Anda di halaman 1dari 2

Dakwah Persuasif dan Edukatif

Red: operator

Oleh :Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS -- Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah


SWT karena baru saja menyelesaikan ibadah shaum pada bulan suci Ramadhan 1435 H yang
penuh dengan keagungan, kemuliaan, dan keberkahan. Kita berdoa kepada Allah SWT,
mudah- mudahan kita semua termasuk ke kelompok orang terpilih yang mendapatkan rah
mat-Nya pada 10 hari pertama, mendapat ampunan dan maghfirah- Nya pada 10 hari kedua,
dan dibebaskan dari azab- Nya pada 10 hari terakhir, serta dipilih-Nya mendapatkan Lailatul
Qadar.

Sehingga pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya, kita termasuk ke kelompok orang
yang kembali kepada fitrah dan kesucian (minal `aidin) dan karenanya akan mendapatkan
kebahagiaan, kemenangan, dan kesuksesan (wal faizin).

Dan dalam sepekan terakhir ini, kita melihat juga suasana halal bihalal, silaturahim Idul Fitri
yang dilakukan oleh berbagai kalangan dan komunitas, dengan harapan adanya kesediaan
untuk saling memaafkan antara yang satu dan yang lainnya.
Meskipun sesungguhnya dalam pandangan ajaran Islam, saling memaafkan antara sesama
bukanlah amalan tahunan, tetapi setiap saat apabila dirasakan adanya kekeliruan dan
kesalahan. Saling memaafkan merupakan salah satu perilaku utama orang-orang yang
bertakwa.

"Dan orang-orang bertakwa itu adalah orang-orang yang suka berinfak, baik pada waktu
lapang maupun pada waktu sempit, dan orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan
memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS Ali Imran [3]:134).

Di tengah-tengah suasana kita sedang merayakan hari kemenangan tersebut, umat Islam
(khususnya umat Islam Indonesia) dikejutkan dengan fenomena munculnya Islamic State of
Iraq and Syria (ISIS) yang dipastikan memiliki imbas ter- hadap kegiatan dakwah yang
sedang berlangsung di negara kita. Apalagi, ISIS ini dikabarkan sedang berupaya untuk
merekrut sebanyak-banyaknya umat Islam Indonesia, terutama gen- erasi mudanya, untuk
bergabung bersamanya.

Tentang keberadaan ISIS yang dipimpin oleh Abu Bakar al- Baghdadi ini sudah banyak anal-
isis yang disampaikan, termasuk yang dikemukakan oleh mantan pegawai Badan Ke aman an
Nasional (NSA) Amerika Serikat Edward Snowden, sebagaimana dikutip oleh Republika
Online (www.republika.co.id). Demikian pula, sikap penolakan umat Islam Indonesia
terhadap ISIS ini sudah disampaikan oleh MUI dan ormas-ormas Islam lainnya, termasuk
oleh Menteri Agama.

Tentu kita menghormati, meng- hargai, sekaligus meng ikuti seruan-seruan tersebut.Tulisan
singkat dalam refleksi ini tidak bermaksud mengupas tuntas keberadaan ISIS karena sudah
banyak disampaikan oleh berbagai media, da lam maupun luar negeri. Tulisan ini hanya ingin
mengulas dak wah yang persuasif dan edukatif yang harus terus-menerus kita lakukan dan
bukannya dakwah dengan cara berperang.
Esensi dari dakwah, yakni melakukan perubahan dan perbaikan kehidupan masyarakat agar
sesuai dengan ketentuan ajaran Islam, sebagaimana ter- maktub dalam Alquran dan hadis.
Agar umat manusia sema kin menyadari keberadaan- nya sebagai hamba Allah dan sekaligus
sebagai khalifah-Nya (perhatikan QS al-An'am [6]: 165 dan surat adz-Dzariyat [51]: 56).

Kegiatan dakwah ini, berdasarkan contoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, dilakukan
melalui upaya pencerahan dan penyadaran, menyentuh semua aspek yang ada pada manusia,
pikiran, perasaan, emosi, dan ting kah laku. Dakwah dengan cara inilah yang disebut
"Bashirah" dengan sepenuh keyakinan, sebagaimana termaktub dalam Alquran surah Yusuf
[12]:108.

"Katakanlah (Muhammad), inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
kamu kepada Allah dengan yakin. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang orang yang
musyrik."

Sasaran dakwah (mad'u) diajak untuk berpikir, bertadabur, menghayati keberadaan dirinya
dan pencipta-Nya se hingga melahirkan kesadaran keimanan yang kuat dan akidah yang lurus
yang kemudian tecermin pada perilaku keseharian- nya, baik dalam hubungan dengan Allah
maupun dengan sesamanya.

Dakwah semacam inilah yang insya Allah akan melahirkan umat bertakwa yang siap
melaksanakan segala perintah- Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dakwah pun harus dilakukan pada semua bidang kehidupan, seperti penguatan ekonomi
syariah, pendidikan Islami yang akan melahirkan kader-kader umat terbaik dan bertanggung
jawab.

Dakwah dalam bidang politik akan melahirkan politisi yang memiliki keberanian
menyampaikan ajaran Islam sekaligus yang jujur, amanah, dan berpihak pada kepentingan
umat serta dakwah dalam bidang- bidang lainnya.

Dakwah bilhal dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengentasan kemiskinan


harus terus-menerus kita lakukan secara lebih terorganisasi dan terintegrasi sebab menurut
data BPS (2014), jumlah penduduk miskin masih 28,55 juta atau 11,47 persen dari total
penduduk Indonesia.

Satu angka yang masih sangat tinggi yang perlu mendapatkan perhatian kita semua, baik
pemerintah maupun organisasi-organisasi keumatan yang dimiliki masyarakat Muslim
Indonesia.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pusat mau pun daerah harus terus-menerus melakukan
koordinasi dan sinergi, baik dengan lembaga amil zakat (LAZ) maupun dengan pihakpihak
lainnya.

Jika dakwah dilakukan dengan pendekatan tersebut, akan terlihat keindahan ajaran Islam
yang rahmatan lil `alamin dan yang sejalan dengan kehidupan manusia. Wallahu a'lam bish
shawab.

Anda mungkin juga menyukai