Anda di halaman 1dari 75

Analisis Kimia

Tim Dosen Kimia

Analisis kimia

Analisis kualitatif mengidentifikasi

komponen baik unsur maupun gugus dalam

suatu zat Analisis kuantitatif menghitung / menentukan perbandingan banyaknya masing-masing komponen yang terkandung dalam suatu zat yang dianalisis.

Metode Analisis

Konvensional

Gravimetri

Volumetri

Instrumental menggunakan instrumen /

peralatan Cara Elektrokimia

Cara Spektrofotometri

Cara Kromatografi

Gravimetri

Analisis gravimetri analisis kuantitatif

dengan menimbang, yaitu proses pemisahan

dan penimbangan suatu komponen (unsur atau radikal) dalam suatu zat yang

banyaknya tertentu dalam keadaan semurni

mungkin. Banyaknya komponen yang dianalisis dihitung dari hubungan massa atom, massa molekul dan berat senyawa yang ditimbang

Persyaratan pd analisis gravimetri

1. Zat yg ditentukan hrs dpt diendapkan

secara terhitung (99%)

2. Endapan yg terbentuk hrs cukup murni dan dapat diperoleh dlm bentuk yg cocok untuk pengolahan selanjutnya.

Metode Gravimetri

Analisis gravimetri dapat dilakukan dengan metode :

Pengendapan

Penguapan

Elektrolisis

Pengendapan

Komponen dari suatu zat yang dianalisis

diendapkan dari larutan dengan suatu pereaksi menjadi suatu endapan. Contoh pereaksi anorganik yang dapat digunakan :

HCl encer untuk mengendapkan ion Ag + , Hg 2+ , dan ion Pb 2+ Buffer ammonia untuk mengendapkan ion Al 3+ , Cr 3+ , dan Fe 3+ .

Penguapan

Digunakan untuk menetapkan komponen

suatu senyawa yang relatif mudah menguap.

Penguapan dapat dilakukan dengan :

Pemanasan dalam udara atau gas tertentu Penambahan pereaksi tertentu sehingga komponennya sangat mudah menguap

Penguapan

Metode penguapan ini dapat digunakan

untuk menentukan kadar air(hidrat) dalam

suatu senyawa atau kadar air dalam suatu sampel basah.

Perhitungan menimbang berat sampel

sebelum dan sesudah penguapan Contoh : pada penentuan NH3 dalam garam amonium, penentuan kadar N dalam protein

Elektrolisis

Dengan metode ini unsur suatu senyawa

ionik akan ditentukan dengan diendapkan

atau dibebaskan secara elektrolisis pada elektroda yang sesuai

Hukum dasar elektrolisis :

Hukum Faraday

Elektrolisis

Metode elektrolisis dilakukan dengan cara

mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi

endapan logam. Ion-ion logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrik dengan besar tertentu dalam waktu tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi 0.

Elektrolisis

Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat

ditentukan berdasarkan beratnya

misalnya mengendapkan tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi.

Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada

sampel yang diduga mengandung kadar

logam terlarut cukup besar seperti air

limbah.

Keuntungan metode gravimetri

sederhana

Akurat (accurate)

Kesalahan 0,1 0,3%

Analisis makro, diperlukan endapan 10 mg atau lebih Kerugian metode gravimetri

Memakan waktu lama (time consuming), sekitar ½ hari

Langkah-langkah metode gravimetri

Pengeringan dan penimbangan sampel

Pelarutan sampel

Pengendapan dg cara penambahan pereaksi (berlebih) yang sesuai

Pemisahan/penyaringan endapan

Pencucian endapan

Pengeringan atau pemijaran endapan ----->

stabil dan diketahui komposisinya

Penimbangan bobot konstan endapan

Penambahan Pereaksi Pengendap

Sebagai pereaksi pengendap dapat

digunakan senyawa anorganik atau senyawa

organik tetapi dipilih yang spesifik dan mudah menguap.

Mengapa harus dipilih yang mudah

menguap?

Pencucian endapan

Tujuan: menghilangkan sisa pereaksi, hasil

samping, impurities ------> endapan murni

Syarat cairan pencuci :

Tidak melarutkan endapan tetapi melarutkan

pengotor (imputities)

Tidak menyebabkan dispersi endapan

Tidak membentuk hasil yang atsiri ataupun tak

dapat larut dengan endapan

Mudah menguap pada pengeringan

Tidak mengganggu penelitian lebih lanjut

Pencucian endapan

Pencucian endapan Fe(OH) 3 menggunakan larutan elektrolit asam-nitrat, harus bebas ion Cl-, dipijarkan pada suhu 600 o C

Pencucian endapan BaSO 4 harus bebas ion sulfat, tidak dipijarkan untuk menghindari reduksi endapan oleh karbon menjadi BaS

Pencucian endapan Cu(OH) 2 harus bebas ion sulfat

Pengeringan

Tujuan: menghilangkan sisa pelarut, mendapatkan senyawa stabil dengan komposisi tertentu/diketahui Pengeringan suhu rendah (105 0 C) untuk senyawa yang termolabil, misalnya AgCl Pemijaran untuk senyawa yang termo stabil, mis BaSO 4 atau untuk mendapatkan endapan stabil, misalnya Mg 2 P 2 O 7 .

Analisis gravimetri

Zat yang

Endapan

Zat yang

Contoh

dianalisis

ditimbang

pengganggu

Fe

 

Fe(OH) 3

Fe 2 O 3

Al, Ti, Cr

Al

Al(OH) 3

Al 2 O=

Fe, Ti, Cr

 

Al(OX) 3

Al(OX) 3

Banyak, kecuali Mg

Ba

 

BaCrO 4

BaCrO 4

Pb

SO 4

2-

BaSO 4

BaSO 4

NO 3- ,PO 4 3- ,ClO 3-

Cl

-

AgCl

AgCl

Br - ,I - ,SCN - ,CN -

Ag

 

AgCl

AgCl

Hg(I)

PO 4 3-

MgNH 4 PO 4

Mg 2 P 2 O 7

C 2 O 4 2- , K +

Penentuan kadar besi

Besi diendapkan sebagai besi (III) hidroksida,

kemudian di pijarkan pada suhu tinggi menjadi

Fe2O3.

Contoh untuk analisis batuan dimana besi

dipisahkan dahulu dari unsur-unsur yang

mengganggu.

Bijih besi biasanya dilarutkan dalam asam klorida, dan asam nitrat digunakan untuk mengoksidasi besi ke keadaan oksidasi +3.

Jadi larutan yang mengandung besi (III) ditambahkan larutan amonia yang sedikit berlebih untuk mengendapkan Fe(OH)3 Fe 3+ + 3NH3 + 3H2O Fe(OH)3+ 3NH4 +

Endapan mirip gelatin yang sangat tidak larut dalam air. Endapan dicuci dengan air yang mengandung sedikit amonium nitrat untuk mencegah peptisasi.

Penyaringan dilakukan dengan menggunakan

kertas saring, kemudian kertas dan endapan

dibakar pada suhu yang cukup tinggi.

Hal-hal yang harus diperhatikan

Unsur atau senyawa yang ditentukan harus

terendapkan secara sempurna.

Bentuk endapan yang ditimbang harus diketahui dengan pasti rumus molekulnya.

Endapan yang diperoleh harus murni dan mudah ditimbang.

Perhitungan

Dari berat endapan yang ditimbang, maka

presentase analit A adalah:

%A

berat A

x

100

%

berat sampel

Dengan faktor gravimetri :

Ar atau Mr yang dicari faktor gravimetri= Mr endapan yang ditimbang

berat A = berat P x faktor gravimetri

%A

berat P x faktor gravimetri

P = endapan

berat sampel

x

100

%

Contoh soal 1:

0,6025 gram sampel garam klorida

dilarutkan dalam air dan kloridanya

diendapkan dengan menambahkan perak nitrat berlebih. Endapan perak klorida

disaring, dicuci, dikeringkan dan ditimbang.

Ternyata beratnya 0,7134 gram. Hitunglah persentase klorida dalam sampel.

(Ar Cl=35,5 ; Ar Ag=107,9)

reaksi : Ag

A Cl

r

M AgCl

r

Cl

AgCl(p)

 
 

35 5

,

 

35 5

,

(

107 9

,

35 5

,

)

143 4

,

0 25

,

%Cl

berat Cl x faktor gravimetri

x

100

berat sampel

=

0 7134

,

gx ,

0 25

0 6025

,

g

x

100

%

29 60 %

,

%

Soal 1

Dalam suatu sampel batuan fosfat seberat

0,5428 gram, fosfor diendapkan sebagai

MgNH4PO4.6H2O dan dibakar menjadi Mg2P2O7. Jika berat endapan setelah

pembakaran adalah 0,2234gram, hitunglah

persentase P2O5 dalam sampel ! (Ar Mg = 24; N = 14; H=1; P=31; O=16)

%P O

2

5

=

=

berat endapan x faktor gravimetri

berat sampel

0 2234

,

gx

P O

2

5

Mg P O

2

2

7

0 5428

,

g

x

100

%

x

0 2234

,

gx

142

222 6

,

0 5428

,

x

100

%

26 25

,

%

100

%

Contoh soal 2

Gravimetri dengan pemanasan/penguapan Berapa % garam Glauber (Na 2 SO 4 .10 H 2 O) kehilangan berat maksimum kalau garam tersebut dipanaskan pada suhu 105 0 C selama 1 jam?

Reaksi :

Na 2 SO 4 .10H 2 O Na 2 SO 4 + 10 H 2 O

Dari reaksi tersebut setiap mol garam Glauber melepaskan (kehilangan) 10 mol H 2 O yang menguap kalau dipanaskan.

Berat 1 mol garam Glauber =(2x23+32+4x16)

+ 10(2+16) = 46+32+64+180 = 322 gram

Setelah dipanaskan kehilangan berat 10 mol air yang beratnya = 180 gram

Jadi besarnya kehilangan berat maksimum (semua air hidrat/kristal menguap) =

(180/322) x 100%

= 55,90 %

Soal 2

Dengan cara yang sama dapat dihitung berapa persen kehilangan berat kalau garam hidrat, misalnya FeSO 4 .7H 2 O (Prusi) atau CaCl2.6H 2 O (garam Inggris) dipanaskan pada suhu sekitar 100 0 C selama 1 jam atau lebih.

Analisis Volumetri

Analisis volumetri

Analisis volumetri : analisis kuantitatif yang

pada umumnya dilakukan dengan mengukur

banyaknya volume larutan standar yang dapat bereaksi kualitatif dengan larutan zat

yang dianalisis yang banyaknya tertentu dan

diketahui

Larutan standar

Larutan standar : larutan yang

konsentrasinya telah diketahui

Konsentrasi dapat dinyatakan dalam molar (mol/L) atau normal (gram ekuivalen/L)

Larutan standar ada 2 :

Larutan standar primer

Larutan standar sekunder

Larutan standar

Larutan standar primer merupakan larutan yang telah

diketahui konsentrasinya (molaritas atau normalitas)

secara pasti melalui pembuatan langsung. Larutan standar primer berfungsi untuk menstandarisasi / membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan standar sekunder).

Larutan standar sekunder (titran) biasanya

ditempatkan pada buret yang kemudian ditambahkan

ke dalam larutan zat yang telah diketahui

konsentrasinya secara standar primer).

Syarat-syarat larutan standar primer

Harus mudah didapat dan dalam keadaan murni

Tidak higroskopis, tidak ter oksidasi, tidak

menyerap udara dan selama penyimpanan tidak boleh berubah (stabil)

Mengandung kotoran (zat lain) tidak melebihi

0,01%

Harus mempunyai berat ekivalen yang tinggi

Mudah larut dalam pelarut yang sesuai

Reaksinya stoichiometri dan berlangsung terus menerus

Larutan standar primer

Untuk asam-basa : Na2CO3 , Na2B4O7 , K biftalat , as benzoat, KIO 3, H 2 C 2 O 4 .2H 2 O Reaksi redoks : K2Cr2O7 , KBrO3 , KIO3 , as oksalat, As2O3, I 2 , As 2 O 3 , Na 2 C 2 O 4 , KH(IO 3 ) 2 Titrasi pegendapan : NaCl , KCl dan KBr, AgNO 3 Reaksi Pembentukan kompleks : Zn , Mg , Cu , Na2EDTA , NaCl, AgNO 3 , NaCl, KCl

Titrasi

Proses penambahan larutan standar ke

dalam larutan yang akan ditentukan sampai

terjadi reaksi sempurna disebut titrasi. Sedang saat dimana reaksi sempurna

dimaksud tercapai disebut titik ekivalen atau

titik akhir titrasi.

Persyaratan Titrasi

Reaksi yang dapat digunakan dalam metode volumetri adalah reaksi-reaksi kimia yang sesuai dengan persyaratan sebagai berikut:

Reaksi harus berlangsung cepat

Tidak terdapat reaksi samping

Reaksi harus stoikiometri, yaitu diketahui dengan pasti reaktan dan produk serta

perbandingan mol / koefisien reaksinya

Terdapat zat yang dapat digunakan untuk mengetahui saat titrasi harus dihentikan (titik

akhir titrasi) yang disebut zat indikator

Klem buret
Klem
buret

Level volume titran

aA + tT produk sejumlah a molekul analit A bereaksi dengan t molekul reagensia T (titran). Penambahan

titran dilakukan sedikit demi sedikit melalui

buret.

Stopcock

Titik ekuivalen Titik dimana jumlah titran yang ditambahkan ekuivalen dengan

jumlah analit secara stoikhiometri

erlenmeyer

Larutan

analit

Pengaduk

magnet

Penentuan titik akhir titrasi

Penentuan titik akhir titrasi Perhatikan perubahan warna
Penentuan titik akhir titrasi Perhatikan perubahan warna

Perhatikan

perubahan

warna

Penentuan titik akhir titrasi Perhatikan perubahan warna

Titik Ekivalen dan Titik Akhir Titrasi

Titik ekuivalen diketahui dari adanya perubahan

dalam larutan yang disebabkan karena

penambahan indikator yang dapat menyebabkan perubahan warna setelah titik

ekuivalen tercapai

Titik ekivalen (ttk akhir teoritis titrasi) adalah titik (saat) dimana jumlah ekivalen zat penitrasi

sama dengan jumlah ekivalen zat yang dititrasi

Titik akhir titrasi adalah saat timbul perubahan warna indikator

Titik akhir titrasi

Perubahan warna indikator

Terjadinya kekeruhan yang disebabkan oleh terbentuk atau melarutnya endapan

Perubahan DHL larutan

Perubahan arus listrik dalam larutan

disebabkan oleh terbentuk atau melarutnya endapan • Perubahan DHL larutan • Perubahan arus listrik dalam larutan

Indikator

Nama Indikator Warna asam Warna basa Trayek pH

Alizarin kuning - kuning ungu 10,1 - 12,0

Fenolftalein tak berwarna merah 8,0 - 9,6

Timolftalein tak berwarna biru 9,3 - 10,6

Fenol merah kuning merah 6,8 - 8,4

Bromtimol blue kuning biru 6,0- 7,6

Metil merah merah kuning 4,2 - 6,2

Metil jingga merah kuning 3,1 - 4,4

Para nitrofenol tak berwarna kuning 5,0 - 7,0

Timol blue kuning biru 8,0 - 9,6

Perubahan warna pada fenolftalien

Perubahan warna pada fenolftalien • Perubahan warna terjadi pada pH 8,3 - 10

Perubahan warna terjadi pada pH 8,3 - 10

Perubahan warna pada biru bromtimol

Perubahan warna pada biru bromtimol • Perubahan warna terjadi pada pH 6 - 7,6

Perubahan warna terjadi pada pH 6 - 7,6

Perubahan warna pada merah metil

Perubahan warna pada merah metil • Perubahan warna terjadi pada pH 4,2 - 6,3

Perubahan warna terjadi pada pH 4,2 - 6,3

Satuan Konsentrasi

a.

b.

c.

d.

Persen berat (% w/w)

% berat

g zat terlarut

g zat terlarut

g pelarut

x100

Persen volume (%v/v)

% berat

mL zat terlarut

mL zat terlarut

mL pelarut

x100

Persen berat/volume (%w/v)

% w/v

g zat terlarut

mL larutan

x100

Parts Per Million dan Parts Per Billion

1 ppm (bag. per sejuta) = 1mg zat/L larutan

1 ppb (bag. per milliard) = 1g/L larutan

a.

Kemolaran (M)

Jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan

b.

Kenormalan (N)

ekivalen zat terlarut dalam liter larutan Berat satu ekivalen disebut berat ekivalen (BE)

Reaksi asam-basa

1 ekivalen

1 mol H + atau 1 mol OH -

Reaksi pengendapan dan pembentukan kompleks

BE = BM/ muatan ion

Reaksi redoks

1 ek

1 mol elektron

Jenis - jenis titrasi

Titrasi netralisasi /asam-basa

titrasi redoks

titrasi pengendapan

titrasi pembentukkan kompleks

Titrasi Netralisasi

TITRASI ASIDIMETRI Titrasi terhadap basa bebas atau lar garam yang berasal dari asam lemah, dengan lar STANDAR

lar garam yang berasal dari asam lemah, dengan lar S TANDAR • ASAM. • Contoh :

ASAM.
ASAM.

Contoh : NaOH dititrasi dengan HCl

Reaksi : NaOH + HCl NaCl + H 2 O Reaksi sebenarnya : OH - + H + H 2 O

Titrasi netralisasi

TITRASI ALKALIMETRI

Titrasi terhadap asam bebas atau garam yang

berasal dari basa lemah, dengan larutan

STANDAR BASA.
STANDAR BASA.
yang berasal dari basa lemah, dengan larutan STANDAR BASA. • Contoh : CH 3 COOH dititrasi

Contoh : CH 3 COOH dititrasi dengan NaOH

Reaksi :

CH 3 COOH + NaOH

CH 3 COONa + H 2 O

Reaksi sebenarnya : H + + OH - H 2 O

Titrasi pengendapan

Titrasi yang mengakibatkan terjadinya endapan

Contoh : Titrasi Cl - dengan larutan standar AgNO 3

Cl - (aq) + Ag + (aq) AgCl (s) (=reaksi kombinasi ion)

Titrasi pembentukan kompleks

Semua jenis titrasi yang mengakibatkan terjadinya senyawa kompleks

Contoh : Titrasi Cl - dengan larutan standar Hg(NO 3 ) 2 2Cl - (aq) + Hg 2+ (aq) HgCl 2 (kompleks)

Titrasi redoks

Titrasi yg menyangkut reaksi redoks / reaksi

perpindahan elektron antara zat yg dititrasi dan zat

pentitrasi atau sebaliknya

Larutan standar = Oksidator

Larutan sampel = Reduktor

Contoh : Titrasi Cerimetri

Garam Fero (FeSO 4 ) sebagai reduktor dititrasi dengan garam ceri (Ce(SO 4 ) 2 ) sebagai oksidator

Fe 2+ + Ce 4+ Fe 3+ + Ce 3+

Fe 2+

Fe 3+ + e

Titrasi Asam - Basa

Titran merupakan asam atau basa kuat

titrasi asam kuat - basa kuat

titrasi basa kuat - asam kuat

titrasi asam lemah - basa kuat

titrasi basa lemah - asam kuat

Kurva Titrasi Asam Kuat - Basa Kuat

pH

12

11

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Fenolftalein Titik ekuivalen Biru bromtimol Merah

Fenolftalein

Titik ekuivalen

Biru bromtimol

7 6 5 4 3 2 1 Fenolftalein Titik ekuivalen Biru bromtimol Merah metil 10 20

Merah metil

7 6 5 4 3 2 1 Fenolftalein Titik ekuivalen Biru bromtimol Merah metil 10 20

10

20

30

40

50

60

70

ml NaOH

Kurva Titrasi Asam Lemah - Basa Kuat

pH

12

11

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

Titik ekuivalen 10 20 30 40 50 60 70
Titik ekuivalen
10
20
30
40
50
60
70

ml NaOH

Cara menghitung pH titrasi

untuk titrasi asam lemah - basa kuat

 

Spesi yang terdapat pada

Persamaan

 

HA + OH -

=

A - + H 2 O

 

larutan

 
 

HA

HA + H 2 O

=

H 3 O + + A -

 

Ka =

[H

3 O + ][A - ]

 

T=0

 

asam

   

[HA] [H 3 O + ] = [A - ]

 
 

terionisasi

[H 3 O + ] = Ka.[HA]

 

T<1

HA dan A -

Ka =

[H

3 O + ][A - ]

   

[A

- ]

buffer

 

[HA]

 

pH = pKa + log

 

[HA]

T=1

A

-

A - + H 2 O

=

HA + OH -

 

Kb =

 

[HA][OH - ]

 
   
       

[A

- ]

Garam

terhidrolisis

[OH - ] = Kb.[A - ]

   

[HA] = [OH - ]

T>1

OH -

[OH - ] = kelebihan titran

 

Titrasi asam lemah - basa kuat

misalkan 50ml suatu asam lemah HA K a =1,0 x 10 -5 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1M

sebelum penambahan NaOH

HA adalah asam lemah dan terdisosiasi dengan lemah

HB (aq) + H 2 O (l)

dengan lemah H B (aq) + H 2 O (l) H 3 O + (aq) +

H 3 O + (aq) + A - (aq)

Maka dianggap [H 3 O + ] [A - ] dan [HA] = 0,1 - [H 3 O + ] 0,1

[H 3 O + ][A - ]

[HA]

= K a

[H 3 O] 2

0,1

= 1,0 x 10 -5

[H 3 O + ] = 1,0 x 10 -3

pH

= 3,00

Setelah penambahan 10 ml NaOH reaksi yang terjadi selama titrasi

adalah HA + OH -

(50 ml) x (0,1 mmol/ml) HA bereaksi dengan (10 ml) x (0,1 mmol/ml) OH -

H 2 O + A -

HA

+

OH -

H 2 O

+

A -

5,00 mmol

1,00mmol

1,00 mmol

1,00mmol

4,00 mmol

0

1,0mmol 1,0mmol

dalam kesetimbangan terdapat 4,00 mmol HA dan 1,0 mmol A - dalam 60 ml larutan.

[HA] = 4,00 - [H 3 O + ]

60

[A - ] =

1,00

60

+ [H 3 O + ]

4,00

60

1,00

60

[H

3 O + ][A - ]

[HA]

= K a

[H 3 O + ] (1,0/60)

(4,0/60)

= 1,0 x 10 -5

[H 3 O + ] = 4 x 10 -5

pH

= 5 - log 4 = 4,40

Setelah penambahan 50 ml NaOH (pH pada titik ekuivalen) terbentuk 5,00 mmol A - ; [A - ] = 5,00/100 = 0,05M A - adalah basa dan reaksinya

dengan air adalah

A - + H 2 O

dianggap [HA] [OH - ]

adalah A - + H 2 O dianggap [HA]  [OH - ] HA + OH
adalah A - + H 2 O dianggap [HA]  [OH - ] HA + OH

HA + OH -

maka

[HA][OH - ]

[A - ]

= K b = 1,0 x 10 -9

[OH - ] 2

0,05

= 1,0 x 10 -9

[OH - ] = 7,1 x 10 -6

pOH

= 5,15

pH

= 8,85

Setelah penambahan 60 ml NaOH setelah tercapai titik ekuivalen, masih terdapat 10 ml OH - 0,1M atau 1,0 mmol sementara OH - yang dihasilkan dari reaksi A - + H 2 O HA + OH - dapat diabaikan, sehingga 1,0 mmol

+ H 2 O HA + OH - dapat diabaikan, sehingga 1,0 mmol [OH - ]

[OH - ] =

110 ml

= 9,1 x 10 -3

Perhatikan: setelah titik ekuivalen tercapai (besar pH = 8,85), penambahan 0,10 ml

titran akan merubah pH menjadi

9,7 nilai tersebut diperoleh dari

pOH

= 2,04

 

0,01 mmol

 

pH

= 11,96

[OH - ] =

 

= 9,99 x 10 -5

 

100,1 ml

 

pOH

= 4,0

 

pH

= 10,0

Cara menghitung pH titrasi

untuk titrasi basa lemah - asam kuat

 

Spesi yang terdapat pada

Persamaan

 

B + H 3 O +

=

HB + + H 2 O

 

larutan

 
   

B

B + H 2 O

=

HB + + OH -

 

Kb =

[HB + ][OH - ]

 

T=0

 

[B]

Basa

[OH - ] = Kb.[A - ]

   
 

terionisasi

[HB] = [OH - ]

T<1

B dan HB +

Kb =

[HB + ][OH - ]

pOH = pKb + log

[HB + ]

buffer

 

[B]

[B]

T=1

HB +

 

HB + + H 2 O

=

H 3 O + + B

Ka =

[H

3 O + ][B]

 

Garam

[H 3 O + ] = Ka.[HB + ]

   

[HB + ]

terhidrolisis

 

[H 3 O + ] = [B]

 

T>1

H

3 O +

[H 3 O + ] = kelebihan titran

 

25 mL larutan asam cuka perdagangan dimasukkan

ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan

akuades sampai tanda batas. Ambil 10 mL larutan yang telah diencerkan tersebut dan dimasukkan ke dalam erlemneyer 50 mL, tambahkan 2 tetes indikator pp. Larutan tersebut kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,09M yang telah dan volume NaOH yang digunakan sebanyak 12 ml.

Hitung kadar asam asetat dalam cuka tersebut.

Soal

Dua cuplikan terdiri dari NaOH, Na2CO3 dan zat

inert dan mengandung 30% berat NaOH dilarutkan

dalam air sehingga larutan mempunyai volume 100 ml. 25 ml larutan kemudian dititrasi dengan larutan HCl encer mula-mula dengan indikator pp

kemudian dengan indikator mo. Apabila banyaknya volume HCl pada titrasi pp = 25 ml, dan volume HCl pada titrasi mo = 10 ml.

a.

Hitung konsentrasi larutan HCl

b.

Berapa % berat garam Na2CO3 dalam cuplikan?

Titrasi pengendapan

Titrasi argentometri : larutan standarnya

garam AgNO3

Indikator : larutan garam K2CrO4, larutan garam Fe3+, larutan fluoresein atau eosin

Argentometri dengan indikator

K2CrO4

Larutan garam LiCl 0,1 M dititrasi dengan larutan standar 0,1 N AgNO3 dengan indikator K 2 CrO 4 . Apabila banyaknya larutan K2CrO4 5% b/v yang digunakan sebagai indikator adalah 5 tetes (0,05 ml) setiap 100 ml larutan, hitunglah berapa molar besarnya konsentrasi ion Cl - dalam larutan pada saat terjadi endapan merah dari garam Ag 2 CrO 4 .

Ksp AgCl = 1,2 x 10 -10

Ksp Ag2CrO4 = 1,7 x 10 -12

Dalam 100 ml larutan K2CrO4 5% b/v terkandung 5/194 mol zat terlarut

Konsentrasi K2CrO4 = 10 x (5/194) = 50/194 M

0,05 ml K2CrO4 1 liter larutan banyaknya K2CrO4 = 0,5 ml, berarti ion CrO42- dalam larutan :

0 5 , 50 2   4 [CrO ]  x  1 289
0 5
,
50
2
4
[CrO
]
x
 1 289
,
x
10
M
4
1000
194
12
Ksp
1 7
,
x
10
 4
[Ag
]
 1 148
,
x
10
M
2
4
[CrO
]
1 289
,
x
10
4
 10
1 2
,
x
10
-
Konsentrasi ion Cl dalam larutan =
 4
1 148
,
x
10

1 045

,

x

10

6

M

Titrasi redoks

Titrasi redoks : titrasi yang mengakibatkan

terjadinya reaksi reduksi dan oksidasi

Titrasi redoks ada beberapa jenis :

Titrasi permanganometri Titrasi bikromatometri Titrasi bromatometri

Titrasi iodometri

Titrasi permanganometri

Titrasi permanganometri : titrasi redoks yang

menggunakan larutan standar KMnO4. Dalam suasana asam, ion permanganat (MnO4 - ) tereduksi menjadi garam mangan (Mn 2+ ) mgrek = 1

Dalam suasana basa, ion MnO4- tereduksi

menjadi mangan dioksida (MnO2) sehingga

mgrek = 1/3

Titrasi bikromatometri

Titrasi bikromatometri : titrasi redoks yang larutan standarnya K 2 Cr 2 O 7

K 2 Cr 2 O 7 Cr 3+

Mgrek = 1/6

Titrasi bromatometri

Titrasi bromatometri : titrasi redoks yang

larutan standarnya berupa kalium bromat (KBrO 3 ).

BrO 3 - + 6H + + 6e - Br - + 3H 2 O

1 grek = 1/6 mol

Titrasi Iodo-iodimetri

Titrasi iodo-iodimetri : titrasi antara larutan iodium (I 2 ) dengan larutan standar garam natrium tiosulfat (Na 2 S 2 O 3 ) dengan indikator amilum. 2S 2 O 3 2- + I 2 S 4 O 6 2- + 2I -

Derajat Kemurnian Bahan Kimia

COMERCIAL GRADE = TECHNICAL GRADE =

TEKNIS

mengandung beberapa pengotor

untuk industri

tidak untuk pereaksi/zat standar primer dalam

analisis kimia

Derajat Kemurnian Bahan Kimia

CHEMICALY PURE (CP)

Kemurnian lebih tinggi dari teknis

Untuk reagensia/pereaksi

Tidak untuk baku primer

REAGENT/ANALYZED GRADE, PRO ANALYSIS (P.A.) GUARANTED REAGENT (G.R.)

Ada batas kadar maksimum zat-zat pengotor

Untuk reagensia dan baku primer dalam volumetri

Derajat Kemurnian Bahan Kimia

PRIMARY STANDARD GRADE

Kemurnian 100%

Lebih murni dari pro analisis

Mikroanalisis (analisis dengan ketelitian tinggi, dengan alat-alat yang peka)

SUPRA PURE

Kemurnian paling tinggi

Penelitian dengan alat-alat canggih, misal HPLC