Anda di halaman 1dari 4

IMPLEMENTASI PATIENT SAFETY DI RUMAH SAKIT

Posted by Justice 01 on Apr 11, 2015 in Artikel Kesehatan

Oleh: Fahmi Hakam, S.KM.

Patient safety merupakan istilah yang saat ini cukup populer dalam pelayanan kesehatan. Pasient
safety merupakan upaya-upaya pelayanan yang mengutamakan pada keselamatan pasien.
Penekanannya adalah pada pelaporan kejadian yang merugikan pasien, pencegahan terhadap
kesalahan medis dan pencegahan perawatan yang dapat merugikan kesehatan, serta keselamatan
pasien (Blendon, 2002).
Pada tanggal 27 Oktober 2004 WHO meresmikan World Alliance for Patient Safety yang
bertujuan untuk mengkoordinasikan aksi-aksi global berkaitan dengan keselamatan pasien dan
melawan permasalahan-permasalah kerugian pasien yang semakin banyak dilaporkan. Aliansi ini
memfasilitasi suatu bentuk kepemimpinan yang memastikan terjawabnya permasalahan krusial
di seluruh dunia dengan harapan terselenggaranya praktik baik dalam setiap pelayanan serta
dapat dipastikan setiap penentu kebijakan di seluruh negara menekankan patient safety dalam
strategi nasionalnya (Leanda, 2008).
Adverse Event atau kejadian tidak diharapkan (KTD), merupakan suatu kejadian yang
mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission)
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission) dan bukan karena
underlying disease atau kondisi pasien. Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic
seperti kesalahan atau keterlambatan diagnose, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai,
menggunakan cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil
pemeriksaan atau observasi. Sedangkan pada tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur
pengobatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat dan keterlambatan merespon hasil
pemeriksaan asuhan yang tidak layak.
Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan
fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan
secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau
justru luput dari perhatian kita semua (Weiner et.all, 2007).
American Hospital Asosiation (AHA) Board of Trustees mengidentifikasikan bahwa
keselamatan dan keamanan pasien (patient safety) merupakan sebuah prioritas yang strategis.
Mereka juga menetapkan capaian peningkatan yang terukur untuk medication safety sebagai
target utamanya. Tahun 2000, Institute of Medicine Amerika Serikat, dalam TO ERR IS
HUMAN, Building a Safer Health System Melaporkan bahwa dalam pelayanan pasien rawat
inap di rumah sakit ada sekitar 3-16% Kejadian Tidak Diharapkan (KTD/Adverse Event).
Menindaklanjuti penemuan ini, tahun 2004, WHO mencanangkan World Alliance for Patient
Safety, program bersama dengan berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di
rumah sakit.
Di Indonesia, telah dikeluarkan KepMen nomor 496/Menkes/SK/IV/2005 tentang pedoman audit
medis di rumah sakit, yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima di
rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi pasien.
Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia(PERSI), yang
berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak semua stakeholder rumah sakit untuk lebih
memperhatian keselamatan pasien di rumah sakit.

Tanggung Jawab Hukum Rumah Sakit

1. Pasal 29b UU No.44/2009; Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,


antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan Rumah Sakit.
2. Pasal 46 UU No.44/2009; Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap
semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.
3. Pasal 45 (2) UU No.44/2009; Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan
tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia.

Kegiatan Pelaksanaan Patient Safety Di Rumah Sakit

1. Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dengan susunan
organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter, Anggota: dokter, dokter gigi, perawat, tenaga
kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.
2. Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal
tentang insiden.
3. Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Komite Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (KKPRS) secara rahasia.
4. Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan menerapkan
tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.
5. Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis berdasarkan hasil dari
analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru
dikembangkan.

Sistem Pencacatan Dan Pelaporan Pada Patient Safety Di Rumah Sakit

1. Setiap unit kerja di rumah sakit mencatat semua kejadian terkait dengan keselamatan
pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel) pada
formulir yang sudah disediakan oleh rumah sakit.
2. Setiap unit kerja di rumah sakit melaporkan semua kejadian terkait dengan keselamatan
pasien (Kejadian Nyaris Cedera, Kejadian Tidak Diharapkan dan Kejadian Sentinel)
kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit pada formulir yang sudah disediakan oleh
rumah sakit.
3. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit menganalisis akar penyebab masalah semua
kejadian yang dilaporkan oleh unit kerja.
4. Berdasarkan hasil analisis akar masalah maka Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil solusi pemecahan masalah
kepada Pimpinan rumah sakit.
5. Pimpinan rumah sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) setiap terjadinya insiden dan setelah
melakukan analisis akar masalah yang bersifat rahasia.
6. Pimpinan Rumah sakit melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di rumah
sakit, terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja.

Refrensi

Blendon Robert, J., Chaterine, M. (2002) Views of Practicing Physicians And The Public On
Medical Errors, N Engl J Med, 347(24): 1933-1940.
Buken Erhan, Nuket O B, Bora Nuken. (2004) Obstetric and Gynecologic malpractice in Turkey:
Incidence, Impact, Causes and Prevention, J Clin Forensic Med, 11(5):233-247.

Departemen Kesehatan R.I (2006). Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit. utamakan
keselamatan pasien. Bakit Husada.

Depertemen Kesehatan R.I (2006). Upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. (konsep
dasar dan prinsip). Direktorat Jendral Pelayanan Medik Direktorat Rumah Sakit Khusus dan
Swasta.

Leanda, K., Singleton, A., Collier, J., Jones, I.R. (2008) Learning not to take it seriously: junior
doctor`s accounts of error, Medical Education, 42:982-990.

Lestari, Trisasi. Knteks Mikro dalam Implementasi Patient Safety: Delapan Langkah Untuk
Mengembangkan Budaya Patient Safety. Buletin IHQN Vol II/Nomor.04/2006 Hal.1-3.

Weiner, S.J., Alan, S. Rachel, Y., Gordon, D.S., Frences, M.W., Julie, G.& Kevin, B.W. (2007)
Evaluating Physician Performance at individualizing Care: A pilot Study Tracking Contextual
errors in Medical Decision Making, Med Decis Making: 27;726-734.