Anda di halaman 1dari 38

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan


rahmat dan nikmatNya sehingga modul ini dapat terselesaikan dengan baik. Modul
ini dengan judul Penangkapan Ikan dengan Pole and Line atau biasa disebut alat
penangkap ikan Huhate
Alasan penulis modul dengan judul penangkapan ikan dengan pole and line
ini adalah karena ikan cakalang merupakan salah satu sumberdaya ikan pelagis
yang memiliki ekonomis penting dan merupakan salah satu hasil tangkapan utama
yang tertangkap dengan pole and line, sedangkan pole and line merupakan alat
penangkap ikan yang paling banyak dioperasikan oleh nelayan di daerah Indonesia
bagian Timur.
Modul ini terdiri dari lima bab, yaitu: Pendahuluan, Umpan , Daerah
Penangkapan Ikan, Kapal Penangkap Ikan, dan Metode Penangkapan Ikan . Aspek
biologi cakalang dan alat penangkap ikan pole and line yang slsh satu faktor dari
judul modul ini memenuhi sasaran dalam penyuluhan perikanan yang di harapkan.
Tidak ada suatu pekerjaan di dunia ini yang sempurna kecuali hanya Allah
SWT, lepas dari kesalahan, begitu pula dengan penulisan modul ini. Oleh karena itu
saran dan kritik yang sifatnya bermanfaat akan penulis terima demi perbaikan dalam
penulisan selanjutnya.

Jakarta, November 2011

Penyusun
iii

DAFTA ISI

Halaman

Sambutan ................................ ................................ ................................ .... i


Kata Pengantar ................................ ................................ .......................... ii
Daftar Isi ................................ ................................ ................................ .....iii
Daftar Gambar................................ ................................ ........................... iv

Bab. I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ................................ ................................ ............. 1


1.2 Deskripsi Pole and Line ................................ ................................ 2

Bab. II. Umpan Pole and Line


2.1 Jenis-Jenis Umpan Hidup................................ ............................ 7
2.2 Penangkapan dan Pengadaan Ikan Umpan Hidup ..................... 9
2.3 Pemeliharaan Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10
2.4 Syarat-Syarat Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10
2.5 Tingkah Laku Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10

Bab. III. Daerah Penangkapan Ikan


3.1 Rumpon ................................ ................................ ..................... 13
3.2 Karakteristik Ikan ................................ ................................ ...... 19
3.3 Biologi Ikan Cakalang ................................ ................................ 19

Bab. IV Kapal Penangkap Ikan


4.1 Spesifikasi Kapal Pole and Line ................................ ................. 21
4.2 Perlengkapan Kapal Pole and Line ................................ ............ 22
iv

Bab. V Metode Penangkapan Ika n


5.1 Persiapan Operasi penangkapan Ikan ................................ ....... 25
5.2 Operasi Penangkapan Ikan ................................ ........................ 25
5.3 Faktor Penggunaan Ikan Umpan ................................ ............... 28

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar :
1. Ikan Cakalang ................................ ................................ .................... 3
2. Konstruksi / Komponen Pole And Line ................................ ............... 4
3 Mata Pancing Sebagai Umpan Tiru an................................ ............... 5
4. Jenis-Jenis Ikan Umpan Hidup ................................ ........................... 8
5. Bagan Tancap ................................ ................................ .................... 9
6. Bentuk Rumpon Permukaan ................................ ............................ 15
7. Burung Menukik Tanda Gerombolan Ikan Cakalang ........................ 17
8. Spesifikasi Kapal Pole and Line ................................ ..................... 22
9. Bentuk Kapal Pole and Line ................................ ............................. 23
10 Awak Kapal sedang memancing Ikan Cakalang .............................. 24
11 Arah Gerakkan Kapal Ke Gerombolan Ikan ................................ ..... 27
ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan


rahmat dan nikmatNya sehingga modul ini dapat terselesaikan dengan baik. Modul
ini dengan judul Penangkapan Ikan dengan Pole and Line atau biasa disebut alat
penangkap ikan Huhate
Alasan penulis modul dengan judul penangkapan ikan dengan pole and line
ini adalah karena ikan cakalang merupakan salah satu sumberdaya ikan pelagis
yang memiliki ekonomis penting dan merupakan salah satu hasil tangkapan utama
yang tertangkap dengan pole and line, sedangkan pole and line merupakan alat
penangkap ikan yang paling banyak dioperasikan oleh nelayan di daerah Indonesia
bagian Timur.
Modul ini terdiri dari lima bab, yaitu: Pendahuluan, Umpan , Daerah
Penangkapan Ikan, Kapal Penangkap Ikan, dan Metode Penangkapan Ikan . Aspek
biologi cakalang dan alat penangkap ikan pole and line yang slsh satu faktor dari
judul modul ini memenuhi sasaran dalam penyuluhan perikanan yang di harapkan.
Tidak ada suatu pekerjaan di dunia ini yang sempurna kecuali hanya Allah
SWT, lepas dari kesalahan, begitu pula dengan penulisan modul ini. Oleh karena itu
saran dan kritik yang sifatnya bermanfaat akan penulis terima demi perbaikan dalam
penulisan selanjutnya.

Jakarta, November 2011

Penyusun
iii

DAFTA ISI

Halaman

Sambutan ................................ ................................ ................................ .... i


Kata Pengantar ................................ ................................ .......................... ii
Daftar Isi ................................ ................................ ................................ .....iii
Daftar Gambar................................ ................................ ........................... iv

Bab. I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ................................ ................................ ............. 1


1.2 Deskripsi Pole and Line ................................ ................................ 2

Bab. II. Umpan Pole and Line


2.1 Jenis-Jenis Umpan Hidup................................ ............................ 7
2.2 Penangkapan dan Pengadaan Ikan Umpan Hidup ..................... 9
2.3 Pemeliharaan Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10
2.4 Syarat-Syarat Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10
2.5 Tingkah Laku Ikan Umpan Hidup ................................ .............. 10

Bab. III. Daerah Penangkapan Ikan


3.1 Rumpon ................................ ................................ ..................... 13
3.2 Karakteristik Ikan ................................ ................................ ...... 19
3.3 Biologi Ikan Cakalang ................................ ................................ 19

Bab. IV Kapal Penangkap Ikan


4.1 Spesifikasi Kapal Pole and Line ................................ ................. 21
4.2 Perlengkapan Kapal Pole and Line ................................ ............ 22
iv

Bab. V Metode Penangkapan Ika n


5.1 Persiapan Operasi penangkapan Ikan ................................ ....... 25
5.2 Operasi Penangkapan Ikan ................................ ........................ 25
5.3 Faktor Penggunaan Ikan Umpan ................................ ............... 28

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar :
1. Ikan Cakalang ................................ ................................ .................... 3
2. Konstruksi / Komponen Pole And Line ................................ ............... 4
3 Mata Pancing Sebagai Umpan Tiru an................................ ............... 5
4. Jenis-Jenis Ikan Umpan Hidup ................................ ........................... 8
5. Bagan Tancap ................................ ................................ .................... 9
6. Bentuk Rumpon Permukaan ................................ ............................ 15
7. Burung Menukik Tanda Gerombolan Ikan Cakalang ........................ 17
8. Spesifikasi Kapal Pole and Line ................................ ..................... 22
9. Bentuk Kapal Pole and Line ................................ ............................. 23
10 Awak Kapal sedang memancing Ikan Cakalang .............................. 24
11 Arah Gerakkan Kapal Ke Gerombolan Ikan ................................ ..... 27
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka meningkatkan ekspor komoditi non migas dewasa ini, maka
usaha perikanan cakalang perlu ditunjang demi pengembangan serta peningkatan
produksi.Ikan cakalang (Skipjack, Katsuwonus pelamis) termasuk komoditi ekspor
penting disamping tuna.
Diketahui bahwa cakalang mempunyai daerah kehidupan di perairan tropis
disamping faktor salinitas yang menentukan daerah penyebaran serta hidupnya
membentuk kawanan besar. Selain itu sifat yang dimiliki gerombolan cakalang
adalah lebih memusatkan diri dekat pulau-pulau atau pantai dari lautan yang terbuka.
Penggalian potensi ikan pelagis khususnya ikan cakalang tersebut tentunya
menggunakan sarana dan prasarana alat penangkap. Jenis alat penangkap yang
digunakan diantaranya a dalah pole and line atau huhate. Perikanan huhate pada
dasarnyamempunyai sasaran utama jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan
ikan yaitu ; tuna (yellow fin tuna, thunnus albacores) dan cakalang (skipjack tuna,
katsuwonus pelamis).
Pole and line atau b iasa juga disebut dengan huhate sebagai alat
penangkap ikan yang konst ruksinya sangat sederhana yaitu terdiri dari bambu
sebagai joran atau galah, dan tali utama sebagai tali pancing. Pada tali pancing
dikaitkan mata pancing pada bagian ujungnya tidak berkait balik.Penggunaan mata
pancing yang tidak berkait dimaksudkan agar ikan yang ditangkap dapat mudah
lepas. Tetapi sesungguhnya cukup kompleks karena dalam pengoperasiannya
memerlukan umpan hidup untuk merangsang kebiasaan i kan yang menjadi tujuan
tangkapan pole and line dengan menyambar mangsa pada ikan . Sebelum
2

pemancingan, dilakukan penyemprotan air untuk mempengaruhi visibility ikan


terhadap kapal atau para pemancing.
Adanya faktor umpan hidup inilah yang membuat cara penangkapan menjadi
agak rumit. Hal ini disebabkan karena adanya umpan hidup tersebut harus se suai
dalam ukuran dan jenis tertentu, yang dapat disimpan, dipindahkan, dan dibawa
dalam keadaan hidup. Hal ini berrati diperlukan sistem penangkapan umpan hidup
dan desain kapal harus sesuai untuk penyimpanan umpan supaya umpan hidup
tersebut dapat bertahan sampai waktu penggunaannya.
Secara umum alat penangkap ikan huhate (pole and line) terdiri dari joran dari
bahan bambo, atau lainnya sebagai tangkai pancing , tali pancing dari bahan
polyethilene, dan mata pancing ( hook) yang tidak berkait balik.

1.2 Deskripsi Pole and Line (huhate)


Huhate (pole and line) merupakan salah satu jenis alat penangkap ikan yang
dapat diklasifikasikan sebagai alat pancing yang biasanya khusus dipakai dalam
penangkapan ikan cakalang ( katsuwonus pelamis). Alat tersebut digunakan secara
perorangan, sehingga salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
penangkapan ikan adalah ketrampilan individu awak kapal, dan masalah -masalah
lainnya seperti tersedianya umpan hidup, kepadatan gerombolan ikan cakalang yang
menjadi tujuan tangkap didaerah tersebut atau daerah penangkapan ikan pole and
line. Hasil tangkap ikan-ikan pelagis, terutama ditujukan untuk menangkap ikan
cakalang (katsuwonus) walaupun ada ikan tuna yang tertangkap.
3

Gambar 1. Ikan Cakalang (Skipjack)

Ikan Cakalang (katsuwonus Pelamis)

Alat penangkap pole and line tersebut konstruksinya sangat sederhanadan


hanya terdiri dari bagian bagian sebagai berikut :
a) Joran atau galah, bagian ini terbuat dari bahan bambu yang cukup tua dan
memiliki tingkat elastisitas yang tinggi atau ba ik, pada umumnya digunakan
bambu yang berwarna kuning atau fibre glass. Panjang j oran berkisar 2 3,5
meter dengan diameter pada bagian pangkal 3 4 cm dan bagian ujung
sekitar 1 1,5 cm. Sebagaimana telah banyak digunakan jaoran dari bahan
sintetis plastik atau fibres.
b) Tali sekunder, dari bahan kawa t baja (wire leader) dengan panjang berkisar
5 -15 cm yang terdiri 2 3 untai yang dipintal dengan diameter 1,2 mm. Hal
ini dimaksudkan untuk mencegah terputusnya tali utama dengan mata
pancing sebagai akibat dari gigitan ikan.
c) Tali utama (main line), terbuat dari bahan sintetis polyethy lene
(PE)monofilament atau multifilament dengan panjang sekitar 1,5 2,5 meter
yang disesuaikan dengan panjang joran yang digunakan, cara pemancingan,
tinggi haluan kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali utama 0,2 0,5
cm.
d) Mata pancing (hook) dimana ujungnya tidak berkait balik dengan ukuran
menggunakan nomor mata pancing adalah 2,5 3. Pada bagian atas mata
pancing terdapat timah berbentuk silinder dengan panjang sekitar 2 cm
4

dengan diameter 8 mm dan dilapisi nikel sehingga berwarna mengkilap


sebagai dayatarik atau menarik perhatian ikan cakalang ( katsuwonus
pelamis). pada pangkal tali silinder terdapat kili -kili (swivel) sebagai mengikat
untuk menghindari kekusutan pada tali. Dibagian mata pancing potongan
dari tali-tali rafia berwarna merah yang membungkus rumbai -rumbai tali
merah juga berwarna dalam hal ini sebagai umpan tiruan. Pemilihan warna
merah ini disesuaikan dengan warna ikan umpan yang berwarna merah
perak sehingga menyerupai umpan hidup yang digunakan.

Gambar 2. Komponen Pole and Line

Konstruksi alat penangkap Huhate

e) Mata pancing (hook) dimana ujungnya tidak berkait balik dengan ukuran
menggunakan nomor mata pancing adalah 2,5 3. Pada bagian atas mata
pancing terdapat timah berbentuk si linder dengan panjang sekitar 2 cm
5

dengan diameter 8 mm dan dilapisi nikel sehi ngga berwarna mengkilap


sebagai dayatarik atau menarik perhatian ikan cakalang ( katsuwonus
pelamis). pada pangkal tali silinder terdapat kili-kili (swivel) sebagai mengikat
untuk menghindari kekusutan pada tali . Dibagian mata pancing potongan
dari tali-tali rafia berwarna merah yang membungkus rumbai -rumbai tali
merah juga berwarna dalam hal ini sebagai umpan tiruan. Pemilihan warna
merah ini disesuaikan dengan warna ikan umpan yang berwarna merah
sehingga menyerupai umpan hidup yang digunakan

Gambar 3.Mata Pancing sebagaiUmpan Tiruan.


6

Dalam pelaksanaan operasi penangkapan ikan dengan pole and line ini disamping
menggunakan umpan hidup yang tidak dikaitkan pada mata pancing (hanya ditebar
ke perairan)juga menggunakan umpan tiruan berupa, bulu ayam dan potongan tali
rafia.. Pemanfaatan umpan hidup ini untuk perhatian gerombolan ikan cakalang agar
lebih mendekat pada areal kapal untuk memudahkan pemancingan diatas kapal.
Sedangkan dalam melakukan operasi pemancingan digunakan pancing tanpa
dikaitkan ikan umpan (lihat gambar). Hal ini bertujuan untuk efisie nsi dan efektifitas
alat penangkap, karena ikan cakalang termasuk pemangsa yang rakus. Menurut
pendapatAyodhya (1981), bahwa jika ikan makin banyak dan makin bernafsu
memakan umpan, maka dipakai pancing tanpa umpan (umpan tirua.
7

BAB II
UMPAN HUHATE (POLE AND LINE)

Keberhasilan dalam penangkapan ikan dengan huhate sangat ditentukan oleh


tersedianya umpan hidup yang cukup disamping umpan tiruan sebagai
mempengaruhi ikan cakalang agar dapat memangsanya. Umpan hidup yang baik
untuk menangkap cakalang mempunyai sifat -sifat sebagai berikut; berenang cepat
menuju ke permukaan laut, berwarna perak atau yang menimbulkan refleksi baik di
air, segera kembali mendekati kapal jika telah dilempar jauh dari kapal ke laut.
Dalam usaha penangkapan ikan cakalang dengan menggunakan huhate ( pole
and line) biasanya dibutuhkan jenis ikan umpan, baik umpan tiruan maupun ikan
umpan hidup untuk mengumpulkan ikan cakalang ke area kapal. yaitu :
a) Umpan tiruan yang biasa dibuat dari bulu ayam dan dipasang pada mata
pancing atau kail..
b) Umpan hidup yang terdiri d ari jenis ikan teri, lalosi, dan tatahari.
c) Selain umpan hidup dilepaskan juga disemprotkan air dari sisi atau lambung
kapal sepanjang kapal atau sekeliling kapal, sehingga menimbulkan buih -buih
yang mengakibatkan ikan -ikan kecil atau umpan hidup senang ber ada disitu
sehingga ikan cakalangpun berkumpul didaerah tersebut.
Jadi fungsi dari pada umpan hidup dan semprotan air hanya sebagai mempengaruhi
perhatian agar gerombolan ikan cakalang tetap berkumpul di sekitar kapal, dengan
demikian akan mempermudah dala m proses pemancingan.

2.1 Jenis Jenis Umpan Hidup.


Umpan hidup merupakan faktor pembatas ( limiting faktor) dalam
penangkapan cakalang. h al ini memberikan petunjuk bahwa keberhasilan dalam
8

menangkap ikan cakalang tergantung dari jumlah umpan hidup yang digunakan.
Dalam penangkapan ikan cakalang dengan menggunakan huhate ( pole and line)
biasanya dibutuhkan beberapa jenis ikan umpan untuk nengumpulkan ikan cakalang
di area kapal penangkap ikan yang digunakan. Pada umumnya ada 6 jenis ikan
umpan hidup yang digunakan yaitu jenis ikan :
a) Puri kepala merah (Stelephorus divisi)
b) Puri kepala batu (Hypoat therina barnesi)
c) Puri gelas (Stolephorus indicus)
d) Gosao (Sprattelloides delicatulus)
e) Lompa (Thrissina baelama forska)
f) Tembang (Sardinela fimbriata)
Dari keenam jenis umpan yang digunakan memiliki karateristik yang tidak jauh
berbeda sebagai umpan penangkapan cakalang .

Gambar 4. Jenis-Jenis ikan Umpan


9

2.2 Penangkapan dan Pengadaan Umpan Hidup.


Alat penangkap yang digunakan untuk menangkap ikan sebagai umpan dalam
operasi penangkapan cakalang dengan huhate adalah jenis jaring yang dioperasikan
didaerah pantai, yaitu jaring lingkar lampara, mini purse seine. dan jaring angkat ( lift
net), stikckhelddipnet dan jaring kantong, bagan apung atau bagan tancap (FAO,
1980).
Dalam pengadaan ikan umpan pada umumnya kapal penangkap ikan
cakalang dengan pole and line bekerja sama atau membeli pada nelayan bagan, hal
ini dilakukan kapal penangkap ikan pole and line dalam operasi penangkapan ikan
di laut dapat lebih efekt if dan effisiensi waktu operasi penangkapan ikan sehingga
tidak mengganggu kegiatan dalam operasi penangkapan ikan.

Gambar 5, Bagan Tancap.


10

2.3 Pemeliharaan Umpan Hidup.


Segera setelah penangkapan ikan umpan selesai, maka yang perlu
diperhatikan adalah kelangsungan hidup ikan umpan tersebut sampai dengan waktu
penggunaannya di daerah penangkapan ikan ( fishing ground) huhate, oleh karena itu
perlu perhatian dalam pemeliharaan ikan umpan tersebut tetap hidup dalam palkah
atau bak yang diberi sirkula si air laut dan cukup oksigen agar dapat digunakan.

2.4 Syarat-syarat Umpan hidup


Walaupun jenis-jenis ikan umpan dapat digunakan untuk
penangkapan/pemancingan cakalang namun perlu diperhatikan terutama dalam
pemeliharaan agar dapat mempertahankan ikan umpan tetap hidup dan mutunya
hingga waktu penggunaan dalam operasi penangkapan deng an Pole and line. Hal
ini umpan hidup yang baik umumnya :
a) Warna terang/mengkilat putih/perak yang menimbulkan refleksi yang baik
di air.
b) Dapat hidup lama dalam bak penampungan.
c) Memiliki sisik tidak mudah lepas (mengurangi mortalitas kematian)
d) Ukuran panjang umumnya berkisar antara 10 12,5 cm, atau tergantung
dari jenis yang digunakan (Balai Penelitian Perikanan Laut, 1983)
e) Berenang cepat menuju permukaan air .
2.5 Tingkah Laku ikan Umpan.
Menurut S.M, Tampubolon (1980), ada beberapa ikan umpan yang memiliki
sifatsifat yang digunakan sebagai umpan hidup pada penangkapan ikan cakalang
dengan alat penangkap ikan huhate yaitu ikan umpan tersebut memilki sifat atau
tingkah laku memberi refleksi yang baik dipermukaan air, bila ditebarkan cenderung
untuk kembali mendekati kapal (untuk berlindung) antara lain ikan :
11

a) Puri (Stoleporus devisi), yang memiliki kepala berwarna merah dengan


ukuran panjang antara 6,5 72 mm.
b) Puri gelas (Steoleporus indikus) dengan ukuran panjang 73 mm.
12

BAB III
DAERAH PENANGKAPAN IKAN

Penentuan daerah penangkapan ikan yang umum dilakukan oleh nelayan


sejauh ini masih menggunakan cara -cara tradisional, yang diperoleh secara turun -
temurun. Akibatnya, tidak mampu mengatasi perubahan kondisi oseanografi dan
cuaca yang berkaitan erat dengan perubahan daerah penangkapan ikan yang
berubah secara dinamis. Ekspansi nelayan besar ke daerah penangkapan nelayan
kecil mengakibatkan terjadi persaingan yang kurang seh at bahkan sering terjadi
konflik antara nelayan besar dengan nelay an kecil. Secara garis besarnya daerah
penangkapan, penyebaran dan migrasi ikan sangat luas, yaitu meliputi daerah tropis
dan sub tropis dengan daerah penangkapan terbesar terdapat disekitar perairan
khatulistiwa.
Daerah penangkapan ikan merupakan salah satu faktor penting yang dapat
menentukan berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan ikan. Dalam
hubungannya dengan alat penangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah
baik dan dapat menguntungkan dalam arti ikan melimpah, berg erombol, daerah
aman, tidak jauh dari pelabuhan dan alat penangkap mudah dioperasikan, (Waluyo,
1987). Lebih lanjut Paulus (1986), menyatakan bahwa hal ini erat hubungannya
dengan kondisi oseanografi dan meteorologi suatu perairan dan faktor biologi dari
ikan-ikan itu sendiri. Musim penangkapan di perairan Indonesia bervariasi, musim
penangkapan di suatu perairan belum tentu sama dengan perairan yang lain.
Berbedadari musim ke musim dan bervariasi menurut lokasi penangkapan. Bila hasil
tangkapan lebih banya k dari biasanya disebut musim puncak dan apabila dihasilkan
lebih sedikit dari biasanya musim paceklik.
Pengetahuan mengenai penyebaran dan bioekologi berbagai jenis ikan
sangat penting artinya bagi usaha penangkapan, data dan informasi tentang
13

penyebaran dan bioekologi ikan pelagis sangat diperlukan dalam mengkaji daerah
penangkapan ikan di suatu perairan seperti perairan laut Banda, kawasan Timur
Indonesia, kawasan Samudera Hindia dan lain sebagainya.

3.1 Rumpon
Dalam upaya meningkatkan hasil tangkapa n ikan, khususnya ikan pelagis
adalah sangat terbatasnya alat bantu untuk menentukan atau mencari gerombolan
ikan berkaitan erat dengan daerah penangkapan ikan, seperti nelayan yang mau
menangkapan ikan yang berangkat dari pangkalan untuk menangkap ikan se hingga
selalu berada dalam ketidak pastian tentang lokasi yang potensial untuk
penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti.
Rumpon merupakan salah satu alat bantu untuk meningkatkan hasil
tangkapan dimana mempunyai konstruksi m enyerupai pepohonan yang dipasang
(ditanam) disuatu tempat di perairan laut yang berfungsi debagai tempat berlindung,
mencari makan, memijah, dan berkumpulnya ikan.Sehingga rumpon dapat diartikan
tempat berkumpulnya ikan.
Untuk mengefisiensikan operasi penangkapan ikan, rumpon merupakan alat
bantu penangkapan ikan yang berfungsi sebagai pembantu menari perhatian ikan
agar berkumpul disuatu tempat yang selanjutnya dilakukan penangkapan ikan.
Rumpon telah menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan dae rah penangkapan
buatan dan manfaat keberadaannya cukup besar. Sebelum mengenal rumpon,
nelayan menangkap ikan dengan cara mengejar ikan atau menangkap kolompok
ikan, yang terlihat di permukaan air. Saat ini makin berkembangnya rumpon maka
pada saat musim penangkapan, lokasi atau daerah penangkapan menjadi pasti
disuatu tempat yaitu di tempat lokasi rumpon. Dengan telah ditentukan daerah
penangkapan ikan, maka tujuan penangkapan oleh nelayan dapat menghemat
bahan bakar, karena para nelayan tidak lagi mencari dan menangkap kelompok
14

renang ikan dengan menyisir laut yang luas yang belum tentu kapan menemukan
adanya kelompok ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Nelayan di beberapa
daerah telah banyak menerapkan rumpon ini, di Utara pulau Jawa telah lama
mengenal rumpon untuk memikat ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga
memudahkan penangkapan ikan.Rumpon pada umumnya dipasang (ditanam) pada
kedalaman 30-75 meter, setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat -
angkat, tetapi ada juga yang bersifat tet ap tergantung pemberat yang digunakan.
Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat -angkat atau diatur
sedemikian rupa, maka waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara
keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan menggunakan bantuan perahu.

3.1.1 Fungsi Dan Manfaat Rumpon


Beberapa keuntungan dalam penggunaan rumpon yakni; memudahkan
pencarian gerombolan ikan, biaya eksploitasi dapat dikurangi dan dapat
dimanfaatkan oleh nelayan kecil, (DirektoratJenderal Perikanan, 1995)
Funsi rumpon sebagai alat bantu dalam penangkapan ikan adalah sebagai berikut ;
a) Sebagai tempat mengkonsentrasi ikan agar lebih mudah ditemukan
gerombolan.
b) Sebagai tempat berlindung bagi ikan dari serangan ikan predator.
c) Sebagai tempat berkumpulnya ikan
d) Sebagai tempat untuk memijah bagi ikan
e) Sebagi tempat pertumbuhan plankton
f) Sebagai tempat mencari makan
g) Sebagai tempat berkumpulnya ikan.
15

Gambar 6. Rumpon Permukaan

Banyak ikan-ikan kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon dimana ikan
dan plankton tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan besar. Ada beberapa
jenis ikan pelagis seperti tuna dan cakalang yang berkumpul di sekitar rumpon
sehingga nelayan dapat dengan mudah untuk menangkapnya.
Sedangkan manfaat dari rumpon adalah sebagai berikut ;
a) Memudahkan nelayan untuk mengoperasikan alat penangkapnya.
16

b) Mencegah terjadinya destruktif fishing, akibat penggunaan bahan peledak


dan bahan kimia/beracun
c) Meningkatkan produksi dan produktifitas nelayan
d) Nelayan dapat mudah untuk mengetahui banyaknya ikan di daerah
rumpon dengan ciri-ciri yang khas yaitu antara lain :
- Warna air lebih gelap dibandingka n dengan warna air disekitarnya
dibanding di sekitarnya karena banyak ikan ikan yang bergerombol.
- Banyaknya buih-buih atau gelembung udara dipermukaan air
- Adanya burung-burung yang menukik disekitar rumpom
- Adanya kelompok lumba-lumba di permukaan air.
Banyaknya buih-buih dipermukaan laut akibat udara yang dikeluarkan dari ikan,
burung-burung yang menukik dan menyambar -nyambar permukaan air dan
sebagainya. Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari atau senja hari
setelah matahari terbenam disaat- saat gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke
permukaan air. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu navigasi
elektronik seperti fish finder, sonar maka waktu operasi penangkapan ikan tidak
terbatas pada waktu dini hari atau senja hari, siang haripun jika gerombolan ikan
ditemukan segera dioperasikan alat penangkap ikan yang digunakan dalam hal ini
adalah pole and line atau hehate. Pada gambar berikut adalah kondisi senja hari
yang terlihat gerombolan ikan dengan adanya burung -burung yang sedang
berterbangan secara menukik ke permukaan airdengan menyambar ikan -ikan.
17

Gambar 7. Burung-Burung Menukik di Pe rmukaan Air.

3.1.2 Pemasangan Rumpon Pada Perairan


Rumpon dalam pemasangannya sesuai dengan area yang telah diatur pada
wilayah atau perairan :
a) Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil, (1 mil laut = 1852 meter), diukur dari
garis pantai pada titik surut terendah.
b) Perairan diatas 4 mil sampai dengan 12 mil, diukur dari garis pantai titik surut
terendah.
c) Perairan diatas 12 mil dan ZEE Indonesia, dan perorangan atau perusahaan
berbadan hukum yang akan memasang rumpon wajib terlebih dahulu
memperoleh izin.
Berdasarkan pemasangan rumpon dan pemanfaatan rumpon dibagi atas 3 jenis
yaitu :
a) Rumpon perairan dasar
b) Rumpon perairan dangkal
18

c) Rumpon perairan dalam.


Menurut Barus et al.(1992) menjelaskan bahwa metode pemasangan dari rumpon
laut dangkal dan dalam hamp ir sama, perbedaan hanya pada desain rumpon. Lokasi
atau daerah pemasangan rumpon serta bahan yang digunakan pada pembuatan dan
desain rumpon laut dangkal menggunakan bahan dari tumbuh -tumbuhan seperti
bambu, rotan, daun kelapa dan batu kali sebagai pember at. Sebaliknya pada rumpon
laut dalam sebagaian besar bahan yang digunakan untuk rumpon adalah bahan
sintetis,plat besi, ban bekas, tali baja, tali rafia, dan semen yang di cetak pada
sepotong drum (sebagai pemberat).
Pemiliham tempat pemasangan harus mem iliki kriteria sebagaiberikut ;
a) Merupakan daerah lintasan migrasi ikan yang menjadi tujuan tangkapan.
b) Tidak mengganggu alur pelayaran atau daerah yang dilarang memasang
rumpon
c) Mudah untuk mencari dan mencapainya.
d) Relatif dekat dengan pangkalan kapal
e) Dasar perairan relatif datar dan rata.
Pengusaha/nelayan yang akan memasang rumpon mengajukan permohonan iz in
kepada Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan dan Kelautan
Propinsi/Kabupaten/ Kota, sesuai kewenangan pemberi izin . Sesuai dengan Kepmen
Kelautan dan Perikanan No. 30/MEN/2004 tentang pemasangan dan pemanfaatan
rumpon.
Dalam permohonan izin harus dilakukan penilaian baik terhadap administrasi
pemohon maupun lokasi perairan.
19

3.2 Karakteristik Ikan


Ikan dalam arti sebenarnya adalah makhluk hidup/binatang bertulang
belakang yang selama hidup didalam air, bernafas dengan insang, berdarah dingin,
bersisik / tidak, dan bersirip (berpasangan dan tunggal). Ikan yang hidup di sekitar
rumpon ada yang hidup d i permukaan (pelagis), ada juga yang hidup di dasar
perairan (demersal).
Ikan yang hidup di permukaan perairan (pelagis) dengan ciri -ciri antara lain
seperti hidup bergerombol atau berkelompok, berenang cepat, warna cerah, pada
umumnya hidup di daerah ne ritik dengan kedalaman perairan 0 200 meter, ikan-
ikan pelagis ini banyak bernilai ekonomis penting . Sedangkan ikan-ikan yang hidup
di perairan dasar (demersal) dengan ciri -ciri antara lain warnanya gelap, pada
umumnya hidup tidak bergerombol (sendiri), bentuknya bervariasi.
Berdasarkan habitatnya ikan pelagis dibagi menjadi dua yaitu, pelagis kecil
dan pelagis besar. Menurut kajikanlaut 1998, yang termasuk ikan=ikan utama dalam
kelompok ikan pelagis besar diantaranya adalah Tuna, cakalang, tongkol, tengi ri,
dan cucut. Sedangkan pelagis kecil antara lain; Karangaid ( layang, selar, sunglir),
Klupeid (teri, japuh, tembang, lemuru, siro, dan Skombroid (kembung)

3.3 Biologi Ikan Cakalang


Hasil utama penangkapan dengan pole and line adalah Ikan cakalang, ika n
cakalang dikenal sebagai ikan pelagis . Untuk lebih jelasnya taksonomi ikan cakalang
adalah sebagi berikut :
Phylum : Vertebrata
Sub phylum : Craniata
Class : Perciforme
Famili : Scrombirane
Sub famili : Scrombirane
20

Tribe : Tunnini
Genus : Katsuwonus
Species : Pelamis

Ikan memilki bentuk seperti curutu ( fusifora) dengan kedua ujungnya meruncing agak
bulat dan terdapat dua lidah diantara sirip perutnya. Pada bagian dadanya terdapat
sisikyang tumbuh sebagai perisai dan pada bagian punggun g berwarna biru kehitam -
hitaman, bagian samping berwarna keperakkan, terdapat 4 -6 garis horizontal
berwarna hitam pada sisi perut. Panjang total badan rata -rata antara, 27 36 cm,
dan tinggi badan rata-rata antara 8,0 11 cm.
21

BAB IV
KAPAL PENANGKAP IKAN

4.1 Spesifikasi Kapal Pole and Line


Kapal pole and line umumnya telah dikenal oleh para nelayan sebagai kapal
huhate karena dilengkapi dengan bak umpan hidup ( life baittank), sistem percikan air
(spray water), Huhate (pole and line) dan palkah ikan (fish hold), namun penggunaan
kapal tersebut oleh para nelayan masih secara tradisional, baik dari bentuk serta
ukurannya masih belum sempurna, oleh karena rancang bangun kapal tersebut
tanpa didukung dengan rancangan/ desain yang tepat dancerm at.
Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang strem line dan mampu
berolah gerak, lincah dan tergolong kapal yang mempunyai speed service yaitu
diatas 10 knot dengan stabilitas yang baik untuk mengejar gerombolan ikan, yakni
kapal tersebut sambil olah gerak menangkap ikan, ( Direktorat Jenderal Perikanan,
1994).
Kapal huhate pada dasarnya digunakan untuk menangkap ikan tuna dan
cakalang. Pada saat pelaksanaan penangkapan ikan nelayan atau awak kapal
berada di lambung kapal atau para -para khusus dilambung kapal dan memancing
ikan dengan menggunakan alat penangkap pole and line serta bersamaan dengan
adanya sistem penyemprotan air sambil menaikkan ikan jika ikan terkait pada
pancing hal ini merupakan ciri khas dari kapal huhate. Kapal huhate biasa
digunakan untuk menanghkap atau memancing ikan cakalang yang terpikat dengan
umpan hidup serta semprotan air, oleh karena itu kapal huhate harus dilengkapi
dengan bak atau palkah penampung umpan hidup dan dibantu dengan sirkulasi air
dan dilengkapai denga n moto rbantu untuk mengalirkanair sprayer atau semprotan
22

air yang fungsinya adalah untuk mengelabui gerombolan ikan cakalang pada saat
penangkapan (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 1994)

Gambar 8, Spesifikasi Kapal Pole and Line

4.2 Perlengkapan Kapal Pole and Line


Kapal pole and line memilki alat bantu penangkapan dalam operasi
penangkapan ikan cakalang antara lain ;
a) Pila-Pila
Pila-pila difgunakan sebagai tempat para pemancing (awak kapal) yang letaknya
pada lambung, haluan dan buritan kapal.
b) Pipa Penyemprot Air
Pipa penyemprot digunakan untu k menyemprot air ke permukaan air di sekitar kapal
dengan posisi pada gerombolan ikan Tujuan dari penyemprotan air tersebut
23

adalah untuk mengelabui ikan -ikan yang berada di permukaan air yan g terdapat
gerombolan ikan didekat kapal. Pipa penyemprot ditempatkan di sepanjang pila -
pila atau sekeliling lambung kapal, bahan yang digunakan pila pila dari bahan
paralon atau dari pipa besi pada ujungnya dipasang kran diameter pipa 3,5
inchi.Tekanan penyemprotan air tersebut dilengkapi dengan pompa air (water
pump).
c) Bak umpan
Untuk mempertahankan ikan umpan tetap hidup saat digunakan, maka
memerlukan tempat atau bak. Pada bak umpan tersebut dilengkapi dengan
lampu penerangan dengan masing-masing bak 50 watt. Fungsi dari lampu
penerangan tersebut adalah ikan -ikan sebagai umpan dapat berkelompok atau
bergerombol dan tidak berenang secara liar, akibat dari tidak diberikan lampu
tersebut antar ikan-ikan sering bergerak secara tidak menentu, maka ikan sali ng
bertubrukan yang akan membuat ikan umpan tersebut rusak akhirnya liar tidak
dapat digunakan pada saat operasi penangkapan ikan atau waktu pemancingan.

Gambar 9. : Bentuk Kapal Pole and Line

Pila -pila
24

Gambar 10.Awak Kapal Sedang Memancing

Posisi Juru Umpan Pada Saat Penebaran Umpan Hidup

Para pemancing dengan posisi duduk di pila -pila bagian haluan kapal dan nampak
pada gambar semprotan air dengan tujuan agar gerombolan ikan cakalang tidak
menjauh dari kapal.
25

BAB V
METODE PENANGKAPAN IKAN

5.1 Persiapan Operasi Penangkapan Ikan


Sebelum kapal operasi penangkapan ikan di laut perlu dilakukan persiapan
baik persiapan di darat (dipelabuhan maupun persiapan berlayar menuju ke daerah
penangkapan ikan, persiapan persiapan terseb ut anta lain ; persiapan alat
penangkapan ikan, umpan hidup maupun persiapan alat bantu penangkapan,
persiapan perlengkapan kapal yaitu surat-surat kapal, alat alat navigasi, alat-alat
keselamatan jiwa manusia, bahan bakar, bahan pengawet ikan, bahan makanan,
termasuk persiapan umpan hidup .

5.2 Operasi Penangkapan Ikan .


Usaha penangkapan dengan huhate ( pole and line) yang biasa ditujukan
untuk penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) tetapi dalam kenyataannya
sering juga beberapa jenis ikan yan g tertangkap anatara lain :
a) Yellow fin tuna (Thunnus albacares)
b) Little tuna (Auxis thazard)
c) Lemadang (Coryphaena hippurus)
Ikan cakalang dikenal sebagai ikan pelagis yang hidup bergerombol dalam kelompok
yang padat serta bersifat rakus sehingga ikan tidak dapat lagi membedakan antara
umpan buatan (tiruan) dan umpan hidup. Sifat -sifat inilah yang dimanfaatkan oleh
para nelayan untuk menangkan dengan menggunakan huhate. Diperairan Indonesia
bagian Timur penangkapan ikan cakalang dapat dilakukan sepanjang tahu n,
terutama sekitar
Bulan-bulan September, Oktober, November dan Desember akan mencapai
puncaknya dan produksi akan menurun pada bulan Juli dan Agustus.
26

Setelah persiapan telah dilakukan, termasuk penyediaan umpan hidup, maka


dilakukan pencarian gerombolan ikan oleh seorang awak kapal untuk pengintai yang
tempatnya biasanya di anjungan kapal atau ditempatkan di tiang jika kapal dilengkapi
dengan tempat pengintaian dengan menggunakan teropong.
Pengoperasian bisa juga dilakukan di dekat rumpon yang telah dipasang
terlebih dahulu. Setelah menemukan gerombolan ikan cakalang dengan adanya
tanda-tanda kawanan burung beterbangan, buih -buih air laut, dan harus diketahui
arah renang ikan tersebut kemudian mendekati gerombolan ikan tersebut dengan
cara mengolah gerak kapal agar kedudukan kapal atau posisi kapal menjadi
sedemikian rupa sehingga.
a) Kapal selalu berada di bawah angin
b) Gerombolan ikan selalu berada disebelah kiri /kanan lambung kapal
c) Pada waktu kapal akan memotong arah renang gerombolan ikan, harus sudah
diketahui kemana arah renang gerombolan ikan.
Dalam olah gerak kapal, arah haluan kapal dalam memposisikan untuk mendekat
pada gerombolan ikan yang benar ( correct) adalah dari arah sebelah kiri atau kanan
dari gerombolan ikan..
27

Gambar 11. Arah Gerakkan Kapal

ArahBenar Arah Benar

ikan

Arah Salah

Cara mendekati gerombolan ikan harus dari sisi kiri ata Su kanan dan bukan dari
arah belakanggerombolan ikan.
Keberhasilan penangkapan ikan dengan huhate sangat ditentukan oleh
tersedianya umpan hidup yang cukup dan ketrampilan para pemancing atau awak
kapal. Saat setelah kapal sudah berada didekat gerombolan ikan pelemparan umpan
yang dilakukan oleh seorang awak kapal yang disebutdengan boy -boy. Setelah
gerombolan ikan telah berada dalam jarak jangkauan lemparan umpan, kemudian
gerombolan ikan cakalang diusahakan digiring ke arah haluan kapal. Pelemparan
umpan hidup diusahakan secepat mungkin karena ikan umpan juga berguna untuk
mempertahankan adanya gerombolan ikan, selain dari pada itu dengankecepatan
pelemparan ikan umpan dilakukan sehingga gerakan ikan dapat mengikuti
semprotan air yang sudah difungsikan agar ikan tetap berada didekat kapal. Pada
28

saat gerombolan ikan berada dekat haluan kapal, maka mesin kapal distop sehingga
kapal tidak ada laju. Sementara jumlah umpan dilemparkankan ke laut dikurangi,
agar persediaan umpan cukup efektif (tidak pemborosan). Selanjutnya pemancingan
yang dilakukan oleh awak kapal yang berdiri di pila -pila sambil mengarahkan pancing
dengan joran ke ikan yang bergerombol dan diupayakan agar pemancingan dengan
secepat mungkin mengingat gerombolan ikan kadang -kadang secara tiba-tiba
menghilang, hal ini terutama jika ada ikan yang tertangkap atau terkait pancing
berdarah, atau ada ikan yang terlepas dari mata pancing dan jumlah umpan sangat
terbatas. Pemancingan d ilakukan dengan waktu antara 15 30 menit, hal tersebut
salah satunya tergantung dari populasi atau kepadatan gerombolan ikan yang telah
di tangkap.

5.3 Faktor Penggunaan Ikan Umpan


Ikan umpan hidup merupakan faktor utama dalam melakukan pemancingan
cakalang dengan pole and line, karena ikan umpan hidup berfungsi sebagai menarik
atau menggiring gerombolan ikan cakalang agar dapat mendekat ke kapal yang
selanjut dilakukan kegiatan pemancingan oleh para awak kapal.
Untuk menggiring gerombolan ikan cakala ng tersebut perlu seorang yang
memiliki keahlian dan pengalaman khusus yang biasa disebut dengan istilah boy -boy
(juru umpan). Pada saat operasi penangkapan ikan cakalang dengan menggunakan
dengan pole ang line boy -boymemegang peranan penting dalam melakuk an
pelemparan umpan di laut (di gerombolan ikan cakalang). Selain berguna untuk
menarik perhatian ikan cakalang di permukaan air, juga untuk mempertahankan agar
ikan cakalang tidak menghilang atau berenang secara vertikal akhirnya ikan
cakalang menjauh dari area kapal yang sedang dilakukan pemancingan.
29

Rangkuman

Alat penangkap ikan pole and line atau sering disebut dengan
huhate adalah alat penangkap ikan yang ditujukan untuk menangkap
ikan jenis ikan-ikan pelagis (permukaan) khususnya ikan cakalang.
Pole ang line konsturksinya sangat sederhana terdiri dari joran, tali
pancing dan mata pancing, khusus untuk mata pancing tidak seperti
mata pancing pada umumnya yaitu mata pancing yang tidak berkait
balik, hal ini bertujuan jika ikan yang te rtangkap dengan pole and line
akan mudah lepas atau terlepas dari mata pancing. Mata pancing ini
juga berfungsi sebagai umpan tiruan dengan dibuat sedemikian rupa
sehingga menyerupai ikan umpan yang dikaitkan pada mata panc ing.
Joran adalah sebagai pemegang tali pancing umumnya terbuat dari
bahan bambu berwarna kuning atau saat ini banyak yang terbuat dari
bahan fibre dan plastik.
Keberhasilan dalam penangkapan ikan tergantung dari umpan
hidup yang digunakan dan ketrampilan para awak kapal, Umpan hidup
yang digunakan dengan cara dilemparkan kearah gerombolan ikan
cakalang setelah berdekatan dengan kapal yang digunakan. Umpan
hidup diperoleh dari nelayan bagan tancap dengan jenis ikan teri atau
puri dan tembang.
30

kapal penangkap ikan pole ang line dilengkapi denga bak atau
tempat umpan hidup agar umpan hidup tersebut dapat deipertahankan
hidup hingga waktu penggunaannya di daerah penangkapan ikan . Kapal
yang digunakan untuk [enangkapan tersebut dilengkapi dengan pipa -
pipa yang terpasang di sepanjang lambung kapal khususnya di bagian
haluan, jika ikan cakalang sudah berada didekat kapal untu k ditangkap
dengan pancing pole and line , air semprotan dilakukan melalui pipa
tersebut kearah gerombolan ikan yang berada dekat kapal.
Agar dapat mempertahankan gerombolan ikan cakalang tetap
berada di sekitar kapal maka perlu dihindari adanya tetesan darah dari
ikan cakalang yang tertangkap, oleh karena itu jika ikan sudah terkait di
mata pancingsesegera mungkin diangkat ke atas kapal melalui atas
kepala para pemancing. Jadi sebelum di lakukan operasi penangkapan
dengan pemancingan, pertama -tama ditemuakan gerombolan ikan yang
menjadi tujuan tangkap pole and line.
Latihan Soal.

1. Mengapa ikan yang tertangkap dengan pole and line mudah lepas dari mata
pancing ?
2. Pada umumnya jenis ikan apa saja yang tertang kap dengan alat penangkap
dengan pole and line ?
3. Faktor-faktor apa saja untuk dapat mempertahankan adanya gerombolan ikan
cakalang di sekitaran kapal ?
31

4. Sebutkan jenis ikan umpan hidup untuk menangkap ikan cakalang dengan
pole and line (tiga jenis saja)
5. Sebutkan tanda-tanda adanya gerombolan ikan cakalang di permukaan air ?
6. Sebutkan spesifikasi atau komponen alat penangkap ikan pole and line atau
huhate ?
7. Sebutkan alat bantu pengumpul ikan untuk penangkapan ikann dengan pole
and line ?
8. Ada dua jenis umpan yang digunakan dalam penangkapan dengan huhate
sebutkan dan jelaskan masing -masing jenis umpan tersebut. ?
9. Berapa panjang joran yang ideal dan dari bahan apa yang digunakan pada
alatpenangkap huhate ?
10. Berapa panjang tali pancing dan dar bahan apa yang digunakan ?
32

DAFTAR PUSTAKA

Adna 1977, Buletin Penelitin Perikanan , Juli 1981 No. 3 Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertania.

Balai Ketrampilan penangkapan Ikan, 1981, Buku Pegangan Peserta Latihan diBalai
Ketrampilan Penangkapan Ikan , Direktoran Jenderal Perikanan, Ambon.

Balai Penelitian Perikanan Laut, 1983, Laporan Penetian Perikanan Laut, Jakarta

Badan Riset Perikanan Tang kap, 2006, Buletin Teknik Litkayasa Sumber dayadan
Penangkapan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan , Jakarta

Direktorat Jendral Perikanan, 1994. Paket Teknologi Kapal Pole and Line .
Departemen Pertanian, Jakarta

Sudirman, Malawa, A. 2004, Teknik Penangkapan Ikan. RINEKA CIPTA

Tampubolon, SM. 1980, Persiapan dan Pengoperasian Pole and Line . Ikatan Alumni
Fakultas Pertanian Bogor.

Waluyo Subani, 1982. Ikan Umpan Hidup Sebagai Penunjang PerikananCakalang ,


LIPI. No. 30, Jakarta.

www.Google. Com, Gambar Alat Penangkap ikan pole and line, kapal