Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Hipertensi merupakan keadaan yang ditandai dengan peningkatan tekanan


darah sistolik (TDS) maupun tekanan darah diastolik(TDD) 140/90 mm Hg.
Menurut Joint National Commission (JNC) 7, rekomendasi target tekanan darah yang
harus dicapai adalah < 140/90 mmHg dan target tekanan darah untuk pasien penyakit
ginjal kronik dan diabetes adalah 130/80 mmHg. American Heart Association
(AHA) merekomendasikan target tekanan darah yang harus dicapai, yaitu 140/90
mmHg, 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit ginjal kronik, penyakit arteri
kronik atau ekuivalen penyakit arteri kronik, dan 120/80 mmHg untuk pasien
dengan gagal jantung. Sedangkan menurut National Kidney Foundation (NKF), target
tekanan darah yang harus dicapai adalah 130/80 mmHg untuk pasien dengan penyakit
ginjal kronik dan diabetes, dan < 125/75 mmHg untuk pasien dengan > 1 g
proteinuria.

Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat


antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Penambahan
obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan
dosis lazim gagal mencapai target tekanan darah. Apabila tekanan darah melebihi
20/10 mm Hg diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua
obat. Yang harus diperhatikan adalah resiko untuk hipotensi ortostatik, terutama pada
pasien-pasien dengan diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia. Data penelitian
klinik hipertensi memperlihatkan bahwa mayoritas pasien hipertensi memerlukan
paling sedikit dua golongan obat untuk mencapati target tekanan darah. JNC 7 (2003)
dan ESC/ ESH (2007) menganjurkan untuk langsung mulai dengan kombinasi dua
macam obat pada kelas II hipertensi (160/100 mmHg) atau pada kelompok
hipertensi dengan risiko kardiovaskuler tinggi atau sangat tinggi.

Saat ini terdapat kombinasi beberapa obat antihipertensi dalam bentuk ultra-
low dose. Pada ultra-low dose ini terdapat 2 atau 4 jenis obat antihipertensi dengan
dosis dari dosis lazim dalam satu kapsul atau tablet. Menurut beberapa penelitian,
pendosisan jenis ini dapat menurunkan tekanan darah sebanyak 60% daripada
monoterapi dengan dosis penuh. Menurut European Society of Hypertension 2003,
kombinasi dua obat untuk hipertensi ini dapat dilihat pada gambar dibawah, dimana
kombinasi obat yang dihubungkan dengan garis tebal adalah kombinasi yang paling
efektif.

Terapi Kombinasi
Ada 6 alasan rasional mengapa pengobatan kombinasi pada hipertensi dianjurkan:46
1. Mempunyai efek aditif
2. Mempunyai efek sinergisme
3. Mempunyai sifat saling mengisi
4. Penurunan efek samping masing-masing obat
5. Mempunyai cara kerja yang saling mengisi pada organ target tertentu

Berdasarkan penelitian review sistematis dan meta analisis, kombinasi dua


terapi antihipertensi dapat menurunkan tekanan darah sekitar 6.7/4.4 mm Hg, dan
kombinasi empat antihipertensi 22.4/13.1 mm Hg. Penurunan tekanan darah ini
lebih baik dibandingkan dengan plasebo atau dengan monoterapi.
Fixed-dose combination yang paling efektif adalah sebagai berikut:
1. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan diuretik
2. Penyekat reseptor angiotensin II (ARB) dengan diuretik
3. Penyekat beta dengan diuretik
4. Diuretik dengan agen penahan kalium
5. Penghambat enzim konversi angiotensin (ACEI) dengan antagonis kalsium
6. Agonis -2 dengan diuretik
7. Penyekat -1 dengan diuretik