Anda di halaman 1dari 8

MACAM-MACAM KURIKULUM (ORGANISASI KURIKULUM)

Sabtu, 29 Oktober 2011 | By LUQMAN

A.Latar Belakang
Proses pendidikan dipengaruhi oleh begitu banyak hal, salah satunya bagaimana pola atau cara
penyampaian materi yang disampaikan oleh guru kepadapara peserta didiknya. Bagaimana agar
proses pendidikan yang menyenangkan (enjoyable), efektif, efisien dan mampu mencapai tujuan
secara optimal menjadi persoalan tersendiri yang harus dipecahkan.
Organisasi kurikulum sebagai pola penyampaian materi dalam proses pembelajaran yang
disusun dan dilaksanakan oleh sluruh elemen dalam pendidikan. Dalam macam-macam organisasi
kurikulum ini kita akan memperoleh sedikitgambaran bagaimana seharusnya pola kurikulum yang
sebaiknya dilaksanakan dalam lembaga pendidikan dengan tetap mempertimbangkan minat, bakat
dan kemampuan siswa yang ada. Dengan pemilihan bentukorganisasi yang tepat akan
mempermudah proses pembelajaran dan dengan hasil yang optimal sesuai harapan.

B.Pembahasan
1.Pengertian Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan
diajarkan atau disampaikan kepada murid atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau
pengalaman belajar ingin dicapai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan
pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan
pembelajaran dicapai secara efektif.
Organisasi kurikulum merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan
bertalian erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum
turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid.
Pada prinsipnya organisasi kurikulum disusun untuk mempermudah proses pembelajaran
kepada siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan optimal.

2.Faktor-Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Organisasi Kurikulum


Dalam penyusunan organisasi kurikulum ada sejumlah faktor yang harus diperhatikan, yakni:
a. Ruang lingkup (Scope), merupakan keseluruhan materi pelajaran dan pengalaman yang harus
dipelajari siswa. Ruang lingkup bahan pelajaran sangat tergantung pada tujuan pendidikan yang
hendak dicapai.
b. Urutan bahan (Sequence), berhubungan dengan urutan penyusunan bahan pelajaran yang akan
disampaikan kepada siswa agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar. Urutan bahan meliputi
dua hal: pertama, urutan isi bahan pelajaran dan kedua, urutan pengalaman belajar yang
memerlukan pengetahuan tentang perkembangan anak dalam menghadapi pelajaran tertentu.
c. Kontinuitas, berhubungan dengan kesinambungan bahan pelajaran tiap mata pelajaran, pada tiap
jenjang sekolah dan materi pelajaran yang terdapat dalam mata pelajaran yang bersangkutan.
Kontinuitas ini dapat bersifat kuantitatif dan kualitatif
d. Keseimbangan, adalah faktor yang berhubungan dengan bagaimana semua mata pelajaran itu
mendapat perhatia yang layak dalam komposisi kurikulum yang akan diprogramkan pada siswa.
Keseimbangan dalam kurikulum dapat ditinjau dari dua segi yakni keseimbangan isi atau apa yang
dipelajari, dan keseimbangan cara atau proses belajar.
e. Integrasi atau keterpaduan, yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan dan pengalaman
yang diterima siswa mampu memberi bekal dalam menjawab tantangan hidupnya, setelah siswa
menyelesaikan program pendidikan disekolah.
3.Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum
Berkaitan dengan pola organisasi kurikulum, terdapat sejumlah pendapat dan variasi
pengkategorian sistem organisasi kurikulum, maka akan dibahas organisasi kurikulum berdasar
dua kategori. Berdasarkan mata pelajaran dan terintegrasi. Adapun pembagiannya sebagai berikut
:
a. Organisasi kurikulum berdasrkan mata pelajaran (subject curriculum), terbagi atas :
1) Mata pelajaran terpisah (separated curriculum)
Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran
yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas pemisah antara mata pelajaran satu
dengan yang lain, juga antara kelas yang satu dengan kelas yang lain. Beberapa hal positif dari
separated curriculum ini adalah : Bahan pelajaran disajikan secara sistematis dan logis
Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya terdahulu
Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan. Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk,
didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan
waktu yang ada.
Sedangkan beberapa kritik terhadap kurikulum ini antara lain: Mata pelajaran terlepas-lepas satu
sama lain. Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut psikologis, kurikulum demikian mengandung kelemahan: banyak terjadi verbalitas dan
menghafal serta makna tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik. Kurikulum ini cenderung
statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman
2) Mata pelajaran gabungan (corelated curriculum)
Yaitu kurikulum yang menekankan perlunya hubungan diantara dua atau lebih mata
pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran. Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi
dapat diajarkan untuk saling memperkuat.Ada tiga jenis korelasi yang sifatnya bergantung dari
jenis mata pelajaran. Korelasi faktual, misalnya sejarah dan kesusastraan. Fakta-fakta sejarah
disajikan melalui penulisan karangan sehingga menambah kemungkinan menikmati bacaannya
oleh siswa. Korelasi deskriptif, korelasi ini dapat dilihat pada penggunaan generalisasi yang
berlaku untuk dua atau lebih mata pelajaran. Misal psikologi dapat berkorelasi dengan sejarah atau
Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam psikologi untuk
menerangkan kejadian-kejadian sosial. Korelasi normatif, hampir sama denagan korelasi
deskriptif, perbedaannya terletak pada prinsipnya yang bersifat moral sosial. Sejarah dan
kesusastraan dapat dikorelasikan berdasarkan prinsip-prinsip moral sosial dan etika. Beberapa
kelebihan kurikulum ini adalah: Dengan korelasi, pengetahuan murid lebih integral, tidak terlepas-
lepas (berpadu). Dengan melihat hubungan erat antara mata pelajaran satu dengan yang lain, minat
murid bertambah. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas dan mendalam karena
memandang dari berbagai sudut. Dengan korelasi maka yang diutamakan adalah pengertaian dan
prinsip-prinsip bukan pengetahuan akan fakta, dengan begitu lebih memungkinkan penggunaan
pengetahuan secara fungsional bagi murid-murid.
Berikut beberapa kelemahan dari kurikukum mata pelajaran gabungan ini adalah : Sulit untuk
menghubungkan dengan masalah-masalah yang hangat dalam kehidupan sehari-hari, sebab
dasarnya subject centered. Brood fields tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan
mendalam untuk sesuatu mata pelajaran sehingga hal ini dipandang kurang cukup untuk bekal
mengikuti pelajaran di perguruan tinggi.
3) Kurikulum terpadu (integrated curriculum)
Dalam kurikulum terpadu atau terintergrasi, batas-batas diantara mata pelajaran sudah
tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah
atau unit. Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini antara lain : Berdasarkan filsafat pendidikan
demokrasi, berdasarkan psikologi belajar gestalt dan organismik, berdasarkan landasan sosiologis
dan sosiokultural, berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan
siswa.
Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi
yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan mata pelajaran baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna
pemecahan masalah
Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik pengalaman (experience) atau
pelajaran (subject matter unit). Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Guru selaku
pembimbing.
Beberpa manfaat kurikulum terpadu ini antara lain:
a) Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas
satu sama lain.
b) Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan
kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.
c) Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
d) Aktifitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berpikir sendiri dan berkerja sendiri, atau
kerjasama dengan kelompok.
e) Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.
Keberatan-keberatan yang dilontarkan pada pelaksanaan kurikulum terpadu ini adalah:
a) Guru belum siap untuk melaksanakan kurikulum ini
b) Kurikulum ini tidak mempunyai organisasi yang sitematis
c) Kurikulum ini memberatkan guru
d) Kurikulum ini tidak memungkinkan ujian umum, sebab tidak ada unformitas di sekolah-sekolah
satu sama lain
e) Anak-anak diragukan untuk bisa diajak menentukan kurikulum
f) Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum ini.

Adapun dalam bentuk kurikulum terpadu ini terbagi lagi, meliputi :


a) Kurikulum inti (core curriculum)
Kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan integrasi, melayani kebutuhan siswa dan
meningkatkan keaktifan belajar dan hubungan antara kehidupan dan belajar.
Ciri yang membedakan kurikulum inti, yaitu: Kurikulum inti menekankan kepada nilai-nilai
sosial, unsur universalitas dalam suatu kebudayaan memberikan stabilitas dan kesatuan pada
masyarakat.Struktur kurikulum inti ditentukan oleh problem sosial. Karakteristik yang dapat dikaji
dalam kurikulum ini adalah : Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue), selalu
berkaitan dan direncanakan secara terus-menerus. Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan
rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan. Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar
masalah atau problema yang dihadapi secara aktual. Isi kurikulum cenderung mengambil atau
mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun sosial. Isi kurikulum ini difokuskan berlaku
untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat
problema, pribadi, sosial dan pengalam pribadi.
Manfaat kurikulum inti adalah: Segala sesuatu yang dipelajari dalam unit bertalian erat
Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar. Kurikulum ini
memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat. Kurikulum ini sesuai
dengan paham demokrasi. Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat.

b) Kurikulum yang berlandaskan pada proses sosial dan fungsi kehidupan (social functions and
persistens situations)
Kurikulum social functions didasarkan atas kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat, dalam
social functions dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai
topik pembelajaran. Sebagai modifikasi dari social functions adalah persistent life situations yng
berkarakteristik yaitu situasi yang diangkat senantiasa dihadapi manusia dalam hidupnya, masal
lalu, saat ini dan masa yang akan datang.
Kurikulum ini dikenal juga dengan sebutan life curruculum, yang bertujuan memberikan
pengalaman belajar yang berarti bagi anak sesuai denganapa yang dibutuhkansehari-hari dalam
kehidupan.
c) Kurikulum yang berpusat pada kegiatan atau pengalaman (experience and activity curriculum)
Kurikulum ini dikenal juga dengan sebutan activity curriculum. Mengutamakan kegiatan-
kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang
terintegritas dengan lingkungan maupun potensi siswa. Kurikulum ini berupaya mengatasi
kelemahan pada subject curriculum, yakni anak lebih banyak menerima (passive), juga bahan
pelajaran merupakan hasil pengalaman masa lampau. Rasional penggunaan bentuk kurikulum ini
adalah: Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami. Anak dapat belajar dengan baik bila ia
dihadapkan dengan masalah aktual, sehingga dapat menemukan kebutuhan reel atauminatnya.
Belajar merupakan transaksi aktif.
Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai
tujuan dan memenuhi kebutuhan pribadinya.
4.Prosedur Pengorganisasian Kurikulum
Dalam pemilihandan reorganisasi isi kurikulum diperlukan suatu prosedur atau tata kerja
tertentu, yang meliputi:
a. Prosedur employee. Guru memilih dan mengorganisasi isi kurikulum tersebut. Guru sangat
berperan penting
b. Prosedur Buku Pelajaran (the textbook procedure). Pemilihan isi kurikulum didasarkan pada
materi yang terkandung dalam sejumlah buku pelajaran yang telah dipilih oleh panitia khusus.
c. Prosedur survei pendapat (the survey of oppinions procedure). Pemilihan pengorganisasian atau
reorganisasiisi kurikulum dengan mengadakan survei atau penelitian terhadap pendapat berbagai
pihak.
d. Prosedur studi kesalahan (thestudy of errors procedure). Mengadakan analisis terhadap kesalahan,
kekeliruan dan kelemahan dari pengalaman yang baru.
e. Prosedur mempelajari kurikulum lainnya (the study of other curriculum procedure). Mempelajari
kurikulum sekolah lain untuk diterapkan dan menentukan isi kurikulum yang sesuai dengan tujuan
sekolah sendiri yang ingin dicapai. Tidak harus sama, melainkan perlu adanya evaluasi dan
modifikasi.
f. Prosedur analisis kegiatan orang dewasa (the analysis of adult activities procedure). Mengadakan
studi kegiatan yang dilakukan yang berguna untuk dipelajari oleh siswa, kemudian diidentifikasi
kegiatan tersebut sehingga dapat disusun suatu program pengalaman kurikuler untuk diajarkan
disekolah.
Beberapa contoh analisi tersebut yaitu :
1) Kegiatan bahasa dan interkominikasi sosial
2) Kegiatan kesehatan
3) Kegiatan sebagai warga negara
4) Kegiatan sosial umum
5) Kegiatan pemanfaatan waktu dan rekreasi
6) Kegiatan dalam rangka kesehatan mental
7) Kegiatan keagamaan
8) Kegiatan Sebagai orang tua
9) Kegiatan nonvocational
g. Prosedur fungsi-fungsi sosial (the social functions procedure). Berbagai macam fungsi sosial yang
ditemukan melalui survei, studi literatur atau riset, kemudian diklasifikasikan menjadi area of
living. Area of living meliputi citizenship, home living, leisure life, vocational efficiency,
physical and mental health dan continued learning. Sedangkan menurut Stratemenyer yaitu, home,
comunity, leisure time, work dan spiritual activities.
h. Prosedur minat dan kebutuhan remaja (the youth interest and needs procedure). Dari prosedur
sosial diatas kemudian diklasifikaskan menjadi persistent life problems, adapun urutannya
didasarkan pada latar belakang, kematangan, minat dan kebutuhan para siswa secara kronologis
dan logis dan juga sebagai persiapan menempuh kehidupan dewasa. Jadi prosedur ini tidak bersifat
individualistik, melainkan interaksi antara individu anak (remaja) dengan lingkungannya.

Anda mungkin juga menyukai