Anda di halaman 1dari 14

TUGAS 1

Pertanyaan:

1. Jelaskan obat antihipertensi secara umum


2. Jelaskan obat antihipertensi yang diperbolehkan pada ibu hamil
3. Bagaimana diagnosis preeklamsi berdasarkan ACOG

Jawaban:

1. Jelaskan obat antihipertensi secara umum

Obat antihipertensi yang banyak digunakan adalah golongan diuretik tiazid (misalnya
bendroflumetiazid), betabloker, (misalnya propanolol, atenolol,) penghambat
angiotensin converting enzymes (misalnya captopril, enalapril), antagonis angiotensin II
(misalnya candesartan, losartan), calcium channel blocker (misalnya amlodipin,
nifedipin) dan alpha blocker (misalnya doksasozin).

Kelas Nama obat Dosis Freq. Keterangan

(mg/hari) pemberian

Diuretik Pemberian pagi hari untuk


Klortalidon 6.25-25 1 menghindari diuresis malam hari,
Tiazid Hidroklorotiazid 12.5-50 1 sebagai antihipertensi gol.tiazid
Indapamide lebih efektif dari diuretik loop
Metolazone 1.25-2.5 1 kecuali pada pasien dengan GFR
0.5 1 rendah ( ClCr<30 ml/min);
gunakan dosis lazim untuk
mencegah efek samping
metabolik,; hiroklorotiazid (HCT)
dan klortalidon lebih disukai,
dengan dosis efektif maksimum 25
mg/hari; klortalidon hampir 2 kali
lebih kuat dibanding HCT;
keuntungan tambahan untuk
pasien osteoporosis; monitoring
tambahan untuk pasien dengan
sejarah pirai atau hiponatremia

Bumetanide
Furosemide 0.5-4 2 Pemberian pagi dan sore untuk
Loop Torsemide 20-80 2 mencegah diuresis malam hari;
5 1 dosis lebih tinggi mungkin

diperlukan untuk pasien dengan


GFR sangat rendah atau gagal
jantung
Triamteren
Triamteren/ 50-100 1 atau Pemberian pagi dan sore untuk
Penahan HCT 37.5-75/ 2 mencegah diuresis malam hari;
kalium 25-50 1 diuretik lemah, biasanya
dikombinasi dengan diuretik tiazid
untuk meminimalkan hipokalemia;
karena hipokalemia dengan dosis
rendah tiazid tidak lazim, obat-
obat ini diberikan pada pasien
yang mengalami hipokalemia
akibat diuretik; hindari pada
pasien dengan penyakit ginjal
kronis ( ClCr<30 ml/min); dapat
meyebabkan hiperkalemia,
terutama kombinasi dengan ACEI,
ARB, atau supplemen kalium

Antagonis Eplerenone 50-100 1 atau 2 Pemberian pagi dan sore untuk


Aldosteron Spironolakton 25-50 1 mencegah diuresis malam
Spironolakton/HCT 25-50/25- hari; diuretic ringan biasanya
50 di kombinasi dengan tiazid
untuk meminimalkan
hipokalemia; karena
hipokalemia dengan diuretic
tiazid dosis rendah tidak
lazim, obat-obat ini biasanya
dipakai untuk pasien-pasien
yang mengalami diuretic-
induced hipokalemia; hindari
pada pasien dengan penyakit
ginjal kronis ( ClCr < 30ml/
min); dapat menyebabkan
hiperkalemia, terutama kombi
nasi dengan ACEI, ARB, atau
suplemen kalium)

ACE inhibitor Benazepril 10-40 1 atau 2 Dosis awal harus dikurangi


Captopril 12.5-150 2 atau 3 50% pada pasien yang sudah
Enalapril 5-40 1 atau 2 dapat diuretik, yang
Fosinopril 10-40 1 kekurangan cairan, atau sudah
Lisinoril 10-40 1 tua sekali karena resiko
Moexipril 7.5-30 1 atau 2 hipotensi; dapat menyebabkan
Perindopril 4-16 1 hiperkalemia pada pasien
Quinapril 10-80 1 atau 2 dengan penyakit ginjal kronis
Ramipril 2.5-10 1 atau 2 atau pasien yang juga
Trandolaapril 1-4 mendapat diuretik penahan
Tanapres kalium, antagonis aldosteron,
atau ARB; dapat menyebabkan
gagal ginjal pada pasien
dengan renal arteri
stenosis; jangan digunakan
pada perempuan hamil
atau pada pasien dengan
sejarah angioedema

Penyekat Kandesartan 8-32 1 atau 2 Dosis awal harus dikurangi


reseptor Eprosartan 600-800 1 atau 2 50% pada pasien yang sudah
angiotensin Irbesartan 150-300 1 dapat diuretik, yang
Losartan 50-100 1 atau 2 kekurangan cairan, atau sudah
Olmesartan 20-40 1 tua sekali karena resiko
Telmisartan 20-80 1 hipotensi; dapat menyebabkan
Valsartan 80-320 1 hiperkalemia pada pasien
dengan penyakit ginjal kronis
atau pasien yang juga
mendapat diuretik penahan
kalium, antagonis aldosteron,
atau ACEI; dapat
menyebabkan gagal ginjal
pada pasien dengan renal arteri
stenosis; tidak menyebabkan
batuk kering seperti ACEI,;
jangan digunakan pada
perempuan hamil
Penyekat beta Kardioselektif
Atenolol 25-100 1 Pemberhentian tiba-tiba dapat
Betaxolol 5-20 1 menyebabkan rebound
Bisoprolol 2.5-10 1 hypertension; dosis rendah s/d
Metoprolol 50-200 1 sedang menghambat reseptor
50-200 1 1, pada dosis tinggi
menstimulasi reseptor 2;
dapat menyebabkan
eksaserbasi asma bila
selektifitas hilang; keuntungan
tambahan pada pasien dengan
atrial tachyarrythmia atau
preoperatif hipertensi
Nonselektif
Nadolol 40-120 1 Pemberhentian tiba-tiba dapat
Propranolol 160-480 2 menyebabkan rebound
Propranolol LA 80-320 1 hypertension, menghambat
Timolol reseptor 1 dan 2 pada semua
Sotalol dosis; dapat memperparah
asma; ada keuntungan
tambahan pada pasien
dengan essensial tremor,
migraine, tirotoksikosis

Kelas Nama Obat Dosis Freq/hari Keterangan


mg/hari
Aktifitas Pemberhentian tiba-tiba dapat
simpatomimetik menyebabkan rebound
intrinsik hypertension; secara parsial
Acebutolol 200-800 2 merangsang reseptor
Carteolol 2.5-10 1 sementara menyekat terhadap
Pentobutolol 10-40 1 rangsangan tambahan; tidak
Pindolol 10-60 2 ada keuntungan tambahan
untuk obat-obat ini kecuali
pada pasien-pasien dengan
bradikardi, yang harus
mendapat penyekat beta;
kontraindikasi pada pasien
pasca infark miokard, efek
samping dan efek metabolik
lebih sedikit, tetapi tidak
kardioprotektif seperti
penyekat beta yang lain.
Campuran
penyekat dan
Karvedilol 12.5-50 2 Pemberhentian tiba-tiba dapat
Labetolol 200-800 2 menyebabkan rebound
hypertension; penambahan
penyekat meng akibatkan
hipotensi ortostatik
Antagonis Dihidropiridin Dihidropiridin yang bekerja
kalsium Amlodipin 2.5-10 1 cepat (long-acting) harus
Felodipin 5-20 1 dihindari, terutama nifedipin
Isradipin 5-10 2 dan nicardipin; dihidropiridin
Isradipin SR 5-20 1 adalah vasodilator perifer
Lekarnidipin 60-120 2 yang kuat dari pada
Nicardipin SR 30-90 1 nondihidropiridin dan dapat
Nifedipin LA 10-40 1 menyebabkan pelepasan
Nisoldipin simpatetik refleks
(takhikardia), pusing, sakit
kepala, flushing, dan edema
perifer; keuntungan tambahan
pada sindroma Raynaud
Kelas Nama Obat Dosis Freq/hari Keterangan
lazim
mg/hari
Non-dihidropiridin Produk lepas lambat lebih
Diltiazem SR 180-360 1 disukai untuk hipertensi; obat-
Verapamil SR 1 obat ini menyekat slow
channels di jantung dan
menurunkan denyut jantung;
dapat menyebabkan heart
block; keuntungan tambahan
untuk pasien dengan atrial
takhiaritmia

Obat-obat antihipertensi alternatif


Kelas Nama Obat Dosis Freq/ Keterangan
lazim hari
Mg/hari
Penyekat alfa-1 Doxazosin 1-8 1 Dosis pertama harus diberikan
Prazosin 2-20 2 atau 3 malam sebelum tidur;
Terazosin 1-20 1 atau 2 beritahu pasien untuk berdiri
perlahan-lahan dari posisi
duduk atau berbaring untuk
meminimalkan resiko
hipotensi ortostatik;
keuntungan tambahan untuk
laki-laki dengan BPH
(benign prostatic
Agonis sentral Klonidin 01-0.8 2 hyperplasia)
-2 Metildopa 250-1000 2 Pemberhentian tiba-tiba dapat
menyebabkan rebound
hypertension; paling efektif
bila diberikan bersama
diuretik untuk mengurangi
Antagonis Reserpin 0.05-0.25 retensi cairan.
Adrenergik Gunakan dengan diuretik untuk
Perifer mengurangi retensi cairan
Vasodilator Minoxidil 10-40 1 atau 2 Gunakan dengan diuretic dan
arteri langsung Hidralazin 20-100 2 atau 4 penyekat beta untuk
mengurangi retensi cairan
dan refleks takhikardi

a. Diuretik tiazid
Diuretik tiazid adalah diuretik dengan potensi menengah yang menurunkan
tekanan darah dengan cara menghambat reabsorpsi sodium pada daerah awal
tubulus distal ginjal, meningkatkan ekskresi sodium dan volume urin. Tiazid juga

5
mempunyai efek vasodilatasi langsung pada arteriol, sehingga dapat
mempertahankan efek antihipertensi lebih lama. Tiazid diabsorpsi baik pada
pemberian oral, terdistribusi luas dan dimetabolisme di hati.
Efek diuretik tiazid terjadi dalam waktu 12 jam setelah pemberian dan
bertahan sampai 1224 jam, sehingga obat ini cukup diberikan sekali sehari. Efek
antihipertensi terjadi pada dosis rendah dan peningkatan dosis tidak memberikan
manfaat pada tekanan darah, walaupun diuresis meningkat pada dosis tinggi. Efek
tiazid pada tubulus ginjal tergantung pada tingkat ekskresinya, oleh karena itu
tiazid kurang bermanfaat untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Peningkatan
eksresi urin oleh diuretik tiazid dapat mengakibatkan hipokalemia, hipo natriemi,
dan hipomagnesiemi. Hiperkalsemia dapat terjadi karena penurunan ekskresi
kalsium. Interferensi dengan ekskresi asam urat dapat mengakibatkan
hiperurisemia, sehingga pewnggunaan tiazid pada pasien gout harus hatihati.
Diuretik tiazid juga dapat mengganggu toleransi glukosa (resisten terhadap insulin)
yang mengakibatkan peningkatan resiko diabetes mellitus tipe 2..

b. Beta-blocker
Beta blocker memblok betaadrenoseptor. Reseptor ini diklasifikasikan
menjadi reseptor beta1 dan beta2. Reseptor beta1 terutama terdapat pada jantung
sedangkan reseptor beta2 banyak ditemukan di paruparu, pembuluh darah perifer,
dan otot lurik. Reseptor beta2 juga dapat ditemukan di jantung, sedangkan
reseptor beta1 juga dapat dijumpai pada ginjal. Reseptor beta juga dapat
ditemukan di otak.
Betablocker yang selektif (dikenal juga sebagai cardioselective beta
blockers), misalnya bisoprolol, bekerja pada reseptor beta1, tetapi tidak spesifik
untuk reseptor beta1 saja oleh karena itu penggunaannya pada pasien dengan
riwayat asma dan bronkhospasma harus hati hati. Betablocker yang nonselektif
(misalnya propanolol) memblok reseptor beta1 dan beta 2.
Betablocker yang mempunyai aktivitas agonis parsial (dikenal sebagai
aktivitas simpatomimetik intrinsik), misalnya acebutolol, bekerja sebagai stimulan
beta pada saat aktivitas adrenergik minimal (misalnya saat tidur) tetapi akan
memblok aktivitas beta pada saat aktivitas adrenergik meningkat (misalnya saat
6
berolah raga). Hal ini menguntungkan karena mengurangi bradikardi pada siang
hari. Beberapa betablocker, misalnya labetolol, dan carvedilol, juga memblok efek
adrenoseptor alfa perifer. Obat lain, misalnya celiprolol, mempunyai efek agonis
beta2 atau vasodilator.
Betablocker diekskresikan lewat hati atau ginjal tergantung sifat kelarutan
obat dalam air atau lipid. Obatobat yang diekskresikan melalui hati biasanya harus
diberikan beberapa kali dalam sehari sedangkan yang diekskresikan melalui ginjal
biasanya mempunyai waktu paruh yang lebih lama sehingga dapat diberikan sekali
dalam sehari. Betablocker tidak boleh dihentikan mendadak melainkan harus
secara bertahap, terutama pada pasien dengan angina, karena dapat terjadi
fenomena rebound.
Efek Samping Blokade reseptor beta2 pada bronkhi dapat mengakibatkan
bronkhospasme, bahkan jika digunakan betabloker kardioselektif. Efek samping
lain adalah bradikardia, gangguan kontraktil miokard, dan tangakaki terasa dingin
karena vasokonstriksi akibat blokade reseptor beta2 pada otot polos pembuluh
darah perifer.

c. ACE Inhibitor
Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEI) menghambat secara
kompetitif pembentukan angiotensin II dari prekursor angiotensin I yang inaktif,
yang terdapat pada darah, pembuluh darah, ginjal, jantung, kelenjar adrenal dan
otak. Angitensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang memacu penglepasan
aldosteron dan aktivitas simpatis sentral dan perifer. Penghambatan pembentukan
angiotensin II ini akan menurunkan tekanan darah. Jika sistem angiotensinrenin
aldosteron teraktivasi (misalnya pada keadaan penurunan sodium, atau pada terapi
diuretik) efek antihipertensi ACEI akan lebih besar.
ACE juga bertanggungjawab terhadap degradasi kinin, termasuk bradikinin,
yang mempunyai efek vasodilatasi. Penghambatan degradasi ini akan
menghasilkan efek antihipertensi yang lebih kuat.Beberapa perbedaan pada
parameter farmakokinetik obat ACEI. Captopril cepat diabsorpsi tetapi mempunyai
durasi kerja yang pendek, sehingga bermanfaat untuk menentukan apakah seorang
pasien akan berespon baik pada pemberian ACEi. Dosis pertama ACEI harus

7
diberikan pada malam hari karena penurunan tekanan darah mendadak mungkin
terjadi; efek ini akan meningkat jika pasien mempunyai kadar sodium rendah.

d. Antagonis Angiotensin II
Reseptor angiotensin II ditemukan pada pembuluh darah dan target lainnya.
Disubklasifikasikan menjadi reseptor AT1 dan AT2. Reseptor AT1 memperantarai
respon farmakologis angiotensin II, seperti vasokonstriksi dan penglepasan
aldosteron. Dan oleh karenanya menjadi target untuk terapi obat. Fungsi reseptor
AT2 masih belum begitu jelas. Banyak jaringan mampu mengkonversi angiotensin
I menjadi angiotensin II tanpa melalui ACE. Oleh karena itu memblok sistem
reninangitensin melalui jalur antagonis reseptor AT1 dengan pemberianantagonis
reseptor angiotensin II mungkin bermanfaat.
Efek Samping ACEI dan AIIRA dapat menyebabkan hiperkalemia karena
menurunkan produksi aldosteron, sehingga suplementasi kalium dan penggunaan
diuretik hemat kalium harus dihindari jika pasien mendapat terapi ACEI atau
AIIRA. Perbedaan anatar ACEi dan AIIRA adalah batuk kering yang merupakan
efek samping yang dijumpai pada 15% pasien yang mendapat terapi ACEi. AIIRA
tidak menyebabkan batuk karena tidak mendegradasi bradikinin.

e. Calcium Channel Blocker


Calcium channel blockers (CCB) menurunkan influks ion kalsium ke dalam
sel miokard, selsel dalam sistem konduksi jantung, dan selsel otot polos
pembuluh darah. Efek ini akan menurunkan kontraktilitas jantung, menekan
pembentukan dan propagasi impuls elektrik dalam jantung dan memacu aktivitas
vasodilatasi, interferensi dengan konstriksi otot polos pembuluh darah. Semua hal
di atas adalah proses yang bergantung pada ion kalsium.
Terdapat tiga kelas CCB: dihidropiridin (misalnya nifedipin dan
amlodipin); fenilalkalamin (verapamil) dan benzotiazipin (diltiazem).
Dihidropiridin mempunyai sifat vasodilator perifer yang merupakan kerja
antihipertensinya, sedangkan verapamil dan diltiazem mempunyai efek kardiak dan
dugunakan untuk menurunkan heart rate dan mencegah angina. Semua CCB
dimetabolisme di hati.

8
Efek Samping pemerahan pada wajah, pusing dan pembengkakan
pergelangan kaki sering dijumpai, karena efek vasodilatasi CCB dihidropiridin.
Nyeri abdomendan mual juga sering terjadi. Saluran cerna juga sering terpengaruh
oleh influks ion kalsium, oleh karena itu CCB sering mengakibatkan gangguan
gastrointestinal, termasuk konstipasi.

f. Alpha-Blocker
Alphablocker (penghambat adrenoseptor alfa1) memblok adrenoseptor
alfa1 perifer, mengakibatkan efek vasodilatasi karena merelaksaasi otot polos
pembuluh darah. Diindikasikan untuk hipertensi yang resisten. Efek samping
Alphablocker dapat menyebabkan hipotensi postural, yang sering terjadi pada
pemberian dosis pertama kali. Alphablocker bermanfaat untuk pasien lakilaki
lanjut usia karena memperbaiki gejala pembesaran prostat.

2. Jelaskan obat antihipertensi yang diperbolehkan pada ibu hamil

Obat-obatan yang boleh diberikan pada Ibu hamil adalah obat-obatan yang
berkategori A atau B dan minimal kategori C. Dengan ketentuan sebagai berikut :
Kategori A: penelitian pada manusia di trimester 1 tidak menunjukan kelainan
terhadap janin (belum ada bukti pada trimester 2 dan 3). Kategori A = Aman
untuk janin.
Kategori B: penelitian pada hewan percobaan tidak menunjukan efek terhadap
janin dan penelitian pada manusia masih belum menunjukan bukti yang jelas.
Atau, pada hewan percobaan menunjukan kelainan janin, sedangkan pada
manusia tidak menunjukan kelainan janin sama sekali di semua trimester.
Kategori B = Cukup aman untuk janin.
Kategori C: penelitian pada hewan percobaan menunjukan kelainan janin, tetapi
pada manusia belum menunjukan bukti yang jelas. Tetapi manfaat obat lebih
tinggi dibandingkan potensial resiko yang terjadi. Kategori C = Digunakan jika
perlu, kemungkinan bisa ada efek samping pada janin.
Kategori D: penelitian pada manusia menunjukan bukti kelainan yang jelas pada
janin. Tetapi manfaat obat lebih tinggi dibandingkan potensi resiko yang terjadi.
Kategori D = Digunakan jika darurat, bisa terjadi efek samping pada janin.

9
Kategori X: penelitian pada manusia menunjukan kelainan pada janin. Dan
tingkat bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Kategori X = Tidak pernah
digunakan dan sangat berbahaya bagi janin.

Pilihan obat hipertensi yang dapat diberikan pada ibu hamil, yaitu:
a. Nifedipin
Berasal dari golongan Calsium Channel Blocker (CCB), merupakan obat
berkategori kemananan C. Nifedipin bekerja menghambat arus ion kalsium
melewati membrane sel pada pembuluh darah koroner dan sistemik otot halus dan
miokard yang akan meningkatkan CO (Cardiac Output), sehingga akan
menurunkan resistensi pembuluh darah perifer.
Dengan bioavailibitas = 50% dosis oral diserap dengan konsentrasi plasma
puncak dicapai dalam waktu 0,5-2 jam (waktu paruh sekitar 2 jam). Onset =
penurunan max TD pada 4-6 jam. Durasi = efek hipotensi bertahan 24-48 jam.
Dimetabolisme di hati oleh CYP isoenzim, termasuk CYP3A. Dieliminasi melalui
urin (60-80%) sisanya melalui feces. Dosis yang dapat diberikan 10-20 mg caps,
diulangi setelah 30 menit, max 120 mg dalam 24 jam. Terdapat efek samping yang
timbul, yaitu pusing, sakit kepala, muka merah, edema kaki, ruam kulit, mual,
sering urinasi. Kontraindikasi:hipersensitif thd nifedipin, syok kardiogenik,stenosis
aorta.

b. -Metildopa
Metildopa merupakan obat pilihan utama karena memiliki golongan
keamanan obat tingkat A. Metildopa berguna untuk hipertensi kronik pada
kehamilan (tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg) yang dapat menstabilkan aliran
darah uteroplasenta dan hemodinamik janin. Obat ini termasuk golongan 2-agonis
sentral yang mempunyai mekanisme kerja dengan menstimulasi reseptor 2-
adrenergik di otak. Stimulasi ini akan mengurangi aliran simpatik dari pusat
vasomotor di otak. Pengurangan aktivitas simpatik dengan perubahan parasimpatik
akan menurunkan denyut jantung, cardiac output, resistensi perifer, aktivitas renin
plasma, dan refleks baroreseptor. Metildopa aman bagi ibu dan anak, dimana telah
digunakan dalam jangka waktu yang lama dan belum ada laporan efek samping

10
pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Metildopa memiliki faktor resiko B
pada kehamilan.
Nama Dagang : Dopamet (Alpharma) tablet salut selaput 250 mg, Medopa
(Armoxindo) tablet salut selaput 250 mg, Tensipas (Kalbe Farma) tablet salut
selaput 125 mg, 250 mg, Hyperpax (Soho) tablet salut selaput 100 mg. Indikasi :
Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek
segera. Kontraindikasi : Depresi, penyakit hati aktif, feokromositoma, porfiria, dan
hipersensitifitas. Efek samping : mulut kering, sedasi, depresi, mengantuk, diare,
retensi cairan, kerusakan hati, anemia hemolitika, sindrom mirip lupus
eritematosus, parkinsonismus, ruam kulit, dan hidung tersumbat.
Peringatan : mempengaruhi hasil uji laboratorium, menurunkan dosis awal
pada gagal ginjal, disarankan untuk melaksanakan hitung darah dan uji fungsi hati,
riwayat depresi. Dosis dan aturan pakai : oral 250mg 2 kali sehari setelah makan,
dosis maksimal 4g/hari, infus intravena 250-500 mg diulangi setelah enam jam jika
diperlukan.

c. Labetalol
Labetalol merupakan antihipertensi berkategori keamanan C yang bekerja
non kardioselektif menghambat beta lebih dominan dibandingkan antagonis alfa.
Melalui penggunaan labetalol, tekanan darah dapat diturunkan dengan
pengurangan tahanan sistemik vaskular tanpa perubahan curah jantung maupun
frekuensi jantung yang nyata sehingga hipotensi yang terjadi kurang disertai efek
takikardia. Selain itu, labetalol juga dapat melakukan blokade terhadap efek
takikardia neonates yang disebabkan oleh terapi beta bloker pada ibu . Sehingga
labetalol dapat dikatakan sebagai obat alternative yang lebih aman dan efektif
diberikan pada kehamilan.
Pemberian labetalol dapat secara oral maupun injeksi bolus intravena. Dosis
oral harian labetalol berkisar dari 200-2400 mg/hari dengan dosis awal 2 x 100 mg.
Dosis pemeliharaan biasanya 2 x 200-400 mg/hari. Akan tetapi pada pasien dengan
hipertensi gawat, dosis dapat mencapai 1,2 hingga 2,4 gram/hari.
Labetalol sebagai suntikan bolus intravena secara berulang-ulang 20-80 mg
untuk mengobati hipertensi gawat. Mabie, dkk (1987) memberikan labetalol 10 mg
IV sebagai dosis awal. Apabila tekanan darah tidak berkurang dalam waktu 10
11
menit, pasien diberi 20 mg. Dalam 10 menit berikutnya adalah 40 mg yang diikuti
40 mg dan kemudian 80 mg apabila belum tercapai respon yang bermanfaat.
Sedangkan The Working Group (2000)merekomendasikan bolus 20 mg IV sebagai
dosis awal. Apabila tidak efektif dalam 10 menit, dosis dilanjutkan dengan 40 mg,
kemudian 80 mg setiap 10 menit, hingga dosis total sebanyak 220 mg.
Efek samping yang sering timbul adalah kelelahan, lemah, sakit kepala, diare,
edema, mata kering, gatal pada kulit kepala dan seluruh tubuh serta susah tidur.
Hipotensi postural juga dapat terjadi akan tetapi sangat jarang.

3. Bagaimana diagnosis preeklamsi berdasarkan ACOG


Kriteria Diagnostik untuk Preeklamsia:
o Tekanan darah
Lebih dari atau sama dengan 140 mm Hg sistolik atau lebih besar dari
atau sama dengan 90 mmHg diastolik pada dua kesempatan paling tidak
4 jam setelah 20 minggu masa kehamilan pada wanita dengan tekanan
darah normal sebelumnya.
Lebih dari atau sama dengan 160 mm Hg sistolik atau lebih besar dari
atau sama dengan diastolik 110 mmHg, hipertensi dapat dikelompokkan
dalam interval pendek (menit) untuk memfasilitasi terapi antihipertensi
tepat waktu.
o Proteinuria
Lebih dari atau sama dengan 300 mg per koleksi urin 24 jam (atau
jumlah ini diekstrapolasikan dari koleksi berjangka waktu)
atau
Rasio protein / kreatinin lebih besar dari atau sama dengan 0,3 *
Dipstick membaca 1+ (hanya digunakan jika metode kuantitatif lain
tidak tersedia)

Atau dengan tidak adanya proteinuria, hipertensi onset baru dengan onset baru
dari salah satu dari berikut ini:
Trombositopenia
Jumlah trombosit kurang dari 100.000 / microliter.
12
Insufisiensi ginjal
Konsentrasi kreatinin serum lebih besar dari 1,1 mg / dL atau dua kali
lipat konsentrasi kreatinin serum jika tidak ada penyakit ginjal lainnya.
Gangguan fungsi hati
Peningkatan konsentrasi darah transaminase hati sampai dua kali
konsentrasi normal.
Edema paru
Gejala serebral atau visual

13
Daftar Pustaka

The National Collaborating Centre for Chronic Conditions, 2006, Management of


hypertension in adults in primary care: partial update. London: Royal College
of Physician.
National Institute for Health and Clinical Excellence, 2006, Management of
Hypertension in adults in primary care. London: NICE
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan,
Departemen Kesehatan, 2006, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hipertensi
Pedoman Penatalaksanaan Hipertensi Kehamilan, 2010, Persatuan Obstetri dan
Ginekologi Indonesia.
The American College of Obstetricians and Gynecologists. 2013. Hypertension In
Pregnancy. America: American College of Obstetricians and Gynecologists.

14