Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Lembaga sosial merupakan sistem nilai dan norma-norma sosial serta bentuk atau organ
sosial. Menurut Soerjono Soekanto lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tingkatan
yang berkisar pada suatu kebutuhan pokokdalam kehidupan masyarakat. Lembaga sosial
berkaitan dengan seperangkat norma yang saling berkaitan, seperangkat norma yang dapat
dibentuk, seperangkat norma yang mengatur hubungan antar warga. Salah satu jenis lembaga
sosial adalah lembaga politik.
Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi, kebijakan. Kata
"politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang
yang menekuni hal politik. Politik sendiri berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa
Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani.
Jika kita membahas dunia perpolitikan, memang tak ada habisnya, karena politik sendiri
adalah salah satu cabang ilmu sosial yang sangat luas pembahasannya. Politik digunakan oleh
seseorang untuk menguasai dan menjalankan roda pemerintahan suatu wilayah yang
dikuasainya, umumnya negara. Dengan politik sang penguasa bisa mempengaruhi masyarakat,
menguasai suatu wilayah serta menjalankan roda pemerintahannya.
Dalam menjalankan roda politik diperlukan suatu badan yang disebut dengan lembaga
politik. Fungsi lembaga politik sendiri adalah menjalankan roda perpolitikan dengan
menjalankan tugasnya semaksimal mungkin agar roda perpolitikkan dapat berjalan dengan
lancar.
Dalam makalah yang telah kami susun ini, akan dibahas tentang lembaga politik beserta
seluk beluknya dan apa yang bersangkutan dengan lembaga politik serta. Serta akan dibahas pula
tentang stratifikasinya.

1
B. Rumusan Masalah
2.1 Apa yang dimaksud dengan Kelembagaan Masyarakat?
2.2 Apa yang dimaksud dengan Lembaga - Lembaga Politik?
2.3. Apa yang dimaksud dengan Stratifikasi?
C. Tujuan
3.1 Untuk mengetahui pengertian Kelembagaan Masyarakat
3.2 Untuk mengetahui pengertian Lembaga-Lembaga Politik
3.3 Untuk Mengetahui pengertian Stratifikasi

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

Lembaga kemasyarakatan, yakni lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan
kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat. Lembaga
kemasyarakatan ditetapkan dengan Peraturan Desa. Salah satu fungsi lembaga kemasyarakatan
adalah sebagai penampungan dan penyaluran aspirasi masyarakat dalam pembangunan.
Hubungan kerja antara lembaga kemasyarakatan dengan Pemerintahan Desa bersifat kemitraan,
konsultatif dan koordinatif.

TUJUAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

Adapun tujuan dari lembaga kemasyarakatan yaitu sebagai berikut :

a. Memberikan pedoman kepada anggota masayarakat, bagaimana mereka harus bertingkah


laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat , yang
terutama menyangkut kebutuhan pokok.
b. Menjaga pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial,
artinya sistem pengawasan dari masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.

c. Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.

PROSES PERTAMBAHAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

Norma-norma Masyarakat dan Pengendalian Sosial bertujuan supaya hubungan antara


manusia didalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana diharapkan, maka diciptakan norma-
norma, yang mempunyai kekuatan mengikat berbeda-beda.

Untuk membedakan kekuatan mengikat norma-norma tersebut dikenal adanya empat pengertian :

a. Cara (usage), menunjuk pada suatu bentuk perbuatan.


b. Kebiasaan (folksway) adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama.

c. Tata kelakuan (mores), merupakan kebiasaan yang dianggap sebagai cara berperilaku dan
diterima norma-norma pengatur.

d. Adat istiadat (customs) adalah tata kelakuan yang kekal serta kuat integrasinya dengan
pola-pola perilaku masyarakat. Bila adat istiadat dilanggar, maka sangsinya berwujud
suatu penderitaan bagi pelanggarnya.

3
SOSIAL CONTROL

Sosial Control (Pengendalian Sosial) adalah sistem pengendalian yang merupakan segala
sistem maupun proses yang dijalankan oleh masyarakat selalu disesuaikan dengan nilai-nilai dan
kaidah-kaidah yang berlaku dalam mayarakat. Pengendalian sosial dapat bersifat preventif atau
positif dan represif atau negatif.

Alat-alat pengendalian sosial dapat digolongkan kedalam paling sedikit 5 golongan, yaitu :

a. Mempertebal keyakinan anggota masyarakat akan kebaikan norma-norma


kemsyarakatan.
b. Memberikan penghargaan kepada anggota masyarakat yang taat pada norma-noram
kemasyarakatan.

c. Mengembangkan rasa malu dalam diri atau jiwa anggota masyarakat bila mereka
menyimpang atau menyeleweng dari norma-norma kemsyarakatan dan nilai-nilai yang
berlaku.

d. Menimbulkan rasa takut.

e. Menciptakan sistem hukum, yaitu sistem tata tertib dengan sangsi yang tegas bagi para
pelanggar.

CIRI-CIRI UMUM DAN TIPE LEMBAGA KEMASYARAKATAN

Ciri-ciri umum lembaga kemasyarakatan

1) Suatu lembaga kemasyarakatan adalah organisasi pola-pola pemikiran dan pola-pola


perilaku yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya. Lembaga
kemasyarakatan terdiri dari adat-istiadat, tata-kelakuan, kebiasaan serta unsur-unsur
kebudayaan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung dalam satu unit yang
fungsional.
2) Suatu tingkat kekelan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga kemasyarakatan.
Sistem-sistem kepercayaan dan aneka macam tindakan, baru akan menjadi bagian
lembaga kemasyarakatan setelah melewati waktu yang relatif lama.

3) Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan tertentu.

4) Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk


mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti bangunan, peralatan, sebagainya.
Bentuk serta penggunaan alat-alat tersebut biasanya berlainan antara satu masyarakat
dengan masyarakat lain.

4
5) Lambang-lambang biasanya merupakan ciri khas dari lembaga kemasyarakatan.
Lambang-lambang tersebut secara simbolis menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga
yang bersangkutan.

6) Suatu Lembaga kemasyarakatan mempunyai tradisi tertulis atau yang tidak tertulis, yang
merumuskan tujuannya, tata tertib yang berlaku dan lain-lain.

Tipe-tipe lembaga kemasyarakatan

1) Dari sudut perkembangannya :

a. Crescive Institution

b. Enacted Institution

2) Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat :

a. Basic Institution

b. Subsidiary Institution

3) Dari sudut penerimaan masyarakat :

a. Approved-Socially Sanctioned Institution

b. Unsanctioned Institution

4) Dari sudut penyebarannya :

a. General Institution

b. Restricted Institution

5) Dari sudut fungsinya :

a. Operatif Institution

b. Restricted Regulative

2.2 Pengertian Lembaga Politik


Lembaga merupakan seperangkat norma, aturan perilaku yang dipakai menjadi
kesepakatan bersama. Sedangkan politik adalah kegiatan dalam suatu sistem politik atau Negara
yang menyangkut proses penentuan tujuan dari sistem tersebut dan bagaimana melaksanakan
5
tujuannya. Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan
tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.
Jadi kesimpulannya lembaga politik merupakan seperangkat norma yang di jadikan
kesepakatan bersama yang juga menyangkut dalam bidang politik dan juga mengkhususkan diri
pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang. Tak lepas juga lembaga politik merupakan badan
yang mengatur untuk memilih pemimpin yang berwibawa.
Lembaga politik akan berkaitan dengan kehidupan politik. Kehidupan politik menyangkut
tujuan dari keseluruhan masyarakat agar tercapai suatu keteraturan dan tertib kehidupan. Adapun
yang diatur dan ditertibkan dalam masyarakat adalah kepntingan-kepentingan dari para warga
masyarakat itu sendiri. Sehingga tidak terjadi benturan antara kepentingan satu orang atau
kelompok orang dengan kepentingan orang atau kelompok orang lain. Untuk dapat mengatur
kepentingan ini diperlukan suatu kebijaksanaan tertentu.

PENGERTIAN LEMBAGA POLITIK MENURUT PARA AHLI


a. Kornblum: Lembaga politik adalah seperangkat norma dan status yang mengkhususkan diri
pada pelaksanaan kekuasaan dan wewenang.
b. Surbakti: Lembaga politik adalah pranata yang memegang monopoloi penggunaan paksaan
fisik dalam suatu wilayah tertentu.
c. Kamanto Soenarto: Lembaga politik adalah suatu badan yang mengkhususkan diri pada
pelaksanaan kekuasaan dan wewenang. Oleh karena itu, lembaga politik meliputi eksekutif,
legislatif, yudikatif, keamanan dan pertahanan nasional, serta partai politik.
d. J.W.Schorel: Lembaga politik merupakan badan yang mengatur dan memelihara tata tertib
dan untuk memilih pemimpin yang berwibawaan dan karismatik.

FUNGSI UMUM LEMBAGA POLITIK


Membentuk norma-norma kenegaraan berupa undang-undang yang disusun oleh legeslatif.
Melaksanakan norma yang telah disepakati bersama.
Memberikan pelayanan kepada masyarakat baik dibidang pendidikan, kesehatan,
kesejahterahan,keamanan dan lain sebagainya.
Mempertahankan kedaulatan suatu negara dari serangan bangsa lain.
Menumbuhkan kesiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan bahaya.
Menjalankan diplomasi untuk berhubungan dengan bangsa lain, dan lain sebagainya.

FUNGSI LATEN DAN FUNGSI MANIFES LEMBAGA POLITIK


Fungsi laten/tersembunyi: Menciptakan stratifikasi politik, parpol sebagai saluran
mobilitas, menimbulkan kesenjangan sosial, terjadinya perebutan kekuasaan di lingkungan
politik, terjadinya bentuk-bentuk penyalahgunaan wewenang, menimbulkan pelapisan sosial
dalam masyarakat.
Fungsi manifes/nyata: Memelihara ketertiban wilayah, menjaga keamanan, melaksanakan
kesejahteraan umum, melembagakan norma melalui undang-undang yang disampaikan badan

6
legislatif, melaksanakan undang-undang yang telah disetujui, menyelesaikan konflik yang terjadi
antar anggota.

PROSES PEMBENTUKAN LEMBAGA POLITIK


a. Mengadakan kegiatan dan proyek yang dapat menjawab keinginan warga
b. Masyarakat. Misalnya, pembangunan bendungan, irigasi, pabrik, dll
c. Menekankan adanya persamaan nilai, norma atau sejarah melalui
d. pengajaran di sekolah ataupun media massa
e. Pembentukan tentara nasional dari suatu Negara merdeka dengan
partisipasi semua golongan yang ada dalam masyarakat
f. Mengadakan upacara pada kesempatan tertentu.
Lembaga politik dalam suatu negara yang menganut pola pemisahan kekuasaan biasanya
terdiri atas legislatif (parlemen, berwenang membuat undang-undang), eksekutif (pemerintah,
melaksanakan undang-undang), dan yudikatif (peradilan, berfungsi mengawasi pelaksanaan
undang-undang).
Lembaga politik juga berkaitan dengan masalah-masalah bentuk negara, bentuk
pemerintahan, dan bentuk kekuasaan.
1. Bentuk negara
Kesatuan : Memiliki ciri-ciri antara lain hanya ada satu pemerintahan, satu parlemen, satu
lembaga peradilan, satu konstitusi. Contoh : Indonesia
Federasi atau serikat : Memiliki ciri-ciri antara lain terdapat negara di dalam negara atau
negara bagian yang memiliki wewenang membuat undang-undang untuk wilayahnya, dan tiap
negara bagian memiliki peradilan sendiri. Contoh : Amerika Serikat
2. Bentuk pemerintahan
Republik : Dipimpin oleh seorang presiden yang memegang kekuasaan eksekutif, legislatif
dipimpin oleh parlemen, yudikatif dipimpin oleh lembaga peradilan. Bentuk republik yaitu
republik monarki dan parlementer, beda antara keduanya kekuasaan yang dominan antara
legislatif atau konstitutif.
Monarki : Dipimpin oleh seorang raja atau ratu yang dipilih berdasarkan keturunan. Bentuk
monarki yaitu monarki absolut ( Raja memiliki kekuasaan mutlak ) dan monarki parlementer
( kekuasaan di pegang oleh parlemen )
Kekaisaran : Dipimpin kepala negara yang disebut kaisar yang diperoleh secara turun-temurun.
Contoh : Jepang
3. Bentuk kekuasaan
Kekuasaan diperoleh melalui cara :
Kewibawaan lahiriah
Tradisi atau turun-temurun
Pemberian secara formal
Hilangnya pola ketaatan masyarakat pada kekuasaan karena :
Masyarakat menganggap bahwa mereka yang berkuasa hanyalah manusia biasa
Masyarakat menganggap mereka tidak diikutkan dalam setiap keputusan
7
Krisis kewibawaan yang terjadi karena pemerintah yang tidak mampu mengubah dan
menyesuaikan dengan kekuasaan yang demokrasi bukan lagi feodal , sehingga perlu mengatasi
hal tersebut adalah :
Mengubah prinsip sentalisasi kekuasaan kepada desentralisasi
Memiliki prinsip-prinsip yang menghindari disintegrasi
Koordinasi terpadu dari pimpinan yang berwenang
Tidak mengulang-ulang cara lama

CIRI LEMBAGA POLITIK


a. Terdapat satu kelompok yang memiliki wilayah dan telah menempati wilayah tersebut dalam
waktu yang lama, selain itu mereka juga telah memiliki norma dan nilai sosial yang telah
dipenuhi bersama
b. Adanya perkumpulan politik yang dibentuk dengan sistem tertentu misalnya kerajaan atau
republik yang biasanya disebut dengan pemerintah, pemerintah ini berhak melakukan hak dan
kewajiban politiknya untuk kepentingan umum
sebagian dari individu diwilayah tersebut diberikan wewenang untuk melakukan tugas-tugas
pemerintahan , baik dengan anjuran maupun dengan paksaan
c. Hak dan kewajiban yang dimliki suatu pemerintahan hanya berlaku dalam batas wilayah
mereka saja, dan tidak berlaku di wilayah atau negara lain.

PERAN SERTA FUNGSI DARI LEMBAGA POLITIK


Menjaga keamanan dan integritas masyarakat.
Melaksanakan kesejahteraan umum.
Memelihara ketertiban di dalam wilayahnya, berkaitan dengan kehidupan politik.
Sebagai saluran bagi anggota masyarakat untuk melakukan mobilitas sosial ke atas (social
climbing).
Sebagai penentu kepemilikan salah satu kriteria dalam stratifikasi sosial, yakni kekuasaan.
Kekuasaan dan Otoritas
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi
tingkah laku seseorang atau kelompok lain sedemikian rupa, sehingga tingkah laku itu menjadi
sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Sedangkan
otoritas sendiri adalah istilah yang sering digunakan dalam bidang pemerintahan yang artinya
klaim legitimasi atau pembenaran hak untuk melakukan untuk menjalankan kekuasaan.Otoritas
sering disamakan dengan istilah 'kekuasaan', padahal sebenarnya tidak sama, kekuasaan lebih
mengacu pada kemampuan untuk memerintah seseorang yang orang lain tidak memiliki
kemampuan itu

2.3 PENGERTIAN STRATIFIKASI SOSIAL


Dalam ilmu sosiologi pelapisan social dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah stratifikasi
sosial. Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin, yakni stratum yang berarti tingkatan
dan socius yang berarti teman atau masyarakat. Secara harfiah stratifikasi berarti tingkatan yang
8
ada dalam masyarakat atau pelapisan social dalam masyarakat. Berikut ini pendapat para ahli
mengenai pengertian pelapisan sosial.

Pitirim A. Sorokin (1959), Bahwa social stratification is permanent characteristic of any


organized social group, yang artinya stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada
setiap kelompok sosial yang teratur. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa stratifikasi
sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara
bertingkat.

Paul B. Horton dan Chester L. hunt, stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status
yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Robert M.Z. Lawang, stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk
dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi
kekuasaan, privilese dan prestise.

Bruce J. Cohen, stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai
dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.

Astried S. Susanto, stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antar manusia
secara teratur dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang
menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun horizontal dalam
masyarakat.

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan
masyarakat ke dalam kelas-kelas social secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya
tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi ke paling rendah.

Stratifikasi sosial (pelapisan sosial) sudah mulai dikenal sejak manusia menjalin kehidupan
bersama. Terbentuknya pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan
antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun, baik secara perorangan maupun
kelompok. Akan tetapi, apapun dan bagaimanapun wujudnya kehidupan bersama membutuhkan
penataan atau organisasi.

DASAR STRATIFIKASI SOSIAL.

Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan dianggap sebagai orang yang
menduduki pelapisan atas. Sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama
sekali tidak memiliki sesuatu yang dapat dihargai tersebut, mereka akan dianggap oleh
masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisan bawah atau kedudukan rendah.

Adapun dasar atau ukuran yang bisa dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke
dalam suatu pelapisan sosial adalah sebagai berikut.

9
a. Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak akan menempati
pelapisan paling atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil
pribadi, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, dan kebiasaan atau cara berbelanja.

b. Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar
akan menempati pelapisan yang tertinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.

c. Ukuran kehormatan, orang yang dihormati dan disegani akan mendapatkan tempat pelapisan
yang tinggi dan ini biasanya terdapat pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orang
tua yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya.

d. Ukuran ilmu pengetahuan, digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan
pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Keempat ukuran diatas bukanlah bersifat limitif, artinya ada ukuran lain yang dapat
dipergunakan dalam kriteria penggolongan pelapisan sosial dalam masyarakat, namun ukuran di
ataslah yang paling banyak digunakan sebagai dasar pembentuk pelapisan sosial.

UNSUR-UNSUR STRATIFIKASI SOSIAL

Berbicara mengenai stratifikasi sosial tidak akan lepas dari unsur-unsur yang terdapat
didalamnya. Adapun unsur-unsur stratifikasi sosial adalah sebagai berikut.

1. Status atau Kedudukan

Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu
kelompok sosial. Umumnya terdapat tiga macam cara memperoleh status/kedudukan dalam
masyarakat, yaitu sebagai berikut.

a. Ascribed status, merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.


Misalnya, kedudukan anak bangsawan diperoleh karena ia dilahirkan dari orang tua yang yang
berdarah bangsawan.

b) Achieved status, merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-
usaha yang disengaja. Misalnya, setiap orang bisa menjadi dokter, asal dia memenuhi
persyaratan untuk menjadi dokter.

c) Assigned status, merupakan status atau kedudukan yang diberikan. Misalnya, gelar
kehormatan yang diberikan kepada seseorang karena dianggap berjasa.

2. Peranan

Dalam setiap peranan akan terdapat suatu perangkat peran (role set) yang menunjukkan bahwa
dalam suatu status tidak hanya mempunyai satu peran tunggal, tetapi hanya sejumlah peran yang

10
saling berhubungan. Misalnya, seorang anak juga seorang mahasiswa dan dia seorang teman, dan
masih banyak perangkat peran lainnya yang ia sandang.

Selan terdapat perangkat peran terdapat pula perilaku peran, yaitu perilaku yang sesungguhnya
dari orang yang melalukan suatu peranan. Perilaku peran terkadang berbeda dari perilaku yang
diharapkan. Misalnya, masyarakat mengarapkan seorang dokter bersikap baik dan ramah saat
memeriksa pasien, namun adapula dokter bersikap tidak demikian. Menurut Soerjono
Soekanto dalam peranan setidaknya mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut.

a) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam
masyarakat.

b) Peran sebagai konsep mengenai apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat
sebagai organisasi.

c) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial
masyarakat.

SIFAT STRATIFIKASI SOSIAL

Dilihat dari sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu bersifat
tertutup dan bersifat terbuka.

a. Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification), membatasi kemungkinan seseorang


untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.
Dalam sistem pelapisan yang demikian satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota atau
warga suatu pelapisan tertentu hanyalah melalui kelahiran. Sebagai contoh pelapisan masyarakat
berkasta, pada masyarakat dengan sistem feodal atau pada masyarakat yang masih menggunakan
kriteria ras (penggolongan manusia atas dasar ciri-ciri tubuh yang yang nampak dari luar)
sebagai dasar pelapisan sosialnya.

b. Stratifikasi Sosial Terbuka

Pada sistem stratifikasi sosial terbuka (open social stratification), setiap anggota masyarakat
mempunyai kesempatan untuk naik ke pelapisan yang lebih tinggi kerena kemampuan dan
kecakapannya sendiri atau turun ke pelapisan yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap
dan tidak beruntung. Pada umumnya jenis pelapisan sosial yang terbuka lebih banyak
memberikan rangsangan untuk maju dan berkembang kepada setiap anggota masyarakat. Contoh
pelapisan yang telah mengalami gelombang modernisasi.

c. Stratifikasi Sosial Campuran

11
Dalam kenyataan sehari-hari pelapis sosial dalam masyarakat tidak selalu bersifat tertutup dan
terbuka. Melainkan juga bersifat campuran antara keduanya, artinya ada kemungkinan di dalam
suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapis sosial. Misalnya, dalam
bidang ekonomi menggunakan pelapis sosial yang bersifat terbuka, sedangkan pada bidang lain
seperti penggunaan kasta bersifat tertutup. Sebagai contoh pada sistem kehidupan masyarakat
Bali, walaupun secara budaya masyarakatnya terbagi dalam empat kasta yakni Brahmana, Satria,
Waisya dan Sudra (Koentjaraningrat 1992 : 1996), tetapi secara ekonomi sistem pelapisan sosial
lebih bersifat terbuka karena setiap orang tanpa memandang kelas atau kastanya dapat mencapai
kedudukan yang lebih tinggi berdasarkan kemampuan dan kecakapannya masing-masing.
Pengusaha sukses dan terpandang dalam masyarakat bila ia memiliki kemampuan berdagang
yang baik.

KELAS DAN GOLONGAN DALAM STRATIFIKASI SOSIAL

Stratifikasi sosial erat kaitannya dengan pembagian kelas dan golongan. Paul B. Horton dan
Chaster L. Hunt mendefinisikan kelas sosial sebagai suatu lapisan orang-orang yang
berkedudukan sama dalam suatu status sosial.

Pembagian kelas dan golongan umumnya berdasarkan kriteria ekonomi, sosial ataupun politik.

1. Kriteria Ekonomi
Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan
materi yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan dengan kata lain, pendapatan,
kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa stratifikasi sosial
atau kelas ekonomi. Dilihat dari kriteria ekonomi secara garis besar terdapat tiga kelas sosial,
yaitu :

a) Kelas atas (upper class)

b) Kelas menengah (middle class)

c) Kelas bawah (lower class)

Adanya kelas atas, menengah, dan bawah itu dikarenakan dalam masyarakat terdapat
ketidakseimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang
kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul oleh warga masyarakat. Golongan yang
mendapatkan pembagian lebih besar kemudian akan mendapatkan kedudukan pada pelapisan
yang lebih tinggi dan golongan yang mendapatkan pembagian kecil kan mendapatkan kedudukan
yang lebih rendah. Stratifikasi ini digambarkan berbentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan
jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas,
semakin sedikit warga masyarakat yang termasuk didalamnya. Sebaliknya, semakin rendah kelas
semakin banyak warga masyarakat yang dapat digolongkan di dalamnya. Hal itu tidak hanya

12
berlaku pada stratifikasi atas dasar kriteria ekonomi saja, melainkan juga pada bentuk-bentuk
stratifikasi yang lain, seperti kriteria sosial dan politik.

2. Kriteria Sosial

Dengan memahami stratifikasi masyarakat berdasarkan kriteria sosial, orang akan mudah
memahami peristiwa atau gejala-gejala yang terjadi di dalam masyarakat Menurut pelapisan
yang berdasarkan kriteria sosial, masyarakat akan terdiri atas beberapa pelapisan atau strata yang
disebut dengan kelas sosial, kasta atau stand. Istilah kelas sosial antara lain digunakan oleh Max
Weber, ia menggunakan istilah yang sama untuk pelapisan atas dasar kriteria ekonomi maupun
sosial. Adapun istilah kasta dipakai untuk menyebut setiap pelapisan dalam masyarakat berkasta,
misalnya pada pelapisan masyarakat Hindu Bali. Masyarakat Hindu Bali terbagi menjadi empat
kasta yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Kasta Brahmana, Ksatria dan Waisya
disebut triwangsa, sedangkan kasta Sudra disebut jaba. Seseorang termasuk dalam kasta yang
mana biasanya dapat dilihat dari gelar yang digunakan di awal namanya, antara lain Ida Bagus
dan Ida Ayu untuk gelar Brahmana : Cokorda, Anak Agung, Dewa, Ngakan, untuk
gelar Ksatria : bagus, I Gusti, dan Gusti untuk Waisya : Pande, Kbon, Pasek untuk kasta Sudra.
Gelar-gelar tersebut diwariskan secara patrilinial (menurut garis keturunan ayah).

3. Kriteria Politik

Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga
masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial,
kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonomi dan kedudukan sosial. Kekuasaan merupakan
kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang
kekuasaan. Apa perbedaan antara kekuasaan dan wewenang? Setiap kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan (power), sedangkan wewenang adalah
kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai dukungan atau
mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga wewenang merupakan otoritas atau legalized
power. Dengan kata lain, wewenang atau otoritas adalah hak untuk memengaruhi karena
didukung oleh adanya norma atau peraturan yang menentukan keteraturan dalam masyarakat.
Berdasarkan pengertian tersebut, wewenang harus didukung oleh kekuasaan, sebab jika tidak
wewenang tidak dapat berjalan.

Menurut Mac Iver, ada tiga pola umum sistem stratifikasi kekuasaan atau piramida kekuasaan,
yaitu tipe kasta, olegarkhi, dan demokratis.

a) Tipe Kasta

Tipe kasta memiliki system stratifikasi kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku.
Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta yang hampir tidak dijumpai
dalam garis vertikal. Garis pemisah antara masing-masing pelapisan hampir tidak mungkin
ditembus. Pada puncak piramida kekuasaan duduk penguasa tertinggi, misalnya raja atau

13
maharaja, dengan lingkungannya yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para
pendeta. Pelapisan kedua huni oleh para petani dan buruh tani, dan pelapisan terendah terdiri atas
para budak.

b) Tipe Oligarkhi

Tipe oligarkhi memiliki tipe stratifikasi kekuasaan yang menggambarkan garis pemisah yang
sangat tegas diantara strata. Akan tetapi, perbedaan antara strata satu dengan strata lain tidak
begitu mencolok. Walaupun kedudukan para warga masyarakat masih banyak didasarkan kepada
aspek kelahiran (ascribed starus), akan tetapi individu masih diberikan kesempatan untuk naik ke
strata yang lebih atas. Gambaran tipe tersebut adalah sebagai berikut, Kelas menengah
mempunyai warga paling banyak , seperti industri, perdagangan dan keuangan yang memegang
peranan lebih penting. Ada bermacam-macam cara warga dari strata bawah naik ke strata yang
lebih atas dan juga ada kesempatan bagi warga kelas menengah untuk menjadi penguasa. Tipe
piramida ini dijumpai pada masyarakat feodal yang telah berkembang. Suatu variasi dari tipe ini
adalah stratifikasi yang terdapat pada negara yang berdasarkan pada fasisme atau juga totaliter.
Hanya bedanya untuk yang disebut terakhir, kekuasaan berada ditangan partai politik.

c) Tipe Demokratis

Tipe demokratis adalah tipe ketiga yang tampak adanya garis pemisah antarlapisan yang sifatnya
mobil (bergerak). Faktor kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang, yang terpenting
adalah kemampuannya dan kadang-kadang faktor keberuntungan. Stratifikasi sosial berdasarkan
kriteria kekuasaan sebenarnya tidak selalu digambarkan dengan hierarki atas-bawah, tetapi dapat
pula digambarkan sebagai gejala melingkar menyerupai lingkaran kambium yang terdiri atas
lingkaran dalam, lingkaran tengah dan lingkaran luar.Lingkaran dalam ditempati oleh mereka
yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar daripada mereka yang menempati lingkaran tengah
atau lingkaran luar. Perbedaan lingkaran dalam dan lingkaran di luarnya bukan berarti saling
terpisah satu sama lainnya, tetapi terdapat saling hubungan yang dinyatakan dengan adanya garis
yang tidak terputuskan. Contoh: Stratifikasi kekuasaan di lingkungan keraton semua tata nilai
yang berlaku didalamnya dapat digambarkan dengan lingkaran kambium ini. Raja merupakan
tokoh sentral yang penuh dengan kekuasaan dan privilese (hak-hak istimewa). Kekuasaan dan
privilese yang lebih rendah dari yang ada pada raja adalah yang dimiliki oleh para anggota
keluarga raja. Semakin jauh dari lingkaran keluarga raja, maka semakin berkurang kekuasaan,
privilese, maupun prestise (kehormatan) yang dimiliki oleh seseorang.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Politik adalah suatu alat yang digunakan dalam suatu pemerintahan. Tanpa adanya
politik, suatu roda pemerintahan tidak akan pernah bisa dijalankan. Tetapi politik butuh suatu
bentuk badan untuk mewadahinya, maka di bentuklah lembaga politik dengan fungsinya masing-
masing.
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok manusia untuk mempengaruhi
tingkah laku seseorang atau kelompok lain agar tingkah laku itu menjadi sesuai dengan
keinginan dan tujuan dari orang yang mempunyai kekuasaan itu. Sedangkan otoritas sendiri
adalah istilah yang sering digunakan dalam bidang pemerintahan yang artinya klaim legitimasi
atau pembenaran hak untuk melakukan untuk menjalankan kekuasaan.
Demokrasi sendiri adalah jenis dari paham suatu negara yang di dasari pada paham
kerakyatan. Jadi demokrasi adalah pemerintahan yang berasala dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat.
stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas social secara
vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi ke paling
rendah.

15
Daftar Pustaka
Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi Jilid I. edisi keenam. Jakarta : Penerbit
Erlangga.

Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi Jilid II. edisi keenam. Jakarta : Penerbit
Erlangga.

http://arul06agustus1990.blogspot.co.id/2010/04/lembaga-kemasyarakatan.html

16