Anda di halaman 1dari 5

BAB 14

KEJANG OTOT

Sinonim

Spasme otot, kram otot, tegang otot, kaku otot, nyeri otot, kram, mioklonus.

Defenisi

1. Penguatan (sekumpulan) otot berkesinambungan (hitungan menit hingga hari) yang


involunter, tak cocok, reversible, berkaitan dengan aktivitas yang berlebihan dari
motor-motor unit perubahan-perubahan dalam eksitabilitas serabut-serabut otot.
2. Gerak involunter yang reversibel selama minimal beberapa menit, yang mengeraskan
(sekelompok) otot. Dibentuk oleh aktivitas yang berlebihan dari motor unit atau
adanya beragam perubahan eksitabilitas serabut otot.
3. Spasme otot yang disertai sensasi atau rasa nyeri.
Jadi yang dimaksud kejang otot disini bukanlah kejang seperti anggapan awam atau
seperti kejang penderita epilepsi, melainkan kejang otot dalam pengertian
neurofisiologi, yaitu kejang otot akibat gangguan neuromuskular (sistem persyarafan).

Epidemiologi

Angka cedera (termasuk kejang otot) pada pemain sepak bola sebesar 36,5 per 10 ribu.

Penyebab

Umumnya kejang otot terjadi karena:

1. Kelelahan, posisi-posisi tertentu (misalnya sikap tubuh yang salah).


2. Aktivitas fisik yang berlebuhan, berat dan berulang.
3. Kurangnya suplai darah dan oksigen yang sementara (anoksia temporer) di otot.
4. Udara yang sangat dingin.
5. Sedera fisik, seperti patah tulang atau keseleo.
6. Interaksi atomoxetin dengan tipe antidepresan tertentu, seperti golongan inhibitor
monoamin oksidase (MAO) dapat menyebabkan kejang otot.

Gambaran Klinis (Gejala & Tanda)

Kejang otot ditandai dengan ketidaknormalan aktivitas otot, berupa kelemahan otot,
pengecilan otot, pembengkakan otot, kekakuan otot. Kejang otot dapat disertai rasa nyeri.

Pemeriksaan Penunjang

Pada kram otot berulang, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti pemantauan
enzim otot, EMG, mikroskopis, analisis biokimiawi, ischemic exercise test. Umumnya semua
pemeriksaan hasilnya normal, kecuali biopsi otot yang menunjakan perubahan spesifik
minimal.
Terapi/Solusi

Masase dan peregangan hebat otot yang spasme efektif mengatasi kram.

Obat-obat antikolinergik mampu menghambat aksi neurotransmiter asetilkolin. Obat ini


digunakan untuk mengurangi kejang otot di usus, paru-paru, kandung kemih, dan otot-otot
mata.Quinine, fenitoin, lioresal, amitriptilin efektif mengurangi kram. Terkadang dokter
meresepkan obat golongan benzodiazepin untuk mengatasi kejang otot.

Pencegahan

Pencegahan kejang otot sebelum/sesudah berolahraga adalah dengan melakukan pemanasan,


peregangan, pendinginan, senam.

Tahukah Anda?

1. Beberapa cabang olahraga yang dapat dijumpai kejang otot, misalnya lari, renang,
senam, balet, voli, tenis.
2. Kejang otot sering dijumpai pada penyakit/ gangguan seperi tetanus, nyeri kepala
tegang otot,miopati, penyakit motor neuron, neuropati perifer, hipokalsemia,
hipomagnesemia,distonia (kejang otot karena kontraksi simultan dari kelompok otot),
tortikolis spasmodik (nyeri yang hilang timbul atau kejang yang terus-menerus di otot
leher, salah satu penyebabnya adalah fenotiazin), spasmofilia, diskinesia akibat obat.
(DA)
BAB 15
KOREA

Sinonim

Chorea, St. Vitus dance

Defenisi

Istilah umum dari gangguan pergerakan diluar kehendak yang berasal dari gangguan jaringan
persyarafan (penghubung ganglia basal dengan daerah korteks motorik frontal). Korea adalah
kumpulan gejala (sindrom) dan bukan diagnosis penyakit.

Epidemiologi

Insiden dan prevelensi korea belum diketahui pasti, mengingat korea dapat dijumpai di
berbagai penyakit, seperti penyakit Huntington, demam rematik, penyakit Lesch-Nyhan.

Korea yang paling sering dan umum terjadi adalah korea minor (korea sydenham). Penyakit
ini sering dijumpai pada wanita usia sekolah, yang sebagian besar berusia 6-13 tahun. Jarang
dijumpai pada usia 40 tahun. Penyakit ini biasanya berkaitan dengan penyakit infeksi di masa
anak, terutama demam rematik.

Korea terjadi pada 26% penderita demam rematik. Korea sydenham adalah penyebab paling
sering dari korea akut pada anak-anak di seluruh dunia.

Penyebab

Penyabab pasti belum diketahui, namun diduga korea disebabkan multifaktor, yang meliputi:
(1) faktor genetika; (2) kelainan otak, yaitu lesi di struktur ganglia basal; (3) gangguan sistem
kekebalan tubuh; (4) infeksi; (5) gangguan metabolisme atau penyakit di otak akibat
racun/logam berat; dan (6) obat-obatan tertentu.

Klasifikasi

Sindrom korea dapat dikelompokkan berdasarkan penyebab di atas. Berikut ini rincian dan
penjelasannya:

1. Korea yang disebabkan oleh faktor genetika. Misalnya penyakit Huntington,


neuroakantositosis, teleangiektasi ataksia, korea herediter benigna (jinak dan
diwariskan), ataksia spinoserebelar (tipe 2,3 atau 17), koreoatetosis kinesesigenik
paroksismal.
2. Korea yang disebabkan oleh kelainan otak, berupa lesi di struktur ganglia-basalis.
Misalnya korea akibat perdarahan pada kasus stroke, lesi massa (seperti: limfoma
sistem saraf pusat, tumor otak metastatik), plak pada multiple sklerosis, extrapontine
muelinolysis.
3. Korea yang disebabkan oleh gangguan sistem kekebalan tubuh. Misalnya korea
sydenham, lupus eritematosus sistemik, korea gravidarum, sindrom antibodi
antifosfolipid, korea paraneoplastik.

4. Korea yang disebabkan oleh infeksi. Misalnya ensefalopati HIV, toksoplasmosis,


sistiserkosis, difteria, endokarditis bakterial, neurosifilis, demam skarlet, ensefalitis
akibat virus (penyakit gondok, campak, cacar air)

5. Korea yang disebabkan oleh gangguan metabolisme atau penyakit di otak akibat
racun/logam berat. Misalnya porfiria intermitan akut, hipo/hipernatremia,
hipertiroidisme, hipoparatiroidisme, gagal ginjal/hati, keracunan karbon monoksida.

6. Korea juga disebabkan oleh beragam obat. Misalnya agen penghambat reseptor
dopamin, obat-obat anti-Parkinsin, obat-obat antiepilepsi, psikostimulan, penghambat
saluran kalsium dan lain-lainnya

Gambaran Klinis

Ekspresi wajah menyeringai, meringis, atau seolah menampar mulut (lip-smacking) jelas
menonjol. Gerakan tidak sadar (involunter) yang mengganggu gerakan sadar ini
membahayakan penderita dan tidak mengenal istirahat sehinnga memicu kelelahan yang
hebat. Terkadang gerakan ini kurang jelas teramati selama tidur. Korea dapat terjadi di
(anggota gerak) tubuh secara umum atau hanya pada satu sisi tubuh (hemikorea).ada
kalanyan , jika refleks sentakan lutut (knee-jerk) diuji saat penderita duduk dengan kaki
menggantung, kaki dapat kembali ke posisi semula dengan lebih perlahan dari normal. Ini
disebut sebagai fenomena Gordon.

Korea ringan ditandai dengan gelisah, mudah marah/tersinggung, permasalahan


konsentrasi, tulisan tangan yang tak terbaca. Korea sementara menyebabkan pergerakan tak
bertujuan, tak terkendali, tersentak-sentak (jerky), kejang otot, gangguan berbicara, kelelahan
otot, dan inkoordinasi.

Terapi/Solusi

Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnosis dokter. Obat-obat
antidopaminergik adalah pilihan utama, dengan catatan, semakin besar aksi penghambat
reseptor D2, maka semakin besar afektivitas antikorea. Obat-obat atipikal seperti:
Olanzapine, quetiapine, dan clozapine efektif mengatasi korea. Obat neuroleptik tipikal
efektif mengatasi korea, namun sebaiknya di bawah pengawasan dokter karena banyaknya
efek samping. Sebagai pengganti, dapat digunakan risperidone dan olanzapine, yaitu
antipsikotik atipikal dengan aktivitas antikorea. Kedua obat ini lebih kecil potensinya untuk
mengakibatkan parkinsonisme dari pada neuroleptik tipikal.
Pencegahan

1. Pada penderita korea dengan gaya berjalan sempoyongan atau hampir jatuh, lakukan
pencegahan risiko cedera.
2. Pada anak penderita korea, orang tua perlu tutor/pendamping khusus agar anak dapat
tetap mengerjakan tugas sekolah selama masa penyembuhan. Terapi bermain
berkelompok juga dapat direkomendasikan. Hal ini mencegah anak merasa minder,
sendiri, atau terasing.
3. Konseling genetik efektif untuk korea yang disebabkan oleh faktor genetik (misalnya
penyakit Huntington). Pada sebagian besar kasus, diperlukan terapi simtomatis.

Tahukah Anda?

1. Kata chorea berasal dari bahasa Yunani kuno, yang berarti tarian.
2. Efek samping neuroleptik tipikal adalah sedasi, reaksi distonik akut, tardive
dyskinesia, dan parkinsonism.
3. Korea gravidarum adalah korea yang muncul antara bulan ketiga hingga kelima dari
kehamilan pertama.
4. Riset terbaru berhasil membuktikan hubungan antara group A beta-haemolytic
streptococcus melalui respon imun yang diperantarai antibodi, yang mengarah ke
ganglia basal sebagai penyebab korea Sydenham. (DA)