Anda di halaman 1dari 4

No.

: 078/UKK-IPT/XI/2017
Lamp. : 1 (satu) berkas
Hal : Proposal Kegiatan

Bandung, 28 November 2017

Kepada Yth.
Ketua PP IDAI
DR. Dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP
di
Tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan adanya kejadian luar biasa difteri di beberapa wilayah Republik
Indonesia, kami UKK Infeksi & Penyakit Tropis memberikan masukan kepada PP IDAI
sebagai berikut:

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium


diphtheriae yang menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat
sumbatan saluran napas atas atau toksinnya yang bersifat patogen, yang menimbulkan
komplikasi miokarditis, paralisis saraf kranial dan perifer, artritis, osteomielitis, gagal
ginjal, gagal napas, serta gagal sirkulasi.

Masa inkubasi 2-6 hari (1-10 hari) dengan tanda dan gejala utama berupa nyeri
menelan, adanya pseudomembran pada tonsil dan/atau faring dan/atau laring, serta
demam tidak terlalu tinggi (pada umumnya <38,50C). Pada kasus lebih berat dapat
disertai edema jaringan lunak leher (bull neck).

Klasifikasi kasus difteri dapat dibagi 2, yaitu:


1. Kasus probabel/tersangka difteri, merupakan kasus dengan tanda dan gejala
gangguan saluran napas adanya pseudomembran pada hidung, faring, tonsil, atau
laring (dengan catatan setelah penyebab lain disingkirkan)
2. Kasus konfirmasi apabila terdapat tanda dan gejala gangguan saluran napas atas
disertai adanya pseudomembran pada hidung, faring, tonsil, atau laring, dengan
salah satu kriteria di bawah ini:
- hasil kultur dari swab tenggorok atau hidung positif C. diphtheriae, atau
- Kasus secara epidemiologi terkait dengan kasus konfirmasi

Laporan Surveilans Difteri sampai minggu ke-44 tahun 2017 memberikan gambaran
mengenai penyebaran kasus di berbagai provinsi di Indonesia, belum dijelaskan
apakah data tersebut merupakan kasus probabel/tersangka atau sudah konfirmasi.

Sekretariat: Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK Unpad/RSUP Dr. Hasan Sadikin


Jl. Pasteur No. 38, Bandung 40161. Telp.: (022) 2035957. Fax: (022) 2035957
E-mail: infeksi_bdg@yahoo.com
Gambar 1 Surveilans Difteri di Indonesia, November 2017

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1501/


MENKES/PER/X/2010 Tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan 1
kasus difteria klinis dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa dan
pernyataan/pengumuman akan dilaksanakan oleh Pemda setempat.

Untuk itu, pernyataan resmi IDAI terkait dengan kasus difteri di berbagai provinsi di
Indonesia, berupa perlunya kerjasama semua pihak, termasuk dalam hal ini Kemenkes-
Pemda-IDAI sebagai Organisasi Profesi untuk bekerja sama dalam menekan kejadian
difteri, sbb.:

1. Dimulai dengan pertemuan untuk menyamakan persepsi dan tujuan


2. Mendapatkan data lengkap dari Pemda/RS setempat mengenai distribusi usia kasus
dan angka kematian
3. Ketersediaan antitoksin (antidifteri serum/ADS)
4. Ketersediaan antibiotik (injeksi Procaine Penicillin/eritromisin) untuk terapi
5. Ketersediaan eritromisin oral untuk profilaksis terhadap kontak erat dan alternatif
apabila muncul gejala gastrointestinal
6. Ketersediaan dan kemampuan laboratorium terstandar untuk dapat segera
mengidentifikasi C. diphtheriae secara tepat dan cepat melalui cara pengambilan
spesimen dengan benar, media transportasi sesuai, pemeriksaan PCR untuk
selanjutnya dilakukan pemeriksaan toksisitasnya (tes Elek), bersamaan dengan
pemeriksaan kultur C. diphtheriae dan resistensi
7. Ketersediaan ruang di RS untuk kasus difteri
8. Umpan balik terhadap hasil pemeriksaan laboratorium difteri ke RS setempat
Sekretariat: Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK Unpad/RSUP Dr. Hasan Sadikin
Jl. Pasteur No. 38, Bandung 40161. Telp.: (022) 2035957. Fax: (022) 2035957
E-mail: infeksi_bdg@yahoo.com
9. Laporan surveilans difteri dapat diketahui oleh RS di berbagai provinsi dan
Organisasi Profesi (IDAI dan termasuk pula organisasi profesi lain)

Selanjutnya para dokter spesialis anak diperlukan kemampuan, sebagai berikut:


1. Melakukan identifikasi dini kasus dengan memeriksakan ada/tidaknya
pseudomembran pada hidung, faring, tonsil, atau laring pada tiap kasus dengan
gejala saluran napas atas
2. Melakukan tatalaksana yang tepat kasus difteri dengan memberikan ADS dan
antibiotik
3. Bekerjasama dengan RS dan Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui
ketersediaan ADS dan antibiotik untuk kasus difteri
4. Mengetahui tata cara pemeriksaan mikrobiologi yang tepat untuk bakteria C.
diphtheriae dan mengirimkan ke laboratorium terstandar
5. Mengenal kewaspadaan standar dan isolasi terhadap infeksi difteri
6. Melaporkan kasus probabel dengan segera ke Dinas Kesehatan setempat
7. Mendapatkan umpan balik dari Dinas Kesehatan setempat mengenai hasil
pemeriksaan mikrobiologi
8. Bersama Dinas Kesehatan setempat memberikan edukasi mengenai difteri

Munculnya kasus difteri menunjukkan rendahnya imunitas, yang dapat diakibatkan


karena belum mendapat imunisasi atau imunogenisitas setelah pemberian imunisasi
tidak mencapai kadar proteksi. Untuk itu perlu dilakukan imunisasi pada seluruh anak
prasekolah yaitu dengan mendapatkan 4 dosis DTP, anak sekolah mendapatkan Td pada
saat awal dan akhir sekolah (dapat diperlukan booster di antaranya), dan diharapkan
pula orang dewasa mendapatkan booster Td tiap 10 tahun.

Apabila Pemda setempat, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 menyatakan wilayah tersebut sebagai KLB
difteri, maka IDAI akan membantu untuk bersama-sama mempersiapkan outbreak
response immunization (ORI) termasuk pula mempersiapkan akan kejadian ikutan
pascaimunisasi (KIPI) yang mungkin dapat terjadi dan memengaruhi target cakupan.

Untuk materi edukasi bagi kalangan awam, materi di media sosial, dan Simposium
Online IDAI akan diberikan selanjutnya.

Atas perhatian dan kerja sama yang diberikan, kami sampaikan terima kasih.

Sekretariat: Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK Unpad/RSUP Dr. Hasan Sadikin


Jl. Pasteur No. 38, Bandung 40161. Telp.: (022) 2035957. Fax: (022) 2035957
E-mail: infeksi_bdg@yahoo.com