Anda di halaman 1dari 9

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah.

Apalagi jika orangtua


mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih.
Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan
membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di
lingkungannya cukup berisiko. Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif
untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?
Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak. Bukan saja
sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak sulit diatur, tetapi juga
tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar
dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu. Anak dulu kan takut dan segan sama
orangtua dan guru. Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur. Ada saja alasan
mereka!
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya. Yang paling sederhana, misalnya,
menyuruh anak shalat. Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak,
atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat. Di satu sisi banyak juga
ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat.
Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau
nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah
diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat
dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti
anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan
informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam. Informasi yang diberikan
meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.
Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting
adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada
tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan,
anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak
bisa anak didoktrin dengan ancaman, Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak
akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia
harus shalat. Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar
anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar
tidak ganti mengomeli Andakarena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar
memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara
untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah
sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan
menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi
anak yang tidak gaul.
Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua. Orangtualah yang akan sangat
mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah
saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).
Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah. Sejak si
bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung
mengagungkan asma Allah. Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk
membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran. Pada usia dini anak harus diajak
untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan
seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat
kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak
mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat,
Maha Mendengar, dan seterusnya. Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah,
akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan
bergantung hanya kepada Allah. Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih
kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang
dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara
bertahap. Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang
melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau
membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlq al-karmah seperti berbakti kepada
orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak
berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya. Jangan
sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan
untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.
Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat
contoh real pada orangtuanya. Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang
harus menjadi panutan. Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan
contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih. Insya
Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak
antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang
berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan
orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak
yang mencari-cari alasan agar tidak shalat. Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara
ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia
mengatakan, Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk,
nih
Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si
anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam. Anak juga membutuhkan sosialisasi
dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun
masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak.
Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga
oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim
sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme,
sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi
keluarga Muslim. Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang
membuatnya berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam
dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang
bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak.
Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang
bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul
generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. []
BOX:
Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah
Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.
Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.
Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.
Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana
Anda dan anak Anda berperan aktif.
Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya,
lingkungannya, dan dakwah Islam.

Pendidikan anak dimulai dari awal pernikahan hingga hadir seorang anak dalam
rumah tangga.

Anak merupakan salah satu anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada seluruh
umat manusia. Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi generasi
penerus keturunan dari orang tuanya.
Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ''Sesungguhnya, setiap anak yang
dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang
tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.''
Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana
sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta
keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang
tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang
tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT.
Dalam Alquran atau hadis Nabi Muhammad SAW, telah diterangkan tentang tata cara
mendidik anak. Di antaranya adalah harus taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, tidak
menyekutukan Allah, tidak membantah perintah-Nya, tidak berbohong, dan sebagainya.
[Lihat QS 9:23, 17:23, 17:24, 29:8, 31:15, 37:102, 2:83, 4:36, 6:151, 12:99, 12:100, 17:23,
17:24, 19:14, 19:32, 29:8, 31:14, 46:15].
Apabila telah dewasa, seorang anak berkewajiban untuk memberi nafkah kepada kedua orang
tuanya [2:215, 30:38], anak juga berkewajiban memberikan nasihat kepada orang tua [QS
19:42, 19:43, 19:44, 19:45], mendoakannya [QS 14:41, 17:23, 17:24, 19:47, 26:86, 31:14,
71:28], serta memelihara dan merawatnya ketika mereka sudah tua [QS 17:23, 17:24, 29:8,
31:14, 31:15, 46:15].

Pendidikan anak
Berkenaan dengan cara mendidik anak ini, Abdullah Nashih Ulwan merumuskan tata cara
mendidik anak dengan baik dan benar. Sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah
SAW. Secara lengkap, ia menuliskannya dalam sebuah kitab yang berjudul Tarbiyah al-Awlad
fi al-Islam (Pendidikan Anak Menurut Islam).
Secara umum, isi kitab ini sangat mendasar, padat, komprehensif, dan lengkap dengan
petunjuk praktis dalam mendidik dan membimbing seorang anak agar menjadi anak yang
saleh.
Secara lebih khusus lagi, setidaknya ada dua persoalan inti dari karya Abdullah Nashih Ulwan
ini. Pertama, visinya tentang makna pendidikan. Menurut Ulwan, pendidikan bukan sekadar
perlakuan tertentu yang diberikan kepada anak untuk mencapai sebuah tujuan.
Kedua, visi tentang pendidikan anak. Dalam pandangan Ulwan, setiap anak memiliki
kehidupan sosial, biologis, intelektual, psikis, dan seks. Dalam kehidupan sosial, setiap anak
pasti terlibat dengan berbagai pihak, seperti orang tua, guru, tema, tetangga, dan orang
dewasa. Dan, anak tidak dengan sendirinya dapat berhubungan dengan berbagai pihak itu
sesuai atau selaras dengan tuntunan Alquran dan sunah (Islam). Karena itulah, kata Ulwan,
setiap anak memerlukan bimbingan dan nasihat agar mereka bisa berjalan dengan lurus.

Pernikahan
Dari kedua visi yang dimaksudkan Ulwan, terutama pada visi pertama mengenai pendidikan,
ia memulainya dengan bab pernikahan. Tentu, ada pertanyaan besar, mengapa masalah
pernikahan ditempatkan pada urutan pertama mengenai pendidikan anak dalam kitab ini?
Bagi Ulwan, pernikahan adalah awal mula terjadinya hubungan dan interaksi antara seorang
suami dan istri dalam melanjutkan garis keturunan. Ulwan tidak membatasi pernikahan itu
pada hubungan ragawi antara seorang pria dan wanita belaka. Ia lebih menyingkap makna
pernikahan dalam rangka keberadaan atau eksistensi manusia, menyangkut kemaslahatan
hidup pasangan suami istri.
Kemaslahatan hidup yang damai, indah, tenteram, dan bahagia baru bisa diwujudkan dari
sebuah pernikahan. Sebab, dari pernikahan akan terjadi peningkatan tanggung jawab, baik
sebagai seorang suami dan istri maupun sebagai pasangan ayah dan ibu (orang tua). Karena
itulah, jelas Ulwan, sebelum menikah, seorang suami atau istri harus mencari pasangan yang
berasal dari keluarga yang baik, taat beragama, kaya, dan gagah (tampan, cantik). Tujuannya
agar dapat terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Sebuah pernikahan sangat berkaitan erat dengan keturunan (anak). Anak merupakan pelanjut
(penerus) eksistensi sebuah keluarga. Karena itu, Islam mengajarkan pula agar sebelum
menikah hendaknya dapat diketahui keluarga pasangan mempunyai keturunan yang banyak
(mudah melahirkan, tidak mandul).
Abdullah Nashih Ulwan menempatkan pernikahan sebagai prasyarat untuk menyelenggarakan
pendidikan anak secara Islami. Prasyarat lainnya adalah kasih sayang yang harus tercermin
pada seluruh perilaku orang tua dalam berhubungan dengan anak yang sekaligus
dipersepsikan oleh anak sebagai ungkapan kasih sayang dari orang tuanya.

Sejak dini
Ulwan menambahkan, prasyarat pendidikan harus dimulai sejak dini. Ketika anak masih
berada dalam kandungan, seorang ibu harus rajin mengajarkan akhlak yang positif.
Selanjutnya, ketika anak telah dilahirkan ke dunia, langkah awal adalah dengan
dilantunkannya kalimat tauhid (azan pada telinga kanan dan iqamat di telinga kiri).
Kemudian, orang tua berkewajiban untuk memberikan nama yang baik pada anak, melakukan
akikah (pemotongan hewan dan rambut anak), mengkhitankannya, dan menyekolahkannya.
Hal tersebut, kata pengarang kitab ini, merupakan manifestasi dari kepedulian orang tua
terhadap anak dalam mendidiknya, yang dimulai sejak dari kandungan, saat kelahiran, hingga
ia mulai beranjak dewasa. Dan, pendidikan pada anak ini harus dilakukan secara simultan dan
berkesinambungan, tanpa henti.
Belajar dari Kehidupan

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah
pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari
kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.
Mengutip kata-kata Dorothy Law Nolte, setiap anak akan belajar dari kehidupannya. Berikut
pandangan Dorothy Law Nolte bila anak dibesarkan dengan berbagai sikap dari kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta
dalam kehidupan.

Mengembangkan Kepribadian dan Jiwa Sosial Anak

Sebagaimana dikatakan Dorothy Law Notle, seorang anak akan senantiasa belajar dari
kehidupannya. Bila kehidupannya mengajarkan sesuatu yang baik, anak pun akan turut
menjadi baik. Sebaliknya, bila lingkungan dan kehidupannya mengajarkan anak perbuatan
buruk, sikap dan tindakan kesehariannya pun akan buruk pula.
Dalam kitab Tarbiyah al-Awlad fi Al-Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan anak
khususnya tentang kepribadian dan jiwa sosial anak sangat penting. Sebab, dari kepribadian
dan jiwa sosialnya akan terbentuk karakter anak tersebut.
Dalam visinya tentang pendidikan anak, Ulwan membagi cara pendidikan anak dalam
beberapa hal. Di antaranya adalah kehidupan biologis, intelektual, psikis, sosial, dan seks.
Dalam kehidupan biologis, orang tua berkewajiban memerhatikan kesehatan mental dan jiwa
anak. Anak berhak mendapatkan makanan, minuman, tempat tidur, pakaian, olahraga, dan
kesegaran jasmani dari kedua orang tuanya.
Sementara itu, dalam kehidupan intelektual, orang tua berkewajiban memasukkan anak pada
lembaga pendidikan (sekolah) yang sesuai dengan kemampuan anak. Anak memiliki akal
sehat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (ilmu). Potensi ini memberikan dorongan kepada
anak untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya.
Dari sisi kehidupan psikis, Ulwan menyoroti sifat negatif dan positif yang sering dijumpai
pada anak. Sifat negatif di antaranya malu tidak pada tempatnya, takut, rendah diri, marah,
hasut, iri hati, dan lain sebagainya. Sifat negatif ini akan diimbangi oleh sifat positif, seperti
rasa cinta dan kasih sayang serta keadilan.

Kehidupan sosial
Dalam kehidupan sosial, Ulwan memandang bahwa setiap anak akan terlibat dalam
kehidupan pihak lain (orang tua, teman, guru, tetangga, dan masyarakat). Dan, ia sangat
bergantung pada kehidupannya itu.
Dalam pandangan Ulwan, segi kehidupan sosial anak itu meliputi semangat persaudaraan,
kasih sayang, toleransi, pemaaf, berpegang pada keyakinan (kebenaran), dan tanggung jawab.
Kemudian, dalam pergaulan sehari-hari, anak akan belajar kaidah kehidupan, seperti etika
makan, minum, tidur, belajar, hormat pada orang tua, teman, tetangga, orang yang lebih
dewasa, dan lainnya.
Yang tak kalah pentingnya dari kehidupan sosial ini adalah pendidikan seks. Menurut Ulwan,
yang dimaksud pendidikan seks adalah masalah mengajarkan, memberi pengertian, dan
menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan seks, naluri, dan perkawinan pada
anak sejak akalnya tumbuh dan siap memahami hal-hal di atas. Hal itu diajarkan sesuai
dengan tuntunan Alquran atau sunah Rasulullah SAW.
Dalam pandangan Ulwan, ada beberapa cara dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak.
Ia membagi cara pengajaran pendidikan seks pada anak dalam beberapa tingkatan.
(1) Untuk anak berusia 7-10 tahun, anak diajari tentang sopan santun dan meminta izin masuk
rumah orang lain dan santun cara memandang.
(2) Pada usia 10-11 tahun, ketika anak memasuki masa pubertas, anak harus dijauhkan dari
hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan birahinya.
(3) Pada usia 14-16 tahun, yang disebut dengan usia remaja, anak harus diajari etika bergaul
dengan lawan jenis bila ia sudah matang untuk menempuh perkawinan.
(4) Setelah melewati masa remaja, yang disebut dengan masa pemuda, anak harus diajari etika
menahan diri bila ia tidak mampu kawin. Rasulullah SAW mengajarkan berpuasa.
(5) Pada usia yang sudah cukup, segeralah menikahkan anak.
Bolehkah mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini? Pertanyaan ini kerap
diajukan masyarakat mengenai pendidikan seks pada anak. Mereka khawatir bila pendidikan
seks diajarkan sejak dini, setiap anak akan mencoba melakukannya. Apalagi, tidak setiap saat
anak berada dalam pengawasan.
Menurut Ulwan, boleh saja mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Namun,
harus dengan cara yang benar dan hati-hati. Menurutnya, ada pendidikan seks yang boleh
diajarkan sejak dini dan ada yang tidak perlu disampaikan. Karena itu, jelas Ulwan,
dibutuhkan kehati-hatian orang tua dalam mengajarkan pendidikan seks.
Kisah, keterkaiatannya dengan pendidikan anak, memiliki peran yang sangat penting, lantaran
kisah juga merupakan salah satu metode pengajaran. Dalam Al-Qur`an, Allah Subhanahu wa
Ta'ala telah mengajarkan berbagai kisah dari umat-umat terdahulu. Sehingga secara langsung
bisa dipahami, bahwa Islam memberikan perhatian yang besar terhadap masalah ini, yaitu
dengan menyebutkan kisah-kisah yang mendidik dan bermanfaat sebagai metode dalam
menyampaikan pengajaran. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mencontohkan
kisah tentang Luqman Al-Hakim yang memberi wasiat kepada anaknya dengan wasiat yang
sangat penting dan berharga.
"Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka
kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu . . ."
[An-Nisa/4:164].
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang
mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan
rahmat bagi kaum yang beriman". [Yusuf/12:111].
Inilah di antara metode yang digunakan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah dalam masalah
pengajaran, yaitu dengan menuturkan kisah-kisah teladan. Kita dapatkan bahwasanya
memberi nasihat dengan menuturkan cerita-cerita yang menarik, akan memberikan pengaruh
yang besar pada jiwa anak-anak, apalagi jika sang penuturnya juga mempunyai cara yang
menarik dalam menyampaikannya, sehingga mampu mempesona dan memberikan pengaruh
mendalam bagi yang mendengarnya. Karena ciri khas kisah-kisah teladan, ia mampu
memberikan pengaruh bagi yang membacanya maupun yang mendengarkannya. Oleh
karenanya, sepatutnya sebagai pendidik, juga memberikan perhatian ketika menerapkan
metode ini.
Terlebih lagi, di tengah masyarakat sejak dahulu telah merebak berbagai kisah ataupun
hikayat yang tidak diketahui asal-usulnya. Banyaknya cerita fiktif dan sarat dengan kedustaan
yang dijadikan sebagai sandaran dalam memberikan pengajaran kepada manusia umumnya,
dan khusus kepada anak-anak. Kisah-kisah fiktif ini telah mempengaruhi pola pikir anak-anak
kita. Misalnya menjadikan para penjahat sebagai pahlawan, dan orang-orang yang buruk
perangainya menjadi sang pemenang, ataupun orang-orang fasik menjadi idola. Ini
merupakan kejahatan terhadap anak-anak kita, dan cepat atau lambat akan menumbuhkan
dampak buruk bagi anak didik kita.

HADIRKAN KISAH-KISAH TELADAN


Setelah mengetahui kandungan dan kemungkinan munculnya dampat negatif dari kisah-kisah
fiktif tersebut, maka menjadi kewajiban kita untuk mengarahkan anak-anak agar menjauhi
kisah-kisah fiktif dan penuh kedustaan tersebut. Kemudian mereka didekatkan dengan kisah-
kisah teladan penuh hikmah. Misalnya kisah tentang para nabi Allah. Kisah-kisah teladan
inilah yang semestinya mewarnai kehidupan anak-anak kita.
"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk
mereka". [Al-An'am/6:90].
Seperti halnya kisah Nabi Yunus Alaihissalam ketika berada di dalam perut ikan paus, Nabi
Sulaiman Alaihissalam dengan burung Hud-Hud, juga kisah Nabi Yusuf Alaihissalam dengan
saudara-saudaranya. Demikian pula kisah Nabi Musa Alaihissalam dengan Khidir, dan kisah-
kisah lainnya.
Begitu juga anak harus didekatkan dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari sirah
beliau ini, kita dapat memetik banyak pelajaran, sejak beliau masih di dalam kandungan,
kemudian bapak beliau meninggal, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim, dan
seterusnya. Banyak pula peristiwa-peristiwa besar yang beliau lewati, sehingga membawa
perubahan besar bagi umat manusia. Begitu juga dengan kisah-kisah yang beliau tuturkan
dalam hadits-hadist yang shahih. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak
menyebut Allah" [Al-Ahzab/33:21].

Demikian juga kita bisa menuturkan kepada anak-anak dengan kisah-kisah para sahabat Nabi,
sebagaimana yang dipaparkan oleh seorang penyair:
Jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka, (maka) contohlah mereka!
Karena sesungguhnya, meneladani orang-orang mulia, merupakan keutamaan.
Sebagai contoh, kisah yang disebutkan dalam sirah 'Umar bin 'Abdil-'Azis (Juz 1, hlm 23).
Yaitu kisah Amirul-Mukminin 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu dengan seorang
wanita. Tatkala Khalifah 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu memegang tampuk
pemerintahan, beliau melarang mencampur susu dengan air.
Awal kisah, pada suatu malam Khalifah 'Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu pergi ke
daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak, bersandarlah beliau di tembok salah
satu rumah. Terdengarlah oleh beliau suara seorang perempuan yang memerintahkan anak
perempuannya untuk mencampur susu dengan air. Tetapi anak perempuan yang diperintahkan
tersebut menolak dan berkata: "Bagaimana aku hendak mencampurkannya, sedangkan
Khalifah 'Umar melarangnya?"
Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: "Umar tidak akan
mengetahui."
Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: "Kalaupun 'Umar tidak
mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan pernah mau melakukannya.
Dia telah melarangnya."
Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati 'Umar. Sehingga pada pagi
harinya, anaknya yang bernama 'Ashim, beliau panggil untuk pergi ke rumah wanita tersebut.
Diceritakanlah ciri-ciri anak tersebut dan tempat tinggalnya, dan beliau berkata: "Pergilah,
wahai anakku dan nikahilah anak tersebut," maka menikahlah 'Ashim dengan wanita tersebut,
dan lahirlah seorang anak perempuan, yang darinya kelak akan lahir Khalifah 'Umar bin
'Abdil 'Azis.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut.
- Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
- Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla,
baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.
- Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.
- Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.
Penggalan kisah ini hanya sekedar contoh, bagaimana cara kita mengambil pelajaran berharga
dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada anak-anak kita, dan masih banyak contoh
lainnya, baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits yang bisa digali dan jadikan sebagai
kisah-kisah yang layak dituturkan kepada anak-anak kita.

PELAJARAN DAN KEUTAMAAN KISAH-KISAH TELADAN


Kisah-kisah teladan mempunyai keistimewaan yang sangat berbeda dengan kisah-kisah fiktif
maupun mitos, yaitu dari sisi kebenarannya, dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Di
dalamnya juga terkandung tujuan-tujuan mulia.
1). Kisah mampu memberikan peran yang penting dalam menarik perhatian, mengembangkan
pikiran dan akal anak. Karena dengan mendengarkannya, dapat mendatangkan kesenangan
dan kegembiraan.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terbiasa membawakan kisah di hadapan para sahabat, baik
yang muda maupun yang tua. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap kisah
yang dituturkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lampau, agar bisa
mengambil pelajaran darinya, baik oleh orang-orang sekarang maupun sesudahnya hingga
hari Kiamat
2). Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan kepercayaan anak-anak terhadap sejarah tokoh
yang menjadi tauladan mereka. Sehingga akan menambah semangat untuk maju, serta
membangkitkan semangat ke-islaman mereka agar lebih mendalam dan menggelora.
3). Kisah-kisah para ulama yang mengamalkan ilmunya, demikian juga kisah-kisah orang-
orang shalih merupakan sarana terbaik untuk menanamkan berbagai sifat utama pada diri
anak-anak, serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan untuk meraih
tujuan mulia dan luhur.
4). Kisah-kisah teladan juga akan membangkitkan anak-anak untuk mengambil teladan dari
orang-orang yang mempunyai tekad kuat dan mau berkorban, sehingga ia akan terus naik
menuju derajat yang tinggi dan terhormat.
5). Tujuan utama menuturkan kisah-kisah teladan tersebut, yaitu untuk mendidik dan
membersihkan jiwa, bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang atau menikmati kisah-
kisah itu saja.
Oleh karena itulah, cerita juga memiliki peran sangat penting dalam mencapai tujuan-tujuan
mulia tersebut. Sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga banyak memaparkan kisah
orang-orang terdahulu kepada para sahabatnya, untuk kemudian diambil pelajaran dan
peringatan darinya. Kebiasaan beliau n dalam berkisah, beliau mendahului dengan uangkapan
telah terjadi pada orang-orang sebelum kalian", kemudian beliau n menuturkan kisah
tersebut, dan para sahabat mendengarkannya dengan seksama sampai selesai. Dalam hal ini,
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menerapkan metode Ilahi, sebagaimana firman-Nya Azza
wa Jalla.