Anda di halaman 1dari 28

HALAMAN SAMPUL

MAKALAH PENGANTAR TEKNOLOGI PERTANIAN


TEKNOLOGI PERTANIAN DI ERA GLOBALISASI

Oleh:

PUTRI AYU WARDANI (C1M015159)


PUTRI RAMADHANI (C1M015160)
RAMADHAN PURNAMA SATRIA (C1M015162)
RAODATUL PUTRI (C1M015163)
RATIH AYU WULANDARI (C1M015165)

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS PERTANIAN

2016

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga

makalah ini yan berjudul TEKNOLOGI PERTANIAN ERA GLOBALISASI dapat tersusun

hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari

pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun

pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun

menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih

banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran

dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Mataram, 24 Desember 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

iii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan


keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui
perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain
sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi adalah suatu proses
dimana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung,
terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dalam banyak hal,
globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga
kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah
globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Teknologi Pertanian adalah prinsip-prinsip matematika dan ilmu pengetahuan alam
dalam rangka pendayagunaan secara ekonomis sumber daya pertanian dan sumber daya
alam untuk kesejahteraan manusia. Teknologi diartikan sebagai ilmu terapan dari rekayasa
yang diwujudkan dalam bentuk karya cipta manusia yang didasarkan pada prinsip ilmu
pengetahuan.
Jika kita melihat ke belakang berdasarkan perjalanan sejarah peradaban manusia,
kita akan mendapati bagaimana teknologi telah berkembang. Pola bercocok tanam dan cara
pemupukan yang terus mengalami perkembangan pada masyarakat agraris adalah berkat
ditemukannya teknologi pertanian yang terus meningkat. Di era globalisasi, teknologi
pertanian sangatlah penting. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui sejauh mana teknologi
pertanian berperan dalam globalisasi.

1.2. Rumusan Masalah


Atas dasar penentuan latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah
sebagai berikut :

1
1. Bagaimana sistem pasar bebas itu sendiri?
2. Bagaimana peranan teknologi pertanian dalam globalisasi?
3. Apa sajakah ancaman dan peluang yang akan dihadapi dalam globalisasi?

1.3. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk dapat memenuhi tujuan-tujuan yang bermanfaat,
diantaranya :

1. Mengetahui informasi tentang sistem pasar bebas


2. Mengetahui peranan teknologi pertanian dalam globalisasi
3. Mengetahui ancaman dan peluang yang akan dihadapi dalam globalisasi

2
BAB II. ISU LAPANGAN

Hal inilah yang menjadi permasalahan yang perlu dikaji lebih dalam dan menjadi
tugas pokok kita sebagai masyarakat agar lebih peka akan perubahan yang terjadi dan
berupaya untuk beradaptasi dengan hal tersebut. Peran pemerintah pun sangat dibutuhkan
dalam membantu menunjang teknologi dan informasi agar masyarakat dapat mengikuti
arus global dan tidak tertinggal.

Setelah perkembangan globalisasi terjadi dan pengaruhnya terasa terhadap para


petani, tentu akan timbul permasalahan sebagai berikut:

a. Karena telah terlena dengan keadaan, sedikit demi sedikit masyarakat akan mulai
meninggalkan budaya asli dalam bertani
b. Segala hal dalam pertanian dapat dilakukan secara instan, sehingga lama kelamaan akan
terjadi pengangguran, karena ketergantungan dengan alat canggih atau mesin canggih dan
menimbulkan sifat malas bagi para petani

Penyebab teknologi pertanian masuk ke pertanian masyarakat berawal dari


perkembangan globalisasi yang telah masuk ke masyarakat, para petani juga memerlukan
teknologi yang dapat membantu dan memperingan pekerjaan mereka, selain itu, karena
masyarakat cenderung selalu penasaran dengan hal yang baru maka mereka selalu
menerima teknologi apapun yang dapat membantu mereka dalam bertani.

Dengan adanya globalisasi, masyarakat ikut terkena dampak-dampak globalisasi,


khususnya dalam bidang pertanian, masyarakat mulai menggunakan teknologi-teknologi
yang dikirim oleh orang-orang yang bekerja dibidangnya. Semua ini akan berkembang dan
meluas ke pelosok-pelosok desa hingga yang terpencil.

3
Dilihat dari mulai tingginya permintaan masyarakat dalam menggunakan ala-alat
yang canggih dalam pertanian, mungkin saatnya pemerintah setempat mulai
memperhatikan dan membimbing para petani dan memberikan pendidikan dan penyuluhan
cara menggunakan teknologi dalam pertanian.

4
BAB III. PEMBAHASAN

3.1. Pengertian Globaliasasi

Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan


dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di
seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-
bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara
saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi
batas negara. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama
dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak
sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara
atau batas-batas negara.
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya
ialah universal. Achmad Suparman menyatakan, Globalisasi adalah suatu proses
menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa
dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar
definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.
Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses
alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama
lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan
menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

3.2. Dampak Globalisasi

Globalisasi juga menimbulkan berbagai dampak yang merupakan permasalahan

global. Dampak dari globalisasi tersebut itu adalah :

1. Dampak jangka pendek


Dampak negatif globalisasi yang terlihat; yaitu dampak buruk yang dapat dihindari
sebelum itu terjadi. Dampak positif globalisasi yang terlihat; yaitu dampak positif/baik
yang dapat diperkirakan sebelum itu terjadi.
2. Dampak jangka panjang

5
Dampak negatif globalisasi yang tidak terlihat; dampak buruk yang tidak
diperkirakan dan tidak dapat dihindari sebelumnya. Dampak tersebut baru disadari setelah
efek buruknya terjadi. Dampak positif globalisasi yang tidak terlihat; dampak positif/baik
yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Dampak tersebut baru disadari setelah
menguntungkan peradaban.
Seiring dengan berkembangnya globalisasi teknologi di bidang pertanian, disertai dengan
semakin majunya teknologi saat ini membuat produk yang dihasilkan kalah bersaing di pasaran
dikarenakan kurangnya pengetahuan petani akan penggunaan teknologi baru. Banyaknya lahan
pertanian yang beralih fungsi karena proses industrialisasi akibat pembangunan konvensional.
Penggunaan teknologi informasi tepat guna sangat kurang maksimal di masyarakat pertanian di
Indonesia, belum lagi kelompok tani masih kurang produktif.

Hal inilah yang menjadi permasalahan yang perlu dikaji lebih dalam dan menjadi tugas
pokok kita sebagai masyarakat agar lebih peka akan perubahan yang terjadi dan berupaya untuk
beradaptasi dengan hal tersebut. Peran pemerintah pun sangat dibutuhkan dalam membantu
menunjang teknologi dan informasi agar masyarakat dapat mengikuti arus global dan tidak
tertinggal.

Setelah perkembangan globalisasi terjadi dan pengaruhnya terasa terhadap para petani,
tentu akan timbul permasalahan sebagai berikut :

a. Karena telah terlena dengan keadaan, sedikit demi sedikit masyarakat akan mulai meninggalkan
budaya asli dalam bertani

b. Segala hal dalam pertanian dapat dilakukan secara instan, sehingga lama kelamaan akan terjadi
pengangguran, karena ketergantungan dengan alat canggih atau mesin canggih dan menimbulkan
sifat malas bagi para petani

Penyebab teknologi pertanian masuk ke pertanian masyarakat berawal dari perkembangan


globalisasi yang telah masuk ke masyarakat, para petani juga memerlukan teknologi yang dapat
membantu dan memperingan pekerjaan mereka, selain itu, karena masyarakat cenderung selalu
penasaran dengan hal yang baru maka mereka selalu menerima teknologi apapun yang dapat
membantu mereka dalam bertani.

6
3. Dampak positif globalisasi antara lain:
- Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
- Mudah melakukan komunikasi
- Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
- Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
- Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
- Mudah memenuhi kebutuhan
4. Dampak negatif globalisasi antara lain:
- Informasi yang tidak tersaring.
- Membuat tidak kreatif, karna perilaku konsumtif.
- Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit.
- Banyak meniru perilaku yang buruk.
- Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu
negara

3.3. DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP AGRIBISNIS INDONESIA


3.3.1. Sistem Agribisnis Indonesia
Agribisnis merupakan kegiatan lebih dari sekedar pertanian, karena di dalamnya
mencakup kegiatan-kegiatan lain yang mewakili sektor di luar pertanian. Oleh karenanya
penting disadari bahwa setiap usaha untuk melakukan analisis sektoral bagi subsistem baru
akan memiliki makna dan memberikan peranan yang bermanfaat apabila dikaitkan satu
sama lain dan berorientasi pada konsep sistem. Memahami timbulnya kaitan antara tiap
subsistem, siapa pelaku dalam tiap subsistem, dan bagaimana teknologi yang digunakan
merupakam hal yang sangat penting untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi
agribisnis dan mencari alternatif pemecahannya.
Bidang pertanian juga memiliki suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau
elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan hubungan informasi, materi atau
energi yang dinamankan dengan sistem, sistem juga dapat diartikan sekumpulan elemen
yang berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk

7
mencapai suatu tujuan, dalam sistem terdapat subsistem yang merupakan sistem didalam
suatu sistem dimana sistem berada lebih dari satu tingkatan.
Jadi, sistem agribisnis itu sendiri adalah dimana agribisnis terdiri dari berbagai
subsistem yang tegabung dalam rangkaian interaksi secara reguler, serta terorganisir
sebagai suatu totalitas, yang merupakan usaha atau kegiatan untuk mengelola hasil-hasil
pertanian yang mencakup berbagai aspek kehidupan dalam perencanaan jangka panjang,
produk yang dihasilkan oleh produsen tersebut diterima oleh konsumen dan mempunyai
nilai jual atau finansial yang pantas.

3.3.2 Globalisasi Pertanian Indonesia

Globalisasi secara umum merupakan bentuk keterbukaan dunia yang tidak lagi
tersekat oleh wilayah administrasi negara, idiologi, agama, kultur budaya masyarakat dan
keterpisahan geografi fisik tempat tinggal. Dunia bisa terbuka karena dipercepat oleh
perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Teknologi tersebut dapat
menembus batas berbagai sekat-sekat dunia manusia. Di satu sisi globalisasi dapat
mempercepat pencerahan dan menyebarnya nilai nilai universal yang dapat dinikmati
masyarakat dunia. Namun di sisi lain globalisasi telah mengakibatkan korban jutaan
manusia yang nasibnya semakin terpuruk.
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki berbagai sumberdaya alam
potensial untuk dikembangkan diberbagai sektor pertanian. Berbagai usaha dengan
sumberdaya alam dapat dijadikan suatu peluang usaha yang cukup menjanjikan, salah satu
sumberdaya atau kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan adalah sektor pertanian di
Indonesia. Subsektor hortikultura sebagai salah satu penghimpun kemajuan sektor
pertanian dalam peningkatan perekonomian Indonesia yang telah menunjukan perubahan
yang nyata, baik dari jenis yang diusahakan, teknologi yang digunakan maupun volume
suatu komoditas yang dihasilkan dan berpotensi untuk dikembangkan.
Nasib kehidupan petani kenyataannya tidak cuma tergantung dari karakter/kapasitas
individu petani, lingkungan alam local, dan kebijakan nasional saja tetapi ada

8
hubungannya dengan perkembangan dunia yang telah meng-global. Kita ingat bahwa nasib
petani Indonesia mulai dicampurtangani globalisasi sejak tahun 1757 VOC (Verenigde
Oost Indische Compagnie) di Jawa. Sejak itu sebetulnya petani sudah menjadi bagian dunia
global yang 60% nasibnya tergantung di tangannya.
Pertanian adalah hal yang substansial dalam pembangunan, yaitu sebagai pemenuhan
kebutuhan pangan, penyedia bahan mentah untuk industri, penyedia lapangan kerja, dan
penyumbang devisa negara. Adalah wajar apabila bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
membangun selalu meletakkan pembangunan sektor pertanian sebagai prioritas utama
dalam pembangunan selama lima PELITA terakhir. Titik kulminasi pembangunan
pertanian dalam hal ini pertanian tanaman pangan terjadi pada tahun 1984, yaitu saat
Indonesia yang sebelumnya mendapat predikat sebagai negara pengimpor beras terbesar
ini dapat mencapai swasembada beras dengan program Bimas-nya. Memang hasil yang
spektakuler, akan tetapi banyak pertanyaan yang muncul.
Sementara, akibat yang ditimbulkan sangat merugikan dalam hal, antara lain:
menurunnya produktivitas tanah akibat penggunaan pupuk kimia anorganik secara
berlebihan yang memang berfungsi sebagai suplemen untuk bibit unggul agar
mendapatkan hasil yang maksimal, rusaknya keseimbangan ekosistem akibat penggunaan
pestisida yang tanpa disadari juga mengakibatkan matinya spesies lain selain hama dan
penyakit tanaman. Dengan tidak disadari pula, bahwasanya untuk memenuhi kebutuhan
akan pupuk dan pestisida anorganik memerlukan biaya yang relatif mahal. Apalagi setelah
subsidi terhadap pupuk ditarik oleh pemerintah yang berimplikasi pada semakin tingginya
biaya produksi dalam usaha tani.

3.3.3. Pertanian Indonesia dalam Dunia Globalisasi.


Dunia usaha pertanian saat ini dihadapkan pada dilema, apakah akan tetap
mempertahankan pola pengelolaannya seperti saat ini dengan menggunakan lebih banyak
input luar (obat-obatan dan pupuk buatan), atau dengan menggunakan lebih banyak input
dalam (kompos, pupuk kandang, dan obat-obatan alami). Dua pilihan ini sama-sama
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan bila dipilih memiliki bobot

9
pilihan yang imbang. Jika memilih dengan lebih banyak menggunakan input luar, dalam
jangka pendek kebutuhan akan hasil-hasil pertanian akan dapat dipenuhi, akan tetapi dalam
jangka panjang, akan mengalami penurunan yang drastis akibat kerusakan lingkungan
yang ditimbulkannya. Sebaliknya, jika pilihan jatuh pada penggunaan input dalam yang
lebih banyak, maka dalam jangka pendek kebutuhan akan hasil-hasil pertanian tidak dapat
dipenuhi. Akan tetapi, dalam jangka panjang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan akan
hasil-hasil pertanian secara berkesinambungan.

3.3.4. Revolusi Hijau (Pemasaran)


a. Aspek Revolusi Pemasaran
Globalisasi yang terjadi di dunia Internasional ataupun nasional dalam berbagai
bidang, khususnya dunia pertanian dan terutama di negeri kita tercinta ini perlu
diadakannya suatu tatanan untuk memikirkan bagaimana caranya untuk mengatur dan
mengarahkan globalisasi yang terjadi menjadi sebuah peluang besar khususnya masyarakat
Indonesia menjadi sebuah strategi dalam pembangunan nasional dalam jangka panjang
maupun jangka pendek demi tercapainya tujuan bersama serta mewujudkan Indonesia
menjadi negara yang bangkit dari perkembangan menuju kemajuan. Berikut merupakan
aspek aspek yang perlu diperhatikan :
1. Pergeseran dari penjual ke pembeli menuju konsumen
2. Pergeseran preferensi konsumen dari atribut tampilan luar ke atribut kunci fisika kimia (
dari pemenuhan rasa ke pemenuhan kunci /kualitas ).
3. Peningkatan kesadaran kebutuhan keamanan.
4. Kesadaran dan perhatian konsumen mendukung kampanye HAM dan hak asasi hewan,
hak asasi pekerja tanpa diskriminasi antar gender, dan tanpa mempekerjakan anak.
5. Perhatian akan keaslian produk.
6. Kewaspadaan terhadap tindakan kontaminasi racun biologis bioterorism act

10
7. Tuntutan terhadap perdagangan yang adil.
8. Liberalisme investasi dan perdagangan, mendorong berkembangnya lembaga distribusi
dan perdagangan eceran multi-nasional.

b. Sistem revolusi pertanian (pemasaran)


Sistem pertanian ini yang memiliki berbagai keterkaitan antara subsistem satu dan
yang lainnya membuat suatu hubungan yang kompleks yang dapat menjadi sebuah revolusi
hijau atau revolusi pemasaran dalam dunia pertanian Indonesia salah satunya adalah
sebagai berikut :
1. Sistem Pertanian Konvensional
Sistem pertanian tradisional, meskipun akrab lingkungan tetapi tidak mampu
mengimbangi laju kebutuhan pangan dan sandang yang meningkat lebih tajam
dibandingkan dengan laju pertambahan penduduk. Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, banyak temuan baru yang kemudian menggeser sistem
tradisional menjadi sistem pertanian konvensional. Sistem pertanian konvensional terbukti
mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara global, khususnya di bidang
pertanian. Salah satu contoh di negara Indonesia adalah mampu berswasembada pangan
(terutama beras) sejak tahun 1983 hingga 1997. Tetapi sistem pertanian konvensional tidak
terlepas dari risiko dampak negatif. Meningkatnya kebutuhan pangan seiring laju
pertambahan penduduk, menuntut peningkatan penggunaan bahan kimia pertanian seperti
pupuk dan pestisida.
Schaller (1993) menyebutkan beberapa dampak negatif dari sistem pertanian
konvensional, yaitu sebagai berikut:
a. Pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian dan sedimen.
b. Ancaman bahaya bagi kesehatan manusia dan hewan, baik karena pestisida maupun bahan
aditif pakan.
c. Pengaruh negatif aditif senyawa kimia pertanian tersebut pada mutu dan kesehatan
makanan.

11
d. Penurunan keanekaragaman hayati termasuk sumber genetik flora dan fauna yang
merupakan modal utama pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).
e. Perusakan dan pembunuhan satwa liar, lebah madu, dan jasad berguna lainnya.
f. Peningkatan daya ketahanan organisme pengganggu terhadap pestisida.
g. Penurunan daya produktivitas lahan karena erosi, pemadatan lahan, dan berkurangnya
bahan organik.
h. Ketergantungan yang makin kuat terhadap sumber daya alam tidak terbarui (nonrenewable
natural resources).
i. Munculnya risiko kesehatan dan keamanan manusia pelaku pekerjaan pertanian.

2. Sistem Pertanian Organik


Sistem pertanian organik berpijak pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan
produksi dengan memerhatikan kemampuan alami dari tanah, tanaman, dan hewan untuk
menghasilkan kualitas yang baik bagi hasil pertanian dan lingkungan. Menurut IFOAM
(International Federation of Organic Agriculture Movements), tujuan yang hendak dicapai
dengan penggunaan sistem pertanian organik adalah sebagai berikut:
a. Menghasilkan bahan pangan dengan kualitas nutrisi tinggi serta dalam jumlah cukup.
b. Melaksanakan interaksi efektif dengan sistem dan daur alamiah yang mendukung semua
bentuk kehidupan yang ada.
c. Mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam sistem usaha tani dengan mengaktifkan
kehidupan jasad renik, flora dan fauna, tanah, tanaman, serta hewan.
d. Memelihara serta meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan.
e. Menggunakan sebanyak mungkin sumber-sumber terbarui yang berasal dari sistem usaha
tani itu sendiri.
f. Memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didaur ulang baik di dalam maupun di luar usaha
tani.
g. Menciptakan keadaan yang memungkinkan ternak hidup sesuai dengan perilakunya yang
hakiki.

12
h. Membatasi terjadinya semua bentuk pencemaran lingkungan yang mungkin dihasilkan
oleh kegiatan pertanian.
i. Mempertahankan keanekaragaman hayati termasuk pelestarian habitat tanaman dan
hewan.
j. Memberikan jaminan yang semakin baik bagi para produsen pertanian (terutama petani)
dengan kehidupan yang lebih sesuai dengan hak asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan
dasar serta memperoleh penghasilan dan kepuasan kerja, termasuk lingkungan kerja yang
aman dan sehat.
k. Mempertimbangkan dampak yang Iebih luas dari kegiatan usaha tani terhadap kondisi fisik
dan sosial.

3. Bioteknologi Pertanian
Teknologi rekayasa genetika merupakan salah satu alternatif solusi yang
dibutuhkan, karena pemuliaan tanaman setelah keberhasilan revolusi hijau dalam
memberikan varietas tanaman dengan hasil panen yang signifikan berlipat. Bioteknologi
telah ma mpu memodifikasi genetika sehingga dihasilkan tanaman tahan hama. Salah satu
contoh adalah tanaman tahan hama serangga lepidoptera. Hama serangga merupakan salah
satu penyebab kerugian yang bernilai ekonomis dalam bidang pertanian. Tanaman tahan
hama menawarkan manfaat bagi para petani, masyarakat umum, dan lingkungan, antara
lain sebagai berikut :
a. Pengontrolan hama serangga yang lebih dapat diandalkan, lebih hemat biaya, dan tenaga
kerja.
b. Meningkatkan pengontrolan hama lepidoptera tanpa membahayakan spesies nontarget,
termasuk serangga berguna.
c. Mengurangi penggunaan insektisida secara kimia dengan tetap mempertahankan hasil
panen.
d. Mengurangi ketergantungan petani pada pestisida.

13
e. Mereduksi mikotoksin yang dihasilkan oleh jamur yang timbul pada luka tanaman yang
dihasilkan serangga.

Banyak ahli dan petani yang optimis bahwa prospek penggunaan bioteknologi
pertanian dapat digunakan untuk meningkatkan hasil/ panen dan nilai gizi produk-produk
dari tanaman pangan sambil mengurangi penggunaan pestisida kimiawi. Bioteknologi
dapat meningkatkan tanaman pangan melalui penambahan satu atau beberapa gen untuk
membuat agar tanaman tersebut lebih toleran terhadap stres dan lebih resisten terhadap
hama dan penyakit. Ada banyak isu yang terkait dengan transfer bioteknologi di negara-
negara sedang berkembang. Masalah yang dikhawatirkan timbul antara lain sebagai
berikut:

a. Pengurangan keanekaragaman karena paksaan atau dorongan untuk menggunakan satu


atau beberapa varietas tanaman sehingga dapat memicu serangan hama atau stres baru yang
tidak diperkirakan sebelumnya.
b. Penguasaan atau konsentrasi perusahaan biji hanya pada perusahaan tertentu, sehingga
dapat mengendalikan pasar.
c. Kurangnya fasilitas dan pengetahuan untuk menguji kelayakan tanaman khususnya di
daerah tropika dengan jenis hama yang bervariasi.
d. Masalah paten, rahasia perusahaan yang dimiliki oleh perorangan atau perusahaan atau
institusi tertentu sehingga tidak semua orang dapat menggunakan produk-produk paten
tanpa izin atau tanpa membayar royalti.
e. Kurangnya pengetahuan tentang proses dan pengujian yang teliti untuk mencegah
munculnya atau tersebarnya alergan.
f. Kurangnya pengetahuan akan perkembangan resistensi hama terhadap bahan kimia
tertentu yang digunakan untuk memberantasnya. Diperkirakan bahwa hama yang pada
mulanya sensitif terhadap toksin, kemungkinan akan mengembangkan ciri barn yang
membuatnya resisten terhadap toksin.
g. Tantangan dari berbagai pihak yang tidak menyetujui dengan upaya-upaya manipulasi
alam dan gangguan terhadap alam.

14
4. Pemberdayaan dan Kewirausahaan Petani Kecil
Bertolak dari keadaan yang telah dikemukakan, untuk mengantarkan petani agar
berpartisipasi dan mendapatkan keuntungan dalam ekonomi global diperlukan adanya
pemberdayaan (empowerment) dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan
(enterpreneurship). Dalam hubungannya dengan pemberdayaan, Friedman (1992 dalam
Molo, 1999) mengatakan bahwa rumah tangga memiliki tiga macam kekuatan: sosial,
politik, dan psikologis. Kekuatan sosial menyangkut akses terhadap dasar-dasar produksi,
termasuk informasi, pengetahuan, dan keterampilan, partisipasi dalam organisasi sosial,
dan sumber-sumber keuangan. Jika ekonomi rumah tangga meningkatkan aksesnya pada
dasar-dasar produksi, boleh diharapkan kemampuannya dalam menentukan tujuannya juga
meningkat. Kekuatan psikologis direfleksikan dalam rasa memiliki potensi individu.
Dalam hubungan ini peningkatan kemandirian dapat dicapai melalui pemberdayaan yang
bersifat partisipatif. Artinya, untuk mencapai perubahan diperlukan partisipasi keluarga
petani tanpa mengurangi esensi inisiatif program-program di atas.

15
2.2. Peranan Teknologi Pertanian dalam Globalisasi

Dewasa ini manusia tidak akan lepas dari perkembangan zaman yang semakin
meningkat, salah satu dari perkembangan zaman ini adalah teknologi. Aplikasi dari
teknologi sendiri sangatlah beragam di berbagai bidang kehidupan manusia mulai dari
informasi, transportasi bahkan sampai pada aspek yang sangat krusial dalam kehidupan
manusia yaitu Pertanian.

Mencermati fenomena globalisasi yang terjadi sekarang ini, maka Pertanian


Indonesia akan menghadapi ancaman-ancaman yang perlu diantisipasi, tetapi sekaligus
juga mempunyai peluang untuk dimanfaatkan dengan baik. Ancaman dan peluang yang
berkaitan dengan fenomena globalisasi ini perlu ditanggapi secara positif. Tentunya salah
satu faktor penting yaitu dengan pemanfaatan dan penguasaan teknologi pertanian yang
handal.

Peran teknologi pertanian cukup menonjol untuk dapat memberikan driving force
bagi pertumbuhan pembangunan khususnya di bidang pertanian, untuk menahan
ancaman-ancaman dan sekaligus peluang yang ditimbulkan dari fenomena globalisasi.
Peran teknologi pertanian ini antara lain dalam usaha-usaha peningkatan dan penjaminan
mutu, baik mutu produk (baik mutu gizi maupun fisik), kemasan, penampilan produk. Di
samping itu pemilihan dan penggunaan teknologi secara tepat akan berpeluang untuk
menekan biaya produksi, menekan harga jual, sehingga akan berpengaruh meningkatkan
daya saing.

Pemanfaatan dan penguasaan teknologi pertanian berhubungan langsung dengan


peningkatan produktivitas dan nilai tambah. Produktivitas usaha padi yang ada di
Indonesia baru sebesar 4,5 ton/ha, dapat dilipat gandakan menyamai produktivitas di
Vietnam (8 ton/ha) dengan mengaplikasikan teknologi yang tepat.

Kenyataan menunjukkan setelah lama melaksanakan pembangunan, termasuk


pembangunan sektor pertanian, kontribusi teknologi dalam produksi pertanian di
Indonesia masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan dalam beberapa sub
sector, seperti holtikultura telah terjadi negative trend baik dari segi jumlah maupun

16
produktivitas. Hal ini terutama dikarenakan ketidakmantapannya program pembangunan
teknologi pertanian yang ada. Secara keseluruhan dalam sektor pertanian, maupun
secara parsial di masing-masing subsektor tidak ditemukan adanya skenario
pembangunan teknologi yang efektif dan berkesinambungan.

Di sisi lain dukungan pemerintah terutama untuk pendanaan kegiatan penelitian


relatif sangat kecil. Dibandingkan dengan Negara ASEAN saja, anggaran yang disediakan
pemerintah untuk penelitian dan aplikasi teknologi di bidang pertanian jauh lebih kecil.
Hal ini tentu sangat tidak kondusif bagi upaya peningkatan peran teknologi dalam
pembangunan teknologi pertanian demi terciptanya pertanian yang tangguh dan berdaya
saing. Dengan demikian, potensi teknologi yang dipunyai Indonesia perlu lebih diarahkan
pada bidang pertanian. Dengan kata lain perlu dijadikan sebagai gambaran platform bagi
pengembangan teknologi Indonesia.

17
Teknologi pertanian hasil penelitian untuk menyongsong MEA dan perdagangan global adalah:

(a) Bioteknologi dalam bidang perbenihan/pembibitan dan pengendalian hama/penyakit tanaman,


ternak dan ikan;

(b) Teknologi pengolahan limbah dan pupuk organik;

(c) Teknologi budi daya pertanian terpadu;

(d) Teknologi pasca panen, sortasi, grading dan packaging; dan

(e) Teknologi pengolahan komoditi tanaman pangan, hortikultura; perkebunan, peternakan, dan
ikan.

2.3. Ancaman dan Peluang

Dalam menghadapi globalisasi yang terjadi sekarang ini, maka Pertanian Indonesia akan
menghadapi ancaman-ancaman yang perlu diantisipasi, tetapi sekaligus juga mempunyai
peluang untuk dimanfaatkan dengan baik. Ancaman dan peluang yang berkaitan dengan
fenomena globalisasi ini perlu ditanggapi secara positif. Tentunya salah satu faktor penting yaitu
dengan pemanfaatan dan penguasaan teknologi pertanian yang handal.

Indonesia dikenal dengan budaya agraris, di mana 48% penduduknya hidup di sektor
pertanian. Produk utama Indonesia adalah produk pangan untuk kebutuhan dalam negeri,
produk perkebunan dan hasil hutan, serta perikanan yang di ekspor. Produk perkebunan yang
banyak di ekspor seperti kelapa sawit, karet,teh dan kayu sedangkan negara barat berkembang
dalam hal industri dan jasa,seperti industri elektronika dan jasa keuangan. Globalisasi juga
mempengaruhi perekonomian Indonesia, negara-negara barat telah merelokasi industrinya ke
negara berkembang seperti Indonesia untuk industri elektronika dan tekstil. Globalisasi telah
mengubah secara bertahap wajah Indonesia dari pertanian menjadi industri.

18
Sumber daya manusia Indonesia sedang terancam dari berbagai sisi, antara lain integrasi
mobilitas tenaga kerja kawasan ASEAN melalui kesepakatan diberlakukannya Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA), teknologi yang semakin berkembang dan perdagangan bebas yang
menyebabkan membanjirnya produk luar di Indonesia.

Salah satu dampak globalisasi yang paling dirasakan adalah dibidang ekonomi. Globalisasi di
bidang ekonomi telah mendorong berkembangnya pasar bebas. Pasar bebas atau liberalisasi
akan menimbulkan masalah jika komoditas yang dihasilkan dari dalam negeri (pertanian dan
industri) tidak mampu bersaing dengan komoditas yang berasal dari negara lain. Sehingga pasar
domestic dibanjiri oleh produk dan komoditas yang berasal dari luar negeri (impor) yang pada
akhirnya mengancam dan merugikan eksistensi pertanian dan industry dalam negeri.

19
Ancaman-ancaman yang akan dihadapi oleh rakyat Indonesia menjelang
diselenggarakannya pasar bebas ASEAN, di antaranya :

1. Rakyat kecil sasaran kesengsaraan

Lembaga swadaya Indonesia for Global Justice (IGJ) menuding pemerintah tidak
memiliki strategi dan rencana yang tepat untuk melindungi kepentingan petani, nelayan,
buruh, dan pedagang tradisional, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang
mulai efektif 2015. Hal ini berpotensi mendorong hilangnya akses rakyat terhadap sumber
daya alam dan tingginya angka kemiskinan di pedesaan. Nelayan, petani, buruh, maupun
pedagang pasar tradisional adalah kelompok paling dirugikan atas pemberlakuan MEA
tahun depan. Alasannya, pemerintah tidak memiliki strategi dan rencana aksi yang
melibatkan petani, buruh, nelayan, dan pedagang tradisional.

2. Sumber kekayaan Indonesia dikuras pihak asing

Sektor pertanian dan perikanan adalah dua dari 12 sektor strategis yang masuk dalam
prioritas kerja sama ASEAN. Di dalam negeri, kedua sektor ini tidak saja strategis dan
penting bagi kepentingan domestik rakyat Indonesia, tapi juga menghadapi kegentingan
yang cukup serius baik secara kualitas maupun kuantitas. Bukti nyatanya adalah
kontribusi sektor pertanian, khususnya tanaman pangan.

3. Indonesia kembali dijajah

Indonesia berpotensi kembali dijajah oleh negara lain ketika Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) mulai berlaku pada 2015. Pasalnya, 80 persen pengangguran di Tanah Air
berpendidikan rendah. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura, 80 persen
penganggurannya justru lulusan SMA dan perguruan tinggi.

4. Hancurkan pengusaha kecil

Kebijakan MEA bisa membunuh usaha kecil menengah (UKM) di ke-10 negara anggota
ASEAN. Tapi, itu hanya akan menimpa pengusaha yang tidak siap. Bila mau menangkap
peluang, pengusaha kecil menengah akan diuntungkan karena bisa bebas melakukan
ekspansi ke seluruh Asia Tenggara.

Bagi negara yang memiliki infrastruktur ekonomi yang masih lemah, di mana industri
dalam negeri belum siap menghadapi persaingan antar bangsa dan negara yang demikian
bebas, maka industri dalam negeri besar kemungkinan akan mengalami ancaman serius
dari terpaan produk industri asing. Globalisasi membuka peluang akses pasar yang lebih
luas bagi produk-produk asing bagi konsumen dalam negeri. Industri dalam negeri

20
menghadapi ancaman serius yang dapat mematikan gerak dan pertumbuhan industri
nasional.

21
Dengan adanya dampak arus globalisasi dalam bidang pertanian adalah ditandai dengan
masuknya produksi pertanian impor yang relatif murah karena diproduksi dengan cara efisien
dan pemberian subsidi yang besar pada petani di negara asalnya, produk tersebut membanjiri di
pasar-pasar domestik di Indonesia. Sumber pertumbuhan utama sektor agribisnis masih
mengandalkan konsumsi swasta, dan sedikit dipacu dengan pengembangan teknologi, namun
keadaan ini mempunyai sisi positif karena pertumbuhannya tidak perlu memberatkan
pembelanjaan pemerintah. Sektor pertanian khususnya agribisnis yang kaitannya dengan
peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat (khususnya masyarakat petani), maka
dipandang perlu adanya keberanian untuk melakukan terobosan baru serta percobaan penelitian
yang lebih intensif dan nyata baik didalam pengembangan teknologi dan pemasaran hasil
pertanian.

22
BAB III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam sistem
pasar bebas masyarakat diberikan kesempatan dan kebebasan penuh dalam menentukan kegiatan
ekonomi yang ingin dilakukan tanpa campur tangan pemerintah. Sistem pasar bebas merupakan
sistem kapitalisme di mana semua kegiatan perekonomian dikendalikan oleh masyarakat. Dalam
globalisasi teknologi pertanian sangat berperan penting. Peran teknologi pertanian ini antara lain
dalam usaha-usaha peningkatan dan penjaminan mutu, baik mutu produk (baik mutu gizi maupun
fisik), kemasan, penampilan produk. Di samping itu pemilihan dan penggunaan teknologi secara
tepat akan berpeluang untuk menekan biaya produksi, menekan harga jual, sehingga akan
berpengaruh meningkatkan daya saing. Dalam mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN ini
Indonesia memiliki peluang yang besar untuk dapat bersaing dengan Negara ASEAN lainnya .
Akan tetapi perlu diingat bahwa selain peluang, Indonesia juga akan dihadapkan dengan berbagai
ancaman yang mungkin bisa menghambat Indonesia untuk dapat bersaing dengan Negara ASEAN
lainnya. Untuk dapat memanfaatkan peluang serta mengantisispasi terjadinya ancaman itu maka
pemerintah harus mempersiapkan diri untuk menyongsong era Masyarakat Ekonomi Asean ini
dengan mempercepat pembangunan di berbagai infrastruktur, jaringan logistik, ketersediaan
energi dan konektivitas untuk meningkatkan daya saing pengusaha domestik.

3.2. Saran

Mengingat teknologi pertanian sangat berperan penting dalam globalisasi, maka potensi
teknologi yang dimiliki oleh Indonesia harus lebih diarahkan pada bidang pertanian demi
terciptanya pertanian yang tangguh dan berdaya saing.

23
Daftar Pustaka..

Thoha,Mahmud. 2002. Globalisasi. PT.Pustaka Quantum: Jakarta.

Anonim. 2015. Pengertian system pasar bebas.


http://www.apapengertianahli.com/2015/08/pengertian-sistem-pasar-bebas-fungsi-
dampak.html (diakses 21 November 2015).

Panji. 2010. Peran Teknologi Pertanian Sebagai Motor Penggerak


Perekonomia
n Indonesia.

https://panjiwiyana.wordpress.com/2010/09/07/peran-teknologi-pertanian (diakses
21

November 2015).

Ali. 2011. Ancaman Globalisasi. http://alimuhi.staff.ipdn.ac.id/ (diakses 21


November 2015).

Diana. 2014. Ancaman Pasar Bebas ASEAN 2015. https://dianarizky14.wordpress.com/


(diakses 21 November 2015)

24
25