi suara dan
besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
5. Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan
mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.
6. Membantu produksi mukus.
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya
kecil dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif
untuk membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi
karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling
strategis.6
2.3. Definisi Rinosinusitis
Rinosinusitis (termasuk polip nasi) didefinisikan sebagai inflamasi
hidung dan sinus paranasal yang ditandai adanya dua atau lebih gejala, salah
satunya harus termasuk sumbatan hidung/ obstruksi nasi/ kongesti atau pilek
(sekret hidung anterior/ posterior).7
2.4. Epidemiologi Rinosinusitis
Insiden rinosinusistis akut dan kronis terus meningkat, diperkirakan
sekitar 10 - 15 % terjadi pada populasi di Eropa Tengah setiap tahunnya. Di
Amerika Serikat terdapat 30 juta kasus rinosinusitis akut bakterial setiap
tahunnya, di negara ini jumlah penderita sinusitis akut yang berobat ke
dokter adalah 0,5 2,0 % pada dewasa dan 5 10 % pada anak dari semua
penyakit infeksi saluran napas atas.13
Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari-Agustus
2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah
435 pasien, 69%nya adalah sinusitis.10
12

Survei pendahuluan di bagian Rinologi-alergi Ilmu Kesehatan Telinga


Hidung dan Tenggorok (THT) Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS)
didapatkan angka kunjungan penderita rinosinusitis akut periode Januari-
Desember 2009 tercatat 260 kasus, terdiri dari 121 laki-laki dan 139
perempuan.14
2.5. Etiologi Rinosinusitis
1. Rinogen
a. Obstruksi ostium sinus
b. Infeksi virus, jamur, bakteri
c. Fraktur atau luka tusuk pada sinus paranasal
2. Dentogen
a. Infeksi gigi molar M1, M2, M3
b. Infeksi gigi premolar P1, P2
3. Infeksi Tenggorok
a. Tonsilitis
b. Infeksi Faring
c. Adenoiditis
2.7. Faktor Predisposisi Rinosinusitis
1. Obstruksi ventilasi dan drenase sinus. Secara normal, sinus memiliki
ventilasi yang baik dengan jumlah sekret mukus yang sedikit yang
mengikuti gerakan silia, menuju ostium sinus dan dikeluarkan ke kavum
nasi. Beberapa faktor dapat menyebabkan stasis sekresi sinus, yaitu:
a. Tampon hidung
b. Deviasi septum
c. Hipertrofi konka
d. Edema ostium sinus karena rinitis alergi atau vasomotor
e. Polip nasi
f. Struktur abnormal pada rongga etmoid
g. Neoplasma
2. Stasis sekresi dalam kavum nasi. Normalnya, sekresi hidung mungkin
tidak masuk ke nasofaring karena kekentalannya (fibrosis kistik) dan
obstruksi (hipertrofi adenoid dan atresia koanal.
13

3. Serangan sinusitis sebelumnya. Pertahanan local mukosa sinus


mengalami kerusakan.
4. Lingkungan. Udara dingin dan kering, lingkungan berpolusi, dan
kebiasaan merokok.
5. Daya tahan tubuh menurun. Adanya defisiensi nutrisi dan kelainan
sistemik (diabetes, sindrom defisiensi imun), serta perubahan hormonal
(kehamilan).
6. Bakteriologi. RS bakterial akut secara tipikal berawal dari infeksi viral
pada saluran napas atas yang berlanjut lebih dari 10 hari. Dalam
beberapa kasus, RS bakterial sekunder bisa jadi akibat sumbatan ostium
karena edema mukosa dan kerusakan silia. Akhirnya, terjadi stasis
mukus dan menjadi media pertumbuhan kuman. Bakteri yang paling
banyak menyebabkan RS akut di antaranya Streptococcus pneumonia,
Haemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis.
2.8. Patofisiologi Rinosinusitis
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
kelancaran klirens dari mukosiliar di dalam kompleks osteo meatal (KOM).
Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat
yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama
udara pernafasan. Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami
oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga
silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi
gangguan drainase dan ventilasi di dalam sinus, sehingga silia menjadi
kurang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental
dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri pathogen. Bila
sumbatan berlangsung terus akan terjadi hipoksia dan retensi lender
sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan
jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan kista. Polip nasi
dapat menjadi manifestasi klinik dari penyakit sinusitis. Polipoid berasal
dari edema mukosa, dimana stroma akan terisi oleh cairan interseluler
sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut,
14

dimana mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian turun ke


dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terjadilah polip.9
Perubahan yang terjadi dalam jaringan dapat disusun seperti dibawah ini,
yang menunjukkan perubahan patologik pada umumnya secara berurutan :
1. Jaringan submukosa di infiltrasi oleh serum, sedangkan permukaannya
kering. Leukosit juga mengisi rongga jaringan submukosa.
2. Kapiler berdilatasi, mukosa sangat menebal dan merah akibat edema dan
pembengkakan struktur subepitel. Pada stadium ini biasanya tidak ada
kelainan epitel.
3. Setelah beberapa jam atau sehari dua hari, serum dan leukosit keluar
melalui epitel yang melapisi mukosa. Kemudian bercampur dengan
bakteri, debris, epitel dan mukus. Pada beberapa kasus perdarahan
kapiler terjadidan darah bercampur dengan sekret. Sekret yang mula-
mula encer dan sedikit, kemudian menjadi kental dan banyak, karena
terjadi koagulasifibrin dan serum.
4. Pada banyak kasus, resolusi terjadi dengan absorpsi eksudat dan
berhentinya pengeluaran leukosit memakan waktu 10 14 hari.
5. Akan tetapi pada kasus lain, peradangan berlangsung dari tipe kongesti
ketipe purulen, leukosit dikeluarkan dalam jumlah yang besar sekali.
Resolusi masih mungkin meskipun tidak selalu terjadi, karena perubahan
jaringan. Belum menetap, kecuali proses segera berhenti. Perubahan
jaringan akanmenjadi permanen, maka terjadi perubahan kronis, tulang
di bawahnya dapat memperlihatkan tanda osteitis dan akan diganti
dengan nekrosis tulang.
Perluasan infeksi dari sinus kebagian lain dapat terjadi : (1) Melalui
suatu tromboflebitis dari vena yang perforasi; (2) Perluasan langsung
melalui bagiandinding sinus yang ulserasi atau nekrotik; (3) Dengan
terjadinya defek; dan (4) melalui jalur vaskuler dalam bentuk bakterimia.5
2.9. Klasifikasi Rinosinusitis
Menurut The Rhinosinusitis Task Force (RSTF):1,2
1. RS akut : 4 minggu
2. RS subakut : > 4-12 minggu
15

3. RS kronik : > 12 minggu


4. RS akut rekuren : 4 episode per tahun; tiap episode 7-10 hari
resolusi komplit di antara episode
5. RS kronik eksaserbasi akut : perburukan gejala tiba-tiba dari RS kronik
dengan kekambuhan berulang setelah pengobatan
American Academy of Allergy, Asthma and Immunology; American
Academy of Otolaryngic Allergy; American Academy of Otolaryngology-
Head and Neck Surgery; American College of Allergy, Asthma and
Immunology; and American Rhinologic Society mengusulkan subklasifikasi
lebih lanjut dari RS kronik adalah:
1. RS kronik dengan polip, ditandai dengan mukosa polipoid dengan
edema, infiltrasi eosinofil. Limfosit T dan B, serta kerusakan pada epitel
yang disebabkan oleh produk-produk aktivasi sel eosinofil. Tipe ini
berhubungan dengan meningkatnya prevalensi polip hidung dan juga
berhubungan dengan lebih luasnya gambaran patologis kelainan sinus
pada tomografi komputer.
2. RS kronik tanpa polip, yaitu bentuk RS kronik yang tidak disertai oleh
tanda-tanda tersebut di atas, namun ditandai oleh hiperplasia kelenjar
seromukosa submukosa yang jelas.
Klasifikasi sinusitis yang disebabkan oleh jamur dikategorikan ke dalam
3 grup:1,2
1. Sinusitis jamur invasif
a. Terjadi pada pasien diabetes dan pasien imunosupresi.
b. Jamur patogen: Aspergillus, Mucor dan Rhizopus
c. Pada pemeriksaan patologi terlihat invasi jamur ke jaringan dan
pembuluh darah.
d. Mukosa kavum nasi berwarna biru-kehitaman disertai septum yang
nekrotik.
e. Bersifat kronis progresif, dapat menginvasi sampai ke orbita atau
intrakranial.
2. Fungus ball
16

a. Merupakan kumpulan jamur di dalam rongga sinus membentuk suatu


massa, tanpa invasi ke dalam mukosa dan tidak mendestruksi tulang,
sering mengenai sinus maksila.
b. Jamur patogen: Aspergillus
c. Gejala klinis menyerupai sinusitis kronik (rinore purulen, post nasal
drip, halitosis)
d. Pada operasi ditemukan materi jamur berwarna coklat kehitaman dan
kotor dengan/tanpa pus.

Gambaran endoskopi sinusitis jamur15


3. Allergic fungal rhinosinusitis (AFRS)
a. Jamur dapat menstimulasi respon imun mukosa sinonasal,
menyebabkan sinusitis alergi jamur.
b. Secara tipikal, mukosa polipoid terlihat di bagian anterior
membentuk suatu massa yang terdiri dari musin, materi jamur,
kristal Charcot-Leyden dan eosinofil.
c. Penebalan mukosa dan bony remodeling adalah tanda khas dari
proses ini.
Sinusitis paranasal diklasifikasikan berdasarkan lima hal, yaitu: 8
a. Gambaran klinis : akut, sub akut, kronis
b. Lokasi : sinus etmoid, sinus maksila, sinus frontal, sinus sfenoid
c. Organisme penyebab : virus, bakteri, jamur.
d. Komplikasi : tanpa komplikasi, dengan komplikasi.
e. Faktor pemberat : atopi, imunosupresi, obstruksi ostiomeatal.
17

2.10. Diagnosis Rinosinusitis


A. Anamnesis

Gejala Mayor Gejala Minor

Nyeri/rasa tertekan di wajah Nyeri kepala


Rasa penuh di wajah Demam (pada RS kronik)
Hidung tersumbat Bau mulut
Hidung Mudah lelah
berair/bernanah/perubahan warna Sakit gigi
ingus Batuk
Penurunan/berkurangnya Nyeri/rasa tertekan/rasa
penghidu penuh di telinga
Nanah dalam rongga hidung
Demam (hanya RS akut)

Gejala rinosinusitis.1,2

Kriteria diagnosis:1
Dua gejala mayor atau kombinasi satu gejala mayor dan dua gejala
minor (sangat mendukung riwayat rinosinusitis)
Adanya nyeri wajah saja tapi tidak disertai gejala mayor hidung atau
lainnya (tidak mendukung riwayat rinosinusitis)
Adanya demam saja tapi tidak disertai gejala mayor hidung atau
lainnya (tidak mendukung riwayat rinosinusitis).
1. Rinosinusitis Akut
Diagnosis RS bakterial akut dibuat bila infeksi virus pada saluran
napas atas tidak teratasi dalam 10 hari atau memburuk setelah 5-7 hari.
Gejala berat secara tidak langsung menimbulkan komplikasi di
kemudian hari, dan pasien tentunya tidak menunggu 5-7 hari sebelum
mendapat pengobatan.1,2
a. Gejala kurang dari 12 minggu11
18

b. Onset tiba-tiba dari dua atau lebih gejala, salah satu termasuk
hidung tersumbat/obstruksi/kongesti atau pilek (sekret hidung
anterior/posterior):
nyeri wajah/rasa tertekan di wajah
penurunan/hilangnya penghidu
c. Dengan interval bebas gejala bila terjadi rekurensi
d. Dengan validasi per-telepon atau anamnesis tentang gejala alergi,
seperti bersin, ingus encer seperti air, hidung gatal dan mata gatal
serta berair.
2. Rinosinusitis Kronik dengan/tanpa polip
Gejala tersering dari RS kronik adalah hidung berair, hidung
tersumbat, rasa penuh di wajah, dan nyeri/rasa tertekan di wajah.
Pasien RS dengan polip lebih sering mengeluh hiposmia dan sedikit
nyeri/rasa tertekan di wajah daripada pasien RS tanpa kronik. Pasien
RS kronik tanpa polip juga lebih sering terinfeksi bakteri dan membaik
setelah diobati.2
a. Gejala lebih dari 12 minggu11
b. Dua atau lebih gejala, salah satu termasuk hidung
tersumbat/obstruksi/kongesti atau pilek (sekret hidung
anterior/posterior):
nyeri wajah/rasa tertekan di wajah
penurunan/hilangnya penghidu
c. Dengan validasi per-telepon atau anamnesis tentang gejala alergi,
seperti bersin, ingus encer seperti air, hidung gatal dan mata gatal
serta berair.
d. Pada anak-anak harus ditanyakan faktor predisposisi lain seperti
defisiensi imun dan GERD.
B. Pemeriksaan Fisik11
Pemeriksaan hidung (edema, hiperemis, pus)
Pemeriksaan mulut (post nasal drip)
Singkirkan infeksi gigi
C. Evaluasi Endoskpoik11
19

Pemeriksaan THT termasuk nasoendoskopi:


RS kronik tanpa polip. Tidak terlihat adanya polip di meatus
medius, jika diperlukan setelah pemberian dekongestan (definisi ini
menerima bahwa terdapat spektrum dari RS kronik termasuk
perubahan polipoid pada sinus/dan atau meatus medius tetapi
menyingkirkan penyakit polipoid yang terdapat pada rongga
hidung untuk menghindari tumpang tindih).
RS kronik dengan polip. Polip bilateral yang terlihat dari meatus
medius.
Melakukan evaluasi diagnosis dan penatalaksanaan dari pelayanan
kesehatan primer
Mengisi kuisioner untuk alergi, jika positif dilakukan tes alergi bila
belum dilakukan

Polip kecil yang terlihat pada meatus medius kiri16

Sekret purulen pada meatus medius kiri17

D. Pencitraan11
20

Foto polos sinus paranasal tidak direkomendasikan. Tomografi


komputer juga tidak direkomendasikan, kecuali terdapat:
Penyakit sangat berat
Pasien dengan penurunan imunitas
Tanda komplikasi
E. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan mikrobiologik dan kultur resistensi dilakukan dengan
mengambil sekret dari meatus media/superior, untuk mendapat
antibiotik yang tepat. Lebih baik lagi bila diambil sekret dari sinus
maksila.10
Jika curiga adanya sinusistis jamur, dapat dilakukan kultur aspirasi
secara endoskopi dengan pewarnaan jamur. Jika hasilnya negatif dan
gejala klinik mendukung ke arah sinusitis jamur, dapat dilakukan
biopsi dengan potong beku.18
2.11. Penatalaksanaan Rinosinusitis
Medikamentosa
A. Rinosinusitis Akut
Tujuan terapi adalah eradikasi bakteri patoetiologi sehingga klirens
mukosiliar menjadi normal kembali, meredakan gejala lebih cepat dan
mencegah komplikasi sekunder.1
Terapi empirik antibiotik harus berdasarkan kuman patogen (S.
pneumoniae, H. influenzae dan M. catarrhalis) dan juga pola resisten
dari pathogen yang dicurigai. Kira-kira 25% S. pneumoniae tidak
sensitif penisilin disebabkan perubahan penicillin-binding proteins,
dan resisten makrolid dan trimetofin/sulfametoksazol (TMP/SMX).
Hampir semua kuman M. catarrhalis (90%) dan H. influenza
menghasilkan beta-lactamase yang diinaktifkan oleh antibiotik beta-
lactamase.1,2
Pemilihan AB tergantung beratnya penyakit dan riwayat
pemakaian AB dalam 4-6 minggu:1,2
1. Ringan dan tidak ada riwayat pemakaian AB. Direkomendasikan
amoksisilin klavulanat (1,75-4 gr/250 mg/hari atau 45-90 mg/6,4
21

mg/kg/hari untuk anak), amoksisilin (1,5-4 g/hari atau 45-90


mg/kg/hari untuk anak), atau cefpodoksim, cefurosim, atau
cefdinir.
Untuk dewasa yang alergi beta-lactamase diberikan TMP/SMX,
doksisiklin atau makrolid, sedangkan anak yang alergi beta-lactamase
diberikan TMP/SMX atau makrolid (azitromisin, klaritromisin dan
eritromisin).
2. Sedang dan ada riwayat pemakaian AB. Direkomendasikan
respiratory quinolone (gatifloksasin, levofloksasin atau
moksifloksasin), amoksisilin/klavulanat, ceftriakson dan terapi
kombinasi.
Dewasa yang alergi beta-lactamase diberikan respiratory
quinolone atau klindamisin dan rifampin, sedangkan untuk anak
diberikan TMP/SMX, makrolid atau klindamisin. Bila dalam 72 jam
tidak ada perbaikan dan terjadi perburukan gejala, pasien harus
direvaluasi.
Terapi tambahan meliputi cuci hidung hidung dan irigasi, analgesik
(ibuprofen, asetaminofen), mukolitik (guaifenesin) dan dekongestan
oral (pseudoefedrin).1,8
B. Rinosinusitis Kronik
Pemberian AB pada RS kronik adalah kontroversi bila penyebab
dasarnya belum diketahui.1
Pilihan terapi meliputi:1,2
1. Antimikroba. Idealnya pilihan AB berdasarkan kultur secara
endoskopik, tetapi bila ini tidak dapat dilakukan, dapat diberikan
AB empirik (paling sedikit 3-6 minggu), misalnya
amoksisilin/klavulanat, respiratory quinolone, klaritromisin,
sefalosporin generasi kedua (sefuroksim, sefpodoksim, sefdinir)
dan doksisiklin.
2. Kortikosteroid. Steroid nasal topikal adalah yang paling sering
diberikan. Steroid sistemik juga dapat diberikan, khususnya untuk
pasien RS kronik dengan polip.
3. Terapi tambahan. Irigasi nasal dan mukolitik (guaifenesin).
22

4. Penatalaksanaan alergi. Dilakukan pada pasien dengan riwayat


alergi, dengan cara kontrol lingkungan, steroid topikal dan
imunoterapi, sehingga dapat mencegah rinitis eksaserbasi serta
progesifitas dari sinusitis.
C. Sinusitis jamur meliputi:1,2,10
1. Sinusitis jamur invasif
a. Debridemen (bila perlu termasuk kavum orbita)
b. Terapi antifungal secara intavena
c. Stabilisasi penyakit immunocompromised
d. Stabilasi penyakit diabetes
2. Fungal ball. Dilakukan ekstirpasi komplit dari massa jamur.
3. Allergic fungal rhinosinusitis (AFRS)
a. Pembedahan primer diikuti pemberian steroid nasal topikal
pasca operasi
b. Imunoterapi dan steroid sistemik (bila perlu) untuk mengurangi
rekurensi
c. Antifungal topikal juga dapat diberikan

Pembedahan
Maksimal terapi medikamentosa adalah 4-6 minggu (AB, steroid nasal
dan steroid sistemik), selanjutnya dapat dipertimbangkan untuk
pembedahan. Pembedahan dilakukan bila ada kelainan mukosa dan
sumbatan KOM, dengan panduan CT scan atau endoskopik. Pasien dengan
kelainan anatomi atau polip sinonasal lebih respon terhadap terapi
pembedahan.2
A. Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)
FESS adalah tindakan pembedahan pada rongga hidung dan atau
sekitarnya dengan bantuan endoskop fiber optik.8
Indikasi pendekatan endoskopi sama dengan pendekatan intranasal
dan eksternal yang lain dan secara umum meliputi :2,8
1. Sinusitis akut rekuren
2. Sinusitis kronis
3. Sinusitis karena jamur alergi
23

4. Rinosinusitis hipertrofi kronis (polip)


5. Polip antrokoanal
6. Mukokel di dalam sinus
Keberhasilan FESS sangat bergantung pada perawatan pasca
operasi, yaitu endoskopi nasal serial(dengan debridement), kultur dan
resistensi kuman (pemilihan AB) dan terapi lain (steroid nasal topikal
dan steroid sistemik. Perbaikan gejala setelah terapi FESS adalah lebih
dari 90%.1,2
Komplikasinya meliputi:2
1. Trauma pada dinding medial orbita
2. Hematom dan perdarahan yang dapat menekan nervus optikus dan
menyebabkan kebutaan
3. Kerusakan lapisan kribifrom sehingga menyebabkan kebocoran
cairan serebrospinal
4. Herniasi komponen otak
5. Meningitis
6. Perdarahan intrakranial

Gambar. Pengukuran jarak dari nares anterior ke berbagai area di sekitar hidung16

Perawatan pasca bedah:8


1. Penderita apabila perlu di rawat inap, misalnya operasi dengan anestesi
umum.
2. Antibiotik
24

3. Penatalaksanaan komplikasi.
4. Follow-up
Pengangkatan tampon.
Penilaian keberhasilan pengobatan.
B. Prosedur Terbuka
1. Antrostomi2,8
Antrostomi adalah tindakan pembedahan membuat lubang ke sinus
maksilaris dengan menembus dinding medialnya pada meatus inferior untuk
mengeluarkan pus dan memperbaiki drainase.
Indikasi operasi adalah sinusitis maksilaris sebagai upaya
memfasilitasi pengeluaran pus dan atau memperbaiki drainase.
a. Komplikasi :
Cedera orbita : hematom orbita, diplopia, kebutaan
Emboli udara
Insersi trokar lebih didepan dari dinding depan antrum dan
selanjutnya ke jaringan lunak yang dapat mengakibatkan emfisema
subkutan
Perdarahan
Perlukaan saluran dan kantong nasolakrimal
Mati rasa
Parestesi
Trauma gigi
b. Perawatan pasca bedah, meliputi:
Penderita apabila perlu di rawat inap, misalnya antrostomi dengan
anestesi umum.
Antibiotik
Penatalaksanaan komplikasi
Follow-up, dilakukan pengulangan antrostomi apabila diperlukan.
Apabila tidak ada indikasi antrostomi ulang, pasien dikontrol di klinik
satu minggu setelah tindakan, untuk menilai keberhasilan terapi.
2. Antrotomi Caldwell-Luc8
25

Antrotomi Caldwell-Luc adalah tindakan pembedahan membuka


dinding depan sinus maksilaris, mengeluarkan pus maupun jaringan
patologis.
a. Indikasi operasi:
Tumor jinak
Empiema kronis yang resisten dengan pengobatan konservatif
Fraktur komplikata maksila
Eksplorasi
b. Komplikasi
Kerusakan saraf infraorbita
Kerusakan akar gigi
Kerusakan dasar orbita
Hipestesi atau parestesi pipi
Kerusakan bola mata
Emfisema subkutan
Kerusakan saraf alveol superior dan soket gigi
Edem berkepanjangan
Infeksi
Perdarahan
Pembengkakan wajah
Fistula oroantral
c. Perawatan pasca bedah
Penderita di rawat inap.
Antibiotik
Penatalaksanaan komplikasi
Follow-up : Pengangkatan tampon, penilaian keberhasilan pengobatan
26

Onset tiba-tiba dari dua atau lebih gejala, salah satunya termasuk hidung
tersumbat/obstruksi/kongesti atau pilek (sekret hidung anterior/posterior):
nyeri/rasa tertekan di wajah
penhidu terganggu/hilang
Pemeriksaan: rinoskopi anterior
Foto polos SPN/tomografi komputer tidak direkomendasikan

Gejala
Gejala < 5 menetap atau
hari atau memburuk >
membaik 5 hari
setelahnya
Keadaan yang harus
segera dirujuk/dirawat:
Sedang Berat* Edema periorbita
Common Pendorongan letak bola
cold mata
Penglihatan ganda
Steroid AB + steroid Oftalmoplegi
topikal topikal
Penurunan visus
Pengobatan Nyeri frontal unilateral
simtomatik atau bilateral
Tidak ada
Perbaikan
perbaikan Bengkak daerah frontal
dalam 48
dalam 48 Tanda meningitis atau
jam
jam tanda fokal neurologis
Tidak ada
perbaikan > Rujuk ke
14 hari Teruskan
dokter
terapi untuk
spesialis
7-14 hari
THT
Rujuk ke
dokter
spesialis

Skema. Penatalaksanaan RS akut pada dewasa untuk pelayanan kesehatan primer11

2.12. Komplikasi Rinosinusitis


Disebut komplikasi bila infeksi sudah menembus dinding sinus ke
organ sekitar, meliputi:11
1. Lokal : mukokel, kista retensi mukus, osteomielitis (tulang frontal dan
maksila)
2. Orbital : selulitis preseptal, selulitis orbital, abses subperiosteal, abses
orbital, tromboflebitis sinus kavernosus.
27

3. Intrakranial : meningitis, abses subdural, abses intraserebral,


tromboflebitis vena.
4. Descending infection : otitis media akut atau kronik, faringitis dan
tonsillitis, laryngitis persisten dan trakeobronkitis
5. Fokal infeksi.
Tabel 1. Komplikasi orbita dari sinusitis16
Temuan klinis Penatalaksanaan
Selulitis preseptal Bengkak kelopak mata, otot ekstraokular Medikamentosa (jarang, drainase
intak, visus normal abses sekunder)
Selulitis orbital Edema orbita lebih difus, kerusakan otot Medikamentosa (drainase sinus)
ekstraokular, biasanya visus normal

Abses subperiosteal Proptosis, kerusakan otot ekstraokular Medikamentosa, drainase sinus,


drainase abses
Abses orbital Exoftalmos berat, kemosis, oftalmoplegi Medikamentosa, drainase sinus
berat, gannguan visus (sering), drainase abses

Tromboflebitis Nyeri orbita bilateral, kemosis, Medikamentosa, drainase sinus


sinus kavernosus proptosis, oftalmoplegia (sering), antikoagulan
Tindakan drainase sinus mungkin terbatas pada aspirasi sinus maksila atau endoskopik atau operasi
sinus terbuka, tergantung keparahan gejala, pemeriksaan fisik, lamanya pengobatan, dibutuhkan
kultur untuk terapi AB.

Tabel 2. Komplikasi Intrakranial Sinusitis


Asal Proses penyakit dan penatalaksanaan
Meningitis Sinus etmoid, sinus Komplikasi paling sering, medikamentosa
sfenoid
Abses epidural Sinus frontal Medikamentosa, drainase sinus dan abses
(kadang-kadang)
Abses subdural Sinus frontal Morbiditas dan mortalitas tinggi neurologik,
medikamentosa agresif (steroid dan
antikonvulsan), drainase sinus dan abses (kadang-
kadang)
Abses intraserebral Sinus frontal (jarang; Morbiditas dan mortalitas tinggi neurologik,
sinus etmoid dan sinus biasanya gejala tidak tampak, medikamentosa
sfenoid agresif (steroid dan antikonvulsan), drainase sinus
dan abses (sering)
Tromboflebitis Sinus frontal Morbiditas dan mortalitas tinggi neurologik,
vena medikamentosa agresif (steroid dan
antikonvulsan), antikoagulan (kontroversi),
drainase sinus dan abses (sering)
Paling banyak pasien dengan komplikasi intrakranial memiliki pansinusitis unilateral atau bilateral
2.13. Prognosis Rinosinusitis
Prognosis RS akut adalah sangat baik, kira-kira 70% pasien sembuh
tanpa pengobatan. Antibiotik hanya diperlukan bila ada gejala. RS kronik
memiliki masalah yang lebih rumit, jika penyebabnya adalah struktur
anatomi yang perlu dikoreksi, maka prognosis menjadi lebih baik. Lebih
28

dari 90% pasien mengalami perbaikan dengan intervensi bedah.


Bagaimana pun, penyakit ini sering kambuh, sehingga tindakan preventif
adalah hal yang sangat penting.
29

DAFTAR PUSTAKA

1. Lee K.J. Essensial Otolaryngology Head & Neck Surgery. Ninth Edition.
Mc Graw Hill Medical. New York; 2008; p. 383-392.

2. Lalwani K Anil. Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head


and Neck Surgery. Second Edition. Mc Graw Hill Lange. New York;
2008; p. 273-281.

3. Benninger M, Ferguson B, Hadley J. Adult Chronic Rhinosinusitis Head


and Neck Surgery; 2003; p. 129.

4. Sukgi S, Choi, Kenneth M, Grundfast. Complication in sinus diseases.


Diseases of sinuses diagnosis and management; 2001;169-176.

5. Ballenger JJ. The Clinical Anatomy and Phisiology of The Nose and
Accessory Sinuses in Diseases of the Nose, Throat, Ear,Head and Neck.
13th ed. Philadelphia; 2003; p. 1 25.

6. Blumenthal MN. Alergic Conditions in Otolaryngology Patients. Adam


GL, Boies LR Jr. Hilger P. (Eds). Boies Fundametal of Otolaryngology,
6th ed. Philadelphia; 2004; p.195 205.

7. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. FKUI. Jakarta; 2007.

8. Kolegium Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala


Leher. Buku Acuan Modul Sinus Paranasal. 2008.

9. Dhingra PL, Disease of Ear, nose and Throat. Fourth Edition. New Delhi;
2009; p. 178-191.
30

10. Arsyad Efiaty, Iskandar Nurbaiti, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. FKUI. Jakarta;
2010.

11. Fokkens W, Buku Saku European Position Paper on Rhinosinusitis and


Nasal Polyp 2007.

12. Berger G, Kattan A, Bernheim J, Ophir D. polipoid Mucosa with


Eosinophilia and glandular hyperplasia in Chronic Sinusitis.
Laryngoscope; 2002; p 112.

13. King HC, Antimicrobial treatment guidelines for acute bacterial


rhinosinusitis. Sinus and allergy Health partnership. Otolaryngology Head-
Neck Surgery. 2000; 123: 5 31.

14. Bagja P, Pengaruh Larutan Pencuci Hidung Air Laut Fisiologis Terhadap
Transpor Mukosiliar Hidung pada Penderita Rinosinusitis Akut. Tesis.
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher. Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran. Bandung; 2010.

15. Dhillon RS, An Illustrated Color Text Ear, Nose, Throat, Head and Neck
Surgery. Second Edition. London; 2000.

16. Pinheiro AD, Facer GW, Kern EB. Sinusitis Current Concept and
Management. In : Bailey ed. Otolaryngology- Head and Neck Surgery.
Second Edition. Philadelphia. Lippincot-Raven Publisher;2006; p. 441-
445.

17. Piccirillo JF, Merrit MG, Richards ML. Psycometric and Clinimetric
Validity of the 20-item Sino-nasal Outcome Test (SNOT-20).
Otolaryngology Head and Neck Surgery. 2002.